Cerpen – Natal yang Pura-pura, Terlambat Lagi

DOWNLOAD


Cerpen Liston P Siregar

Narator: Liston P Siregar

 

 

Walau SMAku dulu namanya Sekolah Kristen Nasrani, keadaannya tak banyak beda dengan SMA pada umumnya. Jelaslah ada satu dua sekolah di Medan di liga utama: yang banyak lulusannya yang masuk universitas negeri dan muridnya juga alim-alim. Sedang sekolahku, ya samalah dengan banyak SMA lain di Indonesia: yang masuk universitas negeri bisa dihitung jari dan kelakuan muridnya bereneka ragam.

Ada memang murid yang sopan dan patuh, tapi ada yang supermalas, atau yang tiap istirahat mojok di ujung lapangan bola untuk merokok,dan ada yang bawa majalah porno, terus ada murid yang hamil, selain yang hobi berantam, yang tukang bual, atau yang tukang nembak jajanan di kantin. Pokoknya jadi tempat kumpul semua masalah anak-anak puber.

Bedanya dengan sekolah umum lain, masuk kelas dimulai dengan nyanian Kidung Jemaat dan doa secara bergiliran. Nanti pas lonceng pulang, kamipun nyanyi Kidung Jermaat lagi dan doalagi sebelum cabut bertaburan ke luar sekolah.

Mimpin berdoa tak wajib untuk murid non-Kristen.Ada beberapa orang Islam -walau tak ada yang berkerudung- juga Budha serta satu dua umat Hindu.Tapi tunggu dulu, yang kumaksud agama di sini, mungkin cuma formalitas di kartu keluarga dan KTP karena aku yakin , seperti di kelas kami, hanya dua tiga anak yang bolehlah disebut memang taat beragama sedang yang lainnya tampaknya tak terlalu peduli. Jadi semua di kelasku, termasuk orang Budha dan Islam, tak keberatan mimpin doa. Sudah adanya kayak template, jadi marilah kita nyanyi, berdoa, dan pulang.

Begitulah kira-kira SMAku dulu, sekitar 35 tahun lalu.Tunggu dulu, ini baru pengantarnya.

***

Kini berkat WhatsApp, bisa terjalin baik hubungan alumnus SMA Nasrani, samakayak SMA-SMA lainnya. Juga sedikitnya ada dua grup, yang untuk satu angkatan dan yang seluruh angkatan.Begitu ada yang tamat maka -entah cemana caranya- admin grup WA KasihNasrani bisa memasukkannya, walau beberapa langsung ke luar.

Menurutku, dari melihat pesan-pesan WA, hampir semua anak SMA Nasrani paling tidak sudah naik satu tingkat keimanannya.Si Parlin, yang tukang berantam, misalnya, sekarang sekalu pakek Tuhan Berkati di ujung pesan WAnya. Kalau Fernando, yang dulu tak bandal dan sekaligus tak alim, tiap pagi pasti kirim potongan ayat Alkitab, dan Rajesh –anak Hindu satu angkatan di bawahku- menegaskan tak makan daging sapi tiap kali ada acara kumpul-kumpul, sementara Rahayu, yang dulu dor pakai rok dan baju ketat sampai pantat dan susunya entah kemana, sekarang pakai kerudung.

Alice yang Budha, lain lagi.Tiap Jumat dan Minggu, dia pun menulis pesan mengingatkan kawan-kawan di KasihNasrani untuk sembahyang dan ke gereja. Kek gitulah manusia, semakin tua, semakin dekat sama kematian, semakin taat beragama.

Sedangkan yang dulu memang sudah beragama serius –salah satu ukurannya adalah kalau doa masuk dan pulang sekolah panjang dan khusuk- malah jadi pendeta, kayak si Tunggul, atau pengurus gereja, macam si Sahala atau si Rosita.

Akupun kurasa agak naik tingkat karena sekarang ke gereja sudah kemauan sendiri, jadi bukan disuruh Bapak Mamak lagi. Cuma kalau di WA, tak mau awak singgung soal-soal agama: itu urusan masing-masing oranglah.  

Sabar sikit kalian, ini juga masih pengantar tapi sudah makin dekat ke cerita utama.

Eh lupa satu tadi, juga banyak anak SMA Nasrani yang sekarang bekerja di Jakarta, dan sekitarnyalah, termasuk Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi: Jabodetabek. Anak Medan kan memang suka merantau.

***

Entah ide siapa aku tak tau, tapi muncul rencana perayaan Natal alumni SMA Nasrani se-Jabodetabek. Semuanya setuju, dan sudah terpikir pula sama si penggagas supaya yang tak merayakan Natal, datang setelah kebaktian saja.Cuma begitu penentuan tanggal, ternyata tak mudah. Semuanya sudah sibuk berNatal sana sini atau jalan-jalan liburan ke luar kota. Sempat kupikir, bakal tak jadilah itu.

Ternyata salah awak bah.Diatur-atur orang itulah dan ketemulah tanggal yang hampir semuanya bisa datang, Sabtu 26 Januari. Tempatnya dapat pulak diBalai Kartini: aula besar, megah, dan di pusat kota. Semangatlah lagi pembahasannya walaupun sekelompok orang tak setuju, termasuk aku, karena Natal apa pulak di akhir Januari. “Kita bikin reuni sajalah, kok Natal.Kan kaco jadinya,” kutulis dan didukung beberapa kawan tapi dihajar oleh sejumlah besar kawan.

“Salah ngerti kau bah.Ini bukan acara cakap-cakap, senang-senang.Ini merayakan turunnya Kristus yang menyelamatkan kita semua.Masak harus kujelaskan lagi apa itu perayaan Natal,” sorong si Patar, yang dulu tukang main judi di Pajak Sore. Awak kandulu sempatnyadiajaknya ikut-ikutan main jud, tapi kudiamkan sajalah. Ada lagi yang bilang, “Ya kita bersiturahim sambil memuji Tuhan. Kan bagus.” Kawanku main basket, si Juanda yang Budha ikut nyambar: “Payah kali kau, kan tak ada salahnya memuja yang maha kuasa, kapanpun.”

Diamlah aku.

Tapi muncul masalah lain. Yang orang itu pikirnya nyewa Balai Kartini itu murah?Begitu tiap orang harus beli menyumbang 500.000 perak per orang, kutengok semangat agak turun sikit.Tapi kubu penggagas dan pendukung tak menyerah.Orang itu bikin ide, di buku acara dan kebaktian, bisa pasang iklan, untuk perusahaan atau juga pribadi. Dibikin orang itulah rancangan bukunya, lengkap dengan contoh iklan satu halaman atau setengah halaman:ada namaperusahaan tapi juga ada foto satu keluarga mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru. Tarifnya disebutkan jelas.

Bermasukanlah japri ke aku, baik dari yang sejak awal tak setuju dengan Natal di ujung Januari sampai yang tadinya semangat dan mengendor karena mahalnya sumbangan.Kubilang kalian pertanyakan saja di grup langsung, kalau aku sudah jelas keberatan.

