Cerita Anak – Barry, Beruang yang Angkuh

Barry, Beruang yang Angkuh

cerita anak: Ilona Joline Surjorahardjo

Narator: Ilona Joline Surjorahardjo

download

 

Halo teman-teman, namaku Barry. Aku seekor beruang madu. Aku akan bercerita tentang kisahku dengan Albert, temanku siberuang hitam.

 

Pada suatu pagi yang indah di padang rumput yang tenang, aku sedang bersama Albert. Aku merasa bosan. Lalu aku mengajak Albert untuk bermain, akan tetapi sayangnya kaki Albert sedang sakit. Tiba-tiba muncul ide gemilang di kepalaku. Aku tahu tempat yang tepat untuk mengumpulkan madu bersama Albert.

“Apakah kamu mau berlomba mengumpulkan madu?”  

“Tentu saja,” jawab Albert. Albert dan aku membuat beberapa keranjang daun untuk tempat mengumpulkan madu. Aku sangat yakin akan memenangkan perlombaan ini. Kukatakan kepada Albert:

“Jangan menangis kalau aku menang ya,”

“Ini hanya sebuah permainan, kenapa aku harus menangis?” kata, Albert.

 

Sungguh siang yang  panas. Aku berkeringat sampai harus menyeka wajahku dengan menggunakan kelopak bunga. Ketika kami sampai, kami segera berhitung mundur. Kemudian aku berlari ke hutan dan mulai mengumpulkan madu.

 

Tiga jam kemudian, aku telah mengumpulkan 5 keranjang penuh madu. Tetapi ternyata Albert telah mengumpulkan 10 keranjang penuh madu. Dia adalah pemenangnya.

Aku tidak pernah kalah dalam perlombaan mengumpulkan madu! Tentu saja ini membuatku jadi cemburu. Wajahku terbakar kemerahan. Dengan tenang Albert berkata:

“Jangan khawatir,  Barry. Ini hanya permainan.”

”Aku sudah terlalu marah untuk menjawabnya. Aku tidak dapat menguasai diri sehingga kukatakan kata-kata jahat. Oh, Albert berlari kencang. Dia sangat terkejut aku telah bersikap kasar. Sementara aku hanya berdiri, merasa bersalah dengan apa yang telah aku perbuat.

 

Setelah itu, aku pulang ke rumah dan segera tidur.

Keesokan harinya ketika aku bangun, aku mencoba mencari madu milikku untuk makan pagi.

“Dimana maduku?” tanyaku kepada Ibu. Aku tidak tahu kalau Ibuku mendengar kelakuanku terhadap Albert. Dia telah mengambil maduku dan menyembunyikannya di padang rumput. Katanya:

“Kamu dihukum karena perbuatan jahatmu! Kamu tidak akan mendapatkan madu sampai kamu meminta maaf kepada Albert!”

Awalny aku kira Ibu sedang bercanda, maka aku mencoba mencari maduku di padang rumput. Teriakku: “Mana maduku?”

Kucoba renungkan kembali kata-kata yang Ibu ucapkan. Aku harus meminta maaf kepada Albert! Ketika mendekati rumah Albert, Ibu Albert berkata bahwa Albert sedang tidak di rumah. Maka aku menuju hutan dan mulai mencari-carinya. Aku berhenti di tepi sungai untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba aku teringat saat Albert dan aku berlomba renang. Meskipun aku menang, Albert tidak pernah mengeluh. Dia mengucapkan selamat kepadaku! Aku jadi kagum.

 

Kuteguk sedikit air dari sungai, dan berlari mencari Albert. Kemudian saat melintasi kebun bunga, aku kembali teringat pada Albert, lalu aku merangkai karangan bunga. Kataku kepada Albert kala itu, tanpa diriku pasti karangan bunga ini kelihatan jelek. Albert memuji sebagai balasannya,

“Iya, kamu sangat berbakat!” Akhirnya aku mencapai ujung hutan. Tempat dimana aku mengucapkan kata-kata kasar kemarin. Aku menangis,

“Maafkan aku, Albert! Ayolah keluar.”

Sesosok bayangan gelap nampak. Dia, Albert! Kupeluk dirinya seraya berkata, “Aku sungguh minta maaf.”

Albert memaafkan aku. Kemudian kami berjalan melewati padang rumput bersama. Sejak saat itu aku tidak pernah berkata-kata jahat lagi.

Barry, Beruang yang Angkuh

cerita anak: Ilona Joline Surjorahardjo

Narator: Ilona Joline Surjorahardjo

 

Halo teman-teman, namaku Barry. Aku seekor beruang madu. Aku akan bercerita tentang kisahku dengan Albert, temanku siberuang hitam.

 

Pada suatu pagi yang indah di padang rumput yang tenang, aku sedang bersama Albert. Aku merasa bosan. Lalu aku mengajak Albert untuk bermain, akan tetapi sayangnya kaki Albert sedang sakit. Tiba-tiba muncul ide gemilang di kepalaku. Aku tahu tempat yang tepat untuk mengumpulkan madu bersama Albert.

“Apakah kamu mau berlomba mengumpulkan madu?”  

“Tentu saja,” jawab Albert. Albert dan aku membuat beberapa keranjang daun untuk tempat mengumpulkan madu. Aku sangat yakin akan memenangkan perlombaan ini. Kukatakan kepada Albert:

“Jangan menangis kalau aku menang ya,”

“Ini hanya sebuah permainan, kenapa aku harus menangis?” kata, Albert.

 

Sungguh siang yang  panas. Aku berkeringat sampai harus menyeka wajahku dengan menggunakan kelopak bunga. Ketika kami sampai, kami segera berhitung mundur. Kemudian aku berlari ke hutan dan mulai mengumpulkan madu.

 

Tiga jam kemudian, aku telah mengumpulkan 5 keranjang penuh madu. Tetapi ternyata Albert telah mengumpulkan 10 keranjang penuh madu. Dia adalah pemenangnya.

Aku tidak pernah kalah dalam perlombaan mengumpulkan madu! Tentu saja ini membuatku jadi cemburu. Wajahku terbakar kemerahan. Dengan tenang Albert berkata:

“Jangan khawatir,  Barry. Ini hanya permainan.”

”Aku sudah terlalu marah untuk menjawabnya. Aku tidak dapat menguasai diri sehingga kukatakan kata-kata jahat. Oh, Albert berlari kencang. Dia sangat terkejut aku telah bersikap kasar. Sementara aku hanya berdiri, merasa bersalah dengan apa yang telah aku perbuat.

 

Setelah itu, aku pulang ke rumah dan segera tidur.

Keesokan harinya ketika aku bangun, aku mencoba mencari madu milikku untuk makan pagi.

“Dimana maduku?” tanyaku kepada Ibu. Aku tidak tahu kalau Ibuku mendengar kelakuanku terhadap Albert. Dia telah mengambil maduku dan menyembunyikannya di padang rumput. Katanya:

“Kamu dihukum karena perbuatan jahatmu! Kamu tidak akan mendapatkan madu sampai kamu meminta maaf kepada Albert!”

Awalny aku kira Ibu sedang bercanda, maka aku mencoba mencari maduku di padang rumput. Teriakku: “Mana maduku?”

Kucoba renungkan kembali kata-kata yang Ibu ucapkan. Aku harus meminta maaf kepada Albert! Ketika mendekati rumah Albert, Ibu Albert berkata bahwa Albert sedang tidak di rumah. Maka aku menuju hutan dan mulai mencari-carinya. Aku berhenti di tepi sungai untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba aku teringat saat Albert dan aku berlomba renang. Meskipun aku menang, Albert tidak pernah mengeluh. Dia mengucapkan selamat kepadaku! Aku jadi kagum.

 

Kuteguk sedikit air dari sungai, dan berlari mencari Albert. Kemudian saat melintasi kebun bunga, aku kembali teringat pada Albert, lalu aku merangkai karangan bunga. Kataku kepada Albert kala itu, tanpa diriku pasti karangan bunga ini kelihatan jelek. Albert memuji sebagai balasannya,

“Iya, kamu sangat berbakat!” Akhirnya aku mencapai ujung hutan. Tempat dimana aku mengucapkan kata-kata kasar kemarin. Aku menangis,

“Maafkan aku, Albert! Ayolah keluar.”

Sesosok bayangan gelap nampak. Dia, Albert! Kupeluk dirinya seraya berkata, “Aku sungguh minta maaf.”

Albert memaafkan aku. Kemudian kami berjalan melewati padang rumput bersama. Sejak saat itu aku tidak pernah berkata-kata jahat lagi.

 

Puisi – Rindu Rumah Jiwa

Rindu Rumah Jiwa

Puisi Hetty Reksoprodjo

Narator: Indah Darmastuti

download

 

Tersembunyi di balik anak tekak,

Deretan huruf yang merangkai sebagai namamu di benak,

Tertimbun dalam tumpukan dan lipatan daging dan lemak,

Jejak rajah yang menggambarkan sebagai wajahmu yang kudus,

 

Terbekuk dalam lekuk liuk dinding rawan yang membentuk ruang dengar,

Sebuah dengung bersambung yang membunyikan kerinduan padamu,

Di batin masih tersimpan rapi rahasia kenangan bersamamu,

hingga tak mudah tersentuh bahkan dalam mimpi sekalipun, 

melainkan ia menjadi layar bagi tujuan, jangkar bagi perjalanan, sangkar bagi keberadaan..

  

 

Cerpen – Lakiria

Lakiria

Cerpen: Daeng Maliq

Narator: Indah Darmastuti

download

 

Suara kentungan dipukul bertalu-talu memenuhi setiap penjuru kampung. Suara itu sampai ke rumah-rumah, menyelinap masuk ke bilik membangunkan bayi lelap dalam dekapan ibunya. Suara itu mengambang di udara, terbawa angin hingga ke lereng-lereng bukit, mengagetkan kawanan menjangan asyik bersantap di antara rerimbun belukar. Suara itu terdengar sayup-sayup melewati pematang sawah, memaksa orang-orang berdiri mematung meruncingkan pendengaran. Suara itu terdengar di mana-mana. Menyeruak di antara tumpukan jerami, membubung tinggi, mengangkasa bersama kepakan sayap gagak yang terbang mengitari perkampungan.

