Cerpen – Di Mars Tak Ada Kabah

DOWNLOAD

Di Mars Tak Ada Kabah

Cerpen Resa Nufa

 

“Bahkan setan tak bakal mau menanggung dosamu itu,” katanya, saat kami bersisian di jembatan Cirahong pada pertengahan Juni dua puluh tahun lalu, saat itu dia sedang memikul dua keranjang ubi ungu sementara aku memikul dua cangkul kami yang masih ditempeli tanah merah. Dalam kilasan-kilasan tipis yang semakin sulit untuk dilacak, aku mengingat hari itu sebagai anak muda yang sudah mengemasi banyak barang, sangat siap pergi meski tanpa restu dari ibu bapak, namun ternyata bapak memutuskan untuk mati sehari kemudian lalu tekadku remuk seperti bekicot terlindas truk sayur.

Aku gagal jadi anak durhaka, sekaligus gagal menjadi pengembara. Entah mana yang lebih membebani. Sejak hari itu tidak pernah lagi kurasuki segala sesuatu sebagai seutuhnya manusia. Separuh diriku rasa-rasanya telah jadi ayam, atau lintah, kadang sapi, kerbau, kambing, lumut, asap, pematang, kadang pula terasa seperti sesuatu yang lain yang belum ternamai. Bapak terus menasihatiku. Terasa lebih nyaring setelah dia mati dan suara yang datang darinya seolah dari langit sehingga aku harus lebih memberi hormat.

Aku tidak main-main. Terkutuk betul hidupmu kalau kau anak pertama sekaligus seorang lelaki dan bapakmu mati lebih dulu. Kaulah kemudian bapak bagi adik-adikmu, juga suami bagi ibumu, dan kau bukan siapa-siapa bagi dirimu sendiri; kau menanggung semua kewajibannya tapi tidak haknya. Sepuluh tahun kuhabiskan dengan bertani, segala macam kutanam, sesuai musim, setertib matahari; lumbung selalu terisi dan perigi tak pernah kering juga kayu-kayu bakar tertata rapi di samping bilik dapur yang kian renggang—cahaya pagi kerap menyusup dari sana, juga udara malam, juga bayangan para pencuri ayam di malam bulan purnama. Tak pernah ada yang berkurang dalam rumah ini, bahkan tidak jumlah gigi ibu, kecuali intensitas obrolanku dengannya, aku tak mengerti, sepertinya bapak telah menjadikan lidah kami sebagai nisannya. Semakin hari aku justru semakin cerewet pada diriku sendiri. Kau seharusnya sudah pergi, katanya, kau cuma jadi anjing orang kota kalau tetap di sini. Bertani dan bertobat bukan tugas anak muda, katanya.

Pada hari yang janggal itu kulihat sebutir embun jatuh setabah daun bambu, lalu begitulah, kuputuskan untuk naik haji. Ibu kala itu sedang sibuk memilah gabah dalam ruyak beras yang baru tuntas digiling, induk ayam dan anak-anaknya menunggui dengan sabar di kakinya. Tak jauh dari sana kerbau-kerbau dalam kandang dengan tertib menyapih lalat dari wajahnya dengan kuping. Uang naik haji dapat dari mana, ibu kemudian bertanya dengan suaranya yang berkerak. Itu kakekmu yang punya sawah 8 hektar saja belum pernah naik haji. Bibimu yang punya kerbau 20 ekor, yang masih pula punya kambing 40 ekor, ditambah ladang manium 12 hektar dan kebun pepaya, tebu kuning, sawi, terong, juga mentimun, belum pula naik haji. Kau cuma cari-cari alasan buat pergi dari rumah, katanya, dengan landai seraya melanjutkan, aku bakal mati seperti bapakmu kalau kau pergi. Hedeh, aku tidak mengerti, orang-orang ini senang mengancam dengan mati.

Ingin kukunjungi kiblatku, Mak, kubilang, masjidku, tanah dan udara basah yang mengalir dalam dagingku, yang semestinya berulang kali memanggil lewat mimpi dan membuatku terbangun dalam gigil yang mematahkan waktu, seperti yang terjadi pada orang-orang terpilih itu. Belum pernah ada yang semacam itu padaku, tidak dalam azan juga pengajian, tidak pada denting gereja juga dupa vihara, dan aku telah mencari seperti orang sinting, dalam sekali, ke dalam diriku sendiri, di jalanan kampung ini, menuju perpustakaan kota, menelisik ke dalam sejarah orang-orang yang mati sebagai orang ingkar, membaca kisah-kisah para alim yang terlalu sempurna untuk dipercaya, yang semacam itu dan lainnya, lalu bertanya kepada guru-guru yang tak jauh lebih tua dalam hal ini, yang sama awamnya juga sama bingungnya denganku.

Shalatmu saja belum tertib, katanya. Itulah. Aku tidak bisa melakukan penyembahan jika belum jelas apa yang hendak kusembah. Aku tidak mampu bersujud tanpa jelas hatiku merendah untuk apa, atau siapa, atau kenapa. Aku harus melengkapi diriku, entah di mana. Ibu cuma diam, lalu menggosok matanya yang dihinggapi debu dengan kain yang melilit di kepalanya. Tidak pernah bisa kupahami orang tua sepertinya, seperti mereka, yang begitu ingin anaknya tetap tinggal di rumah, dengan alasan biar tetap hidup, meladang, menikah, berketurunan, lalu merawat yang tua-tua, lalu menjadi yang tua-tua dan menjebak anak-anak mereka dalam pola yang sama.

Tidak mungkinkah kita sama-sama jadi orang bebas? Aku ingin makan daging babi, juga minum arak dari tengkorak monyet, menyesap sumsum tulang kucing, mewariskan semua tabunganku kepada anjing liar, mencintai lima perempuan sekaligus, menyusu pada dua pelacur di malam yang sama, menyembah delapan tuhan pada satu sujud, semua itu menjadi sesuatu yang tak mungkin bila aku tetap di sampingmu sebab bakal membuatmu menangis dan tangisanmu adalah hal terakhir yang kuharap kulihat di dunia ini. Setelah itu semua aku ingin menyesal sehebat-hebatnya lalu menjadi pembelajar paling tahan lama. Tapi tidak di kampung, Mak. Tidak ada dosa di kampung.

Di mana bisa kurebahkan kadal sekarat ini, Mak, aku berusaha membayangkan, di mana—katakanlah—tuhan duduk menunggu dengan segelas tuak dan gadis tua yang lebih bijak darimu menyulam ikat kepala dari benang yang dipilin dari jiwa orang-orang sepertiku, kau tahu, seperti katamu, “orang-orang yang gagal bersyukur,” meski kerap tak bisa kubedakan antara orang-orang yang bersyukur dengan mereka yang terlalu cepat merasa telah bersama tuhan.

Mak, kataku, kalau hadim sikep, sade ama hurip.

Aku tidak pernah mengerti apa maumu, katanya.

Biar, kataku. Aku akan tetap pergi. Mak, kau menualah sendiri.

 

*

Anjani memutar tubuhnya seperti kincir yang mencari angin. Di barat sedang terjadi pembunuhan terhadap kelelawar yang dituduh menyebarkan ajaran sesat. Ke sana dia menoleh dan mendapati langit yang hitam, dengan ribuan bintang yang perlahan jatuh jadi gerimis, memaksanya masuk kamar dan di kamar ada semut yang dimarahi kakeknya karena pulang terlalu malam dan Anjani dengan berhati-hati merebahkan tubuhnya. Dia tak mau membunuh yang sedang marah ataupun yang dimarahi. Kau masih untung karena aku yang mengomel, kata si kakek. Di jam segini, jika masih berkeliaran, kau bisa saja dituduh maling, pemerkosa, anak jalanan, tukang bacok, dan kau bisa dihakimi dengan bacokan pula tanpa ditanyai asal muasalmu lebih dulu. Orang di jaman ini lebih butuh obat bius ketimbang pengetahuan. Jadi ada baiknya kalau kau main ponsel saja di kamarmu.

Dia membayangkan jadi penjaga kuburan atau rumah gedongan, yang harus terjaga sepanjang malam, sendirian, mengisi waktu dengan mengisi TTS yang belum juga tuntas dari satu dekade sebelumnya atau mendengarkan radio yang mengulang-ulang lagu Doel Sumbang, seperti bapaknya, yang akhirnya menjadi mati karena ditusuk pencuri kafan yang beristri lima. Dalam TTS itu ada pertanyaan: mendatar, 4 huruf, cita-cita orang tua. Semua orang tahu jawabannya, tapi malam akan cepat jadi membosankan kalau itu buru-buru diisi. Lalu dalam kafan itu, kafan yang dicuri itu, ada sebuah kepercayaan bahwa yang memakainya untuk mandi akan sukses poligami, mabrur naik haji, rejeki mengalir tak henti-henti, dan lainnya, semua yang tak masuk akal bisa dimasukkan ke sana, terutama khasiat membuat awet muda.

