Cerita Anak – Bakwan Jagung

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Cerita anak: Jeli Manalu

Versi cetak; Antologi cerita Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia, 2019

Penutur: Muthia Sayekti

 

Hatiku riang. Senyumku lebar. Penerimaan raport penaikan kelas sudah selesai. Aku sekarang kelas dua. Setiba di rumah kulepas sepatu. Kuganti dinas merah putih, dan meletakkannya di ember hitam yang selalu disediakan ibu. Aku lalu membuka tudung saji. Uh, wangi sekali masakan ini! Segera kuambil piring, sendok dan gelas. Aku duduk di kursi plastik warna merah jambu, warna favoritku.

“Bu, cepat. Aku sudah sangat lapar,” panggilku, sembari melingkarkan kedua tangan di depan mulut, agar suaraku didengar ibu yang lagi di kamar. 

Tak lama setelahnya ibu muncul dari pintu kamar. Kulihat ia melangkah sambil menggulung rambutnya yang panjang.

“Bu, ayo cepat,” ujarku sekali lagi. Aku sungguh tidak sabar. Liurku berkali-kali kutelan dan bibirku kujilat. Makanan itu sungguh menggoda mata dan tanganku. Ambil aku, ambil aku, seperti begitu makanan itu merayu-rayuku. He-he-he-he. 

Aku makan dengan sangat lahap. Uh, masakan ibuku benar-benar lezat hari ini. Ibu memasak bakwan jagung, maksudku digoreng. Pertama-tama jagung ibu iris kecil-kecil. Bumbu-bumbunya bawang merah, bawang putih, um, apa lagi, ya? Oh, kunyit dan sedikit cabai merah. Semua itu digiling halus oleh ibu. Dua batang daun bawang dan setangkai seledri dipotong pendek-pendek. Kira-kira dua mili meter ukurannya. Ditambahkan sebutir telur ayam. Garam dan sedikit gula pasir. Lalu semua bahan dicampur bersama tepung roti dengan takaran tertentu. Terakhir dituang air secukupnya. Kemudian adonan disendoki ke minyak goreng panas dalam kuali. Dibalik sesekali. Ditunggu hingga berwarna kuning keemasan, baru diangkat. 

Saat makan, ibu bertanya padaku, “Kau sungguh-sungguh suka bakwan jagung, Tiur?”

“Iya. Aku suka sekali,” jawabku, dengan suara yang kedengaran jadi aneh (mungkin seperti suara kerbau yang lagi pilek), karena mulutku penuh makanan. Jawabanku itu, jadinya terdengar kira-kira seperti ini: iyoo, agu suko sekaye. He-he-he-he-he.

“Ya sudah, cepat habiskan makananmu. Jangan sampai sisa, ya,” kata ibu.

Aku mengangguk pelan. Bunyi aagh segera muncul dari mulutku, lebih tepatnya dari tenggorokanku. Aku bersendawa, mungkin karena kekenyangan. Aku menghabiskan empat bakwan jagung dengan nasi yang sengaja kusendok sedikit saja. Kutambahkan juga kecap manis biar rasanya lebih gurih.    

Selesai makan, ibu menyuruhku membantunya mengemasi barang-barang. Sepatu, kaus kaki, sarung tangan, baju dan celana, topi, dan tak lupa jaket tebal. Semuanya disusun rapi ke dalam tas besar, kecuali sepatu ke tas kecil. Tas-tas itu kemudian diletakkan di dekat pintu. Kata ibu, kami akan pergi. Akan berlibur ke rumah kakek dan nenek di desa. Lamanya sekitar delapan hari.  

Sepanjang jalan menuju desa kecil tempat kakek dan nenek tinggal, tampaklah hamparan jagung berwarna hijau. Aku memejamkan mata sejenak. Kuhirup wangi bunga-bunga jagung, sembari mendengar lebah-lebah yang hinggap di atasnya. Saat kutanya pada ibu apa di antara jagung-jagung itu ada milik kakek dan nenek, ibu menjawab tidak. Rumah mereka katanya masih di ujung sana. Di kaki bukit yang menyerupai seekor gajah tidur. Persis di bawah belalainya, bukan perut, yang saat mengatakan kalimat itu ibu memicingkan mata padaku sambil senyum. Aku jadi kikuk. Kata ‘perut’ yang diucapkan ibu seakan meledekku yang siang tadi menghabiskan empat bakwan jagung. 

Tidak lama setelahnya kami tiba di rumah kakek dan nenek. Aku memanggil kakek keras-keras. Kekek! Panggilku. Nenek! Panggilku juga. Kakek muncul dari mulut pintu. Ia rentangkan kedua tangan. Aku berlari memeluk kakek bergantian dengan nenek. 

Di desa udaranya ternyata dingin. Lebih dingin lagi saat malam hingga pagi hari di bawah pukul sepuluh. Aku bahkan belum melepas jaket dan kaus kaki. Begitu pula dengan topi bulu-bulu. Anehnya, dari mulutku muncul pula awan saat bicara. Aku bahagia, tak harus naik pesawat supaya bisa melihat awan lebih dekat. Itu bukan awan, kata kakek. Itu uap yang ditimbulkan oleh suhut dingin. 

“Oh, ya, Kakek dengar kau sangat suka makan bakwan jagung,” kakek mengalihkan pembicaraan saat ia perhatikan aku akan bertanya lagi.

 “Apa Ibu cerita pada Kakek?” tanyaku, teringat lagi betapa kemarin aku menghabiskan empat bakwan jagung. Aku cemas saja seandainya kakek ikut-ikutan meledekku, lalu meniru suara anehku saat bicara denga mulut penuh sehingga terdengar seperti suara kerbau yang lagi pilek. Aduh, semoga saja jangan, ucapku dalam hati.

Lalu kakek menjawab, “Iya. Ibumu membicarakannya sambil tertawa-tawa di telepon.”

Hah! Aku kaget sekali. Ternyata mereka sudah membicarakanku.

“Tenang, tenang, cucuku. Tidak apa-apa. Kakek juga suka makan bakwan jagung. Kakek bahkan pernah menghabiskan tujuh buah bakwan jagung bikinan nenekmu, ” kata kekek membujukku yang cemberut.

“Lalu apa kata Nenek padamu, Kek?”

“Nenekmu bilang, ia akan lebih sering-sering lagi membuatkannya.”

Kemudian, aku dan kakek kaget luar biasa. Diam-diam ibu dan nenek ternyata sudah merencanakan sesuatu. Di depan kami kini ada dua piring bakwan jagung. Kami harus berlomba memakannya. Dan kata ibu serta nenek, kami tidak boleh membuatnya berisa. Bila tidak, jagung-jagung di ladang akan cemberut dengan cara malas berbuah. **

 

Riau, Oktober 2018

 

Cerita Anak – Anak Sampah

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

 

Cerita Anak: Pipiek Isfianti

Versi Cetak: Antologi Cermin Cahaya, Balai Bhasa Jawa Tengah 2018

Penutur: Muthia Sayekti

 

 

Ya …  ya, Adin,  anak kelas lima  SD itu sudah biasa   mendengar semua ejekan serupa. Yang bau sampah lah, tukang sampah lah, sampai anak sampah, sudah mulai didengarnya sejak tiga bulan lalu. Ya sih, tiga bulan lalu dia menggantikan ayahnya yang terbaring sakit di rumah. Ayah Adin memang bekerja sebagai tukang sampah. Selain harus membersihkan sampah di kampung sebagai tukang sapu, ayah Adin juga men- dapatkan tambahan uang dengan mengambil sampah-sampah milik orang sekampung. Namun, karena jatuh saat mengendarai sepeda sampahnya, kaki ayah Adin terkilir. Kakinya sakit hingga harus beristirahat. Keadaan itu menggugah Adin untuk menggantikan tugas ayahnya agar tercukupi kebutuhan keluarga. 

“Karena ayah masih sakit, boleh ya mulai besok Adin menggantikan pekerjaan ayah, sampai ayah benar-benar sembuh,” pinta Adin pada ayahnya yang berbaring. Ibu membalurnya dengan balsam karena kaki ayah terkilir.

“Jangan, Nak,” jawab ayah cepat. 

“Iya, Adin. Pekerjaan ayah itu berat, Nak. Biar sementara digantikan Pak Trimo dari kampung sebelah saja. Nanti ibu akan bilang pada Pak Trimo, lagipula, apa kamu tidak malu pada teman-temanmu?” sambung ibu.

“Ah, Adin tidak malu kok. Lagian kenapa mesti malu? Itu kan pekerjaan Ayah selama ini yang menghidupi kita semua. Dan yang terpenting adalah pekerjaan halal,” jawab Adin mantab. 

“Oh ya, Bu. Ibu tidak usah bilang ke Pak Trimo. Pak Trimo kan juga harus membersihkan sampah di kampung sebelah. Biar Adin saja yang menggantikan Ayah. Adin juga bisa mengerjakannya sebelum berangkat sekolah,” tukas Adin dengan mata berbinar.

Ayah dan ibu hanya diam dan saling berpandangan. Bahagia bercampur haru. Sebenarnya dalam hati mereka tidak tega jika Adin harus menggantikan pekerjaan ayah meski hanya untuk sementara. Namun, karena tekad dan semangat Adin yang begitu besar ayah dan ibu akhirnya mengizinkan.

“Baiklah, Nak. Kalau itu sudah menjadi keinginanmu. Hanya kalau kamu mendapat kesulitan, bilang Ayah ya, Nak. Yang penting jangan lupa belajar sungguh-sungguh,” kata ayah bijak.

“Iya, Adin. Pesan ibu, kalau itu sudah menjadi kehendakmu, lakukan dengan sebaik-baiknya, ya. Walaupun sebenarnya anak seusia kamu tidak seharusnya ikut menanggung beban pekerjaan seperti ini, Nak,” kata ibu sendu seraya memeluk buah hatinya itu.

Adin tersenyum dan membalas pelukan ibunya dengan erat.

“Ibu tidak usah khawatir. Sekalipun Adin baru kelas lima SD, lihat kan, badan Adin sebesar anak kelas tiga SMP. Hehehe, Ini karena Adin makan banyak dan gemar olah raga, Bu,” kata Adin sembari memamerkan otot lengannya seperti seorang bina- ragawan.

Ibu dan ayah yang semula terlihat bersedih, seketika menjadi terbahak melihat gaya Adin yang lucu.