Panas lagi perdebatan, dan muncul penjelasandari panitia bahwa biaya memang agak tinggi karena akan mengundang 50 anak-anak yatim dari salah satu yayasan Kristen. Beberapa muji, “Setuju, saatnya kita berbagi dengan mereka yang kesulitan, sejalan dengan semangat Natal’, yang lain protes, “Kurasa lebih baik kita kasih mentahannya saja sama orang itu.”

Perdebatan masih jalan, muncul poster bergambar “Mari kita rayakan kelahiran Yesus Kristus dengan penuh suka cita.” plus kutipan satu ayat di bawahnya.Poster itu dikirim ke grup secara teratur bergantian dengan peluang pasang iklan di buku acara.Beberapa pesan yang mengiringi poster-poster itu agak intimidatif, menurutku, seperti ‘Kita berikan yang terbaik bagi Kemuliaan Allah’ atau ‘Tuhan tidak pernah meminta tapi selalu memberi. Apakah kita juga sudah memberi?”.Sedang untuk menangkap yang non-Kristen, ditegaskan kalau kebaktian akan disusul ramah tamah kekeluargaan dengan hidangan buffet.

Semakin dekat acara, semakin kencang tekanannya karena poster bergambar dan iklan sampai dijaprikan ke orang per orang.Aku yang tadinya sudah mau beli dua undangan –satu untuk istriku- jadi mundur.Terganggu kali aku rasanya ditekan-tekan pakai Kemuliaan Allah atau Kemurahhatian Tuhan, jadi kubeli saja satu undangan untuk aku sendiri.

Beberapa hari sebelum acara, muncul lagi seruan agar koordinator masing-masing angkatan meningkatkan upaya membina sesama untuk Memuji Kemegahan Tuhan.Tak lama, masuk lagi japri dari si Surung, koordinator angkatan kami, yang minta kalau bisa tiap orang sedikitnya membeli dua undangan.“Sudah kita hitung seksama, bisa kok kita tutup semua biaya dengan gotong royong penuh kasih Tuhan.”

Habis itu masuk lagi beberapa japri dari kawan-kawan yang sejak awal tak setuju atau mempertanyakan kemewahan acara. “Kau datang kan Jo,” tanya si Lista, bekas pacarku dulu. “Istrimu ikut Jo?Kalau dia ikut kuajak juga istriku,” kata si Halomoan.Ada pula yang tanya, “Cemana bro, beli dua atau cukup satu. Mohon arahan,”

***

Aku akhirnya beli satu undangan, tapi pas hari acara malah tak bisa datang karena tugas mendadak ke luar kota. Rugi rasanya, sementara istriku tak mau datang menggunakan undangan seharga setengah juta rupiah itu, “Ngapain pula aku di sana.Belalatlah aku di tengah kawan-kawanmu, yang tak kukenal kali itu. Jadi agak nyesa sikit aku: kalaulah sejak awal kuikuti protes menentang Natal di penghujung Januari dan tak temakan intimidasi, selamatlah setengah juta rupiahku.

Sehari setelah acara, ada banjir foto dan video di grup WA, yang angkatan dan yang seluruh sekolah. Sebagian besar foto dan video mengarah ke panggung: barisan kor, pendeta yang sedang berkotbah, barisan pembaca ayat, anak-anak yatim piatu naik ke panggung untuk mengucapkan terima kasih, plus –sudah pasti- foto dan video selfie orang-orang yang duduk semeja. Panggungnya nampak sederhana, ada tirai merah bertuliskan “Perayaan Natal Kasih Nasrani Seluruh Jabodetabek 2018” dan di bawahnya dengan tulisan lebih kecil, “Memberi Yang Terbaik untuk Kemuliaan Tuhan”. Agak naik alisku sikit, kok mahal kali undangannya.

Cuma semakin kugeser foto dan videonya, mulai terpicu kekesalan.Makanannya nampak seru kali. Kutengok ada sop jamur, rendang, daging balado, ikan teri sambal, ayam goreng, tahu sama tempe tumis, cap cai, dan agak tersudut nampak babi panggang, persis di samping botol anggur merah. Di foto yang lain, tersaji tiramisu, es cendol, dan kue sus.  

Kugeser lagi galeri fotonya, ada banyak potongan video yang merekam karaoke lagu Sing Sing So, Situmorang, Butet, atau Anak Medan.Dan makin kugeser ternyata jauh lebih banyak foto dan videoyang merekam joget-joget pakai Lagi Syantik, Terajana, dan Kopi Dangdut.Bah, yang macam mananya, Natal jadi alasan untuk bersenang-senang.Mulai panas kepalaku tapi kutenang-tenangkan, bisa jugalah.

Cuma terbayang-bayang lagi uang undangan 500.000 perakku yang hangus dan kulihat-lihat lagi foto dan videonya lebih rinci. Bah, kulihat si Lista joget Kopi Dangdut sama si Halomoan, terus kawan-kawan yang tadinya tidak setuju dan manas-manasi aku juga makan lahap dan asyik berjoget. Tak tahan lagi kulampiaskan kemarahanku, “Yang kek gininya kalian maksud Kemuliaan Tuhan.Cuma cari-cari alasannya kalian rupanya,” sambil mereply satu foto orang itu waktu joget rame-rame.

Tapi tak ada satupun yang menanggapinya.Makin kesal, kuputuskan keluar dari grup dan, kalau ada yang japri-japrki minta masuk lagi, aku mau sok jual mahal sepukul.

Sudah dua hari lewat dan tak satupun japri masuk, yang membuat aku malah gelisah ‘jangan-jangan orang itu malah ngejek-ngejek aku’ jadi kuminta lagi si Surung memasukkan aku.‘Sorry Surung, tolong masukkan lagi aku, teleponku sempat heng.’

***

 

Cerpen – Tegak Dunia

 

DOWNLOAD

Cerpen Karya Iksaka Banu

Versi Cetak: Koran Tempo 2017
Narator: Luna Kharisma

 

Setelah mendaki beberapa anak tangga curam, tibalah ia di bagian atas kubu. Sebuah bangsal luas, dengan enam buah jendela yang terbuka lebar. Rambut cokelatnya langsung berkibar diterpa angin laut yang menerobos melalui jendela-jendela itu. Ia menghampiri pintu utama, dan berdiri terpaku di sana. Bau laut yang belum begitu akrab bagi hidungnya kembali menyerbu. Tetapi aroma amis bercampur pesing itu tak sanggup mengalihkan rasa takjubnya melihat pemandangan yang terhampar di depan mata: sebuah lapangan luas berbentuk segi tiga, dikelilingi tembok setinggi kira-kira dua meter. Di balik tembok itu, ia bisa memilih obyek pemandangan. Sebelah kiri, sebatang sungai lurus lebar. Sementara jauh di utara, lautan luas dengan deretan kapal layar yang tampak seperti miniatur hiasan dalam botol.

Sekujur tembok memiliki lekukan yang diisi meriam. Ia menghitung. Bila setiap kubu memiliki enam meriam, maka keseluruhan meriam di keempat kubu Benteng Batavia itu berjumlah 22 pucuk. Cukup ampuh menahan serbuan darat maupun laut. Belum lagi meriam kecil di sekeliling tembok kota.