Betapa menyeramkannya masa tua. Tapi semua telah salah mengira, seperti kata bapaknya suatu waktu, menuduh ada yang berdenyut dalam dada saya, padahal tidak. Di umur segini, tidak semua dada punya denyut, tidak semua nadi mengandung darah. Apalagi semenjak abangmu pergi. Tapi, Anjani bilang, orang seperti Bang Masil, yang lebih percaya bahwa takdir bukanlah sesuatu yang diberikan tuhan melainkan sesuatu yang harus dicuri dari-Nya, mesti diberi jalan, supaya kita tidak terkapar karena berusaha menahannya. Dia akan menjadi orang besar nantinya, atau, jika gagal, maka menjadi pengangguran sepenuhnya lalu mati dengan cepat. Itu lebih baik, setidaknya untuk kita.

Mendengar itu, keesokan harinya bapak menikahkannya dengan pemuda kampung seberang. Dia petani yang andal, dengan berahi yang lebih ganas dari kerbau lanang, aku kerap kewalahan, batin Anjani, apalagi kalau dia mulai marah karena kebun yang baru disemprot pestisida malah kena hujan, atau bibit yang baru ditanam malah dihantam kemarau, tapi tidak masalah bagiku, menjadi perempuan sangat berbeda dengan menjadi apa pun dan aku siap dengan itu. Seperti ibuku, ya, seperti ibu, yang membuatku lebih memahami bapak, terutama setelah menikah dan memiliki anak, bahwa setiap denyut dan darahku akhirnya kuserahkan pada yang hadir dalam rahimku. Kenapa ya kita begitu, Bu? Abangku tidak punya persepsi yang seromantis ini terhadap sebuah keluarga. Apa cuma perempuan yang sebodoh ini?

Dia menatap langit-langit kamar. Seekor cicak muda diseret pulang oleh kakaknya karena belum mandi padahal warna langit telah lama berganti. Semua kakak lelaki selalu jahil sekaligus lebih peduli dari lelaki mana pun, dari spesies apa pun. Maka lebaran kali ini, juga lebaran-lebaran yang lalu, akan menjadi lebih baik bila Bang Masil kembali. Sepuluh tahun dia tak pulang, ribuan doa ibu sudah dia gugurkan, salah satunya harapan agar dia mudik membawa banyak uang buat membayar utang. Isu terakhir yang beredar, konon, Bang Masil jadi mandor kontraktor di Jakarta, mengurusi bangunan-bangunan besar yang nantinya jadi hotel berbintang, bank, panti pijat dan tempat karaoke, gajinya banyak juga sudah beranak pinak. Ada lagi yang bilang bahwa dia sekarang berdagang surat utang, jadi pialang, semacam rentenir tapi lebih berkelas, ibu tak cukup pintar untuk memahami ini, tapi Anjani memberi tahunya bahwa ini bukan mainan orang susah. Banyak kisah lain, yang sulit dipercaya, yang mungkin lahir dari kepalanya sendiri dan memantul-mantul di udara dan perlahan menjadikan dia mitos dalam keluarganya sendiri.

*

Misal, kita betul-betul hijrah menuju Mars, apa yang pertama kali dilakukan oleh kaum beragama? Mengatur kiblat baru—ataukah? Siapa yang bisa kita percaya dalam perkara sebesar ini bila era kenabian kadung dianggap berakhir? Ilmu pengetahuan barangkali bisa diandalkan, Nejad, tetapi kita takut padanya, terlanjur menempatkannya sebagai musuh ketimbang alat, dan para ulama cenderung menjadikan ayat sebagai landasan moral ketimbang landasan berpikir. Ke mana kita akan naik haji nanti?

Seperti biasa, Rinjani, Lur, kata Dinejad.

Di Mars tak ada Kabah. Tak ada Rinjani.

Dinejad menegaskan keningnya, “Yang pasti di sana, atau tepatnya di sini,” katanya sambil menunjuk jidatku, “ada tuhan. Itu cukup untuk menyusun kembali semuanya.” Dari semua atheis yang kukenal, dia berada di urutan pertama sebagai yang paling peduli pada agama kendati kadang menyebalkan ketika dia berkata bahwa, demi ketertiban sosial, orang bodoh sepertiku tidak boleh hidup tanpa agama. Saat kubilang soal rencanaku mencari kiblat baru, dia semringah, mendukungku penuh untuk membuat agama baru setidaknya untuk diriku sendiri. Orang-orang yang sudah sanggup berpikir mandiri, bergerak dengan pertimbangan-pertimbangan logisnya sendiri, tidak perlu lagi bergerombol. Kalaupun harus berada dalam sebuah gerombolan, dialah yang mesti jadi nabinya.

Tanah yang dijanjikan itu mungkin berbeda untuk tiap orang, kataku.

Begitu pula dengan kitab sucinya, dia bilang.

Begitu pula dengan Ratu Adilnya.

Dia mengangguk. Yang terjajah dipermainkan ramalan dan janji-janji, sementara yang terdidik punya kendali terhadap nasibnya sendiri.

Kita yang kedua. Semoga.

Apa kabar ibumu?

Kenapa? Dia sudah kutanam baik-baik dalam diriku.

Kau anggap dia sudah mati?

Tidak, tidak begitu. Aku hanya membuatnya lebih abadi.

Itu tidak menggugurkan kewajibanmu untuk pulang.

Moralitasmu lebih menggelikan ketimbang yang beragama.

Ethics, Lur, ibu dari semua hukum dan agama. Dia yang membuat manusia lebih layak untuk tinggal bersama. Itulah yang hilang darimu, yang membuatmu begitu bernafsu untuk mengikuti Nuh dan Luth yang merestui genosida. Saranku, kalaupun kau sudah tak percaya pada tuhan, setidaknya percayalah pada ibumu.

Invalid!

Dia lantas menciumku.

*

Abangmu itu menghamili seorang gadis, lalu bayinya mereka gugurkan dan dibuang dari atas jembatan lalu nyangkut di batang pohon loa di desa hilir, di musim hujan, entah berapa tahun yang lalu, ketika itu banjir melanda, merobohkan beberapa rumah di bantaran kali dan perempuan itu ikut hanyut atau mungkin dihanyutkan pula olehnya. Dia pergi tidak semulia yang kau kira. Bukan pencarian, melainkan pelarian, yang membuatnya bergerak demikian jauh. Tapi, Bu, Ibrahim berkelahi dengan bapaknya, Musa pernah membunuh. Mungkin tanpa itu mereka takkan pernah jadi nabi, kataku. Abangmu bukan nabi, balas ibu. Tapi dia menempuh jalan mereka. Sudah tak ada jalan kenabian, balas ibu lagi. Masih, Bu, masih ada dan banyak. Kau pun nabi bagiku meski aku ragu kau bersetubuh dengan bapak setelah menikah. Bang Masil bilang, semakin banyak kita mencicipi dosa, semakin dekat rasanya tuhan.

Eee, kau sudah tercemar juga rupanya.

Tanpa dosa, kita tak bakal memahami semua dengan utuh.

Kau ini seorang perempuan, Mila. Tidak pernah tidak utuh.

Aku benci anakku karena dia seorang perempuan.

Ibu mengisap rokok yang lama didiamkan di jemari tangan kirinya. Semenjak dilahirkan ke dunia, katanya, hidup tak lagi sama. Semakin tua, aku semakin rajin berdoa, bukan karena semakin banyak mauku melainkan karena aku tak punya lagi sesuatu buat mengisi waktu. Begitu pula alasannya kenapa orang-orang tua terutama para ibu menjadi lebih bijak dan tak mudah tersakiti perasaannya, termasuk oleh ucapan anak-anaknya sendiri. Bu, kataku, yang kupahami dari panjangnya hidup yang sudah kulalui—kau baru 16 tahun, Mila, belum setua itu! Semenjak aku punya anak, aku tak pernah lagi merasa berhak untuk bermain. Bukankah itu yang namanya tua? Mungkin seharusnya kugugurkan anakku.

Jika begitu, haruskah pula kugugurkan kau?

Sepertinya obrolan ini terlambat puluhan tahun lamanya.

Suamimu masih ingin menambah anak?