Sejak itulah, sebelum berangkat sekolah, pagi-pagi betul seusai salat Subuh, Adin telah menyapu jalanan di kampungnya, seperti yang biasa ayahnya kerjakan. 

Sesudah itu, dengan mengayuh sepeda yang di belakangnya sudah diletakkan gerobak sampah, ia akan mengambili sampah dari tong sampah di depan tiap-tiap rumah. Setelah itu, ia akan membuangnya di tempat pembuangan sampah akhir di ujung jalan, dan nantinya akan diangkut truk sampah dari Dinas Kebersihan.

Adin melakukan pekerjaan itu dengan suka cita, tetapi suara ejekan teman-temannya itu kadang membuat hatinya sakit. Namun, mau bagaimana lagi, dia memang anak sampah, anak tukang sampah. Bahkan, sekarang setiap hari dia sendiri bergumul dengan sampah. Walau jengkel setiap mendengar ejekan dari teman-teman sekampungnya, Adin berusaha tak memedulikannya. Toh, yang dilakukannya itu halal. Bukankah sampah juga sumber penyakit? Adin dan juga ayahnya, telah membuat kampung itu bersih dari sampah. Adin selalu ingat kata pak Ustaz bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Hal itulah yang membuat Adin semangat menggantikan pekerjaan ayahnya. Adin selalu melakukannya dengan riang gembira karena ia adalag seorang anak dan menjaga kebersihan lingkungannya.

***

Sudah tiga hari Adin tak terlihat, begitu juga ayahnya karena memang belum sembuh. Sudah tiga hari pula sampah di depan rumah Jawad mulai menggunung. Bau busuknya mulai menyebar ke mana-mana. Tidak hanya di rumah Jawad, di rumah Jarin, Alma, Sasa, dan juga Rima, tetapi sampah di depan rumah seluruh warga kampung telah menggunung. Bayangkan, bau nasi basi berbaur dengan bau kulit udang dan macam-macam sampah lainnya. Bisa dibayangkan kan, bagaimana baunya?

“Kok sudah tiga hari ini Adin nggak mengambil sampah, ya?’’ tanya ibu Jawad. Ibu kelihatan gelisah. Ya, ibu pasti pusing mencium bau sampah. Tak hanya ibu, Jawad yang semula tak peduli dengan sampah di rumahnya menjadi ikut gelisah. Bagaimana tidak, setiap mau makan, dia akan mencium bau sampah. Saat hendak bersantai di teras rumah sambil bermain ular tangga, bau sampah akan segera menusuk hidung. Apalagi jika malam hari, saat angin bertiup kencang, bau itu akan terasa tajam, membuatnya tak bisa memejamkan mata.

“Wah, tak tahan rasanya di rumah,” kata Jawad kesal. Sungguh, sepulang sekolah siang itu dia sudah tak tahan lagi dengan bau sampah di depan rumahnya. Dengan cepat ia mengambil sepedanya, lalu menggoesnya menuju ke rumah Jarin. Sampai di rumah Jarin, ternyata sama saja. Bau sampah begitu menyengat, membuat kepala Jawad bertambah pusing. Ditambah lagi suara Ibu Jarin yang uring-uringan karena banyak lalat berterbangan di mana-mana. “Jarin, ini semua gara-gara kamu, suka menimbun sampah

di dalam kamar. Lihat ini, sampah kita jadi menggunung karena ibu baru saja membersihkan sampah di dalam kamarmu. Lain kali, begitu ada sampah langsung buang di tempat sampah. Jadi, begitu tukang sampah libur, sampah kita nggak begini banyak!” kata ibu sembari membereskan ruang depan rumah Jarin. Jarin hanya menunduk, tak berani membantah ibunya.

Ibu memang benar, selama ini dia memang paling malas membuang sampah di tempat sampah depan  rumah. Bungkus makanan, sisa bahan membuat kerajinan tangan, semua hanya dilempar begitu saja di pojok kamar. Jadi wajar jika ibu uring-uringan saat membersihkan kamarnya.

Karena di rumah Jarin juga tidak nyaman, Jawad mengajak Jarin ke rumah Alma. Astaga, di sana lebih parah lagi. Karena tak punya halaman, tong sampah di rumah Alma diletakkan tepat di depan pintu masuk. Tentu saja lalat yang ada di situ bisa masuk sampai ke rumah. Apalagi ibu Alma kemarin baru saja dipakai untuk pengajian. Jadi gelas-gelas plastik, kardus-kardus bekas makanan kecil, juga kardus-kardus besar menggunung di depan rumahnya.

“Payah ini, kita mesti cari penyebabnya,” kata Jawad tak tahan.

“Iya, semua ini pasti gara-gara Adin, dia tak mengambili sampah di rumah kita,” imbuh Jarin tak kalah kesal.

Alma, Sasa, dan Rima yang ternyata juga telah berada di rumah Alma manggut-manggut. Mereka jadi berpikir, bahwa ternyata mereka membutuhkan Adin.

“Wah, ternyata tukang sampah itu sangat berjasa sekali ya bagi kita?’’ kata Rima.

“Iya, kita baru merasakan. Kalau nggak ada Adin atau ayahnya yang mengambil sampah, alangkah kotornya lingkungan kita. Apa mungkin Adin sakit, ya? tiga hari ini dia tidak masuk sekolah,” imbuh Alma.

“Iya, ya. Apa yang terjadi pada Adin, ya,” sambut  Sasa. “Aku jadi menyesal, telah mengejek Adin selama ini,” kata Jawad. Teman-temannya akhirnya menyadari kesalahan. 

 “Jadi..jadi..kita ke rumah Adin sekarang!” kata mereka serempak.

Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah Adin. Dengan sopan mereka mengucap salam dan dipersilakan masuk oleh ibu Adin. Betapa kaget mereka melihat Adin terbaring di atas tempat tidur sederhana di kamarnya yang sempit.

“Adin, kamu sakit, ya? “ tanya Jawad trenyuh.

Adin tersenyum. “Iya, badanku panas sudah tiga hari ini. Makanya nggak bisa mengambil sampah di rumah kalian. Maaf ya,” jawab Adin lemah. Jawad dan teman-temanya terdiam dan saling berpandangan. Hati mereka sedih melihat keadaan Adin. Betapa mereka telah berlaku tak adil terhadap Adin selama ini.

“Ngomong-ngomong kalian dari mana?”

“Dari rumah, Din. Kami datang ke sini untuk menengok kamu. Kami juga ingin minta maaf telah mengejek kamu selama ini. Padahal, kalau nggak ada kamu, alangkah kotornya rumah kami.” kata Jawad pelan.

“Iya, Din. Baru terasa nggak ada kamu semuanya jadi kotor,” imbuh Jarin.

“Maafkan aku ya …,” kata Jawad tertunduk seraya menyalami Adin diikuti teman-teman lainnya. Mereka meminta maaf atas kesalahan mereka pada Adin selama ini. Adin tersenyum. 

“Iya, tidak apa-apa. Dan nggak perlu khawatir. Kaki ayahku sudah sembuh. Besok pagi ayah sudah bisa mengambil sampah di rumah kalian.”

Mereka tersenyum, membayangkan rumah akan bersih kembali. tak ada sampah menggunung. Dan mereka berjanji tak akan meremehkan pekerjaan tukang sampah lagi. 

 

Cerpen- Biar Ngaco Asal Bisa Wefie

 Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Ditulis dan dituturkan oleh Liston P Siregar

 

Kalau kau belum tau wefie, bergaullah sama anak jaman now.Tapi baiklah, kukasih tau.Wefie itu dari kata we atau kita, bukan self atau sendiri. Jadi wefie adalah narsis rame-rame, dan sering muncul di WA grup: pas waktu reuni, besuk kawan sakit, atau kawinan anak kawan segrup.

Di jaman now, selfie agak ketinggalan karena gampang bikinnya:  cukup pergi sendirian –kasihan kali kesepian tak ada kawan- untuk makan atau minum di restoran, jepret beberapa kali dan jadilah selfie. Orang lain–yang sama kesepiannya- bisajuga masuk restoran, jepret jepret, dan jadi juga selfie.

Tapi wefie bisa bikin orang lain angek, itu bahasa Medan untuk cemburu, karena pesannya, “Oi kami kumpul-kumpul, makan-makan, ketawak-ketawak, tapi kau tak ikut” dan “Kasian kalilah kau ya.”

Dari belasan WA grupku –kalian punya berapa?- ada satu yang super kreatif , yaitu grupEsema Tiga kami dulu. Grup ini tak capek-capeknya mencoba hal-hal baru demi wefie, supaya nampak lebih jago, lebih hebat, dan bisa bikin orang lebih angek lagi.

Wefie di di WA grup lama-lama sebenarnya cuma ngulang-ngulang saja, waktu  reuni pakai baju atau oblong seragam , juga pas kawinan anak kawanatau membesuk kawan sakit, sampai saat kemalangan. Memang sakit dan kematian suami, istri, ayah, ibu, dan anak adalah berita sedih, tapi itulah, demi wefie maka semua bisa diatur.

Coba hitung, berapa kali di WA grupmu ada wefie kawan-kawan, atau kaupun ikut juga, berdiri depan karangan bunga kiriman kawan-kawan segrup, yang nama atau grup pengirim bahkan sampai dua kali lipat lebih besar dibanding nama yang wafat atau keluarga yang kemalangan. Pasti sering!

Wefie memang membawa ‘lawatan kemalangan’ ke tingkat yang berbeda dibanding sebelum meluasnya Samsung, Apple, Huawei dan media sosial serta WA grup. Dan karena perilakuwefie seperti itu sudah jadi biasa, WA grup Esema Tiga kami berupaya melaju ke depan dengan wefie. 

Kek mana caranya?Inilah dia.

Ada kawan yang usul agar membuat usaha kecil makanan karena, katanya, hampir tiap akhir pekan pasti ada bazar di mana-mana.Kawan itu membuat kalkulasi dengan biaya pendaftaran stall, pembelian bahan, estimasi pendapatan, lengkap dengan saran produk yang dijual, berupa jajanan yang tahan lama’.

“Kalau segar, sulit menyiapkan dan dan repot melayani pembeli.Masih ada lagi risiko yang tak laku jadi terbuang,” katanya. Semuanya bersemangat, kecuali aku, dan menanglah suara yang setuju  jadidiputuskan berjualan kastengel, nastar, dan brownies dengan merek Estiga Kool.

