Sepatu Kayu

Cerita Anak: Indah Darmastuti
Versi cetak: Antologi Memetik Keberanian, Ideaksi 2019
Narrator: Yessita Dewi

Ini hari ke tiga liburan sekolah yang dihabiskan Timoti di rumah Bibi, terletak di sebuah kota tua yang kecil tetapi bersih. Bangunan dan gedung-gedung berhalaman luas, daun pintu dan jendela tampak kokoh. Pepohonan tinggi dan besar tumbuh di bahu-bahu jalan. Sebuah taman dengan kolam ikan nan luas terletak tak jauh dari rumah Bibi Timoti.
Setiap sore Timoti pergi ke taman itu untuk melihat dan memberi pakan ikan-ikan atau sekadar melihat angsa berenang dan kijang liar merumput. Untuk sampai ke taman itu, ia akan melewati sebuah rumah bercat putih menghadap matahari terbit. Pada halamannya terdapat patung pesulap, tangan kanannya mengacungkan tongkat, tangan kiri memegang topi di kepala sedikit miring.
Rumah itu sepi. Tetapi Timoti selalu melihat seorang nenek duduk di beranda memangku sebuah buku, sepertinya nenek itu senang membaca. Sebuah meja kayu di sisinya, setumpuk buku terletak di atasnya. Sehingga Timoti menjuluki perempuan tua itu Nenek Buku.
Timoti melambatkan jalan jika melintas di depan rumah itu, agar ia bisa mengamati lebih lama. Dan selalu ia bertatap muka dengan nenek buku, ia tersenyum lalu berlalu.
Kemarin petang saat Timoti melihat-lihat lagi koleksi ratusan perangko dan kartu posnya, tiba-tiba ia teringat rumah itu. Gambar rumah di salah satu kartu pos itu mirip dengan rumah nenek buku. Itu kartu pos kiriman dari kolega ayah dari negeri yang jauh. Pantas saja aku seperti tidak asing dengan rumah itu, pikir Timoti.
Rupanya hal itu cukup menganggu tidur Timoti, sehingga pada esoknya, Timoti sudah siap dengan sebuah rencana. Ia akan membawa kotak perangko dan kartu posnya pergi ke taman kota. Saat ia melintas di depan rumah Nenek Buku, Timoti sengaja menjatuhkan kotak perangkonya sehingga perangko dan kartu pos itu berceceran.
Seperti yang ia duga, nenek itu akan menyapanya, beranjak dari beranda lalu membantunya memunguti perangko-perangko dan kartu pos.
“Kamu mestinya menyimpan semua ini di kotak berpenutup kuat. Sepertinya Nenek punya, jika kamu mau. Mari singgahlah sebentar. Siapa namamu?”
“Namaku Timoti, aku tinggal di rumah agak jauh di ujung jalan sana. Itu rumah bibiku,”
“Oh, aku akan ingat itu. Tetapi mari kita bereskan perangko dan kartu-kartu ini. Kalau kamu mau, Nenek bisa ambilkan kotak kartu pos untukmu. Nenek juga punya sirop jahe dan roti pandan.” Timoti mengangguk senang. Undangan itu memang sangat diharapkannya.
Sampai di beranda, Timoti melihat tumpukan buku tebal dan besar di atas meja dan lemari-lemari di dalam rumah juga banyak buku. Nenek itu tersenyum saat melihat Timoti menatapnya takjub.
“Semua milik nenek?” Ia mengangguk. Timoti mengedar pandang mengamati.
“Ayo sekarang kita cari kotak kayu untuk menampung hartamu,” Timoti menyambut riang dan langsung mengikuti ketika Nenek Buku mengajaknya ke ruang belakang.
Di ruang itu, banyak barang-barang antik. Nenek Buku bilang, puluhan tahun lalu rumah ini ditinggali leluhurnya mengelola persewaan properti untuk keperluan pembuatan film. Jadi di situ banyak sekali barang kuno tetapi masih terlihat kuat dan bagus. Nenek Buku sudah menemukan kotak kayu untuk Timoti ketika ia melihat lukisan-lukisan yang sepertinya ada juga di kartu posnya. di Bawahnya ada teronggok sepatu kayu yang ia yakin seukuran dengan kakinya.
“Nenek akan siapkan sirop jahe dan biskuit untukmu, kamu boleh tetap melihat-lihat semua yang ada di sini,” Nenek berkata tersenyum, matanya bercahaya hangat dan Timoti tiba-tiba merasa begitu akrab.
Saat Nenek Buku sudah hilang di balik pintu, ia mengambil kartu pos yang bergambar mirip dengan lukisan terpasang di dinding barat, “Tak berbeda jauh, tetapi kincir air di sungai itu benar-benar mirip,” ia membatin tetapi pandangannya beralih pada sepatu kayu di bawahnya. Lalu ia tergoda mengangkat kaki kanannya dan mencoba mengenakan sepatu itu. Tiba-tiba sebuah pusaran membungkus tubuhnya lalu ia tersedot hingga ia merasakan tulang-tulangnya melunak. Dan sekejab ia sudah berada di tempat lain.
Timoti kaget bukan main. Ia sudah pindah tempat, dan sepertinya ia mengenali tempat itu. Sebuah sungai mengalir jernih. Induk angsa berenang membimbing anak-anaknya. Sebuah kincir air berputar pelan. Sejuk sekali tempat ini. Hening dan ia tak melihat siapa-siapa. Timoti bingung, ia tak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat asing ini dan bagaimana caranya ia bisa kembali?
Ia mencoba mengingat apa yang tadi ia lakukan. Kaki kanannya mencoba sepatu kayu milik leluhur Nenek Buku. Sekarang kedua kakinya menginjak rumput lembut dan kulitnya merasai desir angin. Ia tak punya makanan dan minuman, sebentar lagi pasti ia akan kelaparan dan Bibi akan bingung mencarinya. Dalam hati ia menyesal mengapa ceroboh dan mencoba-coba sepatu tanpa meminta ijin pada pemiliknya.
Hatinya mulai didera ketakutan. Jangan-jangan Nenek Buku itu seorang penculik anak-anak dengan cara digiringnya menuju ruang belakang, lalu disesatkan anak-anak itu ke tempat seperti ini. Timoti berpikir keras, mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Tak ada jalan. Ia semakin bingung, yang ia lakukan hanya memandangi kartu pos di tangannya. Itu satu-satunya yang menghubungkan dirinya dengan dunia tempat tinggalnya. Lalu dengan sedih, sambil memejam mata ia menempelkan kartu pos itu ke dadanya.
Tiba-tiba sebuah pusaran kembali meringkus tubuh Timoti dan sekejab kemudian, dia sudah kembali berada di tempat semula. Terkejut karena sebelah kakinya masih mengenakan sepatu kayu dan sebelah lainnya menjejak lantai. Selekasnya ia menarik kaki itu dan mengenakan sandalnya sendiri.
“Kurasa kamu akan suka sirop ini, mari!” Timoti gugup. Nenek Buku kembali dari dapur sementara ia sempat meninggalkannya entah di dunia mana. Mungkin hanya beberapa menit saja Nenek Buku meninggalkannya, tetapi Timoti merasa ia sudah cukup lama pergi ke suatu tempat yang aneh.
“Oh.. gudang ini panas sekali rupanya sehingga kamu berkeringat seperti itu, Timoti.” Nenek tersenyum. Timoti belum berani memutuskan apakah ia akan menceriakan apa yang baru saja dialami atau ia akan merahasiakannya, ia takut dituduh anak kurang sopan karena menjajal sepatu tanpa minta ijin. Ia yakin, dirinya berkeringat bukan karena tempat ini panas, tetapi karena ia baru saja mengalami peristiwa yang sulit masuk di akalnya. Seperti mimpi.
“Nenek juga punya banyak kartu pos,” kata Nenek Buku sambil mengangsurkan kotak perak yang sudah kusam terutama pada detil ukirnya.
“Semua itu kiriman dari kerabat semasa aku kecil dulu.” Timoti mengambil satu lembar dan mengamati gambarnya. Seorang anak laki-laki sedang bermain dengan anjing kecil di lapangan rumput. Bunga-bunga dandelion mekar di musim panas. Timoti terus mengamati, lalu ia melirik sepatu kayu di bawah lukisan besar itu.
“Em, Timoti, Nenek akan mengambil apel untukmu, kamu suka?” Timoti mengangguk gugup. Jantungnya berdebar kencang. Begitu Nenek Buku berlalu, ia melangkah mendekat pada sepatu kayu dan meletakkan kaki kanannya di sana. Seperti tadi, ia dirungkus oleh pusaran kuat dan mengempaskannya di padang rumput tempat seorang anak laki-laki bermain dengan anjingnya.
“Halo, aku Timoti, kamu siapa?” anak lelaki kecil ia menolehnya dan tersenyum. Hanya tersenyum saja tanpa ia mengucapkan sepatah kata.
“Anjingmu lucu, siapa namanya?” kembali anak itu hanya tersenyum, tanpa memberitahu siapa nama anjingnya. Dengan sabar Timoti mendekat. tak ada siapa-siapa selain anak lelaki itu dan anjingnya. Tetapi saat Timoti mendekat, anak lelaki itu mundur dan menjauh.
“Aku tidak jahat, aku ingin menjadi temanmu. Maukah kamu jadi temanku?” anak lelaki itu diam. Tiba-tiba air mata mengalir di pipinya.
“Jangan menangis. Aku tidak jahat. Di mana rumahmu?” Anak laki-laki itu menggeleng. “Apa maksudmu?” lalu ia menunjuk ke arah nun jauh. Timoti melihat banyak anak-anak kecil seusianya bermain di sepetak halaman rumah.
“Oh, mengapa kamu tak bermain bersama mereka?” Anak itu menggeleng sekali lagi. saat Timoti semakin mendekat, anak-anak di jauh sana berteriak kepadanya.. ia gelandangan, dia tak punya tempat tinggal. Dia tidur di kios-kios pasar. Dia bisu.” Timoti tertegun. Lalu menoleh pada anak lelaki itu dan meraih tangannya.
“Kamu tinggallah bersamaku di rumah bibi. Aku mau menjadi temanmu.” Anak lelaki itu tetawa lalu mengusap air matanya. Anjing kecil di sebelahnya terus mengibas-ngibas ekornya.
“Mulai sekarang kamu adalah temanku,” kata Timoti meletakkan tangan anak lelaki itu di dadanya, ia lupa tangan kanannya masih menggennggam kartu pos milik Nenek Buku, sehingga sebuah pusaran besar meringkusnya dan mengembalikan dirinya di gudang dengan kaki sebelah kanan masih mngenakan sepatu kayu.
Timoti terengah, ia menyesal mengapa terlalu cepat ia kembali. Ia masih ingin bersama anak laki-laki itu. Tetapi saat sekali lagi kakinya ia letakkan di sana, tak terjadi apa-apa. ia mengganti kaki kirinya yang diletakkan di atas sepatu kayu. tak ada yang terjadi.
“Kamu hanya bisa mengunjungi satu kali saja.” tiba-tiba suara Nenek Kayu mengagetkannya. Nenek itu tersenyum sambil meletakkan piring apel di atas meja.
Timoti terkesiap dan tiba-tiba ia sangat takut. Pasti dia nenek sihir karena mengetahui apa yang apa yang terjadi. Timoti bersiap lari. Tetapi tangan nenek secepat kilat menangkapnya.
“Jangan takut. Namaku Nenek Bijaksana. Duduklah, aku bukan nenek jahat. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa setiap kesempatan hanya datang satu kali. Jadi pergunakan waktu sebaik-baiknya. Tak perlu kamu sesali peristiwa tadi. Karena kamu akan menjumpai pengalaman yang lebih banyak lagi dan pasti menyenangkan. Sekarang makanlah, kamu pasti lapar.” []