            “Ada apa ini?” teriak seseorang kepada yang lainnya.

“Entahlah, tapi ini pasti pertanda telah terjadi sesuatu,” jawab perempuan paruh baya di sampingnya.

“Iya, betul. Terakhir suara seperti ini terdengar 25 tahun silam,” tambah perempuan bercaping sambil mengusap kepala anaknya yang tampak kebingungan.

“Ayo, kita pulang saja dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi,” ajak perempuan paruh baya sembari membersihkan lumpur di kakinya dengan air yang menggenang di sudut pematang.

Lalu berdatanganlah orang-orang dari setiap penjuru kampung. Asap kecil masih mengepul dari sisa bara di tungku-tungku yang dimatikan paksa dengan disiram air. Suara kambing mengembik melengking karena dipaksa pulang, menambah keriuhan sore itu. Rumah-rumah ditinggalkan begitu saja oleh penghuninya dengan pintu dan jendela terbuka. Derap langkah menyatu dalam irama menuju arah sama. Tak ketinggalan pula, seorang yang berada di ketinggian memetik buah kelapa, buru-buru turun lalu bergabung dengan gerombolan orang yang melintas di jalan setapak depan rumah, meninggalkan buah kelapa bergelimpangan tak jauh dari kandang sapi.

Orang-orang berjejal memenuhi halaman rumah yang dipagari pohon-pohon kelapa gading di kanan dan kirinya, dua pohon mangga mengapit pohon asam menjulang menjatuhkan bayangannya tepat di depan rumah. Wajah-wajah penuh keluh dan peluh, saling bersitatap melemparkan tanda tanya. Dada mereka dirambati penasaran, namun tak seorang pun sanggup bersuara. Seketika kentungan berhenti dipukul. Seorang perempuan bertubuh subur dengan susah payah naik ke sebuah tempat mirip panggung kecil seukuran dua rentang lengan orang dewasa.

“Saudaraku, musibah besar telah datang ….” Suaranya yang gemetar tiba-tiba tercekat.

Suasana berubah hening. Angin yang sedari tadi mengajak dedaunan bergoyang, kini beku ditelan sunyi. Sekawanan burung gereja hinggap di dahan pohon asam, bisu dalam senyap yang pekat. Orang-orang berdiri mematung, bersikeras menelan suara masing-masing. Satu-satunya suara berasal dari bilah bambu yang berderik seakan tak mampu menopang getaran tubuh yang menjejaknya. Tubuh gemetar itu mulai goyah dihempas gejolak rasa berkecamuk.

“Lakiria telah mangkat,” ucapnya serak sambil mengatupkan kedua kelopak matanya.

Hening berubah kelam. Semua mata terpejam dalam diam. Lamat-lamat bah yang menggenang dalam kalbu meluap menjelma mata air. Suara yang sedari tadi tertahan tak sanggup dibendung lagi. Pekik tangis menggelegar memecah senyap. Suara-suara sedih nan suram merayap ke seluruh penjuru kampung.

Tangisan pilu menyayat hati menggema bak suara katak di malam gulita. Air mata menggenang di mana-mana. Mengalir bagai bah menjebol dinding-dinding setiap rumah. Rumah-rumah yang ketika Lakiria bertandang senantiasa bergelimang suka. Kini karam dalam genangan kenangan serta linangan air mata duka. Semua rumah mendendangkan kidung lara.

Setiap dada merasakan sesak yang berdesak-desakan menghadirkan jejak sosok dalam ingatan di masa silam. Kala itu, hari kesepuluh di bulan kedelapan tatkala serombongan orang berseragam menyambangi perkampungan. Teriakan demi teriakan melengking seperti lolongan serigala di tepian hutan. Orang-orang menjerit lari terbirit-birit hingga terjungkal ke dasar parit. Di mana-mana terdengar riuh rintih orang-orang menahan perih. Sebelum surya hijrah ke barat, rombongan berseragam itu telah raib menyisakan asap yang mengepul di atas puing rumah-rumah yang terbakar.

Belum genap sepekan gerombolan berseragam itu kembali menyatroni perkampungan. Tak ada asap dan huru-hara. Mereka menggeledah rumah-rumah dan menyeret paksa laki-laki yang tersisa, baik dewasa maupun kanak-kanak. Itulah hari di mana mata terakhir kali memandang sosok laki-laki. Tuduhan sebagai kaki tangan pembelot, memaksa orang-orang kampung melanjutkan sisa hidup tanpa tangan kekar laki-laki.

Rumah-rumah dibangun kembali di atas puing-puing kepedihan. Orang-orang mulai menanam asa di dada. Di mana-mana hanya ada perempuan. Perempuan mengasuh anak dan ternak. Perempuan membajak sawah dan menjerat ikan di rawa. Perempuan berburu rusa dan memanjat pohon kelapa. Perempuan menjadi pemimpin di antara para perempuan.

Lakon hidup kembali ditapaki, meski lambat, namun sarat makna. Segala duka terkunci rapat di lubuk terdalam. Orang-orang menenun mimpi dari serpihan asa yang mengendap di palung jiwa. Semua berjalan sebagaimana rupa awalnya. Senyum mulai tersungging bersama bulir-bulir padi yang menguning. Gelak riang anak-anak menggiring ternak ke hamparan sabana di tepian muara.

Hingga di suatu malam yang basah, tersebar kabar ke seluruh penjuru kampung. Kabar itu mengalir melalui parit lalu melewati setiap rumah dan mengetuk pintu, memaksa penghuninya segera bergegas. Kabar itu mengalun di antara rintik gerimis lalu hinggap di telinga orang-orang. Mereka yang terlelap seketika bangkit dan berlalu. Riuh orang-orang serupa langgam malam, menebar syahdu penawar rindu.

Ingar bingar orang-orang melewati jalan-jalan perkampungan. Nyala obor di tangan menyerupai kawanan kunang-kunang yang tampak dari kejauhan. Degup jantung berpacu dengan kaki-kaki menjejak tanah basah. Orang-orang berdatangan menghampiri sebuah rumah bambu di selatan perkampungan. Rumah itu kini dikepung tanda tanya yang berloncatan dari kepala orang-orang kampung.

Seorang perempuan paruh baya mengenakan sarung dan kepalanya dililit kain bercorak warna kulit jati, berdiri mengangkat kedua tangannya. Dialah perempuan pemimpin perkampungan berusaha menenangkan orang-orang. Di samping kirinya berdiri pula seorang anak yang tingginya hampir sebahu. Anak itu tampak pucat dalam remang nyala obor. Tubuhnya gigil dan gemetar sembari bibirnya bergerak-gerak seperti sedang merapal mantra. Ia hendak berbalik tatkala lengan kanannya digenggam perempuan di sampingnya.

“Semuanya tenang dulu, biarkan saya berbicara,” pimpinan kampung mulai bersuara.

“Ada apa ini?” seru seseorang yang berada di antara kerumunan.

“Diberkatilah kita semua, anak ini rupanya seorang laki-laki!” tandasnya sambil memegang kedua bahu anak itu.

            Suasana hening sekejap, lalu ramai oleh sorak-sorai. Rasa haru dan bahagia berbaur udara malam yang perlahan menghangat. Orang-orang berebutan mendekap anak itu, tak terhitung berapa bibir yang mengecup kening, pipi, dan bibirnya. Lalu tubuh anak itu digotong beramai-ramai, diangkat ke atas kepala berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Setelah puas, anak itu didudukkan di atas balai bambu yang berada tepat di depan rumah.

Entah siapa yang memulai, mereka tiba-tiba duduk bersila beralas tanah basah menghadap anak kecil itu. Dipandanginya paras itu lekat-lekat, dari rambut kemerahan sebahu hingga ke ujung kuku kakinya yang kehitaman. Orang-orang masih setengah percaya bahwa anak yang selama ini dikenal sebagai perempuan rupanya seorang laki-laki. Binar mata orang-orang kampung memancarkan cahaya pengharapan. Doa-doa dirapalkan semoga keselamatan senantiasa menyertai laki-laki terakhir di kampung mereka.

            Di balik sukacita terselip tanda tanya di dada orang-orang. Untuk alasan apa Maraya membungkus identitas anaknya dan selama ini hanya menjadi milik rahasia. Bibir Maraya mulai terbuka, perempuan kurus yang tak banyak bicara semenjak suaminya dibawa pergi gerombolan berseragam kini angkat bicara. Kata-kata yang selama ini hanya mendekam di balik bibirnya, kini berhamburan keluar menjawab rasa penasaran orang kampung. Diterangkannya bahwa semenjak dua anak laki-laki terdahulunya meninggal di usia bayi, ia mulai mendandani bayi ketiganya layaknya perempuan. Mitos itu rupanya berhasil, terbukti anaknya yang sehari-hari dipanggil Ria itu tetap hidup hingga hari ini.

            Misteri kini telah terkuak. Bermula saat sore, selepas bermain hujan Ria berganti pakaian di belakang gerumbul bambu. Lalu tak sengaja Amina yang hendak pula berganti pakaian menyaksikan pemandangan yang tak lazim itu. Darah Amina berdesir terserang kaget, memaksa kakinya berlari sekencang-kencangnya menyibak tirai-tirai hujan. Dadanya turun naik memompa kata-kata yang tersumbat di kerongkongannya tatkala menerangkan pada pimpinan kampung perihal apa yang dilihatnya. Pimpinan kampung lalu berkirim kabar ke setiap rumah agar berkumpul selepas santap malam di rumah Maraya. Itulah hari di mana Lakiria ditemukan.

            Sejak malam itu Ria berganti nama menjadi Lakiria dan didaulat menjadi orang terpenting sekampung. Sebagai laki-laki terakhir, Lakiria dijaga dan dimiliki orang-orang secara bersama. Segala macam kebutuhan hidup menjadi tanggungan orang-orang, termasuk rumah besar yang terbuat dari pohon jati pilihan dan dibangun di tengah perkampungan. Lakiria menjelma sosok teristimewa. Ia hidup dan menghidupi harapan orang-orang kampung.

