Cerpen – Bening di Mata Cakra

Bening di Mata Cakra

Cerpen Astuti Parengkuh

Narator: Astuti Parengkuh

Editor dan ilustrasi musik: Lani dan Ketto (Radio Mosintuwu, Poso) 

 

Untuk ketiga kalinya, Cakra  menerima pesan dari ibu Bening, “Tolong, kau jaga Bening ya. Ibu tidak tahu apa yang nanti akan terjadi di sekolah. Dia nekat berangkat padahal sudah Ibu cegah.”

 “Ibu nggak usah khawatir, Bening akan baik-baik saja,” jawab Cakra. Bening Jatiningtyas, tetangganya yang teman sekelas tak mengetahui jika ibunya berkirim pesan kepada Cakra Baladewa. 

Hari sabtu sekolah pulang pagi, dan ini kesempatan Cakra untuk dapat berbincang dengan Bening. Dipilihnya taman dekat parkir sepeda. Puluhan batang pohon akasia tengah meranggas daunnya karena musim hujan yang tak kunjung datang. 

Musim yang tak selalu bisa ditebak, membawa sejumlah  kata tanya yang tak terjawab. Bangku-bangku taman yang berdebu, tanah dipenuhi daun-daunan yang berserakan, serta udara siang yang menyengat. Masih dengan tanya yang sama, ke mana perginya suara burung-burung yang biasanya berkicau. Mungkinkan mereka telah terbang di gunung atau rerimbun daun di tempat lain? 

“Bening, bisa kau duduk sebentar di sini?” Cakra menghentikan langkah Bening saat gadis itu hendak mengambil sepedanya. “Ada apa? Kamu tahu kan kejadian tadi pagi? Mau menanyakan itu?” jawab Bening beruntun.

“Maafkan aku dan teman-teman, Bening. Aku nggak bisa ngebantuin kamu. Aku nggak tahu mesti berbuat apa,” Cakra menggeser tempat duduknya.

Beberapa teman melintas sambil bisik-bisik lalu tertawa cekikikan.

“Duh, sang ‘Pangeran’ sedang duduk bersanding dengan ‘Puteri Bersisik’,” canda mereka.

Bening menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ditahannya sesak tangis yang menggumpal, lanjutan dari kemasygulan peristiwa pagi tadi. Ya, jam pertama sekolah adalah pelajaran renang dan Bening tak diberi kesempatan oleh teman-temannya untuk dapat mengikuti. Dia ingat kejadian tadi. 

“Kamu lihatlah badanmu itu. Pantaskah untuk bersama kami dalam satu kolam renang ini?” kata Vina, sang ketua kelas.

“Tapi…tapi….,” Bening lantas duduk di kursi yang berderetan di pinggir kolam renang. Pak Guru pengajar olah raga mempersilakan Bening untuk tidak mengikuti pelajaran renang pagi ini. 

Bening menggigil dalam kesendirian.

Cakra yang melihatnya dari jauh seakan mahfum apa yang menjadi keputusan pak guru. Kolam renang menjadi lengang. Bening beranjak ke loker tempat penyimpanan tas dan sepatu. Bergegas dia kayuh sepedanya, menuju gedung sekolah melanjutkan belajar.

Cakra memulai pembicaraan.

“Kamu sudah mendapatkan surat pernyataan dari dokter? Padahal saat kamu masuk sekolah di sini, tak separah keadaan sekarang,” Cakra menatap mata Bening.

“Ada sebuah beban pikiran yang mengganjal akhir-akhir ini,” jawab Bening sesaat.

“Mau bercerita?” tanya Cakra.

“Boleh, tapi tidak di sini. Nanti sore kutunggu di kolam ikan, di citywalk depan rumah kita,” jawab Bening. Dua sahabat itu kemudian mengakhiri perbincangan. 

***

Suasana kelas masih menyisakan keperihan di hati Bening. Tentang kelainan yang dideritanya, ya, kelainan yang disandang Bening sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Kondisi yang akhirnya membaik ketika dia masuk SMP. Sesekali saja kambuh, namun dokter telah mengatisipasi dengan memberikan obat yang diminumnya rutin. Saat lamunannya sedang membuai, tiba-tiba suasana dikejutkan dengan ulah Cakra yang maju dan berdiri di depan kelas. 

“Hai, kalian kawanku. Maukah sedikit mengerti tentang keadaan teman kita, Bening? Sungguh, aku telah banyak searching tentang kelainan yang dideritanya itu tidak menular. Please, don’t worry, Friends…” Cakra tak meneruskan bicaranya.

“Cakra, sudah!” Suara Bening menyela.

Cakra berhenti bicara. Tiba-tiba tenggorokannya seperti tercekat. Apalagi tatkala dipandangnya Bening yang tengah duduk di bangku, menelungkupkan wajahnya di atas meja. Sepulang sekolah, Bening bercerita kepada ibunya bahwa telah terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. 

“Ibu, aku rindu Bapak,” gadis itu merajuk. 

