Cerpen – Kebaya Kenanga

DOWNLOAD

Oleh : Sanie B. Kuncoro

 

Kudengar pembicaraan itu pada suatu hari. Ketika itu aku sedang bertandang ke rumah Ibu sesudah mengantar anakku pergi ke sekolah. Ibu sedang menemui tamunya, yang kutahu adalah seorang duda yang istrinya meninggal 3 bulan berselang.

“Tentu lebih baik bila bahannya sutra, akan terasa lembut dan bagus jatuhnya” itu suara ibu.

“Ya, aku pasrah saja, dik Kenanga selalu tahu yang terbaik” jawab duda itu.

Kenanga adalah nama Ibuku. Tapi tidak lagi banyak orang memanggilnya dengan nama itu. Ibuku lebih dikenal sebagai Ibu Sebastian, nama ayahku, meski ayahku telah almarhum bertahun lewat.

“Warnanya?”

“Seingatku dulu kita memilih ungu muda. Tapi kalau dik Kenanga sekarang ingin memilih warna lain, tentu aku setuju”

“Ungu muda bukan warna yang lazim untuk pengantin. Bagaimana kalau putih? Akan kusulam daun anggur dan sulur-sulurnya dengan benang hijau pupus pada tepian kebaya itu, lalu tebaran bunga-bunga kecil ungu muda di sekitar lengan dan  pinggang”

“Betapa cantik Kenangaku nanti mengenakan kebaya itu”

“Ah, setiap pengantin akan selalu memancarkan kecantikannya yang khas”

Kubayangkan pastilah ibuku menjawab sanjungan itu sembari  tersipu.

Sedangkan aku, alih-alih tersipu, aku justru gemetar, bahkan nyaris membeku.

Semenjak ayahku berpulang 10 tahun lalu, sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku bahwa ibuku akan menikah lagi. Meski hanya sekedar pengandaian. Sama sekali tidak terbayangkan bahwa akan ada sosok laki-laki lain yang akan menggantikan bayang ayahku di dalam rumah ini.

Sepuluh tahun berlalu, namun hingga hari ini segala hal tentang ayah masih hidup dengan utuh dalam benakku.

Setiap kali kembali ke rumah ini, seakan kulihat bayang ayah duduk di sudut beranda, lengkap dengan koran dan secangkir teh, seperti  yang dilakukannya sejak dulu. Bahkan sepasang sandal dan sepatu ayah, masih rapi dan utuh tertata di rak. Dua pasang alas kaki yang kupertahankan dengan teguh betapa pun Ibu berulangkali ingin membuangnya. Bahkan kuberikan order khusus pada pembantu untuk membersihkan dan merapikannya setiap hari.

Ingatan pada alas kaki itu senantiasa mengingatkan pada ritual beliau membasuh kaki dan tangan setiap kali pulang bepergian. Ritual yang kuwarisi dengan baik, bahkan kutiru dengan sempurna cara ayah melepas sepatu di ambang pintu, lalu menenteng alas kaki itu dan menelusuri rumah dengan telanjang kaki. Begitulah, tak ada bayang ayah yang terkikis dari benakku.

Maka sekarang saat menyimak pembicaraan Ibu tentang kebaya pengantin dengan duda itu, tak pelak lagi membuatku lebih dari sekedar gemetar. Aku juga  tak mampu mengungkapkan satu pertanyaan pun kepada Ibu, setelah duda itu pamit. Bukan karena kehilangan kata, melainkan lebih karena aku tak hendak menerima sebuah jawab yang tak kuinginkan.

Aku lebih memilih mencurahkan galau hatiku kepada nenek, yang adalah  mertua Ibu. Seperti biasa, nenek menyimak ceritaku dengan tekun. Caranya mendengarkan sama persis dengan gaya Ayah. Agaknya ayahku mewarisi sikap laku ibunya dengan sempurna.

“Benarkah?” tanya nenek kemudian dengan kesabaran yang terjaga.

“Ya, aku mendengar sendiri” jawabku meyakinkan

“Dulu memang mereka pernah dekat, sebelum kemudian Ibu memilih Ayahmu” nenek menepuk-nepuk punggung tanganku. “Barangkali mereka ingin menyambung kembali garis jodoh yang dulu tak sampai”.

“Apalagi yang hendak dicari?” sergahku sengit “Dengan usia nyaris uzur, bukannya lebih baik mengisi hidup dengan anak cucu?”

“Barangkali masih ada cinta masa lalu yang tersimpan”

“Lalu mereka pikir ini saat yang tepat untuk melanjutkannya?” sergahku dengan kemarahan tertahan “Tampak betul betapa tak setianya laki-laki itu, secepat ini menghampiri perempuan lain sesudah kematian istrinya”

“Sabarlah, jangan menuduh begitu “ nenek menenangkanku

“Bagaimana mungkin bersabar? Mereka akan mengkhianati ayah. Tidakkah nenek juga merasa terkhianati?”

Nenek menatapku tenang-tenang.

“Ayahmu sudah berpulang 10 tahun lebih. Hingga hari ini Ibumu tetap menjadi menantu yang baik bagiku. Kalau kemudian ditemukannya kembali seseorang dari masa lalu, akan tidak adil baginya bila kita menghalanginya atas nama kesetiaan pada almarhum ayahmu yang adalah anakku”

“Tapi ….”

Nenek mengusap punggungku. Usapan yang lunak, tapi menyalurkan sesuatu  entah apa yang mengalirkan ketentraman. Sama persis dengan usapan Ayah setiap kali menidurkan aku di masa kanak-kanak.

“Percayalah, Ibumu akan  tetap menjadi ibumu yang semula dengan atau tanpa ayah baru itu. Dia juga akan tetap menjadi menantuku seperti yang telah dijalaninya lebih dari 10 tahun lalu”

Kucari punggung nenek dan kusadarkan diriku di sana. Tipis punggung itu dengan garis tulang berbalut kulit yang renta. Namun alangkah kokoh kekuatan yang ada di dalamnya. Serupa punggung ayahku.

Lalu aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, akankah kuwarisi kemampuan mententramkan dan melindungi itu bagi anakku?

*

 

Aku baru saja datang dan melepas alas kaki di ambang pintu ketika Ibu muncul dengan bergegas. Tampak betul rona sumringah pada garis wajahnya.

Aku melengos, mendadak merasa risih menemukan rona semacam itu –yang selayaknya meronai wajah perempuan-perempuan belia, saat berdebar mengingat kembali rayuan pacarnya semalam– tapi kini, warna yang sama meronai Ibuku.

“Kebetulan kau datang, ayo antar Ibu ke toko benang di pecinan” kata Ibu sembari membentangkan sehela kebaya sutra putih susu.

“Cantik bukan? Akan makin indah bila telah kusulam dengan bunga ungu muda”

Aku berpaling, sama sekali  tak hendak menatap kebaya itu. Kebaya pengantin Ibu. Ah, lebih tepat menamainya sebagai kebaya pengkhianatan.

“Mengapa harus ke pecinan? Beli saja di sembarang toko” tukasku acuh.

“Mana bisa? Kebaya ini harus kusulam dengan benang terbaik, dan benang sulam itu hanya ada di toko babah Hong”

Aku bergeming. Tak kupedulikan kesibukan Ibu berbenah diri.

“Ayo berangkat” ajak Ibu yang agaknya sedemikian antusias sehingga tak menyadari keenggananku “Kebaya itu harus kusulam dengan segera supaya selesai tepat waktu”

Astaga, betapa bergegasnya Ibuku untuk sesegera mungkin menyambung kembali jodoh tak sampai dari masa lalunya. Sedemikian tergesanya hingga diabaikannya keharusan untuk meminta persetujuanku. Jangankan persetujuan, Ibu bahkan tidak memberi tahu tentang rencana ‘pernikahan’ itu.

Begitulah pengkhianatan, selalu dilakukan tanpa pemberitahuan apalagi persetujuan.

“Ibu pergilah sendiri” kataku kemudian, dingin nadaku.

Ibu terkejut. Nampak sekali tak menduga sikapku

“Mengapa?”

“Aku tak hendak terlibat dalam pengkhianatan Ibu pada Ayah,” jawabku lugas

“Pengkhianatan? Apa maksudnya?” tanya Ibu heran.