Di kota-kota orang sudah berhenti beranak, Bu, mereka semakin pintar mencari cara untuk bahagia. Tidak pula lewat pernikahan. Di sana perempuan-perempuan menjadi sesantai lelaki, boleh menjadi pencuri dan tidur di trotoar. Kita termasuk yang terlambat mengetahui itu, mungkin karena kita lahir sebelum memiliki televisi, dan sekarang kita terlanjur tua—kau belum setua itu, Mila!—diam dulu, Bu! Kita terlanjur tua untuk mengeluhkan ini semua. Semua perempuan menjadi martir bagi keluarganya. Seharusnya itu indah, kan?

Aku tahu kau lebih ingin berada di sisi abangmu, bertualang tak jelas arah, menjadi manusia bebas yang tak perlu ritual apa-apa untuk menyembah, tuhannya tak bernama, masjidnya tak berbatas, anak-anaknya di semua penjuru dan tak perlu diberi makan, ibu bapaknya dari segala makhluk dan tak menuntut apa-apa, tetapi bahkan seorang perempuan paling naif akan sangat sulit untuk mempercayai hal semacam ini. Andai kau tahu, Mila, kenapa aku menikah dengan bapakmu—padahal kami sama sekali tak saling cinta, pula tak saling butuh. Andai kau tahu, ada alasan yang tak bisa kusampaikan ke orang lain sekalipun dalam dirinya terdapat pula darahku.

Sudah, Bu, obrolan ini terlalu hebat untuk orang-orang kampung seperti kita. Orang kota itu, kata Ibu membalas, jangankan untuk membicarakan hal semacam ini, asal-usul nasi di piringnya saja mereka tak tahu.

Andai abang mendengar itu, kataku.

Kurasa dia lahir karena aku bersetubuh dengan batu.

*

Di Rinjani aku menginjak tahi. Dari tekstur dan aromanya bisa kuketahui bahwa ini tahi keluar dari perut yang terlalu banyak makan yang berminyak, terlalu banyak gula, dimasak terlalu lama, dan orangnya kerap tertawa terlalu bagus sehingga membuat orang lain terluka. Tahi semacam ini berceceran di mana-mana. Di jalur pendakian, di tempat mendirikan tenda, di hulu sungai, di sisi mata air, di setiap sudut aku merebahkan tubuh. Musik keras, musik disko, musik segala rupa, berputar dari lembah hingga puncak. Kembang api meletus, embun tersingkap, burung-burung menepi dalam semak, ikan-ikan mencari gelap dalam palung kawah. Orang ramai, terlalu ramai, yang hadir, namun tidak untuk bersujud. Bisa kubayangkan apa yang terjadi jika kekacauan ini terjadi dalam masjid mereka.  

Seandainya bapak masih hidup, aku mau pulang dan memekik di mukanya, “Aku telah membantu tuhan juga setan yang ada dalam diriku untuk menemukan kembali rumah kami. Dan mereka bersedih untukku. Dan aku bersedih untuk mereka. Tidakkah kau cemburu?”

Lalu bapak bertanya kenapa aku masih saja seperti kadal.

Hadim, hadim, isma loka tabi, tulah rau makaji. Jika saja anakku masih hidup, kataku pada bapak, meski tak ada namaku di akte kelahirannya, kurasa dia saat ini sudah punya ladang bawang, juga kolam ikan mujair, dan 3 hektar padang rumput buat menggembala kambing dan kerbau, dan dia akan membuatku naik haji ke Mekah dengan paket paling mahal yang tersedia biar aku bisa mendoakan ibunya dengan lebih hebat, lalu dia merasa telah jadi anak desa yang sukses, yang berbakti pada orang tuanya, dan aku turut bahagia—tidak bohong, sungguh, dari jauh sini, aku sudah memaafkan kematiannya, juga kematianmu.

Cerpen – Handuk Belang Ibu

DOWNLOAD

Ratna Ayu Budhiarti

Cerpen ini dimuat di majalah Femina Edisi 04: 26 Jan-01 Feb 2013

 

Aku tak habis pikir, koleksi handuk ibu seingatku ada lebih dari lima, tapi kenapa hanya handuk belang ini yang sering dipakainya mandi? Kalau boleh kukatakan, handuk itu tidak bagus-bagus amat, warnanya pun tidak istimewa, bukan handuk bermerek Terry Palmer yang lembut itu, atau minimal handuk yang sering nongkrong di rak-rak di supermarket. Tapi kenapa ibu lebih sering memakai handuk belang biru langit, putih, kuning, dan oranye ini? Seperti pagi ini, sehabis mandi, setelah melihat gunungan pakaian kotor yang sedang kupilah-pilah antara baju putih, berwarna-warni, sampai celana dalam dan baju si kecil, ibu mengulang rutinitas yang sama setiap minggu (kadang-kadang merupakan rutinitas empat harian, tergantung suasana hati ibu).

“Neng, tolong sekalian cuci handuk ini! Mumpung matahari terang, jemur saja di luar, biar nanti sore bisa dipakai lagi”, ujar Ibu

“Tapi kan handuk Ibu masih banyak yang lain, kalau tidak kering pakai yang lain saja”.

“Handuk yang mana? Yang pink terlalu pendek, tidak enak, yang kuning kasar, kulit ibu sering sakit kalau menggosok badan pakai handuk itu”, ibu beralasan lagi, seperti biasa.

“Kan masih ada yang biru, yang hijau, atau yang gambar apel, bu, yang itu sajalah… Apa Ibu tidak bosan pakai handuk yang itu-itu saja? Neng aja bosan lihatnya”, tukasku menangkis alasan ibu.

“Ah, sudahlah, pokoknya ibu mau pakai handuk ini lagi nanti sore, titik!”

“Ih, tak ada variasi, yang dicuci handuk ini lagi, ini lagi”, gerutuku sambil manyun

“Kan variasinya ada di baju ibu yang lain, Neng”, pipiku dijawil, ibu pergi ke dapur.

Tuh kan, apa kubilang! Setiap kali aku mencuci baju, pasti ibu menitipkan handuk itu untuk kucuci. Setiap kali aku memprotes, ibu selalu bilang handuk belangnya lebih nyaman dipakai. Pernah suatu ketika aku berkelakar akan menjadikan handuk ibu kain lap saja karena warnanya sudah mulai kumal, ibu langsung melotot, sehingga aku langsung bungkam. Jika ibu sedang melotot begitu, ibu seperti penari Bali, biar melotot tetap kelihatan indah dan cantik. Sepertinya mata ibu itu yang membuat almarhum bapakku jatuh cinta. Ah, tapi mungkin bukan, sebab seingatku dulu bapak cerita kalau rambut panjang dan badan sintal ibu yang membuat hatinya luluh. Barangkali bapak dulu lupa bilang kalau mata ibu juga menarik, dengan bola mata coklat yang diwariskannya padaku.

Pernah sekali waktu aku menyembunyikan handuk belang ibu di sela-sela tumpukan bajuku di lemari setelah kering dijemur. Sampai ibu nyaris tak jadi mandi karena mencari-cari handuk kesayangannya, hingga akhirnya menyerah sebab adzan Maghrib berkumandang dan ibu paling tidak suka mandi selepas waktu maghrib. Kala itu handuk hijau yang digunakannya sebagai pengganti, sebab aku beralasan lupa menaruh handuk dan beberapa baju lainnya. Maafkan aku, Ibu, terpaksa berbohong, sebab aku ingin meminjam dulu handukmu untuk kuteliti. Sehari saja.

Diam-diam kuamati senti demi senti handuk belang biru langit, putih, kuning, oranye itu. Tak ada yang istimewa. Kutelisik pinggiran jahitannya: sempurna. Kupejamkan mata dan merasakan serat-serat handuk itu di telapak tanganku, sedikit agak kasar, tidak lembut seperti yang ibu bilang. Kuulangi kedua kalinya, tetap tak ada yang istimewa: bukan handuk berkelas seperti di iklan televisi tempo hari itu. hanya selembar handuk berukuran panjang kira-kira satu rentangan tangan dan lebar yang cukup menutupi dada hingga setengah paha. Kuulangi untuk kali ketiga, sekarang lebih perlahan menelusuri selembar kain itu. Aha! Ini dia perbedaannya di antara handuk-handuk yang lain: label kecil tersemat di pinggir jahitan lebar handuk, ada tulisan berhuruf kapital dan berbunyi: “DEPARTEMEN SOSIAL R I”.