Bening menyusuri masa lampau. Ya, saat di mana dia kecil dulu sangat berlimpah dengan kasih sayang dan semua kebanggaan sebagai sebuah keluarga. Waktu terus mengikis kenangan hingga tak tersisa sedikit pun sesuatu yang dia kais-kais sendiri dalam perjalanannya. Sampai sebuah kesadaran menyeruak bagaikan hunjaman sebuah belati. Kesadaran yang muncul begitu saja dan amat memerihkan sekeping hati. 

Bapak hanya menyapa dan berbasa-basi di  telepon. Dan baginya tak ada yang lebih penting dari sebuah pertanyaan, “Kau sedang butuh Bapak belikan apa? Uang sakumu masih kan, Sayang?”

***

Citywalk di depan rumah lengang. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang keluar dari sebuah swalayan yang berjarak beberapa puluh meter saja dari pagar  rumah. Sebentar sore, pasti tempat ini ramai dengan reriuhan bocah, entah dari mana mereka datang. Beberapa deret batang pohon kurma menjadi pemandangan yang indah di depan sebuah komplek tempat ibadah. Nun jauh di sana beberapa ratus meter jarak pandang dari sebuah bangku kecil, kedai-kedai makanan mulai dibuka.

Masih ada waktu beberapa puluh menit lagi menunggu kedatangan senja. Senja yang biasanya diiringi semburat warna jingga dan akan menyembul di antara pucuk-pucuk dedaunan pohon kurma. Hari ini terang benderang, dan dia tak ingin melewatkan begitu saja momen itu. 

Sebentar lagi Cakra pasti akan menampakkan batang hidungnya, batin Bening. Sudah tiga tahun lamanya dia hidup bertetangga dan bersahabat dengan remaja laki-laki keturunan Timur Tengah itu. Meski ada sesuatu yang Bening sembunyikan dari  Cakra. Jawaban pertanyaan yang selalu dia tunda-tunda apalagi kalau bukan pertanyaan Cakra mengenai Bapak. Mengapa aku jarang melihat bapakmu, Bening? Atau macam begini, Bapakmu orang sibuk ya?

Benar saja, Cakra datang dengan sekantong makanan. Dia bilang bahwa baru saja kedatangan tamu dari Ambon. “Kau tahu buah kenari kan? Nah kue kenari ini buatan tante aku yang lagi bertandang di rumah.”

“Di sini lagi banyak angin. Tak bagus untuk kondisimu saat ini. Aku pernah membaca, seseorang dengan Psoriasis yang menyertainya, selain tak boleh banyak stres juga nggak boleh kenal cuaca yang ekstrem. “ celoteh Cakra.

“Kita ke rumahku? Ngobrol di teras sambil ditemani teh atau kita todong ibuku untuk bernyanyi! Hahaha… Kamu kan pandai bermain gitar. Ayolah…”

Hari kian beranjak malam. Sesuara alam dengan segera menyadarkan Cakra untuk segera pulang. Di rumah tengah berkumpul keluarga besarnya. Pasti dia sudah dinanti-nanti di sebuah lingkaran meja makan yang besar untuk perhelatan makan malam.

“Tante dan Bening boleh bertandang ke rumah. Ada sanak kerabat yang datang dari jauh. Pasti suasana bertambah semarak jika Tante bertemu dengan tanteku. Orangnya ramah, ramai kayak Tante,” Cakra berpamitan. 

***

“Mereka akan pindah rumah,” kata Mama Cakra. 

“Serius?,”Cakra keheranan. Terhenyak dia dari tempat, kursi sofa yang diduduki.

“Rumah keluarga itu sudah ditawarkan pada sebuah agen property,” kata Mama Cakra.

“Mengapa mesti dijual? Mereka kan masih bisa tinggal di rumah itu setiap waktu?”tanya Cakra mencecar.

“Bapaknya bangkrut. Rumah itu sebenarnya hendak disita oleh bank, namun ada upaya untuk menjualnya terlebih dahulu,” Mama Cakra menjelaskan lagi.

“Duh…”, Cakra berpangku tangan. Tak berapa lama tangannya meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat dia duduk. Sebuah pesan dia kirim untuk sahabatnya, Bening.

“Kamu baik-baik saja kan, Bening?” 

Pesan yang tak langsung dijawab oleh Bening. Cakra seketika berjalan cepat dan membuka pintu pagar. Beberapa langkah saja dia akan sampai lalu mengetuk pintu rumah Bening dan hendak mengatakan kepada gadis itu bahwa dia akan baik-baik saja seperti biasanya. Sebelum suara gembok pintu pagar benar-benar dia buka, mamanya tiba-tiba mengagetkan dengan sebuah tepukan di pundak.

“Mereka sudah pergi. Sia-sia saja kamu jika nekat mendatangi  rumahnya,” kata Mama Cakra. Cakra tak surut langkah. Sampailah dia di depan pintu pagar dan mendapati sebuah tulisan tertempel di dinding dan terbaca sangat jelas. 

RUMAH INI DIJUAL CEPAT. HUBUNGI NOMOR SEKIAN.

Cakra tak mengira jika Bening akan berpindah rumah dan sekolah secepat itu. Tiba-tiba ponsel yang ada di saku bajunya bergetar, tanda ada pesan masuk.