Arus

Penulis : Latif N. Janah
Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Endah Fitriana

Download di sini.

Kereta berhenti di jalur tiga. Gugup tiba-tiba saja menyerbumu. Saat kakimu menjejak peron Stasiun Balapan, sensasi naik kereta yang selalu kau suka seketika berubah. Dari Lempuyangan, kau bertolak pukul sebelas siang. Yogyakarta-Solo memang dekat, namun kau merasa perjalananmu kali ini teramat singkat melebihi biasa. Perjalanan dengan kereta api lokal ini tak nikmat sama sekali. Ya, kau tak bisa menikmati suasana gerbong khusus pria kereta Prameks layaknya kepulanganmu sebelum-sebelumnya. Kau tak mendengar celoteh anak-anak kecil yang terpaksa duduk di dasar gerbong bersama ayah mereka. Atau, berebut berdiri saat lori makanan ringan tiba-tiba muncul di antara penumpang.
Tiba di Solo, seperti merasakan kembali pelukan ibumu berpuluh tahun yang lalu. Suasana Balapan siang itu begitu kau hafal. Ada banyak orang yang dari wajahnya, seperti enggan mengucapkan kata perpisahan. Barangkali, dari banyak mata yang tertutup kacamata hitam, ada hati yang enggan untuk melepas atau ditinggalkan. Ada banyak tetes air mata yang dipaksa untuk tergenang. Ada kobohongan yang pahit dari setiap kalimat; “Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Kita pasti akan bertemu lagi.”
Kendati kau tak ingin pulang, bapakmu telah berkali-kali melancarkan perintah lewat telepon hampir tiga hari berturut-turut. Kau merasa, setahun ini bapakmu memiliki semacam ketakutan yang tak lazim. Bahkan, beberapa kali ia bertanya perihal kabarmu kepada sejumlah teman yang kebetulan sedang pulang ke Solo.
Kau lekas menyusuri lorong di sebelah selatan stasiun menuju pintu keluar. Seketika serombongan sopir taksi dan tukang becak menyambut kedatanganmu seperti biasa. Menawarkan jasa yang terus menerus—meski tahu, beberapa orang sudah menolaknya. Kau harus berebut tempat untuk sekadar berjalan. Kau menolak saat bapakmu menawari untuk menjemput. Bukan karena sekarang ini perasaanmu tengah teraduk, tapi kau kasihan jika membiarkan ia berkendara dengan motornya. Belum lagi, di akhir pekan seperti ini, stasiun menjelma lautan manusia.
Tak ada penyambutan istimewa seperti biasa. Tak ada pula jamuan yang biasa terhidang selepas kakimu melampaui bibir pintu. Seperti tahu, sekarang ini kau memang tak bernafsu menikmati wedang ronde yang selalu diantar Bibi saat kaupulang. Yang kautemui hanya kekosongan.
Sejam lamanya kau merebahkan diri di kamar ukuran sedang. Sementara bapakmu tak terlihat batang hidungnya setelah kau cium punggung tangannya saat kautiba. Padahal hatimu tengah beradu. Menunggu pertanyaan yang mungkin saja akan mengalahkanmu secara telak jika kau jawab dengan sebenarnya.
Memang, sejak kepergian ibumu beberapa tahun silam, seolah bapakmu memikul beban begitu berat. Kau tak menampik jika penghasilannya sebagai pensiunan pegawai negeri sangat pas-pasan untuk menyekolahkanmu di universitas. Terkadang, kau membayangkan, ibumu masih ada di sela-sela hari yang kaulalui. Melihatmu mengenakan toga tanda kebanggaan hingga dapat pekerjaan mapan. Tapi, kau tahu itu hanya harapan. Dan harapan tak selamanya akrab dengan kenyataan.
“Bapak tak ingin gagal.” Selarik kalimat itu seketika berdenyar-denyar dalam pikiranmu. Seperti boomerang yang tiba-tiba lepas kendali menelanjangi keberanianmu sendiri. Kau menerka, bapakmu sudah mengendus perihal kelakuanmu. Kau tahu, semuanya telah terlambat, tapi paling tidak, kau ingin ia tahu pada saat yang tepat. Saat yang baginya pas untuk menanyaimu sendiri. Kau merasa bodoh jika harus mengatakan apa yang terjadi.
***
Barulah ketika kau tengah sendiri di ruang depan, bapakmu tiba-tiba muncul. Dapat kaubaca kegelisahan dalam setiap gerak tubuhnya. Bahkan, sapaan yang biasanya terdengar begitu menenangkan, kini terasa begitu hambar. Isyarat matanya saja, kental akan kekhawatiran.
“Dua hari lalu, orang tua Anandari datang kemari.” Kau tak tahu harus menanggapi bagaimana pernyataan bapakmu itu. Memang, kau telah memutus hubunganmu dengan Anandari sejak setahun yang lalu. Tapi, alih-alih memberitahukan ini kepada bapakmu dan orang tuanya, kau dan ia sepakat untuk menutup rapat mulut kalian dahulu. Kalian tak ingin ada semacam kekecewaan mendalam dari hal itu, kendati pastilah pada saatnya nanti, bapakmu dan orang tuanya juga tak akan mudah menerima.
Anandari. Gadis yang selalu membuat hatimu dulu kian merindu. Seperti halnya bapakmu, ialah orang yang sangat kau sayangi. Kau teringat saat ia berlarian di sepanjang peron Stasiun Purwosari. Ia yang tadinya mengira kau berangkat dari Balapan, harus bekejaran dengan waktu. Ia tak mengindahkan lagi larangan petugas yang berteriak-teriak menghalanginya masuk peron. Namun,kau tahu, kedatangannya saat itu memang hanya untukmu. Untuk melepasmu ke Yogyakarta. Hubungan kalian empat tahun lalu memang sedang ranum-ranumnya. Seperti gejolak cinta Galih dan Ratna.