Seingatku handuk ini baru berumur kira-kira tiga tahun. Tak sampai sebulan setelah aku menikah, rumah kami dijadikan tempat api pesta pora, melahap segala yang kami punya, termasuk buku-buku, komputer, surat-surat berharga, juga pakaian yang kami punya. Aku sedang berada di luar kota kala itu, memperkenalkan diri pada orang-orang baru, keluarga suamiku. Secepatnya aku pulang begitu mendengar kabar buruk di waktu sahur bulan Ramadhan tiga tahun lalu itu. Lemas seluruh badanku menyaksikan segalanya gosong, hitam legam, seperti yang sering kusaksikan dalam berita di layar kaca. Hanya buku tulis berisi puisi-puisiku yang ditulis tangan sejumlah empat buku bisa selamat, itupun seperti aku menemukan harta paling berharga seumpama nyawa, terselip menempel pada lemari plastik, dengan pinggiran buku yang gosong.

Bapak kepala desa rupanya bersimpati mengajukan permohonan bantuan pada pemerintah. Dikiriminya kami mie instan, ikan kalengan, minyak sayur, perlengkapan mandi dan dua lembar handuk belang bertuliskan “Departemen Sosial R I”. Bapakku yang tak lama baru pulang dari rumah sakit sehabis menjalani kemoterapi untuk kanker paru-parunya sempat menolak secara halus, katanya tak perlu, kami nanti akan mengambil uang tabungan saja untuk membeli semua keperluan, atau meminjam pada saudara, lebih baik sumbangan itu diberikan pada yang jauh lebih memerlukan saja. Tidak! Bukan karena gengsi beliau yang dipandang sebagai orang yang cukup, toh kami tidak hidup bergelimang harta, tapi beliau masih merasa ada yang jauh lebih butuh dari kami. Tapi setelah aku dan ibu bilang itu kasih sayang bapak kepala  desa dan tetangga kami, akhirnya bapak mau menerima sumbangan itu.

Tak lama setelah peristiwa kebakaran, tepat di hari kedua Idul Fitri, bapak meninggal. Menyisakan kepedihan dan kehilangan yang dalam di hati ibu dan aku, juga anak-anaknya yang lain. Mayatnya dimandikan dan diseka dengan salah satu handuk belang itu, yang kemudian handuknya dibakar. Kata ibu, biar tak perlu menangis jika melihat handuk itu lagi.

“Neng, handuk ibu sudah kering belum? Ibu mau mandi nih!”, teriak ibu dari lantai bawah.

“Sebentar Bu, ini sedang angkat jemuran yang lain juga, biar sekalian dibawa turun!”, jawabku sambil menyambar dua potong baju si kecil yang tersisa.

Aroma tempe goreng menyebar dari dapur, menggelitiki hidung dan membuat perutku beryanyi. Kutumpukkan pakaian kering itu di keranjang, tak perlu dilipat, toh aku akan segera menyetrikanya. Selembar handuk kusampirkan di bahu ibu.

“Ini, Bu, handuk tercintanya”, kugoda ibu sambil menyambar tempe di piring yang masih setengah panas.

“Terimakasih”, singkat jawab ibu, sambil mematikan kompor.

“Bu, Neng penasaran sekali, kenapa Ibu tidak bosan memakai handuk belang ini? Seratnya saja sudah kasar begitu, ibu bilang masih nyaman, aneh! Lagipula, Bu, cuma handuk bertuliskan departemen sosial R I begitu aja kok istimewa sekali?”, kuberondong ibu yang langsung duduk di kursi.

“Hhhh..baiklah”, berat nafas ibu. “Handuk itu lebih dari sekedar selembar kain. Kau tahu kan handuk itu hasil sumbangan ketika kita kena musibah kebakaran?”, aku mengangguk, ibu melanjutkan. Sepertinya agak berat, karena mendadak wajahnya mendung dengan mata berkaca-kaca. “Handuk sumbangan itu ada sepasang, satu dipakai bapakmu, satu dipakai ibu. Kedua handuk itu nyaris sama namun sesungguhnya berbeda sedikit. Milik ibu belang oranyenya lebih banyak, sementara punya bapak belang birunya yang lebih banyak. Handuk milik ibu dipakai mandi terakhir bapak, menemani bapak menyeka sisa air di tubuhnya. Dan handuk yang kau lihat ini adalah handuk bapak. Dengan handuk ini, ibu merasa ditemani bapak, merasa bapak tetap menjaga ibu, menemani ibu saat menyeka sisa air mandi, bahkan ibu kadang-kadang merasa dipeluk bapak. Handuk ini pun mengingatkan ibu bahwa kita pernah mengalami musibah kebakaran dan kehilangan harta benda, membuat ibu selalu bersyukur sama Gusti Allah karena masih diberi kesempatan hidup, menyadarkan ibu kalau harta dunia hanya titipan dan bisa diambil kapan saja. Handuk ini, bukan handuk sembarangan, Neng. Meskipun harganya kalah jauh dengan yang di supermarket itu, handuk ini benar-benar membuat ibu selalu eling, untuk tidak takabur dan mengingatkan ibu akan kasih sayang Gusti Allah pada bapakmu, pada ibu, juga pada kamu, Neng. Kasih sayang Allah dengan menjemput bapak lebih dulu, dan membiarkan kita berdua masih hidup untuk mendoakan bapakmu”.

Aku tergugu, air mata meleleh tanpa terasa “Aku kangen bapak, Bu..”

“Sama. Ibu juga. Ibu mandi dulu ya, habis itu kita sholat maghrib bersama, mengirimkan doa rindu buat bapak”, parau suara ibu menegarkan diri, kemudian berlalu menuju kamar mandi.

Cinta itu, Pak, ternyata demikian indah untukmu. Ibu mencintai Bapak lewat cara sederhana. Melalui selembar handuk ibu mengenangmu, lelaki terkasih yang membantunya kuat menjalani sisa hari-hari tanpamu, Pak.

***

https://ratnaayubudhiarti.files.wordpress.com/2012/12/capture.jpg?w=300″ width=”300″ height=”226″ />

 

Puisi – Fobia

DOWNLOAD

Fobia (Karya Thea Arnaiz Le)

dibacakan oleh Sigit Rais

 

Aku pernah takut pada bunga—mereka membuatku

takut akan apa yang ada di balik tumpukan kelopak dan

di antara putik serta sarinya.

Selanjutnya, aku pernah takut pada kacang panjang—

mereka pasti menyimpan sesuatu yang mengerikan di

dalam tubuh panjangnya.

Setelah dipikir aku ini juga takut pada gelap—mereka

menakuti sejak dalam gen.

Ternyata kita takut karena tidak tahu apa yang di balik

itu semua, imajinasi buruk.

Namun, semuanya sudah kulipur karena sekarang aku

sudah bukan belia lagi.

 

Surakarta, 2018

Cerpen – Mencari Parmin

DOWNLOAD

Mencari Parmin

Cerpen Udiarti

 

Njoto membalik-balik lembar demi lembar. Sampai halaman terakhir. Bahkan indeks ia jelajahi satu persatu. Tak ketemu juga. Sampul depan dan belakang ia tatap terus menerus. Tak ketemu!

“Di mana si brengsek itu meletakan namanya sih?” Njoto mengumpat, sesekali meludah. Ia tutup buku itu. Tak berguna.

“Orang bodoh ini kenapa tidak menulis apa pun tentang dirinya? Goblok.” Njoto mengoceh lagi. Ia banting buku. Pergi.

Langkahnya kini santai. Setengah menyerah. Rokok di kantung celana ia ambil, sebatang ia hidupkan. Dihisap, dikebulkan, ke langit, tanpa batas ia memandang langit siang itu begitu busuk. Jakarta sungguh busuk, gemingnya. Hari sabtu, ini jadwalnya bercinta dengan Mariana. Ia sudah siapkan satu puisi untuk Mariana baca di depannya. Sebelum bercinta. Puisi Hendrik Marsman yang telah ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, masuk ke dalam saku kemeja. Oleh-oeleh untuk Mariana, Pelacur Kekasih.

Di atas motor yang melaju menyusur hal-hal yang tidak romantis di jalanan Ibu Kota, dengan rokok di bibir dan sesekali menggantung di celah jemari. Njoto terkenang suara itu lagi. Klenengan biadab! Suara gamelan yang muak di telinganya. Asu benar! Ia mengumpat dalam hati. Jauh-jauh ia menumpang hidup di Jakarta, minggat dari Surakarta hanya untuk meninggalkan suara-suara gamelan itu, tapi nada-nada pelog slendro  sudah menggantung di sisi gendang telinganya. Menyayat-nyayat sampai malam tiba. Sampai hening menemukan tubuhnya gemetar di ranjang sendirian. Sialan, ia teringat Sri.

“Modar sajalah Si Sri itu. Mengacau saja kerjaannya.” Gumam Njoto.

