Cerpen – Sarpakuda

Indah Darmastuti

 

Seiris bulan itu seperti menambal langit yang bolong. Atau sebenarnya tersesat mencari irisan penggenapannya. Tak akan ketemu, karena seiris yang lain itu telah jatuh di pangkuan perempuan yang tengah menyudut di taman.

Setiap malam terpanggang bintang. Makin hari, tubuhnya makin tirus. Dia tahu, bahwa dirinya akan sampai pada malam-malam seperti itu. Tetapi ia tak sangka akan menjadi demikian bersemak dalam pikirannya. Semakin rimbun, menyabang meranting.

Kini yang terjadi bukan seperti yang telah dirancangkan ayahandanya berikut pembantu-pembantunya yang tak kalah bededah. Yang terus mendedahkan kalimat-kalimat khianat pada hatinya, pada keperempuanannya.

Ia berbaring di balai-balai bambu nan keras yang dijalin suaminya. Lelaki yang dikelabuhinya, dulu, berbulan yang lalu. Rambutnya tergerai, air matanya berurai. Kunang-kunang merubungi sehingga ia seperti mandi sepihan bintang-bintang yang pecah karena bertabrakan dengan hasratnya. Kain parang rusak sedikit menyingkap, mengungkap sepotong kaki langsat yang telah membawanya ke sini, ke desa Perdikan Mangir. Menjadi tandak yang tanak oleh mimpi-mimpi ayahanda.

Bukan, bukan karena desa ini, tetapi lelaki yang menjadi tratag pemayung warganya. Apa sulitnya menari? Menandak melentur tubuh memanjakan mata di hadapan para panglima dan punggawa dan tetua desa pada malam-malam terayakan kunang-kunang? Tak sulit. Tetapi menjadi tandak yang bukan hanya memikat tetapi membakar habis seluruh-luruhnya dengan api berahi. Duh, betapa salah ayahanda menilai lelaki itu, yang akan demikian mudah lehernya dikalungi selendang penari dengan benang emas pada ujung-ujungnya, lalu diseret di hadapan ayahanda untuk dipungkasi keberaniannya.

Tidak. Karena bagi Sang Sulung ia bukan hanya pemberani, tetapi juga memikat hati. Dia bukan hanya jago perang di medan laga, tetapi berlapang cinta, membuat perempuan akan tenang menyandar. Buktinya, hati perempuan penyamar, telik sandi Mataram itu pun terpikat.

“Jangan sampai kau jatuh cinta padanya, Pambayun, putri sulungku yang jaya. Dia lelaki kasta rendah yang tak pantas untukmu bermadah.” Pesan Panembahan Senapati, ayahanda ketika melepas pergi putrinya bersama Pangeran Purbaya, tumenggung Mandaraka yang berbusana waranggana.

Pambayun sadar, selendangnya  harus menjadi mata tombak haus darah yang menjemput korban. Meninggalkan Sungai Gajahwong menuju ke sana, ke desa Mangir di dekat Sungai Progo berarus deras, tempat Wanabaya mengatur strategi, taktik perang dengan formasi Ronggeng Jaya Manggilingan yang menghancurkan formasi Supit Urang.

Perempuan penari jalanan samaran dari Mataram itu telah berhasil menembus bukan hanya benteng pertahanan Perdikan Mangir, tetapi juga benteng hati Wanabaya, panglima perang nan muda dan penuh pertihungan. Tetapi sekali itu perhitungan meleset terselip di sudut mata tandak, di lengkung senyum Pambayun.

Arus-arus sungai yang mendindingi mereka sudah tahu, ujung selendang Pambayun bukan menjadi mata tombak seperti yang diharapkan, tetapi menjadi utas pelangi yang mengikat hati keduanya. Si Tandak dan Panglima. Di pinggir sungai Progo manarikan karonsih, gerak tangan yang sanggup mengiris bulan hingga potongan itu kini bersemayam di dalam rahim Pambayun. Sepotong yang lainnya masih tertinggal di langit, menjadi penanda pada Mataram, bahwa putri tumbal telah gagal membendung perasaan yang lahir kembar. Membesar di hatinya dan hati sang panglima.