Komentarku bernada canda tapi bermakna serius, “Kalian bikin teh saja cuma teriak sama pembantu, mau jualan kue pulak.Manalah jalan.”

Tapi balasannya serba meyakinkan, seperti “Jangan anggap remeh bro, selama ini bukan tak bisa, tapi tak sempat.”Ada pula,”Belajar tak mengenal usia” disusul gambar berlatar hijau muda dengan meme dua tangan berdoa dan tulisan miring berwarna putih, “Tuhan memberkati mereka yang selalu belajar”. Tak kalah banyaknya sticker-sticker dukungan, mulai dari tuyul yang mengangkat telunjuk dan jari tengah,  pria Arab berkafiyeh yang bilang ‘Ane dukung’ sampai mendiang Presiden Suharto dengan: “Saya nyataken semua setuju.”

Maka jadilah ide usaha kecil itu, dan aku tetap tak yakin karena jualan jajanan kue kering di kotak-kotak plastik kecil sudah dijalani belasan ribu orang sejak belasan tahun lalu.Jadi apa pulak yang membuat Estiga Kool bakal dibeli orang.

Dan betul. Foto-foto bazar pertama bermunculan di grup, mulai dari persiapan mengangkat meja, merapikan taplak berwarna semarak, menyusun dagangan dengan rapi, menaruh dua papan nama Estiga Kool, sampai beres-beres penutupan stall. Kawan-kawan yang ikut jualan pakai celemek putih dan beberapa bahkan pakai topi koki masak yang panjang.

Aku tertawa terbahak-bahak besar melihat foto itu, waktu duduk di depan TV bersama istri dengan masing-masing sibuk melihat telepon genggamnya, sampai istriku tertarik mengintip walau tak terlalu paham kenapa aku tertawa padahal anak SD juga tau kalau jualan kue kastengel, nastar, brownies yang sudah ditaruh rapi di kotak-kotak plastik tak perlu celemek putih, apalagi topi koki. 

Cilakanya istriku -yang tak tahu latar belakang seluruh ceritanya- serius memahami perilaku kawan-kawanku, “Tapi kan orang itu juga jualan kopi panas,” katanya yang malah memperpanjang tawaku dan membuat istriku jengkel.Kudiamkan tawaku dan kuamat-amati lagi puluhan foto yang dikirim sepanjang hari itu dengan hanya dua pembeli, yang masing-masing difoto wefie dengan latar belakang delapan penjual bercelemek putih yang cantik dan ganteng yang tersenyum cerah.

Rasa lucu berlanjut -walau tak bisa lagi aku ketawa lepas- karena ada beberapa ucapan selamat di grup -“Ayo bro sis, semua pencapaian besar dimulai dari lagkah kecil” plus gambar Neil Amstrong waktu jalan di bulan dengan kutipan di latar belakangnya, “One small step for a man, one giant leap for a mankind”.Ada komentar dari yang ikut jualan celemek dan topi koki tadi, “Ayo yo, ramaikan, hebohkan.”

Tersenyum-senyum kecil sajalah aku menyaksikan lawakan manusia itu.

Pekan depannya muncul lagi puluhan foto yang sama, dengan celemek putih dan beberapa topi koki panjang, untuk jualan kue kering dan kopi panas, namun kali ini sama sekali tak ada foto pembeli. Walau tak selucu yang pertama, aku masih tersenyum-senyum sambil membayangkan berapa kali pakailah nanti celemek putih dan topi koki putih itu, sebelum diapkirkan karena pembantu orang itu yang masak sampai asap mengepul-ngepul dan kuah yang bercipratan pun tak akan mau pakai celemek. 

Cuma sebulan, atau empat kali jualan, Estiga Kool bubar total, dan tak ada lagi yang membahas.

Eh muncul lagi ide dari kawan lainuntuk mendirikan yayasan sosial -“Saatnya memberi kembali ke masyarakat.” Bijak kali, pikirku, sampai tak berani menyindir karena pastilah dapat cap jahat, egois, individualis, negatif, pesimis, sinis, asosial, tidak manusiawi, dan segala macam yang lainnya kalau sampai berani menyindir ide mulia yang memperhatikan ‘nasib orang-orang yang tidak seberuntung kita’, seperti salah satu pesan kawan yang mendukung gagasan itu.

Aku diam saja dan yakin, “Juga tak akan lama.”

Nama yayasannya dipilih Estiga Kasih dan langsung  pula beredar penjualan oblong berlogo Estiga seharga seratus ribu perak, biarpun kurasa kalau dipatok harga tiga puluh ribu saja sudah ada untungnya. “Sekalian sumbangan awal,”kayak gitulah pesan pengantar jualan oblong itu. Aku tak mau membeli karena tak mau tertipu.

Selain pengumpulan dana lewat penjualan oblong, mengalir deras juga sumbangan dari orang per orang, seperti laporan lengkap sang koordinator dan baru dua minggu berdiri, terkumpul dana lima setengah juta perak. Hebat juga pikirku tapi tetap ragu.

Beberapa hari kemudian album berisi puluhan foto terpajang di WA grup menayangkan kawan-kawan yang dulu juga aktif Estiga Kool dulu, dengan tambahan beberapa kawan yang saleh beragama, yang tiap pagi bangun tidur dan tiap malam mau tidur mengirim kutipan Alkitab atau Alquran di WA grup.

Album wefie Estiga Kasih dimulai dari foto sambutan oleh koordinator di depan kerumunan orang, dan kawan-kawan yang duduk serius bersama para anak yatim piatu, makanan prasmanan yang disiapkan, bingkisan buku tulis dan pulpen, serta foto bersalaman sambil menyerahkan amplop sumbangan kepada pengurus rumah yatim piatu -“Minimal sejuta,” pikirku, “Tambah makanan dan bingkisan ke anak-anak yatim, lewatlah dua juta sekali acara.”

Barulah disusul wefie sebenarnya: kawan-kawan perempuan berkebaya panjang warna mencolok sementara yang pria berbaju batik atau tenun ikat dengan senyum penuh kasih melayani anak-anak yang berbaris rapi antri untuk dapat makanan. Ada yang memegang tangan seorang anak untuk mengantarnya kembali ke mejanya setelah mengambil makanan padahal anak itu tergolong remajasehat walafiat yang bisa jalan sendiri.Juga ada foto memperlihatkan seorang kawan tersenyum ke arah kamera dengan membawa piring makanan dan gelas minum sambil berdampingan berjalan dengan seorang anak yang tampak kagok.

Tapi kurasa puncaknya adalah wefie saat makan dan usai makan. Para kawan-kawan yang hidupnya selalu penuh dengan kasih itu mendekatkan kepala mereka dari sisi kiri dan kanan ke arah seorang anak, sambil mengangkat jempol dan tertawa riang, sementara si anak memandang ke arah kamera tanpa ekspresi karena sibuk mengunyah makanan, yang perlu usaha tambahan karena daging rendang jelas bukan menunya sehari-hari. Adegan lainadalah beberapa wanita dan pria yang anggun dan gagah berdiri di belakang seorang anak dengan telunjuk yang mengarah lembut ke si anak, yang tak melihat ke kamera karena sedang berkonsentarasi memotong ayam goreng dengan garpu dan sendok, karena biasanya makan pakai tangan.

Komentar-komentar di WA tak kalah serunya, “Terimakasih sudah mewakili kasih kami” atau “Anak yatimnya sehat-sehat ya” dan “Yang berikut aku mau ikut melayani” walau ada juga pesan yang sesat, “Dahlia, cantik kali kau” maupun “John, kau beli baju ikat itu di mana, sor awak bah”, termasuk juga “Bangga awak, kalian semua kayak barisan seleb bah.”

Aku diam saja walau terasa agak perih juga di hati karena mereka mengekespolitir anak-anak yang tak punya pilihan sementara anak-anak mereka dengan mudahnya akanmenolak berwefie karena sibuk mengupload fotonya sendiri di instagram atau main game di HP-nya.

Tapi kutahan untuk tidak berkomentar kaeena kuhitungtetap saja terlalu mahal menghabiskan sekitar 2 jutaan untuk satu kali wefie.”Dua kali dan bubarlah.” pikirku.

Menjelang lebaran, kunjungan kedua ke rumah yatim terwujud, dengan modus operandi yang sama: saling sambut pidato, dan makan bersama. Jadi album fotonya tak beda jauhketika dipajang di WA keesokan harinya.

Tapi kali ini, kekesalanku meningkat tajam karena kawan-kawan yang non-Muslim menggunakan busana bergaya Muslim: yang pria pakai baju koko putih berwarna putih atau krim dengan peci hitam yang licin, sementara beberapa kawan perempuan mengenakan selendang halus -aku yakin ada satu dua yang asli sutra- yang dilingkarkan ke bagian kepala seperti kerudung, yang aku yakin cuma untuk bergaya dan bukan dengan semangat solidaritas.

Miris rasanya aku menyaksikan orang-orang yang sandiwara-nya sampai memasuki ranah agama dan memanfaatkan anak-anak yang bernasib tidak sebaik anak-anak mereka.

Jadi kutulis, “Nggak malu kalian ya, mengeksploitir agama dan anak-anak yatim hanya untuk wefie” dan kupencet tanda panah untuk mengirimnya.Entah caci maki apapun yang aku dapat nanti, tak kuperdulikan lagi.

***

 

English Lesson – Sakit Perut

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Cerita: Muthia Sayekti

Narator: Muthia Sayekti

 

“Kamu kenapa, Tera? Kok dari tadi pegang perut terus?” tanya Difa terheran-heran melihat adiknya seperti meringis menahan rasa sakit

“Aku tak tahu, Difa… Rasanya perutku sakit sekali.”

“Kamu sudah makan belum?” Difa mulai menebak penyebab sakit perut adiknya.

Tera menggeleng lemah. Difa melihat jam dinding. Siang sudah mulai bergeser sedikit dan waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima menit. Tera pasti terlambat makan siang.

Difa cepat-cepat mengambilkan air putih hangat dan madu. Ia juga menyiapkan sepiring nasi dengan lauk yang ada di meja makan.