“Keempat kubu benteng ini diberi nama batu mulia. Parel, Robyn, Diamant, dan Safier. Kita berada di atas Kubu Parel. Mari mendekat ke tepi tembok meriam itu, Nak,” sebuah suara serak membuatnya menoleh ke kanan. “Engkau akan melihat, sebenarnya kita perlu semacam menara pengawas di seberang Kali Besar sana, di belakang Gerbang Pinang, dekat Kubu Culemborg. Kelak kau bisa membantuku mendesak Kepala Syahbandar mengajukan hal itu sekali lagi kepada Gubernur Jenderal.”

Sambil mengayun kaki, Jan van de Vlek, pemuda berambut cokelat itu, mencuri tatap wajah lelaki tua bermata satu yang mengajaknya bicara, dan mulai merasakan nuansa ancaman walau dalam bentuk samar. Tetapi ia tahu, Kapten Zwarte van de Vlek, pamannya ini, bukan sembarang orang. Sejak memasuki gerbang benteng tadi banyak petinggi schutterij menyapanya dengan hormat. Kalau para milisia terpandang saja segan kepada pamannya, apalah arti dirinya? Bocah berusia dua belas tahun yang selama ini menghabiskan waktu di panti asuhan. Sangat bijak kiranya memasrahkan nasib sepenuhnya kepada sang paman, walau terus terang ia merasa tak nyaman berdekatan dengan makhluk buas yang senantiasa menguarkan aroma alkohol dari mulutnya ini.

“Mengapa kita perlu menara pengawas, Paman?” tanya Jan sembari dalam hati berusaha menebak, seperti apa bola mata Kapten tanpa sungkup penutup mata itu.

“Penting sekali.” Telunjuk Kapten Van de Vlek teracung ke depan. “Agar kita waspada, dan segera menutup Gerbang Pinang di atas Kali Besar itu bila dari jauh terlihat kapal asing yang ingin menerobos masuk kota. Selain itu, menara juga bisa dipakai para nakhoda menentukan garis bujur.”

Jan melongok arah yang ditunjukkan pamannya, lalu manggut-manggut.

“Engkau harus mulai belajar soal kapal dan pelayaran, Nak,” ujar Kapten Van de Vlek. “Sesuai surat wasiat ayahmu, aku harus mendidikmu menjadi pelaut. Akhir tahun ini kau harus pergi dari rumah yatim-piatu itu. Tinggal bersamaku di rumah milik almarhum orang tuamu di Malleabaer Gracht. Bila aku berlayar, kau mesti ikut. Nanti kuminta pemilik panti asuhan agar memberimu keleluasaan bertemu denganku lebih banyak lagi.”

Jan tidak memberi jawaban. Sinar matanya memancarkan keraguan.

“Hei, tak suka menjadi pelaut?” Kapten Van de Vlek mendorong pundak Jan. ‘Jangan bikin malu. Ayahmu nakhoda hebat. Kakekmu juru mudi kapal Hollandia, kepercayaan Cornelis de Houtman.”

“Aku tahu. Aku pun mulai menyukai laut,” Jan menghela nafas, lalu melanjutkan bicara dengan suara lebih rendah. “Namun menurut Tuan Van Geloofig, hidup sebagai pelaut menjauhkan diri kita dari surga. Mungkin aku akan memilih magang sebagai Asisten Syahbandar saja.”

“Jauh dari surga? Tentu saja!” Kapten Van de Vlek mendadak terpingkal-pingkal. “Kami gemar mabuk, dan selalu mampir ke rumah pelacuran di setiap pelabuhan. Tidak pernah berdoa, kecuali saat kapal diserang badai. Itu pun sesungguhnya bercampur sumpah serapah. Jadi, siapa tadi nama gurumu yang suci itu?”

“Marius van Geloofig,” jawab Jan. “Pendeta dan guru agama kami di panti asuhan.”

Kapten Van de Vlek berhenti tertawa. “Mana ada pendeta di sekitar sini?” semburnya. “Pendeta resmi VOC adalah Tuan Johannes Stertemius, dan ia tidak mengajar di tempatmu. Orang ini pasti hanya ziekentrooster*). Banyak lagak! Betul, kami jauh dari surga. Tetapi tanpa kami, para penjelajah samudra ini, mana mungkin Eropa bisa mengenyam kesejahteraan?”

“Justru Tuan Van Geloofig bicara soal penjelajahan samudra itu, Paman,” sahut Jan. “Di situlah letak dosa yang lebih besar dibandingkan mabuk atau main perempuan. Menurut beliau, para pelaut mengabaikan firman Tuhan. Menyebar kepalsuan. Mereka berlayar seturut garis pantai. Bukan memutar separuh dunia.”

“Beraninya ia berkata demikan!” Kapten Van de Vlek menarik botol arak dari saku jas, meneguk sedikit isinya. “Kau kira semua pelaut berbohong? Apakah kau tidak belajar ilmu bumi? Kami sungguh-sungguh melintasi samudra. Itu sebabnya kuminta kau menjadi pelaut. Kau akan lihat sendiri.”

“Bukan berbohong. Tetapi para pelaut tak sadar, mereka hanya menyusur pantai. Kata Tuan Van Geloofig, kalau benar lurus menyeberangi lautan luas, kapal akan ditelan ujung samudera. Jatuh ke jurang tanpa dasar. Bagaimana pula manusia bisa menjelaskan air laut bisa tetap berada di tempatnya bila permukaan bumi bulat? Bumi bulat adalah bid’ah terbesar yang dilakukan orang Kristen kepada kaumnya sendiri,” kata Jan. “Begitulah yang diajarkan di panti asuhan.”

“Yang kita butuhkan adalah astrolabe, peta, kuadran, dan kompas, Nak. Dan alat-alat itu hanya berfungsi sempurna bila bumi ini bulat. Bukan datar. Gurumu tak paham navigasi. Aku yakin ia lahir di sini. Belum pernah melintas samudera ke Eropa,” Kapten Van de Vlek menggeleng. “Yang mengerikan dari kaum puritan adalah omong kosong semacam ini. Bumi itu bulat, berputar cepat pada sumbunya, sehingga air laut tidak tumpah.”

Jan terdiam.

“Sejak orang-orang macam gurumu dekat dengan pemerintah, semua berubah memuakkan,” sambung Kapten Van de Vlek . “Tak ada lagi pakaian warna-warni yang membuat mata segar. Sekarang semua serba hitam-putih. Topi hitam, kerudung putih, gaun hitam, karena manusia harus hidup sederhana seturut kesederhanaan Sang Penebus, begitu kata mereka. Seluruh bagian tubuh pun tertutup rapat. Lalu mereka menebar ancaman neraka bagi pelanggarnya. Di lain waktu, berjenis larangan itu justru dijadikan alat fitnah. Seseorang bisa memancing musuh yang dibencinya agar menemui seorang wanita di suatu tempat, lalu disergap beramai-ramai atas tuduhan zina. Betapa sering aku mendengar kasus seperti itu. Dan kini mereka ingin mengatur bidang yang bukan jatah keahlian mereka? Sudah waktunya pemerintah mendatangkan lebih banyak lagi pendeta berkualitas dari Eropa.”

