Cerpen – Kidung Natal

Download

 

 

Cerpen Effi S Hidayat

Versi Cetak: Majalah Gadis No.34, 25/12-4/1/1993

Narator: Noer Admaja

 

Panggilan Oma menyentuh gendang telinga Inez. Gadis remaja itu tersentak, menyadari dirinya masih mematung di depan cermin. Lekas-lekas dia menghapus bening yang bergulir di pipinya. Ah, kenapa harus meneteskan airmata lagi? Mata tua Oma yang masih setajam mata elang itu pasti tak dapat dikelabuinya!

Inez segera membedaki wajahnya tebal-tebal.Biarlah, asal Oma tak mengetahui bahwa dia habis menangis.Seulas senyum dipaksakannya muncul di muka cermin. Inez  harus gembira. Ya, dia tidak boleh membuat Oma sedih. Inez tidak mau lagi memandang bayangannya yang memantul di kaca.

Oh, Tuhan, tabahkan hati anak-Mu ini. Inez sempat berdoa dalam hati sebelum keluar dari kamar  mendapati Oma yang sedang menantikannya.

“Wah, cucu Oma cantik sekali!Sirkam mutiara itu serasi sekali menghiasi rambutmu. Ayo, Inez, kita berangkat sekarang. Gereja pasti sudah penuh sesak, “ Oma menyambut Inez dengan segudang pujian. Matanya gemerlap, memandang cucunya yang tampak  ayu dengan gaun Natal berwarna putih.

Hati Inez teriris mendengar ucapan Oma.Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Sirkam mutiara yang disambarnya sembarangan dari meja toilet di kamarnya itu,’kan hadiah Natal dari Mama tahun lalu? Ah, mengapa Mama dan Papa tidak datang menjemputnya? Mengapa mereka tidak bisa bersama-sama lagi mengikuti misa kudus pada malam Natal ini?

Jangan cengeng, Inez! Bukankah kamu sendiri yang tidak mengharapkan kedatangan mereka?Bukankah kamu lebih merasa damai bersama Oma tercinta? Papa dan Mama sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa dengan isterinya yang baru. Dan, Mama dengan Oom Hang? Sudah sepantasnya kamu menolak kehadiran mereka, Inez!

Berbagai perasaan berkecamuk di hati Inez.Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan sesak dalam rongga dadanya.Dia tidak ingin ikut serta menyanyikan kidung Natal yang dahulu pernah begitu disenandungkannya.  Ya, dahulu, ketika Inez masih hidup bahagia bersama Mama dan Papa.

Pikiran Inez terus mengembara, menjelajah pada suatu masa.Ketika itu keluarganya masih utuh.Alangkah indahnya kebersamaan. Tetapi kini, ke mana perginya saat-saat manis itu? Mama dan Papa tidak mencintai anaknya…keluh Inez kecewa.

Seperti robot dia duduk, berdiri, dan berlutut di sisi Oma yang tampak khidmat mengikuti misa yang sedang berlangsung.Inez tidak pernah mengerti mengapa kedua orangtuanya harus berpisah.Mengapa mereka tidak bisa rukun dan hidup damai bersama.

Dan, waktu berlari begitu cepat.Tidak terasa sudah hampir setahun Inez tinggal bersama Oma.Keputusan itu memang sudah bulat.Lebih baik Inez tidak memilih. Toh, sama saja. Inez akan mendapatkan orangtua baru.

Ajaib rasanya.Inez tidak pernah tahu darimana Tante Ella dan Oom Hang tiba-tiba muncul. Mereka datang begitu saja, seperti pencuri di tengah malam, mengambil Mama dan Papanya. Itu sebabnya Inez selalu menghindari mereka.Dia tidak suka pada Tante Ella, terlebih kepada Oom Hang yang merebut perhatian Mama.Apakah Inez salah jika merasa dirinya tidak punya siapa-siapa lagi selain Oma tercinta?

“Lihat, Inez! Anak perempuan yang berperan sebagai Bunda Maria itu Sisi, bukan?Hebat, dia sangat menjiwai perannya. Yang lainnya juga : Edu, Rega…, oh, rupanya mereka anak-anak dari  

“Tri Asih”…”, bisikan Oma menyadarkan Inez. Dia  segera membelalakkan matanya lebar-lebar ketika mendengar nama-nama yang dikenalnya.

Aha, Oma benar! Cerita Natal yang sedang dipentaskan di muka altar itu dimainkan oleh anak-anak “Tri Asih”. Sisi bermain bagus, padahal kedua matanya tak bisa melihat.Begitu pula, Edu, Rega, Rio yang melangkah tertatih-tatih dengan tongkat penyangka kaki mereka.

Inez tersenyum haru.Dia teringat kali pertama mengenal mereka.Anak-anak itu dengan penuh semangat menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untuknya.Dan, Inez merasa bahagia sekali pada pesta ulang tahunnya yang ke-15. Sungguh istimewa hadiah yang diberikan Oma! Melebihi kado-kado mahal yang diberikan Tante Ella dan Oom Hang.

Mau tidak mau Inez teringat kembali pada ucapan Sisi.Anak berusia delapan tahun itu dengan spontan tanpa malu-malu, memuji rasa cake yang dibagikan. “Mbak Inez senang ya, punya oma dan mama-papa yang  baik. Nggak kayak mamanya Sisi yang entah sekarang ada di mana. Eh, tapi biar gitu… Mbak tahu nggak, kalau Sisi suka kangeeen deh, sama Mama?” celotehnya polos sembari menjilati sisa cokelat yang bertaburan di tangannya.

Inez tidak dapat menjawab sepatah kata pun. Diam-diam dia hanya dapat menghapus sudut matanya yang basah.Sisi bilang, bahwa Inez sangat bahagia punya oma dan orangtua yang baik. Ya, Mama dan Papa memang tidak melupakan hari ulang tahunnya. Tante Ella dan Oom Hang juga.Mereka penuh perhatian kepadanya. Tetapi…, oh, Inez benci!

Lakon Natal yang dimainkan di muka altar itu cerita lama.Kisah kelahiran Yesus Kristus di kandang domba, bukti kesetiaan gadis Maria… semuanya tidak ada yang berubah.Dan, mata Inez semakin berkaca-kaca ketika di akhir cerita, Sisi dan teman-temannya menyanyi bersama.Suara mereka begitu bening.Kidung “Bahasa Cinta” yang bergema itu menyelusup ke sudut –sudut hati Inez.

“Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

Agar kami dekat pada-Mu, ya, Tuhanku

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

Agar kami dekat pada-Mu….”

Tanpa sadar perlahan-lahan hati Inez ikut bersenandung.Terasa mulai ada kesejukan yang merambati hatinya.Dia menegakkan kepalanya, berdiri di samping Oma dengan dada yang mulai terasa ringan. Kasih itu sabar, murah hati, tidak sombong, serta rela menderita….

Dan, Inez menerima hosti yang dibagikan pastor dengan kedamaian penuh.Dia mulai dapat merasakan keriangan yang bertebaran di sekelilingnya. Lihat senyum anak kecil yang berpita merah itu manis sekali! Tengok seringai ceria kakek dan nenek di seberang sana. Dan, dengarkan gelak tawa gadis-gadis muda remaja sebaya dengan dia. Wah, tidak sepantasnya Inez bersedih dalam suasana hangat, penuh cinta kasih seperti ini.

