Urusan Zoom di Masa Virus Corona

Cerpen dan penutur Liston P Siregar
Ilustrasi Musik Liston P. Siregar

DOWNLOAD

“Kalau habis pakai hand sanitizer jangan langsung masak, kesambar api tangan klen,” istriku mengingatkan kami waktu makan malam.

Pastilah sumbernya  grup WA, yang makin menggila di musim isolasi corona virus. Banyak yang lontang lantung di rumah dan sibuk nyebar pesan WA, untuk melucu, jaim, sok bijak, dan satu dua memang berbagi informasi penting.

Peringatan istriku tidak masuk akal. Tak satupun kami yang masih masak tapi pembantu dan kompor kami listrik. Jadi mau kandungan alkohol di hand sanitizer sampai 60%-pun, tak akan tersambar api. Tapi campuran panik dan banjir informasi, membuat istriku terprovokasi meneruskan semuanya ke grup WA keluarga.

Pernah aku kesal karena ada video 21 menit plus segala macam foto-foto tentang corona virus sampai telepon lemotku jadi makin woles. Kubilang, kirim sajalah linknya, dan cilakanya kutambah, “Tak perlulah kau tarok di grup WA kita, kalok kau baca koran adanya semua itu.”

Dia berang, “Koran otaknya komersil, yang di WA jujur saling perhatian keluarga sama kawan akrab.”

“Okeh,” kujawab tenang, “Tapi banyak yang loak-loak tak jelas.”

“Kaunya yang dor negatip.”

Panas kupingku, kutantang dia, “Jadi kau mau minum vodka yang katanya bisa membunuh virus corona.”

“Haram!,” bentaknya, “kalau ada yang mau berdosa mabuk-mabukan, urusan orang itulah.”

Mau kudebat lagi, tapi kubatalkan. Cuma bikin makin emosi tanpa kesepakatan akhir.

Kerja sama padu yang kami impikan waktu pacaran dulu ambruk bukan karena virus corona tapi sejak kelahiran anak kami, 20 tahun lalu. Tiap malam kami saling sikut di atas tempat tidur untuk nyiapkan susu untuk anak sulung yang lapar terus.

“Giliran kau!” perintahnya membangunkan dengan menjepit hidungku.

“Pakai asimu-lah lebih baik,” balasku.

“Udah kering, besok pagi baru ada lagi,” alasannya.

Setelah kedua anak kami bisa membaca, persaingan berlanjut, antara lain memilih dan menulis kartu ulang tahun yang lebih cantik, juga waktu sudah SMA, bersaing soal saran masuk universitas, dan waktu anak-anak kuliah bersaing untuk siapa dari kami berdua yang lebih ‘cool’.

Isolasi covid cuma menjadi lahan tarung yang baru saja.

Jadi waktu mulai lockdown dan harus ngajar pakai aplikasi Zoom, dia minta bantuan putriku, biarpun sudah dilihatnya aku berapa kali pakai zoom untuk rapat.

“Nggak semua orang yang tahu bisa mengajar dengan baik,” tegasnya penuh otoritas.

Istriku mengajar privat Bahasa Indonesia dan muridnya setahun ini adalah eksekutif perusahaan minyak asal Inggris. Biasanya dia datang ke kantor muridnya tapi virus corona membuat kursus lewat internet.

“Pakai Zoom,” saran sekretaris muridnya.

Cilakanya setelah di rumah masing-masing, guru dan murid itu sadar tidak paham Zoom dan sekeretaris tak bisa dipanggil ke rumah untuk membantu. Keduanya, guru dan murid tadi, mengandalkan putri masing-masing di rumah sendiri-sendiri dan semua orang tahu risiko jika orang tua bertanya tentang teknologi kepada anak sendiri. Amat berbahaya!

Nada kesal suara putriku terdengar ketika melatihnya pakai zoom sambil tergesa-gesa, “Ya pencetlah sharing file, kan jelas tulisan kek gitu….” Tapi tetap dia pilih yang seperti itu daripada bertanya ke saingan utamanya, yang jelas lebih woles, tenang, dan sabar.