“Bukankah duda itu kekasih lama Ibu? Ibu akan menikah dengannya bukan? Itu adalah pengkhianatan pada Ayah, maka aku tak hendak membantu Ibu mewujudkan kebaya pengantin itu” seruku tak tertahan. Kuluapkan apa yang telah memenuhi dan menyiksa benakku berhari-hari.

Ibu tercengang. Agaknya rasa cengang yang sedemikian hebat hingga membuatnya tak mampu berkata-kata atau melakukan sesuatu. Ibu hanya berdiri menatapku tak henti. Aku juga berdiri diam.

Rumah kami hening beberapa saat. Tak terlihat bayang ayah di sudut teras. Selalu begitu. Sejak dulu Ayah selalu menghilang setiap kali aku bertikai dengan Ibu. Nanti sesudah kami selesai, maka Ayah akan menghampiri  kami satu persatu, bergantian. Menguraikan pertikaian kami, yang selalu serupa benang ruwet, menjadi seutas tali yang terjalin rapi.

Momong siji lan sijine (mengasuh satu persatu)” begitu komentar nenek tentang perlakuan Ayah pada kami..

Sekarang Ayah juga menghilang. Akankah nanti bayang ayah mendatangi kami masing-masing? Ataukah Ayah menghilang karena tak hendak melihat pengkhianatan Ibu?

Beberapa saat kemudian Ibu menghela napas panjang, lalu dihampirinya kursi dan menempatkan diri di situ.

“Sekarang tidak ada Ayahmu yang bisa menekan kemarahanku padamu” gumam Ibu pelan, seakan lebih bergumam pada dirinya sendiri “Maka harus bisa kutekan sendiri kemarahan ini”

Aku bergeming

Kudengar lagi helaan napas panjang, lalu :

“Itu memang kebaya pengantin” lanjut Ibu kemudian dengan kesabaran yang sedemikian terjaga, yang tidak setiap kali dimilikinya.

“Tapi bukan untukku, melainkan untuk Kenanga”

“Kenanga adalah Ibu” sergahku.

Ibu menatapku lekat

“Ya, Harun menggunakan nama  itu bagi putri pertamanya, untuk mengenangku. Tak bisa kutolak karena nama manusia tidak memiliki hak patent”

Aku terkejut sesaat, tidak menduga.

“Sekarang Kenanga-nya Harun akan menikah. Mendiang Ibunya berjanji menjahit kebaya pengantin untuknya, tapi malaikat menjemputnya terlalu dini. Karena itu Harun memintaku untuk mewujudkan kebaya pengantin itu”

“Tapi…” bantahku tak selesai

“Ibumu ini adalah penjahit. Kusulam berbagai baju pengantin dan tiap helainya kujahit dengan bahan dan benang terbaik sepenuh hatiku. Dengan atau tanpa kaitan para calon pengantin itu dengan masa laluku”

Aku menunduk diam.

“Andai ada Ayahmu, tentu akan dimilikinya cara yang lebih baik untuk membuatmu mengerti” lirih suara Ibu, menampakkan keluhan yang pedih.

Aku termangu-mangu.

Hening kemudian, kami saling diam, bahkan napas kami tak saling terdengar.

Beberapa saat kemudian aku beranjak. Kuraih selop Ibu dan kuletakkan di ujung kakinya.

“Aku mau mengantar Ibu ke mana pun” kataku pelan-pelan.

Tanpa suara Ibu mengenakan selop itu. Dengan gerak yang nyaris samar, disekanya sesuatu di ujung mata, aku berpaling sembari melakukan gerak yang sama.

Sesaat sebelum kami berangkat, kulihat bayang Ayahku tersenyum-senyum di sudut teras. Ah, Ayah.

Lalu aku bertanya-tanya akankah bayang diriku akan setia menemani anakku dikemudian hari nanti sama seperti bayang Ayah menyertaiku?

 

***

 

Cerkak – Kecidhuk

DOWNLOAD

Cerkak Indah Darmastuti

Kamomot ing Solopos, Jagad Sastra Kemis Wage 28 Agustus 2014

Kawaca dening: Luna Kharisma

 

Esuk iku, kaya adat sabene aku menyang pasar mbonceng Mas Pandi, saperlu adol endhog pitik kanggo nyambung urip. Tuku beras, gula, teh sing wus meh entek. Uga katul lan sega aking kanggo pakan pitik ingon-ingonku sing cacahe luwih saka 30.

Iya pitik-pitik iku kang dadi sakaguru urip sak bubare Mas Pandi kena pemutusan hubungan kerja utawa PHK saka pabrik kaos. Dhuwit pesangon kang ora sepira kuwi dak tukokake pitik.

Pitik sing sekawit mung sejodho tak rumat nganti ngrembaka lan saiki kena dicakake kanggo nambal butuh. Kala-kala, aku nggoreng endhog menawa lagi ora duwe lawuh, uga mbeleh pitik menawa lagi ana perlu.

Anggonku ngingu pitik kuwi jan jane uga rekasa. Aku tau ngalami sedina kepaten pitik pitu. Jian tobat tenan. Mulane sakdurunge pitik mati, kudu dibeleh dhisik. Nganti saben dina lawuh pitik goreng, semur pitik utawa pitik bumbu kecap. Umpama konangan pamerentah, pitik-pitikku mesthi dikukut kabeh banjur diobong urip-uripan. Dipidhana kanthi jalaran katutuh dosa nyebarake flu burung. Umpama ngono tenan, apa bakal aku diwenehi modhal kanggo miwiti ngingu pitik maneh?

  Begjane Mas Pandi tanggap. Sadurunge pitik ingon-ingonku mati kabeh, sing iseh waras lan seger banjur didol. Murah rapapa sing penting ngasilake dhuwit. Yen wus tekan kahanan ngono kuwi, aku kudu bribik-bribik maneh. Nylametake pitik-pitik sing blas ra kambon lelara dingkelen. Lan saiki, pitikku wus ngrembaka maneh. Kena nggo tambal butuh. Mas Pandi uga wiwit nyerateni maneh kanthi gemati. Ora nggresula maneh menawa aku njaluk tulung dheweke tuku pakan kaya ing Minggu esuk iki.

  Wis kepara suwe anggonku bebrayan karo Mas Pandi. Sak durunge ningkah, aku yang-yangan sawetara wektu banjur pepacangan nganti tuking dina aku nyaguhi nalika dheweke nglamar aku, telung taun kepungkur. Sing tak ngerteni, Mas Pandi ora seneng ndem-ndeman, ora seneng gaple. Ora senang main kertu remi, ceki, utawa balakndol. Nanging, dheweke seneng nonton adu jago. Seneng melu ngregengake menawa kanca-kancane padha tatohan nganggo dhuwit. Dheweke ora melu totohan amarga pancen ora duwe dhuwit.

Tau mbiyen kae aku ngamuk, amarga jagoku sing arane Senthun, digelandang karo Mas Pandi, banjur dibanyoni lan digawa ning prapatan saperlu diadu. Bareng ngerti mangkono, aku banjur cincing nututi menyang prapatan ngepasi Senthun diadu, digabrus-gabrus mungsuhe. Keranjingan! Aku muntab. Ora nunggu suwe aku langsung nrabas, nyekel Senthun. Dak kempit dak gawa mulih karo ndremimil. Senthun isih menggeh-menggeh, awake ndredheg ana ing kempitanku.

 

“Ha thik penak, ora ngopeni. Ora ngrumat kok arep ngembat. Karo maneh apa ora mesakne jago iki, salah apa kudu dikon padudon karo sapepadhane.” Muringku ra ketulungan.

Tekan ngomah, Senthun tak dusi, tak pakani katul lan tak lela-lela. Swiwi lan cenggere sing getihen tak wenehi tentir, banjur tak kurungi ing wetan omah. Tak sawang-sawang terus, Senthun nyekukruk sajake depresi. Aku ngira dheweke kaget, ora tau-taune kerengan ning gelanggang kok ngerti-ngerti diedepake tanpa antan-antan. 

Nalika Mas Pandi mulih, dheweke tak genah-genahake. Tak ujar-ujari. Rumangsane jago kuwi seneng po yen digabrus-gabrus nganti godres getih? Apa seneng menawa gulune ketunjeb jalune mungsuhe? Tak omongi kaya mengkono, dheweke mung meneng wae. Muter-muter tombol gelombang radio, nggoleki siaran kethoprak.