Di Surakarta, Njoto adalah seorang yang rajin mengintip kamar ganti penari Wayang Orang Sriwedari. Ada satu perempuan memabukan baginya. Sri namanya, Sri Maria kepanjangannya. Punya masa lalu busuk tentang orang tuanya. Terobsesi dengan gamelan Jawa yang hanya akan merdu ketika dimainkan bersamaan. Ayahnya abdi dalem Keraton. Berteman dekat dengan seseorang bernama Pontjopangrawit, ia legenda dalam dunia gamelan Jawa, ayah Sri tidak, hanya laki-laki abdi dalem Keraton biasa.

Njoto dan Sri berpacaran, setelah kemben Sri berhasil diplorotkan di dalam kamar mandi Sriwedari yang sempit dan gelap. Dikenyot buah dada itu dan Njoto mulai gila. Tapi Sri tak mau menyerah, ia menantang kekasihnya. Ayah Sri hilang setelah 65, tentu saja. Ayah Sri yang mengikuti jejak sang Legenda Pontjopangrawit, berjuang menentang Kolonialisme dan harus diasingkan di Tanah Merah Digul. Berhasil membantu Sang Legenda membuat seperangkat alat gamelan dari perkakas-perkakas dapur di Pengasingan. Lalu dikembalikan lagi di sisi keluarga masing-masing. Tapi mengikuti jejak Pontjopangrawit adalah sebuah pilihan hidup yang berani sekaligus bunuh diri. Turut serta dalam partai politik kiri, siapa lagi jika bukan PKI, membuat mereka di depak dari Keraton. Dipenjara, dan entah diperlakukan apa. Sri gamang, kisah Pontjopangrawit tertulis di buku sejarah, tapi ayahnya tidak. Sedang barangkali, tepat di tahun ayahnya menghilang, Sri lahir ditinggal mati Ibunya.

Njoto trenyuh, sedih, punya cita-cita untuk menemukan nama Ayah Sri di buku sejarah Gamelan di Indonesia, seperti tantangan Sri untuknya. Tapi tak ketemu! Dia mondar mandir di Radya Pustaka Sala dan perpustakaan daerah. Tak ketemu juga! Ia marah. Sri Maria tak mau ketemu Njoto lagi, ia baru mau ketemu jika sejarah ayahnya yang bernama Parmin ini diketemukan dalam buku sejarah gamelan di Indonesia. Njoto yang malang.

Setiap mendengar suara gamelan yang sialnya dia tinggal di daerah Kemlayan, tempat yang sering digunakan untuk latihan karawitan. Telinganya mengingat desah mungil dari bibir Sri. Dan candunya itu makin membunuhnya. Orang-orang yang tak mengerti tentang gamelan, mendengar suaranya di malam hari akan merasa takut, mrinding dan dihubungkan dengan klenik, mistis atau lebih parahnya santet. Tapi Njoto tidak, mendengar suara gamelan berarti membangkitkan berahi seksualnya, ingin bercinta, ingin menuntaskan hasrat kemanusiaannya. Tapi dengan Sri, sialnya Sri tak mau lagi. Njoto pun minggat ke Jakarta, melamar sebagai wartawan harian di salah satu media massa Ibu Kota. Bolak balik mencari berita, yang ia dapat melulu politik simpang siur. Ia bosan.

Lantas bertemu dengan Mariana bergaun biru di rumah makan China. Berkenalan mereka, jatuh cinta Njoto pada tubuhnya, bergumul mereka di kasur indekos Mariana. Dan Njoto, agar terlihat keren, menyuruh Mariana membaca puisi sebelum mereka bercinta. Sungguh surga baginya. Tapi sial selalu merenggut kesunyian bercintanya yang agung. Ia dipindahkan untuk meliput berita-berita budaya, harus bolak-balik ke TMII dan mendengar suara menyebalkan yang sungguh ia kutuk sedari dulu. Macam Sri mengikuti dan mengingatkan janjinya sampai mati.

Mendadak ia ingin jadi pengikut Pontjopangrawit saja. Memusuhi Belanda dan jadi gundik Komunis di Indonesia. Ditangkap lalu dibunuh, ia akan menulis dulu hari-harinya sebelum peluru melobangi kepalanya. Tak perlu ia ketemu Sri dan ketakutan pada bunyi Gamelan Jawa.

Ia selalu bangkit pada siang-siangnya di tengah luang mencari berita. Ke perpustakaan mana pun di Jakarta. Mengobrak abrik segala buku tentang Gamelan dan mencari nama Parmin. Tak pernah ketemu, hanya nama Pontjopangrawit yang disebut dengan perjuangannya yang akhirnya dibunuh militer orba, beruntung seperangkat gamelan buatannya yang ditinggal di Digul diboyong semua ke Archive of the School of Music di Australi sana. Sebuah kebanggaan bangsa Indonesia, sayang, penciptanya dibunuh sendiri oleh bangsanya sendiri. Ya makhlum-makhlum saja, toh sejarah diciptakan pula bukan untuk mencatat kebenaran, tapi untuk kepentingan masa depan suatu kelompok.

Njoto tak habis pikir kenapa mantan kekasihnya Sri, begitu yakin ayahnya akan tertulis di buku sejarah, membawa gamelan dan namanya dipuja-puja. Nyatanya tidak, tak ditemukan satu pun arsip tentang Parmin. Sri bercerita, Parmin bertugas memegang kendali pada kempul. Sambil menutup mata saja Parmin bisa membunyikan kempulnya dengan benar. Lalu Njoto nyaris tersedak ketika ia tahu bagaimana cara memainkan alat musik kempul. Dipukul sesekali namun dinamis pada jalur nadanya, mleset sekali jadi rancu! Tapi, dengan cara macam itu, memang pemegang kempul selalu bisa memainkannya dengan cara menutup mata. Karena yang dibutuhkan adalah kepekaan telinga untuk mengikuti susunan nada. Mata tak perlu repot melongok-longok pada kertas nada. Apa menariknya?

Tapi seandainya, pemain kempul tak ada, kumpulan instrumen lainnya tak bisa didengar lengkap. Tetap rancu! Ahh tidak tahu! Njoto mengumpat lagi. Perjalanannya menuju Mariana terasa lebih jauh. Ditambah kepalanya pusing mendengar suara gamelan. Njoto berhenti sebentar di tepi jalan. Ia mengambil kertas yang bertuliskan puisi Hendrik Marsman oleh-oleh untuk Mariana. Ia baca sebentar.

Pelayaran

Kapal sepi dan hitam

Berlayar di malam larut

Lintas gelap, hebat dan geram

Menyongsong maut, maut

“Barangkali Parmin dan Pontjopangrawit merasakan apa yang ditulis Marsman. Gila benar, mau-maunya menyongsong maut.” Katanya setelah membaca satu bait.

Aku jauh di lambung, mengerang

Kelu dan ngeri dan sepi

Dan kutangisi daratan cerah

Yang tenggelam di kaki langit

Dan kutangisi daratan gelap

Yang timbul di kaki langit

“Juga mereka berdua tengah menangisi negara ini. Malang kalian berdua. Bahkan embel-embel abdi dalem keraton saja tak bisa melindungi nyawa kalian. Semua eks tapol Digul diciduk dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan masih setia pada komunis. Ya ya.” Njoto bersungut, melipat kertas itu dan memasukan kembali ke dalam saku kemeja. Melaju lagi menuju Mariana.

“Ahh kenapa aku bisa gila begini.” Njoto makin kesal.

Ia teringat bagaimana Sri bercerita tentang keadaan jiwa Parmin ketika dipenjara di Digul. Sebal, takut, marah dan sedih menyatu. Tak tahu harus dilimpahkan ke siapa. Sedang istri tercintanya masih di Sala, mengandung buah hati darinya. Tapi Sri tak pernah tahu bagaimana keadaan jiwa Parmin ketika diboyong oleh pemberantas PKI di tahun 65. Mungkin Parmin sudah siap. Tapi mungkin juga tak trima, ia adalah seniman, ia punya tugas. Tugas seniman adalah menyusun apa yang sudah ada dari Tuhan untuk jadi sesuatu hal yang indah dan dapat dinikmati manusia. Jadilah nada-nada yang mengalun dari gamelan terutama kempul yang ia kendalikan.