“Aku hanya menyampaikan yang diajarkan selama ini kepada kami, Paman,” kata Jan.

“Ya, tapi jangan ikut menjadi tolol!” bentak Kapten. “Lihat kapal di sana. Semula hanya tampak ujung layar, kini seluruh bentuk kapalnya muncul. Kau tahu artinya? Bola, Jan! Bumi seperti bola! Kapal merambat ke atas mengikuti lengkungnya. Dan air laut tidak tumpah. Mengerti, Jan?”

“Ya, Paman,” jawab Jan tanpa gairah.

Donkere luchten!” Kapten Van de Vlek memaki sembari membanting kaki. “Lihat wajahmu. Kau benar-benar sudah keracunan pikiran abad kegelapan. Pulang sajalah. Minggu depan kita lihat apa yang bisa kau pelajari tentang kegiatan di syahbandar. Ada kapal dari Eropa akan masuk. Datanglah sepagi mungkin, temui aku di ruang pabean!”

Jan mengangguk, lalu menyeret kaki kembali ke bangsal. Kapten Van de Vlek mengawasi punggung kemenakannya dengan gundah. Sejak ayah anak itu memboyong istri mestizo-nya tinggal di rumah pusaka keluarga Vlek, ia segera melihat bahwa hidup berumah tangga, apalagi mengurus anak, tak ubahnya seperti neraka.

Setiap hari perempuan brengsek itu membuat abangnya, dan seluruh penghuni rumah, sakit kepala. Lebih sakit dibandingkan pengaruh tiga botol arak Madeira saat bangun pagi. Selain mengatur hidup suaminya, perempuan itu tak segan mencampuri urusan pribadi adik iparnya.

Maka suatu hari, pada usia 14 tahun, ia tak tahan lagi. Ia memutuskan pergi dari rumah kakaknya, ikut Kapal Nieuwe Hoorn, bertualang dari laut ke laut. Syukurlah nasib baik berpihak kepadanya. Dari kelasi biasa, jabatannya meningkat menjadi pembantu juru mudi, lalu naik lagi menjadi juru mudi, kemudian Asisten Mualim III. Lantas pada suatu pelayaran yang sial, terjadi pertempuran hidup-mati melawan bajak laut di sekitar Laut Banda. Sebelah matanya terpapas parang. Namun kejadian itu justru membuat namanya menjulang tinggi. Menjadi buah bibir di kalangan pelaut. Sebentar kemudian, ia menempati jabatan baru sebagai nakhoda, yang digelutinya selama 15 tahun hingga kini.

Sayang, di antara suka cita hidupnya, wabah pes mengganas di Batavia. Keluarga kakaknya tumpas. Meninggalkan si kecil Jan, yang segera dimasukkannya ke panti asuhan dekat Rumah Sakit Cina. Sesuai amanat Sang Kakak, setelah berusia 13 tahun ia harus mengeluarkan anak itu dari panti, dan menjadikannya seorang pelaut seperti ayahnya, atau seperti pamannya. Tetapi, lihatlah anak itu hari ini. Betapa akan sia-sia hidupnya kelak. Namun ia tak boleh menyerah. Mulai sekarang, Jan adalah bagian hidupnya. Ia bertanggung jawab atas masa depannya.

Demi masa depan kemenakan pulalah seminggu kemudian Kapten Van de Vlek, mengunjungi Tuan Adriaan Gewetensvol, Kepala Syahbandar. Sedikit menekan malu, ia merayu Tuan Gewetensvol agar menerima Jan magang sebagai petugas syahbandar.

“Keponakanku pintar,” ujar Kapten. “Kau takkan kecewa. Kebetulan ia akan ke sini siang ini. Lihatlah sendiri.”

Tuan Gewetensvol belum bisa memutuskan apapun. Pagi itu, dua buah tongkang besar merapat di pabean. Petugas syahbandar sibuk meneliti dokumen serta muatan yang diturunkan. Sebagian lain pergi ke teluk, memeriksa galiung Eropa, tempat asal muatan itu. Ukuran kapal galiung itu terlalu besar, tak bisa merapat. Mereka membuang sauh agak jauh dari daratan.

“Mari kita lihat kiriman untuk Kerajaan Gowa yang kemarin malam diturunkan,” Tuan Gewetensvol menunjuk satu peti besar di depan kantor syahbandar. “Ada yang harus ditandatangani Gubernur Jenderal. Ada pula rencana memamerkannya di Balai Kota. Entah kapan barang-barang ini akan diberangkatkan ke Makassar.”

“Apa isinya?” tanya Kapten.

“Kau akan kagum,” Tuan Gewetensvol menyorongkan dokumen barang.

Sebentar kemudian, kedua orang itu tenggelam dalam keasyikan memeriksa muatan lain, sehingga baru agak lama Kapten Van de Vlek menyadari bahwa jauh di belakang sana berdiri dua orang pria. Salah satunya adalah keponakannya sendiri.

“Tuan Van Geloofig ingin bicara berdua saja dengan Paman,” Jan mengarahkan tangan kepada lelaki tua di sisinya.

“Kehormatan bagi saya,” Van Geloofig menerima uluran tangan Kapten.

“Apa yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Kapten setelah mempersilakan Van Geloofig duduk di ruang tamu syahbandar. “Sebelumnya, terima kasih telah merawat keponakan saya selama 7 tahun. Semoga ia tak merepotkan Tuan.”

“Jan sama sekali tidak merepotkan,” Van Geloofig melipat kedua tangannya ke atas meja. “Tetapi sejak pulang dari pertemuan dengan Tuan minggu lalu, ia membuat resah panti asuhan, dan sedikit membuat saya kecewa. Ini berkaitan dengan paham yang Tuan sampaikan kepadanya.”

“Silakan teruskan,” Kapten Vlek mengail pipa dari saku jas. “Saya belum menangkap maksud Tuan.”

“Baiklah, saya akan langsung saja,” Van Geloofig merogoh tas, mengeluarkan sebuah Alkitab. “Saya orang bodoh, Tuan. Tidak akan bisa memahami ilmu pengetahuan. Bila Tuan ingin mengambil Jan hari ini, silakan bawa. Akan saya kembalikan biaya perawatan setahun ke depan yang sudah Tuan bayar. Tetapi lepaskan dia dari paham yang bertentangan dengan Sabda Tuhan.”

“Sabda Tuhan?” Kapten menggaruk kepalanya.

“Tuan Kapten,” rahang Van Geloofig tiba-tiba mengeras. “Tuan terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan ilmu kelautan yang begitu Tuan puja bersama rekan-rekan Tuan, sehingga barangkali alpa mendaras Kitab Suci. Oleh karena itu, biarlah pagi ini saya sampaikan beberapa ayat dari Kitab Mazmur untuk Tuan.”

Kapten Van de Vlek diam menunggu.

“Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak!” seru Van Geloofig, tangannya menelusuri huruf di atas halaman kitab bersampul kulit itu. “Yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya!” Van Geloofig menatap wajah Kapten. “Dengar, Kapten. Mendasarkan bumi di atas tumpuannya. Takkan goyang. Itu Sabda Tuhan. Apakah menurut Anda bumi berbentuk bola punya tumpuan yang takkan goyang? Dengarkan pula yang satu ini…”

“Yehova berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, tegak dunia, tidak bergeser dari tempatnya,” Van Geloofig menutup kitabnya. “Sekali lagi saya bertanya, Kapten. Apakah ada benda yang bisa berdiri tegak di atas tumpuan berbentuk bola?”

Kapten ingin mengatakan sesuatu, tetapi Van Geloofig lebih dahulu menukas: “Tak perlu Tuan bicara ilmu perbintangan. Semua buatan manusia. Pegangan saya adalah perkataan Tuhan sendiri!”

“Saya rasa itu soal tafsir,” Kapten mengangkat bahu. “Untuk menjawab pertanyaan Tuan, saya bisa menunjukkan bukti lewat alat. Tetapi Tuan tak ingin mendengar. Jadi, apa yang harus saya lakukan?” sesungguhnya amarah Kapten sudah tiba di ujung tanduk, tetapi rasanya tak baik memaki seseorang yang dekat dengan Alkitab.

“Seperti kata saya tadi, silakan ambil. Bawa Jan ke luar.” Van Geloofig bangkit dari kursi. “Jangan biarkan ia meracuni anak lain. Dunia sudah penuh dosa. Itu saja. Permisi. Semoga Tuhan masih besertamu.”

Kapten Van de Vlek membiarkan tamunya hilang ditelan tikungan. Lalu ia mendekati Jan yang sejak tadi berdiri terpaku di luar.

“Ikut aku!” ia menyeret tangan keponakannya. Berdua, mereka masuk ke gudang pabean. Tuan Gewetensvol memperhatikan kedatangan mereka berdua.

“Maaf Tuan Gewetensvol,” kata Kapten. “Dengan segala hormat, izinkan aku dan keponakanku melihat sekali lagi isi peti kemas untuk Raja Gowa itu.”

“Baru saja kututup. Tetapi, mengapa tidak? Aku juga senang melihatnya sekali lagi,” kata Tuan Gewetensvol. Ia menoleh kepada dua orang budak Melayu yang sedang sibuk memaku peti.

“Bongkar!” perintahnya.

Linggis dan palu kembali bekerja. Sebentar kemudian, tutup peti itu jatuh berdebam. Jan van de Vlek terbelalak. Seumur hidup belum pernah ia melihat benda seperti itu. Begitu besar. Begitu indah. Begitu rinci. Sebuah maha karya.

“Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudera, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya. Lihat bentuknya, Jan. Bola!” seru Kapten Van de Vlek.

“Menurut dokumen, benda ini hasil karya Joan Blaeu, ahli peta ternama dari Belanda. Tingkat keakuratannya sangat tinggi. Jangan kau kira garis lintang dan bujur ini digores sembarangan. Blaeu menghabiskan tujuh tahun untuk mencari data dan menempa benda ini. Ditambah satu seri peta dinding. Tahu berapa nilai maha karya ini? Lima ribu gulden. Setara harga satu rumah di kawasan elit Tygers Gracht.”

Jan van de Vlek tak berkedip.

“Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan!” bentak Kapten Van de Vlek. “Dengar, Jan. Selama ini kita membanggakan diri sebagai bangsa paling maju. Itu benar. Di luar sana, sejak 200 tahun lalu, para cendekiawan kita sudah selesai menyimpulkan bahwa bumi berbentuk bola, berputar pada porosnya, dan mengelilingi matahari setiap 365 hari. Tetapi, tahukah kau siapa yang memesan globe raksasa ini?”

Jan menggeleng.

“Pemesannya adalah Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi dari Kerajaan Gowa. Seorang pribumi!” lanjut Kapten Van de Vlek. “Usianya 18 tahun. Tetapi sudah menguasai politik dan hukum tata negara. Fasih bicara bahasa Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, serta Latin. Lihat etsa wajahnya ini. Ia memiliki perpustakaan pribadi yang dijejali ribuan buku dari Eropa. Apa yang sudah kau pelajari selama ini?”

“Kita telah berjalan begini jauh, Jan. Para cendekiawan di seluruh dunia dengan takzim mempercayai ilmu kita. Sementara orang dari panti asuhan itu hendak kembali ke zaman kegelapan? Ia boleh setia pada keyakinannya, tetapi ia tak bisa mengancam pihak yang sudah memiliki bukti lebih kuat dan diuji banyak orang!” Kapten Van de Vlek meraih botol arak lalu melangkah ke luar ruangan, meninggalkan keponakannya di depan peti kemas.

Jan van de Vlek termenung. Perlahan ia berlutut. Tangannya menyentuh lempengan tembaga yang ada di bawah globe. Keempat sisi lempengan itu berlubang. Tampaknya disediakan untuk ulir paku.

“Sebelum dipasang pada dudukan globe, lempeng itu harus ditandatangani Gubernur Jenderal dan Kepala Dagang Hindia, Nak,” Tuan Gewetensvol yang sejak tadi mengamati Jan, merasa iba. Ditepuknya punggung Jan.

“Pamanmu pelaut hebat. Pelaut hebat tak takut mati. Mereka bertualang. meninggalkan tempat aman, menerobos tabu. Membuktikan bahwa kadangkala dunia jauh lebih menarik dibandingkan yang dibayangkan secara kaku dari balik meja atau ruang rapat pemuka agama.”

Jan van de Vlek menunduk. Matanya mengeja tulisan yang digrafir rapi di atas plakat tembaga itu. Potongan puisi karya penyair Belanda tersohor, Joost van Vondel:

 

Kantor Tuan Tujuh Belas

kirim bola dunia pada Pattingalloang Agung,

yang benaknya selalu penuh rasa ingin tahu,

sehingga seluruh dunia terlalu kecil.

 

 

Jakarta, Januari 2017

 

 

  • Ziekentrooster: Peran sesungguhnya adalah penghibur orang sakit. Membacakan ayat Alkitab. Belakangan, karena terbatasnya jumlah pendeta di Hindia, mereka mengambil alih peran pendeta.

 

Cerpen – Makan Malam Bersama Dewi Gandari

DOWNLOAD 

Cerpen: Indah Darmastuti

Versi Cetak: Majalah Horison, Oktober 2014

Narator: Irma Maulani

Waktu aku sampai di sana, tak ada siapa-siapa. Lalu perasaan ganjil tiba-tiba menyergap tatkala aku berdiri di depan pintu, langsung berpapas mata dengan batu kelabu perwujudan Dewa Syiwa. Menatapku, seolah memertanyakan kehadiranku.

“Aku diundang ke sini.” Tangkisku tegar meski tanpa pertanyaan. Bau harum magnolia, bersirebut dengan dupa menyesak di hidungku. Sunyi, sepi. Masih kental bau perkabungan.

