Cerpen – Perempuan Naila

Nurni Chaniago

 

Kami mengantarkan arakan keranda yang berselimut hitam itu dengan perasaan hampa. Setidaknya demikian wajah-wajah para pelayat yang tidak jelas  beriba hati atau mensyukuri, bahkan mencaci maki tentang peristiwa ini. Sungguh suasana pemakaman yang tak menentu. Terlihat sebagian orang berbisik, lalu yang lainnya dengan alis mengerut dan mata yang terbeliak dan mulut yang ternganga, seakan mendengar cerita yang tidak dapat dipercaya. Demikian pemandangan ganjil terpotret dari ketidaktahuan siapa orang yang sedang dimakamkan itu. Tapi setidaknya ada beberapa perempuan menangis dengan mata yang memerah, tentulah orang yang sangat berduka dengan kepergiannya.

Angin sore di pemakaman semakin mendingin, dan matahari seperti tiba-tiba saja menggelap, sesegera orang-orang meninggalkan suasana yang mencekam di tempat itu.

Akan kumulai kisah ini, ketika suatu senja seorang perempuan cantik bermobil mewah memasuki pekarangan rumahku. Tentu saja aku mengetahui maksud dan tujuannya datang ke mari. Tentulah meminta pertolongan indra keenamku untuk memuluskan keinginannya. Demikian yang terjadi senja  itu. Dia perempuan paruh baya yang bermata lentik bertubuh langsing dgn kulitnya yang kuning, sedang dalam api amarah dendam yang tak tertahankan. Mata bulat itu berapi, demikian pertama kali dia datang, walau dengan bibir yang tersenyum mengembang.

“Ki Marno Menggolo, tolonglah saya. Hati saya dipenuhi benci dan dendam. Seorang perempuan telah mengusik kedamaian rumahtangga saya. Dan perempuan itu adalah teman yang saya sayangi.”

“Itu mudah Bu Mariam, apa yang ibu inginkan terjadi padanya? Hilang ingatan, pesakitan, atau kematian?”

“Oh.. Jangan Ki Marno. Buat saja dia menjauh dari suamiku, tidak merasa cinta dan sayang padanya lagi.”

“Itu pekerjaan mudah, tapi ini harus satu paket dengan suami ibu. Jika tidak, bagaimana mereka akan berpisah jika suami ibu tetap mencintainya?”

Sejenak perempuan cantik berhidung bangir, dengan bibir tipis mungil itu tercenung, tapi sejenak saja, “Ya. Saya pikir itu memang benar Ki Marno, sebab saya tau betul, suami saya tidak berhenti memikirkannya.”

Maka berhamburanlah cerita hikayat bahwa Heri sang suami adalah seorang manager di sebuah perusahaan industri funitur bambu antik yang sangat terkenal di kota mereka. Lalu pada suatu hari, seorang wanita yang hanya lima enam tahun lebih muda darinya, melamar pekerjaan di sana. Tugasnya hanya sebagai penerima tamu, telepon dan meagendakan pertemuan tamu tamu dengan  sang manager. Perempuan itu bernama NAILA, dengan kedua alisnya yang tebal dan hidung pas pasan, rambut hitam legam sebahu, dan bertubuh padat, tinggi berisi. Dan yang membuat semua orang terpesona adalah gaya bicaranya yang lantang, to the point dan terbuka. Tawanya yang lepas serta kerling matanya yang jenaka, telah memukau banyak pria di kantor itu. Setidaknya, untuk bercanda dan tertawa bersama. Tiba-tiba saja mereka menemukan kegembiraan saat bercakap-cakap dengan Naila. Perhatian itupun tidak luput dari sang Manager Heri, bahkan dia sengaja memanggil Naila ke ruangannya untuk mengetahui banyak hal tentang perempuan itu.

Demikianlah kisah berawal, Heri yang di rumah sering menceritakan tingkah Naila, membuat istrinya July penasaran. Apakah hebatnya perempuan itu hingga suaminya Heri bergitu bersemangat menceritakan tingkah dan kekonyolan-kekonyolan yang dibuat Naila? Maka pada suatu siang yang cerah, dia menelpon suaminya untuk mencarikan seseorang di kantornya untuk menemani sang istri July berbelanja. Tentu saja sosok Naila yang paling tepat menemani bu July.