  Sawuse iku, dheweke kapok. Malah dadi nggatekake pitik-pitik ingon-ingonku. Menawa esuk, nalika dheweke tangi turu mesthi banjur ngresiki kandhang lan nyepaki pakan. Ing wayah sore, ngandhangake pitik-pitik mau, ngitung cacahe lan melu ngupakara menawa ana pitik sing lereg-lereg katerak penyakit dingkelen.

  Nganti tiba titi wancine, dheweke nyekseni pitik-pitik mau kena dijagakake kanggo tambal butuh. Nalika dheweke masuk angin, mutah-mutah terus. Kudu tuku obat kamangka ora duwe dhuwit. Aku banjur nyekel babon siji, tak gawa menyang pasar. Dhuwit pepayonne kuwi banjur tak anggo tuku obat. Turah Rp 9000, tak anggo tuku timlo supaya Mas Pandi antuk seger-segeran. Dheweke ngrumangsani menawa babon kuwi sing nebus kesarasane. Mulane dheweke sansaya sregep ngopeni pitik-pitik ingon-ingonku lan ora tau maneh ndongkrok ning prapatan nonton adu jago.

  “Mas,” clulukku saka boncengan pit onthel sing digenjot dheweke alon-alon.

  “Ngapa?” wangsulane dheweke karo mengo nengen sithik.

  “Iki mengko rada akeh sing kudu dituku, mengko aku mulih mlaku wae. Sampeyan mboncengake sekarung beras, katul lan sega aking.”

  “Hla apa becike mengko tak unjal wae? Aku ngulehake katul banjur mapag awakmu?”

  “Ngono ya kena. Mengko tak tunggu ning tokone Nyah Pojok ya?”

  Enggok-enggoan wus kliwat. Mas Pandi tumuli ngerem pit onthel pener ning ngarep warung sing adate nampani endhog pitikku. Mas Pandi banjur bablas ngetan.

  Apa sing tak perlokake wus entuk kabeh, aku banjur mlaku menyang toko Nyah Pojok kaya kangsenanku karo Mas Pandi mau. Mas Pandi lagi bar nyelehake sakkarung beras sing dituku saka Nyah Pojok. Ngerti tekaku, dheweke banjur ngomong, “tutugna dhisik. Aku arep tuku katul lan sega aking. Mengko aku mrene maneh.” Aku manthuk. Mas Pandi banjur njupuk pit, mancal pedhal arah ngalor. Aku banjur itungan-itungan karo Nyah Pojok. Ngalap nyaur utang. Mbayar utang sasi kepungkur, lan utang maneh kanggo kebutuhan sasi iki. Ya mung merga pitik-pitik mau sansaya suwe, utangku selot suda.

  Durung suwe anggonku itung-itungan karo Nyah Pojok, dumadakan ning sisih lor ana gegeran. Akeh uwong padha mlayu-mlayu saprelu mangerteni kedadeyane. Aku lan wong-wong sing ngantri tuku ning Nyah Pojok melu-melu. Akeh wong bengok-bengok. Mrentah-mrentah. Malah kepara banter ana sing nglawan.

  “Kula mboten… kula mboten..” mangkono celathune sawijining wong sing dak krungu.

  “Ora usah kakehan rame! Munggah! Munggah!”

  “Kae.. kae.. ana sing mlayu menyang njaratan. ayo dioyak! dioyak ndang cepet!!” banjur swara-swara gedebugan padha akehe karo swara wong bengok-bengok.

  “Adhuh biyung… sakit, Pak!” swara iku banter banget.

 Aku mlayu nyedhak. Miyak-miyak wong kang kemruyuk rapet ing papan kuwi. Aku jinjit-jinjit supaya ngerteni apa sing lagi kedadeyan.

  “Ana apa ta iki?” pitakonku marang wong wadon kang nggendong tenggok.

  “Cidhukan, mbak. Kae mau garukan sing padha main gaple ning njaratan.”

  “O… walah.. akeh sing kecidhuk?” pitakonku maneh.

  “Iya, akeh. Ning uga akeh sing padha mlayu nylametake awake dhewe-dhewe. Malah kepara ana sing nyemplung kali barang.”

  “Hla ya esuk-esuk kok main gaple! Ben kapok!” swarane wong wadon sing nyandhang dhaster abang. “Ben! Kapokmu kapan!” unine maneh. Sajake pancen getem-getem tenan dheweke karo pawongan sing seneng gaple. Aku mung meneng bae, banjur jinjit-jinjit maneh.

  “Hlohh…. hLoh… kae.. kae…” aku nrabas. Miyak bokong-bokong lan gegere uwong. Nyrudhul nganti tekan ngarep dhewe.

  “Mas…. Mas… Mas Pandi!” bengokku saingan karo bengokan liya-liyane. Tanganku ngawe-awe. Sajake Mas Pandi krungu bengokanku, banjur dheweke clilengan nggoleki.

  “Massssss….” pambengokku sepisan maneh, banter lan dawa.

Mas Pandi nemu mripatku. Dheweke uga ngawe-awe. Nanging karo ngguyu. Malah kepara nyekakak. Asem! Apa karepe?

Dheweke banjur dijorok-jorokake karo wong-wong sing nganggo sragam ijo, supaya endang munggah ning bak trek. Akeh tenan sing wus ning ndhuwur trek. Aku mlayu nututi pingin ngerti sebab musababe. Apa Mas Pandi main gaple? Aku kok ra percaya amarga dheweke ora seneng lan ora bisa. Utawa mung melu toh-tohan thok?  Mosok iya? Wong wektune ora kacek suwe karo anggone ninggalake aku ning tokone Nyah Pojok.

  Pas aku mlayu lan wus cedhak, aku disingkrihake dening petugas sragam ijo mau. Banjur bak trek langsung ditutup. Mas Pandi nyedhak ana tutup kap trek.

  “Bali… ndang balio, Nis! Aku ora apa-apa. Precaya wae!” pambengoke Mas Pandi mbarengi trek mlaku ninggalake krukyukan wong-wong ing protelon gedhe iki. Atiku remuk sanalika. Nanging ora ana wektu kanggo nangis. Aku precaya menawa Mas Pandi mung korban salah cidhuk.

  Aku banjur mlayu bali njujug menyang warung katul sing ora adoh saka papan kuwi. Pit kebo dhuweke Mas Pandi ngglethek semende wit krambil sajak nelangsa, ana ngarepe warung katul. aku nyelakake mampir ning Mbah Nem sing dodol katul.

  “Mbah… kuwi mau piye kok bojoku iso katut? Wong kuwi mau arep mrene tuku katul lan sega aking. Apa dheweke melu main?”

  “Ora. Wong mau bojomu lagi wae nyelehake pit, arep mlaku mrene kok ngerti-ngerti ana garukan. Hla bojomu nyedhak sajake mung pingin ngerti, eh, malah kecidhuk sisan. Aku mbengok-mbengok. “Niku sanes.. niku sanes” ning ora digagas. Malah bojomu mung ngguyu  kaya bocah ra genep, banjur manut wae nalika digelandang pawongan sragam ijo.”

  “Ora genah! Yowes, Mbah… Nuwun ya. ” aku banjur njupuk pit kebo kuwi, nyengklak nggenjot mulih kepara ngebut. Bingung, gembledheg, lan mikir becike kudu piye. Nganti lali urusan karo Nyah Pojok. Wis, tutugne mengko wae. Iki ngurus bojo sing kecidhuk dhisik. Mangkono tetege atiku.

  Tekan ngomah aku nggoleki Mardi, ponakanku sing isih sinau ana STM. Aku kandha saprelune, banjur rembugan karo dheweke piye penake, lan apa sing kudu ndang ditindakake. Dheweke pancen pinter lan tanggap. Prigel lan cakcek. Aku dijak menyang nggone Pak Sukra, warga kang kelebu mudeng bab-bab wigati sing ana gandeng cenenge kepulisen. Pak Sukra banjur nuduhake dalan lan cara supaya aku lan Mardi teka ning kapulisen.

  Diboncengake Mardi aku menyang kantor pulisi. Jantungku isih ser-seran. Sikilku isih ndredeg. Aku wedi menawa Mas Mardi bakal dipilara ing kana. Kamangka dheweke mung dadi korban. Tekan kanor pulisi, aku lan Mardi nunggu sedela banjur diceluk supaya ngadhep. Aku lapur kanthi ati-ati. Rinci lan nyaguhi menawa pulisi butuh bukti lan seksi. Lapuranku digarap. Banjur aku dikon nunggu ana ing panggonan kan adem, sepi nanging ora pati jembar.