“Sisi, drama Natal dan lagunya bagus sekali!” Inez menyapa anak perempuan itu di depan pintu gereja. Misa baru saja selesai.Salam Natal sedang dibagikan di mana-mana.

“Oh, Mbak Inez!Selamat Natal ya, Mbak. Selamat Natal, Oma,” Sisi terlonjak senang mengenali suara Inez.

“Selamat Natal, Inez,” ada suara lain yang menyapa Inez. Gadis itu segera memutar kepalanya. Papa dan Mama berada di belakangnya, memandang puteri mereka sambil tersenyum.

Ah, selalu ada Tante Ella dan Oom Hang! Inez mengomeli dirinya sendiri, dia tidak dapat menghindari ketidaksenangan yang hadir tiba-tiba begitu melihat kedua orang tersebut ‘mengintili’ kedua orangtuanya.Menghalangi getaran kegembiraan yang sekejap dirasakannya begitu dia melihat Papa dan Mama. Mungkin, perasaan Inez sekarang ;  mirip balon yang tiba-tiba mengempis?

“Selamat Natal, Mbak Inez. Senaaang deh, Edu jadi adiknya Mbak!”

“Eh, Rega dan Sisi jugaa…!” Edu , Rega dan Sisi ikut bersorak riang. Membuat Inez terpaku di tempatnya.Dia memandang mereka dengan seribu pertanyaan di kepalanya.

“Inez tidak keberatan,’kan? Anggap saja kado Natal dari kami,” Mama menatap puterinya dengan lembut.

“Mereka menjadi anak asuh kami,” Papa menjelaskan.Inez melihat pula Tante Ella dan Oom Hang menganggukkan kepalanya berbarengan.

Apakah telinganya tidak salah mendengar?Adik-adik asuh? Oh,Tuhan, apakah karunia yang Engkau berikan ini tidak terlampau banyak?

Tentu tidak, Inez.Sepasang orangtua baru juga tidak terlalu banyak untukmu.Tiba-tiba Inez merasa Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaannya selama ini.Dia memalingkan wajah, menengok kepada Bunda Maria yang sedang tersenyum di kapel.

Dahulu, Maria didatangi malaikat dan dititipi pesan untuk melahirkan sekaligus menjaga seorang bayi mungil, padahal saat itu dia belum menikah.Tetapi, Maria menerimanya dengan tulus ikhlas.Ia begitu setia dan percaya kepada-Nya!

Mengapa Inez tidak mencontoh teladan Bunda Maria?Jalan Tuhan banyak macamnya, bukan?Orang-orang dewasa punya permasalahan sendiri.Mungkin, lebih baik Papa bersama Tante Ella. Dan, Mama menerima Oom Hang sebagai pengganti Papa? Ketimbang hampir  setiap malam dahulu mereka selalu bertengkar?

Inez memandang Mama.Ia tahu, kekerasan hatinya telah merintangi Mama. Karena mencemaskan puterinya yang semata wayang, Mama belum bisa memutuskan untuk menerima kehadiran Oom Hang.

“Selamat Natal, Mama. Selamat Natal, Papa. Selamat Natal, Mama Ella dan… Papa Hang,” Salam Natal itu begitu saja meluncur dari bibir Inez.Dan, dia merasa beban di hatinya telah terangkat.

Inez tidak peduli tatapan heran dari orang-orang tercinta di hadapannya.Direngkuhnya mereka satu persatu dengan mesra dan hati yang terasa ringan seperti di awang-awang.

Ya, Tuhan, andaikan dia pahami bahasa semua? Agaknya, hanya “bahasa cinta”-lah kunci semua hati! Dan, kidung Natal itu bergema ke mana-mana. Menyelusupi hati tua Oma yang diam-diam menghapus bening di matanya dengan perasaan bahagia….

 

Catatan Minggu pagi, 10122017

 

Cerpen – Santa Klaus Tak Singgah di Rumah

Download

Sanie B Kuncoro

Adakah pijar yang lebih bahagia dari cahaya lampu aneka warna pada deretan etalase toko  di pusat kota menjelang malam natal? Di antara dominasi warna hijau dan merah beragam ornamen, segala warna seolah tak kehilangan semangat untuk terus berkedip kemayu menawarkan berbagai hal demi kemeriahan natal dan tahun baru sekaligus. Dan lihatlah arus pembeli yang tak habis itu, berbaris rapi di meja kasir mempersiapkan kartu-kartu untuk digesek. Temperature di bawah nol dan taburan gerimis salju, alih-alih menjadi penghalang, justru menjadi pelengkap perjuangan merealisasikan “wish list” yang telah disusun jauh di awal musim.

Di antara yang gemerlap itulah kau temukan dirimu terjebak di depan sebuah etalase. Berhadapan dengan manekin tanpa kepala yang mengenakan sweater orange gelap. Sebuah warna yang sungguh mengikat hatimu. Matamu tak sanggup berkedip menatapnya. Itulah warna langit pada sebuah senja yang menolak mati dalam kenanganmu. Kenangan yang membuatmu bertahan memelihara sebuah harapan. Tapi seperti harapan yang terus membenturkanmu pada kekosongan, demikian pula label harga sweater itu menjatuhkanmu tanpa belas kasihan.

“Sabar, tunggu hingga semua perayaan ini selesai, saat harga-harga melorot jatuh di akhir musim,” akal warasmu berkata. Pertanyaannya : apakah yang satu ini akan bertahan menunggumu? Dia terpajang di etalase, membuat setiap mata menengok padanya.

“Apakah harganya belum turun?” jemari kecil dalam genggamanmu bergerak lembut, menarikmu dari pusaran sensasi rajutan warna oranye yang terus memanggil. Kau menggeleng cepat.

“Apakah Ibu akan memeriksanya setiap hari?” lagi bibir kecil itu bertanya. Kau tersipu. Merasa terpergok sedang mengais harapan yang nyaris mimpi, justru oleh anakmu sendiri yang kerap kau redakan mimpi-mimpinya. Ini dana beasiswa, Nak, untuk membeli buku, bukan mainan atau jajanan… Sebaris alas an yang telah menjadi kalimat mantra bagimu.

“Ibu sangat ingin baju itu ya.” Buah hatimu itu menggoda. Kau tertawa malu, lalu mengangguk dan menarik tangan kecilnya melanjutkan langkah.

“Warnanya bagus bukan? Benangnya tebal tak berserabut,” katamu memberikan alibi atas pilihanmu.

“Mungkin Ibu bisa mendapatkannya, nanti kutanyakan Brenda.”

“Brenda yang berambut emas itu?” demikian anakmu menamai rambut pirang sahabat sebangkunya, “mengapa Brenda?”

“Supaya dia menambah jatah rumput untukku.”

“Rumput?” lagi kau bertanya. Tak kau temukan kesinambungan sweater warna senja, Brenda dan rumput. Kau tahu bahwa imajinasi anak-anak sama sekali bukan tandingan logika berpikir manusia dewasa, secerdas apa pun otak dewasa itu, namun setidaknya otakmu belum terlalu tumpul untuk mereka-reka imajinasi liar sekaligus lugu anakmu sendiri.