Njoto akhirnya sampai di indekos Mariana. Ia benahi kemeja lengan pendeknya. Warna biru tua juga kali ini. Rokoknya ia ambil, merokok dululah ia sebelum menemui Mariana di dalam kamar. Satu batang selesai. Anjing, umpatnya. Suara gamelan, kali ini ia hapal. Ini adalah nada-nada yang mengiringi tari Gambyong. Sialnya suara itu berasal dari kamar yang ia kenali. Kamar Mariana, yang di depan pintunya ada sebuah tempelan kertas bertuliskan “Mampus kau dikoyak-koyak sepi!”. Salah satu kalimat dari puisi Chairil Anwar kesukaan Njoto. Tak berani ia mendekat ke pintu itu. Takut menerima kenyataan bahwa suara gamelan itu memang berasal dari kamar Pelacur Kekasihnya.

Njoto mengambil rokok lagi, yang kedua, merokok dengan kepanikan. Matanya berputar-putar mengintai sekitar. Berjaga adakah yang aneh dalam pemandangan sekitar kamar Mariana. Tak ada, hanya ada pot bunga sedap malam kesukaan Mariana. Ia harus tahu apa yang ada di dalam kamar itu. Ia harus memaksakan diri untuk mengetuk pintu. Pintu diketuk. Dua kali, tiga kali, empat kali. Tak ada yang beranjak. Suara gamelan masih terdengar dari kamar Mariana. Njoto makin panik. Ia berusaha tenang. Ia sadar, pintu kamar itu tidak dikunci di hari sabtu. Agar Njoto selalu bisa masuk tanpa menunggu. Aneh juga kenapa ia harus mengetuk dulu sore itu.

Dibuka pintu kamar itu. Tak bergerak. Njoto jadi patung. Gending Pareanom masih mengalun dari dalam kamar. Mariana dilihatnya. Pulas, lengkap dengan gaun biru tua. Dengan gincu merah merona tebal kesukaannya, sebentar kemudian kejantanannya naik. Melihat bagian bawah gaun Mariana yang tersingkap dan paha putih terpancar di sana. Tapi kemudian ia lunglai. Sosok lain di samping Mariana, sedang berbisik di telinga Pelacur Kekasihnya itu. Njoto menahan nafas. Gending hampir menuju pada bagian mundur beksan, terakhir. Njoto pun ingin mundur, tapi sosok di depannya membuatnya jadi patung. Sihir.

Perempuan, gaun cokelat tua dan rambut bergelung. Berbisik pada Marianan.

“Tidurlah. Ini akan jadi malam yang indah dan tak perlu kau bacakan puisi. Kau dengar saja gending dari gamelan ini. Tugasmu sudah cukup, aku akan membawa Njoto kembali.” Kata gadis itu. Njoto diam. Tak berani berargumen. Tak berani menyuruh membaca puisi. Tak berani mengumpat pada suara gamelan. Setelah ia lihat, Sri tengah memegang ganggang pisau buah milik Mariana, sedang ujung yang lain menancap lembut di dada Mariana. Gending Pareanom yang sebenarnya membahagiakan itu selesai dan berubah jadi malapetaka. “Waktumu telah habis Njoto. Kau tak bisa menemukan sejarah Ayahku dengan tepat waktu.”

 

Udiarti, lahir di Gunung Kidul, besar di Karanganyar, saat ini tengah menumpang hidup di Jakarta.

 

 

Cerpen – Yap Poh Yuen

DOWNLOAD

Yap Poh Yuen
Liston Siregar

”Kenapa… Kau mau perkosa mereka ya!” bentaknya. Mukaku memerah, bengong, tersenyum kagok. Ia tidak perduli. ”Aku tahu orang Medan dan Bandung bermusuhan. Aku tahu.” Ia tutup buku tamu besar di hadapannya, menghidupkan rokok dan, ”ini koreknya, gratis.”

Aku memang mau minta korek api. Tapi dia sedang bicara dengan dua perempuan muda berbahasa Indonesia. Aku tertib menunggu giliran sambil menguping. Si tua galak itu tahu aku orang Indonsia tapi tidak mengenalkan kedua tamu barunya. Salah seorang perempuan melirikku ke belakang. ”Bayarnya nanti saja ya Om, karena mami baru datang besok,” kata yang satu lagi, bercelana jins dan oblong kuning ketat. Ketika meninggalkan counter, keduanya tersenyum ke arahku, genit.

”Boleh saya pinjam korek,” tanyaku pelan. ”Tunggu,” katanya tegas sambil mencatat di buku besar berjalur lima. Nah sambil menunggu, aku iseng menanyakan kedua perempuan tadi. Perempuan Indonesia yang datang ke Singapura jadi penghibur bukan cerita baru, apalagi ada kata mami. Keluarga apa pula yang punya dua putri sebaya yang sama sekali tidak mirip, dan menginap di satu hotel murahan di Singapura. Makanya, iseng-iseng, aku tanya nomor kamar mereka. Dan, itu tadi, ia membentakku.

Jadi itu logikanya; laki-laki Medan memperkosa perempuan Bandung. Entah darimana dia bisa punya logika seperti itu entahlah.

Aku hidupkan rokok di bawah sorot matanya. ”Darimana kau tahu itu,” tanyaku pura-pura setuju saja dengan pendapatnya bahwa orang Medan dan Bandung bermusuhan. Setelah menghembuskan asap rokok, ia simpan buku tamu, meletakkan pulpen hitam besar dalam kotak di ujung meja, dan mendekatkan asbak ke hadapanku. ”Aku pernah tinggal di Indonesia,” katanya. Ada nada bangga di suaranya.

”Oh ya, dimana?”

Dan pertanyaan itu memancing cerita panjang. Yap Poh Yuen mengaku pernah bekerja di kapal yang berkeliling Australia dan Indonesia. Ia pernah singgah di Surabaya, Medan, Jakarta, Semarang, Makassar, Ambon, dan Manado. Bahkan punya istri dan dua anak di Makassar. ”Tahun lalu mereka datang ke sini. Tidur di Hotel Mandarin. Tahu siapa yang bayar… Aku bayar semuanya,” katanya tertawa besar.

Barisan giginya dipenuhi warna coklat gelap sisa nikotin. ”Tak apa, aku sayang mereka,” tambahnya pelan sambil menyedot rokok dalam-dalam. Aku amati garis-garis keriput yang memenuhi wajahnya, mengapit hidung, berbaris empat memanjang di kening, mengelilingi bibir yang hitam, keluar dari ujung-ujung mata sampai ke telinga.

Ada diam, dan itu sebenarnya saat tepat untuk kembali ke kamar. Tapi, tak ada salahnya menemani seorang tua yang akan kesepian sepanjang malam ini. Aku putuskan menunda catatan perjalanan hari itu; catatan ketertiban dan kebersihan Singapura yang mekanis. Gedung-gedung tinggi yang angkuh, kereta bawah tanah yang melesat kaku, orang-orang dingin yang berlalu-lalang, serta senyum penjaga toko yang palsu.

Kosong, kering, mati. Si tua di depanku ini mungkin bisa jadi warna. Warna yang bernafas, hidup, basah.

”Sudah berapa tahun bapak kerja di hotel ini,” kataku pelan, sedikit lebih hormat, setelah ia sepertinya membiarkan aku berpikir sebelum memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan. ”Ini hotelku,” katanya singkat. ”Kau tak percaya ya,” sambungnya tertawa. Ia buka laci coklat tua yang berat, dan diambilnya sebuah foto berlapis plastik dari bawah buku tamu yang tebal tadi. Dua orang berangkulan, tertawa besar, di bawah papan besar ‘Tionghoa Hotel’. ”Ini aku dengan kawanku. Kami berdua pemiliknya.”

Kuduga gambar itu sekitar tahun 1980-an. Hotel tua dengan pintu dan jendela yang lebar dan tinggi ini tampak indah. Deretan lampu warna-warni menghiasi tulisan Tionghoa Hotel, dengan beberapa rangkaian bunga di pintu masuk. Kini Hotel Tionghoa sudah bisa jadi objek penelitian sejarah perencanaan kota Singapura. Cat dinding berwarna putih dan krem sudah banyak yang terkelupas, tiap kamar hanya dilengkapi dengan gembok kecil, wastafel yang sudah menguning, dan cermin retak dengan keempat ujung besi yang berkarat.

Tinggal kebersihan yang masih tersisa. Seprei dan sarung bantal putih yang lurus dengan sisa-sisa bau deterjen, meja dan kursi kayu coklat tua berat yang terawat, lantai yang tidak berdebu dengan keranjang sampah plastik merah di pojok. Hotel bertarif dua puluh dolar Singapura ini cukup layak direkomendasikan pada pelancong miskin, seperti aku, atau wanita penghibur yang menunggu pos penempatan, seperti dua wanita tadi.