  Kepara suwe aku lan Mardi nunggu, banjur ana petugas mlebu ngiring Mas Pandi. Aku lan Mardi ngadheg meh barengan.

  “Semah sampeyan saged wangsul samenika, Bu.” Ngono kandhane pulisi kuwi.

  “Matur sembah nuwun, Pak.” wangsulanku.

  “Nyuwun pangapunten, menawi petugas punika lepat ingkang nyidhuk.” Aku manthuk, banjur enggal-enggal njaluk pamit.

  Aku lan Mas Pandi numpak becak, Mardi ngonthel ing mburine. Ning ndalan, ing sakroning becak aku takon karo Mas Pandi, piye mula bukane kok nganti isa kecidhuk.

  “Jane aku mau bisa wangsulan menawa aku dudu perangan sing main gaple. Aku bisa gage mlebu menyang warunge Mbah Nem. Ning aku malah nyedhak, wektu petugas nyekel pundhakku, aku manut wae. Aku ki kepingin ngerti piye para petugas kuwi ngupakara tukang botoh. Aku precaya menawa ning kantor pulisi aku bisa mbela awakku. Dadi rikala aku munggah trek lan awakmu ngawe-awe, mulane aku meling gek ndang bali wae, tenangno pikirmu.”

  “Asem! Dadi ngono critane? Tega temen awakmu! Ra ngrasakne aku bingung, nggregeli, mulih gembrobyos ngepit ngebut. Mardi lan aku repot-repot ngurus lan njaluk tulung tangga. Urusan utang tak tinggal semprung, katul kapiran. Jebul awalmu mung nyoba-nyoba ngrasakne piye dicidhuk. Semprul tenan. Ngertiya ngono aku ra gagas. Tak tinggal mulih banjur makani pitik. Dicidhuk karepmu ora karepmu!”

  “Ha ha ha.. mbok aja kaya ngono ta cah ayu…” Celathune Mas Pandi karo ngrangkul pundhakku. Aku mrengut, nanging Mas Pandi ora mandheg anggone ngerayu. Jare aku bojo sing gemati, sing iso dindelake. Aku mlengos karo mencep. Nanging sejatine atiku bungah ora karu-karuwan. Banjur Mas Pandi alon-alon nyelehake tangane ana wetengku.

  “Muga-muga anakku ora mbeling kaya bapake.” Kandhaku ning cedhak kupinge Mas Pandi. Dheweke mung mesem.

Wektu kuwi uga, aku ngerti sejatine atiku sansaya kesengsem. []      

 

Cerkak – Ibu

DOWNLOAD

Ibu

dening ; Astuti Parengkuh

Wis nganti ora kepetung anggonku mlebu aneng Pasar Gedhe. Nanging esuk mau nalikane tangi turu, wetengku sing rasane kaya kalilit-lilit tali, marakake aku kangen mangan sega Soto aneng njero Pasar. Bab sega soto kuwi, pancen wis misuwur menawa siji-sijining sega soto sing paling enak. Jan-jane aku ora mung crita babagan sega soto mau. Nanging perkara kedadeyan kang runtut mbarengi aku kepengin mrono. Sawise ngrampungi gaweyan kayata umbah-umbah, isah-isah lan ngrapekake omah supaya yen disawang ora kaya kapal pecah, aku banjur nyengklak pit onthel. Aku nuju Pasar Gedhe.

Kasunyatan esuk iki aku nyawang  ana baliho gedhe kapancang aneng ndhuwur lawang Pasar Gedhe. Pengetan menawa ing dina iki Pasar Gedhe kang uga diarani pasar Hardjanegara umure genep 85 tahun. Luwih tuwa sithik saka yuswane simbah sing taun iki genep 83 taun. Sakwise nitipke pit jengki werna biru pundhutane Ibu, aku banjur mlaku nuju warung soto aneng njero pasar.

Panggonane pancen rada mlebu menawa liwat lawang ngarep. Nanging bejane, aku bisa ngumbah mata merga ngliwati bakul buah lan bakul iwak pitik sing ayu moblong-moblong bengesan abang mbranang, sok-sok werna  kuning kunir lan nganggo pupur putih kinclong. Mungkin dheweke melu sing diarani ‘perawatan wajah’ sarta kanthi penganggone mas-masan kayata kalung rante sing bandhule gedhe sak wingka-wingka. Aku banjur noleh dadaku sing kosong mlompong, lan grayak-grayak kuping sing tanpa nganggo suweng utawa anting-anting.

“Pundhuti, Den nganten…”swara bakul nawakake dagangane.

“Mboten, Bu. Matur nuwun. Naming ajeng jajan soto kemawon,”bubar wangsulan  mangkono aku banjur wae mlaku ndlidir merga wedi mundhak kentekan sega soto. Hla lumrah wae, sapa ngerti yen aneng acara tanggap warsa ing dina iki pasar gedhe ramene kaya ngene. Aneng sak kiwa tengenku, bakul-bakul wis padha ngadhep sega tumpeng, sega kuning uga sega gudhang. Ora beda karo bakul soto sing arep tak tuju. Ana ing dhasarane uga wis cemepak tampah cacah loro sing isine sega  kuning awujud tumpeng.

“Sekul soto daging kaliyan wedang jeruk setunggal, nggih Bu,”aku banjur nggolek panggonan ana ing sisih mburi. Kepeneran warung soto iki madhep ngalor, dadi aku meruhi wong-wong kang padha arep munggah undhak-undhakan, panggonan bakul iwak laut utawa iwak kali.

“Dangu mboten jajan mriki, Mbak. Kadhingaren ugi mboten kalih Ibu,”Bu bakul sego soto ora meruhi kabar menawa Ibu gerah wis sakwetara wektu. “Ibu gerah, Bu. Sampun kalih  taun langkung.”

Pungkasan aku diajak Ibu menyang Pasar Gedhe nalikane Ibu mundhut jamu godhog. Bakule jamu manggon adhep-adhepan karo bakul dhawet ayu sing uga misuwur iku. Warung soto langgananku iki panggonane mung jarak puluhan jangkah saka bakul jamu.

Babagan Ibu kang gerah, aku sing kapernah putra ragil kudu nduweni tanggung jawab. Masku mbarep, Mas Panggih wis manggon netep ing kutha Ngayogyakarta karo anak lan bojone. Terus masku nomor loro, Mas Iyan saiki dines ana ing manca yaiku negara adidaya Amerika.  Ana ing serat elektronik sing dikirimke seminggu kepungkur, Mas Iyan menehi kabar menawa tugas dines wis rampung ing sasi ngarep. Luwih cepet telung wulan, amarga wes rampung sak kabeh ing urusan.

Menawa Mas Panggih, dheweke seminggu pisan mulih Sala nanging yo mung sedhela, ora luwih sakjam banjur bali maneh. Ing pungkasan tilik Ibu dina wingi, Mas Panggih nyedhaki aku sing lagi nyetrika ing kamar mburi. Sakwise nginguk sedhela, Mas Panggih banjur ngomong, “Ning, butuhe Ibu kabeh pira? Iki tak tinggali ana ing ngisor taplak meja dhahar.” Sawise kuwi, let sepuluh menit, aku wis krungu swara klakson mobile Mas Panggih sing banjur nutup lawang regol ngarep omah. Dhuwit ana ing amplop sing isine kandel banjur tak lebokake dompet, sing kebak catetan resep-resep Ibu lan kebutuhan liyane.

“Wening, Ibu kayane wes ora butuh dhuwite masmu,”ngendikane Ibu marakke atiku sir-siran, kaya dene ati kang diasah karo welat. Miris.

“Ibu ngendikan punapa?”Ibu banjur tak cedhaki lan tak elus-elus tangan lan sikile. “Ibu kersa dhahar sekul soto Pasar Gedhe? Benjing kula tumbaske nggih?”Ibu tak rayu supayane lali karo kelakuane Mas Panggih. Sing mara teka mung sak rem-e mripat, bajur lunga mak klepat. Kaya playune iwak sepat.

Ibu banjur manggut-manggut. Aku krasa bungah, nanging ora nganti suwe. Ngendikane Ibu marai aku kaget lan mikir. “Hla yen aku mangan daging, gulaku mengko mundhak maneh. Piye mengko ngendikane Pak Dokter?” Ladalah! Aku lali menawa ibu kasirik dening dhaharan daging, lan panganan apa wae sing mawa gula. “Sekedhik kemawon, Bu. Kagem tamba kangen,”aku wangsulan.