Kini ia jatuh lelah, memikirkan apa kata sang ayah. Bahwa cucunya akan ia terima dari orang yang berbahaya bagi kekuasaannya. Ia tidak ingin pulang, tetapi negeri menunggu pengabdiannya. Negeri? Benarkah negeri Mataram yang menginginkan pengabdiannya? Atau sebenarnya ia telah menjadi pewujud petaka bagi Mataram, yang telah menyebabkan negeri menjadi pengkhianat kemanusiaan. Tetapi adakah rumus cinta untuk mengurai persoalan kekuasaan?

Angin semakin menyingkap kain parang rusak ketika serangga malam makin nyaring berdendang. Sebujur tubuh itu sudah menjadi persinggahan bagi kunang-kunang jalang. menggodai janin yang berlindung di bawah jantung Pambayun.

Di luar ribut-ribut. Wanabaya tak mau lagi bertemu dengannya. Tidak! Persoalan cinta itu sudah bukan lagi milik mereka berdua. Tetapi milik negari. Ingin sekali ia bersekutu dengan janin yang bersemayam di dalam tubuhnya, untuk merobohkan dinding yang memenjarakannya. Tak seorang pun mata-mata Mataram bisa masuk, tetapi tak juga ia ditemui tetua desa apalagi Wanabaya. Dia menjadi buangan kini, di tanah baru yang amat ia cintai.

Di Mataram, telik sandi gugup melaporkan. Pambayun tak ada. Pambayun tak tampak di Mangiran.

“Di keputren?”

“Tidak ada sinuwun.”

“Pambayun bisa diandalkan. Tak mungkin dia gagal melelehkan hati laki-laki batu pegunungan seribu itu. Pasti Wanabaya telah sembunyikan sulungku.”

“Dihabisi?”

“Oleh Wanabaya?”

“Ampun, sinuwun. Barangkali tetua desa yang merasa dikhianati.”

“Siapkan pasukan! Obrak-obrik desa kurang ajar itu.”

“Sinuwun, jika akhirnya hanya seperti ini? mengapa perlu kita kirim Pambayun menjadi tandak? Bukankah kita ingin mempermalukan Wanabaya dan mendatangkan laki-laki batu itu ke sini? Ke singgasana batu merapi yang akan menghacurkan keras kepalanya.” Juru Martani mencoba berdiplomasi laik Sengkuni.

“Kalau begitu, peras sulungku, untuk menuntun pembangkang itu lekas sowan pantasnya menantu. Siapkan penyambutan. Wanabaya bukan ingusan.”

Janin di jantung Pambayun masih berujud gumpalan hidup, menyentuh aliran pada setiap pipa-pipa darah ibunya. Dia bukan janin biasa, ia penerus Ki Ageng Pemanahan, diwujudkan oleh darah pahlawan -senapati Wanabaya.

“Kamas Wanabaya, aku sudah sampaikan padamu, aku mau tinggal di desa ini. menjadi perempuan biasa. Mendampingimu dengan cinta. Dan akan kulahirkan anakku di sini.”

“Kamu pikir, ayahandamu akan membiarkan itu? selamanya ia akan mengirim pasukan untuk mengganggu desa ini. Kamu pikir kami tak tahu polah Mataram? Sudah punya banyak kambing, tetap akan direbutnya pula satu kambing yang ada di desa ini.” Seorang tetua mencerca. Pambayun tenang mendengarnya.

“Saya akan buktikan. Jika desa ini harus menghadapi Mataram, maka saya pun akan ada di dalam barisan untuk memperkuat perdikan Mangir. Di dalam tubuh saya ada cucu, ada buyut Mataram dan Pahlawan Mangir. Saya tak akan gegabah terhadap cikal itu. Mataram juga tak akan sembrono terhadap penerusnya.”

“Dasar perempuan! Jika ayahandamu berpikir begitu, mengapa dia merendahkanmu menjadi perempuan murah telik sandi? Itu pertanda rendah juga nafsu Mataram!” Pambayun naik pitam, tetapi ditahannya agar darah campuran yang mengalir di janinnya tak bergolak, bermusuhan.

“Mataram salah.” Pambayun duduk merunduk. “Dulu dia katakan kalau Wanabaya adalah lelaki kasar berkasta rendah, senapati tua yang haus darah. Ternyata keliru.” Pambayun meraba perutnya. “Saya telah jatuh cinta sejak melihat bahwa laki-laki yang dimaksud sangat jauh berbeda dengan gambaran Mataram. Senapati kalian sangat lembut dan halus pembawaan. Muda dan pemberani. Saya telah jatuh cinta. Seharusnya sejak tiga purnama lalu, saya harus pulang ke Mataram, tetapi tidak. Saya memilih di sini, saya cinta desa ini.”