”Tahun 1964 aku berhenti kerja di kapal. Finish!” katanya keras menghentikan lamunanku. ”Aku dulu kapten kapal, kapten penuh…,” Aku angkat hidungku sedikit. Biasanya kapten kapal tinggi, kekar, bergaya elegan, tapi si tua Yap paling satu meter enampuluh senti, kasar dan sembarangan. ”Kau pasti tidak percaya,” katanya, lagi-lagi menghentak. ”Kapalku Evergreen, 40.000 ton. Itu bukan kapal main-main.”

”Tapi aku sudah selesai. Finish!.” bentaknya sambil mengibaskan silang kedua tangannya. ”Topan besar itu memang gila. Tingginya dua puluh meter. Oh kau tidak akan pernah tahu itu. Jangankan kau, anak kemarin sore, kapten-kapten kapal lain saja banyak yang belum pernah melihatnya. Tapi aku menghadapinya langsung di Lautan Pasifik, dan selamat.”

Disedotnya lagi rokoknya. Kuku jari tengah dan telunjuknya sudah menguning terpanggang asap rokok dan terbilas sisa nikotin. ”Waktu itu aku sudah pasrah. Kami masuk ke bawahnya. Untung hanya satu, kalau disusul gelombang lain, mati semua!” tambahnya. ”Sampai pelabuhan aku langsung minta berhenti.” 

“Mestinya kau bisa pasang harga tinggi…,” kataku spontan menimpali.
”Apa? Kau kira aku gila. Cukup satu kali. Bossku minta aku tetap kerja. Aku bilang tidak. Aku punya dua istri, lima orang anak.” 
Cepat kupotong, ”lantas kenapa dulu mau jadi pelaut?”
”Oh ya, kau, apa kerjamu, apa coba,” tanyanya sambil melototkan matanya. ”Apa kerjamu, kasih tahu aku,” desaknya tidak sabar. Ogah-ogahan aku jawab pelan.
”Oh ternyata kau wartawan. Wartawan gila!,” katanya melengos, membuang pandangan ke samping.

Kaget campur bengong, aku cuma bisa mengerutkan dahi.
”Kau wartawan yang belum pernah ke medan perang. Sekali kau ke sana kau baru tahu kematian dekat sekali, tak berjarak. Dor…dor…dor…,” ia menembakku dengan tangan kirinya, ”mati kau, dan anakmu makan apa?”

Belum sempat aku membantah, ia sudah nyerocos lagi, ”aku tahu kau belum kawin, makanya matamu hijau melihat perempuan! Aku juga tahu kau belum pernah bertugas ke medan perang,” suaranya memelan. 

Tapi aku memilih jadi wartawan untuk menembus batas-batas geografi dan budaya. Aku wartawan yang punya mimpi; satu hari kelak berada di tengah desing peluru, mencium bau mesiu, terciprat darah segar. Itu heroisme wartawan, sekaligus romantisme. ”Dan sejak awal aku siap untuk itu. Jadi mestinya seorang pelaut siap untuk gelombang besar, kalau memang ia pelaut sejati,” kataku meninggi sambil menjentikkan abu rokok.

”Dua puluh meter! Pelaut sejati macam apa yang kau maksud. Mungkin aku satu-satunya kapten yang pernah mengalaminya. Ah sudahlah, kau tahu apa.”

Ya, sudahlah. Aku putuskan tidak memperpanjang lagi. Ini soal persepsi, dan siapa yang bisa menjembatani persepsi antar generasi. Yang satu merasa lebih tahu, dan yang satunya tidak merasa kurang tahu. Soal klasik yang tidak akan pernah selesai. Jadi, sudahlah.

Tapi ia membaca isi otakku.

”Kau wartawan, kau bercita-cita berkeliling dunia, bercita-cita bertugas di medan perang. Setelah dua puluh tahun jadi wartawan, bom meledak di sampingmu. Kau selamat. Dan besok kau datang ke tempat yang sama, menunggu bom lagi? Menunggu mukjizat lagi? Omong kosong! Mukjizat hanya datang satu kali. Yang kedua, jatuhnya pasti di atas kepalamu. Bam,” kedua tangannya bergerak ke atas membentuk pecahan bom.

Ia matikan rokok yang sudah tinggal filter ke asbak kaleng di depannya. ”Mampus kau!”

Aku diam. Jangan terperangkap ke soal klasik jurang generasi.

”Coba tebak umurku berapa,” tanyanya. Ada sedikit rasa lega terlepas dari debat yang tak bakal usai itu. Aku perhatikan ia pelan-pelan, mencoba membuat taksiran terbaik. Wajahnya ia sorongkan ke arahku, menantang.

Baiklah. Aku amati garis-garis keriput di wajahnya, mengapit hidung, berbaris empat memanjang di kening, mengelilingi bibir yang hitam, keluar dari ujung-ujung mata sampai ke kedua telinga. ‘’Enam puluh awal,” kataku mantap.

”Enam puluh? Kau memang wartawan gila!. Bulan depan, tanggal 18 ulang-tahunku yang ke lima puluh tujuh. Wartawan gila. Bagaimana kau bisa jadi wartawan kalau menebak umur saja salah.”

”Tapi kau kelihatan lebih tua. Mungkin dulu kau suka mabuk, suka main perempuan,” kataku membela diri, karena ia memang tampak lebih tua dari usianya.

”Hahahaha,” tawanya meledak bebas sampai aku mengerutkan tubuh untuk meredam tawa itu agar tidak membangunkan seluruh tamu hotelnya. ”Aku punya dua istri memang, tapi istri! Aku kawini mereka resmi di catatan sipil. Mabuk… satu tetes alkoholpun tak pernah lewat kerongkonganku. Sumpah! Kau tidak percaya kan… Sudahlah, anak muda sekarang selalu punya alasan.”

Ya, sudahlah, akupun tidak tahu mau bilang apa lagi. Ia sepertinya sadar dan mengalihkan ke cerita lain, dengan suara yang hampir berbisik.

”Tahun lalu anakku minta dibelikan taksi. Aku beli. Sekarang dia mau jual taksi itu. Katanya turis sudah tidak banyak lagi karena barang-barang di Singapura terlalu mahal, pemerintah salah karena memasang pajak terlalu tinggi, harga bensin naik. Terlalu banyak alasan. Ya… itu cuma alasan. Kenapa supir taksi yang lain masih ada? Kau lihat ke luar sana, ada berapa ribu taksi. Terlalu banyak alasan. Itulah kalian.”

Aku makin tidak tahu mau bilang apa. Ada kekecewaan di suaranya, yang membuatku justru enggan memutus obrolan untuk kembali ke kamar. ”Yang satu lagi minta uang untuk sekolah di Universitas Nasional Singapura. Hebat. Sekarang jadi salesman. Tidak ada lagi cerita sekolah. Kalau aku tanya, dia punya sejuta alasan. Padahal dulu, tiap detik hanya buku tebal-tebal saja yang aku dengar. Sudahlah.

Yang perempuan, kau tahu, kawin sama orang Amerika. Aku sudah ingatkan, tapi dia rupanya lebih tahu. Cinta, katanya. Sekarang, mau apa? Si Amerika sudah pulang ke Amerika sana. Anakku bilang tidak mau hidup di Amerika, cuacanya lain, budayanya lain. Omong kosong! Itu cuma alasan, aku tahu dia ditinggal si Amerika. Untung aku sayang cucuku…”

Aku diam dan sedikit kagok ”Kalau yang di Makassar aku tidak tahu, Tiap bulan aku kirim uang, selesai. Itu bukan salahku. Dulu aku ajak mereka pindah, istriku yang di sini sudah setuju, tapi istriku yang di sana yang tidak mau,” katanya dengan mata yang menerawang jauh. Ia ambil rokok yang baru. Aku lihat matanya, penuh, jatuh ke dalam, dalam sekali.

”Sekarang aku tak mau pusing. Mau jual taksi terserah, mau jadi salesman bagus, mau kawin sama orang Inggris, Jerman, Yahudi, atau Afrika pun silahkan. Dia mau ambi cucuku, boleh saja. Anak muda selalu mau menang sendiri, kami ini cuma orang bodoh,” katanya dengan mata yang kembali menantang. Aku biarkan tantangan itu. Sorot matanya tampak lelah, tapi terasa menusuk tajam.

”Singapura ini sudah terlalu maju untukku. Aku masih ingat lima puluh tahun lalu Lee Kuan Yew datang ke pelabuhan. Kami semua bersorak-sorai, mengepalkan tangan mendukung dia. Belakangan dia lupa semuanya, tak perlu lagi dengar suara orang lain. Yang penting bangun, bangun. bangun. Sekarang anaknya makin kacau cuma senang-senang jadi bos.” Ia sedot rokoknya dalam-dalam, ia hembuskan, dan ia pandangi asap yang melayang ke atas, hilang.