“Ini minum dulu, Tera…” kata Difa sambil membantu adiknya meminum air hangat dan menyuapinya sesendok madu. Tera sudah nampak berkeringat dan tiba-tiba ia bersendawa.

“Sudah agak enakan, Difa. Terima kasih…” kata Tera sambil mengatur nafas.

“Iya, sama-sama. Ini, makan dulu… perutmu sakit karena kamu terlambat makan siang,”

Tera tidak banyak membantah. Ia memang merasa bersalah karena sedari siang terlalu asyik mendengar audio-book sampai lupa waktu makan. 

“Lain kali jangan diulangi, ya… Di dalam perutmu ada banyak organ yang penting untuk dijaga kesehatannya. Kalau kamu makannya tidak teratur, organ-organ itu bisa berfungsi tidak maksimal,”

“Memangnya organ di dalam perut ada apa saja sih, Difa?” tanya Tera penasaran

“Macam-macam… terutama untuk sistem pencernaan, yang mengolah makanan yang kita konsumsi.”

“Contohnya?” desak Tera pada kakaknya.

“Yang barusan kamu rasakan sakit itu, namanya lambung…”

“Oh begitu… Eh sambil belajar Bahasa Inggrisnya dong, Difa… Mau nggak?”

“Boleh. Lambung itu bahasa inggrisnya STOMACH, S-T-O-M-A-C-H.”

“Stomach, S-T-O-M-A-C-H. Wah, sama seperti bahasa inggrisnya perut ya?”

“Betul sekali. Lalu setelah lambung, ada usus halus, bahasa inggrinya SMALL INSTESTINE, S-M-A-L-L-I-N-T-E-S-T-I-N-E,”

“SMALL INTESTINE, S-M-A-L-L-I-N-T-E-S-T-I-N-E”

“Sip. Selanjutnya ada usus besar. Kalau ini bahasa inggrisnya COLON, C-O-L-O-N,”

“COLON, C-O-L-O-N! Bukan Big Intestine ya? Hehe” kata Tera iseng bertanya.

“Hahaha… bukan, Tera. Bisa saja kamu ini. Oh ya, lupa… sebelum usus besar ada usus 12 jari. Yang ini bahasa inggrisnya, DUODENUM, D-U-O-D-E-N-U-M,”

“DUODENUM, D-U-O-D-E-N-U-M”

“Good! Nah, ini bagian dalam pencernaan yang fungsinya sebagai jalur untuk membuang sisa makanan namanya dubur, bahasa inggrisnya RECTUM, R-E-C-T-U-M”

“RECTUM, R-E-C-T-U-M. Bukan anus ya, Difa?

“Sama saja kok, itu sinonimnya. Anus pun bahasa inggrisnya sama, tapi pengucapannya ANUS, A-N-U-S,”

“ANUS, A-N-U-S”

“Yap! Betul begitu… nah, sekarang tahu kan organ-organ dalam perut kita? Semua itu perlu kita jaga kesehatannya. Jangan diulangi lagi ya lupa waktu makannya, biar nggak sakit lagi,”

“Siap, Difa… terima kasih ya!”

 

English Lesson – Di Mana Sepatuku?

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Cerita: Muthia Sayekti

Penutur: Mutia Sayekti

 

“Sudah siap, Tera?” tanya  Difa kepada adiknya. Sore itu Difa ingin mengajak adiknya berjalan-jalan santai sambil mencari udara segar.

“Tunggu, aku belum pakai sepatu,” jawab Tera.

“Sini, mari kubantu…” kata Difa sambil menggandeng tangan adiknya ke tempat diletakannya rak sepatu. Kemudian Difa meletakkan tangan adiknya untuk meraba-raba sendiri dan menemukan alas kaki miliknya.

“Sebentar ya,  Difa…” ia kembali meraba-raba dengan ragu. Sampai akhirnya ia menemukan sepasang sepatu yang dirasa miliknya.

“Hey, Tera… that is my shoes, itu sepatuku” kata Difa menegurnya dengan halus. Ibu sesekali memang membelikan kedua putrinya sepatu kembar dengan ukuran yang berbeda. Kebetulan Tera saat itu keliru mengambil sepatu milik kakaknya.

“Oh, really? Iya kah…? I am sorry, Difa. So, where’s mine? Lalu, dimana ya yang punyaku?”

“Wait a moment… Tunggu sebentar, ya…” Difa ikut membantu mencarikan sepatu adiknya. Ternyata rak sepatu memang sudah begitu penuh. Banyak sepatu yang saling tumpuk.

“Is it mommy’s shoes? Apakah ini sepatunya ibu?” tanya Terra meraba-raba sepasang sepatu hak berbahan bludru.

“Yes, it is. It’s her shoes. Ya, betul sekali. Itu sepatunya ibu,” jawab Difa sambil dengan sabar membongkar satu demi satu tumpukan sepatu.

“How about this? It must be daddy’s shoes. Kalau yang ini? Ini pasti sepatunya ayah,” tanya Tera setelah meraba-raba sepatu fantofel hitam berukuran 43.

“Hahaha, that’s right, Tera. It is his shoes. How could you know? Hahaha Betul sekali, Tera. Itu sepatunya ayah. Bagaimana kamu bisa tahu?”

“It’s very big, Difa. Our daddy has big feet! Ini besar sekali, Difa. Ayah kita kan punya kaki yang besar!”

Difa terus mencari dan pada akhirnya menemukan sepatu milik Tera di bawah tumpukan sepatu olahraga ayahnya. 

“Nah, this is it! it is your shoes, Tera… Nah, ini dia! Ini sepatumu, Tera…” kata Difa sambil memberikan sepasang sepatu pada Tera. 

“Hore… akhirnya ketemu…” Tera pun segera menggunakan sepatunya. Ia sudah tak sabar untuk segera jalan-jalan sore dengan kakaknya.

“Are you ready? Sudah siap?” tanya Difa sekali lagi.

“Yes, I am ready! Let’s go!” jawab Tera bersemangat. Setelah keluar dari rumah, Tera merasakan kulitnya disentuh oleh angin yang lembut. Ah, sore yang cerah dan indah!

Cerkak – Lelakon Uripe Pri

 

download

Cerkak Anggitan: Impian Nopitasari

Kamomot ana ing: Jagad Jawa Solopos 9 Januari 2014

Katuturake dening: Endah Fitriana

 

Pri lagi wae mulih saka nyambutgawe.Awake krasa kesel banget. Nyambut gawe minangka kuli angkut pancen nggawe awak remuk, nanging asile ora mingsra. Tekan omah pengin disuguhi eseme bojone, sokur-sokur dicepaki wedang lan dipijeti. Ora ketang mung iku nanging wis bisa marai awak marem. Nanging bab kaya ngono sasat ora nate dialami Pri.

Aja kok dipijeti, disuguhi ulat padhang bojone wae ora tau. Anane mung nesu-nesu wae.

“Ora ana dhuwit nggo tuku kopi, nggo nempur beras wae megap-megap. Rega kabeh mundhak, anak sansaya gedhe, mbutuhke wragad. Duwe bojo ora bisa dijagakke pametune,” Lastri, ya bojone Pri, ngomong karepe dhewe.

“Wong ki mbok aja nesu-nesu wae ta.Apa aku iki ora tau golek pangan?Tak rewangi dadi buruh angkut, kesel-kesel tekan omah isih wae mbok semprot, olehmu kebangeten kuwi lho, Las,” Pri kebrongot atine, dhasare hawane ya kesel dadi kudu nesu.

“Buruh angkut ki asile sepira? Yen aku ora ngewangi dadi buruh umbah-umbah paling ya kendhil wis nggoling. Mbok kana lunga golek dhuwit sing luwih gedhe. Wong lanang kok ora trengginas blas,” omongane Lastri sansaya sengak.

“Mbok kira gampang apa urip ning paran? Durung mesthi bisa entuk dhuwit gedhe.Apa isih kurang olehku nyambut gawe sasuwene iki? Lak ya ora nganti ora mangan ta? Kowe ki dadi wong ora tau nrima,” Pri emoh kalah.

“Ya wis, nek ngono aku sing lunga wae yen sampeyan ora gelem,” panantange Lastri.

“Sak karepmu,” pembengoke Pri karo metu saka omah. Luwih penak cangkruk nang wedangan tinimbang diamuk bojo wae.

***

Satekane ing warung wedangan, Pri diece wong-wong sing padha cangkruk ing kono.

“Ngapa Pri? Diamuk mbok wedok maneh?” aloke Saptono karo mangan sate keyong.

“Mesakke men uripmu, Pri.Wong lanang kok korban KDRT,” imbuhe Darmo, bakul wedangan. Dheweke wis jeleh krungu thang-theng-thang-theng krompyang, Lastri mbalangake apa wae kang dicekel.

“Kandhani kok Lik, aku ki pancen korban KDRT, ning ora ana sing percaya, mergane korban KDRT biyasane wong wadon,” Pri nguntabake uneg-unege marang kanca-kancane.

Ing wedangan, Pri bisa nglalekake lelakone raketang sedhela. Jan-jane ya luwih seneng ngudarasa karo bojone dhewe sambi ngombe wedang ing omah, ning kuwi tangeh lamun. 

Piye maneh, kahanan ora sarujuk karo kekarepan. Pri ngerti ora apik ngumbar wewadi bale somahe, nanging dheweke bingung arep crita karo sapa. Tinimbang sumpeg, aluwung ngomong ngalor ngidul sambi gegojegan. 

Tur ya wis akeh sing weruh yen anggone omah-omah wis ora sehat maneh. Saben padu, Lastri mbengoke sora banget, kathik karo nguncalke barang-barang sakarepe dhewe.Kepriye tanggane ora krungu? Pri mung bisa nyoba sabar, amarga mbiyen le omah-omah karo Lastri ya pilihane dhewe, ora merga dipaksa dening wong tuwa. 

Lastri, kembang desa kang lugu lan alus bebudhene saiki kok malik grembyang. Pancen cupete kahanan ekonomi bisa ndadekake wong kalap. “Ah, apa aku ki salah pilih,” batine Pri.

***

“Kang, aku titip Abed, aku lunga menyang Hong Kong sasi ngarep,” kadhane Lastri.

Pri njomblak, kaya krungu bledheg ing wayah awan. Ora ngiro sing wadon bakal nekad kaya ngono. Wing-wingi dheweke amung nggetak. Kok ya gawe keputusan sakarepe dhewe, ora njaluk tetimbangan dheweke minangka kepala rumah tangga.