Balairung perdikan berubah sendu. Wanabaya berdiri mendekati perempuan tandak yang telah merebut hatinya, yang beberapa saat telah ia singkiri. Sang Telik sandi yang memikat hati, digamit tangannya lalu menggenggam.

“Kusambut permintaanmu. Aku akan datang ke Mataram. Sowan sebagai menantu.”

Helaan nafas para tetua menenangkan janinnya. Hanya sebentar sebab kengerian ibunya terkirim segera lewat tetesan darah dalam dirinya. Ibunya tahu, seperti apa Mataram. Apa yang sedang dipikirkan Mataram. Rasanya ia mau mati saja.

Tetapi tidak!! Aku harus selalu dekat dengan suamiku. Aku tak boleh pisah darinya. Jika Mataram menghancurkan Wanabaya, maka hancur pula aku.

Tak ada hari yang paling mendebarkan selain hari itu. Musuh dan juga Sang Menantu Mataram berserta rombongan sudah meninggalkan lajur sungai Progo, menjemput sungai Gajah Wong lantas meretas maju ke jantung Mataram.

Penyambutan tak biasa. Seperangkat gamelan tak komplet. Pasukan yang berwajah waspada. Jejalanan yang ragu. Pambayun menggandeng erat tangan suaminya. Merapal doa yang paling lirih.

“Sedetik pun, jangan tinggalkan aku. Jangan lepaskan genggamku.” Wanabaya mengeratkan rangkulannya. Tombak erat pula di genggamnya. Dia tahu, sewaktu-waktu prajuritnya pasti akan siaga dengan formasi Ronggeng Jaya Manggilingan. Tetapi baru saja Wanabaya selesai berpikir, di sana, di ujung rombongan ada keributan.

Bukan main! Ternyata ada pertempuran. Prajurit Mataram tengah berhadapan dengan Prajurit Mangir. Suara jerit perempuan di kejauhan bersaingan dengan tombak berdesing dan pedang beradu. Benar! Prajurit Mangir sudah sigap. Siaga dengan formasi andalannya. Tetapi Mataram yang telah mempelajari taktik perang dan pola pertahanan Mangir segera membentuk formasi Sarpa Kuda, si Ular melilit mengamuk dan mendesak mengunci sasaran.      

Sekejab di pintu masuk Mataram telah terjadi pertempuran. Punggawa-punggawa Mataram kaget, siapa yang membuat perubahan rencana ini? semestinya Mataram membunuh Wanabaya bukan dengan pertempuran tetapi seorang diri ia harus mati di tangan Panembahan Senapati.

Tidak! Wanabaya tak akan mati dengan cara memalukan seperti itu. Ia maju bertempur merapatkan diri dengan prajurit-prajurit Mangir yang segera membentuk formasi andalan. Jeritan Pambayun tak dihiraukan. Ia lepaskan tangan kekasihnya, mengambil tombak dan mengamuk. Sedu sedan Ki Ageng Pemanahan memerintahkan selamatkan Pambayun cucu tercinta.

“Selamatkan buyutku, buyut berdarah pahlawan.”

Tangis rintih Pambayun ketika sampai di hadapan eyang pendiri Mataram. Biarkan aku turut mati bersama suamiku. Ia meronta. Kembali lari ke luar balai agung menjemput kekasihnya. Tepat ketika sampai pintu, Wanabaya sudah terdesak di dekat singgasana.

“Kamas Wanabaya!!’ jerit Pambayun berurai airmata. Ia segera melangkah dan berlari mendekat, merangkul melindungi tubuh kekasihnya.

“Licin sekali ia!” teriak punggawa yang bertugas mengalangi lari Pambayun. “Dia putri bangsawan, tak sembarangan aku harus merenggutnya.” Belanya ketika ia dimaki atas kegagalan mengadang pelarian Pambayun. Yang telah memeluk erat kekasihnya sehingga itu justru menyulitkan Wanabaya untuk menangkis serangan musuh. Prajurit Mataram masih terus mendesak dan prajurit Mangir sebagian sudah memenuhi ruang singgasana.