“Cakra, aku baik-baik. Masih kunanti waktu kita bisa ngobrol lagi di bangku dekat kolam ikan, citywalk depan rumah kita.”

Segera dia menjawab pesan itu.

“Aku tahu kok, kamu sekarang punya sahabat baru lagi. Ya, si ‘Luppy’. Istilah untuk kawan barumu itu kan? Jika dia telah pergi, maka datanglah ke mari, Bening” 

Sebulan lalu, Cakra mendapat kabar bahwa sahabatnya itu positif mengidap penyakit Lupus yang menyerang sebagian kulit dan kekebalan tubuhnya. Bening tetaplah bening di mata Cakra. Bening yang selalu bersemangat menjalani hari-hari dan mengukir waktu dengan segala keceriaan yang ada padanya. []

 

BIODATA PENULIS : Astuti Parengkuh nama pena lain dari Astuti J. Syahban,  lahir 12 Agustus 1971. Selain sibuk sebagai ibu rumah tangga juga bergiat di kepenulisan. Sebuah novel memoar telah lahir dari tangannya. Beberapa novel anak menghiasi perpustakaan-perpustakaan sekolah. Ibu tiga anak yang aktif di sebuah lembaga parenting ini, selain dikenal sebagai mahasiswi FKIP Psikologi Pendidikan dan Bimbingan juga tercatat sebagai relawan pendampingan pasien anak berpenyakit kelainan darah di RS. Sardjito,Yogya. Dia tinggal di Solo. Cp : 085642037129, e-mail: astutijsyahban@yahoo.com. No.rek : Puji Astuti , BRI Unit Semanggi SOLO 3094-01-015223-53-8. NPWP : 26.021.114.9-526.001 

 

 

 

 

 

  

 

 

Cerpen – Ulos Bolean

Ulos Bolean

Cerpen Yuditeha

versi cetak: antologi Kotak Kecil Untuk Shi

Narator: Astuti Parengkuh

 

Sekarang baru pukul lima sore, tapi malam rasanya seperti datang lebih awal dari biasanya. Langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar tenggelam di cakrawala. Entah kenapa perasaanku seperti tidak nyaman. Aku duduk di teras sedang memerhatikan perubahan alam itu. Aku seperti baru menyadari kalau desa ini rasanya lebih primitif dari desa asalku, padahal desaku masih dekat dengan hutan. Waktu aku kecil dulu, kupikir hutan hanya ada di sana, di tempat di mana aku berasal. Aku membayangkan seluruh tempat selain desaku adalah kota-kota yang mewah, terlebih di pulau Jawa.

Dulu, saat kau mengatakan, akan mencari tempat tinggal untuk kita, kupikir kau tidak akan mengajakku ke tempat pedalaman seperti ini. Ingat ya, aku mengatakan begitu bukan sedang mengharapkan kemudahan-kemudahan atau kemewahan-kemewahan. Sama sekali tidak. Bukankah kamu tahu sendiri, aku juga memperjuangkan cinta kita di hadapan keluargaku. Meski awalnya mereka juga keberatan ketika aku memilihmu untuk kujadikan suami tetapi pada akhirnya mereka menyetujuinya. Bahkan ketika kau akan memboyongku ke Jawa, mereka memberiku setumpuk ulos lengkap yang mereka yakini ulos-ulos itu akan berguna bagi kehidupan kita di sini. Ulos itu adalah perlambang penghormatan kami kepada lelehur. Terkhusus untukku, mereka berharap meski aku berada jauh dari tanah Batak, semoga aku selalu ingat dari mana aku berasal.

Untuk masalah tempat ini, sejujurnya aku ikhlas. Apa yang kubicarakan tadi hanya sebatas aku mengenang bayangan yang kupunyai di masa kecilku. Dulu aku berpikir, seluruh wilayah di pulau Jawa berupa kota-kota. Segala jenis kota ada di pulau Jawa. Meski lambat laun bayanganku tentang kota-kota itu pudar oleh kedewasaanku tetapi pemikiran di masa kecilku itu terkadang masih saja muncul. Bayangan-bayangan yang kupunyai waktu itu seperti tetap ada di bawah kesadaranku. Pada akhirnya aku sungguh-sungguh diyakinkan bagaimana sebenarnya keadaan pulau Jawa, aku kesampaian menginjakkan kaki di tanah Jawa ini, pada saat aku diberi kesempatan bisa menempuh ilmu di sini. Dan hal itu semakin gamblang saat aku melaksanakan program KKN. Pada saat itu kami ditempatkan di sebuah desa yang sangat terpencil.

Kelebat seekor kelelawar sempat kulihat terbang rendah di depan rumah. Kesunyian malam ini semakin terasa. Deru angin yang menggoyangkan daun-daun pun terdengar dengan jelas. Pada saat itu aku seperti baru disadarkan bahwa desa ini sungguh-sungguh sepi. Lantas aku berpikir, laku hidupku ini seperti sebuah perjalanan untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaanku pada saat aku kecil dulu. Sampai akhirnya bukan saja aku ditunjukkan bahkan kini aku tinggal di desa yang sunyi ini, salah satu desa pedalaman di pulau Jawa. Aku memerhatikan keadaan, rupanya malam telah benar-benar datang.