Kau temukan jawabnya kemudian. Anakmu mengambil sepasang sepatu, yang relatif terbaru di antara 2 sepatunya yang lain. Membersihkan dan mengisinya dengan sekantung rumput segar pemberian Brenda. Diaturnya rumput dengan rapi mengisi lubang sepatu.

“Besok malam diletakkan di depan pintu. Kata Brenda, Santa Klaus akan lewat dan kalau rusa penarik kereta memakan rumput ini, maka pemilik sepatu boleh memilih hadiahnya.” Anakmu menjelaskan dengan bersemangat. “Akan kuminta rumput lagi untuk sepatu Ibu.”

Kau tercekat. Bukan karena berhadapan dengan imajinasi di luar batas, melainkan justru merasa ironis bahwa ternyata inilah saatnya kau harus menghadapkan anakmu pada pemahaman tentang perbedaan, tentang kotak-kotak yang tak sama.

“Tapi Santa Klaus tidak singgah pada rumah yang tidak merayakan natal,” katamu pelan. Kau merasa berhadapan dengan sebutir apel ranum  dan kalimatmu menjadi pisau yang akan membelah-belahnya.

Anakmu terkejut. “Tapi Brenda bilang…”

“Hari raya kita berbeda, Nak,” matamu menatap memohon pengertian. Terdiam anakmu sesaat. Matanya berkedip-kedip menyiratkan sanggahan. Dan kau ingatkan padanya tentang hari raya yang kalian rayakan di kampung halaman beberapa tahun lalu.

“Begitu ya, Ibu yakin pak Santa Klaus itu tidak singgah?” dia meragukanmu. Kau mengangguk. Dan kau melihat sebuah harapan yang memudar. Dengan sirat kecewa yang tak tersembunyi, matanya menatap sepasang sepatu merah berisi rumput segar. Kau merasa tak berdaya.

“Tapi aku tetap ingin memberikan rumput ini untuk rusanya. Banyak anak-anak di sekitar rumah, akan membuat pak Santa lama berkeliling membagi hadiah, mungkin membuat rusa kelaparan,” gumam anakmu kemudian. Dibukanya pintu balkon, meletakkan sepatu berumput pada teras yang sempit, menatap satu kali lagi sebelum kemudian menutup pintu. Bibirmu bergetar, bukan karena dingin oleh udara yang menerobos saat pintu terbuka, melainkan karena ketulusan  hati seorang anak. Mulialah hatimu, Nak.

*

Nanti malam adalah Chrismast Eve. Pemilik kedai akan menutup kedai sebelum sore dan tutup selama satu bulan. Dia akan menikmati liburan di kampung halamannya yang hangat. Maka dia ingin kedai benar-benar bersih demi tak membuat tikus dan kecoak mampir. Tidak mudah memperoleh lisensi operasional kedai bila “tamu-tamu” liar itu terdeteksi singgah apalagi menetap. Itu membuatmu dan karyawan lain harus berberes ekstra keras, sekaligus beruntung karena banyak sisa stok makanan yang bisa dibawa pulang. Muffin aneka rasa, croissant, pie, beragam cookies. Telur mentah, sosis, bawang Bombay, fillet ikan dan ayam. Hm, semua itu bisa menghemat uang belanja sepekan lebih. Meski tetap belum cukup untuk menebus sweater warna langit senja dari etalase. O please, sudahlah.

Kau hidupkan kran, air panas mengguyur tumpukan piring kotor berlapis sisa-sisa lemak. Bergerak cepat tanganmu mencuci piring-piring itu, secepat pikiranmu berputar merancang sesuatu. Kau abaikan senandung nona Sanchez di sebelahmu yang membilas setumpuk cangkir dan gelas. Biasanya kau suka menebak-nebak lagunya. Kini yang ada di kepalamu adalah sepatu berumput di balkon itu. Kau tidak ingin membiarkannya kosong. Toko –toko masih akan buka hingga jelang malam, bisa kau beli sesuatu sesudah semua tugas ini selesai. Masalahnya. Bagaimana membayarnya? Kedai akan tutup membuatmu tak bergaji sebulan ke depan. Sementara biaya sewa apartemen telah tertunda 15 hari, kau berjanji membayarnya hari ini seterima uang lembur. Kulkasmu nyaris kosong, sisa stok makanan dari kedai hanya akan memperpanjang nafasnya satu pekan. Lalu biaya penitipan anak, janjimu pula akan melunasinya hari ini. Astaga, uang lembur yang tak seberapa itu telah kau janjikan untuk banyak hal.

Di tanganmu spon berputar cepat menyeka lemak, sebaliknya putaran di benakmu justru melambat, bahkan seolah berhenti, membuatmu tak juga menemukan cara memberikan kebahagiaan ala kadarnya pada anakmu. Kebahagiaan bahwa rumput yang disediakannya tidak sia-sia, bahwa rusa pak Santa benar-benar telah memakannya.

“Rumahmu di Dulverton Road bukan? Searah dengan rumah nyonya Gerda?” Tanya bos mendadak saat kau melepas apron yang kuyup.

“Pelanggan sepuh yang selalu datang minum teh sore itu?” kau mengangguk, “Dia tak datang beberapa hari ini.”

“Kakiknya bengkak, membuatnya tak bisa berjalan jauh. Minggu lalu dia memesan ginger cookies dan titip tukar pecahan uang kecil,” bos menjelaskan. Disebutkannya sejumlah angka, tak sedikit, tak pula besar. Cukup untuk menebus sesuatu dari toko mainan yang akan membuat seorang anak bahagia.

“Apakah kau bisa mengantarkannya pada nyonya Gerda saat pulang nanti?”  

Kau mengangguk cepat, sangat segera, tak perlu waktu lebih untuk menimbangnya. Bukan karena rumah itu searah dengan apartemenmu, melainkan karena seolah kau temukan celah dari segala yang buntu.

*

Langkahmu melambat. Bukan karena tak tahu rumah nyonya Gerda. Kau tahu betul letak jalan itu. Itulah jalan yang akan kau temukan pada simpang di depan, belok ke kanan. Sebuah blok berisi rumah-rumah kecil berpagar rendah dengan pintu aneka warna. Bos mengatakan pintu tujuanmu berwarna putih, nomor lima. Akan kau temukan dengan mudah dalam beberapa langkah. Namun kau berdiri bimbang. Bungkusan biskuit jahe dan amplop recehan rapi di dalam tas. Erat dalam dekapanmu. Hatimu berdebar dalam kecamuk yang bimbang. Langit sore pada musim dingin menerbangkan awan kelabu, tapi bukan itu yang membuatmu menggigil, melainkan jalan buntu di dalam kepala. Entah berapa menit kemudian kau temukan langkahmu bergerak pada arah yang terpilih. Bukan kanan. Menjauh dari pintu putih yang belum kau temukan.

*

Anakmu bergerak gelisah. Mengunyah makan malamnya tanpa selera dan melirik kaca pintu balkon berulangkali. Langit gelap di luar sana dengan taburan salju tipis. Lampu berkilauan aneka warna dari pohon dan rumah-rumah. Sebuah Christmas Eve yang sempurna. Persis seperti citra natal yang dulu kau temukan pada kartu natal di toko. Kini akan ditemukan pada lini masa berbagai medsos. Dan itu semua menjadi dunia nyatamu hari ini. Tapi bukannya ketakjuban, justru gelisah mendatangimu.