Setelah Minggu malam latihan sekali lagi buka Zoom –juga dengan nada kesal dan tergesa-gesa dari putri kami- istriku memproklamirkan siap ngajar lewat Zoom. Aku yakin dia belum siap tapi diam saja, yakin komentarku akan menyulut perang dunia ke-1386.

Senin pagi tiba. Sekali-sekalinya dia bangkit lebih dulu dari tempat tidur dan kucari-cari, ketemu di ruang tamu.

“Pagi pak darling,” nadanya bersahabat menutup peluang protesku melihat ruang tamu ditata ulang habis.“Masa covid kan tak ada tamu.”

Sofa digeser untuk menampung meja sarapan yang dibawa dari teras belakang, dan kursi bacaku yang  bersandaran tinggi ikut dikerahkan. Di atas meja terpajang laptop Mac-nya, vas keramik dengan bunga warna-warni dari halaman, plus cangkir teh berukir oleh-oleh kakaknya dari Inggris, bukan mangkuk putih besar yang biasa dipakai sarapan.

Ada juga dua buku di atas meja, Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia dan “Adult Teaching, An effective way”  plus edisi Majalah Tempo terbaru. Sementara lukisan tiruan Raden Saleh diturunkan dan ditopang di atas kursi sehingga jadi latar belakang.

Aku menyaksikan dengan tertib. Setelah tata sana sini bersama pembantu, dia –mengenakan syal buatan Obin- duduk di kursi dan minta difoto pakai HP dengan instruksi jelas, “Kamu tunduk dikit Isah, mendekat ke komputer” supaya kira-kira seperti itulah nanti dia tampak di layar komputer. Isah tampak bingung tapi tak bisa menolak. Kalau minta tolong aku, maka maunya dia akan langsung tercapai tapi minta tolong saingat sengit???

Beberapa kali foto, beberapa kali tata ulang kursi, aksesoris di meja, dan lukisan di belakang bersama Isah.

“Ini mau kerja atau nampang…” pikirku tapi tersimpan di dalam mulutku dan yang ke luar adalah pertanyaan. “Jam berapa kau mulai ngajar.”

“Jam sembilan pak darling,” katanya  ringan tak melepas sorot mata dari HP-nya mengevaluasi tata letak pengajaran pagi itu.

Aku keluar dan menutup pintu penghubung ke ruang TV dan terlihatku tempelan tulisan warna merah, “At work, quiet please” dengan tanda seru.

Kuambil kopiku, kupasang TV untuk berita pagi tapi kupelankan suaranya. Isah keluar dan kutanya, “Sudah beres?”

“Sampun Pak.”

Tapi aku tak yakin.

Beberapa menit lewat pukul sembilan kupelankan lagi TV sampai nyaris tak bersuara. Terdengar sayup-sayup percakapan. Aku mendekati pintu, nguping.

“Bapak mohon terima invitation yang saya kirim lewat email,” kata istriku perlahan-lahan dengan jelas.

Lantas hening.

“Sudah Bapak buka aplikasi Zoom-nya,” tanya istriku lagi.

Ah, mereka rupanya berbicara lewat HP, jadi kuketuk pintu. “Perlu bantuan?” tanyaku pelan.

“We are fine…” jawabnya ke aku sekaligus menegaskan ke muridnya yang orang Inggris di seberang telepon sana sambil mengangkat jempol kirinya.

Baiklah, dan aku duduk kembali menonton berita pagi.

Tak lama pintu terbuka dan istriku bergegas naik ke atas. Ini berbahaya! Dia bangunkan putriku, yang selalu–entah pada masa tenang atau masa virus corona- tidur selepas tengah malam.

Aku diam, menanti bencana tiba.

Terdengar nada menghiba yang dibalas bentakan. “Kenapa Mamak ngaku semalam udah bisa?”

“Bukan di Mamak, tapi dia yang bingung.”