Ibu Tutik, tetangga terdekat kita (dalam arti jarak), datang bertamu ke rumah kita. Dia ingin bertemu denganmu. Kupersilakan dia masuk rumah dan duduk di ruang tamu. Aku mencarimu dan mendapatimu sedang membaca di samping rumah. Setelah kuberitahu perihal kehadiran Ibu Tutik, kita bersama-sama menemuinya.

“Kok malam-malam, Bu. Ada apa ya?” tanyamu begitu kita telah sampai di ruang tamu.

Ibu Tutik tidak segera menjawab. Kulihat dia seperti ragu-ragu bicara. Entah kenapa, aku meyakini pasti ada sesuatu. Mungkin sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan sedang terjadi. Tetapi apa itu, aku tak tahu.

“Ada apa, Bu?” tanyamu lagi terlihat penasaran.

“Tadi siang ada yang mencari Mas Bimo. Rumah sedang kosong.”

“Kami sedang ke puskesmas, Bu. Kontrol si kecil ini,” sahutku sembari kuelus perutku yang mulai membesar.

“Gimana kandungan Mbak Manurung?”

“Sehat Bu,” jawabku.

“Oya lantas gimana tadi, Bu?” tanyamu seperti tidak sabar.

“Orang itu ke rumah saya.”

“Ibu Tutik tahu, siapa dia?” tanyaku.

“Dia tidak lama. Saya tidak kepikiran menanyakan siapa dia, Mbak.”

“Lalu gimana, Bu?” tanyamu.

“Dia memberitahu, kalau bapak.. bapak Mas Bimo meninggal. Ibu Mas Bimo meminta Mas Bimo datang. Katanya jenazah akan dimakamkan esok pukul 1 siang Mas.”

Mendengar Ibu Tutik mengatakan begitu, dadaku seperti tersentak. Kabar itu seperti mengingatkan bahwa kita telah lama menjadi anak yang durhaka. Meskipun aku yakin menurutmu tidak demikian, bahkan saat kau mendengar kabar itu kau tampak biasa saja. Tidak kaget sedikit pun. Apakah dendam itu masih mendekam di hatimu? Setelah Ibu Tutik pulang, kau langsung melanjutkan membaca. Ah, kerasmu memang tak berkobar-kobar di mulut tapi mengkristal di hatimu. Kau tampak tenang saja seperti tak terjadi apa-apa. Sebaliknya dengan apa yang kurasakan. Kupikir inilah jawaban atas tidak nyamannya perasaanku tadi sore. Sejak mendapat kabar itu perasaanku semakin tidak nyaman. Aku ingin sekali mengajakmu bicara. Pikirku sebaiknya kita segera bersiap pergi melihat jasad bapak untuk yang terakhir kalinya. Paling tidak menemani ibu dalam masa berkabung ini.

Bukankah kemarin-kemarin aku selalu menurutimu? Setiapkali aku ingin menjenguk orangtuamu, kau selalu melarang karena kau menganggap bapak telah mengusirmu. Bapak sudah tidak mengakuimu sebagai anak, dan aku tahu hal itu hanya demi aku. Dulu kau tidak menuruti kemauan bapakmu untuk memilih jodoh di lingkaran keningratan kalian bahkan kau tetap nekat memilih untuk menikahiku, yang menurut bapakmu pribadi, hal ini akan memutus garis keturunan keningratan kejawaanmu. Selain itu kau akan masuk dalam dunia marga Batak. Kau akan punya nama Batak dengan cara dilemparkan ke saudaraku dan masuk dalam garis marganya bahkan nama itu nanti sampai kepada garis keturunan kita. Oleh karenanya nama margaku terhenti. Aku tahu sesungguhnya kau tidak memedulikan masalah itu karena yang kau anggap penting adalah rasa cinta itu sendiri. Cinta itulah yang menurutmu harus diperjuangkan. Tetapi keberanianmu itu membawa konsekuensi yang tidak mudah. Bapakmu marah dan mengusirmu dari rumah. Kau tidak lagi menjadi anggota keluarga mereka. Dengan ketetapan hati kau pergi dan memberanikan diri menikahiku dan akhirnya membawaku ke desa ini. Aku sangat menghormatimu, kau memang lelaki pekerja keras. Dengan tanpa membawa harta sepeser pun dari bapakmu kau mampu membahagiakan aku.