Lamunanku mandheg. “Bu, soto daging dibeta mantuk nggih?” Aku banjur ngetokake rantang stainless steel sing tak cangking. “Kagem Ibu to, Mbak?”Ora semaur, aku mung manthuk saklimah.

Nalikane mulih, aku sengaja ngliwati bakul jadah blondho lan lenjongan. Ibu tak tumbaske sithik, kanggo tamba kangen dhahar panganan Pasar. Liwat lawang ngarep, aku mampir sedhela aneng bakul lading merga lading ngomah wes ora landhep. Jan-jane ana cacah lima lading, nanging wes loro sing ilang. Ora merga dicolong wong utawa ketlingsut, nanging bareng tak eling-eling lading loro kuwi mau katut nalikane aku mbuwang sampah ana ing kranjang. Owalah!

Sak elingku, biyasane yen aku lagi masak tempe sing diwungkus godhong gedhang. Saking cilike lading sing kanggo, yen nylempit dadi yen kebuwang ora ketok. Wingi kae Ibu kersa tak masakke jangan lodheh lan tahu tempe goreng nanging ora pati kenthel santene “Aja  kenthel-kenthel, Ning. Ora pareng Pak Dokter,”ngendikane Ibu.

Lagi ngepit metu saka Pasar Gedhe, mripatku wis kagodha dening werna-werni lampion sing gumandhul ana ing pinggir kali pepe. Ora suwe anggonku mikir, aku banjur ngetokke telpun gegem sing nang njero kantongan rok. Sakwise jeprat-jepret sakperlune, banjur foto-foto mau tak kirimke Mas Iyan liwat Whattsapp. “Selak bakda Cina, grebeg Sudira sing mesti meriah ana ing Pasar Gedhe lan sak cedhake, kapan Mas Iyan mulih niliki Ibu? Aku uga kangen marang Siwi lan Deni, Mas.”

Ana ing telpun gegem, ora ana tulisan yen Mas Iyan lagi online. Ya wis, sing penting aku wis kirim kabar. Sepuluh menit sak banjure aku wis tekan ngomah lan meruhi Ibu lagi sarean ana ing dipan teras omah. Pasuryane Ibu samsaya katon layu. Putih pucet koyo dluwang. Ibu tak aturi dhahar sega soto sing wis cumawis. “Masmu Iyan, sidane kapan mulih?”ngendikane Ibu marai aku ngilu idu.

Mas Iyan janji menawa sasi ngarep wis mulih ana ing negara Indonesia. Nanging dheweke isih duwe urusan ana Jakarta sawetara wektu. Aku ora mungkin matur karo Ibu yen Mas Iyan bali ing wektu sing pas. Salah-salah mengko mundhak marakke ibu gela yen Mas Iyan ora sida mulih ing tanggal sing wis dibunderi Ibu ana ing tanggalan sing gumantung ing kamar tamu.

Aku wis duwe pangarep-arep menawa Mas Iyan besuk mulih, arep tak ajak mangan soto ana ing Pasar Gedhe. Lan jajan panganan sembarang apa wae sing digelar ana ing dhasaran kana, kayata : lenjongan, jadah blondho, dawet ayu utawa panganan tenongan sing didhasarke karo tacik-tacik ana ing njero pasar sisih kulon.

Ing dina Minggu sakwise, Mas Panggih teka karo anak lan sisihane. Nanging kaya adat sabene, tekane ora nganti suwe. Mung sakperlu nyawang Ibu sedhela. Sisihane Mas Panggih wis ngajak mulih nalikane Ibu anyak sare. “Wis, amplope ndang diwenehke Wening, Mas. Aku selak meeting  ana kantor,”bisik-bisik swarane Mbak Watik krungu neng kupingku.   

Kedadeyan ngono kuwi wis biyasa kanggone Ibu, uga aku. Pancen awit Mas Panggih mbangun bale wisma karo Mbak Watik lan duwe omah ana ing Ngayogyakarta lan saiki wis patutan anak loro, kawigatine marang Ibu mung sakperlune. Ora beda nalika Ibu gerah sak suwene telung tahun iki.Semana uga nalikane Mas Iyan meksa mangkat dines ana ing Amerika, Ibu wis mlebu-metu ndhokteran lan sing ragat yo kakangmasku sakkeloron kuwi.  

Aku lan mas-masku wis ditinggal seda Bapak nalika isih cilik-cilik. Aku isih kelingan nalikane Bapak disarekake ana ing kuburan, wektu kuwi aku isih nganggo kathok kodhok jaitane ibu, lungsurane Mas Iyan. Mas Panggih bubar disunat lan Mas Iyan wis klebu pramuka siyaga, antarane kelas telu SD.

Ngancik sasi Pebruari. Wis kalebu tanggal tengah-tengah, 15, nanging durung ana kabar menawa Mas Iyan arep bali saka Amerika. Aneng serat elektronik sing dikirim telung dina kepungkur, Mas Iyan isih ayem-ayem wae ngabarake menawa bubar piknik ana ing welasan negara bagian. Mas Iyan kirim-kirim foto piknik bareng anak lan bojone. Ibu melu bungah atine nalikane mirsani gambar-gambar mau.

“Ning, Iyan bali kapan? Nek wis tekan ngomah kabari aku ya?”telpune Mas Panggih ngagetke lamunanku sing nglangut. Sakjane, tekane Mas Iyan lan Mas Panggih bebarengan ana omah iki wis tak antu-antu kanthi suwe. Aku arep omong babagan sing wigati.

Aku arep kandha karo Mas Panggih lan Mas Iyan menawa aku wis ana sing ngesir lan kepengin urip mbangun bale wisma.  Bab tanggung jawab sapa sing genti ngopeni Ibu, wis arep tak pasrahke marang dheweke sakkeloron.

Tekan wektune, Mas Iyan teka ana ing omah lan sujud ngabekti  marang Ibu. Nalikane Mas Iyan teka karo anak lan sisihane, sedhela banjur kuwi Mas Panggih teka saka kutha Ngayogyakarta. Komplit ngajak anak lan sisihane uga.

Mas Iyan tak ajak menyang Pasar Gedhe sakperlu aku nuruti apa sing mbiyen dadi pepenginanku : jajan ana ing pasar. Nanging kedadeyan sing sak tenane luput saka pikiranku. Mobil sing ditumpangi aku lan Mas Iyan sakkeluarga malah dienggokake ana ing Mall lan Mas Iyan ngajak mangan iwak pitik sing arane Fried Chicken. Aku ora wani nulak. Mas Iyan sing ngragati uripku lan Ibu sak suwene seprene.

Panganan iwak pitik sing wis cumepak ana ing ngarepku ora tak demok. Aku ora tau lan ora kulina mangan enak koyo ngono mau. Uripke wis kulina kanthi panganan masakan Ibu lan masakan saka tanganku dhewe, olah-olahanku dhewe. Aku ora tau duwe pepenginan ngambah Mall lan sakpiturute. Sak ngertiku pasar sing apik lan komplit kuwi yo mung Pasar Gedhe. “Ya wis, yen Wening ora doyan diwungkus wae. Eman-eman wis kebacut dibayar,”Mas Iyan omong kanthi entheng. Sisihane, sing aran Mbak Yanti mung mesem sithik. Aku isin banget. Umurku sing wis kalebu ngancik telulikur taun iki rumangsa ndesa banget, urip ana ing kutha Sala tapi mikire isih tradisional.

Sak banjure tekan omah, Mas Panggih isih lungguhan karo anak bojone lan dikancani Ibu. Mas Iyan numbaske Ibu oleh-oleh iwak pitik Fried Chicken.

Sakwise padha meneng, anteng, lan ati lerem aku ngira-ira kapan wektune aku omong. Jan-jane ilatku krasa magel, ujug-ujug awakku gemeter, lan atiku mak ser-ser. Nanging aku kudu kuwat merga iki ana sesambungane karo uripku ing mangsa ngarep.

“Mas-Mas, lan Ibu. Aku arep matur menawa jan-jane aku wis duwe sir-siran lan priya kuwi sedhela maneh arep nembung marang Ibu lan Mas –Mas,”omonganku lancar kayadene banyu kali sing mili bubar wayah udan. Apa maneh raiku, mesti abang mbranang utawa malah pucet kaya mayit. Nanging aku kudu wani. Kudu wani.