Bapakmu dan orang tua Anandari pun mengangguk setuju dengan hubungan kalian. Bagaimana tidak, Pak Masdar, ayah Anandari, adalah sahabat bapakmu yang sejak dulu bekerja di kantor yang sama. Saat mengetahui anak-anaknya tengah menjalin asrama, hal itu menjadi semacam kabar suka-cita yang tak ada bandingannya.
Kau tak berani menatap wajah bapakmu. Sesekali hanya melirikkan mata dan jarak pandangmu hanya sampai pada dagunya yang kini dipenuhi rambut memutih. Kau menunggunya bertutur lagi. Barangkali ada sesuatu yang memang harus segera kauketahui.
“Bapak tak ingin kau bermain-main dengan Anandari, Pram.”
Kau masih membisu. Kau tak mampu membayangkan bagaimana reaksi orang tua Anandari. Membuat hati Anandari kecewa itu saja sudah membuatmu jengah pada dirimu sendiri. Jika ditambah dengan rasa kecewa orang tuanya terhadapmu, tentu akan menjadi empedu. Pahit dan sakit.
“Kali ini Bapak benar-benar gagal, Pram. Bapak kecewa padamu.” Kau dengar suaranya bergetar.
Dalam benak, kau berusaha menyusun kalimat yang mungkin saja akan terdengar rumpang. Sebenarnya, kau tak mau jika harus mengatakan ini. Andai bapakmu tahu, sebetulnya, tak ada sedikit pun keinginan untuk membuatnya kecewa. Terlebih, rasanya kau tak punya hak untuk membuatnya terus mengkhawatirkanmu. Caci maki yang tiba-tiba menghujaninya ketika orang tua Anandari datang, kau rasa sudah lebih dari cukup membuat hari-harinya makin pahit.
Tak mengapa jika memang orang tua Anandari menyimpan kebencian terhadapmu, tapi jika itu harus berimbas pada bapakmu, kau memberi beban dua kali lipat di pundaknya. Maka setelah tandas keretek di bibirnya, pernyataan yang ia berikan, membuatmu semakin bungkam.“Ajaklah Bastian ke sini sesekali. Bapak ingin berkenalan dengannya. Dia teman akrabmu, bukan?”Pertanyaan itu menjadi retorika. Kau iyakan dalam hati dengan kegugupan yang tak bisa kau tutupi.
Hubungan yang kau jalin dengan Bastian, bermula saat pertemuan kalian di sebuah pentas teater. Ia seorang fotografer. Tak tahu bagaimana, ia begitu pintar menarik perhatianmu. Seperti saat ketiga kali ia datang ke kosmu di Yogyakarta. Ketika itu ia numpang mandi di tempatmu lantaran kemalaman dan harus segera meliput berita. Kau tak tahu mengapa, tubuhnya yang dililit handuk sebatas pinggang begitu menggoda darah lelakimu. Kau tak bisa menampik, jika kau mencintainya setelah kau rasakan bagaimana aroma tubuhnya, sentuhan tangannya yang acap kali menjelajah setiap inchi tubuhmu. Bahkan, Anandari tak pernah membuatmu sedemikian bergejolak. Itulah mengapa, sekarang kau jarang pulang untuk menengok bapakmu hanya karena tak mau melewatkan kedatangan Bastian demi menuntaskan rindu yang terasa ganjil, namun begitu menggebu.
“Kau mencintai Bastian, kan, Pram?” suara bapakmu kini semakin berat. Terasa bergetar di bilik hatimu. Kau tatap matanya yang kini basah. Bahkan untuk mengatakan “ya” saja, kau tak bisa.(*)

Jogja, 2013-2018
Latif N. Janah lahir di Sragen, 1990. Bersetia menjadi pembaca.

Ibu Untukku

Penulis: Widyawati Puspita Dewi
Penutur: Widyawati Puspita Dewi
Musik: Endah Fitriana


DOWNLOAD

 

Ibu Untukku

Aku belajar membaca hatimu dengan segala detak kasihmu yang mengaliri setiap napas hidupku. Bersayap, menebar kelopak bintang untuk menjagai dan mewarnai serat hari-hari. Membiarkan langit melindungi harapan karena langit tak pernah punya titik. Dan udara memberi tenaga untukku tanpa meminta.

Seperti saat matahari memberikan nadinya dan bulan menciptakan doa, begitulah ibu menyerahkan hidupnya untuk menjadikan aku seorang yang berhati, bisa mengerti tentang kasih dan cinta.

Dengan sederhana, ibu mengajarkan padaku bagaimana menghargai setiap yang baik sampai kekeindahan yang patah. Di semua warna, ibu tak mengijinkan aku diam seutuhnya. Sesulit apa melihat warna pada air, di doanya aku pun dapat merasakan. Dibuatnya buku dan pengetahuan buatku. Serta dianyamnya kebaikan yang seimbang dengan keajaiban. Diraciknya semua bahan dan bumbu kehidupan sehingga aku dapat menikmati apa pun rasanya dan bagaimana hikmahnya. Antara siang dan malam tak ada batas menjalin tangannya. Ada ketika minta, ada ketika tak meminta.

Jika terkadang petir menjadikan hujan, itua dalah proses, begitu selalu katamu. Mengapa tak saja bijaksana menikmatinya. Tanpa amarah tanpa merah. Karena apa yang telah terjadi kemarin bisa beribu makna untuk masa nanti. Tahu, jika hari dalam hitungan yang sempurna. Termasuk dalam pembelajaran tentang hidup, tentang akar yang mengalirkan napas pada batang, daun dan bunga.

Ketika matahari telah berganti entah untuk keberapa, tiba-tiba sinarnya tergeletak ke tanah. Sekuat tenaga, aku berusaha mencari kupu-kupu putih bersayap lebar untuk menopangmu. Tak mampu. Bukannya membentang taman untuk menyandarkanmu, tapi sering kali aku yang membakar daun hanya karena aku merasa lelah membawamu pada kesembuhan.

Bergumam tanpa suara, ibu menyembunyikan kesahnya, mengubur ekspresinya dalam pusaran mimpi yang panjang. Walau begitu pedihnya kesakitan itu mengaliri raga dalam hirupannya. Belum lagi sempat kubawa istana biru untukmu, tak ada lagi udara dalam sosokmu. Aku kehilanganmu. Meski katamu, kita tak berpisah, hanya tak mungkin lagi bertemu di sini.