Hanya meja bulat kecil tertata rapi ditutup taplak berpelisir biru pada tepi. Roti asin dan nasi dalam wadah perak, kudapan dan buah-buahan. Lalu beberapa buah pingan yang permukaannya gilap bisa untuk berkaca. Sondok dan serbet dipacak tak jauh dari cawan. Tetapi aku tak merasakan kehangatan.

Hawa yang menyambutku terasa begitu beku. Lengang sekali. Aku datang pertama, setelah aku ada siapa lagi yang akan hadir pada perjamuan ini? tentu tak banyak jika melihat jumlah kursi yang tertata mengitarinya. Di luar remang petang sudah membayang. Kelelawar-kelelawar terbang keluar dari sarang.    

Tak ada bunga dalam vas, tak ada lilin. Hanya baskom tempat cuci tangan terletak agak ke pojok kiri. Wangi magnolia makin menguat ketika aku melangkah masuk menginjak lantai dingin dan angkuh dalam tatapan batu kelabu Dewa Siwa yang penuh curiga.

“Dari  mana asal bau itu?” Aku berdehem. Lalu menyampaikan salam.

Ada langkah datang mendekat, menyeret sandal beludru hitam dengan sulaman benang emas berpola ombak. Mengenakan pakaian perkabungan yang rasanya tak akan pernah selesai itu. Tak ada perhiasan apa pun. Anting tidak, cincin juga tidak. Ia membawa seikat magnolia pada tangan kirinya. Terjawab sudah tentang wangi itu!

Langkahnya pelan-pelan, tegak dan berwibawa. Ramping pinggul itu berayun dan payudaranya membusung tanpa gentar. Rambutnya hitam tergerai kontras dengan pucat bibirnya. Aku menghela nafas. Leher jenjangnya langsung berhadapan denganku, leher tempat kecupan ciuman kakak ipar Drestrarata bermuara.  

“Silakan duduk adik.”

“Terimakasih kakak.” Ia serahkan magnolia kepadaku. Menggandeng tanganku dan menarik kursi untukku. Kuletakkan magnolia pemberiannya di sisi meja. Perasaan ganjil itu pelan lenyap oleh genggam tangannya.

Benar dugaanku. Hanya ada dua cawan, dua pinggan. Tahulah aku kalau dalam perjamuan ini tak ada lagi selain aku dan dia. Ia menuang air dalam cawan. Aku tak heran bahkan tak kuatir sedikit pun kalau air itu tumpah atau salah tuang. Dewi Gandari memang membebat matanya sejak hari pernikahannya, tetapi mata yang lain tak kalah awas. Matanya ada di sepasang payudaranya, di pangkal lengannya, di tulang panggulnya, ada di….

“Apa kabar anak-anak?” aku mendengar vibrasi suaranya menyentak otakku. Mestinya  harus ada siapa lagi selain aku dan dia dalam perjamuan ini? Dru, menantuku, mungkin.

“Mereka masih dalam suasana berduka, kakak. Atas kematian saudara-saudaranya, kerabat dan sahabat-sahabatnya, tanpa kecuali kematian para sepupu.” Lalu ia duduk setelah meletakkan cawan berisi air itu di hadapanku, tepat di hadapanku.

Kemudian diambilnya roti, diletakkan di pinggan dan ditaruh dekat cawanku. Aku kehilangan nafsu. Tetapi demi menghormatinya, aku menggigit roti itu, aku terkejut dengan rasa hambarnya. Terlalu hambar. Bukannya roti seperti ini biasanya asin?

“Mengapa tersentak adik?” Dewi Gandari telah melihatku bukan dengan matanya. Tetapi memang mata batinnya nan tajam itu sanggup membidikku. Aku harus tenang dan waspada, karena isi kepalanya adalah api. Ia sanggup membakarku hanya dengan mengirim pikiran dan terus dipikirkannya tentang kedengkian terhadapku. Terhadap rahim yang melahirkan para pembunuh anak-anaknya. Hanguslah aku.

“Mestinya kamu tak kaget. Dan mestinya kamu tahu, begitulah perasaanku. Hambar. Rasanya tak ada guna aku bertahan di sini.”

“Kakak,”

“Selesaikan makanmu, Kunti, adikku.”

Aku menggigit pelan-pelan roti hambar itu. Menggigit rasa hambar perasaannya. Ah, dia atau aku tak jauh beda, dibawa masuk ke pintu pernikahan lalu menjadi perempuan-perempuan Kuru dengan gagah berani megemban risiko bersuamikan lelaki-lelaki sembrono.

Bukankah lebih beruntung Dewi Gandari yang bisa memadu cinta dengan suami sendiri? Pemuja setia Dewa Syiwa yang dianugerahi seratus anak laki-laki dan satu anak perempuan untuk sentuhan kelembutan. Sejujurnya  aku tak suka, dan aku pernah mengatakan padanya bahwa aku tak melihat sisi baik saat ia menutup matanya dengan kain, seumur hidup. Tetapi ia keras kepala. Ia katakan,

“Itu karena aku berempati pada suamiku.” Saat aku katakan bahwa itu sama dengan ia menghina diri sendiri, dia memutar lehernya dan mengarahkan mata terbebat itu pada mataku.

“Kau tak pernah tahu penderitaanku.”

Penderitaan? Lebih menderita siapa? Aku selama menjadi istri Pandu, belum pernah sekali pun bermesraan dengannya, bercumbu, berkasih-kasihan. Tiga anakku adalah benih dari sosok lain. Belum lagi aku harus mengalami dimadu dengan Dewi Madrim yang gegabah itu. Yang lebih seksi, lebih genit merangsang. Yang akhirnya membuat Pandu tewas kala bercinta menuai karma. Aku meremas tangan betapa geram aku padanya ketika itu, mengapa ia tak hati-hati berbusana dan bicara sehingga membangkitkan gairah asmara Pandu hingga meledak ingin bercinta.

Tak sepantasnya mengenakan pakaian tipis transparan dengan potongan dada terbuka saat mengawani ke hutan untuk bersenang-senang. Sudah berkali-kali aku katakan, keteguhan dan kewaspadaan kita bisa bernego membuat hitungan dengan takdir. Sudah tahu kalau Pandu mengemban supata, kok nekat saja.  

Aku muntab, lebih karena didera cemburu. Sebab seumur hidupku, belum pernah aku bercumbu dengan suamiku. Sudah begitu, hak untuk mati dibakar menyertai jasad Pandu juga direbut olehnya. Dipasrahinya aku mengurus anak-anak, membesarkan di antara rivalnya, dipasrahinya aku untuk mengantar anak-anak itu untuk melangkah ke tampuk kekuasaan. Belum lagi sakit hati dan mata saat melihat Dru, menantuku dipermalukan di hadapan laki-laki serampangan yang tak bisa menjaga kehormatan ibu dan keluarga.

Belum lagi aku harus menanggung rasa bersalah yang tak kalah berat karena tetap bertahan bungkam menyaksikan keberhasilan dan aib Basusena, ya si Karna itu. Aibku telah ditelannya dengan sempurna, dan dititipkan pada pucuk anak panah yang dilesatkan hingga mengunjam cucuku si Gatotkaca.