“Menunggu pak Santa?”

Anakmu tersipu, dilahapnya cuilan ikan berlapis panir di piring. “Aku ingin melihat rusa itu, apakah mereka benar-benar tidak akan singgah di rumah kita?”

“Entahlah,” gumammu mengambang. Tak tega meruntuhkan harapan yang terbangun dari keluguan nan bersih.

“Mengapa Tuhan kita tidak memilik Santa Klaus, Ibu?”

“Tuhan kita mengirimkan malaikat penolong yang lain,” jawabmu, “akan kita…”

“…temukan dalam doa,” sambung anakmu, menghafal apa yang selalu kau katakan padanya.

Mendadak kau tercenung. Cara anakmu meneruskan kalimat itu, seolah begitu besar keyakinannya. Doa. Sementara bagimu justru beralih menjadi rutinitas dan memberi keyakinan yang justru hilang timbul. Betapa rapuh imanmu sebenarnya, ketika kau merasa akal sehatmu mampu mengambil alih semua persoalan. Doa. Ini malam natal. Sebuah malam yang kudus bagi yang merayakannya. Akan banyak doa dipanjatkan malam ini. Akankah suara lirihmu terdengar dari negri yang asing dan jauh ini? Tatap matamu bergerak. Bungkusan untuk nyonya Gerda yang kau simpan di  meja dapur memberimu kesadaran betapa yang jauh dan asing itu adalah justru dirimu sendiri.

“Ambil mantelmu, ayo ikut Ibu sebentar,” katamu sembari bangkit. Gerimis salju belum reda, tapi tidak mungkin meninggalkan seorang anak sendirian. Kau ikatkan syal tebal di seputar lehernya.

“Kita akan ke mana?” anakmu bertanya. Matanya tak tenang meneliti balkon.

“Ibu harus pergi sebentar, tidak jauh.”

“Tapi…” anakmu mengisyaratkan penolakan. Kau tahu dia sedang menunggu.

“Kita akan segera kembali,” kau tidak memberinya pilihan.

Dengan langkah bergegas, bahkan anakmu setengah berlari demi mengejar gerakmu yang tergesa, segera kau temukan rumah berpintu putih itu. Tirai jendela yang tipis menerawangkan cahaya dari dalam ruang, penanda penghuni di dalamnya masih terjaga. Tanganmu menggerakkan pengetuk pintu. Tak segera terbuka. Tapi kau tak mengulang ketukan, kau tahu perlu beberapa saat menunggu seorang sepuh dengan kaki bengkak untuk melangkah menuju pada sesuatu. Beberapa saat kemudian terdengar suara kunci bergerak.

Nyonya Gerda mengenalimu dengan segera. Rasa jengah membuat kepalamu tertunduk saat mengulurkan bungkusan.

“Maaf terlambat mengantar,” suaramu lirih.

“Duh, aku sangat merepotkanmu bukan? Membuatmu kedinginan demi biskuit jahe-ku, mari masuklah.” Dibukanya pintu lebih lebar.

“Tapi,” perasaan malu menghadang langkahmu.

“Dingin sekali, lihat anakmu menggigil. Aku harus menghangatkan kalian,” sergah nyonya Gerda sembari meraih bahu anakmu masuk ke rumah. Anakmu melangkah tanpa menunggu dan berseru takjub saat menemukan pohon pinus kecil berhias di tengah ruang. Kado-kado aneka warna dan bentuk berserak di bawahnya.

“Akan kubuatkan sesuatu yang hangat untukmu. Coklat, susu atau teh?”  

“Coklat,” anakmu memilih tanpa sungkan. Bergegas mendekati pohon pinus yang berpijar kemayu. Matanya bercahaya mengagumi. Kau memilih diam, tak hendak menghalangi ketakjuban itu. Tak pula menghalaunya saat dia memilih aneka kue yang dihidangkan nyonya Gerda. Segala yang tak ada di dalam rumahmu.

“Kado nyonya banyak sekali, semua dari pak Santa Klaus? Nyonya menyediakan banyak sepatu berumput? Rusa itu memakan semuanya?” Tanya anakmu beruntun. Rasa penasarannya sangat kentara.

Nyonya Gerda tertawa, “Kau juga menghias sepatumu dengan rumput?”

Anakmu mengangguk, “Hari raya kami berbeda, pak Santa tidak akan mampir di rumahku. Tapi aku tetap ingin memberi rumput rusa terbang itu, rusa tidak berhari raya bukan? Dia tetap boleh makan rumputku.”

Nyonya Gerda terkejut sesaat, bersilang pandang denganmu. Tanpa kata tatap mata kalian saling bercerita. Mata dengan kelopak berkeriput itu kemudian berkedip mengisyaratkan sesuatu.

“Ah, pak Santa itu sudah tua. Kakinya sedang bengkak pula sepertiku, membuatnya malas berkeliling. Jadi dititipkannya sebagian kado-kado di sini, termasuk kado untukmu. Dia berpesan, kau boleh memilih sesuka hatimu.”

Mata anakmu membesar seketika. “Ha, benarkah? Meskipun aku tidak merayakan natal?”

Nyonya Gerda mengangguk, “Pak Santa Klaus suka pada anak yang baik hati. Memberi makan rusa adalah sebuah niat baik bukan? Nah, kau telah terpilih, ambillah hadiahmu.”

Anakmu meletakkan cangkir coklatnya, menatapmu memohon ijin. Kau duduk dalam bimbang.

“Nyonya…”suaramu bergetar, oleh perasaan yang berkecamuk di dalam diri. Nyonya Gerda mengangguk, ditepuknya punggung tanganmu, menenangkanmu. Maka kau pun mengangguk, memberi jawab pada seorang anak yang menunggu.

“Setiap orang layak mendapatkan kebahagiaan. Tidak hanya anak-anak, tapi juga manula sepertiku,” nyonya Gerda berbisik, ”telah lama aku sendirian. Setiap natal kubungkus hadiah, berharap ada yang menemaniku merayakannya. Kedatangan kalian malam ini adalah hadiahku, terimakasih.”

Kau tercengang. Merasa ironis kemudian menyadari justru sebenarnya telah merancang sesuatu.

“Maafkan saya, titipan ini seharusnya diantar sore tadi, tapi saya…,” ucapmu terbata, lidahmu kelu bagai tak sanggup berkata, tapi kau sanggup lagi berbohong, bahkan pada dirimu sendiri. “Tapi sungguh uangnya utuh, utuh.”

Nyonya Gerda memelukmu, disentuhnya bibirmu mencegah melanjutkan kata. “Aku paham apa yang sedang kau hadapi. Selalu tidak mudah hidup di negri asing. Tidak apa-apa.”

Kau menarik napas kuat-kuat. Pertahanan dirimu nyaris runtuh dalam pelukan perempuan sepuh itu.