Aku belajar membaca hatimu sampai detaknya telah terhenti. Begitulah caraku mencintaimu. Karena telah kuberikan segala cintaku dalam genggamanmu. Dan setengah napasmu ada dalam tubuhku. Terimakasih untuk kasihmu yang abadi, tak akan pernah henti.

 

Pertunjukan Terakhir

Cerpen: Widyawati Dada
Versi Cetak : antologi 24 Sauh
Narator: Widyawati Dada
Ilustrasi musik: Endah Fitriana

 

Download di sini

Dengan irama yang kian melambat, Tobi menyelesaikan permainan pianonya dengan lembut. Pembawaannya yang tenang tak banyak berbeda dengan dua tahun yang lalu. Ia masih tampak berwibawa dengan sedikit senyum yang diberikannya pada penonton, yang memberi tepuk tangan hangat padanya. Kepala Tobi cuma mengangguk pelan dan cukup sekali.

Langkahnya yang berat meninggalkan panggung pertunjukan solo pianonya. Cuma begitu. Padahal tepuk tangan penonton masih menggema ke seluruh penjuru gedung pertunjukan ini.

Aku menghela napas, masih seperti dulu.Cuma beku.Ia masih sebagai sosok yang dingin, angkuh, dan tanpa senyum! Setiap Tobi mengadakan pertunjukan, aku selalu melihatnya,meski aku tak duduk di deretan paling depan. Semakin hari, semakin mahir ia memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano.

Di media-media digital, wajahnya selalu muncul dengan berita-berita aktual yang membuatkumakin menciut saja.Namanya ditulis di sana-sini dengan semua kelebihan yang dimilikinya.Wartawan-wartawan hampir setiap waktu mengerumuninya, mencari apa saja yang dapat ditulisnya sebagai berita laris di medianya. Begitu pula dengangadis-gadis cantik yang tak pernah lepas dari sisinya.

Aku menghela napas lagi, panjang sekali.Kini Tobi semakin terkenal. Banyak prestasi yang diraihnya. Permainannya sanggup membuat para pendengarnya histeris. Aku semakin kecil sekarang. Dan mungkin aku sekarang cuma satu di antara beribu-ribu penggemarnya!

Gedung pertunjukan bergemuruh.Suara-suara simpang-siur terdengar. Pertunjukan piano Tobi sudah usai. Kaki-kaki mulai meninggalkan gedung. Dan aku harus segera bergegas pula. Aku tak mau menjadi orang terakhir yang meninggalkan gedung ini.

Cepat kuambil krukku yang semula kusandarkan di kursi. Dengan hati-hati, aku berdiri dan mulai melangkah. Lautan manusia masih terlihat di sini, membuat aku agak gentar menghadapinya. Bagaimana aku mungkin cepat-cepat meninggalkan gedung ini, hanya dengan krukku yang tertatih-tatih begini?

Tapi akhirnya dengan perjuangan yang murni dari diriku sendiri, aku berhasil mencapai pintu keluar juga. Beruntung, aku tak menjadi orang terakhir. Dengan perlahan-lahan pula, aku mulai melongok-longokkan kepala mencari Pak Sudin yang setia menungguku sejak enam petang tadi. Sampai akhirnya Pak Sudinlah yang menemukan aku, dan kami segera meluncur untuk pulang.

Dua tahun lalu aku melarikan diri dari muka Tobi.Tidak. Aku tidak ingin ia tahu semuanyaapa yang telah terjadi pada diriku. Aku tak cukup mampu untuk bertemu dengannya.

Waktu yang dua tahun itu kuharapkan bisa mengubah Tobi.Melupakan seoranggadis bernama Michelle dari benaknya. Biarlah aku saja yang selalu mengikuti perkembangan yang dicapainya. Tapi tak kubiarkan dia tahu, seperti apa aku sekarang.

Aku mencintainya.Aku masih mencintainya. Sejak dulu, sejak Tobi belum menjadi bintang seperti sekarang. Sampai sekarang pun aku belum bisa mengikis perasaan cintaku itu. Dan tak seorang pun yang dapat meluluhkan cintaku selain Tobi. Tapi aku juga tahu, tak mungkin aku memiliki Tobi. Sejak dulu.

Hari ini aku kembali pergi untuk menjumpai sosok Tobi di atas panggung. Kali ini Tobi tampil di sebuah café yang cukup terkenal di kota ini. Pianonya putih, jas yang dikenakannyajuga serasi, putih.Celana panjang putih, sepatunya putih. Ah, semua serba putih.

Seperti warna favoritku.Ia juga masih tenang seperti kemarin-kemarin. Tak banyak senyum dan tak banyak cakap. Mulailah ia menekan-nekan tuts-tuts piano di hadapannya.

Wajahnya tanpa ekspresi. Dingin dan beku. Tobi memainkan sebuah lagu. Sempurna. Aku menatapnya, dari meja paling sudut.

Sendiri. Aku merasa begitu dingin. Oh Tuhan, aku ingin mendekapnya! Pipiku basah tibatiba.

Satu per satu kuhapus air yang jatuh dari mataku.Kurasakan.Perih.Tapi aku tak berani berharap, masihkah Tobi ingat padaku. Apakah ia juga merasakanseperti apa yang kurasakan. Aku tak berani berharap.Dan aku sudah tahu jawabannya. Tobi hanya tenggelam dalam permainannya, bukan perasaannya!

Sampai Tobi berlalu dari pianonya, aku masih terpaku.Kenapa aku tak dapat melenyapkan bayang-bayang itu?Aku terlalu mencintainya? Kenapa? Ketika aku melangkah pergi dari batasan pelangi itu, aku sadar, sebagian dari hati ini mesti patah.

Kali ini aku harus pulang dengan kekalahan yang sempurna.Aku menangis.Kenangkenangan itu kembali menyiksaku. Sementara aku tak tahu, akan terus beginikah aku?

Meraih-raih sesuatu yang tak mungkin kudapatkan. Bermimpi pun seharusnya aku tak boleh.

Aku sudah cukup tersiksa dengan semua ini. Empat tahun yang lalu, aku mengenal sosokTobi. Waktu itu, Rara yang mempertemukan kami.Aku cepat tertarik pada Tobi.

Cowok bermata bening dan berwajah innocent itu begitu memesona bagiku. Kami berkenalan. Kami cepat akrab.Pijar-pijar pesona telah menjerat aku. Waktu itu, Tobi belum terkenal. Paling-paling ia hanya mengisi acara di pesta-pesta ulang tahun teman-teman dengan permainan pianonya.

Kemudian waktu terus berlalu.Hari-hari kami penuh dengan canda dan tawa. Aku dan Tobi menjalin kasih. Kami merakit hari-hari berdua. Banyak sekali kenangan yang kami ciptakan bersama. Aku selalu mendukung Tobi dalam berlatih piano. Senang sekali kalau aku menemaninya di pinggir piano saat ia mulai memainkan jemarinya.

Tapi musim bunga itu terenggut setahun kemudian. Saat aku ke rumah Rara, kulihat mobil Tobi ada di halaman rumah Rara. Aku tak heran kalau ia sampai di sini. Tobi memang sahabat dekat Rara. Dengan mengendap-endap aku melangkahkan kakiku ke ruang tamu. “Tapi Ra, aku… aku….” suara Tobi terdengar gemetar, membuat hatiku jadi ciut.

Rara berkata, “Tobi, kamu salah.Seharusnya dari dulu kamu nggak usah memberi harapan pada Michelle. ” Aku tergagap. Michelle? Oh Tuhan, apa pula ini?

Suara Tobi terdengar lagi, meski amat berat dan tak pasti.“Ra, aku kasihan padanya. Aku tak tega melihat matanya bersinar redup, kecewa. Aku kasihan, Ra.”

“Tapi kamu nggak mencintainya ‘kan?!” tuding Rara.

“Yah… aku nggak bisa mencintainya.Aaaah, aku bingung, Ra. Aku bingung!”