“Wening ningkahe taun ngarep wae. Aja saiki. Aku isih nyelengi ragat kanggo sekolah bocah-bocah,”Mas Panggih mbales omonganku.

“Ning, aja rabi saiki ya. Aku uga isih nyelengi kanggo tuku omah. Kowe ngerti dhewe, aku ngragati gerahe Ibu ya wis entek akeh,”Mas Iyan omong kanthi lirih supaya Ibu ora mireng.

Nanging Ibu wis pirsa gelagate menawa kakangmasku bakal endha menawa aku arep rabi taun iki. Ibu mung meneng, nanging ujug-ujug wae Ibu ngendika yen krasa mumet lan awake lemes.

“Ibu aja semapuuut..!!!” Mas Iyan njerit. Mas Panggih gage-gage ngrungkebi Ibu. Aku ora bisa nulak tangis. Getun rasane atiku, kenapa meksa supaya mas-masku enggal ngrabekke aku. Aku ora wani matur, menawa sakjane aku wis kesel ngopeni Ibu sing gerah stroke. Kesel banget.

***

 

Cerpen – Perempuan yang Melahirkan Seekor Ular

DOWNLOAD

Astuti Parengkuh

Narator: Astuti Parengkuh

 

Di pagi buta perempuan itu sudah menggandeng tangan kedua anaknya yang masih balita di tengah keramaian pasar. Dia berperang melawan kedatangan matahari agar menjadi pemenang setiap kali matanya membuka dunia. Kelahirannya kembali ke bumi diiringi  suara alarm jam weker hadiah dari toko perkakas Babah Cong saat dia menjadi juru parkir dua tahun silam. Setiap kali bangun, setiap kali itu pula dia menjadi manusia baru yang lupa akan hari-hari lalu. Sedang orang lain berusaha merajam-rajam masa silam, dia hapus saja memori yang tak pernah mengendap dan lindap dari ingatan.

Penduduk kampung mengenal perempuan itu sejak dia masih kanak-kanak.  Safitri namanya. Dia gadis berparas ayu, berambut ikal mayang dan berkulit putih. Matanya bak kejora, orang Jawa bilang kriyip-kriyip, sayu menggoda. Dahinya agak lebar, sebagai penasbih bahwa dia pintar, berotak cerdas. Beberapa penghargaan berupa piala dan predikat juara kelas pernah disandangnya. Dia bagai bintang fajar yang selalu muncul di pagi subuh.

Pada suatu waktu Safitri berbelok arah. Dia tak lagi menekuni buku-buku. Dia tak juga seperti biasa, pandai menyelesaikan rumus aljabar. Dia tak bahagia kala melakukan praktikum biologi di ruang pengap sebuah bangunan gedung SMP yang telah tua. Juga bukan lagi anggota petugas upacara bendera yang trengginas dan cathas saat mengibarkan bendera merah putih di tiang yang terpancang di halaman sekolah.

Safitri memutar haluan hidupnya dari seorang pelajar yang pintar menjadi seolah-olah dia penyanyi dangdut. Dari sebuah kelompok musik- satu-satunya yang ada di kampung- Safitri mencoba menguji kecakapannya dalam bernyanyi. Perhelatan demi perhelatan pernikahan di kampung dia jajaki demi cita-cita menjadi penyanyi tersohor.

Mimpi-mimpi tentang keindahan diri, bak putri yang menjadi idola para pemujanya. Cita-cita menjelma bintang di layar kaca serta pusat pandangan kala sedang beraksi di panggung gembira. Angan menemukan kehidupan yang serba ada, penuh kemewahan. Semua yang tengah menjadi impian perempuan muda itu seakan-akan nyata di depan mata. Dia terbuai tayangan-tayangan televisi dan omongan orang tentang gemerlapnya dewa-dewi panggung.

Perempuan muda yang telah lepas masa anak-anak-ditandai dengan tangisan pertama saat menyadari dia telah mendapatkan tanda-tanda menstruasi-di saat untuk pertama kali dia manggung pada acara mantu Pak Lurah. Tepat di usia menginjak 14 tahun, dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Remaja itu bagai kembang yang tengah mekar dari kuncup yang semestinya tersembunyi di antara rimbun dedaunan. Simboknya membuat nasi bancakan demi putri kedua dari lima bersaudara itu.

Safitri, saiki awakmu wes perawan, ora usah dolan-dolan, wengi pisan,” begitu kata-kata simboknya. Namun, apa kata jiwa muda Safitri berbeda dengan Simbok dan kakaknya. Perempuan muda itu masih saja mendatangi kelompok musik di setiap akhir pekan dan berlatih menyanyi hingga dini hari.

Di saat teman-teman sekolahnya menyiapkan amunisi untuk menghadapi serangkaian ujian kelulusan, Safitri enak saja menghapal melodi lagu-lagu. “Biyung, aku ingin menjadi biduan. Aku ingin menjadi penyanyi seperti Nduk Lindri yang sekarang makin ngetop” demikian kilahnya setiap kali Simbok menasihati. Percuma memasukkan kata-kata sindiran halus ke telinga Safitri. Simbok dan anak itu seperti dua kutub, yang sebenarnya tarik menarik namun dipisahkan oleh keadaan.

Tibalah saat hari penantian laksana kiamat bagi sedikit para pelajar yang abaikan kelulusan. Safitri tercenung mendapati angka-angka merah di buku rapornya. Dia lulus dengan nilai sangat memprihatinkan. Simbok menjual sekotak perhiasan, satu-satunya peninggalan mendiang sang bapak, demi ijazah dan sekolah menengah kejuruan bukan milik pemerintah.

Dua tahun bersekolah, apa yang diharapkan oleh simboknya tak kunjung menjadi kenyataan, prestasi-prestasi di sekolah. Safitri masih bergulat dengan profesi penyanyi paruh waktu. Nilai-nilai pelajarannya jeblok. Seragam putih abu-abu, entah sering terselip di antara tumpukan baju-baju pentas. Surat peringatan dari guru bimbingan tergeletak lusuh di atas meja belajar.

Biyung, aku tak lagi bisa memberimu arti, Safitri bergumam sendiri di tepi ambin, saat matahari mulai berjalan ke arah barat. Dan teriakan ayam-ayam tengah berkejaran di kandang belakang rumah bersahut-sahutan diabaikannya. Dia mulai bermalas-malasan bertemu dengan bangku dan kursi sekolah.

Tiba-tiba perempuan muda itu berhenti bulanan, tepat ketika dia menginjak semester awal di kelas terakhir sekolah kejuruan. Perutnya kelihatan menonjol, juga pantat dan payudaranya lebih padat dan berisi seperti buah mangga setengah matang, ranum.  Wajahnya sedikit pucat, meski kecantikannya tetap mewujud. Simbok malu lalu menanyai Safitri dengan serentetan kata tanya, yang dijawab oleh perempuan muda itu dengan bisu dan pandangan kosong. Dia duduk mematung. Safitri bungkam seribu bahasa.

Untuk menutup aib Safitri akhirnya dinikahkan dengan Reno, salah satu pentolan grup musik yang selama ini  menjadi tumpuannya. Simbok kewirangan, maka tak pernah ada upacara perayaan bagi Safitri dan suaminya. Seorang naib dan beberapa tetangga pilihan saja yang datang di hari suaminya mengucap ijab qabul.

Simbok, dosa apa gerangan yang menjadikanku perempuan nista seperti ini, Safitri sambat di antara perih yang dia rasakan tatkala Reno sang suami sering memukuli dirinya. Pun tatkala kehamilannya yang kedua. Perilaku biadab Reno semakin dia rasakan dan puncaknya adalah ketika Safitri tak lagi bisa bekerja sebagai tukang parkir di toko Babah Cong. Langit seolah-olah runtuh lalu menimpanya.