            Ketika berumur 17 tahun, Lakiria menyandang status baru. Perempuan berumur di atas 40 tahun mengangkatnya sebagai anak. Mereka yang berusia 17 hingga 40 tahun mendapat hak untuk dikawini dan menyandang status isteri Lakiria. Lalu mereka yang muda-muda, tetap berbangga sebagai adik-adik Lakiria dan sabar menunggu sampai mereka pun berubah status. Peraturan baru nan aneh ini adalah hasil mufakat orang-orang kampung demi memperpanjang usia perkampungan.

            Jumlah isteri Lakiria tak pernah berhasil dihitungnya, mungkin melebihi domba dan kambing yang dimilikinya. Hal demikian memaksa Lakiria berpayah-payahan mendatangi rumah isteri-isterinya. Hingga bertahun-tahun hal itu dilakoninya, tak satu pun dari isteri-isterinya yang berhasil bunting membuahkan anak laki-laki. Keinginannya dan harapan orang-orang terhadap anak laki-laki memaksanya bekerja lebih keras. Beruntunglah usia muda serta ototnya yang kokoh dapat diandalkan dan menjadi amunisi berharga.

            Pernah sekali waktu, Lakiria menangkap seorang pemburu dari hutan lalu membawanya ke perkampungan. Ia berharap laki-laki pemburu itu dapat membantunya mendapatkan anak laki-laki. Usul itu segera ditolak orang-orang kampung, tak satu pun dari isteri-isterinya yang rela dikawini orang asing. Apalagi orang asing itu berperawakan serupa gerombolan berseragam yang dulu menyatroni perkampungan. Peristiwa masa lalu itu tak pernah benar-benar berlalu, kenangan pahit itu kekal dalam ingatan orang-orang.

            Kini Lakiria telah mangkat. Perempuan-perempuan yang menjadi ibunya larut dirundung duka lara atas kehilangan anak laki-lakinya. Perempuan yang menobatkan diri menjadi isterinya kini harus pasrah dan merelakan suaminya menjadi milik keabadian. Pedih tak tertanggungkan dirasakan pula bagi adik-adik Lakiria yang tak sempat berubah status meski kelak usia mereka telah ranum. Kepergian Lakiria menguras air mata orang-orang dan membuat kampung menjelma rahim kesedihan.

            Berhari-hari suara tangisan tak reda-reda. Tangisan itu telah akrab di bibir dan telinga orang-orang. Tangisan itu betah berlama-lama berada di kampung, berdiam di rumah-rumah. Hingga malam ke-40 saat dilangsungkan kenduri, sebuah tangisan terdengar melengking melebihi tangisan orang-orang. Tangisan dari orang termuda di kampung. Seorang bayi laki-laki lahir yang membuat Lakiria tersenyum dalam tidurnya yang abadi.[]

Cerita Anak – Pengumpul Serangga

Pengumpul Serangga

Oleh: Indah Darmastuti

versi cetak Antologi Sayap Cahaya, Balai Bahasa Jawatengah 2018

Narator: Indah Darmastuti

download

 

Waktu belum menunjuk pukul sebelasbelas, tetapi matahari bersinar terik ketika anak kelas 1 SD  Merapi itu pulang. Begitu mereka keluar gerbang sekolah, mereka sudah menghambur berlarian sambil bercanda.

Tetapi Inno berjalan cepat pulang ke rumah melalui jalan utama desa. Tas punggung berwarna hitam tampak terlalu besar untuk badan Inno yang kurus kecil. Peluh sudah membasahi dahinya ketika sepasang kaki kurus itu melewati ladang-ladang tomat, cabe dan terong. Seekor tupai nangkring di pokok pohon kelapa. Jauh di sana sawah membentang hijau di bawah langit biru bersih. Burung-burung terbang mencari makan. Sesekali terbang rendah berpapas dengan kupu-kupu yang mencari madu.

Sesampai di rumah, tanpa melepas sepatu Inno segera menemui teman-teman bersayapnya yang tinggal di kotak-kotak kayu buatan bapak. Ia memandangi empat ekor Jengkeriknya sebesar ibu jari berwarna hitam mengilat.

Jika malam mulai turun dan bintang-bintang menyala satu persatu, jengkerik-jengkerik itu mengerik nyaring bersaing dengan serangga malam lainnya. Puas memandangi jengkeriknya, Inno beralih ke kandang gangsir, orong-orong dan kepik berpunggung merah totol-totol hitam, hinggap di daun-daun manthang.

Dia juga mempunyai satu ekor kumbang badak dan tiga ekor bapak pucung. Semua dikandangkan dalam kotak kayu berkawat kasa yang terpisah. Agak lebih tinggi ia meletakkan kotak berisi tiga ekor wangwung. Si Kumbang bercula itu pemberian Pakde Supar.

Ia membuka tutup kandang wangwung lalu mengelus punggung hitam legamnya. Inno suka bentuk cula itu, seperti gantungan baju yang terpasang di balik pintu rumahnya. Ya memang kumbang itu yang menjadi penyebab matinya pohon kelapa di dekat balai desa, tetapi menurut Inno, serangga itu  sangat lucu dan kelihatannya tidak pemarah meski cula itu membuatnya terkesan jahat.

Lalu ia beralih di kandang kecil bercat cokelat tua. Ada dua ekor tonggeret hadiah ulang tahun dari Kak Ria, Pembina Pramuka di sekolah. Kak Ria menyebutnya garengpung. Bila sore tiba, khususnya di pergantian musim hujan ke musim kemarau si Garengpung itu akan bernyanyi seperti paduan suara, mengabarkan bahwa sore begitu cerah.

Di dekat rimbun tanaman jail-jali di atas tanah cukup lembab, ada satu kotak cukup besar berisi serangga kecil pemalu, sayapnya tampak biasa dan ia tidak nakal. Bila malam tiba, dari jendela kamarnya, Inno bisa melihat teman-teman kecilnya itu bercahaya.

Apakah Kunang-kunang itu ibunya bintang-bintang di langit?Apakah kunang-kunang mengasuhnya, menggendongnya diajak terbang ke mana-mana, lalu kelak jika bintang itu sudah besar, kunang-kunang akan membawanya terbang ke langit dan  memasang bintang di dekat bulan?

Begitu Inno membuat catatan dan menyimpan pertanyaan tentang Kunang-kunang. Memang setiap ia mendapatkan serangga dari jenis yang berbeda, Inno mencatatnya di buku yang dibelikan Ibu. Ia masih serius mengamati serangga kecil itu ketika mendengar ibu memanggil.

“Inno, lepas dulu sepatumu, ganti baju dan lekas makan.” Inno tak menjawab tetapi segera meninggalkan kotak-kotak serangga itu dan mendapati ibunya.

“Ibu tahu tidak, berapa jumlah kunang-kunang yang kupunya?”

“Banyak,” jawab ibunya cepat.

“Iya, memang banyak tetapi berapa?”

“Seratus?”

“Belum sampai. Tetapi suatu saat nanti aku akan punya seratus kunang-kunang setelah bapak buatkan kandang lagi yang cukup besar,” katanya sambil melepas sepatu dan seragam sekolah.

“Tetapi, kamu sudah punya banyak sekali kotak serangga, itu sudah cukup. Lagi pula, rumah kunang-kunangmu sudah cukup besar. Tak perlu menambah jumlah kotak serangga lagi kan?”

“Harus tambah, Bu. Aku kan belum punya samberlilin, belum punya belalang sembah, belum punya ngengat. Aku juga pingin punya wangwung bercula lagi. Serangga itu keren sekali, ia seperti panglima perang.”

“Iya, tetapi jangan sampai lupa kamu mencari makan untuk serangga-seranggamu itu, mereka butuh makan,” pesan ibu sambil meletakkan baju seragamnya yang kotor. Inno mengangguk pasti.

“Ibu suka serangga-serangga juga?” ibu hanya tersenyum. Inno tak puas hanya dijawab dengan senyum. Maka ia datangi ibu dan mengguncang tangannya sambil berkata:

“Ibu, serangga-serangga itu sangat baik. Aku tahu mereka suka padaku dan pasti juga suka pada bapak dan ibu,”

“Iya.. iya… lekas makan dan jangan lupa nanti mengantar panenan jambu ke rumah Budhe Mardi ya,” kata ibu sambil berlalu.

Inno makan dengan sangat lambat, tak pernah semenit pun bayangannya meninggalkan serangga-serangga koleksinya. Masing-masing mereka selalu ada makanan yang dipasok Inno secara berkala. Dia hapal tanaman apa yang harus berikan kepada setiap teman-teman serangganya.

Serangga-serangga itu kebanyakan ia temukan ketika bermain bersama Zen dan beberapa teman ke area sawah dan ladang-ladang di dekat aliran Sungai yang membelah desa di kaki Gunung Merapi. Juga di hutan pinus yang hanya berjarak satu kilo meter dengan desanya. Jangkerik dan bapak pucung ia temukan di dekat sumber air.

 Dulu saat ia pindah dari kota Solo ke desa lereng Merapi untuk mengikut bapak yang ditugaskan mengajar di sini, Inno sangat kesepian karena ia belum mempunyai teman, sehingga bapak sering mengajaknya jalan-jalan menyusuri pematang sawah dan ladang sambil berkenalan dengan para tetangga.

Saat jalan-jalan itu, bapak juga mengenalkan Inno pada banyak tanaman dan serangga-serangga yang baginya sangat lucu dan aneh-aneh bentuknya. Karena suka, bapak menangkapkan empat ekor kepik untuknya.Tetapi Inno tak puas hanya dengan empat ekor kepik, ia meminta bapak menangkapkan bapak pucung juga.

Inno mulai menyukai tempat tinggalnya yang baru dan ia tidak kesepian lagi karena setiap sore bersama bapak, ia akan menjelajah desa. Kadang ia pulang membawa dua atau tiga ekor serangga. Lalu bapak membuatkan kotak-kotak kayu untuk menampung serangga-serangga itu.