Jika diingat, bukankah karena ketidak-tegasan Dewi Gandari juga yang telah membuat menantuku harus mengalami penderitaan panjang, oleh dera dan penghinaan anak-anaknya. Kurang hambar apa aku?

Sekarang Dewi Gandari mengundangku pada jamuan makan ini, untuk diajak merasakan betapa hambar perasaannya. Tidakkah ia mengerti perasaanku saat menyertai anak-anak di hutan pembuangan karena ulah suami dan anak-anaknya? Bahkan kasus pembunuhan berencana yang diserangkan padaku dan anak-anakku, ia tak sanggup mencegahnya. Anak-anakku harus menjadi pengemis sementara ia dan anak-anakknya tak pernah keluar dari nyaman istana. Pernah Dewi Gandari tidur di hutan berbulan-bulan? Tidak kan? pernah berlatih cakap kala tiba-tiba boa mengadang, babi dan serigala yang sama banyaknya? Pernah belajar mengukur dan menajamkan mata untuk melihat arah angin untuk bertenda? Tidak! ia tetap nyaman di istana.

Penghiburanku adalah mekarnya bunga-bunga, atau menyaksikan anak-anak kelinci berebut susu induknya.  Penghiburanku adalah gerimis yang membasahi rambut menantuku yang tak pernah lagi digelung dan bersisir sebelum keramas darah sepupu iparnya. Penghiburanku adalah ketika si Kembar anak-anak Dewi Madrim membacakan syair gubahannya, tentang cinta asmara, tentang pahit manis hidup, atau bermain sandiwara atau menceritakan lelucon-lelucon yang membuat tawa Bima membahana membangunkan penghuni belantara, baik tetumbuhan, hewan atau dedemit-dedemitnya. Lalu si Yudis akan turun tangan menenangkan si terganggu itu. aku tersenyum mengenangnya.

“Nah, kau tersenyum, di atas rasa hambarku.” Aku tersentak.  

“Aku memohon maaf karena Kuru harus menjadi begini.”

“Baru saja kau tersenyum, pasti karena pikirmu: lebih berbahagia memiliki anak-anak hanya lima saja setapi selamat. Daripada seratus tetapi tumpas.”

“Ampuni kami, Kakak Dewi.”

“Kau lebih berbahagia sebagai ibu, sebagai perempuan. Kau tetap mendapat penghormatan dan dihargai anak-anakmu. Tidak demikian dengan aku. Ayahnya terlalu memanjakan, tak pernah diajarkan untuk memerhitungkan aku.” Dewi Gandari menopang dagunya dengan tangan kiri. Tangan kanan menyentuh-nyentuh pinggiran pinggan seolah itu bibir jurang yang sebentar lagi akan membuat tubuhku terjengkang.

“Kau perempuan kuat, kakak.”

“Kuat? Kuat katamu? Semua penasehat terbaik di negeri ini menginginkan aku untuk mengendalikan amarah, dan tetap waras. Rela.”

“Demi kejayaan leluhur-leluhur kita, kakak.”

“Aku tak bisa. Tak bisa terus bertahan. Aku dan suamiku akan pergi dari sini. Kami akan menepi kepada kesunyian.”

“Aku akan menyertai kalian. Aku akan melayani kalian, sebagai tebusan.” Sang Dewi diam, memertimbangkan. Bahkan aku tak takut akan dihabisi oleh mereka di jalan nanti. Kalaupun itu harus terjadi tak apa. Aku akan mati dengan indahnya.

“Mari kita menua dengan anggun, kakak. Urusan dunia kita rasanya telah selesai.”

“Yakin kamu akan ikut dengan kami?” aku mengangguk. Dan sepasang bahu Dewi Gandari melunglai. Lalu ia menunduk. Suara tokek di pendapa menambah tintrim suasana. Di sana lah dahulu ksatria-ksatria Kuru menimba ilmu. Duduk mendengar para Guru mengajar. Tetapi suara tokek yang ke lima itu mengingatkan aku kala harus menyuruh Bima menyudahi raksasa Ekacakra. Yang membuat aku dimaki-maki oleh Yudis karena dianggap menyeret mereka dalam bahaya.

“Ada lagi, kakak?” ia bergeming. Tetapi bahunya terguncang, menangis dan mengepal-kepal tangannya. Kusentuh punggungnya. Ia diam, aku diam. Jadi seperti ini yang dimaksudkan undangan perjamuan makan? mencicip dan menikmati kepedihan sebagai perempuan-perempuan Kuru.

“Jika cukup, aku mohon pamit, Kakak Dewi.”

Dewi Gandari menghela nafas. Aku berbenah, meraih seikat magnolia, aku membaui sepuasnya lalu berbalik, melangkah meninggalkannya.

“Mestinya kalian menyisakan anakku barang satu!!”

Bbbrraakk!! Kedua tangan Dewi Gandari masih menyengkeram taplak meja setelah menggebraknya. Tangisnya pecah. Pecah juga dadaku. Alam gemetar, kelelawar terbang menjauh, malam beringsut. Langkahku terhenti. Dan batu kelabu Dewa Syiwa itu beku menatapku.

Kini aku tahu, penderitaanku tak ada artinya sama sekali.

“Kakak, maafkan aku.” []

  

 

Cerpen – Penafsir Mimpi dan Peramal

DOWNLOAD

Cerpen: Pangerang P. Muda

Versi Cetak: Koran Minggu Pagi, 16 Maret 2018

Narator: Astuti Parengkuh

 

Sejak terpasang, tulisan besar pada papan nama itu kerap menolehkan kepala orang-orang yang melintas. PENAFSIR MIMPI & PERAMAL. Menafsir Mimpi, Meramal Nasib, Memberi Solusi. Terpasang di bagian kiri rumah, di atas ruang yang dulunya diniatkan untuk garasi.

Di situlah kedua sahabat itu membuka tempat praktik. Sebelumnya, keduanya saling mengenalkan diri di bangku panjang sebuah warung kopi. Sebelum berkenalan itu keduanya kerap berpapasan di trotoar, sering bertemu di emperan toko, dan berkali-kali saling melihat di kerumunan pejalan kaki.

Tidak ada yang menyebutkan nama. Keduanya merasa bangga ketika mengenalkan diri dengan hanya menyebut keahlian masing-masing.

“Saya seorang penafsir mimpi.”

“Saya seorang peramal.”

Merasa saling cocok, keduanya lalu menjadi karib.

Pada persuaan berikutnya, si Penafsir Mimpi bertanya, “Dengan cara apa kamu meramal?”

“Dengan menelusuri garis-garis wajah seseorang,” jawab si Peramal. “Orang yang sudah berumur lebih mudah diramal nasibnya, dibanding yang masih belia. Yang berumur memiliki garis-garis wajah lebih banyak, jadi banyak pula yang dapat ditelusuri.”

Si Penafsir Mimpi mengangguk-angguk. Ketika sahabat barunya itu mengajukan pertanyaan serupa, ia menjelaskan, “Menceritakan mimpinya secara detail. Makin kabur mimpi itu, makin sulit ditafsir. Mimpi yang mudah ditafsir dan tafsirnya selalu tak terelakkan, adalah mimpi yang datang berulang-ulang dan selalu sama.”