“Tenangkan hatimu, Nak. Lalu pertimbangkan rencanaku ini,” kata nyonya Gerda tanpa melepas pelukan. “Kuperlukan bantuan untuk merapikan rumah setiap hari, maukah kau melakukannya? Anakmu bersamaku sementara kau bekerja. Dan kalau dia mau, boleh setiap hari sepulang sekolah katimbang di tempat penitipan. Dulu aku pengasuh cucu yang baik, sekarang mereka semua sudah besar dan memiliki dunianya sendiri. Kurasa akan menyenangkan bagiku memiliki cucu baru.”

Yayaya. Kau mengangguk berulang-ulang. Tak sanggup menangis. Tak sanggup berkata-kata. Di bawah pohon yang bercahaya, anakmu sedang memilih hadiahnya. Kau telah menemukan hadiahmu sendiri. Dan kalian telah menjadi hadiah bagi seorang manula yang sendirian. Santa Klaus tak singgah di rumah, tapi hadiah telah terbagi untuk setiap hati.

*

Pagi hari. Matahari musim dingin berbagi cahaya yang redup. Kau membuka pintu balkon. Ada genangan air sisa salju semalam. Sedikit rumput berserak di seputar sepatu anakmu. Hanya sejumput. Apakah ini rumput sisa? Tidak ada kado, hanya secarik kertas. Itulah kertas dengan tulisan tangan anakmu tentang hadiah pilihannya. Rasa ingin tahu seketika tak sanggup mencegahmu membuka lipatan kertas.

Pak Santa Klaus yang baik, tolong turunkan harga sweater orange untuk Ibuku ya. Terimakasih.

Seketika kau menangis tersedu-sedu.

***

 

Cerpen – Pria Sinterklas

DOWNLOAD

Angelina Enny

PRIA SINTERKLAS

Jam tujuh malam. Aku melirik layar smartband-ku. Pohon-pohon bergerisik oleh rombongan burung yang mulai bersarang. Di sini matahari lebih lama menampakkan diri, terlalu angkuh untuk bertukar dengan malam. Angin sudah berhenti bertiup sejak tadi, membuat hawa sedikit gerah. Aku membuka sweter yang melapisi tanktop-ku, menyesap kopi dingin pada gelas kertas yang sedari tadi kuabaikan. Aku kembali menatap layar laptop, membaca ulang paragraf terakhir dan mendapati dirimu begitu banyak berserakan di sana.

Sejenak aku mengerjapkan mata dan melihat ke sekeliling. Sebuah artikel di majalah menyebutkan itulah cara untuk mengistirahatkan mata setelah dipaksa melotot menatap layar selama delapan jam kerja. Delapan jam kerja? Bahkan lebih dari itu. Dulu. Sebelum aku memutuskan untuk keluar dari kantor auditor ternama yang sebenarnya hampir memberikanku posisi mentereng di usia muda.

Tetapi hidup tak dapat disangka, aku bertemu denganmu setahun  lalu, saat aku ditugasi kantor untuk mengambil sertifikasi profesi di sini. Sejak itu aku  semakin yakin akan arah hidup, yang selama ini kupikir tinggal dijalani hari  ke hari.  Sekarang, aku berharap dapat bertemu denganmu, menunjukkan tulisanku yang hampir rampung, cerita tentangmu.

“Tentangku? Atau tentang Sinterklas?” katamu tertawa sambil menunjuk kostum merah di sampingmu. Saat itu kita sedang duduk-duduk di taman ini menikmati sisa-sisa matahari yang hangat sebelum kau kembali untuk bekerja. Tubuhmu yang besar menciptakan bayang-bayang yang menimpali rimbun pepohonan.

“Kau pasti kepanasan memakai kostum itu.” Aku meraba kain flanel yang sedikit basah karena keringatmu, tak bisa membayangkan diriku terperangkap di dalamnya dengan jenggot dan kumis palsu bertahan selama berjam-jam untuk tertawa dan tersiram lampu sorot.

“Aku menyukainya,”katamu sambil melahap potongan christmas stollen yang ketiga.

“Menjadi Sinterklas atau christstollen-nya?”tanyaku.

Kau tertawa sambil menatap cuilan roti yang kaupegang. “Dua-duanya. Rotimu enak, dan tanpa sadar aku sudah menghabiskan tiga atau empat ya?”

“Kau tidak bisa menyebutnya rotiku. Karena aku membelinya di Orchard,”jawabku malu. Seumur hidup aku jarang sekali menyentuh dapur, selain jika mama sedang sakit dan aku terpaksa membuatkan makanan instan untuknya. Selebihnya aku selalu makan di kantin kantor atau nongkrong di kafe mahal bersama teman-teman sepulang kerja.

“Ya, karena kamu yang membawanya aku bilang rotimu. Mungkin kapan-kapan kamu bisa bawakan christstollen bikinanmu sendiri,”katamu menggoda.

“Aku tak bisa buat marsepennya.”

“Ah, Non. Kamu kan bisa beli di Cold Storage. Atau bikin sendiri dengan bubuk almon, putih telur, gula dan krim tar-tar seperti memasak karamel.” Itu dia dirimuyang selalu lebih tahu dariku soal masak memasak. Kau seperti melihatku terbenam malu sampai dengan rendah hati menyambung,”Aku tahu itu karena aku suka marsepen. Di rumah Jakarta, simbok malah lebih mahir membuatnya dari aku.”

Di pertemuan pertama kita, kau sudah menceritakan tentang keluargamu yang terlalu sibuk untuk saling bercengkerama sehingga sejak kecil hidupmu hanya berkutat di dapur bersama simbok. Sebab sekolah dengan kurikulum akademis yang ketat membosankanmu. Kau memilih untuk melanjutkan sekolah seni di Lasalle College di negeri Singa, jauh dari keluarga yang barangkali tidak merindukanmu.

“Kau ambil jurusan apa?”tanyaku saat kau membereskan perlengkapan menggambar anak-anak di Museum Filateli. Tahun itu museum mengadakan pameran instalasi The Little Prince yang dibawa langsung dari keluarga sang penulis di Prancis.

“Film. Aku ingin membuat film-film Indonesia yang berbobot tapi juga menghibur, bukan cuma setan-setanan nggak jelas atau drama cinta-cintaan konyol.”

Aku nyengir. Meski waktuku saat itu banyak termakan sebagai budak korporat, tapi aku selalu menyempatkan diri menonton film di bioskop tiap akhir pekan dan entah mengapa aku enggan membayar tiket untuk menonton film Indonesia. Aku menyadari sikapku seperti ini yang membantu mematikan perkembangan film negeri sendiri.

“Seperti The Little Prince,”sambungnya,”film anak-anak yang sarat makna. Dari satu layer anak-anak bisa memaknainya sebagai visual yang menghibur, tapi di layer lebih dalam, orang-orang dewasa dibuat merenung.”

Aku manggut-manggut. Setelah mengelilingi seluruh ruang pameran aku pun menyadari betapa jujurnya Antoine de Saint-Exupery menuangkan kegelisahannya dalam tulisan dan menempatkan tokoh-tokoh yang merepresentasikan karakter-karakter dalam hidup.