Siang itu, ketika pulang dari rumah Budhe Mardi untuk mengantar panen jambu, Inno berjumpa Zen, Banyu, Sifa dan Iqbal yang berjalan menuju ladang jagung. Mereka akan membantu Suranto mengangkut jagung yang dipetik bapak dan ibunya, lalu mereka akan main ke sungai yang membatasi desa mereka dengan desa tetangga.

Ladang jagung milik keluarga Suranto tak seberapa luas, tetapi panen jagungnya menyenangkan. Ketika melihat teman-teman Suranto datang membantu, Pak Saman ayah Suranto memberi mereka masing-masing lima buah jagung.

“Baiknya jagung-jagung ini kita kumpulkan jadi satu, lalu kita bawa saat kemah besok, kita akan bakar bersama-sama. Bagaimana?” ide Zen langsung disambut gembira oleh teman-temannya. Mendengar rencana itu, Pak Saman kemudian menyisihkan setengah karung lalu ia berkata:

“Suranto, simpan yang setengah karung ini untuk teman-temanmu. Kapan kalian akan berkemah?”

“Besok malam, Pak. Kami menamakan Malam Pertemanan, jadi anak-anak kelas 1 dan kelas 2 akan mendirikan tenda di tepi hutan pinus bersama kakak Pembina Pramuka.”

“Wah, besok bulan purnama, pasti dinginnya berlipat-lipat. Tetapi tentu langit sangat indah,” Kata ayah Suranto sambil menyaksikan anak-anak itu melanjutkan pekerjaan mengangkut jagung dengan gembira.

Besoknya, tampak lima tenda didirikan saling berhadapan di tepi hutan pinus yang tak jauh dari rumah mereka. Hutan itu tidak lebat. Penduduk desa kerap masuk hutan untuk mencari kayu bakar, rumput untuk pakan ternak atau bunga-bunga pinus kering pengganti kayu bakar.

Di area itu, mereka sering melihat ayam hutan hinggap di pohon-pohon, sesekali unggas-unggas itu berteriak memekakkan telinga. Mereka hanya melihat saja dengan kagum, mereka tahu kalau siapa pun tidak boleh menangkap ayam-ayam itu.  

Kata Kak Ria, kalau mereka memburu ayam hutan itu, si Ratu ayam akan marah dan ia akan mengajak semua ayam-ayam itu pergi, tidak mau tinggal di hutan tempat mereka bermain. Itu pasti akan sangat meyedihkan.

Malam itu bulan bulat berwarna oranye, bintang-bintang menyala cemerlang. Hari baru saja beranjak petang tetapi di sekitar hutan sudah menjadi gelap dan dingin bukan kepalang. Suara jengkerik, tonggeret dan serangga malam yang lain saling bersahutan mengisi keheningan.  

Dalam acara kemah itu, Kak Ria mengajak keponakannya yang tinggal di pesisir sebelah selatan kota Yogyakarta untuk merasakan sejuk hawa pegunungan.

“Kamu tidak boleh sembarangan membuat api di dekat hutan sini, Radik,” Kak Ria menasehati ketika keponakan dan kawan-kawan barunya membuat api unggun yang juga akan mereka gunakan untuk membakar jagung.

“Kami hanya ingin menghangatkan badan sambil bakar jagung, Kak,” katanya.

“Iya, tetapi jangan di situ, ambilah tempat agak jauh dari pohon-pohon pinus itu dan jaga apinya jangan sampai terlalu besar. Karena api meskipun kecil kalau terbawa angin lalu menyambar pohon pinus, seluruh hutan ini akan habis terbakar. Kalian harus tahu kalau batang Pohon Pinus itu mengandung getah yang mudah terbakar.”

Malam itu, meskipun tenda yang didirikan tak terlalu jauh dari rumah mereka, tetapi pengalaman berbagi tempat tidur dan berbagi makanan serta bermain bersama teman-teman tentu menyenangkan.

Mereka berkumpul mengelilingi api unggun dan membakar jagung hasil panen ayah Suranto. Zen duduk dekat dengan Radik yang tampak kedinginan.

“Kamu tidak biasa di tempat dingin ya?” tanya Zen kepada Radik.

“Di pantai kadang dingin, tetapi dinginnya tidak sampai seperti ini,” jawabnya.

“Seperti apakah pantai itu, apakah banyak sekali pohon pinus?”

“Tak ada pohon pinus. Yang ada pohon kelapa. Rumahku menghadap ke laut. Kalau menjelang sore saat air surut, aku dan teman-teman bermain bola di pantai, di tepi laut. Kadang kalau laut sedang baik hati, bapak akan mengajak kami menjala ikan naik perahu.”

“Itu menyenangkan sekali. Kamu tidak takut ombak?”

“Setiap nelayan tidak takut ombak.”

“Ikan apa yang kamu tangkap?”

“Banyak. Nanti kapan-kapan mainlah ke pantai kami. Aku akan mengajakmu menangkap ikan bersama bapak.” Mereka asyik berbincang-bincang hingga tak menyadari kalau Inno tak ada di antara mereka.

“Inno, ada di mana Inno…” Kak Ria dan kakak Pembina yang lain langsung sibuk mencari Inno. Mereka mengambil senter dan memanggil-manggil Inno. Panggilan bersautan  terpantul, menggema, bergaung di empat penjuru mata angin. Mereka cemas, saling bertanya satu sama lain kapan terakhir Inno terlihat.

“Ayo kita cari agak ke atas, sebagian menunggu di tenda,” seru Kak Ria langsung disusul dengan pembagian siapa yang ikut naik, siapa yang menjaga tenda.

“Aku ikut naik,” kata Radik melangkah di sebelah Zen yang membawa senter.

“Innooooo… Innoooo… kamu di manaaaa?” teriak teman-temannya. Mereka terus melangkah naik sedikit dalam masuk hutan.

“Hallooooo… Innoooo…”

“Iyaaaa… aku di siniii….” Terdengar Inno menjawab panggilan.

“Itu diaa… Inno ada di sana! di arah jam dua,” Kak Ria berkata.

“Bukan! aku dengar di sana!” Sifa berpendapat.

“Itu gaungnya… itu hanya gema.. aku yakin Inno ada di sana!” mereka masih berdebat tentang asal suara.

“Halooo… aku di sini!” sekali lagi Inno menjawab. “Kemarilah… tempat ini indah sekali!” teriakan Inno semakin jelas, dan ternyata ia ada di sebelah tenggara.

Dari jauh, tampak sepetak tanah yang dirubungi kunang-kunang yang terbang rendah. Tempat itu berkelip-kelip keperakan. Inno duduk di sebuah batu cukup besar di tanah yang agak lapang. Tubuh Inno seperti mandi cahaya.

“Apa yang kamu lakukan di situ, Inno?” teriak Radik.

“Aku hanya melihat kunang-kunang.”

“Indah sekaliii…” teriak Kak Ria dari kejauhan. “Tetapi mestinya kamu pamitan pada teman-teman dan kakak Pembina sehingga tidak membuat kami bingung.”

“Maaf, Kak, tadi sebenarnya aku hanya ingin mengambil tambahan kayu bakar dan bunga pinus kering, tetapi aku melihat dari jauh banyak kelip kunang-kunang, jadi aku datang ke sini. Sayang sekali aku tidak membawa kotak kawat kasa, mungkin lain waktu aku akan mengajak bapak ke sini untuk menangkapnya.”

“Oh, kamu mau memelihara kunang-kunang?”  Zen bertanya.

“Betul. Di rumahku sudah ada banyak, tetapi aku ingin punya lebih banyak lagi.”

“Kak, apakah kunang-kunang tidak capai membawa lampu sepanjang malam?” tanya Radik.

“Bukan lampu. Itu bayi bintang.” semua tertawa mendengar kalimat Inno. Kak Ria juga tertawa.

“Nah, kakak beri tahu ya.. apa yang kalian sebut sebagai lampu, atau bayi bintang itu sebenarnya zat-zat, seperti oksigen, kalsium, magnesium dan zat kimia alami yang bernama luciferin. Ketika zat-zat itu bercampur, maka akan bereaksi di dalam perut kunang-kunang dan menghasilkan cahaya cemerlang seperti yang kalian lihat.”

“Aku ingin punya seratus kunang-kunang,” kata Inno sambil menadah tangannya, dan seekor kunang-kunang hinggap di ujung jarinya.

“Kak Ria tidak yakin kamu akan mampu mengumpulkan kunang-kunang sebanyak itu, mengingat masa hidup kunang-kunang sangat pendek. Hanya 2-3 minggu saja.” Inno menggigit-gigit bibir.

“Kasihan kunang-kunang, mereka hanya bisa melihat indah dunia ini sependek itu,” kata Inno kemudian.

“Nah, kalau begitu mengapa kamu malah mengurungnya? apakah tidak sebaiknya kamu membiarkan kawan-kawan bercahayamu itu terbang menikmati kebebasan dan menikmati masa hidup mereka yang pendek?” Kak Ria berkata sambil mengusap-usap bahu Inno.

“Iya, betul. Aku tak boleh mengurungnya. Pasti kunang-kunang itu sedih sekali tidak bisa bebas bermain dan bertemu dengan teman-temannya. Di rumahku mereka terkurung, padahal di sini banyak teman-teman mereka.”

“Jadi bagaimana?”

“Besok sepulang dari kemah, aku akan lepas mereka,” Inno berjanji sungguh-sungguh.

“Tetapi bagaimana dengan serangga-serangga yang lain? di rumahku ada banyak serangga yang aku taruh di kotak kayu, mereka semua temanku,”

“Asal kamu merawatnya, sepertinya tidak apa-apa,”    

“Iya, aku janji, Kak.”

“Asyik…. bagaimana kalau besok kita lihat serangga-serangga milik Inno?” mereka menyambut gembira usul Kak Ria.   

“Tetapi kakak rasa sudah cukup kita bersama kunang-kunang di sini, baiknya kita segera balik ke tenda supaya teman-teman kita tidak cemas menunggu,” Mereka setuju dan saling bergandeng tangan meninggalkan sepetak tanah itu.