“Apa? Kowe ngomong apa, Las?” 

“Aku arep lunga dadi TKW [tenaga kerja wanita]. Mbak Ri, anake budhe, nawani aku nyambut gawe ning kana. Kabeh wis diurusi dhekne, aku mung kari mangkat,” jlentrehe Lastri, entheng banget.

“Kowe nindakake kuwi sesidheman ngono? Ora njaluk tetimbanganku dhisik? Aku ki apa ra mbok anggep maneh? Aku iki bojomu, kepala rumah tangga,” Pri kecandhak atine, rumangsa ora dianggep maneh.

“Yen aku ngomong karo njenengan mesti ora bakal mbok setujoni, Kang. Aku ora betah urip Senen-kemis kaya ngene terus. Yen pancen kepala rumah tangga ora isa dijagakke, ngapa aku kudu njagakke? Aluwung aku lunga golek upa dhewe. Rasah sumelang, aku ora bakal lali kirim dhuwit kanggo njenengan lan Abed,”

“Yen pancen awakmu puguh pengin nyambut gawe, apa ya ning Indonesia wae, ora usah adoh-adoh ngono Las, mesakke anakmu,” 

“Luwih mesakake maneh yen anakmu kuwi ora mangan, Kang. Wis aku aja mbok penging maneh, tekadku wis manteb pengen golek dhuwit gedhe,”

Pri ora bisa kumecap maneh, arep mbantah dheweke ora bisa. Rumangsa salah. Nanging ya apa kudu terus mutusake sak geleme dhewe? Lastri.. Lastri..pancen nggawe jibleg ing pikir.

***

“Bapak, ibu teng pundi?” takone Abed marang Pri, nalika weruh kancane diboncengke ibuke.

Krungu pitakone anak lanange sing umur limang taun iku, Pri kranta-ranta. Atine kaya diiris-iris. Melas.

“Ibu golek dhuwit Le,” wangsulane Pri, lirih.

“Kok mboten kondur-kondur? Abed kangen ibu,” ngomong kaya ngono karo rada mbrabak, pengin nangis.

Pri ngekep anake, dirih-rih supaya meneng. Sak angel-angele ngerih-rih anake, isih luwih angel ngerih-rih atine dhewe. Pri nangis senajan ora metu luhe.Nangis ing njero batin, ora mentala nyawang kahanan anake.

Wis rong taun iki Pri ditinggal bojone ing paran. Biyen janjine mung setahun ning Honh Kong. Nanging embuh kenapa dumadakan dheweke ngabari yen kontrake didawakake. 

Biyen bojone iku isih asring aweh kabar, nakokake Abed, anake. Rutin kirim dhuwit, pokoke yen masalah finansial ora tau kurang. Senajan kiriman dhuwit bojone bisa kanggo ndandani omah lan ongkos mlebu Abed mlebu TK, nanging tetep ana sing kurang. 

Bocah seumuran Abed kudune isih entuk kawigaten saka ibune. Nanging kuwi ora diduweni Abed, amarga kawit cilik wis ditinggal ibune. Saiki, Lastri wis ora tau aweh kabar maneh, ora tau kirim dhuwit, lost contact, kaya ilang diuntal bumi. 

Ditakokake marang kluwargane ya padha ora mudheng.Kanggone Pri, wis ora penting maneh Lastri isih kelingan dheweke apa ora, isih gelem karo dheweke apa ora. Ora penting. Sing dadi pikirane Pri amung anake lanang siji kuwi. Jan-jane dheweke ora betah saben dina ditakoni anake ing endi ibune. Bocah sing isih polos kasebut mung pengin pethuk simboke, ora ngerti kahanan urip sing sabenere.

“Dhuh Gusti, paringana pituduh ing endi dumununge Lastri, mesakake lare kula Gusti,” tangise Pri sabubare sholat. 

***

Amarga nyambutgawene tumemen, Pri oleh kapercayan saka Kaji Rusman, bose Pri, ngopeni kiyos papan dodolan woh-wohan. Dadi Pri saiki wis ora nguli maneh. 

Tur ya wis bisa kredhit pit montor. Panguripane wis lumayan. Ora Senen-kemis maneh kaya sing biyen diomongke Lastri. Jan-jane Pri wis bisa nyenengke Lastri upama Lastri gelem mulih.

Lagi wae ibut ngladeni wong tuku, dumadakan Pri dikagetke dening sawijining wong sing mbengok karo mlayu nyedhak.

“Kang.. Kang Pri..bojomu bali,” ngono pembengoke Jumadi, anake paklike sing manggone tunggal gedheg karo omahe.

“Ana apa Jum? Kene… kene… ambegan dhisik, kowe omong apa mau?”

“Bojomu bali,Kang..,”

“Bojoku? Lastri? Tenanan kowe? Bed.. Abed..ibumu bali, Le,” Pri ora bisa ndhelikke rasa senenge. 

Abed kang mbeneri melu bapake dodolan amarga sekolah prei melu seneng krungu kabar kaya ngono.

“Iya kang.. Yu Lastri bali…”

“Alhamdulillah, matur nuwun Gusti, ayo Jum, bali, Sir Basir..tungganana kiyose dhisik ya, aku tak bali,” Pri ora sranta selak kepengin mulih. Kiyose dititipke kanca sing duwe kiyos ingsandhinge.

“Eh sik kang…” Jumadi bingung anggone pengin cerita.

“Ana apa maneh? Ayo mulih tak boncengke,” perintahe Pri samba nyetater pit montor.

Tenan, tekan omah wis ana montor diparkir ing ngarep omahe Pri. Pri ora maelu, dheweke langsung mlebu omah nggoleki Lastri.

“Lastri…,” pembengoke Pri kanthi swara kang banter. Ing omahe wis ana wong wadon sing dandanane lumayan high class lan kanthi praupan beda, nanging isih bisa disetiteni yen iku pancen Lastri. 

Abed kang weruh ibuke, senajan pangling, langsung mlayu ngekep ibune karo nangis, kangene bocah iku pancen wis tekan mbun-mbunan.Yen Abed langsung mlayu ngekep ibune, ora ngono kanggone Pri.

Ing ndalan mau pancen Pri pengin nindakake kaya sing dilakoni Abed, nanging kuwi wurung, amarga Lastri ora mulih dhewekan. Ing sandhinge ana priya mawa mripat kalup lan kulit kuning. 

Yen gelem nyetiteke maneh, badane Lastri uga beda. Ana nyawa kang urip ing wetenge Lastri. Pri wis bisa nggraita.

“Ibu..ampun tindak malih, Abed kangen ibu..” kekepane Abed dikencengi maneh. Kudune minangka ibu, Lastri mbales ngekep. Nanging ora kaya ngono kedadeyane. Lastri ngeculke Abed. Abed bingung.

“Ibu..ibu.. lak mboten tindak malih ta?” pitakone Abed marang Lastri, polos.

Lastri ora wangsulan. Malah dheweke ngomong karo Pri.

“Kang Pri, aku ora usah ngomong, mesthine njenengan wis bisa ngira. Tekaku mrene iki mau pengin njaluk pegat. Aku butuh surat resmi pegatan. Amarga aku arep urip ning Hong Kong melu Koh Ahong. Dheweke sing bisa nggawe aku seneng sasuwene iki. Tak jaluk lilamu, aja ngarepke aku maneh,”

Emosine Pri ora bisa kebendhung maneh. Yen mung ditinggal lunga suwe awake isih trima, nanging yen diidak-idak harga dirine kaya ngene, dheweke ora trima. Dheweke mbengok sero banget.

“Pikiranmu mbok deleh ngendi, Las? Olehmu kegiwang mripat kalup kok bangeten temen. Aku wis biyasa mbok idak-idak kawit mbiyen. Aku trima terus Las, aku trimaaaa…! Pancen aku ki ora bisa nyenengke kowe, aku iki wong kere, Las. Kere..sing ora ana ajine tinimbang klaras. Ora papa yen aku mbok tinggal minggat, ning apa kowe wis ora nduwe ati ninggal anakmu sing saben dina nakokke nang endi ibu? Tega kowe Las? Mbok modhel apa kowe ki?”

Lastri ora wangsulan. Koh Ahong ing sandhinge amung bisa plonga-plongo, ora mudheng padha ngomong apa kok nganti nesu-nesu.

“Lastri, dina iki, kowe tak pegat! Saiki kowe wis ora bojoku, minggata kana ning Hong Kong, seneng-senenga. Aku isih duwe Gusti sing bakal paring piwales marang kowe,”

Lastri metu saka omah karo nggeret tangane demenane. Abed sing mau arep nututi ibune karo nangis dipenging bapake, bocah iku diruket kenceng.

“Ibu… ampun tindak malih.. Abed kangeenn…!” pambengoke Abed, ngiris ati.

Pri amung bisa meneng. Nyoba tatag ngadhepi kahanan kaya ngene. Pancen iki lelakon urip sing kudu diadhepi. Garising pepesthen sing ora bisa diselaki.

***

 

Cerkak – Kembang Pasren

download.

Cerkak Dening Impian Nopitasari

Kamomot ana ing Jagad Jawa Solopos, 23 April 2015

Katuturake dening: Endah Fitriana

 

Sapungkure udan, hawane adhem lan isih ninggal tlethik-tlethik banyu. Ing akasa katon kluwung kanthi warna kang nengsemake. Orkes kodhok theyot theblung lan ganda lempung nambahi swasana sangsaya sengsem. Mangsa rendheng durung pamit ing sasi Maret.

Indras katon gupuh nggawa barang-barange sinambi payungan. Mlaku tumuju emper omahe. Tanduran pasren maneka warna ing sakupenge omahe sajak mbageake tekane kenya ayu iku. 

“Assalamualaikum,” Indras uluk salam.

“Wa’alaikumussalam.” Bapake mangsuli salam putri kinasihe iku.

“Nyuwun pangapunten, Bapak, Indras radi telat wangsul, wau kebetheng wonten griyanipun rencang, jawahipun deres mboten terang-terang,” ujare Indras sambi ngaras astane bapake.

“Iya kene mau udan angin, aku samar, awakmu kok ora mulih-mulih, dak telpon kok swarane hapemu muni tibake keri neng omah iki mau,” ngendikane bapake karo ngelungke hapene.