Jika boleh aku bicara, dan memberi saran, kini saatnya kita mencoba mendekat kembali ke orangtua, dalam hal ini bapakmu. Bukankah kau tahu, yang namanya bapak kandung tetaplah bapak kandung. Tidak ada bekas bapak kandung. Bapak memang seyogyanya harus kita hormati, bahkan sebangsat apa pun seorang bapak, kita tetap harus menghormatinya. Tidakkah kau ingat, dulu aku pernah menceritakan hal ini kepadamu? Bagi kami, perempuan Batak, orangtua itu penting, terlebih bapak. Bapak seperti segala-galanya. Perempuan Batak harus menyayangi bapaknya. Jika nanti perempuan itu sudah menikah, dia juga harus bisa menyayangi mertuanya, terlebih bapak mertuanya. Harusnya kau tahu bagaimana perasaanku selama ini. Pada kenyataannya aku masih punya mertua, tetapi aku seperti tak pernah memedulikan mereka, terlebih bapak. Ya, ya, ya, aku tahu, pastinya perasaanmu lebih tersiksa. Tapi tidak bisakah kau luluhkan hatimu di hari terakhir beliau ini? Mari kita bergegas pergi ke sana. Saat semua pemikiranku itu kusampaikan kepadamu, kau tetap menanggapinya dengan tak acuh.

“Kita pasti akan pergi ke sana tapi bukan sekarang. Setelah selesai pemakaman kita akan menemui ibu,” katamu.

Malam itu kau tetap memutuskan tidak pergi. Setelah perbincangan itu kita jadi saling diam. Aku yakin kita bukan sedang marahan, lebih tepatnya pikiran kita saling sibuk sendiri. Tentu saja aku berpikir bagaimana caranya agar kau mau mengubah keputusan lalu bersedia melayat esok hari. Kupikir kita masih ada waktu untuk membicarakannya, tentu saja jika kau berkenan. Sebelum akhirnya aku memutuskan tidur, aku mencoba lagi untuk mengajakmu bicara. Tapi perbincangan itu tak juga mampu mengubah keputusanmu. Akhirnya aku menyerah dan lebih dulu izin berangkat tidur dengan perasaan tidak menentu. Pada saat aku membaringkan badanku di tempat tidur, pikiranku tetap mengembara. Aku membayangkan ada seorang anak yang tega menyia-nyiakan orangtuanya. Gambaran tentang kuasa kemurkaan terus mengemuka dalam benakku. Dini hari, mataku baru merasa ngantuk. Sebelum terlelap aku masih sempatkan berdoa, memohon petunjuk kepada-Nya.

Pagi datang. Udara kurasakan lebih sejuk dari biasanya, membuat hati menjadi lebih tenang, terlebih lagi karena aku merasa telah menemukan caranya. Cara agar aku bisa pergi menemui ibu. Oh, tampaknya Tuhan memberi jawaban atas doaku. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan rumah dan mempersiapkan makan untukmu, aku segera mandi. Selesai mandi aku mengenakan pakaian yang cocok untuk situasi berkabung. Nantinya aku akan mengenakan selendang Ulos Bolean. Selain itu aku juga akan membawa ulos Ragi Pakko yang jika memungkinkan rencananya akan kubentangkan sebagai selimut di peti mati bapak. Ini lambang penghormatan di adat kami untuk orangtua yang meninggal. Dengan cara itu semoga kamu bisa memakluminya. Bukankah kau sangat menghargaiku sebagai orang yang berbeda? Jika kau tak berkenan datang, aku yang akan datang sendiri mewakili segenap jiwa kita untuk penghormatan kepada bapak. Jika kamu nanti berubah pikiran dan bermaksud ikut, masih ada satu lagi ulos Bolean. Kau bisa menggunakannya sebagai ikat kepala.

Pada akhirnya aku memberanikan diri menyampaikan semua itu kepadamu. Tapi kurasa merasa tak ada tanggapan yang berarti darimu aku langsung berlalu menyiapkan perlengkapan bepergian. Pada saat aku sibuk menyiapkan perlengkapan itu, kau mendekatiku.“Ulos Bolean yang satunya kautaruh mana?” tanyamu.

***

Cerpen – Perahu Rongsok

Perahu Rongsok

Cerpen: Indah Darmastuti

Versi cetak: Harian Minggu pagi, Minggu ke-5 Juni 2014

Narator: Maya Sandita

Editor dan Ilustrasi Musik: Lani dan Ketto (Radio Mosintuwu, Poso)

 

Tentu saja aku tahu. Aku meminjam mata mercusuar yang menjulang di pulau karang itu. Mata yang selalu berkilat-kilat memancar mengamati setiap apa dan siapa saja yang lewat. Kapal dagang, kapal kargo, kapal penumpang, kapal pesiar, kapal nelayan, kapal patroli, bahkan kapal penyusup. Mata yang selalu bersitatap dengan layar dan kemudi, haluan dan buritan. Kepadamu mata mercuku pasti sanggup menceritakan dengan rinci setiap pelayaran itu, pula mengisahkan kondisi dan situasi laut. Saat pasang naik atau pasang surut. Sulit dibedakan, mana mataku, mana mata mercu.

Suatu hari, ada seorang penerjun tersesat karena angin terlampau kuat menyeretnya, menjauh dari titik sasaran pendaratan. Jelas mata mercuku yang pertama kali tahu. Tim penyelamat datang terlambat sehingga penerjun itu sekarat berombang-ambing gelombang dengan tubuh terjerat tali-tali parasutnya sendiri.