“Bertahanlah!” ucap Mangir pada pelukan terakhir kekasihnya. Tepat tombak di genggamnya gagal menahan serangan tombak musuh yang mengenai tepat ulu hati.

Wanabaya roboh di dekat singgasana, kepalanya membentur batu merapi diiring jerit tangis pilu Pambayun sang Kekasih Hati. Darahnya mengalir, bercampur air mata Pambayun mengalir ke Imogiri. []

 

* Formasi taktik perang Mataram. Konon formasi ini yang digunakan untuk menaklukkan Desa Perdikan Mangir yang menggunakan formasi Ronggeng Jaya Manggilingan.

 

ditulis oleh Indah Darmastuti

————————————————————————————————————————————————————————————————————-

DOWNLOAD

Cerpen – Pertemuan Sore Ini

Astuti Parengkuh

 

Ini pertama kali aku bertemu dengan Yan sejak setahun lalu. Lewat pesan terakhir yang dikirim, dia ingin kami bertemu di sebuah tempat nongkrong yang terletak di pusat kota. Wedangan Pendapa namanya. Tempat seperti paseban dengan arsitektur dan interior antik primitif. Kupersiapkan di dalam tasku ; tusuk gigi dan pepper spray. Aku merasa seperti hendak  bertemu dengan seorang pesakitan. Semacam psikopat, mungkin. Demikian lara hati ini sulit dihapus. Dia menancap kuat di setiap helai ingatan.

Wedangan Pendapa masih sunyi tatkala aku masuk di dalamnya. Sebuah angkring terpajang di sudut ruangan besar. Lengkap dengan sesaji beraneka macam makanan. Deretan kursi antik bermotif sedan diatur sepasang-sepasang. Beberapa resban etnik primitif sempat mencuri penglihatanku. Ada juga resban modifikasi seperti ambin jengki namun memiliki sandaran. Kupilih yang lebar, tentu sangatlah cukup jika buat kaki selonjoran.

“Hai, apa kabar?”sapa Yan memulai perbincangan kami.  Kulihat dia mengenakan kemeja bermotif kotak perpaduan cokelat susu dan kopi sepadu dengan warna celana jinsnya. Lelaki pemilik mata rajawali dengan postur tubuh seperti tokoh wayang Setyaki ini sedikit berubah. Dahinya tampak lebih lebar ketika rambut di bagian depannya semakin terkikis..

Yan, ternyata waktu berlalu begitu cepat seakan aku tak melihatmu berabad-abad.

“Kabar baik, tentu seperti harapanmu,” kuulurkan tanganku. Yan menyambutku. Bibirnya tak mengembang. Dia sosok yang sulit tersenyum, namun wajah dinginnya pernah membuatku terkagum sejak aku mengenal laki-laki ini puluhan tahun lalu. Yan memesan kopi hitam kesukaannya. Aku memilih cokelat jahe. Kulihat dia berjalan menuju angkring dan balik ke arahku dengan dua piring aluminium kecil yang berisi wewarna penganan seperti jadah bakar, ongol-ongol serta risoles mayones.

“Kau masih hapal makanan kesukaanku,” aku menarik napas panjang. Kujumput risoles mayones dengan selembar kertas tisu. Ingatanku langsung menembus masa lalu, saat malam-malam dia selalu membawakanku oleh-oleh setiap pulang habis bepergian ke luar kota untuk urusan pekerjaan.

“Bagaimana dengan tawaranku?” Yan memulai pembicaraan serius. Padahal aku pikir dia akan bercerita tentang keadaaannya sekarang. Tentang bisnis atau keluarganya, mungkin. Ah, laki-laki ini dari dulu tak berubah, suka menggenggam waktu. Watak kesatria sejati. Tertutup untuk hal-hal yang sifatnya pribadi dan memilih lebih menghargai setiap detik waktu yang berjalan.

“Kau tahu saja jika aku masih menyimpan aset-asetku. Aku sudah punya rencana semacam plan, Yan. Kita akan membuka kafe semacam ini. Di daerah pinggiran kota. Lengkap dengan cottage dan Spa. Gimana?” kataku sambil mengeluarkan kertas kerja. Dia tahu aku mempunyai beberapa barang dagangan seperti joglo kecil serta mebel-mebel antik yang kusimpan di dalam sebuah gudang. Kami pernah membangun bersama bisnis perdagangan mebel.