“Ya sana suruh dia tanya anaknya.”

“Sudahlah bantulah kami…” kata suara memelas itu lagi.

Ada hentakan langkah turun tangga, diikuti istriku di belakang, yang langsung menutup pintu ruang tamu, mengisolasiku dari masalah Zoom.

Kali ini sayup-sayup terdengar suara putriku, yang mengambil alih pemecahan masalah dan setelah sebelas menit –aku lihat jam di dinding di atas TV-, putriku keluar dengan membanting kecil pintu.

Dia ikut duduk selonjor di sofa, di sampingku. “Bapak sudah nawarin bantuan tapi ditolak,” jelasku menenangkan dia, yang diam membatu.

“Nggak nyambung tidur?” tanyaku bersimpati.

“Nanti ada masalah dibangunin lagi…,” suaranya masih kesal.

“Tapi sudah bereskan…Makasihlah,” akupun cari muka sikit.

“Laptop murid Mamak tak ada kamera. Makanya disuruh pencet ikon kamera, dia bingung…” kata putriku dengan sisa-sisa kekesalan.

“Ha? Masak laptop bos eksekutip tak ada kamera.”

“Bos jaman old yang semua diurus sekretarisnya, tak tau dia laptop lamanya tak berkamera…” jelas putriku dan menambahkan, “Tadi dibanguninya anaknya, tapi anaknya tak mau minjamin laptopnya.”

“Kalau cumak pake suara, kayak mana bagi layarnya?” tanyaku makin pingin tahu.

“Tadi dokumennya dikirim pakai email dulu. Udahlah Pak, jangan tanyak-tanyak terus.”

Akupun diam.

Berita pagi sudah habis tapi kutemani putriku duduk selonjoran antara nonton TV dan bermalas-malasan, ikut cemas menanti jika ada masalah baru dari ruang tamu yang bertranformasi jadi ruang kerja istriku di sebelah.

Sekitar pukul setengah sebelas, pintu terbuka dan istriku ke luar berjalan santai membawa cangkir teh berukir, sambil mengumumkan, “Istirahat lima belas menit. Makasih tadi ya anak Mamak sayang.”

Putriku diam dan aku basa-basi bertanya, “Gimana…Lancar?”

“Lancar jaya,” kata istriku mantab, “Efektif juga kok pakai Zoom,” tambahnya ringan gembira.

Hampir terucap dari mulutku, “Tapi nggak jadi mejeng kau ya…” tapi segera kugenggam kuat tangan kananku menahan komentar itu tidak loncat ke luar, mencegah perang dunia  ke-1387, biarpun pasti aku menang karena putriku pas sedang di kubuku.

***

Musik (Youtube Library)
1. Get Me on The Floor- Gunnar Olsen
2. Escape – Houses of Heaven
3. New Land – Albis

Tiga Cerita di Batang Pisang

Cerpen Hermawan Aksan
Versi cetak Suara Merdeka, 7 November 2010
Narrator: Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Endah Fitriana


DOWNLOAD

Cerita Satu: Kurusetra

MAKA berceritalah Ki Dalang. Kocap kacarita….

Baratayuda akhirnya pecah juga meskipun sudah dilakukan berbagai

upaya untuk mencegahnya. Bahkan seorang Kresna, titisan Wisnu yang

sangat dihormati dan dipuja, tak mampu membendung gejolak saling

menumpah darah antarsaudara.

Begitu sabda sang raja kedua kubu membahana, kedua pasukan pun

saling berhadapan langsung di arena Kurusetra, dengan tameng di depan

dada, pedang dan tombak di genggaman, dan tanda tanya di kepala:

untuk apa? Toh mereka tinggal menunggu auman sangkakala. O, gelar

pasukan yang alangkah indah! Bukan kuda-kuda yang bersiap tawur

dalam perang campuh, bukan pula pameran kekuatan yang hanya

mengandalkan kegagahan diri berlebihan, melainkan langkah tegap dan

sikap tengadah untuk bersiap memulai tarung secara ksatria. Masing-

masing akan berhadapan dengan lawan yang setara.