Indras nampani hape saka bapake. Sawuse dicek, ora ana telpon utawa pesen sing wigati. Dheweke memburi saprelu salin lan gawe wedang jahe kanggo bapake.

“Bapak, menika jahenipun,” Indras ndelehake jahe ing meja. Bapake ora ana. Digoleki, pranyata ing emper.

“Entuk kamboja saka ngendi, Ndras? Apik banget yen dinggo pasren,” pitakone bapake, pandulune ora uwal saka kembang kamboja kang ing pot cilik iku.

“Oh, menika paringanipun Bu Pramesthi,” wangsulane Indras sajak gumun. Ora padatan bapake nggatekake kembang-kembang pasren kang asring digawa mulih dheweke.

“Pramesthi?”

 

e Indras iku, amung meneng. Sajak ana bab kang ngreridhu pikire. Indras gumun. Wis ping pindho ngaturi bapake ngunjuk jahe ora diwangsuli. Lagi sing kaping telu bapake gelem mlebu omah.

***

“Duwe pacar ayu ngono kok ora mbok kenalke ibu ngono ta, Nan? Kebangeten kowe kuwi,” ujare Pramesthi sinambi nguceg-uceg rambute putrane iku.

“Pacar napa ta, Bu. Namung rencang biyasa kok.” wangsulane Danan.

“Halah kaya ibu ora tau enom wae. Bocahe ayu, sopan, gek duwe kawigaten marang tanduran, mula ibu ya seneng banget menehi kamboja sing paling daksenengi, ora rugi,”

“Biyasa mawon ta, Bu. Wong nggih mahasiswi Jurusan Biologi, wajar remen tanduran,” ujare Danan.

“Kalebu nandur tresna neng atimu, ya?” godhane Esthi.

“Ibu ki lhoo..,” Danan kang maune nyoba biyasa wae ora bisa ngapusi apa sing mentas dingendikake ibune. Raine malih abang, isin banget.

Esthi amung ngguyu. Anake wis gedhe, ngono batine. Pancen mau Danan mulih ora kaya padatan. Padatane mulih ya dhewe. Hla kok mau mboncengke cewek. Anggone nepungake mung sawates kanca, nanging Esthi duwe panggraita seje. 

Pranyata dheweke cepet akrab karo Indras. Pawadane mampir mrono mau golek bibit tanduran karnivora kang ditandur Danan kanggo acara Ayo Berkebun sesuke. Pranyata Indras kepencut kamboja-kamboja ing plataran. 

“Kula kok malah kepencut kamboja ingkang ageng kiyambak menika, Bu? Kamboja pethak ingkang dipun siriki tiyang kathah, kaprah dipun sebut kembang kuburan, nanging sing niku kok pripun ngaten, kados wonten cariyos sanglebetipun?” ngono jarene Indras.

“Pancen Ndhuk, kamboja kae kamboja kebak kenangan. Mbok nganti kapan wae ora bakal tak kethok, akeh crita ngenani kamboja iku,” Esthi ora ngerti yagene dheweke gampang kandha mengkono marang wong sing lagi ditepungi, padatan yen ditakoi yagene kamboja kuwi ora tau ditebang, wangsulane mung sakenane.

“Wah, napa inggih, Bu? Mbok kula dipuncriyosi,” Indras katon adreng.

“Oleh, nanging kapan-kapan wae ya, mula dolana rene maneh. Iki dakwenehi kamboja siji olehku nyetek saka kamboja gedhe iku, isih neng pot, tanduren neng omah ya, kenang-kenangan saka ibu,”

“Walah, matur nuwun sanget, Bu Esthi,”

***

Indras gumun marang bapake. Bapake kang wis pensiun saka tentara iku ujug-ujug asring nggatekake kamboja pawehe Bu Esthi. Bapake kuwi pancen seneng nandur-nandur, nanging akeh-akehe woh-wohan utawa sayuran, yen kembang pasren ora pati seneng. Pancen aneh banget. Yagene kok bapake seneng banget karo kembang kuwi?

“Ndras, kapan-kapan bapak jaken neng nggone Bu Esthi ya?” Wimbadi miwiti omong.

“Lah, wonten kawigatosan menapa, Pak? Bapak tepang kaliyan Bu Esthi menika?” Indras bali takon.

“Mung pengen ngerti wae koleksi tandurane, jaremu wingi panjenengane seneng nandur-nandur uga, aku pengen nyuwun winih jambu peking yen oleh,”

“Oh inggih, mangkih kula sanjang Mas Danan menawi wonten kampus,”

“O ya, sajake awakmu kok raket banget karo Danan kuwi?” Wimbadi wiwit golek sisik melik.

Indras bingung anggone arep mangsuli. Didhedhes bapake kaya ngono rasane kaya dadi mungsuh sing diinterogasi, ngelingi bapake kuwi purnawirawan tentara.

“Ora usah selak, Bapak ora nesu kok. Waton dheweke bocah apik lan tanggung jawab Bapak bakal mangestoni. Awakmu wis gedhe, pancen wis wayahe,” ujare Wimbadi karo nyawang anake kang raine ndadak malih abang.

“Nggih sampun, Bapak, kula ngampus rumiyin, assalamu’alaikum,” 

Wimbadi mangsuli salam karo mesem lan gedheg-gedheg. Ah, donyane cah enom, batine. Dheweke dadi kelingan jaman nom-nomane dhewe. Jaman semana dheweke ya duwe sir-siran aran Pramesthi. Olehe ngesir wiwit jaman SD, 

Dheweke ora nunggal sekolah amarga dheweke sekolah ing SD mligi kanggo cah lanang, Pramesthi ing sekolah seje. Ing tembe ora dinyana, tresnane ora keplok sisih. Pramesthi ngimbangi tresnane. 

Jaman cilikane Wimbadi isih ngonangi geger 65. Akeh wong kang dibrondong tentara. Kalebu bapake Pramesthi. Wiwit iku sesambungane Wimbadi lan Pramesthi nemoni pepalang. Nalika jaman wis gumanti, Wimbadi mlebu dadi tentara. 

Bab kuwi saya ndadekake ibune Pramesthi ora sarujuk. Dheweke isih trauma marang wong sing nganggo sragam loreng. Tresnane Pramesthi lan Wimbadi dipaksa kudu pedhot. Sajake tresnane Pramesthi wis kasok kanggo Wimbadi, kanthi sesidheman, wong loro iku tetep sesambungan lumantar layang kang dislamurake.

Nalika iku Wimbadi oleh tugas neng Aceh saperlu melu operasi Jaring Merah II. Nalika arep mangkat, Wimbadi pamitan marang Pramesthi. Pramesthi nangis aneng dhadhane Wimbadi. Wimbadi ngelungke kembang kamboja kanggo simbol kasetyan.

“Tanduren, openana, yen kembang kuwi isih urip ngrembuyung, pratandha aku isih urip, semana uga tresnaku. Yen kembang kuwi mati, bisa wae aku ya mati. Awakmu oleh milih wong liya kanggo neruske uripmu,” ujare Wimbadi kang ndadekae Pramesthi saya seru anggone ngesok luh.

“Iya, Mas, bakal dak openi kamboja iki. Aku janji ora bakal ngiwa, aku tetep setya marang sliramu, tresnaku wis ora bisa diliya,” wong loro iku rerangkulan.

Nanging cerita urip pancen ora bisa dibadhe. Ngarepake rampung tugas saka Aceh, Wimbadi oleh kabar kang wose ngandhaake yen Pramesthi arep ningkah. Atine lara. Dheweke nganggep Esthi cidra ing janji. 

Aneng ndesa padha wae. Esthi krungu kabar yen Wimbadi wis tiwas sajroning tugas mburu Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Esthi banget anggone nandang sungkawa nganti lara sawetara wektu.

***

“Mas, aku oleh dolan neng omahmu maneh, ta?” pitakone Indras marang Danan.

“Ya oleh wae, Wa. Malah diarep-arep ibu terus kok. Ibu mesthi seneng,” wangsulane Danan. 

Danan yen nyeluk Indras pancen ora Indras, nanging Wawa, semono uga kanca-kancane. Jeneng pepake Amurwa Pradnya Sang Indraswari. Pancen jeneng sing mrebawani.

“Nanging, Bapak kepengin ndherek…,”

Danan kaget.

“Bapak  seneng karo jambu peking, awakmu lak nduwe ta neng omah?” 

“Oh iya, sumangga wae. Mung kaget, kok ora biyasane bapakmu arep melu,”

Indras meneng, batine nyarujuki kandhane Danan. Pancen ora biyasa bapake kepengin melu dolan ngono. 

Sidane Indras sida dolan nggone Bu Esthi. Bapake sida melu. Sasuwene neng dalan mau bapake gumun, dalan sing dilewati kaya-kaya wis ora asing maneh. Apamaneh nalika Indras alok “Stop, Bapak, wonten mriki,” Wimbadi kaya-kaya ora bisa medhun saka montor. 

Balunge kaya dilolosi nalika mlebu pekarangan omahe ibuke Danan kuwi. Apamaneh nyawang kamboja kang ing ngarep omah, kamboja sing wis katon tuwa. Ora salah maneh, iki Pramesthi gegantilaning atine mbiyen.

“Wah cepet banget. Ayo, Wa, mlebu..,”

“Mas, tepungake, iki Pak Wimbadi, bapakku, Bapak, menika Mas Danan, Dyan Dananjaya, putranipun Bu Pramesthi.”

Wong lanang beda umur iku salaman. Krungu jenenge diceluk, Pramesthi metu saka omah arep mbagekake. Nalika ngerti ana wong lanang sandhinge Indras, Pramesthi kaya reca ing bunderan Gladhag, ora bisa obah. Semono uga Wimbadi.

“Wimbadi….”

“Pramesthi….”

***

“Piye kabarmu, Es?” Wimbadi mbukak rembug kang sawetara wektu mung meneng-menengan wae. Danan lan Indras ing taman padha ngobrol dhewe.

“Ya kaya ngene, ngopeni tanduran,” wangsulane Esthi.

“Kambojamu isih urip ya, Es?”

“Dak openi terus, ora bakal tak kethok sasuwene aku isih urip,”

Swasana bali amem, padha ngenam pikire dhewe-dhewe. Padha dhudhah-dhudhah kaskaya lawas sing wis suwe kependhem.