Mata mercuku paham benar, betapa tangkasnya merpati laut mengintai dari ketinggian, menukik tajam lalu menyambar ikan-ikan kecil yang sedang riang berenang. Slaaap!! Langsung sikat! tanpa memberi kesempatan mangsanya untuk terpana apalagi berdoa.

Juga tahu pasti, kala gelondong-gelondong kayu berdiameter sedepa tangan dewasa dipindahkan dari gua garba mooi indie ke garba lain lewat kapal berbendera lusuh dan berlambung rapuh ke kapal berbendera merona pada malam buta di antara jutaan plankton yang berkeriap di permukaan laut. Biru lazuardi, hijau berkilau.  

Atau saat daging Salmon dan bibir sensual Napoleon, mekar menjadi idola di restaurant-restaurant dan hotel-hotel berkelas. Berapa saja kapal yang hilir mudik mengangkut calon hidangan utama pada jamuan istimewa itu? Yah! Dari dalam laut pindah ke piring-piring keramik China di hotel-hotel bintang lima. Tempat para konglomerat menandatangani kesepakatan-kesepakatan penting demi tegaknya sebuah singgasana. Juga kesepakatan dagang. Dari jual-beli lidi sampai jual-beli hati.

Mata mercuku tak pernah lelah menatap, mengawasi, menjadi saksi. Apakah bulan sedang purnama atau baru tanggal pertama. Bahkan saat gerhana pun, mata mercuku tetap awas. Apakah di langit sedang terhampar awan mendung gelap, awan stratus atau cumulonimbus, ketajaman mata mercuku tak perlu diragukan.

Seperti dua malam lalu. Saat ombak menderu, bintang perak dan bulan emas jatuh di antara buih putih. Sepi lebih menggigit dari sebelumnya. Sebuah gelombang besar tengah menyeberangkan perahu-perahu yang penuh bermuatan puisi-puisi dan sajak-sajak belia dan prosa-prosa yang dilumuri mimpi-mimpi prematur. Menuju sebuah tempat yang sedang merayakan pesta keringat manusia.

Lihatlah di matanya, mata para perahu itu. Mata mereka adalah laci-laci yang berisi surat-surat gadai dan tagihan utang. Beberapa di antaranya terselip surat cerai. Ah, iya. Ada juga segepok resep obat yang harus ditebus segera, sebagai trisula untuk bertarung melawan malaikat maut yang semena-mena menuding, ingin merebut nyawa suami atau anak-anaknya, atau ibunya, atau mertuanya. Gila bukan? Perahu-perahu rapuh itu harus bertempur melawan malaikat, di sebentang samodra yang bergelombang dahsyat!

Mereka berduyun datang memenuhi undangan, atau panggilan? Diam-diam menyelinap menghindar dari tangkapan kaisar laut. Menyelinap, jangan sampai kedatangannya diketahui, bahkan oleh bayangannya sendiri. Keinginannya adalah lekaslah waktu berlalu, hari berganti. Dan lekaslah sampai di negeri janji yang menawarkan koin-koin dan lembaran-lembaran penebus hidup yang sudah tergadaikan pada tahun-tahun penuh penghinaan, kekerasan dan perjuangan. Di sebuah negeri yang mengidap ironi.

Lekaslah terlewati malam-malam insomnia yang merebut tidur percuma karena dihantui sejumlah digit tagihan berbagai pajak dan pembayaran. Menanggung mulut dan perut yang tak mungkin ditenangkan dengan merebus batu-batu.  

“Menyumbangkan devisa?” itu jerit karang pemecah gelombang yang tak sudi memendam rahasia. Selalu blak-blakan apa adanya. Kadang keceplosan hingga yang mendengar mengurut dada. “Mereka datang dari sebuah kampung kecil di Riau. Yang paling muda itu, ia diambil dari kemiskinan lalu dinikahkan dengan anak lelaki tetangga desa untuk menuju kepada kemiskinan yang lain. Mertuanya ingin pergi ke Mekah butuh tambahan biaya. Kalau yang itu, yang manis berambut ikal itu, ia ingin membelikan sepeda motor buat ayahnya supaya jangan berjalan kaki saat berjualan buah di gang-gang kampong di desa tetangga. Lalu bermata sayu itu, ia ingin menyeberang karena sudah tidak tahan terus melarat. Namanya Dara. Lihat saja, penderitaan sudah menghanguskan kegembiraan hingga tak tersisa sinar di matanya. Hanya meninggalkan cekung di seputar mata seperti danau di musim kemarau. Dan lihatlah bercak-bercak cokelat tua pada pipi mudanya. Tentu kulit wajah, leher dan tangannya tak pernah mengenal sunblock atau krim-krim pemutih dan pencerah wajah. Tak mengenal scrab dan body lotion yang melembabkan kulit tubuhnya, yang jika diberi perawatan rutin, pasti tak kalah indah dengan kulit tubuh kaum ningrat atau sosialita.”