Belum lagi dia menjawab pertanyaanku, dering ponselnya mengganggu percakapan kami. Yan beranjak sebentar kemudian kembali ke resban. Beberapa pengunjung mulai berdatangan. Di antara mereka ada yang membawa kamera serta bertas ransel. Kupikir mereka sekelompok mahasiswa. Atau gerombolan remaja hippies yang hobinya memamerkan kekayaan orangtuanya. Ternyata aku salah duga.

Setelah seorang di antaranya menyapaku, baru aku sadar mereka rombongan wartawan.

“Bu Siska!” kudengar ada yang menyebut namaku. Yan memunggungi mereka.

“Kau pun tahu, aku masih punya aset tanah yang bisa kujadikan modal bersama. Kita akan perlakukan usaha ini murni bisnis, tanpa embel-embel lainnya. Artinya kita akan seriusi ini. Nanti aku akan serahkan kepada orang kantor untuk mengurusi pemberkasannya,” kata Yan tegas.

“Aku serahkan bisnis ini kepada Ratri. Semuanya dia nanti yang akan urus dari A sampai Z,”kusebut nama anak sulungku yang telah menamatkan SMA. Yan sedikit terperangah. Kuacuhkan dia. Aku lebih tertarik untuk menikmati suara musik yang keluar dari corong-corong tersembunyi di balik instrumen-instrumen hiasan dinding yang menyatu dengan gebyok. Bowo Sidoasih melangutkan jiwa.

            “Pamintaku/nimas sido asih/atut runtut/tansah reruntungan/Ing sarino sakwengine/datan ginggang sarambut/lamun adoh caketing ati/yen cedhak tansah mulat/sido asih tuhu….”

            Kau tahu Yan, setiap kali aku mendengar tembang ini hatiku serasa diiris-iris. Entah rasa apa lagi yang kini tengah berkecamuk di dalam dadaku. Aku tak bisa melukiskan dengan imaji apa pun. Tak juga bisa mampu merasai yang dulu pernah menyelimuti hari-hariku, hari-hari kita. Namun, saat ini aku laksana tengah memamah rasa hambar, sehambar sesapan sepah tebu pada hitungan kesekian ratus. Aku mati rasa.

            Yan menundukkan kepala seraya mulutnya mengepulkan asap nikotin.

Aku memilih minggir.

***

Setahun lalu

“Ibu terpaksa memilih jalan ini,” kataku pada Ratri anak sulungku.

“Pasti akan lebih baik,” Ratri memelukku erat. “tanpa pengacara?”tanyanya cepat.

Kugelengkan kepala. Sejak beberapa tahun lalu sebenarnya dia sudah menyarankan tindakan ini, tapi tak pernah kugubris. Kupikir aku bisa terus menjalaninya namun urat kesabaranku akhirnya putus.

“Dengan visum dokter sebagai alat bukti? Dan foto-foto itu?” Ratri mengejarku.

Kembali kugelengkan kepala. “Tidak! Bagaimana pun dia bapakmu.”

Kukemasi lagi berkas-berkas yang telah kukopi dan kupelajari untuk sidang kedua  besok, “Kamu temani Ibu.”kataku menutup perbincangan kami.

“Jika boleh memilih, Ibu ingin persidangan nanti putusannya verstek.”

Ratri tersenyum ke arahku,”Ibu yang kuat ya.”

Aku membalas dengan membawakannya semangkuk sup galantine yang masih mengepul di atas meja makan. “Kamu memang anak baik dan pastinya kuat seperti ibumu.”

“Kekerasan itu bahaya laten, Ibu. Dia bisa muncul secara tiba-tiba. Laki-laki itu telah menduakan Ibu dan sejak itu pula perangainya berubah. Dan aku nggak suka” Segera kutempelkan telunjuk jariku ke bibir, “Psssttt….Sebutlah dia bapakmu,”  Ratri berbicara layaknya aktifis perempuan yang sedang naik podium. Dia perpaduan sifat keras bapaknya dan kelembutan yang dimiliki oleh seorang Dewi Sumbadra.

***

“Bagaimana kuliahmu, Sis? Lancar?” Yan tahu aku belum lulus pasca sarjana yang kuimpikan sejak muda.

“Lancar, Alhamdulillah. Bagaimana keluargamu? Kau masih suka….”aku tak meneruskan bicara. “Mendengkur kalau tidur? Hahaha…”Kudengar suara kerasnya membahana di seantero ruangan terbuka yang mirip dengan teras ini.