“Bojomu neng ngendi, Es? Aku pengin tepung,” Wimbadi nyoba golek topik omongan sing kepenak.

Ora dikira, Esthi malah nangis. Wimbadi bingung.

“Ngapa Es? Apa bojomu wis ora ana? Aku njaluk ngapura yen ngono, dudu karepku…”

“Kowe pancen tega, Mas..”

Pramesthi nyeritaake lelakone urip sawise ditinggal Wimbadi tugas. Dheweke wis dioyak-oyak ibune dikon ningkah. Dheweke ora gelem. Wusana embuh piye, ngepasi ana berita prajurit kang gugur nalika operasi militer, dheweke krungu yen ana prajurit aran Wimbadi sing gugur. 

Atine ajur mumur. Bab iki ndadekake ibune Pramesthi saya adreng ngakon dheweke ningkah karo pria pilihane ibune. Kelangan Wimbadi kaya-kaya padha wae kelangan semangat uripe.

“Mas Pram kang dijodhoake karo aku iku pranyata priya sing apik. Dheweke welas nyawang kahananku, wusana dheweke ora meksa ningkahan karo aku, malah aku diwenehi gaweyan mulang ing sawijining sekolah TK, ben aku kelipur. Aku emoh ningkah yen ora karo awakmu, Mas,”

“Nanging..Danan iku..?” Wimbadi nyoba nakyinake

“Danan iku sejatine ponakanku. Anake adhiku kang kacilakan karambol welasan taun kepungkur. Dheweke ninggal karo bojone, dene Danan selamet, dak openi, dak rengkuh kayadene anakku dhewe,”

“Dadi…,” Wimbadi ora bisa nerusake ukarane. Esthi amung manthuk.

“Semono uga aku. Indras kae dudu anakku dhewe, aku uga ora tau ningkahan karo sapa wae,” Wimbadi genten cerita. Esthi amung mlongo.

“Nalika kuwi pancen ana prajurit sing gugur nalika nggrebeg markase Yusuf Ali, pimpinan GAM wektu iku. Prajurit loro iku salah sijine jenenge Wimbadi, nanging dudu Wimbadi aku. Wektu iku aku ora melu operasi. Aku melu operasi maneh nalika Yusuf Ali kasil ditembak dening Pak Heru Suprapto, komandanku,”

“Aku seneng wusanane target sasuwene iki bisa dilumpuhake ngepasi tugasku rampung ing kana, tegese aku bisa mulih ngejawa. Nanging aku entuk layang saka awakmu ngabarake yen awakmu arep ningkahan. Bisa kok bayangke ajure atiku ngerteni awakmu pranyata ora setya…,”

“Masya Allah, aku ora tau ngirim layang kaya ngono, Mas? Malah layang-layangku sing ora tau mbok wales. Nanging ngono, aku tansah setya marang awakmu, kamboja kuwi seksine,” ujare Esthi kaget. 

Dheweke lagi ngerti ana crita kaya ngono. Dheweke paham, mungkin iku rekayasa ibune biyen supaya dheweke ora ngarep-ngarep Wimbadi lan gelem ningkah karo Pramono.

“Awakmu ora tau kirim layang marang aku..? Apa…?,” Wimbadi bisa nggraita. Layang-layang kuwi ora tau tekan marang sing dituju.

Wimbadi nerusake critane “Aku ora sida mulih, ora sida ngejawa, nanging sawetara wektu manggon ing Aceh. kabeneran ana tugas maneh, dadi bisa nglalekake lara atiku. Wektu kuwi, aku duwe kanca raket tilas GAM sing tansah diburu wong-wong kang rumangsa dikhianati dheweke. Ngerti ana bebaya, anake wadon kang isih bayi dikon ngrumat aku, kon nggawa menyang Jawa, akhire aku mulih ngejawa. Supaya ngilangi tlacak, jenenge anak iku tak ganti Indras, tak gulawenthah kayadene bocah Jawa. Aku uga ora golek kabar bab awakmu. Wis dudu hakku maneh. Pikirku wektu iku awakmu wis bagya karo wong liya, ora ngerti yen critane kaya ngene,”

Wong loro padha meneng, Esthi isih mingseg-mingseg, sajak nggetuni lakon uripe. “Iki kabeh wis dadi garising pepesthen, Es. Arep dikaya ngapa yen awake dhewe ora jodho ya tetep ora jodho. Gusti sing wenang nemtokake nasib kawulane, ora prelu digetuni,” Wimbadi coba nglipur.

Esthi amung manthuk. 

“Bapak pripun, ta? Ngendikane badhe nyuwun winih jambu peking kok malah asik teng mriki mawon?” Indras ujug-ujug mrana mrono.

“I..iya, Nduk, iki mau asik jagongan karo Bu Esthi. Lak tenan ta, Bu Esthi iki kancane bapak sekolah biyen.”

“Lah, ibu ki kagungan kanca lawas top kados Pak Wim ngaten mboten nate criyos?” Danan melu nambahi rembug.

“Ya kene-kene, lungguh kene kabeh, ibu dak crita. Ibu karo Pak Wim iku biyen…..,”

Langite katon mendhung, sedhela maneh udan. Angin tumiyup kuwawa nggugurake kembang-kembang kamboja ing plataran iku. Kembang-kembang pasren sore iku dadi seksi menawa ana ati kang wus ora kegubet mendhung maneh. 

Mendhung lan udan sasuwene iku wus ganti dadi kluwung. Kluwung pancen metu keri, sapungkure udan, nalika bagaskara ngatonake sunare.

***

 

Cerkak – Tangga Anyar

 

download

Harapan 1 lomba Cerkak Yayasan Karmel –Malang

Anggitan: Indah Darmastuti

Katuturake dening: Endah Fitriana

 

Wus antarane rong minggu iki, omah sing adhep-adhepan karo omahku iku ora suwung maneh. Kapan kae sawijining pawongan, lanang, ijen, teka menyang Pak RT saperlu kulanuwun lan ngabarake menawa dheweke ngontrak omah cilik sing wus rada suwe ora dipanggoni. 

Pawakane cilik dhuwur. Rambute rada gondrong. Sajake dheweke angel ngguyu lan tansah pasang ulat kang nuduhake anggone kenceng olehe mikir. Nanging ora maido yen mripate dheweke pancen apik lan alise uga ketel.    

Sak banjure dheweke mung nekani kiwa tengen, ngarep mburi ulas-ulase lan patute wong neneka ana kampung liya. Aku karo bojoku nemoni dheweke ana sak jroning sore kang adem. Grimis riwis-riwis. Lan pisan-pindho kaprungu gludhug saka langit.

“Namung piyambakan kemawon tho, Mas Dali?” pitakone bojoku.

“Inggih.”

“Badhe pinten taun manggen wonten mriki?”

“Setunggal.”

“Sak derange lenggahipun wonten pundi?”

“Bali.”

Jebul sing uthil ora mung guyune, nanging uga cethil guneme. Bojoku sing takon nrethek kok mung dijawab sak tembung sak tembung. Jabangbayik .

“Lajeng badhe dinten menapa wiwit manggen griya punika?”

“Sakminika,” aku njumbul. Gumun. Wus cetha kahanan omah kuwi blas ora memper dipanggoni kok ya ora diupakara dhisik supaya rada kepenak olehe turu. Tangeh lamun dheweke ora ngerti menawa cendelane wus padha nglothok kabeh cet-e. Malah sing iring kiwa rada sengkleh lan padha njepat pakune. Jiaannnn… kebangeten tenan! Mengkono swara batinku.

“Mangga dipun ambali, teh panas namung kalian blanggreng.” Aku nyela, banjur bojoku lan Mas Dali meh barengan njupuk blanggreng sing isih anget. Bubar kuwi wus ora ana maneh sing bisa nggarahi bojoku ngajak crita. Ditawani rokok jebul ora udut. Bojoku mati gaya.

Wus antarane bubar Magrib, dheweke pamit mulih. Mung pirang jangkah thok wus tekan omah bobrok kuwi. Saka cendela, aku iso nyawang dheweke nyurung lawang banjur mlebu lan lawang mau bali ditutup krekep. Nanging lampu isih padhang njingglang.

“Nasib, Win. Suwe ngadepi omah suwung, banjur ana sing manggon wae kok sajake yo suwung.” Ngono celathune bojoku karo kukur-kukur sirah. Aku mung ngguyu.

“Kok nyalawadi ya, Mas?”

“Iya. Sajake uga ora seneng bebrayan karo tangga teparo.”

“Wes lah, ditonton wae.” Bojoku banjur pamit arep nutukake anggone ngetik, gawe laporan kanggo kantor pusat. Aku ringkes-ringkes gelas lan sedela-sedela nglongok omah bobrok ngarepan.   

Wengi wus lingsir, swara jangkrik gembranggang. Kala-kala keprungu swara manuk gagak utawa bencik mabur ngalor. Ing papan turu iku, aku lan bojoku isih kober ngrasani Mas Dali. Kira-kira apa sing dadi penggawene, banjur apa sing nggarahi dheweke pindah saka Bali. Ah, embuh. Ngerti-ngerti aku wus angler.

Esuk wus teka. Srengenge nyunar mencorong nalika aku mbukak cendela sisih wetan, banjur bukak candela ngarepan. Omah bobrok iku ora malih kaya mau bengi. Tetep tutupan krekep. Ora beda ana sing manggon apa ora. 

Rada awan sithik, bakul janganan sing adat sabene liwat wus bengok-bengok karo ngonekake bel pit onthel. Kring krong kring krong…

“Kangkung, mbayung, wortel, thokolaaaaaneeee buuuuu….” Siji loro ibu-ibu sing manggon ing kiwa tengenku padha metu. Nglumpuk ana prapatan, ngupeng Yu Sarmi bakul janganan.

“Sing manggoni omah suwung kuwi menungsa apa dudu ya?” Bu Sugeng mbukak rerembugan. 

“Iya. Sajake kok ngengleng ngono.”

“Jane bagus yaaa… nggiantheng.”

“Haallllaahh.. nggiantheng yen sarap meh nggo apa!!” sauté Bu Ugik.

Wis pokoke entek amek kurang golek anggone ngrasani Mas Dali. Aku mung nggatekake apa sing dirembug tangga teparoku.