Ketika kaki-kaki anak-anak itu menjauh, sekali lagi Inno menoleh ke belakang, ia memandangi kunang-kunang terbang riang membuat area itu seperti serpihan bintang-bintang. Ia berjanji dalam hati, besok akan mengajak bapak membawa kotak kunang-kunang dan ia akan melepas mereka di tempat itu. []    

 

Cerita Anak – Pensil Warna untuk Diandra

Pensil Warna untuk Diandra

Cerita anak : Impian Nopitasari

Versi Cetak: Kedaulatan Rakyat, Juli 2017

Narator: Indah Darmastuti

download

Intan dan Diandra adalah teman sekelas di TK Tunggak Semi. Mereka berdua adalah sahabat yang sering melakukan aktivitas bersama-sama. Meskipun Intan adalah anak orang berada, dia tidak malu berteman dengan Diandra yang anak tukang becak dan buruh cuci. Setiap hari mereka berangkat sekolah bersama-sama diantar bapak Diandra yang kebetulan becaknya menjadi langganan keluarga Intan.

Intan dan Diandra suka menggambar dan mewarnai. Diandra sering diajak ke rumah Intan untuk mewarnai bersama. Intan punya banyak buku mewarnai dan pensil warna serta crayon yang bagus-bagus. Intan tak segan untuk meminjamkannya kepada Diandra.

“Ah andai aku punya pensil warna seperti Intan,” ujar Diandra dalam hati. Diandra merasa sedih karena pensil warna kepunyaannya sudah pendek dan warnanya sudah tidak lengkap. Dia tidak berani minta kepada orang tuanya karena penghasilan orang tuanya yang pas-pasan, kadang kurang.

Suatu hari di sekolah ibu guru mengumumkan kalau ada lomba mewarnai yang diadakan oleh taman baca setempat. Semua murid boleh mengikuti lomba tersebut. Intan senang sekali mendengarnya.

“Diandra, kamu ikut lomba mewarnai juga, kan?” Tanya Intan kepada Diandra.

“Sebenarnya aku ingin ikut, tapi..,” jawab Diandra ragu-ragu.

“Kamu harus ikut Diandra, nanti berangkat bareng aku ya?” ajak Intan penuh harap.

Diandra lama terdiam. Dia ingin ikut lomba tersebut, tapi dia malu karena tidak punya pensil warna yang bagus. Di tempat lomba pasti pesertanya bagus-bagus peralatannya, pikir Diandra. Diandra memupus keinginannya untuk ikut lomba.

***

Hari diadakan lomba pun tiba. Dari pagi Intan sudah semangat untuk mengikuti lomba tersebut. Setelah mandi dan sarapan, Intan berangkat diandratar ayah dan ibunya. Sebelum ke tempat tujuan, mereka mampir ke rumah Diandra untuk menjemputnya.

Sesampai di rumah Diandra, mereka hanya bertemu dengan ibu Diandra yang akan berangkat memburuh cuci.

“Maaf, Pak, Bu, Nak Intan, Diandra tadi sudah berangkat ngiderin kue, ada perlu apakah?”

“Kami ke sini ingin menjemput Diandra, Bu. Apa Diandra tidak bilang kalau ada lomba mewarnai?” ayah Intan menjelaskan sekaligus bertanya.

“Wah, lomba apa, ya? Diandra tidak pernah bilang, Pak. Dia hanya bilang kalau ingin membantu orang tuanya lebih giat lagi agar bisa membeli pensil warna, karena kebetulan pensil warna miliknya sudah tidak layak lagi, kami belum bisa membelikannya,” ujar Ibu Diandra dengan wajah yang sedih.

Intan juga ikut sedih. Tapi dia harus tetap berangkat. Mereka mohon diri.

Sesampai di tempat lomba, peserta sudah banyak sekali. Tak lama kemudian, panitia memberikan arahan jalannya lomba. Lomba pun dimulai. Intan mengikuti lomba dengan semangat, ayah ibu juga memberi semangat untuk Intan.

Waktu lomba pun selesai. Panitia mengumpulkan hasil karya peserta dan mengumumkan hasilnya berapa jam kemudian. Jeda untuk penjurian diisi dengan berbagai kegiatan yang menarik untuk anak-anak.

Intan berhasil mendapat juara 3. Walau tidak juara 1 tapi ayah ibu tetap senang. Yang paling penting, Intan sudah berusaha dan bahagia mengikuti lomba dan bertemu teman-teman baru. Intan mendapat hadiah uang pembinaan dan satu set alat mewarnai, pensil warna dan crayon yang bagus-bagus.

“Ayah, antar Intan ke rumah Diandra, dong, pasti dia sudah di rumah,” pinta Intan.

Ayah pun menuruti Intan, setelah sebelumnya mereka mampir untuk membeli oleh-oleh untuk Diandra.

Diandra senang sekali menerima kunjungan Intan sekeluarga, dia berterima kasih untuk oleh-olehnya.

“Diandra, ini untuk kamu,” kata Intan sambil memberikan hadiah pensil warna kepada Diandra.

“Tapi..ini hadiah lomba kamu, Ntan?” kata Intan ragu-ragu

“Tidak apa-apa, aku sudah punya banyak. Itu buat kamu saja, biar lain kali kita bisa ikut lomba bareng, karena kamu sudah punya pensil warna,” kata Intan.

“Terima kasih, Intan,” kata Diandra sambil memeluk Intan.

Ayah Ibu Intan juga senang melihat Intan dan Diandra berpelukan. Mereka berdua senang Intan tumbuh menjadi anak yang baik dan suka berbagi kepada sesamanya yang lebih membutuhkan.

 

Cerita Anak – Hayun Ingin Jadi Juara

Hayun Ingin Jadi Juara

Cerita Anak: Impian Nopitasari

Versi Cetak: Kedaulatan Rakyat, November 2015

Narator: Indah Darmastuti

download

Sudah sebulan Hayun berada di kota Perth, Australia. Ibu Hayun harus melanjutkan studi ke negeri kanguru tersebut. Bapak Hayun juga ikut serta. Hayun senang sekaligus sedih, senang karena bisa ikut bertualang bersama orang tuanya di luar negeri, tapi juga sedih karena harus meninggalkan Bantul, kota yang dicintainya, meninggalkan teman-temannya, ikut bapak ibunya ke luar negeri, berarti harus pindah sekolah juga.

“Hayun senang di sekolah baru?” tanya bapak suatu hari.

“Senang, Pak, teman Hayun baik-baik, ibu gurunya juga ramah. Hayun senang, walau kadang masih nggak ngerti bahasanya.” cerita Hayun.

Bapak Hayun tersenyum senang mendengar cerita anaknya. Ketika Ibu Hayun harus belajar di kampus, bapak yang menemani Hayun belajar atau bercerita. Hayun juga senang mendengar bapaknya bercerita tentang pekerjaannya sebagai supir truk. Sekali dua kali kalau ada kesempatan, Hayun diajak naik truk bersama.

“Pak, bulan depan Hayun ada lomba lari antar kelas. Hayun ingin jadi juara, seperti bapak,”

“Hayun ingin juara berapa?” tanya bapak.

“Juara satu dong,” kata Hayun semangat.

“Kalau begitu, Hayun harus rajin berlatih,”

“Siap bos!”

***

Beberapa hari ini Hayun memang rajin berlatih berlari. Hari ini Hayun ditemani ibu yang kebetulan libur kuliah. Hayun berlari di sekitar rumah, di taman, bahkan saking semangatnya, Hayun sering mimpi berlari.

“Bu, pokoknya Hayun harus jadi juara satu,” kata Hayun pada ibunya. Mereka sedang duduk-duduk istirahat di taman kota.

“Bagus, Hayun harus semangat, tapi jangan lupa yang lain ya. Belajar, makan dan istirahat yang cukup.” Pesan ibu.

“Oke, bu,”

Hari dilaksanakan lomba lari pun tiba. Sekolah ramai sekali. Bapak Ibu Hayun ikut serta memberi semangat. Mereka tak henti-hentinya bertepuk tangan melihat aksi Hayun ketika berlari. Peserta lain pun tak kalah semangatnya. Akhirnya Hayun berhasil masuk final.

Bapak Ibu semakin semangat menyoraki Hayun. Hayun berlari melawan Amber, Joanne dan Ling yang tak kalah cepatnya. Tepuk tangan semakin meriah ketika masing-masing peserta tiba di garis finish. MC pun memanggil para juara 1, 2, dan 3 untuk naik ke atas podium.

Amber juara 1, Ling juara 3, sedangkan Hayun mendapat juara 2. Bapak Ibu Hayun tersenyum bangga melihat ibu guru mengalungkan medali.

“Selamat Pak Iqbal, Bu Nurul, Hayun berhasil menjadi runner up,” Bu Erica menyalami bapak ibu Hayun.

“Terima kasih Bu Erica,” kata bapak ibu.

Bapak ibu gembira, mereka mengajak Hayun jalan-jalan seusai acara sekolah. Tapi Hayun malah terlihat murung.

“Kenapa Hayun? Bukannya Hayun seneng dapat juara?” tanya bapak yang heran dengan sikap Hayun.

“Hayun sedih, Pak, Hayun nggak dapat juara 1, Hayun pengennnya kan dapat juara 1, bukan juara 2,”

Bapak memeluk Hayun, ibu mengusap kepala Hayun. Lalu bapak berkata “Ndhuk, jadi juara 1 memang bagus, tapi juara 2 juga nggak jelek kok, bahkan kalau tadi Hayun nggak juara pun, bapak sama ibu nggak akan marah. Yang penting Hayun sudah berusaha dengan baik, Hayun semangat ikut memeriahkan acara sekolah, yang penting Hayun gembira, itu yang paling penting bagi bapak dan ibu,”

“Iya Ndhuk, yang penting Hayun sudah berusaha, Hayun membuktikan kalau anak Indonesia juga nggak kalah dengan anak luar negeri. Karena itu bapak ibu memberimu nama Memayu Hayuning Bumi agar Hayun bisa berjuang, untuk terus memperindah wajah dunia. Senyum lagi ya sayang.” Ibu menghibur Hayun.