Malam sudah sangat larut saat angin laut makin menderu, entah lantang atau lancang, mengajak bertaruh bersama sepi, bersama ombak juga mata mercuku, bahwa tak lebih setahun pasti perahu-perahu itu akan kembali. Mata mercuku berharap Angin itu tidak sedang bernubuat, lalu menunggu penggenapan-penggenapan. Mata mercuku selalu berharap, biarlah mimpi-mimpi Perahuwan itu terwujud, mimpi mereka bukan jenis mimpi yang buruk.

Tetapi siapa yang tak tahu kalau di sana, perahu-perahu itu akan dipaksa berlayar siang-malam tanpa henti. Menjadi alat pengangkut yang terus didorong tanpa hati. Berputar-putar, dihalau untuk melayari laut-laut asing, ceruk-ceruk asing. Mengatasi badai. Telanjang tanpa perlindungan, tanpa jaminan.

Bahkan sinarmata mercuku sanggup menembus kabut gelap yang menyelimuti kantor-kantor atau biro-biro yang menangguk keuntungan dari pelayaran perahu-perahuwan muda itu. Saat mereka menagih upah yang tak jua terbayarkan, mereka datang pada mereka yang pernah melayarkan ke seberang itu. Tetapi ada kata sakti untuk membungkam haknya: ilegal! “kau datang secara ilegal!” Sambil memelintir kumis menjilat harta rampasan dari perahu-perahu yang membawa mimpi-mimpi kandas. Macam bajak laut yang beroperasi di darat. Mereka lupa bahwa mata mercuku sungguh tahu kalau perahu-perahu legal pun tak lebih beruntung.

Lihatlah, sambil membakar surga yang berada di telapak kaki Dara, mereka tertawa bangga, membanggakan neraka yang disunggi di atas kepalanya. Lalu mereka bersulang segelas keringat yang diperas dari pori-pori Dara dan kawan-kawan sepenyeberangan.

“Semua ada aturan mainnya. Tergantung kalian bermain dengan siapa.”

“Sudah jadi takdir kalian. Mestinya kalian tahu, bahwa tak mungkin di dunia ini semua akan bernasib mujur. Harus ada yang hancur.” Kalimat-kalimat seperti itu yang keluar dari kisi-kisi jendela dan celah pintu, yang ditangkap mata mercuku.

Makin hari, tulang belikat, tulang pipi, tulang leher Dara dan kawan-kawannya kian berterus terang. Tonjol menonjol semakin tampak tercetak. Sebulan tak digaji, untuk ganti ongkos jalan. Dua bulan tak digaji untuk bea administrasi, tiga bulan tak digaji untuk upeti. Empat bulan tak digaji untuk sandra dengan tebusan sepasang kaki jenjang yang harus rela bertualang. Menjadi sampan yang didayung dari malam ke malam.

Mata mercuku tahu, terkadang tiang gantungan menjadi jawaban atas pertanyaan Dara. Atau sebaliknya, pertanyaan itu yang digantung di tiang bendera kedutaan yang hati yang jantungnya didetakkan dengan baterai buatan luar negeri.  

“Sampai kapan kami tidak menerima gaji yang menjadi hak kami? Kami sudah bekerja dengan tenaga kami.” Itu pertanyaan terakhir yang digantung di tiang bendera kedutaan.

Cengkok lagu melayu hanya sanggup menginterupsi sejenak kerinduan Dara pada bau asin air laut dan angin liar yang membelai-belai betis kurus keringnya. Bayangan wajah ibu yang duduk merindu di depan gubug menunggunya pulang makin menyeretnya bersama mengajak kawan-kawan sepenyeberangan untuk menurunkan pertanyaan yang digantung di tiang itu.

Isakan. Airmata terburai. Semusim belum genap. Tuhan menjauh. Rindu sudah berubah menjadi hantu yang menghantui hari-hari berat. Perahu-perahuwan itu mulai lumpuh dimangsa malam. Mengembarai teluk, delta dan palung-palung. Lalu begitu saja harus pulang. Maksudnya dipulangkan. Pulang bagi mereka terlalu indah.

Maka sekali lagi pada malam buta, gelombang menyeberangkan perahu-perahu. Kala angin bungkam dan ombak teredam marah dan dendam. Bulan sudah tertusul tiang layar, bintang bimbang bersinar.

Perahu rongsok melintas, mengapung bingung diayun gelombang. Lambungnya, haluan dan buritan sudah menjadi kanvas tanpa tepi yang dilukisi caci maki. Mereka mengangkut kembali mimpi-mimpi prematur yang hancur sebelum mereka terjaga. Seperti yang sudah-sudah, yang mereka bawa bukan cenderamata, tetapi dukalara. []

 

Cerita Anak – Si Pirok ke Kota

Si Pirok ke Kota

Diangkat dari buku karya:

Felicia Nayoan Siregar dengan illustrator Astrid Sevrina Van Eenbergen.

Penutur Liston P Siregar

 

Di kawasan hutan tropis di Kalimantan, hujan lebat bias turun tak henti-hentinya sepanjang hari dan malam. Namun esoknya, matahari bersinar terang sejak terbit pada pagi hari hingga terbenam.