Pangeran Kecil mewakili kanak-kanak dalam dirinya yang menolak tua.  Si Mawar adalah istri yang dicintai sekaligus ditinggalkannya. Rubah yang mencinta sebagai seorang sahabat namun tak bisa dimiliki. Raja, Pengusaha, Pedagang yang mewakili berbagai sifat dari masyarakat. Sayangnya si pengarang, yang sekaligus aviator itu hilang tak berjejak. Ia seolah lesap di udara, saat terbang melintasi benua hitam. Runtuhan pesawatnya ditemukan, tetapi jasadnya tidak. Ia misteri sampai kini dan seolah mengamini apa yang dituliskannya: I don’t wish to die, but I’m-gladly-to go to sleep like this.

“Aku ingin menjadi penulis,”kataku mendadak. Kita sedang duduk-duduk di taman ini untuk ketiga kali. Saat itu hampir malam, lampu-lampu taman sudah dinyalakan lengkap dengan rencengan bohlam natal warni-warni. “Seperti Exupery.”

“Wah, kamu bisa jadi penulis skenario filmku.”

Aku menoleh ke arahmu, menangkap binar mata yang gagal disembunyikan bayang-bayang akasia. Bahkan setelah pertemuan ketiga, kita tidak saling bertukar nama dan nomor telepon. Aku terlalu takut untuk memulai sementara alasanmu entah apa. Selama tiga hari bersama aku tidak pernah melihatmu mengeluarkan ponsel, dan kita selalu bersapaan dengan “aku” dan “kamu” (kadang-kadang kau memanggil “non”) seolah kita adalah teman lama yang terdampar di negeri asing berdua.

Kau telanjur kikuk dengan harapanmu. Jemarimu mencuili christstollen dan mengunyahnya pelan-pelan.

Aku mencoba membuka keheningan. “Barangkali aku mau menulis tentang Sinterklas.”

Giliranmu yang menoleh heran. “Bukankah kamu bilang tidak suka pada Sinterklas?”

Aku menunduk,  membayangkan bagaimana aku yang kanak-kanak dulu selalu menunggu malam Natal tiba untuk bisa berkenalan dengan pria baik hati itu. Dari tahun ke tahun ingatanku, aku selalu mendapatkan hadiah yang kuinginkan, yang kutulis di sebuah kertas warna-warni dan digantungkan di ujung ranting pohon natal setinggi yang tubuh kecilku dapat raih. Diam-diam aku selalu berusaha agar di tanggal 24 malam aku dapat terjaga, untuk bisa berjumpa langsung dengan Sinterklas, tapi sepertinya kantuk berkawan akrab dengan anak-anak.

Di malam natal kedelapanku, aku berhasil melihat Sinterklas tanpa ia melihatku tentu saja. Tapi Sinterklas yang kulihat tidak seperti yang kulihat di buku-buku cerita. Ia tidak gemuk dan tua, tidak berkumis dan janggut putih. Ia lampai, berambut dan kumis hitam. Ia memeluk seseorang, berambut pirang panjang, memakai rok sepan berwarna merah yang senada dengan si Sinterklas. Mereka, papaku dan sekretarisnya.

Aku menengadah menahan tangis. Bayangan itu selalu menghantuiku saat-saat Natal tiba.

“Mungkin aku akan belajar menyukainya,”jawabku. Mungkin aku menyukai Sinterklas dalam dirimu, kata hatiku.

Kau tersenyum. “Aku selalu suka Sinterklas. Makanya aku selalu mengambil pekerjaan ini. Sinterklas selalu mampu membuat anak-anak gembira.”

Sinterklas juga membuatku sedih, kataku dalam hati. Aku tidak ingin mengungkapkan pengalaman masa kecilku padamu. Saat kau tanya mengapa aku tidak menyukai pria baik hati itu aku hanya menjawab asal.

“Mungkin karena ia tidak pernah mampir di rumahku.”

Kau terbahak-bahak sampai memuntahkan beberapa manisan buah dalam christmas stollen yang sedang kaumakan. Aku mengangsurkan kopi dalam gelas kertas yang segera kausambut dengan pandangan terima kasih.

“Kamu mesti mengirim undangan tertulis padanya,” katamu menggoda.

“Apakah belum terlambat mengirimkannya sekarang?” tanyaku. Maukah kau menjumpaiku di Jakarta nanti, tanyaku dalam diam.

Kau seperti membaca pikiranku. Entah karena embusan angin malam yang membuatmu gigil atau remang bohlam-bohlam natal itu yang membawa suasana romantis. Kau menggeser dudukmu, merapat ke sebelahku. Perlahan kau mengambil tanganku dan mengusapnya perlahan.

Sejurus terdengar O, Holy Night berkumandang di sela-sela udara.

“Carolling! Yuk, kita ke depan taman.” Kau menggandeng tanganku.

Sekelompok remaja bertopi Sinterklas dengan syahdu menyanyikan lagu-lagu Natal akapela. Suara mereka begitu jernih, membawa perasaan gamang di hati. Ternyata aku begitu merindukan Natal, atau seseorang? Diam-diam aku melirikmu, raut wajah yang begitu membiaskan suasana Natal.

Lima lagu selesai, kau masih menggenggam tanganku.

“Besok malam Natal. Apa kamu mau ikut ke gereja St. Joseph? Dekat sini, kok.”

Sudah lama sekali aku tidak pergi ke gereja, sejak aku kecewa pada Sinterklas dan Natal, tapi pergi bersamamu menggerakkan semangatku untuk merayakan sesuatu.

Aku mengangguk.

“Oke, besok kita ketemu di taman lagi ya. Jam-jam seperti biasa.” Kamu menyunggingkan senyum.

Aku sengaja memilih untuk jalan menuju stasiun MRT agar dapat lebih lama menikmati waktu bersamamu. Kita berjalan dalam diam sepanjang Victoria Street, melalui gedung-gedung putih paska kolonial yang sudah dialihfungsikan menjadi pusat belanja atau pun kafe. Dengan tangan masih saling menggenggam, hatiku perlahan mulai berbicara.

Keesokan harinya, aku terpaksa tidak menepati janji padamu. Panggilan dari Jakarta memaksaku untuk kembali segera. Sinterklas yang merusak kebahagiaan Natalku bertahun-tahun mendadak pergi. Papa terkena serangan jantung. Mama, perempuan yang telah berpisah darinya bertahun-tahun tetap meratap menangisi kepergiannya. Aku mendesah, entah lega atau sesal. Bagaimanapun aku tak bisa lagi menyayanginya.

Aku membawa kenangan itu terus menerus, melewati bulan demi bulan yang basah sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku yang sangat menyita waktu.  Aku membuka toko kue kecil sambil menuangkan kenanganku dalam tulisan–seperti ketetapanku mengikuti Saint-Exupery dulu.

Aku menggigit potongan christmas stollen yang kubikin sendiri di dapurku. Marsepennya terasa menetap di langit-langit lidah, dengan rasa almon yang pekat. Mungkin kau akan menyukainya.

Sepasang muda berlari menaiki tangga batu yang tersusun rapi menuju ke arahku. Dua hari menyambangi taman ini aku menyadari sekarang semakin banyak orang yang menggunakan fasilitas taman untuk lari sore. Semakin banyak peluang untuk menemukanmu di sini. Andaikan, kata hatiku.