Mereka bertiga berpelukan. Hayun sudah tidak sedih lagi. Hayun bahagia mempunyai orang tua yang sangat menyayanginya. Mereka pun meneruskan jalan-jalan menikmati sore yang indah di negeri kanguru.

***

Cerita Anak – Gara-gara Ramalan Bintang

Gara-gara Ramalan Bintang

Cerita Anak: Impian Nopitasari

Versi Cetak: Majalah Bobo, Agustus 2015

Narator: Indah Darmastuti

download

 

Sudah hampir jam tujuh pagi, tapi Aya belum juga beranjak dari tempat tidur. Mama yang dari tadi menyiapkan sarapan terus saja memanggil Aya, tapi Aya tidak menyahut. Mama mengetuk pintu kamar Aya, tidak dikunci, lalu mama masuk ke dalam kamar menghampiri Aya.

“Aya, sudah mau jam tujuh, kamu tidak pergi ke sekolah? Nanti telat lho,” kata Mama sambil menarik selimut Aya.

Aya menggerak-gerakkan tubuhnya, tapi masih malas bangun.

“Kamu sakit, Ay?” Mama bertanya lagi, Aya menggeleng.

“Ini kan hari rabu, Ma,” jawab Aya sekenanya.

“Memangnya kenapa kalau hari rabu? Ini kan bukan hari libur, Ayo cepat mandi, kamu nggak mau kan dihukum karena telat,” perintah mama.

Cepat-cepat Aya ke kamar mandi, lalu ganti baju, karena waktu sudah mepet, ia tak sempat sarapan. Bergegas ia mengambil sepedanya.

“Aku berangkat, Ma,” teriak Aya sambil memancal sepedanya.

“Ayaaa kamu belum cium tangan Mama,” teriak mama, tapi Aya sudah berlalu. Mama hanya geleng-geleng melihat tingkah anaknya.

***

Di jalan, tiba-tiba ban sepeda Aya bocor, mungkin kena paku. Ia mencari tukang tambal ban tapi belum buka, akhirnya dia menuntun sepeda hingga ke sekolah. Sesampainya di sekolah, gerbang sudah ditutup, Aya telat masuk ke sekolah. Guru piket memanggil Aya dan mengumpulkan dengan siswa lain yang juga telat masuk ke sekolah.

Karena telat berangkat ke sekolah, Aya pun telat masuk kelas. Di kelas Pak Gayuh sedang meminta siswa-siswa membuka PR matematika untuk didiskusikan.

“Aya, coba kamu kerjakan nomer 1,” perintah Pak Gayuh.

Aya bingung, karena tadi terburu-buru, dia lupa tidak membawa buku matematika. Aya tidak bisa mengerjakan. Karena kesalahan Aya, Pak Gayuh memberinya tugas tambahan dan membuat pernyataan bahwa dia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Aya malu dengan teman-temannya. Dia ingin menangis.

Jam istirahat tiba, Aya merasa lapar karena tadi tidak sempat sarapan, dia ingin ke kantin tapi ternyata dia tidak membawa uang saku karena tadi terburu-buru. Selama pelajaran, ia tidak bisa konsentrasi hingga bel pulang berbunyi.

Aya menuntun sepedanya yang gembos, sepanjang jalan ia menangis dan menggerutu.

“Coba tadi aku tidak berangkat sekolah, mungkin tak akan sesial ini. Benar yang dikatakan ramalan bintang kemarin, hari rabu bukan hari yang baik untuk Virgo,”

Sesampai di rumah, Aya masih menangis. Mama yang kebetulan sedang ada di teras heran melihat Aya menangis dan menuntun sepeda yang bannya gembos. Mama menghampiri dan memeluk Aya.

“Sudah anak mama yang cantik, jangan menangis lagi, nanti ban sepedanya biar ditambal Pak Man. Kamu pasti lapar, mama sudah masak yang enak buat kamu,” hibur mama.

Aya menceritakan semua kejadian hari itu kepada mama. Ia kesal sekali dan selalu bilang kalau seharusnya dia tidak berangkat hari ini karena menurut ramalan bintang di majalah yang ia baca di rumah temannya, minggu ini hari rabu bukan hari yang baik untuk Virgo, tapi ia tetap berangkat ke sekolah, maka dari itu dia mendapat kesialan.

Mama tersenyum dan menasehati Aya. Mama berkata bahwa bukan ramalan bintang yang membuat sial, tapi diri Aya sendiri. Aya bangun kesiangan, tidak sempat sarapan, tidak sempat mengecek perlengkapan sekolah, PR, sepeda, padahal mama sudah sering mengingatkan. Coba kalau semua itu dilakukan, pasti akan beda ceritanya.

Aya merasa bersalah. Ia meminta maaf pada mama.

“Maafkan Aya, Ma. Aya janji tidak akan mengulanginya lagi,”

“Iya sayang, sini peluk mama,” Mama memeluk Aya, kemudian mereka makan bersama.

Aya senang sekali mama tidak marah kepadanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri supaya tidak mengecewakan mama lagi.

***

 

Dongeng – Peri Penjaga Sungai

Peri Penjaga Sungai

Dongeng: Riyana Riski

Narator: Riyana Riski

Ilustrasi Musik: Mosintuwu Institut

download

 

 

Sungai di jalur hilir mengering. Para binatang kebingungan karena kemarin sore anak-anak mereka masih bermain air di tepi sungai. Bahkan semalam sebelum tidur, mereka masih dapat meminum air sungai. Sungguh aneh bila air sungai menghilang dalam semalam.

“Mungkin Peri Penjaga Sungai lupa membuka pintu air di hulu.” Duga Jeni Si Jerapah.

“Peri Penjaga Sungai tidak mungkin melupakan pekerjaan utamanya.” Bela Ruru Si Kelinci.

Ramai-ramai para binatang setuju dengan Ruru. Pekerjaan utama Peri Penjaga Sungai adalah menjaga sungai tetap terairi. Selain itu Peri Penjaga Sungai telah melakukan pekerjaannya selama ribuan tahun. Tidak mungkin ia melalaikan pekerjaannya itu.

Para binatang mencoba menebak apa yang membuat Peri Penjaga Sungai tidak melakukan tugasnya sehingga sungai menjadi kering seperti ini. Hingga Jeni menyadari sesuatu dan berkata,

“Bagaiman keadaan Lulu ya?”

Secara bersamaan semua binatang teringat pada Lulu. Lulu adalah seekor ikan yang tinggal di

dekat air terjun. Mengingat nasib Lulu Si Ikan yang tidak bisa hidup tanpa air, Jeni dan Ruru sebagai teman dekatnya mulai khawatir. Mereka pun bergegas mendatangi air terjun. Biasanya Lululah yang berenang mendatangi Jeni dan Ruru di hilir sungai, tapi kali ini mereka yang mendatangi Lulu.

Jeni dan Ruru sangat lega. Di air terjun masih ada air. Air itu menggenang di ceruk terdalam tempat jatuhnya air dari atas tebing.

“Syukurlah Lulu kalau kamu tidak apa-apa. Kami sangat mencemaskanmu.” Kata Jeni yang kemudian memasukkan kepalanya ke dalam air tempat Lulu berenang.

Jeni dan Ruru mulai kehausan langsung menegak air tempat Lulu berenang. Mereka sangat kehausan. Jelas saja, sejak pagi mereka belum minum sama sekali. Apalagi tadi mereka telah berjalan jauh untuk melihat keadaan Lulu. Akan tetapi mereka tidak mungkin meminum air sampai puas. Lulu dan binatang lain harus diberi jatah juga.

“Kalian tahu mengapa Peri Penjaga Sungai tidak mengeluarkan air hari ini?” Tanya Lulu.

Jeni dan Ruru menggeleng.

“Jadi bagaimana sekarang?” Tanya Jeni.

“Kita tunggu sebentar. Biasanya Peri Penjaga Sungai akan datang untuk memeriksa keadaan air.”

Kata Lulu. “Jika ia tidak datang sampai siang nanti, kalian harus memeriksanya ke gunung.”

Siang menjelang. Peri Penjaga Sungai tidak juga muncul. Begitu pula dengan air sungai yang tidak juga datang dari hulu. Jeni dan Ruru pun memutuskan untuk menemui Peri Penjaga Sungai di hulu.

Menurut penuturan Lulu, hulu sungai tepat berada di atas air terjun. Tetapi, Jeni dan Ruru bukan binatang yang bisa memanjat tebing, maka mereka mengambil jalan memutar untuk bisa sampai di tempat Peri Penjaga Sungai.

Setelah lama berjalan, akhirnya mereka sampai juga. Dengan sisa tenaga yang mereka miliki, Jeni dan Ruru mendekati Peri penjaga Sungai yang duduk di depan sebuah telaga kecil. Telaga kecil itu hampir kering.

“Jelaskan kepada kami mengapa air tidak mengalir dari hulu?” Tanya Jeni.

“Air di sungai bawah sana bersumber dari telaga ini. Kalau telaga ini hampir kering, bagaimana mungkin ia bisa mengairi sungai di bawah sana.” Jelas Peri Penjaga Sungai.

“Lantas, mengapa telaga ini bisa kering?” kali ini Ruru yang bertanya.

Peri Penjaga Hutan tidak menjawab. Ia mengajak Jeni dan Ruru ke suatu tempat. Begitu kaget Jeni dan Ruru melihat apa yang mereka saksikan. Para manusia menebang pohon-pohon besar.

Memotongnya menjadi lebih kecil sebelum dinaikkan ke mobil-mobil besar. Kemudian, mobil itu pergi entah kemana.

“Di malam hari ketika para binatang tertidur, aku mengalirkan air-air yang tersimpan di tanah ke telaga ini. Tapi akhir-akhir ini air dalam tanah semakin sedikit. Sementara aku harus terus mengalirkan air ke sungai. Lama kelamaan karena air yang masuk ke telaga lebih sedikit dari yang harus keluar, air di telaga menjadi habis.”