Tak ada perwira yang sedia beradu pedang dengan tamtama. Tak ada

ksatria yang sudi membasahi tangannya dengan darah para sudra.

Sebaliknya, tak ada tamtama yang memberanikan diri menghadapi

perwira. Kemenangan akan ditentukan oleh gelar pasukan, tapi juga oleh

satu per satu kedigdayaan.

(Tapi, oh, apakah kemenangan juga ditentukan oleh takdir? Siapa yang

menentukan takdir? Kalau takdir sudah menentukan siapa yang bakal

menang, buat apa harus terjadi perang?) Ketika sangkakala meraung di

fajar yang mencekam, kedua kubu melaju dengan derap langkah yang

mantap dan kecepatan yang niscaya. Genderang dan tambur berdebum.

Dan ujung-ujung pedang yang saling membentur, disertai sorak-sorai yang

menggema, lebih menggairahkan ketimbang gamelan istana.

Lalu, tatkala tajam tombak menembus dada, dan menyemburkan darah

dari lubang seberang, jiwa pun melayang menuju arah yang benderang.

Tiada sesal ketika ujung-ujung senjata menembus tubuh mereka karena

tiap jiwa terbang menuju nirwana.

Sangkakala kembali berkumandang pada saat sang surya menyelinap ke

balik gunung dan langit tinggal garis-garis semburat merah. Tombak dan

pedang kembali tersarung dan sorak-sorai surut ditelan remang petang.

Semua prajurit menarik langkah ke kemah, menghimpun lagi tenaga dan

menyusun gelar baru, mempersiapkan episode berikutnya esok hari.

Esoknya, dan hari-hari berikutnya, bersiaga para ksatria, yang selama ini

memenuhi halaman kitab-kitab sastra. Para putra Pandawa dan Kurawa

saling berlaga beradu senjata. Masing-masing sudah punya lawan.

Pancawala, Angkawijaya, dan tentu saja Gatotkaca, bertarung sebagai

perisai Amarta, beradu jiwa dan raga dengan Burisrawa, Lesmana, dan

Jayadrata dari Hastina.

Dan, setelah para putra mereka perlaya, lalu Duryudana, Dursasana, dan

kesembilan puluh delapan adiknya, dibantu para waskita seperti Karna,

Durna, Bisma, dan Salya tampil satu demi satu mendarmabaktikan jiwa-

raga mereka untuk negeri yang mereka bela, Arjuna dan Bima maju

menjadi penentu….

“Ki Dalang!” Ki Dalang memandang arah suara datang.

“Mengapa para putra Pandawa harus gugur meskipun demi kejayaan

negeri mereka? Bukankah mereka adalah generasi yang lebih muda, yang

mestinya berkesempatan menghirup udara kehidupan lebih lama?”

Ki Dalang terdiam. Perang terhenti.

“Jawablah, kami ingin kejelasan. Bagaimana logika yang mendasarinya?

Bagaimana kita menarik moral dari cerita yang memutus sebuah

generasi?”

“Saya tak bisa menjawab pertanyaan ini. Kisah Baratayuda sudah digelar

beribu kali dan tak pernah ada perubahan cerita.”

“Bukankah Ki Dalang punya kewenangan membikin cerita yang baru yang

berbeda?”

“Kalau berubah, bukan lagi Baratayuda namanya.”

Penonton bungkam. Perang masih terhenti. Dan angin mati.

Cerita Dua: Astrajingga

KI Dalang kalang kabut ketika ia tak menemukan Semar dan anak-

anaknya di kotak wayang. Padahal, tiba saatnya para punakawan naik

pentas, melepas ketegangan di antara dentang pedang dan jerit kematian

di Kurusetra.

“Tadi ada,” kata pembantu dalang, dengan suara bergetar oleh rasa

gentar. Ia bertugas menyodorkan wayang yang diminta Ki Dalang.