Rara menyahut, “Lalu apa artinya kalian selama ini? Kalian pacaran, tapi kamu nggak mencintainya! Kalau saja Michelle mendengar semua ini, aku nggak dapat membayangkan apa yang terjadi. Kamu tahu ‘kan, terbuat dari apa hati Michelle? Ia sahabat terbaikku, Tobi, kamu juga.Tapi aku sekarang kecewa, kamu terpaksa menyakiti hatinya. Aku juga kecewa, kenapa aku mempertemukan kalian dulu.”

Kunang-kunang di mataku semakin banyak. Kepalaku berdenyut-denyut seperti kena hantaman benda yang amat keras. Dadaku naik turun dan napasku sesak.Tidak.Tidak mungkin, jeritku dalam hati.Tobi sekejam itu?Tobi tega. Mengapa iakasihan padaku? Kalau saja aku tahu bahwa Tobi memang tak mempunyai perasaan cintapadaku, rasanya aku masih dapat berdiri tegar sampai sekarang.Tapi sekarang?Setelahsemuanya terjadi, aku menabur benih-benih cinta yang tulus buat dia? Ah betapa menyakitkan.Semuanya palsu.Adalah sandiwara yang telah dipentaskan oleh Tobi selama ini.

Susah payah aku menahan air mataku jatuh di muka Tobi. Aku melangkah masuk dengan ketenangan yang luar biasa. Rara dan Tobi sama-sama tersentak. Wajah mereka pucat pasi melihat aku yang datang. Sementara langkahku mulai agak sempoyongan.

“Tobi, sekarang sandiwaramu telah berakhir. Kamu memang aktor yang paling baik yang pernah kulihat. Best of the best, Tobi!” ujarku lirih.

Katanya, “Michelle, aku….”

“Jangan katakan apa-apa padaku, Tobi.Semuanya sudah berlalu. Jangan lagi ada yang ditutup-tutupi,” pelan sekali suaraku.

Dan kemudian aku pergi meninggalkan tempat itu.Aku menangis. Menyesali apa yang telah terjadi. Aku mencintainya. Aku mencintainya, desahku.

Mataku yang berurai air mata itu yang menyebabkan pandanganku kabur. Dan ternyata berakibat fatal bagi diriku. Mobilku digilas truk. Padahal sejak aku keluar dari rumah Rara, gas kutekan dalam-dalam. Aku sadar kemudian, ketika aku sudah terbaring di rumah sakit dengan kaki yang lumpuh.

Walau begitu, aku masih patut bersyukur pada Tuhan. Cuma satu kakiku yang tak berdaya. Sehingga aku menggunakan kruk, bukan kursi roda. Ternyata aku harus membayar mahal kejadian itu dengan kaki kiriku.

Hari-hari kemudian aku mulai mengubur dalam-dalam semua itu. Setelah kejadian itu, aku sengaja kabur ke rumah Oma di Solo. Tak ada kesempatan lagi bagi Tobi untuk menemukan diriku. Aku tak mau lagi menatap matanya. Setengah tahun lamanya, aku tinggal di rumah Oma. Aku berlatih berjalan dengan menggunakan kruk. Sedangkan waktuku hanya kuhabiskan berjalan-jalan keliling kota Solo. Tiap pagi aku diantar oleh Mas Ujang ke Manahan.Kulatih otot-otot kakiku yangkaku.Siangnya aku boleh melihat-lihat pabrik batik Oma di Palur. Atau melihat toko-toko di Singosaren. Kadangkala aku mengisi acara di radio, sebagai tenaga sukarela, membaca puisi ataupun cerpen atau apa saja yang masih mampu kukerjakan.

Begitulah kegiatanku di Solo selama setengah tahun.Selama itu pula, aku selalu menutupdiriku. Aku tak mau yang lain tahu, ada apa sebenarnya aku. Bahkan pada cowok-cowokdi sekitarku.Aku hanya cukup mengetahui nama-nama mereka saja. Aku tak mau kecewa lagi. Amat sakit.

Setelah benar-benar aku mampu menghadapi realita kembali, aku kembali ke rumah. Mama dan Papa menyambutku dengan hangat. Mereka sama sekali tak menyinggung nama Tobi di depanku.Agaknya mereka cukup mengerti keadaanku. Meskipun begitu, aku pernah mendengar Bik Ipah berbisik pada Mama kalau Tobi pernah bahkan beberapa kali ke rumah mencari aku.

Sejak itu aku menutup telinga tentang Tobi. Tapi tak lama kemudian, media on line, dan  TV sering memuat Tobi sebagai berita hangat. Cowok jenius,kata mereka.Kemampuannya luar biasa.Ada bakat ajaib dari diri Tobi.Dan berita-berita yang memabukkan lainnya tentang Tobi.Mau tak mau aku kembali menyimaknya.Ternyata cowok itu sekarang telah menjadi superstar.Sedikitnya aku boleh bangga terhadapTobi.Ia telah mencapai segala-galanya sekarang.

Dan sedikit demi sedikit aku mulai membangun diriku kembali. Di setiap pertunjukan pianonya, aku selalu hadir. Aku selalu mengikuti irama-irama yang diciptakannya dengan amat apik. Perasaanku jadi haru-biru.Tobi sudah berhasil!

Bila malam ini aku kembali duduk di kursi paling sudut di sini, aku ingin mengingat kembali apa yang pernah terjadi antara kami. Dan sekali lagi aku ingin melihat keberhasilan Tobi yang gemilang. Tobi tampil berbeda malam ini.Wajahnya tampak dua kali lebih dingin dari biasanya.Bibirnya yang kaku itu bergerak-gerak.Katanya, “Saya ingin membawakan sebuahlagu yang khusus saya persembahkan bagi seseorang.Gadis itu telah menghilang sejak duatahun yang lalu.Sejak saya telah menyakiti hatinya. Dengan satu ucapan, saya mencintainya….”

Aku terperanjat mendengar kata-kata Tobi.Mataku terbelalak tak percaya. Aku mengusapmataku.Mungkinkah? Lama sekali aku terhanyut oleh suasana yang begitu mencekam bagiku. Suara piano dari permainan Tobi cukup menenggelamkan perasaanku seluruhnya. Tobi? Ah, masihbolehkah aku berharap? Sementara kakiku tinggal satu yang sempurna. Tak mungkin bukan, seorang pianis terkenal berjalan berdampingan dengan gadis yang lumpuh sebelah kakinya, tertatih-tatih dengan kruknya? Lalu darimana datangnya cintamu, Tobi? Dapatkah waktu dua tahun itu menghadirkan cinta di dalam hatimu? Atau karena lagi-lagi rasa iba yang datang dari sisi hatimu?

Usai.Usai sudah lagu yang dimainkan Tobi. Amat syahdu, menyentuh dan meremas batinku. Itulah permainan puncak Tobi malam ini.Ia beranjak dari kursinya. Ia turundari panggung. Aku melihatnya terus, mengikuti setiap langkahnya. Aku juga berdiri.Mencoba melangkah dengan krukku. Aku ingin mengulurkan tangan padanya. Mengucapkan selamat atas kesuksesannya. Dan aku ingin ia tahu bagaimana keadaanku sekarang, agar ia tak lagi berharap untuk berjumpa lagi denganku. Aku ingin berkata padanya, supaya ia melupakanku, menutup lembaran kemarin.

Baru sempat beberapa langkah kujalani, ternyata Tobi sudah hilang dari pandanganku. Gadis-gadis manis sudah lebih dulu mengerumuni Tobi. Mereka mengacung-acungkan notes-notesnya yang tentu saja sebentar lagi ditandatangani oleh Tobi.

Terpana aku. Ah, ya, mungkin Tobi sudah tak mengenalku lagi. Apalagi di antara banyak pengagumnya. Gadis-gadis pula. Akankah ia berpaling bila aku memanggil namanya? Langkahku memutar. Sekali lagi dengan kruk penyangga, aku mencoba menyeruak langkah-langkah orang-orang yang mendekati Tobi. Aku harus pergi.Tobi bukan milikku, ia milik dirinya sendiri. Dan mungkin pula milik gadis-gadis penggemarnya itu.

“Michelle… Michelle…!” Sebuah suara menyergap langkahku.