“Apa hubungannya dengan pohon-pohon yang ditebang?” Tanya Jeni.

“Pohon-pohon itu membantu proses daur air. Membantu mengikat air tanah…”

“Oh jadi kalau pohon tidak ada, maka tidak ada air.” Sela Ruru.

Jeni dan Ruru pun bergegas mengabarkan kejadian ini pada seluruh penghuni hutan. Para binatang kemudian mengadakan rapat mendadak.

“Biar kusantap saja mereka.” Kata Ali Si Singa dengan penuh kemarahan.

“Jangan. Kalau mereka sampai terluka, maka akan lebih banyak lagi manusia yang datang ke mari. Bahkan mungkin mereka bisa memburu kita.” Kata Oli Si Kura-Kura. “kita harus memikirkan cara lain yang bisa membuat manusia-manusia itu pergi dan jera datang kembali.” Lanjut Oli.

“Ah aku tahu.” Sahut Yoyo Si Beo. “Begini rencananya….”

Semua binatang merapat, Yoyo pun menjelaskan rencana yang dibuatnya. Dan para binatang

mendengatkan dengan saksama.

Hari eksekusi datang. Para binatang bersiap di tempatnya masing-masing. Binatang berukuran kecil seperti semut dan laba-laba mendekati para manusia terlebih dahulu. Ketika auman singa terdengar, para binatang kecil merayapi tubuh manusia-manusia penebang pohon. Serangga terbang berseliweran menggaggu lewat udara.

“Auuuum”

Ketika auman kedua terdengar, binatang lain yang tadinya bersembunyi keluar. Mereka berlari

dengan sangat kencang dan terlihat garang. Para penebang pohon yang sedang sibuk mengusiri

binatang-binatang kecil tersadar ada binatang lain yang mendekat. Melihat betapa menakutkannya binatang-binatang itu, para penebang pohon lari kocar-kacir sambil menghela binatang-binatang kecil yang masih mengganggu.

Setelah manusia-manusia penebang pohon itu keluar dari hutan, para binatang tidak lagi

mengejar. Mereka bersorak gembira. Ternyata rencana Yoyo untuk menakut-nakuti para manusia

berjalan dengan baik. Tapi para binatang masih memiliki pekerjaan lain. Mereka harus mengganti pohon-pohon yang telah ditebang.

Dengan bergotong-royong. Ada yang mencari bibit di pohon lain. Ada yang menggali. Ada yang menanam. Ada yang menyirami. Karena tidak ada lagi pohon yang ditebang dan pohon-pohon yang ditebang telah diganti, telaga Peri Penjaga Sungai kembali terisi penuh. Dan tentu saja air kembali mengalir hingga ke hilir sungai.

Peri Penjaga Sungai dan para binatang bersuka ria. Mereka berjanji akan bahu membahu

menjaga pohon dan hutan demi hidup yang lebih baik.

 

Poso, 23 Maret 2018

 

Dongeng – Tupito si Kura-kura Penyanyi

Tupito si Kura-kura Penyanyi

Dongeng: Yessi Sinubulan (FDB 2018)

Narator: Yessi Sinubulan

Ilustrator musik: Mosintuwu Institute

download

Ombak kejarlah daku

Aku bisa lari lebih cepat

Matahari ciumlah aku

Biar aku jadi anak berani

Jadi tinggi dan membawa cahaya

 

Dengarkah kau suara merdu itu? Itu adalah suara Tupito si kura-kura. Ia suka sekali bernyanyi. Ia bercita-cita jadi penyanyi hebat di seantero samudra. Ia tak peduli walaupun orang-orang bilang napasnya pendek dan tak cocok jadi penyanyi. 

Setiap pagi Tupito berdiri dekat pantai, menghadap matahari terbit dan mulai bernyanyi. Saat itu Ibu Tupito sedang mempersiapkan rempah-rempah untuk dijual ke pasar. Dalam keranjang Ibu Tupito ada cengkeh pesanan Nyonya Piping si kepiting. Ada lada pesanan Uub, bapak ubur-Ubur yang istrinya baru melahirkan. Ada kayu manis pesanan Paman Gugu si gurita yang baru buka kedai kopi. Ada pala yang dipesan Bibi Yuyu si hiu. Dia mau membuat kue coklat yang paling besar. Anak bibi Yuyu akan berulang tahun dan Tupito akan diundang untuk bernyanyi.

Tupito berlatih sangat keras. Aaaaaa. Ia membuka mulut lebar-lebar hendak melatih napas. Aaa.. Uhug..uhug. Hidung Tupito kemasukan sesuatu. Hmpph.. Tupito mencoba menarik napas. Kok agak sulit. Sekali lagi. Hmmph. Tupito merasa ada yang mengganggu di hidungnya. Tapi apa, ya? 

Tupito berlari ke ibunya. “ibu lihat ada sesuatu di hidungku?” 

Ibu sedang sibuk sekali mempersiapkan pesanan. “Cepatlah, kita harus menyiapkan pesanan.”

Tupito menurut saja walau ada yang tidak beres di hidungnya. 

Tupito mengambil keranjang cengkeh dan menaruhnya di punggungnya. Tupito berjalan dari rumah ke rumah tapi suaranya tak sebagus sebelumnya. 

Ketika sampai di rumah Nyonya Piping Tupito langsung menyerahkan pesanan. Tapi hidungnya makin terasa gatal. Lalu ia bertanya pada Nyonya Piping. 

“Apakah kamu melihat sesuatu di hidungku?” tanya Tupito.

Nyonya Piping membuka hidung Tupito dengan capitnya. Aww. Tupito malah tertusuk capit. 

“Aku tanya yang lain saja,” katanya. Tupito pun melanjutkan perjalanan.

Ia menyampaikan pesanan lada pada Paman Uub. Suara bayi ubur-ubur terdengar nyaring. Tupito menyerahkan lada. 

“Bisakah kau melihat sesuatu di hidungku?” 

Brakk. Belum selesai Tupito bertanya, Paman Uub sudah menutup pintu. 

Selanjutnya ia berjalan ke kedai kopi. Di sana Paman Gugu sedang sibuk mempersiapkan kedai kopinya. Ini hari pertama buka dan ia sangat sibuk. 

“Ini kayu manis pesanan anda, Pak. Bisakah Anda melihat sesuatu di hidung saya?” kata Tupito. 

“Melihat hidungmu tidak akan membuat warungku bertambah ramai,” kata Paman Gugu galak.

Tupito pun pergi dengan sedih. 

Hidungnya semakin tak nyaman. Di rumah Bibi Yuyu ia memberikan pesanan terakhir.

“Bibi Yuyu bisakah Anda melihat..”

“Tupito sepertinya suara kamu parau. Kalau kamu tak bisa menyanyi dengan bagus, aku tak akan mengundangmu di pesta ulang tahun besok.”

Tupito pulang dengan sedih. Menurutmu apa yang harus dilakukan Tupito? 

Tupito pun pulang dan menemui neneknya. Suara Tupito semakin parau. Mungkin ia terlalu keras berlatih akhir-akhir ini. 

“Nek, bisakah kau melihat sesuatu di hidungku?”

Nenek yang sedang membuat syal cepat-cepat memeriksa hidung Tupito. Astaga!! Apakah kau tahu apa yang masuk ke hidung Tupto?

Sebuah sedotan. 

Kau tahu siapa yang suka minum pakai sedotan? 

Nenek mengeluarkan sedotan dan mengobati hidung Tupito dengan ramuan rempah.

Tupito juga diberi minuman rempah buatan nenek agar tenggorokannya cepat pulih. Syal nenek ia lekatkan di leher. Tenggorokannya jadi hangat. 

Besoknya Tupito bernyanyi dengan sangat merdu sampai seluruh samudra sepakat kalau kelak Tupito akan jadi penyanyi hebat. 

Apakah kamu setuju? Kalau begitu yuk, kita bantu menjaga laut tetap bersih sehingga hidung Tupito tidak kemasukan sedotan. Jadi tidak ada yang menghalangi suara merdunya lagi.

 

Cerpen – Jhegeh

Jhegeh

Cerpen : Stebby Julionatan

Narrator: Stebby Julionatan

download

“Kamu masih menari?”

Tiga puluh menit yang lalu tubuhnya hampir menubruk Esha di mulut ruang ganti. Ia tiba-tiba menyeruak begitu saja. Hampir merobohkan sekat ruangan itu. Ya, ruangan ganti itu sebenarnya hanya sebuah sudut di belakang anjungan. Disekat sebegitu rupa hanya untuk memberikan keleluasaan pada kami, para penari, untuk bersiap dan berganti kostum.

“Kau punya waktu?” Tanyanya ragu-ragu. Seperti tak percaya jika kini benar-benar melihatku ada di hadapannya. Aku menangkap sorot mata itu. Legam telaga yang sanggup menenggelamkan siapapun dalam pesonanya.

“Hai, kamu punya waktu?” Fiuh, hampir saja aku terpeleset di sana. Suaranya kembali membentur dinding kesadaran. Aku menunduk cepat. Menaruh dan merapikan hiasan rambut yang masih kupegang. Tak ada pilihan, aku lantas menggangguk.

Ya, aku lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Bahwa setelah bertahun-tahun pasca kepergiannya aku masih tetap menekuri takdirku. Menari.

“Kau tak ingin pindah ke sini?” Ia lanjutkan pertanyaannya saat kami sudah duduk di salah satu bangku taman. Lampu-lampu bola yang membiaskan cantik cahayanya. Sehari sebelumnya, saat aku baru tiba, lampu-lampu taman tersebut rupanya sengaja dipadamkan untuk memperingati Earth Hour. Jadi aku baru tahu kalau ternyata pemandangan dari bangku taman ini ternyata cantik dan… ro-man-tis.