“Coba cari lagi, siapa tahu keselip di antara para buta,” ucap Ki Dalang.

Pembantu dalang meneliti satu demi satu deretan wayang yang sudah

terpasang, baik yang berjajar di sebelah kiri maupun di sebelah kanan

batang pisang. Namun ia tak menemukan Astrajingga, Udawala,

Nalagareng, dan ayah mereka.

Diaduk-aduknya isi kotak wayang, siapa tahu ia lupa belum mengeluarkan

keempat wayang berwajah lucu itu meskipun, seingatnya, ia sudah

melakukannya sejak sore menjelang pentas. Ia hafal bahwa Ki Dalang tak

pernah menunggu puncak malam untuk menggelar gara gara para

punakawan. Semua isi kotak sudah dikeluarkan, tapi para punakawan itu

tak juga ditemukan. Ke mana mereka? Apakah ada yang mencuri? Buat

apa? Bahkan dalam bentuk ukiran kayu, harga punakawan tak lebih dari

para raksasa buruk rupa.

Lengking merdu Nyi Sinden sudah lewat setengah kawih. Mestinya,

Astrajingga langsung muncul dari awal dan berjaipongan.

“Mana, nih, Cepotnya!” teriak penonton.

Ki Dalang kian gelagapan. Dengan matanya ia bertanya. Namun si

pembantu, yang sudah bermandi peluh, karena lelah dan takut, hanya bisa

mengangkat bahu.

Dan, bahkan hingga lengking kawih pudar di langit malam, entakan-

entakan kendang hanya mengiringi pentas batang pisang yang hampa.

Akhirnya, Ki Dalang meneruskan pentasnya tanpa kehadiran punakawan,

tanpa selingan humor-humor segar yang menertawakan. O, bisa saja ia

memainkan para buta untuk bercanda, tapi tentu tak akan bebas seperti

senda-gurau Astrajingga dan Udawala. Dan yang pasti, tak mungkin

Yudistira bersabda sekaligus bercanda.

Ketika pentas tuntas, dan Ki Dalang membereskan wayang-wayangnya, ia

mendapati keempat punakawan mengintip dari balik kotak. Ki Dalang

terperangah.

“Nah, ini ada! Di mana tadi menyimpannya?” tanya Ki Dalang kepada

pembantunya.

Sebelum pembantu dalang menjawab, sekonyong-konyong Astrajingga

tertawa. Ki Dalang terkesiap. Bagaimana mungkin wayang tertawa

sendiri?

“Jangan terkejut, Ki Dalang,” kata Astrajingga. “Kami memang

memutuskan untuk istirahat dulu. Di negara yang sudah makin lucu ini,

buat apa kami tampil kalau tak lagi membuat penonton tertawa?”

Cerita Tiga: Indraprasta

KIAN panik Ki Dalang bukan kepalang. Ia tak bisa lagi menemukan

wayang-wayang dengan cepat. Wayang-wayang seakan-akan berebut

tempat di sebelah kanan batang pisang. Para raksasa, siluman, dan

denawa buruk rupa berdesakan dengan para ksatria tampan. Batas

memudar antara pembela kebenaran dan pengusung kejahatan.

Mengapa bisa begitu, Ki Dalang tak tahu. Ketika menyusun wayang-

wayang, ia dan pembantunya yakin bahwa para ksatria semua berjajar di

sebelah kanan dan para raksasa berbaris di sebelah kiri batang pisang.

Karena itu pergelaran menjadi tersendat-sendat seperti laju kura-kura. Ia

yakin sudah meraih Prabu Yudistira, eh, yang terpegang malah

Dursasana. Nyaris ia memainkan tokoh Hastina itu ketika ia membuka

adegan pasowanan di Keraton Indraprasta. Ia juga sudah siap menarikan

Astrajingga dalam entakan kendang yang mulai menggila, tapi yang

terpegang di tangannya adalah Dewi Supraba. Sungguh memalukan kalau

sampai sang dewi swargaloka berjaipongan sambil bercanda….