“Dan bangun selalu kesiangan,”kataku sambil cekikikan seperti remaja usia belasan.

“Kau masih suka memasak sendiri daging kambing dan berkhayal mempunyai sebuah resto satay kambing?”Suara Yan menekan seperti pemain teater yang sedang menguasai panggung.

“Aku masih suka telat mandi dan berlama-lama bermain di kolam ikan belakang rumah sambil sesekali memanen cabe yang berwarna-warni. Aku juga masih gemar mengecat rambutku dengan pilihan warna ungu seperti kesukaanku,” kataku sambil nyerocos ceceriwisan.

“Kamu masih suka mengoleksi linge…”Yan tak meneruskan bicaranya.

“Istrimu sudah hamil?”tanyaku mengagetkannya.

“Kami belum menikah. Menikah resmi maksudku,”jawabnya datar.

“Oh!”

Suara alunan musik kini tengah mengantar lagu Chrisye, Pergilah Kasih. Dua orang menyempal dari rombongan wartawan yang beberapa puluh menit lalu menyapaku tampak mendekat kepada kami. Seorang pemuda berbadan tegap dan atletis serta sesosok perempuan berwajah manis dengan rambut tergerai di punggung.Pemuda itu menenteng tustel serta sebuah ponsel tergenggam, sedang si perempuan asyik membuka-buka ponselnya. Sepertinya mereka telah mengenali wajah Yan yang sejak tadi tersembunyi.

“Wah, seperti mengenang kembali saat-saat pacaran ya, Pak Yan dan Bu Siska ini,”gurauan mereka membuat lidahku ngilu. Kutebarkan senyum bagai seorang ratu, sekadar membuat dua muda-mudi itu senang.

“Boleh saya meminta waktu untuk wawancara kepada Bapak?” tanya salah seorang di antaranya.

‘Tentang apa nih? Usaha, keluarga atau…?”Yan membunuh puntung rokok yang tersisa.

“Tentu terkait dengan pencalonan Pak Biyantoro sebagai anggota legislatif. Gimana Bapak Yan yang terhormat?”

“Oh! Boleh, boleh silakan. Mumpung kalian bertemu kami di sini,”Yan melirik ke arahku. Matanya sedikit mengerdip. Aku sangat paham maksudnya. Biyantoro yang sering aku panggil dengan sebutan ‘Yan’ adalah mantan suamiku. Pria itu menikahiku sesaat setelah aku lulus SMA. Setahun kemudian lahirlah Ratri.

Aku tahu jika perceraian di antara kami, tak ada seorang kuli tinta pun yang mampu mengendus karena kututup sangat rapi. Yan telah mendesakku bahwa urusan pribadi terutama keluarga tak akan membuatnya pantang mundur untuk pencalonan anggota dewan kota tahun ini. Juga soal perselingkuhannya yang berhasil kukuak. Serta perilaku kasarnya terhadapku dan anak-anak.

Sebagai seorang pengusaha ternama di kota ini, cukup pegawai administratif yang berkepentingan saja yang mengetahui jika statusnya adalah duda. Dan kupikir, aku telah bebas sekarang dan tak turut menanggung dosa. Biarlah waktu yang akan berbicara nanti.

Yang tak aku mengerti adalah, tiba-tiba tembang Bowo Sidoasih kembali mengalun. Tepat satu jam sudah aku duduk di tempat ini. Kulirik pepper spray di dalam tasku. Benda itu tetap akan aku biarkan tinggal di sana, selama aku masih berbincang  bisnis dengan Yan. Ya, meski sebatas bisnis. (*)

 

*)Astuti Parengkuh. Nama pena yang pernah digunakan adalah Astuti J. Syahban. Tertulis di KTP dengan nama : Puji Astuti. Seorang cerpenis, novelis, esais, resensor dan jurnalis yang lebih suka disebut sebagai ibu rumah tangga. Mengaku aktif di beberapa komunitas nonprofit. Tinggal bersama kedua anaknya di Semanggi RT 05 RW XI Jl. Bengawan Solo 4 No.12 Solo-Jateng 57117. Bisa dihubungi via e-mail ; astutijsyahban@yahoo.com

 

 

DOWNLOAD

————————————————————————————————————————————————————————————————————-

 

>