”Hotel ini sudah kami jual. Pemerintah mau membangun. Tahun depan roboh semuanya. Aku suka hotel ini, tapi mau apa.” Hening, sepi. “Aku tahu hotel ini pasti sudah dijual kembali sama konglomerat dengan harga yang lebih tinggi. Paling kami dapat setengah, tapi harus dijual. Jual saja.” Ada nada kemenangan, bukan pasrah. Kemenangan yang sulit dipahami.

”Lantas apa yang bapak kerjakan?” tanyaku lembut, hormat, dan hati-hati.

”Apa yang mau kukerjakan? Finish! Aku tidak mau kerja apapun lagi! Aku dan istriku mau ke Kanada. Kami punya rumah di sana, rumah yang berhalaman.” jawabnya tersenyum, dan mata itu, lagi-lagi menerawang jauh.”Singapura bukan tempat kami lagi,” tambahnya.

Diam kembali mengambang di antara kami berdua. Dan itu kesempatan untuk menikmati garis-garis keriput di wajahnya, mengapit hidung, berbaris empat memanjang di kening, mengelilingi bibir yang hitam, keluar dari ujung-ujung mata sampai ke kedua telinga. Aku nikmati oblong putihnya, ujung-ujung benang yang terlepas di bagian leher, dan dua sobekan kecil di lengan kiri.

”Sudahlah,” katanya menepuk meja dengan keras. Aku tersentak.

”Kau harus istirahat. Besok kau harus melihat Singapura dari ujung ke ujung. Singapura yang maju. Semua kemajuan ada di sini, kau harus melihatnya supaya tidak ketinggalan. Tidurlah,” katanya sambil berdiri, mendesakku untuk segera pergi.

Kusalam dia. Ada jabat erat. Ia tersenyum lepas.

Aku tinggalkan ruang berukuran tiga kali dua meter itu, tempat hotel bertarif dua puluh dollar Singapura, Hotel Tionghoa, dikendalikan. Di kamar, aku putuskan menunda catatan perjalanan hari itu. Tidurlah, kata Pak Yap Poh Yuen.

Esok paginya, ia tidak ada. Ada orang tua yang lain, dengan hem putih bersih berlengan panjang dan celana biru tua yang licin. Ia pasti teman Pak Yap di foto semalam. Ia punya garis keriput, tapi garis yang lain. Mengapit kedua hidung memang, tapi hanya berbaris tiga memanjang di kening, mengelilingi bibir yang pucat, tanpa garis yang keluar dari ujung-ujung mata. Kedua matanya adalah mata Singapura. Kosong, mengambang lepas di permukaan, dingin, mati. 

 

Aku serahkan kunci. Si tua tolol yang bertugas itu, sungguh mati dia memang tolol, menahanku. Ia beri selembar kertas. ”Dari Mister Yap,” katanya datar.

Aku baru bertugas tiga hari lagi, dan kau sudah pulang. Bulan September aku pasti sudah di Vancouver, kalau aku masih hidup tentunya. Rumahku di 209 Blair Blud, Vancouver 37212. Datanglah, kalau kau belum mati kena bom. Aku dan istriku pasti senang. Wartawan gila, jangan lupa kirim aku kartu pos dari Bosnia.

Hari itu aku kelilingi kembali Singapura, dari ujung ke ujung. Aku lihat kemajuan itu, supaya tidak ketinggalan, kata Pak Yap Poh Yuen. Namun yang terbayang justru ribuan Pak Yap di Singapura, tertelan gedung-gedung pencakar langit yang angkuh, terhempas kereta bawah tanah yang cepat. Dingin, kering, mati.

***

 

Puisi – Pujakesuma

DOWNLOAD

 

Pujakesuma

Puisi Dhani Lahire Awan

 

Aku mengelesot sekenanya

Di putih lantai setelah ibu mengibaskan kain batiknya

Malam itu mataku terpaku pada selembar peta

Pulau besar dengan nama Sumatera

“Benar aku keturunan Sumatera, bu?” tanyaku

Ibu mengangguk sembari menebar gemerlap bintang

Menyala terang pada sudut-sudut ruang

Bagai suluh yang tak ingin padam menuntun hidupku

“Solok nak… Solok… itu kota kelahiran Ayahmu”

“Sumatera Barat pulaunya,” ibu merangkai kata

Telingaku menangkap tajam barisan kata ibu

Mataku mengeja abjad-abjad pada peta yang terjalin menjadi kota

Seruling dalam figura itu adalah saluang

Terbuat dari bambu talang

Hanya memiliki empat lubang

Cerita ibu seakan ingin menguak misteri yang terpajang

Nenekmu membuat lemang dengan talang

Datukmu lebih memilih membuatnya menjadi saluang

Meskipun ayahmu memanggul senjata

Tapi ia tak lupa akar budayanya

“Nada saluang Solok paling sedih, Nak,”  ibu merapat padaku

“Sebagai pengingat kampuang nan jauh di mato,” sambung Ibu

Aku mengambang tenang kala ibu menatapku dalam

Mata ibu bercahaya, menjelma hangat membalut malam

Aku benar separuh orang minang , tak sekadar suka rendang

“Kau nak…kau adalah pujakesuma, putra Jawa keturunan Sumatera”

Ditingkah renyai hujan di malam yang kian matang

Sudut mataku menangkap ibu menjelma bunga wangi tak terkira

 

Semarang, Februari 2018

 

Puisi – Memorabilia

DOWNLOAD

Memorabilia

Puisi: Brita Putri Utami

Narator: Astuti

 

Aku menyimpan matamu

Bulu mata yang kau jatuhkan

Nyamuk yang lolos dari tepukanmu

Senja yang kau tanam di belakang rumah

Pasir jejak kakimu

Bekas minumanmu

Aku juga menyembunyikan diam-diam

Anak ruhanimu, puisimu

Anak malammu, mimpi

Tanya-tanya yang tak terjawab

Seru-seru yang buatmu gagap

Memeliharanya

Konon aku seorang memorabilia

Kusimpan semua di belakang punggung

Juga halaman buku yang katanya tak menarik

Kuberikan lagi, nanti seusai gelap,

Mati.

 

(Juni 2012, Jogja, mertamu)

 

Puisi – Akhir

DOWNLOAD

Akhir.

Puisi Brita Putri Utami

Narator: Astuti Parengkuh

 

aku mengulur waktu

bernegoisasi dengan Tuhan

subuh ini, hanya lewat helaan nafas

Tuhan tampakkan wajah melalui dia?

yang membawa sembilu?

membawa sekantung besar kenangan-kenangan

Yang tak diceritakan

masih tentang ucapan selamat ulang tahun

birth-die?

kusiapkan lubang-lubang

kubur untuk pendam

kemudian pagi ini berkabut,

dingin, beku, seperti memori

mungkin aku harus lupa

tentang kau

dan percakapan di antara mata kita.

 

(17Juni2012,Jogja, kopinya pahit sekali)

 

Puisi – Tentang Kau dan Hal-hal yang Mencintaimu

DOWNLOAD

 

Tentang kau dan hal-hal yang Mencintaimu

Puisi: Brita Putri Utami

Narator: Astuti Parengkuh

 

Tentang ikan-ikan yang kau beri makan,

 

    Dari tangan, yang bergurat

kemudian keriput

    Namun penuh cinta kasih

 

Tentang tokoh-tokoh yang kauciptakan

 

    Yang fana, kemudian hidup

    Dari memorimu, perjalana

waktumu

    Yang kadang pahit, namun kau

telan

    Manis yang kau kais dari

senyummu

    Sederhana, hangat bersahaja

 

Tentang air mata yang

mencurangimu

 

       Jangan kau simpan sendiri,

       Mari berbagi duka dan

       Senda gurau

       Langit senja

 

Tentang laki-laki yang kau cintai,

 

       Tak pernah menyesal

mengenalmu

       Pelukan matamu,

menyanderanya

       Ucapanmu seperti mantra

       Tangis yang kau tahan adalah

doa

 

Tentang kau, aku gagu.

 

       Menyerah aku pada kata-kata

       Menyerah aku pada kasihmu

       Luas seperti samudera

       Sejuk bagai embun

 

Mereka berbisik,

 

Semesta pun berucap,

 

jangan pergi, itu saja.

 

Aku selalu rindu bau tubuhmu.

 

Selamat ulang tahun, Mama

Usah kau merasa sendiri.

Hiduplah, karena “Mati kau dikoyak sepi”

Semesta mencintaimu.

 

Pengkol, 12 Agustus 2012 22.00 WIB

 

>