Safitri menjadi sosok pendiam. Bukan lagi remaja kemayu yang suka hura-hura memamerkan koleksi baju pentasnya. Bukan pula seorang penyanyi panggung yang kadang canggung jika mengingat usia yang masih muda dan harus memamerkan goyangan tubuhnya. Perempuan itu menjadi makhluk soliter, jauh dari ramah tamah tetangga dan kawan-kawannya. Kandungannya yang semakin besar, membuatnya malu untuk ke luar rumah. Sesekali dia membuka pintu jika anak sulungnya yang masih berumur dua tahun menangis meronta-ronta meminta jajan

Orang-orang kampung melihat dia sebagai sosok perempuan yang digantung. Janda bukan, istri pun juga tidak. Reno pergi tanpa meninggalkan barang atau sesuatu pun yang bisa dijadikan aji-aji. Hanya selembar surat nikah yang dia percayai sebagai satu-satunya benda pusaka selama ini. Hingga pada suatu malam, terjadi sebuah peristiwa yang menggegerkan penduduk di sekitar rumah kontrakannya.

Safitri melahirkan bayi seorang diri tanpa pertolongan bidan, ataupun kerabat dekat. Tetangga yang trenyuh mendengar suara tangisan bayi di tengah kegelapan malam, kemudian menghampiri kediamannya. Pertolongan pertama adalah merawat sang jabang bayi merah, kemudian memperbaiki kondisi Safitri yang lemas dan banyak mengeluarkan keringat.

Plasenta si bayi belum juga keluar, sampai bidan desa pun datang. Nyaris Safitri dibawa ke rumah sakit, hingga kemudian ari-ari itu keluar dari perut perempuan yang bermuka pucat seperti mayat.  

“Ular! Ular! Aku melahirkan seekor ular!,”teriak Safitri di tengah kesibukan para tetangga merawat dirinya dan bayinya. Sedang si sulung yang masih berusia dua tahun tengah berada di pangkuan seorang ibu.

“Ini tembuni-mu, Safitri. Bukan ular,” kata-kata lebut bidan desa menenangkan Safitri. Safitri meracau tak berkesadaran. Dia kemudian dikompres di dahi karena tubuhnya mendadak demam. “Aku telah melahirkan seekor ular,” kalimat itu keluar lagi dari mulut Safitri. Bidan desa dibantu oleh para tetangga akhirnya menenangkan perempuan setengah waras itu dan mengajaknya berkomunikasi meski tak nyambung.

Ya, semenjak beberapa bulan lalu ketika perempuan itu tak pernah lagi bertegur-sapa dengan para tetangga, sesungguhnya ada gunjingan yang berseliweran menyebut jika Safitri tengah dilanda depresi. Tak pelak,  perangkat desa menyambangi rumahnya agar dia mau bersosialisasi lagi dengan warga. Ketika ibu dan kakaknya datang untuk merawat anak sulungnya, Safitri kukuh mempertahankan. Dokter yang berdinas di Puskesmas merujuk perempuan itu untuk dirawat di rumah sakit jiwa.

Kemudian dia dirawat dalam beberapa waktu. Tak ada yang menyambangi saat dirinya dalam perawatan. Perempuan itu telah kehilangan segalanya; moral, harga diri dan kasih sayang. Dia kini telah dicap sebagai penyandang difabel psikososial. Berbagai cara tengah dilakukan agar Safitri kembali seperti sedia kala. Petugas dari dinas sosial wira-wiri mendatangi rumahnya memberi undangan-undangan pelatihan.

Satu dua hari dia terkadang ikut kursus-kursus tanpa berbayar itu. Namun, praktik-praktik pengerjaan tak pernah menghasilkan sempurna. Entah apa yang tengah berkecamuk dalam pikirannya kini. Hidupnya sungguh kacau-balau. Sesekali Safitri terlihat tersenyum dan tertawa sendiri, sesekali pula dia terlihat murung. Tak ada seseorang pun yang bisa membaca pikiran Safitri.

Dan pagi ini, seperti hari-hari sebelumnya. Ketika matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, Safitri tengah menutup pintu rumah kemudian berjalan menyusuri gang sempit. Tempat tinggalnya berada di antara tembok-tembok tinggi area perkampungan dekat pasar. Berteman dengan kesunyian yang selama ini tengah dirasakannya bersamaan keriuhan suasana pasar, Safitri tengah mengabdikan dirinya menjadi buruh gendong. Profesi yang digelutinya semenjak beberapa minggu anak keduanya lahir.  

Safitri telah jauh dari mimpi-mimpi menjadi seorang penyanyi. (*)

  

 

  

 

 

Cerpen – Klappertaart Cinta

DOWNLOAD

Cerpen dan narator: Astuti Parengkuh

 

 

Dering suara telepon seluler panggilan dari Za mengagetkanku. “Lagi di mana? Makan di luar, yuk?!” ajak Za, teman cowok. “Hah? Kok mendadak begini? Aku lagi nemenin Mami nih, pijat refleksi sekalian Spa,” jawabku kaget. “Huh! Lalu kapan kita bisa bertemu? Kegiatan ektra kurikulermu akhir-akhir ini padat banget. Lalu, kamu mau alasan apa lagi, Lin?” Za menjawab kesal. Aku mendengar dengusan suaranya, hampir mirip kambing yang kehausan. Haha…dalam hati aku mentertawakan dirinya. Bukankah selama ini kamu, Za, yang selalu beralasan jika kuajak keluar rumah? Ingatlah kejadian dua minggu lalu saat aku meneleponmu untuk menemani renang, teman ngobrol di jalan lah. Kamu malah asyik nonton DVD terbaru koleksimu. Terus, seminggu lalu aku juga mengirim pesan. Aku ingin kamu menemaniku datang ke pameran buku. Lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan. “Aku lagi ‘intrance’ menulis nih. Kapan lain waktu saja ya?” jawabmu ketika itu. Itu semua tentang ingatanku kepada Za.

Za, sapaan kesayanganku untuknya. Ya, hanya aku yang memanggil nama Zaquest dengan hanya Za saja. Mamanya memanggil dia, Zaky. Teman-teman sekolah menyapanya dengan Kiki. “Lintang, aku suka dengan panggilan sayangmu kepadaku,” kata Za suatu ketika. Ah, kau tak tahu saja Za, jika panggilan itu sebenarnya panggilan sayangku untuk abangku yang meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas, Bang Nizam. Aku suka memanggilnya Bang Za.

Za adik kelasku di SMP. Tahun ini dia akan lulus dan bercita-cita ingin satu SMA denganku. Aku selalu mendorongnya untuk belajar lebih giat, karena kulihat dia tipe cowok yang sangat cuek. Mungkin bisa dikatakan dia seorang pelajar yang menggampangkan segala urusan. Meski hubungan pertemanan kami lebih serius baru tiga bulan ini. Sebelumnya Za seorang yuniorku di OSIS. “Kak, boleh aku meminjam koleksi film terbarumu?” begitu awal kedekatan kami. Bukannya bertanya tentang seluk-beluk organisasi atau pinjam meminjam buku, Za malah banyak meminjam DVD koleksiku.

Dan siang ini, Za. Aku sengaja berkirim pesan kepadamu. Dengan segenggam harapan untuk waktumu kucuri, buat mendengarkan aku bercerita. Kisah yang sebenarnya telah aku pendam selama sebulan ini. Aku akan bertutur tentang kakakku. Untuk itu, aku sengaja datang pagi-pagi ke toko Bakery yang berada dekat rumah, lalu memilih kue kesukaanmu, Klappertaart. Aku tahu dari mamamu kalau kamu menyukai kue lumer yang terbuat dari kelapa muda itu. Mama kamu bahkan sampai mencoba resep itu berkali-kali guna meyakinkan kamu jika dia bisa membuat Klappertaart paling enak sedunia. Tapi, lagi-lagi kau lebih menyukai Klappertaart buatan toko roti paling terkenal di kota ini. Suatu saat kamu mesti percaya kepadaku bahwa aku telah berusaha keras juga untuk mencari resep yang pas, dari buku-buku yang aku beli baik di toko buku maupun di loakan. Aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku serius ingin membuat kue Klappertaart terenak di dunia. Aku menggumam dalam hati.

Mamiku yang mengajariku membuat kue-kue. Lalu kue-kue itu kami titipkan di kantor Mami. Setiap hari, ada-ada saja yang memesan, selain kue-kue itu yang memang sudah menjadi pelanggan para pemilik toko.

“Lintang, bulan depan ada lomba membuat Cupcake di kantor gubernur. Mami berniat mengikuti,” kata Mami suatu hari. “Hah? Beneran nih, Mom? Kalau begitu kita bikin Klappertaart aja,” kataku menyahut. “Kamu searching resep lagi ya? Tentu biar hasilnya lebih yahud dari yang selama ini sudah kita buat,” kata Mami. Aku mengiyakan kata-kata Mami.