Aku tersenyum samar. Berusaha menahan pias merah yang kurasakan menyembul di pipiku. Sama seperti ketika sejurus kemudian aku menarik nafas dalam, belum berniat untuk menjawab semua tanyanya. “Kau pasti sudah jadi artis terkenal kalau kau menetap di sini,” ia melanjutkan.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku di sini?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Aku sedang bersama teman-temanku. Kupikir, seperti apa asyiknya berkunjung ke TMII di malam minggu? Sudah bosan terus-terusan nongkrong di Starbuck,” ia nyengir. Lantas melanjutkan kembali ceritanya. “Kami berkeliling dan… ketika lewat di depan Anjungan Jawa Timur kulihat ada ramai-ramai. Aku penasaran ada apa. Maka kuminta pada teman-temanku untuk menurunkanku di sana.”

“Tak keluar negeri lagi?” Aku menyela keheningan yang kemudian terasa tak berjarak dari kami. “Aku sering melihatmu di tivi,” kataku.

“Kamu juga sering mengintipku di IG.” Mukaku terasa panas. Ketahuan sering mengintip instagram-nya. Dari ekor mataku aku melihatnya kembali nyengir. Menahan tawa. “Belum. Kan jazz festival baru saja selesai.” Jawaban kali ini ditatanya dengan serius.

Aku tak heran jika kini ia sering keluar negeri. Terbang ke sana-sini seakan jaraknya cuma beberapa meter dari rumah. Mendapatkan undangan dari negara-negara yang tenggah menggelar pertunjukan jazz berskala internasional. Ya, perkusi adalah talentanya. Sejak kami kecil, Mbah telah mengenalkannya pada banyak alat musik tradisional. Pada gong yang menggaung, pada bonang yang berdengung, pada sitar, peking, gambang, demung, suling, kempul, siter dan… kendang pastinya. Ia kini adalah seorang perkusian yang cukup ternama dan dihormati di negeri ini.

Ya, sama tak heranya aku jika kini tampilannya pun berubah. Untuk menaklukkan Jakarta, semua memang harus diubah sesuai standar kota ini. Wajah bersih, maskulin, badan bidang dan… harum. Aku sempat melirik bungkus rokok yang menonjol di saku bajunya. Aih, betapa kini aku telah kehilangannya. Betapa sekarang, aku tak lagi punya hak untuk melarang-larangnya.

“Kau tak ingin pindah ke Jakarta?” Ia mengulangi pertanyaannya. Tak lagi ada logat Sakerah atau medhok Jawa Timur yang kutemukan dalam tuturannya. Tiba-tiba aku merasa hatiku kembali dihinggapi kehilangan untuk kedua kalinya, di saat yang sama.

Ya, pertanyaan itu menghempaskanku pada peristiwa 8 tahun yang lalu. Sebuah lorong. Untuk terakhir kalinya aku menatap bayang punggungnya menjauh dari teras rumah. Sore itu, pertengkaran antara Bagus dan Mbah tak terhindarkan.

*****

“Bagus”

“Tiara,” jawabku ringkas, merespon perkenalannya. Beberapa detik tatap di awal pertemuan yang membuatku mawas kalau legam telaga di matanya bakal menyedot hati siapapun untuk terperosok ke dalamnya. Termasuk Mbah.

Ya, tak perlu waktu lama bagi Bagus untuk menarik perhatian Mbah. Mbah tak punya anak laki-laki. Pun begitu pula dengan kedua cucunya, aku dan Maria, semuanya perempuan. Maka dengan cepat Bagus menjadi kebanggaan Si Mbah. Apalagi, dengan paras dan talentanya yang terus diasah, ia adalah kebanggaan bagi kami semua, di Sanggar Mardi Luhung. Kehadirannya mengangkat kesenian sanggar kami ke permukaan. Undangan demi undangan berdatangan, meminta kami untuk manggung.

Bagus, yang kala itu, kehadirannya di pintu rumah kami seperti hantu –sebab surup-surup datang, meminta diri untuk dibimbing belajar kendang, bahkan aku masih ingat, saat itu dia belum mengganti seragam sekolahnya, kini menjadi cucu kesayangan Si Mbah. Tiga tahun ia menggeser posisiku –kurasa sampai sekarang pun masih sama, posisi yang tak pernah kududuki di hati Mbah. Sampai kejadian sore itu…

“Tari adalah bahasa tubuh yang sakral. Ia bersemayam pada hidup, dan merupakan persembahan agung pada Yang Mpunya Hidup,” seringkali Mbah mengulangi kata-kata ini selepas kami berlatih nari, termasuk hari ini. “Sengkok riyah tak setujuh mon Lengger dedih komersil. Etontonagih biasa padenah dangdut.”

Mbah memang sangat tidak sepakat jika Lengger menyentuh wilayah-wilayah komersil. Dipertontonkan tanpa menghormati yang magis. Hanya untuk lipstik. Apalagi, jika hanya untuk mengisi pembukaan acara-acara pemerintah.

“Tapi Mbah tahu, siapa siapa yang di sini, yang diam-diam main di luar tanpa sepengetahuan Mbah,” suara Mbah tiba-tiba berubah dalam, menyelam jauh ke dalam hati kami. Anak-anak sanggar menunduk. Tak ada yang berani menatapnya.

“Penari di Pasar Mbabian itu hanya merusak citra Lengger. Tak seperti itu harusnya penari Lengger. Minum. Badan ditowel-towel,” Mbah kembali menekan kami.

“Tapi kita akan mati kelaparan kalau sok idealis!” Entah setan apa yang hinggap. Bagus dengan lantang seketika mendebat Mbah. Suaranya mencengkram langit-langit pendapa, berpacu dengan jantungku.

Apa yang kau lakukan? Dengan sorot mataku, aku berusaha bertanya padanya. Suasana terasa makin mencekam.

Ya, bagi Mbah, Lengger adalah tarian sakral. Memang, sudah tidak ada lagi ujian bagi kami, para penari lengger seperti yang dialami Srintil, bahwa kami harus dipermandikan di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Atau… kami pun sudah tak perlu “dikorbankan” kepada salah satu tamu yang mampu membeli kami dengan harga yang paling tinggi. Bagi Mbah, Lengger tetaplah Lengger. Tarian sakral yang hanya ditarikan pada acara syukuran desa. Dan itu berarti, di kotaku, tarian itu hanya ditarikan pada bulan Juli, menjelang hari jadi.

Anak-anak maunya manggung. Biar bisa menambah jam terbang. Tapi itu sulit kalau Mbah tetap bertahan pada pendapatnya. “Kan ada tarian lain,” sergahku. Tapi kau lihat sendiri, kan? Permintaan mereka pada tarian itu lebih tinggi dibanding tarian apapun.

 “Colok’en kakeh! Siapa yang mengenalkanmu pada budaya luhur bangsa ini?” Mbah menggebrak meja. “Kalau kamu kira kamu sudah pintar, silahkan kamu keluar dari tempat ini!” Bibir Mbah bergetar. Sebelum membalikkan badan, aku sempat melihat mata nanar itu.

“Kau mau ikut denganku?”

“Kurasa kau pasti tahu apa jawabku.” Aku menggeleng. Kudengar kata-katanya kembali merambat keluar dari benakku. Bergidik aku ketika mengingat kejadian itu. Tiga tahun runtuh dalam sekejap. Seketika itu, putuslah hubungan tali keluarga di antara Bagus dan Mbah. Antara Bagus dan kami. Yang aku tahu, batin Mbah sangat tersiksa setelah kejadian itu. Jarang ada senyum yang bisa terbit dan kami saksikan di sisa hidupnya.

*****

Oia, bagaimana kabar Mbah?” Bagus kembali bertanya. “Sehat-sehat kan? Apa dia masih seperti dulu? Suka memaksakan kehendaknya?” Kurasa ia ingin menyelamatkan dera kebisuan kami dengan bercanda. Tapi entah mengapa, kali ini candaan itu seperti pisau yang merobek ulu hatiku.

Oia, memangnya ga kenapa ya, kamu ikut sanggar menari lain?” Tanyanya mungkin dikarenakan sekarang aku tengah mengikuti penampilan duta kesenian Kota Probolinggo bersama sanggarnya Pak Pri, Bayu Kencana.

Sebenarnya aku ingin berkabar kalau Mbah sudah tidak ada. Sebenarnya aku ingin berkabar kalau keadaan sanggar kami sekarang sepi. Mungkin kau tak lagi bisa menyebutnya sanggar. Kau benar soal kolaborasi. Kau benar soal mendekati cahanya. Kilau publikasi, jaringan mafia kesenian dan segala macam tetek bengek aturan untuk menyederhanakan sisi asketis tari ketika kita diminta tampil di acara-acara birokrasi.

Tapi kurasa Mbah juga benar. Harus ada orang yang menjaga agar nilai sakral tari itu tetap ada. Harus ada orang yang berani menjaga tradisi.

Hening kembali menguar, dan entah kenapa kali ini aku merasa mual. Padahal tadi, lelaki di sampingku ini mampu menghadirkan sisi romantisme kami yang sempat lesap sepeninggalnya.

“Tadi itu apa yang kau tarikan?”

Jhegeh.”

“Ceritanya?”

“Soal penjajahan. Pribumi yang disuruh tanam paksa selama 50 tahun oleh pemerintahan kolonial. Kopi, tebu, nila dan tembakau yang sebagian besar harus diserahkan kepada Belanda. Tentunya, sangat bertentangan dengan aturan yang ditetapkan.” Aku teringat novel Max Havelar yang belum lama ini kubaca. Bagaimana Max, yang berusaha membela harkat martabat pribumi harus menggung sendiri derita kebobrokan sistem pemerintahan saat itu. “Hal itu membuat rakyat Probolinggo bangkit, jhegeh, melawan penguasa. Tembheng potheh matha angok potteh tolang.” Daripada mati dijajah Belanda lebih baik mati karena berjuang. Aku sengaja mengakhirinya dengan bahasa Madura.

“Aku kangen Mbah.” Ujarnya.

Kau nanti bisa menjenguknya. Membawakannya bunga.

“Kamu nggak mau tinggal di sini?” Ia kembali bertanya.

Kurasa harus ada yang jegeh untuk menjaga budaya di tempat asalnya, Gus. Saat itulah, kurasakan hantu Karni, sang legenda Lengger, tengah menyusup ke dalam tubuhku.

Probolinggo, 19 Maret 2016.

>