Aku bergetar.God, itu suara Tobi.Perlahan, aku menoleh ke belakang.Tobi menatapku dengan sinar mata yang tak percaya. Aku menatapnya, sejenak. Mencoba tersenyum tipis, tipis sekali.

Tapi aku tak berpaling lagi.Masih dengan krukku, aku mencoba melangkah meninggalkantempat itu.Tertatih-tatih.Sementara masih kudengar lagi suara Tobi memanggil-manggilaku.Tapi kemudian suara itu hilang, ditelan oleh jeritan-jeritan tertahan dari gadis-gadis yang mengelilingi Tobi.

Tobi, aku masih mencintaimu.Tapi kali ini, aku tak ingin meraihmu lagi. Biarlah semuanya berlalu. Dan di pertunjukan-pertunjukan Tobi berikutnya, aku tak pernah datang lagi.

Putri Rosmarika dan Mawar Biru

Putri Rosmarika dan Mawar Biru
Cerita Anak: Fitriani Eka
Versi Cetak: Antologi Memetik Keberanian, Gora Pustaka 2019
Narator: Yessita Dewi

Alkisah di sebuah kerajaan Bunga, tinggallah seorang putri. Tidak seperti putri lainnya, Putri Rosmarika berparas buruk. Bahkan, ia pun dianggap bukan putri raja karena memiliki jari tangan sebanyak dua belas buah karena dikutuk Ratu Lebah sebab sewaktu istrinya, Ratu Alea sedang mengandung, Raja Brus sering memburu kawanan hewan itu untuk mengambil madunya.
Namun, meskipun memiliki banyak kekurangan, Putri Rosmarika dikenal baik karena suka bekerja keras membantu ibunya merawat tanaman-tanaman bunga mawar yang ada di halaman belakang istana. Hampir setiap sore, ia menghabiskan waktu di sana. Ada banyak jenis mawar dengan warna beranekaragam yang Putri Rosmarika tanam.
Pernah empat bulan lalu, seorang pengemis datang menemuinya di istana. Ia memberikan Putri Rosmarika sebuah kantong kecil.

“Kau adalah putri yang baik. Terimalah ini sebagai ucapan terima kasih karena telah memberikan segelas air minum padaku,” ucap pengemis itu.

“Apa ini, Pak tua?” Putri bertanya heran.

“Ini adalah bibit tanaman obat untuk segala macam penyakit. Tanamlah di belakang istana. Setelah memberikan kantong tersebut, pengemis itu pergi. Putri Rosmarika lalu langsung menanamnya di belakang istana.

***

Tak lama kemudian, musim penghujan tiba. Biji-biji itu tumbuh sangat subur. Ada banyak kuncup-kuncup bunga di setiap ujung tunas. Tanaman itu berbeda dengan tanaman mawar yang biasa. Warnanya biru, dengan ukuran kelopak bunga yang lebih besar. Tidak ada duri-duri tajam yang tumbuh di sepanjang tangkainya dan baunya lebih harum.
Putri Rosmarika sangat menyayangi tanaman itu. Ia selalu memberikan perhatian khusus setiap hari. Sampai lupa waktu. Bahkan, melupakan keempat sahabat karibnya yang selalu datang menjemput untuk bermain bersama.
***

Suatu malam, Putri Rosmarika dipanggil Raja Brus. Raja Brus mendapat berita bahwa seorang pangeran dari kerajaan tetangga tengah mencari obat untuk ibunya yang sakit keras. Beberapa orang tabib dari seluruh pelosok negeri telah didatangkan.
Menurut kabar, obat yang dicari pangeran adalah mawar biru. Madu yang dihasilkan dari bunga tersebut bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh ibunya. Namun sayang, Putri Rosmarika menolak untuk memberikan bunga itu kepada pangeran. Hal ini membuat Raja Brus marah. Ia tidak menyangka bunga mawar yang ditanam putri itu bisa membuatnya berubah menjadi jahat. Padahal, Raja Brus ingin mengajak Putri Rosmarika membantu pangeran tersebut.

“Aku tidak mengenal pangeran itu, Ayah!” bentak Putri Rosmarika.

“Kita harus menolong siapa saja yang membutuhkan meski kenal atau pun tidak, Putri,” kata Raja Brus menasihati Putri Rosmarika, namun gadis itu tetap menolak.

“Tidak, Ayah. Itu adalah satu-satunya mawar biru yang kupunya. Lagipula, bunganya masih menguncup. Tidak mungkin kuberikan, Yah!”

“Hhmm. Kalau begitu kau harus membantu ayah,” ucap Raja Brus.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Carilah bunga mawar serupa yang tumbuh di tempat lain. Akan kubangunkan kau sebuah kerajaan dari emas jika berhasil menemukannya. Tapi jika tidak, akan kukirim kau ke kerajaan bawah laut,” tegas Raja Brus.

“Baik, Ayah. Aku akan membantumu menemukan bunga mawar berwarna biru yang tumbuh di tempat lain. Beri waktuku satu minggu.” Putri Rosmarika menjawab yakin.

***

Keesokan hari pagi-pagi sekali, Putri Rosmarika berangkat mencari tanaman bunga mawar yang diinginkan ayahnya. Putri Rosmarika akan pulang ke istana jika matahari sudah terbenam. Begitu seterusnya sampai hari ke enam, namun usahanya sia-sia. Putri Rosmarika putus asa. Bayangan wajah sang ayah membuatnya tidak bisa tidur. Putri Rosmarika pun menjadi takut. Ia tidak sanggup jika hidup sendiri di kerajaan bawah laut.
Saat semua sudah terlelap, Putri Rosmarika pergi ke taman belakang untuk melihat tanaman mawar biru miliknya. Rupanya kuncup-kuncup itu sudah merekah. Ia terus pandangi bunga-bunga itu. Tiba-tiba ia teringat dengan keempat orang sahabat karibnya yang telah lama ia lupakan semenjak ada tanaman mawar biru itu.
Ah, kenapa tidak meminta bantuan mereka saja? Batin Putri Rosmarika. Ide untuk menemui keempat orang sahabatnya tersebut muncul di benak Putri Rosmarika. Malam itu juga, ia langsung menemui Gira. Putri Rosmarika pun menceritakan permintaan ayahnya.

“Aku dan teman-teman bersedia membantumu, Putri. Besok, kami akan mencari mawar yang diinginkan Raja. Tunggulah di istana sebelum matahari terbenam. Kami akan membawakan bunga mawar biru untukmu,” kata Gira meyakinkan Putri Rosmarika.

***

Waktu berdentang. Satu jam lagi matahari akan terbenam. Tapi, keempat orang sahabatnya belum juga datang. Ia menjadi putus asa. Haruskah kukatakan bahwa aku tak berhasil mendapatkan bunga mawar biru yang diinginkan ayah dan memberikan bunga mawar biru milikku? Tanya Putri Rosmarika dalam hati. Ia bimbang.

“Bersiaplah untuk hidup seorang diri di kerajaan bawah laut, Putri,” ucap Raja Brus membuyarkan lamunan Putri Rosmarika.

Namun tiba-tiba, tanpa disangka. Keempat orang sahabat Putri Rosmarika memasuki istana. Mereka membawa sebuah peti kayu berisikan bunga mawar biru yang diinginkan Raja Brus. Putri Rosmarika menyambut kedatangan keempat temannya tersebut. Ia membuka peti itu.

“Aku mengenali mawar ini. Harumnya persis sama dengan mawar biru milikku,” kata Putri Rosmarika sambil mencium setangkai mawar biru yang ia ambil dari dalam peti yang dibawa oleh teman-temannya.

“Ini mawar ajaib. Obat dari segala macam penyakit. Aku menemukannya di desa seberang, Putri,” jawab Delima, salah satu sahabat Putri Rosmarika.

“Tidak. Aku mengenali bunga ini. Kau telah berbohong!” kata putri.

Saat Putri Rosmarika dan teman-temannya sedang berbincang, Raja Brus datang mendekat. Ia mengambil mawar biru di tangan Putri Rosmarika.

“Apakah kau mengenali bunga ini, Putri?” tanya Raja Brus.