Nanging pancen nggumunake. Wiwit bojoku budhal ngantor nganti awan, lawang kuwi mau tetep tutupan krekep. Mung sepisan dheweke mbukak cendela sengkleh saperlu ngulati bocah-bocah cilik sing padha mangkat sekolah. Bubar kuwi, tutup maneh cendelane. Tobat tenan. Pancen nyalawadi.

Jebul wus dadi pakulinan. Saben esuk, dheweke mbukak cendela anguk-anguk nyawang bocah-bocah mangkat sekolah. Tangga teparo wus ora rewes maneh. Kesel anggone ngrasani. Nganti tumeka ing sawijing sore. Aku karo bojoku bubar mangan bareng. Ing ngarepan ana wong dodhog-dodhog lawang. Bojoku banjur mlaku rada kesusu.

“Eh… mangga pinarak, Mas Dali.” Swarane bojoku katon dibanterake.

“Wiinn.. ana Mas Dali. Tulung digawekake wedang yaa..”

“Yaa….” Wangsulanku rada lirih.

Aku ora nemoni. Mung nyelehake gelas cacah loro, criping pohung sak lodhong lan ondhe-ondhe ceplus sak piring. Nanging aku kober nyawang sedela, dheweke katon kesel.

Ya sak wetara anggone bojoku nemoni Mas Dali. Aku nguping saka mburi lawang. Ora akeh sing dirembug, nanging aku trenyuh lan atiku kaya diris-iris. Aku ora mungkin kleru krungu, menawa Mas Dali nembung supaya saben esuk diolehake njaluk sego wayu. Turahane wingi. Bojoku rada sabar anggone ngadhepi dheweke. Ati-ati anggone omong lan takon ngapa kok ndadak sego wayu. 

“Yen sega waras ya gene tho, Mas?”

“Mboten. Wayu kemawon. Setengah piring cekap.” Mripatku meh mbrebes. Nanging kaya dina sak durunge, Mas Dali cethil rembug lan ora isa diowahi. Pokoke sega wayu. Bojoku seleh. Banjur nyanggupi menawa ing wayah esuk, dheweke oleh njupuk sega wayu turahan mangan bengi.

Mengkono wus kelakon luwih saka seminggu, saben esuk dheweke ndodhog omahku nggawa piring gembreng nadah sega wayu saka aku. Wis, ya mung ngono thok. Ora ana maneh sing diperlokake.

Banjur meh setengah sasi, wektu kuwi pener dina minggu. Bojoku prei anggone ngantor. Aku celathu, mung sembranan omong menawa aku kepingin nginjen apa sing dilakokake Mas Dali ing njero ngomah kuwi kok nganti ora gelem metu lan mung trima njaluk sega wayu. Bojoku ngira-ira, apa Mas Dali kuwi lagi laku prihatin. Nglakoni utawa ngluwari ujar.

“Wah, aja-aja Mas Dali kuwi wong sekti ya, Mas?”

“Hla embuh. Ning aku kok ya kepingin nginjen ya, Win.”

“Kana injen wae. Reka-reka arep mertamu.”

“Mengko malah dikira arep maling rak kojur.”

“Halaaahh.. omah bobrok ngono, sing arep dimaling apa.”

Hush!!   Mbok dijaga yen guneman.”

“Hla kasunyatane pancen ngono. Apa awake dhewe tau ngerti Mas Dali pindahan angkut-angkut barang? Tetukon abrak? Ora tha? Mung pisan kae angkut-angkut kerdus gedhe-gedhe mbuh isi apa.” aku ngeyel.

“Iya bener. Nanging ya ora becik menawa kowe alok kaya mengkono.”

“Ya ben!” wangsulanku karo ngguyu.

“Ndang, cepet injen wae mas…” Bojoku katon mikir, nimbang-nimbang, karo tangane mijet-mijet janggut. Mripate nyawang nduwur. Banjur noleh ngiwa, nyawang omah sing lawange tutupan, cendelane meh semplok rada mbukak sithik.

“Apa ngene wae, Mas. Wenehono, kirimono sega waras lan lawuh tahu karo karak. Jangan asem anget karo sambel. Kana ndang! Mesakne yen mung mangan sega wayu terus.”

Sajake bojoku kengguh. Banjur njaluk aku nyepakake kaya sing dak tawakake. Ora nganggo suwe, aku banjur bali menyang bojoku karo nggawa mangan sak komplitan.

Saka cendela, aku nyawang bojoku mlaku tumuju lawang kuwi. Dodhog-dodhog. Mung sedela, banjur Mas Dali mbukak lawang. Sajake ora mranani, katitik bojoku ora dikon mlebu. Tetep arep-arepan ana lawang. Wus sak wetara, bojoku tetep ana ing ngarep lawang. 

Aku muntab. Arep tak labrak wong edan siji kuwi. Cepet-cepet aku nusul bojoku. Ngerti aku teka, Mas Dali banjur rada blingsatan. Sajake gigrik nyawang raiku.

“Mangga Mbak, Mas.. nganti kesupen ngaturi pinarak. Nanging mboten wonten menapa-menapa. Banjur badhe lenggah pundi.”

Aku mlebu ndisiki bojoku sing isih nyangking rantang. Byyuuhh.. iki omah apa tarangan pitik! Koran-koran bekas pating bekakrah. Banyu ana ing ember nganti kecing. Aku nutup irung. Nanging aku kaget, nyawang ing nduwur meja kuwi. Ana saperangan patung.

“Nyuwun pangapunten, Mbak. Mbambet sanget.” Aku meneng wae, isih nyawang patung Bung Karno sing isih bopeng-bopeng raine. Piring gembreng sing adat saben kanggo nyadhong sega wayu kuwi wus gluprut mblenyek-mblenyek.

Sajake Mas Dali ngerti apa sing tak batin. Dheweke nyedhak meja elek, njupuk piring tumuli omong menawa sega wayu sing saben esuk dijaluk iku, banjur diulet karo koran bekas sing wus dikum banyu, banjur dicampur lem pathi kanji saperlu dadi material kanggo gawe patung.

“Inggih kangge dolanan punika menawai saben enjing kula nyuwun sekul wayu. Menawi ngangge sekul waras, nggih eman-eman. Ugi dadosipun mboten sae. Mekaten, Mbak.” 

“Waalahhh..tak kira…” dheweke mung mesem. Sajake ngerti karep uniku. Nanging aku nyawang, mripate Mas Dali kok rada kembeng-kembeng. Hlah! Jebul gembeng mase iki! Bojoku nyelehake rantang, banjur nyekel pundake Mas Dali.

“Mas, niki jangane asem bojo kula enak banget. Mangga tho.. sampun dipun tampik.”

Mas Dali nurut. Rantang dibukak bojoku banjur diwenehake dheweke. Sing ndadekake atiku trenyuh, dheweke mangan karo crita menawa saben dheweke neneka ana ing sawijing panggonan, mesthi dituduh wong gendheng. Malah ana sing tega ngusir. Hla kok iki malah ngirimi pangan lan nggatekake.

“Sak menika kula nembe nggarap dolanan, Mas. Patung dada tokoh-tokoh kondang. Ngoyak kangge pameran ing Manca Negari, tahun ngajeng. Nggih kula kedah nggarap wonten ing panggenan kang sepen, lan mboten ngabari rencang-rencang supados saged tememen anggen kula nggarap. Kula mesthi pindah malih menawi wonten rencang ingkang mangertosi panggenan kula.” Aku ngrungokake gunemane Mas Dali, karo nyawang rupa-rupa sing ana ing nduwur meja kekrepen. Aku ngerti sapa wae sing wus digarap Mas Dali. Sing paling pinggir kae Bung Hatta, jejer karo Bunda Theresa. Banjur Bu Kartini cedak karo Mbak Merryl Monroe. Karo kuwi sing ana tengah kuwi rak Paklik Che Guevara sisihan karo Mbak Anggun C Sasmi. Liyane aku ora ngerti amarga durung dialusi lan diwernani. Isih lawaran wujud dluwang emplek-emplekan. 

Tak sawang, Mas Dali sajak marem ngentekake sego jangan asem lawuh tahu lan karak. Mangane cepet banget. Ngelapi cangkeme nganggo lengen klambine banjur noleh bojoku sing lungguh ana sisihe.

“Mas, Mbak, mangke menawi sampun rampung jangkah kula, kula badhe damel patung Mbak Wiwin kaliyan Mas Sambodo. Kagem kenang-kenangan.” 

“Badhalaaa…. Malah entuk pakurmatan.” Ngono bengoke bojoku amarga bungah.

Aku ngguyu, lan sak jeroning atiku wus duwe tekad menawa mengko bakal nyisihake sega sing rada akeh. Bojoku nyawang aku, sajake kepingin ngomong menawa sesuk becike ditambahi anggone ngliwet. Mas Dali ora prelu jajan saben awan. Yen mung njatah sedina pisan lawuh sak anane mesthi ora kabotan. []

Puisi – Terminal Tawangmangu

Puisi dan Penutur: Ekohm Abiyasa

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

 

tempat ini dingin,

sedingin usia candi candi tua

di sebelah utara

bus bus dan truk truk diparkir

menunggu penumpang

mengangkut sayur mayur ke kota mengangkut harapan sebelum cahaya menerpa

 

pasar wisata menampung doa

wajah wajah cerah para pedagang

sebagai ruang geliat

sebagai masa silam sekaligus sebagai masa depan

 

kabut menusuk pori-pori

seperti roda roda yang beradu aspal

sebelum menjelang siang merambat penuh kehati-hatian

 

tempat ini selalu dingin,

sedingin rindu para pelancong

yang menuntaskan hasrat tualang

 

marilah sejenak duduk, di bangku kosong ini melihat gugusan tangan pekerja

yang tak kenal menyerah

yang tak kenal lelah

 

Karanganyar, 2014-2017

 

Puisi – Jalak Lawu 

Puisi dan Penutur: Ekohm Abiyasa

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Versi Cetak Media Indonesia (07/09/14)

 


mereka para penutur kesunyian yang baik dan bijak
ketika matahari usai membakar bumi
seperti lanskap raksasa

biarkan kami terbang bebas
biarkan kami hinggap di ranting-ranting meranggas

berita cuaca adalah usia seratus tahun kesendirian
di lembah-lembah dan jurang kepunahan
ribuan kepak sayap dan sarang-sarang

keramaian adalah penjara bagi nasib

Surakarta, April 2014

 

>