Sebelum bersimpang jalan, si Peramal memberi saran, “Bukalah tempat praktik, agar kamu bisa menjalankan pekerjaanmu secara profesional.”

Sejenak si Penafsir Mimpi menimbang-nimbang, lalu berkata, “Kenapa kita tidak bekerja bersama-sama saja?”

Sejak itulah si Penafsir Mimpi menggunakan ruang sebelah kiri rumahnya sebagai tempat praktik.

***

Dengan hati girang, si Penafsir Mimpi mendengar ramalan sahabatnya. “Mulai tahun ini, pekerjaanmu akan mendatangkan penghasilan besar,” demikian terawang sahabatnya, seraya menelusuri garis-garis di wajahnya. “Orang-orang menyebutnya sebagai tahun politik. Akan banyak orang didatangi mimpi. Mimpi-mimpi mereka biasanya samar dan tidak jelas, sehingga butuh tafsir agar dapat memperlakukannya dengan strategi tertentu. Orang-orang ini akan menjadi klienmu.”

Garis-garis wajahnya belum rampung terbaca. Masih ada hasil terawang berikut, “Masa depan seseorang tidak melulu baik. Ada pula nasib buruk mengintai. Bila cepat mengetahui, tentu bisa diupayakan dielakkan.”

Si Penafsir Mimpi berdebar resah. “Seperti apa buruknya?” ia bertanya, tak kuat menunda sabar.

“Ajalmu akan datang ketika kamu sedang tidur lelap.” Murung wajah sahabatnya yang masih menelusuri garis-garis wajahnya, membuat semangatnya goyah. “Malaikat pencabut nyawa akan datang menjemputmu saat kamu sedang tidur.”

***

Sebelum klien pertama datang, si Peramal berkata, “Sebaiknya kamu menafsir pula mimpi-mimpiku.”

Menyambut antusias, Si Penafsir Mimpi merasa ini semacam pemanasan sebelum klien berdatangan. Toh sahabatnya telah pula meramal nasibnya.  

“Saya selalu bermimpi yang indah-indah, mimpi yang penuh kesenangan, penuh bahagia,” cerita si Peramal memulai. “Mimpi duduk di pelaminan dengan wanita cantik kaya-raya, menjadi pejabat yang disegani, menjadi pengusaha sukses, dan mimpi-mimpi semacam itu.”

“Mimpi cenderung terjadi sebaliknya,” kata si Penafsir Mimpi sendu, menatap sahabatnya.

“Maksudmu?”

“Mimpi baik-baik cenderung kenyataannya buruk; sebaliknya, mimpi buruk cenderung kenyataannya baik,” jelas si Penafsir Mimpi, membelalakkan mata sahabatnya.

Resah yang langsung menyergap, membuat si Peramal bertekad alam tidurnya nanti hanya didatangi mimpi-mimpi yang penuh kesusahan, mimpi yang penuh derita.

***

Sejak hasil terawang sahabatnya ia ketahui, si Penafsir Mimpi berupaya hidup tanpa tidur. Saat kantuk amat tak tertahankan, ia membesarkan hatinya bahwa ramalan sahabatnya bisa saja keliru. Ia berbaring di sofa tanpa niat untuk tidur. Namun hanya semenit, dengkurnya sudah mengalun. Saat itulah ia melihat sebuah bayangan putih melayang mendekat, sebelum hinggap di ubun-ubunnya.

Ia terkesiap, melompat bangun. Tatapnya berputar dan ia merasa linglung. Ia bersyukur masih dapat membuka mata. Ia yakin yang mendatanginya adalah sang Pencabut Nyawa, yang sesuai takdirnya akan menjemputnya kala ia sedang tidur pulas. Makin yakinlah ia pada ramalan sahabatnya.

***

Andai bisa, si Peramal rasanya ingin menyetel mimpinya menjadi mimpi-mimpi buruk. Kenyataannya, yang memasuki tidurnya masih juga mimpi yang baik-baik. Tidak sekali pun mimpi buruk datang.

“Mimpi yang terus berulang, cenderung lebih pasti menjadi kenyataan,” jelas sahabatnya tempo hari. “Kejadian-kejadian buruk akan menimpamu tanpa kamu duga dari mana datangnya.”

Merenung masygul, Si Peramal membayangkan kejadian buruk akan terjadi pada dirinya. Suatu hari ia menyeberangi jalan di depan tempat praktik, tiba-tiba ada mobil truk melindasnya. Atau suatu malam ia dihadang begal, lalu begal itu mengarit lehernya. Atau ia terpeleset di dekat pagar ruang praktik, dan kepalanya terantuk sudut pintu pagar….

Untuk mengelak dari mimpi, tentu caranya tidak memicingkan mata. Si Peramal mulai mempertimbangkan hidup tanpa tidur.

***

Tempat praktiknya mulai kedatangan klien. Ada saja orang yang bingung dan mempermasalahkan mimpinya, lalu datang meminta mimpi itu ditafsir. Selalu juga ada orang yang tidak sabar ingin mengetahui terlebih dahulu nasibnya, lalu berkunjung pula ke tempat praktiknya.

Keduanya merasa lebih nyaman, tinggal duduk menunggu. Sebelumnya, keduanya berkeliling menjajakan jasanya, mendatangi orang-orang di emperan toko atau yang berlalu-lalang di trotoar; menyambangi warung-warung kopi, lalu menawarkan jasa keahliannya. Di samping menguras tenaga, perasaan lebih sering pula terlecehkan. Sebagian besar orang yang didatangi malah mencibir dan menyangkanya tidak waras. Baik si Penafsir Mimpi, demikian juga sahabatnya si Peramal, mengalami kejadian tak jauh berbeda.

Seraya mulai menghitung klien, kedua sahabat itu berupaya pula saling mengingatkan bahwa tidur adalah ancaman bahaya. Si Penafsir Mimpi telah mengingatkan sahabatnya soal bahaya mimpi-mimpinya, si Peramal telah pula menerawang masa depan sahabatnya. Apa kata klien, bila tafsir pada mimpi dan ramalan akan nasib, pada masing-masing keduanya, malah mendatangkan malapetaka? Ini adalah pertaruhan reputasi pada keahlian masing-masing.

Keduanya lalu bertekad menjalani hidup dengan mata terus melek. Resep melawan kantuk mulai diterapkan, dari gerakan-gerakan tubuh sampai meminum ramuan khusus. Sampai di suatu pagi yang riuh oleh suara orang-orang berkerumun di depan ruang praktik itu.

***

Papan nama itu masih terpasang. Kepala orang-orang yang melintas masih suka menoleh membacanya. Namun di situ tidak ada lagi kegiatan menafsir mimpi dan meramal nasib. Sepekan lalu, si Penafsir Mimpi dan si Peramal ditemukan duduk berhadap-hadapan dengan mata menjegil, tapi tubuh keduanya kaku tidak bergerak. ***

Parepare, Jan-Feb. 2018.

 

>