 

***

Sore ini aku sengaja menemui Za di rumahnya. Kupanggil dia berkali-kali sampai dia nongol di depan pintu. Kusorongkan sepeda anginku untuk masuk ke pintu gerbang. Za tidak heran atas kedatanganku. Namun raut mukanya amat murung. Ada awan mendung yang menutupi wajahnya. Dia lalu mempersilakan aku duduk di teras rumahnya yang sejuk, penuh bunga-bunga yang tumbuh di dalam pot. Kelihatan sangat terawat oleh tangan terampil. Seorang perempuan keluar dari pintu samping rumah Za.

“Kenalkan, ini kakakku,” kata Za sambil mengangsurkan tangan kakaknya kepadaku. “Sisilia…” Kakak perempuan Za berkata dengan terbata. Seperti kurang jelas. Saat raut wajahku berubah dan mulutku membentuk huruf ‘O’, dengan secepat kilat Za mencubit punggungku tanpa sepengetahuan kakaknya. “Kak Sisil tuna wicara dan tuna rungu sejak lahir. Tapi dia sangat cinta kepada kami,” penjelasan Za membuat aku menelan ludah. “Aku dua bersaudara,” kata Za lagi. “Papamu?” tanyaku. “Sudah meninggal saat aku masih umur 9 tahun,” jelas Za. “Sama, dong. Aku hanya tinggal berdua dengan Mami. Kakakku meninggal beberapa waktu lalu. Cuma bedanya, Papiku meninggalkan kami dan menikah dengan perempuan lain,” imbuhku.

Kami lalu berbincang ke sana-ke mari. Bercerita dari soal buku hingga film-film terbaru. Za mengeluarkan koleksi mainan yang dikumpulkan semenjak dia duduk di SD. Ada banyak koleksi puzzlenya.

“Lintang, puzzle inilah mainan fave-ku,” kata Za sambil mengeluarkan sebuah kotak besar dengan gambar sampul seorang wanita bercelemek yang sedang menata sebuah meja makan. Sepertinya wanita itu sedang membuat sebuah kue. “Sayangnya, puzzle yang berukuran 75x100cm ini ada beberapa yang hilang di bagiannya,” kata Za. “Mainan ini pemberian Mama untuk kakakku, tapi aku malah menyukainya,” kata Za lagi.

Kulihat raut muka Za menyiratkan kegembiraan yang tak terkira saat aku bertanya tentang masa kecilnya yang penuh bahagia. Za, aku sangat iri kepadamu. Hidupmu yang sangat kecukupan, penuh dengan mainan-mainan yang mahal. Bahkan kamu pernah bercerita tentang petualanganmu yang sering bepergian bersama keluargamu di sejumlah negara. Itu saat ayahmu masih aktif berdinas. Aku? Aku dan Mami harus hidup hemat supaya kebutuhan sekolahku terpenuhi. Sesekali kami berdua pergi ke salon saat pesanan kue Mami sedang ramai.

Di sebuah diary warna biru, tulisan-tulisan Za tentang negara-negara yang pernah dia kunjungi tersimpan dengan rapi. Aku heran dengan cowok satu ini. Sifatnya yang romatis, kadang berbaur dengan sentimental dan tak jarang berlaku garang. Itu terjadi tatkala belajar kelompok guna persiapan lomba pada pelajaran biologi. Za ngotot kami mesti pergi ke laut saat mengumpulkan binatang-binatang di laut sebagai contoh. Padahal, kami sekelompok dan beda kelas, bisa membeli benda-benda itu di toko ikan hias.

***

Pagi ini Za menelepon sebelum aku berangkat ke sekolah. “Lintang, Kakak sakit. Aku mesti menjaganya. Aku bolos sekolah,” kata Za. “Hah? Sakit apa? Lho, kan kamu memang sedang libur bukan? Kan tinggal mendaftar ke SMA-ku?” kataku ceriwis.

Telepon ditutup. Tak ada keterangan lain setelah itu. Kutelepon Za kembali, namun tak diangkat. Ah, Za! Kamu semakin misterius saja! Tak ada kabar dari Za sampai beberapa hari ini. Sekolahku masih saja padat dengan kegiatan belajar-mengajar yang kadang membosankan. Ekstra kurikuler sedikit membuatku terhibur. Membuat kue bersama Mami selalu menyenangkan. Hingga suatu hari kudapatkan berita itu.

Za kehilangan kakak tercintanya. Rupanya si Kakak mengidap sakit tumor otak sejak lama. Operasi pertama di luar negeri dinyatakan berhasil. Operasi kedua kakaknya sempat anfal beberapa hari, lalu meninggal. “Aku kini hidup hanya berdua dengan Mama,” kata Za. “Sama!” sahutku. “Mama sangat kehilangan Kak Sisil,” kata Za lagi. “Kita akan membuat Mamamu bahagia,” kataku.

*** Za yang pintar, sederhana dan yang semula menyembunyikan banyak sekali rahasia dalam hidupnya, akhirnya semakin mempererat persahabatannya denganku. Terlebih saat kakak perempuan yang disayanginya meninggal. Za potret seorang adik yang ideal. Kasih sayang di keluarganya sangat bisa untuk menjadi satu contoh untukku.

Akhirnya aku dapat menarik hati Za untuk menekuni apa yang menjadi hobiku ; membuat kue. Za datang pagi itu memenuhi undangan Mami untuk belajar memasak. Za berangkat dengan naik taksi. “Selamat pagi, Tante,” sapa Za. “Pagi, Za. Apa kabar? Bagaimana Mamamu? Kau sudah minta ijin untuk hari ini kan?” tanya Mami. “Mama bilang, Za boleh belajar memasak, dan belajar menunggang kuda serta berburu,” jawab Za panjang lebar. Lalu kami bertiga tertawa bersama. Za kadang suka bercanda.

Mami telah siap dengan berbagai peralatan memasak yang kami butuhkan. Aku juga telah menyediakan beberapa tumpuk resep kue yang aku dapat dari koleksi buku mami serta kliping resep memasak yang aku gunting dari koran. “Hari ini kita telah siap, bukan?” tanya Mami. Kami bertiga terlalu asyik untuk sebuah percobaan pembuatan Cupcake Klappertaart dengan berbagai versi resep. Za begitu bersemangat. Saking begitu senangnya dia melakukan kegiatan memasak ini, tak dihiraukannya bunyi alarm hp yang memanggilnya. Mamanya memanggilnya pulang di saat langit mulai gerimis. “Mama selalu takut jika sendirian di rumah berteman dengan hujan dan bunyi petir,” kata Za. Hujan dan petir memberi ketakutan tersendiri bagi mama Za sepeninggal Kak Sisil. Sekaligus perasaan kekhawatiran mama jika Za masih berkegiatan di rumah. Namun Za sebagai anak yang baik selalu dapat mengerti keadaan mama yang di usia paruh baya ini, selalu ingin melindungi anak. Dan sekarang, di saat Za masih asyik dengan kegiatan baru, mamanya sudah memanggil dan berusaha mengingatkan Za bahwa waktunya sudah habis untuk bermain sore ini. “Kita siap untuk ikut lomba minggu depan?”tanya Mami. “Siap, Mom,” jawab kami serempak berdua.

*** Hari minggu yang kami tunggu. Bertiga kami mempersiapkan diri dengan berbagai peralatan yang sudah dipersiapkan. Za datang setengah jam lalu, dan seperti biasanya, dia diantar sopir taksi.

Aku berharap, ini adalah hari terbaik. Apalagi untuk Za yang menjadikan ini sebuah pengalaman pertama lomba memasak. Di sekolah yang baru nanti, yakni di SMA Inklusi tempat aku belajar, aku harap Za akan menemukan kegiatan ektrakurikuler yakni memasak yang tentu akan sangat menyenangkan hati.

Tentu, dengan sepenuh kasih dan cinta dari kami bertiga, aku akan berusaha membuat Cupcake Klappertaart nanti akan menjadi juara. Aku melihat Za penuh semangat. Dengan kursi roda dia masuk ke dalam mobil kami yang disetiri oleh Mami. Ya, Za adalah calon siswa baru di sekolahku. Dia murid yang berkebutuhan khusus. Za difabel, terlahir dengan bentuk kaki yang berbeda. Namun, itu semua tak menyurutkannya untuk belajar dan terus belajar. Tentang apa saja.

****

 

 

>