Seperti dejavu aku mendengar kembali lantunan O, Holy Night di sela rimbun pepohonan. Namun kali ini tanpa hangat genggamanmu. Aku menuju ke depan taman, duduk di bangku batu yang sama seperti saat bersamamu,  menyimak senandung dari remaja-remaja yang mengindahkan perayaan akhir tahun ini.

Lima lagu usai, dan kau tetap tidak ada. Aku berjalan menyusuri Victoria Street, mencari  binarmu di antara para Sinterklas yang menghibur di depan museum atau pusat perbelanjaan. Tapi sorot gembira itu tak kutemukan. Mereka hanyalah sinar-sinar redup yang terperangkap dalam kostum seorang kakek tua. Aku berjalan kaki pelan-pelan, sengaja mengitari gereja St. Joseph untuk melihat jadwal kebaktian. Besok malam Natal. [ae]

Cerpen – Pernikahan Maryam

Pernikahan Maryam

Astuti Parengkuh

 

Malam melarut ditandai dengan kepulangan para tamu beberapa waktu lalu. Kusaksikan Ayah ikut membantu sanak-saudara dan tetangga mengangkut kursi untuk dimasukkan ke mobil pick-up. Ibu yang melihat laki-laki yang suka bekerja membanting tulang itu masih sibuk lantas menghampirinya.Sepertinya Ibu memperingatkan Ayah agar beristirahat, sejenak merebahkan punggung. Ibu lantas melihat ke arahku lalu tangannya menghelaku agar tak mendekat.Dia ingin aku lekas masuk rumah kembali dan tidur.

Aku masuk rumah dan membereskan beberapa pekerjaan yang belum selesai, menaruh baki-baki lamaran ke meja dan ke atas lemari.Adikku, Maryam, yang telah menjalankan upacara ijab  qabul selepas Isya tadi, dan melakukan resepsi pernikahan telah naik ke loteng bersama Jono suaminya.  Sedang adik-adikku yang lain tiduran dengan melingkar di kasur depan pesawat televisi. Pesawat televisi tak pernah bisa merebut perhatianku kecuali siaran sepak bola dan pertandingan bulutangkis.

Beberapa menit kemudian ayahku membuka pintu dan melepas jas yang dipinjamnya dari paman. Pamanku seorang pegawai kecamatan dua hari lalu menitipkan bungkusan kepadaku saat aku bertandang ke rumahnya menyampaikan hantaran berupa masakan Ibu. Ayah langsung merebah di kursi panjang yang terletak di depan lemari kayu, sebagai pembatas tempat tidurku dan adik-adik.

Ibu menyusul masuk rumah dan melepas kerudung yang menutupi wajah lembut dan cantiknya yang memudar karena kelelahan. Pintu kamar dengan engsel yang telah lepas berhasil dibuka setelah meminta pertolonganku,membuka paksa dengan sedikit tambahan tenaga. Ah, ternyata rumah kecil ini bertambah masalah saja dari hari ke hari.

Sungguh, tak terasa aku telah tertidur di ambin Ibu.Jika saja tak dibangunkan bahwa waktu subuh telah memanggil, mungkin aku akan terlambat bangun. Padahal cucian piring dan gelas sisa perjamuan semalam belum selesai kubersihkan. Begitu bangun, telah kusaksikan piring-piring dan gelas-gelas telah rapi berada di raknya. Pasti Ibu yang telah mengerjakan semuanya.

Dugaanku salah.

Kugapai pundak Ibu dan kukerlingkan senyum padanya sambil kulirik deretan piring dan gelas. Ibu membalas tersenyum, lalu arah matanya dia lempar kepada Tanto, adik Maryam. Tanto anak ketiga, sedang Maryam anak kedua. Aku anak sulung dan masih ada lagi beruntun, Jupri dan Ilham serta Sidik. Tanto mengacungkan jempol ke wajahku lalu gerakan tangannya berubah seketika seperti gerakan ingin dipijit. Dia minta upah atas pekerjaannya. Lalu kujewer telinga kirinya, tanpa bermaksud menyakitinya.

Tidak tega juga rasanya melihat Tanto kelelahan,karena sejak kemarin dialah yang membantu Ayah menata kursi-kursi serta memesan segala ubo rampe, keperluan resepsi pernikahan Maryam. Di depan pesawat televisi, Tanto aku pijit-pijit punggung dan pundaknya. Televisi sedang menyiarkan berita duka cita, sebuah bencana banjir bandang yang menelan banyak korban. Lalu kepada Tanto aku tunjukkan loteng rumah, aku bilang kepadanya jika untung rumah kita sudah ada loteng jadi jika banjir tahunan yang melanda kampung kami datang, Ayah dan Ibu tidak susah-susah untuk mengungsi. Setidaknya benda-benda berharga seperti televisi, kasur dan pakaian kami tidak basah.

Tanto mengangguk-angguk tanda mengiyakan.

***

Beberapa minggu lalu, datanglah tamu dan rombongannya ke rumah. Tak ada yang aku kenal kecuali Jono, laki-laki muda yang sering bertandang ke rumah setiap sabtu malam, selepas dia bekerja. Ibu bilang kepadaku jika Jono adalah calon suami Maryam. Saat kutanya, apa pekerjaan Jono,Ibu menjawab jika Jono seorang guru, sama profesi dengan Maryam.

Kemudian suatu malam, aku dipanggil Ayah dan Ibu serta Maryam untuk didudukkan dalam sebuah pembicaraan serius. Ayah berkata-kata, lalu kemudian Ibu juga. Sampai akhirnya Maryam menyentuh tanganku dan menciumnya. Lalu diciumnya kedua pipiku dan dia menangis. Aku tahu maksudnya, ya, aku tahu tujuan Maryam. Dia pasti sedang meminta restuku untuk acara pernikahannya. Teman seumuran Maryam sudah ada yang menggendong bayi usia tiga tahun. Adikku sudah waktunya menikah.

Dia akan melangkahiku, sebagai kakak. Kemudian dia berkata lagi kalimat seperti ini, “Mbak Muji ingin aku beri hadiah apa?” Aku menggeleng dan kuulas senyum. Aku membalas pelukannya dan kuacungkan jempol.“Aku beliin baju baru ya?” kemudian dia memegang baju yang kupakai. Kembali kugelengkan kepala. Kupikir, dia akan memerlukan banyak biaya untuk pernikahannya nanti. Tak baik merepotkannya.

Ayah berkata-kata lagi. Kusaksikan sebentuk kebahagiaan di wajah Ayah. Laki-laki yang giat bekerja sebagai petugas kebersihan di kampung kami ini bakal mantu. Dia tak pernah mengeluhkan kekurangan fisik yang disandangnya. Hanya sebelah mata ayah yang berfungsi dengan baik dan bisa untuk melihat. Gerobak sampah yang selalu menemaninya bekerja menjadi saksi betapa dia seorang Ayah yang kuat, yang mampu menyekolahkan anak-anaknya setidaknya hingga bangku SMA, kecuali aku.

Aku menolak bersekolah dan lebih memilih membantu Ibu berjualan makanan di mulut gang, tempat kami tinggal.