“Iya, Ayah. Itu adalah mawar milikku. Maaf, aku tidak bisa menemukan bunga mawar serupa di tempat lain. Tanaman ini hanya tumbuh di kerajaan Bunga. Ia bisa mengobati segala macam penyakit,” Tegas Putri Rosmarika.

Raja Brus tersenyum. Ia sengaja bertanya seperti itu agar Putri Rosmarika bisa mengenali bahwa sesungguhnya bunga itu adalah mawar biru yang ia tanam di belakang istana. Raja Brus pun ingin meyakinkan bahwa bunga itu hanya tumbuh di kerajaannya.

“Apakah sekarang kau bersedia memberikannya untuk Pangeran, Putri?” tanya Raja Brus.

“Iya, Ayah. Aku bersedia memberikan bunga ini untuk Pangeran.” Putri Rosmarika memberikan bunga mawar biru miliknya kepada Raja Brus.

Lalu, secara mengejutkan. Jari-jari di kedua tangan Putri Rosmarika tiba-tiba menjadi sepuluh. Dua buah jarinya menghilang setelah memberikan peti kayu itu kepada Raja Brus. Saat itu juga, Raja Brus memberitahu putri bahwa ibu dari pangeran adalah Ratu Lebah yang telah mengutuknya. Dan, kutukan itu akan menghilang jika Putri Rosmarika bersedia memberikan madu mawar biru yang ia tanam kepada Ratu Lebah.

Cerpen – Lukisan Siluet

Cerpen Ary Yulistiana

Versi cetak: Antologi Cerita: Suatu Pagi di Karlovy Vary

Narator: Noer Admadja

download

Malam ini, untuk kesekian kalinya, engkau mengajakku pergi berdua. Bukan untuk pergi berpesta, atau menyesap candu lalu terlena. Namun cukup sekadar berjalan mengikuti kaki melangkah yang terkadang tak tentu arah. Hanya berbincang tentang apa saja. Menghirup udara malam sambil sesekali melempar pandang ke arah bintang. Atau jika beruntung sembari mengirimkan senyuman kepada purnama yang anggun dan menggetarkan. Katamu setiap malam adalah istimewa, setiap malam adalah perayaan yang selalu berbeda, setiap malam adalah tabir misteri yang tak pernah sama. 

Malam masih sepekat jelaga saat tanganmu yang dingin menggamitku dengan mesra, menyusuri pedestrian di jantung kota. Kawasan yang tak pernah jenuh berdenyut dalam keramaian, tak pernah sepi dari lalu lalang orang dengan segala kesibukan. Jantung kota ini selayak tempat di mana gelak tawa bercampur dengan suka cita, ruang di mana perbincangan hangat berpadu dalam kasih mesra, dan sudut-sudut yang merekam kasak-kusuk rahasia yang berseling dusta. Di antara cangkir-cangkir kopi yang sedap aromanya, di sela-sela kepulan asap rokok yang tak berjeda, bersanding dengan santapan dari kedai-kedai kaki lima.

Aku selalu mencoba memahami kesenanganmu untuk menikmati malam. Mencoba untuk menyelami dan menikmati gelap yang berhias kerlip bintang dan rona rembulan. Hingga pada akhirnya aku juga selalu merindukan malam. Aku selalu terlena dengan suasana syahdu dan romantisnya malam-malam temaram. Aku kini menyepakatimu bahwa waktu terbaik kita bertemu adalah saat malam tiba.

Aneh juga kalau orang hidup dengan bekerja mati-matian di siang hari dan kelelahan tak berdaya di malam hari. Padahal betapa sayang suasana yang ada untuk dilewatkan. Tak perlu jauh-jauh pergi berwisata untuk bisa melipur hati. Malam yang datang pun sudah sangat menyenangkan untuk dijelajahi.

Seperti halnya situasi pedestrian di malam ini. Satu sudut menawarkan keriuhan orkestra jalanan yang membuat siapapun ingin menari di sana, dengan para pemain musik yang tampak bergairah menghangatkan suasana. Sudut lain tampak ramai dengan kerumunan anak muda yang menghabiskan makanan dari penjaja kaki lima, juga penuh dengan senda gurau yang terlihat seru dan gembira. 

Engkau mengajakku menikmati sudut yang berbeda malam ini. Pelataran sebuah toko yang disulap menjadi kafe di malam hari. Di salah satu sudutnya ada van yang dimodifikasi menyerupai bar tempat menyiapkan pesanan makanan dan minuman. Di belakang, mural dengan tulisan yang mengisahkan filosofi biji-biji kopi menjadi latar yang meneguhkan eksistensi tempat itu sebagai kafe yang kekinian. Alunan musik yang tidak terlalu kencang membangun suasana yang rileks dan nyaman. 

Dua meja sudah terisi. Di meja terluar ada dua orang gadis yang sedang bercengkerama sambil membahas sesuatu di layar ponsel mereka. Pada meja lain sekelompok lelaki berkumpul entah membicarakan apa, tampak serius di antara kepulan asap rokok yang tanpa sela. Engkau mengajakku di sudut paling dalam. Aku setuju saja sebab aku juga menyukai posisi itu. Posisi di mana kita bisa bebas mengawasi orang lain namun orang lain tak bebas untuk melakukan hal yang sebaliknya. 

Seorang lelaki muda berpakaian kasual dengan sigap menghampiri sambil membawa buku menu. Tanpa membaca, engkau memesan secangkir espreso hangat dan dari daftar menu aku memilih mix fruit juice. Menu yang kubaca ternyata tak memaksa pengunjung kafe ini untuk menikmati kopi saja, namun juga menu lain untuk yang berbeda selera. 

Sesaat aku dan dirimu sama-sama diam, memandangi jalanan yang silih berganti dengan segala macam lalu-lalang orang. Sungguh kota yang layak menyandang julukan sebagai kota wisata pilihan, sebab banyaknya manusia dengan bermacam ras dari berbagai belahan dunia meramaikan pedestrian. Aku melirikmu dalam diam. Meski masih membuatku bertanya-tanya tentang arti diammu, aku selalu berusaha menghargai pilihan sikapmu.

Saat aku hendak memulai pembicaraan, pelayan kafe kembali datang. Membawa secangkir espreso hangat dengan latte art bergambar daun seperti yang sering kulihat di berbagai iklan atau di majalah. Engkau tersenyum senang mendapati latte art itu dan mengatakan tidak tega meminumnya sebab demikian manis penyajiannya. Aku tertawa kecil melihat kekonyolanmu. Perbincangan beraroma espreso berhias latte art itu kemudian membawa kita pada pembicaraan berikutnya yang sambung menyambung dengan segala peristiwa. Diiringi senyuman, tawa, dan sesekali meleratkan duka saat mengenang kisah luka.

Saat pembicaraan masih belum terhenti, datanglah seorang seniman jalanan menghampiri meja. Seorang lelaki paruh baya dengan topi pet berwarna coklat yang seolah ingin mengesankan bahwa dirinya adalah seorang seniman.

“Mau dilukis siluet? Pasti Nona akan terlihat cantik dengan tambahan bulu mata yang lentik.”

Ramah lelaki itu menawarkan seni jalanan kepadaku. Lukisan siluet, demikian lelaki itu menamainya. Dengan cekatan dibukanya papan besar berisi potongan karyanya dan beberapa foto serta tulisan-tulisan. Dijelaskannya secara singkat tentang seni lukisan siluet itu. 

“Saya akan membuat lukisan siluet secara langsung dengan melihat wajah Nona.” 

Lelaki itu kemudian menjelaskan teknik menggunting kertas linen berwarna hitam untuk membuat lukisan siluet sembari mengeluarkan peralatan lainnya. Ia lalu berkisah begitu saja. Bercerita bahwa konon istilah siluet berawal dari seorang Menteri Keuangan Perancis abad ke-17, Ettiene de Silhouette yang memberlakukan pajak tinggi kepada orang-orang Perancis. Dampak kebijakan ekonomi keras Silhouette itulah yang menyebabkan namanya menjadi istilah untuk hal-hal yang diusahakan lebih murah. Pada masanya, profil siluet adalah cara termurah untuk mendokumentasikan penampilan seseorang. 