Hanya sekali bersama Naila, Julypun merasa suka dan bahagia bersamanya. Maka tak terpikirkan entah bagaimana mereka dari posisi yang berbeda dan pandangan serta pengalaman hidup yang berlaianan dapat membuat mereka akrab. Kedekatan seperti inilah yang menjadi bumerang bagi July, ketika mendengar desas desus bahwa di kantor antara Heri dan Naila telah terjalin hubungan akrab melebihi teman teman yang lain. Mereka berkata, Naila sering masuk keluar ruangan manager, dan mereka terlihat beberapa kali keluar bersamaan walaupun dengan kendaraan yang berbeda. Pendek kata, bila Heri keluar kantor, pas kebetulan Nailapun izin tidak masuk kantor. Hari demi haripun, ada saja yang baru menjadi milik Naila. Handphon, tas, perhiasan dan sampai sebuah sepeda motor cantik. Tentu saja semuanya menyangkut Heri, demikian issue itu berlangsung hari demihari. Hingga July mengambil keputusan yang demikian, hendak memisahkan Naila dan suaminya.

Sebab demikian July berkata, bahwa Heri sudah diperingatkan berkali-kali, tapi tetap tak mengakui. Walaupun July tidak menemukan bukti, tapi indikasi kuat kedekatan mereka terlihat mata, oleh pegawai pegawai di kantor, yang sempat-sempatnya mencatat berapa kali dalam sehari Naila masuk keluar kantor si Boos, atau berapa kali mereka keluar dalam seminggu. Tapi sungguh tak seorangpun yang ditanyai mengaku pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Heri dan Naila berciuman atau berpelukan. Tapi bagi July ini cukup menjadikan kupingnya panas dilapori tentang, kedekatan mereka berdua. Dan Heri yang begitu baik member segala fasilitas dan menyayagi Naila, begitu mencolok mata. Setidaknya perbedaan sikap itu pada karyawan lain membuat seisi kantor jengah.

July yang terbakar dengan semua itu, semakin tertekan. Sebab Naila selalu saja ramah tanpa ada kecanggungan sama sekali. Mereka sering berdua menghabiskan hari. Walau sekedar makan di restoran yang nyaman atau khusus pergi untuk membeli barang yang mereka inginkan. Naila pernah berkata, dia meganggap kakak pada Heri dan July. Tapi sekarang July mulai menjaga jarak, dan mecemooh dalam hati tentang apa yang dikatakan Naila. July menganngap itu sebuah kebohongan yang hanya berfungsi untuk menutupi hubungan mereka

Maka July merasa sangat senang, ketika dia mendatangi Ki Marno dan mendapatkan solusi, setidaknya dia mempercayai bahwa masalahnya akan segera berakhir , dengan menyingkirkan Naila dari hati suaminya. July tidak lagi berfikir bahwa ini adalah perbuatan yang tidak  baik. Dan dapat mendatangkan bahaya.. Demikianlah July yang kini mempunyai sebuah cincin akik, yang digosok-gosokkan dengan jari jempolnya sambil membaca mantra. Dan baru tiga kali membaca mantra tersebut yaitu sore, malam dan pagi hari, sepertinya mantra guna-guna itu sangat manjur.

Terdenga khabar, pagi ini Naila tidak masuk  karena sakit. Dan belum sempat mereka tahu apa yang diderita Naila, kabar dukapun tersiar, Naila telah meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

July begitu terperanjat. Bukan bergegas pergi melayat, tapi malah menhambur ke dalam rumah Ki Marno, dengan teriakan makian dan menyalahkan Ki Marno, mengapa membuat mati Naila. Aku tidak sejahat itu,  jadi seorang pembunuh. Naila tidak berhenti berteriak, walaupun Ki Marno telah menjelaskan bahwa cincin itu adalah cincin biasa, dan mantra itu hanya karanganya saja. Semua yang dilakukan Ki Marno selama ini adalah hanya sebuah sugesti para pasiennya saja.

“Aku tidak membunuh Naila, Aku bukan pembunuh,” July terus saja berteriak teriak bahwa dia tidak membunuh Naila, bahwa ini adalah sebuah kesalahan. Dan July terus saja menceracau dalam perjalanan, sesekali menyesal melakukan ini semua, sesekali dia juga memaki- maki Naila, dan menyalahkan Heri suaminya yang telah memiliki hubungan terlarang dibelakangnya, dengan Naila.

Satu minggu setelah kematian Naila, seorang dokter dari rumah sakit menyampaikan sepucuk surat tebal beramplop berwarna coklat pada Heri. Dia membacanya terkejut, lalu menitikkan air mata.

Heri kakakku..

Aku bermaksud mendekat padamu, karna kau adalah kakakku. Demikian ayah telah berpesan ketika beliau sakit sebelum ajal memanggilnya. Aku adalah anak ibu fatma, istri simpanan ayah Harjo. Ayah kita. Bila kanker otak ini merenggut nyawaku, kuburkan aku dekat makam ayah. Dan aku ingin mati sebagai adikmu.

Naila

 

 

Delanggu, September 2017

 

——————————————————————————————————————————————–

Cerpen karya Nurni Chaniago

 

>