Malam itu juga, kuambil tabunganku berupa celengan plastik yang selama ini aku sembunyikan dibalik tumpukan pakaian di dalam lemari. Di depan Ayah, Ibu dan Maryam, aku buka benda itu lalu kuhitung lembar demi lembar. Kususun dengan rapi, sesuai gambar kemudian uang itu aku serahkan Ibu. Ibu menerimanya dengan berat hati. Kusaksikan genangan air mata yang ditahannya agar tidak jatuh ke pipi.

Maryam semula menolak, dan meminta Ibu mengembalikan uang pemberianku. Namun aku menghalaunya. Kugelengkan kepala. Mereka mungkin kaget, saat aku kembali membuka lemari kayu dan kukeluarkan dompet yang berisi beberapa perhiasanku; sepasang anting, sebentuk cincin dan seuntai kalung.Kusodorkan kepada Maryam. Kali ini Maryam benar-benar menolak. Dia lalu memakaikan semua perhiasan itu ke tubuhku. “Buat kamu pakai, Mbak Muji,” dia berisyarat.

Kursus menjahit yang ditawarkan oleh BLK telah membuatku merasa percaya diri untuk menerima jahitan dari tetangga dan teman. Kugantungkan gaun pengantin dengan potongan leher sabrina seperti yang dikehendaki oleh Maryam. Hiasan berupa payet memenuhi ujung lengan dan bagian bawah kebaya. Maryam memilih warna kuning gading, senada dengan baju pengantin yang bakal dikenakan oleh Jono.

***

Dua hari sesudah lebaran, tiba-tiba datanglah kabar itu. Ayah diberitakan mengalami kecelakaan saat bekerja. Gerobak sampahnya tersenggol mobil yang melaju dengan kencang dan Ayah terjatuh. Ibu belum membolehkan Ayah bekerja, setidaknya sampai Maryam selesai menjalani prosesi pernikahan tiga hari lagi. Namun Ayah bersikeras. Katanya, siapa lagi petugas yang akan membuang sampah warga. Ayah sampai membuka lebar-lebar kedua tangannya di depanku.

Dengan dibantu oleh beberapa warga, Ayah dibawa ke klinik pengobatan tak jauh dari rumah. Untung lukanya hanya lecet-lecet dan tak memerlukan perawatan khusus apalagi opname. Kedua kaki kurusnya semakin tampak ringkih. Kusaksikan Ayah turun dari becak dan melangkah dengan pincang, menyentuh pintu rumah. Aku termangu.

Tepat pukul tujuh malam, Maryam dan Jono  mengucap prosesi pernikahan. Kulihat Ibu tampak terharu, juga Ayah. Sekilas Maryam memandangku lalu kulempar senyum kepadanya. Dia tampak cantik sekali dengan dandanan yang sungguh anggun. Kebaya yang aku jahit, pas melekat di tubuhnya yang tinggi semampai.

Tanto yang sudah bekerja dan bisa sedikit-sedikit membantu Ibu memberi jatah uang untuk membeli beras. Tanto baik, maka tak heran jika ada beberapa teman perempuannya yang suka bertandang ke rumah. Kupikir dalam hati, pasti sebentar lagi Tanto akan menikahmenyusul Maryam.

“Muji, kapan kamu menikah?” pertanyaan dilontarkan oleh seorang kerabat seraya menunjuk kepada pengantin berdua yang tengah duduk di pelaminan. Aku membalasnya dengan melambaikan tangan.

“Aku doakan Mbak Muji segera menikah jika jodoh sudah dekat, Aamiin”, kata seorang fasilitator yang kuundang di acara resepsi pernikahan dalam bahasa isyarat. Aku merasa dia punya rasa suka kepadaku  dan sebagian hatiku turut dibawanya.

Tak ada kesunyian bagi orang tuli sepertiku. Banyak doa kebaikan. (*)

 

*Astuti Parengkuh, pengarang dan jurnalis

 

http://www.edisicetak.joglosemar.co/berita/pernikahan-maryam-157098.html

 

 

Puisi – Melampaui

Melampaui (Karya Bunga Hening Maulidina)

 

Allah, dengan asma-Mu kami menyebut

kebenaran-Mu, hukum-Mu, yang akan berlaku

hilang buku-buku, kecuali firman-Mu

Allah, milik-Mu segala

kembali pada-Mu segala

Allah, janji-Mu benar

hilang puisi, di depan doa Nabi

Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa

Berkuasa atas semua

Allah,

hilang kata

Allah,

Engkau Maha Kuasa

 

S, 2018

Puisi – Pelan-Pelan

Pelan-pelan (Karya Aprilia Ciptaning Maharani)

: S

 

Pertemuan kita, barangkali

tak semudah dulu; memesan bakso

sambil menyeduh sendiri

teh hangat kesukaan

Semakin rimbun semak-semak, bukan subur—sebab kita tak

pernah menyirami—tapi liar, menempel benalu-benalu

lebat dan hinggap dalam tumbuh-tumbuhan

yang dahulu pernah kita tanam.

Usia, kedalaman dada.

Haruskah kita menghamba pada waktu?

Demi sekedipan detik yang kita tawar untuk menebus rindu.

Kita pernah sama-sama belajar bersama:

mengeja dan menulis kata-kata.

Kita membacanya, lantas termenung

menunggu nasib

membacai takdir-takdir

yang kita duga.

Jalan itu kini bercabang; batang yang tumbang melintang

arah masing-masing, ada mereka yang kautuju. Dan sihir,

telah menyulap kita yang pelan-pelan

menanggalkan nyawa.

Surakarta, 2018

Puisi – Perempuan Separuh Baya di Meja Rias

Perempuan Separuh Baya di Meja Rias (Karya Thea Arnaiz Le)

 

Melihat cermin di meja rias, melihat rupa yang dulu liar

penuh pesta

Kini, rupa itu sudah menjadi kulit jeruk yang kering

Kadang ia bertanya disaat tak lagi muda dan cantik

Apa kamu mau tetap terus cinta padanya?

Karena ia hanya punya jiwa yang sakit-sakitan ini.

Dan ia tahu, kamu mau

Amarelo Hotel, 2018

Puisi – Seandainya Hujan

 

Seandainya Hujan (Karya Aprilia Ciptaning Maharani)

 

Di kala hujan, ia merasa sedih

Ingatan-ingatan yang menubruknya,

membuat luka lama kembali menganga

Serupa rekaman orang-orang; kobaran api

yang menyala-nyala, asap hitam yang membumbung tinggi,

karat besi kendaraan, dan puing-puing sisa bangunan

Di kala hujan, ia merasa sedih

Mulutnya mengatup diam,

sedang suara hujan tak henti-hentinya menyambar

membuat kegaduhan di telinga

Kalau saja ia bisa mendatangkan

hujan pada waktu itu

Ia ingin, agar hujan beramai-ramai turun dari langit

membawa pasukan yang menandingi

kerumunan massa siang itu

mengguyur jiwa-jiwa pesakitan,

hati yang penuh dengan luka-luka

Ia ingin, hujan membawa dingin airnya

membasuh amarah dan dendam yang dibawa-diteriakkan

oleh massa

di tahun 1998

 

 

19 Mei 2018

Ditulis usai mendatangi pameran foto di Monumen Pers

“Refleksi Mei 1998 di Solo”

>