Aku mengangguk-angguk takjub meski kedatangan seniman itu cukup mengejutkan. Rupanya ia berhasil membuat orang memperhatikannya pada kesempatan pertama. Kepandaiannya bertutur menyihirku untuk menerima kehadirannya.

Ia tunjukkan hasil lukisan siluetnya yang berupa tampak samping wajah-wajah orang terkenal di negeri ini. Dengan melihat siluetnya, aku bisa menebak nama-nama mereka. Sebagian besar di antaranya adalah pejabat. Aku semakin  kagum dan tertarik dengan keahlian lelaki itu. Namun kulihat engkau tidak terlalu suka. Entah tidak suka dengan kedatangan lelaki itu yang menurutmu mengganggu, atau tidak senang dengan lukisan siluet yang hitam legam itu. Akupun tidak terlalu ambil pusing dengan sikapmu.

Lelaki seniman itu lalu memperkenalkan diri, 

“Nama saya Davin.”

Aku tersenyum lebar, 

“Davin? Bagus sekali.”

Ia terkekeh, dengan setengah berbisik ia berkata sambil telapak tangannya dibentangkan di samping mulutnya. Seolah memberitahukan sebuah rahasia.

“Itu nama saat di jalanan, nama seniman.” 

Aku tertawa kecil, terhibur dengan sikapnya yang tampak jenaka. 

“Apa arti nama Davin, kenapa memilih nama itu?”

Ia tersenyum simpul, 

“Davin merupakan potongan dari nama da Vinci. Leonardo da Vinci. Saya sangat mengagumi da Vinci.” 

“Kalau menggemari da Vinci kenapa tak melukis saja?” tanyaku sembari mengingat-ingat sang pelukis Renaisans dari Italia itu.

Ia menaikkan alisnya,

“Kalau melukis dengan cat dan kuas di atas kanvas kan sudah biasa. Kalau melukis dengan menggunting seperti ini tentu lebih istimewa.”

“Jadi dibuatkan siluet?” lanjutnya. 

Aku mengangguk dan melirikmu, engkau turut mengangguk dengan ekspresi wajah yang datar.

Davin menyiapkan peralatannya untuk membuat siluet  wajahku. Sehelai kertas linen hitam telah disiapkannya dan tentu saja gunting kecil yang katanya selalu ia perhatikan betul mata pisaunya agar menghasilkan potongan yang tajam dan akurat sesuai bentuk aslinya. Aku dimintanya menghadap ke arah depan dan Davin duduk di sampingku. Ia bekerja sambil terus menggunting kertas yang ada di tangannya dan sesekali melihat wajahku. 

Aku senang sembari berdebar-debar, akan menjadi seperti apakah hasilnya? Tidak sampai lima menit kemudian, Davin mengatakan dengan suara rendah, sudah selesai. Aku melihat hasil guntingannya dan menjerit kecil sebab gembira. Hasilnya bagus sekali dan kurasa itu benar-benar bayangan wajahku dari arah samping. 

Lalu kuberikan pujian dengan setulus hati atas bakat yang dimiliki Davin. Namun engkau tampak gelisah. Aku agak terkejut sebab biasanya engkau sangat menikmati suasana malam. Ah, mungkin espresomu tadi terlalu pekat sehingga cukup sulit untuk berpikir tenang seperti biasanya. Atau engkau mungkin tak suka dengan pujian yang kulontarkan kepada Davin sebelumnya.

Lalu aku bertanya soal kepandaiannya menghasilkan karya dengan bermodalkan gunting dan kertas. 

“Pernahkah salah menggunting saat membuat lukisan siluet?”

Davin menjawabnya sembari menempelkan siluet hitam ke atas kertas putih dan mengemasnya dengan plastik transparan.

“Tak pernah salah, sudah ribuan wajah saya buat siluetnya. Tak pernah meleset. Sudah belasan tahun saya tekuni. Setiap kertas yang saya gunting sudah pasti selesai untuk satu orang.” 

Aku mengangguk senang dan kuminta engkau bersiap-siap untuk dibuatkan siluet serupa. Aku setengah memaksamu saat itu. Engkau bilang tak suka digambar siluetnya, namun aku berusaha meyakinkanmu dengan segala macam cara hingga engkau menyerah pada akhirnya. Davin mengambil posisi di sebelahmu dan kubiarkan Davin untuk membuat siluet wajahmu.

Suara gunting yang menari di atas kertas menandakan pekerjaan Davin dimulai. Engkau tampak gelisah sehingga aku memintamu untuk tenang sebab pasti kau akan terlihat tampan meski hanya dalam siluet. Aku meminta engkau mempercayai Davin untuk karya seni yang ia persembahkan malam ini.

Namun gelisah ternyata kemudian juga merayapi Davin. Lelaki paruh baya itu tampak tercekat dan seperti akan mengeluarkan suara tertahan. Lalu ditaruhnya kertas yang selesai diguntingnya itu. Diambilnya kertas yang baru lagi. Kali ini Davin mengusap wajahnya dan menarik napas dalam-dalam. Tak lama Davin meletakkan kertasnya yang telah usai diguntingnya.

Diambilnya kertas yang baru lagi, ditatapnya wajahmu lagi sungguh-sungguh dan terdengarlah semacam suara tertahan di kerongkongan Davin. Aku kasihan dengan Davin yang tadinya mengaku tak pernah salah dalam menggunting lukisan siluet sebab sudah katanya amat terbiasa. Engkau mungkin juga merasa dibohongi oleh akal-akalan seniman jalanan yang entah seniman betulan ataukah seniman gadungan ini.

Namun Davin seperti terhipnotis. Kertas yang telah usai digunting lalu tanpa daya dijatuhkan dan Davin mengambil kertas yang baru lagi serta melakukan pekerjaan berulang. Menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-

menggunting-

menjatuhkan 

kertas…

Dan telah habislah semua kertas hitam milik Davin. Aku belum sempat berkata apa-apa ketika Davin pergi dengan tergesa, hanya membawa serta papan bergambar hasil karyanya yang sejak tadi dibawanya ke mana-mana. Kertas-kertas yang berserakan tidak diambilnya. Davin melangkah amat cepat meninggalkanku, bahkan aku yang sedang mencari-cari uang di saku baju tidak dipedulikan olehnya. Padahal mestinya dia menanti-nanti bayaran ini sebab ia telah bekerja dan tinggal menanti imbalannya. 

Aku mengejar Davin beberapa langkah dan lelaki itu berjalan lebih cepat dari yang kuduga. Aku menghela napas menyaksikan keanehan Davin yang berubah begitu saja. Aku menyerah dan kembali ke tempat semula. Kukumpulkan kertas-kertas hasil karya Davin yang berserak di bawah kursi untuk melihat hasil lukisan siluetnya.

Aku tercekat.

Lukisan siluet yang entah berapa jumlahnya itu menghasilkan siluet yang sama. Wajah dengan tonjolan tanduk di dahi dan bibir dengan taring yang mencuat keluar. Tanganku bergetar hebat, kulihat lembar yang satu lagi, lembar yang satu lagi, lembar yang lain lagi.

Aku mendadak lunglai.

Aku seperti hilang akal untuk memaknai arti hasil lukisan siluet Davin malam ini. Apakah orang itu sebetulnya hanya badut pembuat lelucon ataupun cenayang yang bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata…. 

Aku… memandang ke arahmu.

Kiranya aku menduga yang kedua, sebab baru aku menyadari, 

Engkau pun telah lenyap tanpa suara….

***

2017

 

Ary Yulistiana adalah penulis yang juga seorang pengajar bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Solo. Menulis adalah salah satu caranya untuk bahagia serta turut berkontribusi dalam kegiatan literasi di Indonesia. Buku terbarunya Perpustakaan Raja Badai, sebuah kumpulan cerpen yang ditulis bersama dengan kedua buah hatinya. Bisa dihubungi di ibuary@gmail.com

 

>