Dengan siraman hujan dan sinar matahari yang banyak, tanaman di hutan tumbuh subur dengan pohon-pohon yang bisa sampai setinggi tugu Monas di Jakarta. Dan ada ribuan tanaman di dalam hutan Kalimantan yang membuat beragam satwa gembira: burung-burung, harimau, babi hutan, monyet, dan orang utan.

Pada suatu pagi yang indah, Pirok, seekor orang utan kecil bermain gembira di hutan. Pirok senang berayun dari pohon ke pohon, dan selalu ingin tahu. Tiba-tiba dia mendengar sesuatu…

Dari atas pohon, dia melihat seorang anak kecil, Antar, yang tidak tinggal di hutan. Dia pasti dari kampung kecil di tepi hutan. Antar suka berjalan-jalan ke hutan untuk mengumpulkan buah-buahan. Ada durian, mangga, pisang.

“Hmmm buah-buahan kesukanku,” kata Antar, sambil memasukkannya ke dalam keranjang rotan di punggungnya.

Lelah memetik buah-buahan, Antar duduk bersandar di salah satu pohon dan tertidur lelap. Pirok yang mengamati dari tadi, turun dari pohon ingin tahu apa yang ada di dalam keranjang Antar dan
Pirok melihat ada mangga, pisang, dan durian. Lelah berayun dari satu pohon ke pohon lain,  dia merasa agak lapar dan makan habis semua buah dalam keranjang itu. Kekenyangan, Pirok tertidur di dalam keranjang. Tak lama kemudian, Antar bangun dan berjalan pulang. Tapi… apakah buah-buahan di dalam keranjangnya masih ada?

Di tengah perjalanan, Pirok terbangun. Dari dalam keranjang dia melihat banyak hal yang belum dia lihat sebelumnya. Dia melihat banyak orang berpakaian bagus-bagus. Dia melihat bangunan berjajar, besar dan kecil dan tinggi.

Dia juga melihat kenderaan beroda dua, tiga, dan empat. Dan ada yang bisa terbang.

Pirok melihat pula macam-macam makanan di pasar yang dilewati Antar.

“Apa kira-kira rasanya?” pikir Pirok.

Setibanya di dalam rumah, Antar terkejut karena di dalam keranjangnya tak ada lagi durian, mangga, atau pisang, tapi seekor orang utan kecil.

Sekarang Pirok menyesal telah menghabiskan semua buah-buahan di keranjang Antar. Dia juga sedih karena jauh dari rumahnya. Namun Antar merasa kasihan dan membawa Pirok kembali ke hutan tempat tinggalnya.

Tiba di dalam hutan, Pirok merasa amat senang. Dan dia memeluk Antar erat-erat sebagai ucapan terima kasih.

***

Cerita Anak – Pirok Goes to the City

Pirok  Goes to the City

Author: Felicia Nayoan Siregar 

Illustrator: Astrid Sevrina Van Eenbergen.

Narrator: Ilona Joline Surjoraharjo

 

In one corner of the world, lies a tropical rain forest, where the water pouring down from the sky endlessly for the whole day or night. And the next day the sun would brightly shines for 12 hours non-stop. 

With enough rains and sunshine, all of the plans growth healthily with some kind of tree could be as high as around 80 metres or 260 feet. And there are thousands of plans around the forest which make all animals are happy. In the rain forest Kalimantan island, in Indonesia, we can find hundreds type of birds, tiger, rhino, elephant, snakes, bats, monkey, and orang utan.

One beautiful morning, Pirok, a little orang-utan was playing happily in the forest. Pirok loves swinging from tree to tree and is always curious. From one of the tree he look around, and none of his friend is around so he keeps jumping happily from one branch to other branches. But suddenly he hear something.

Pirok run to the forest entrance and saw Antar, a little boy from the small village outside the forest. Antar likes to come to the forest, to collect fruits to take home. In the forest there lots of durian, mango, and banana. “Yum, my favourite fruit!,”said Antar, collecting one fruit one by one and put on the basket at his back shoulder.

Tired from picking fruit, Antar sit in back in one of the tree and fell asleep. Pirok who follow Antar secretly came down the tree, curious to know what was in the basket.Pirok found the mangoes, bananas, and durians. And he feel a bit peckish after playing from one tree to another and following Antar from the top of trees. He ate the fruit all up. He then was so full that he fell fast asleep inside the basket. Soon Antar woke up. He walked home with his basket. But… was it fruit in his basket?

In the middle of the journey Pirok woke up and from inside the basket he is surprised to see many things that he hadn’t seen before. He saw many people wearing beautiful clothes.

He saw rows of buildings. Big and small and TALL. He saw vehicles with two, three and four wheels and one that could fly!

“Look at all the different foods! I wonder what they taste like?” Pirok thought.When he arrived home, it was Antar’s turn to be very surprised to find an orang-utan in his basket! No more the durian, manggo, or banana, but a little orang utan

Now Pirok was sorry he had eaten the fruit in the basket. He also felt sad because he was far from home. But Antar feeling sorry for the orang-utang and took Pirok back to the forest. 

When they arrive back in the forest, Pirok was very happy. The little orang utang is back at home and he gave Antar a big big hug.

 

>