Yang lebih ganjil, Ki Dalang tak mampu lagi mengendalikan cerita. Alur

mengalir liar di luar kehendaknya. Ia sudah mempersiapkan cerita tentang

pengukuhan Yudistira sebagai raja Indraprasta, sesuai dengan permintaan

si empunya hajat, yakni seorang bupati yang baru terpilih.

Namun cerita berkembang tak jelas arah ketika tiba-tiba saja Bima

menolak pengangkatan itu. Bima beralasan kakak sulungnya berkubang

dosa yang mustahil terampunkan, yakni bermain dadu dengan

mempertaruhkan Kerajaan Hastina, bahkan istrinya sendiri, Dewi Drupadi.

Bima pun mengajukan diri untuk menjadi calon penguasa alternatif.

Alasannya, dialah yang selama ini menjadi tulang punggung perjuangan

Pandawa. Ia siap bersaing dengan kakaknya sendiri untuk berebut takhta.

Bima tidak sendiri. Sang panengah, Arjuna, pun mendadak berteriak

macam pelantang. Ia juga merasa berhak untuk bersaing dengan kedua

kakaknya guna berebut mahkota kebesaran. Arjuna berkilah, karena

memiliki rupa bak Kamajaya, dialah yang paling pantas menjadi raja.

Bahkan Nakula dan Sadewa, yang biasanya tak pernah bicara, kali itu juga

turut mengajukan diri bersaing sebagai pasangan raja dan menteri

perdana.

Kisah menjadi makin runyam ketika tokoh-tokoh golongan kiri—mereka

yang biasanya berbaris di sebelah kiri batang pisang berbondong-bondong

mengajukan diri untuk menjadi raja di Indraprasta. Dari Jayadrata,

Citrayuda, Dadungawuk, Padasgempal, hingga Sarpakenaka beramai-

ramai mendatangi istana.

“Setop! Setop!” Pak Bupati berteriak-teriak dari barisan terdepan para

tamu. Mukanya merah, malu tak terperi, karena ia berdampingan dengan

tokoh-tokoh terhormat dari provinsi.

“Ki Dalang, kenapa cerita tak keruan begitu?” semburnya.

“Saya juga tak mengerti,” sahut Ki Dalang.

“Bagaimana mungkin?”

“Lihat saja sendiri apa yang terjadi.”

Di pentas batang pisang, wayang-wayang berjalan, menari, dan berbicara

sendiri!

Tutup lawang sigotaka. (*)

Bumiayu, Oktober

Dari Wanita Bonsai Kepada Anda

Cerpen Willy Wonga
Narator Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

 
DOWNLOAD

Maka ketika dada yang bergemuruh itu pecah, seorang wanita dengan mimpi menjadi beringin besar telah memutuskan, dengan bisu untuk bergabung kembali dengan sebentuk bonsai yang teronggok di atas meja kaca.

“Baiklah, ini sudah seribu tahun. Aku tidak bisa menemukannya lagi.” Katanya sekali saja sebelum bonsai menelan jiwanya.

Sementara itu seorang lelaki yang tahu banyak hal tentang si wanita duduk di sampingnya, memegang sebuah buku bersampul merah yang nantinya hanya akan pernah dibaca oleh beberapa orang saja di dunia ini.  Juga selingkar jam tangan elektrik dengan rantai metalik yang memantulkan cahaya matahari, bulan dan bintang-gemintang. Ketika jam itu berdetak, waktu pun berjalan mundur.

Lelaki itu tahu seluruh kisah hidup wanita itu dengan lengkap, hampir sempurna. Di kepalanya, wanita itu telah sangat menderita hingga lupa bagaimana menyambut hidup seolah-olah setiap hari adalah satu hari yang sama; warna yang sama, bau yang sama, rasa yang sama, kebosanan yang makin pekat.

Kecantikannya berupa seribu hari ingatannya yang hilang. Gurat tajam di sudut matanya adalah bentuk dari semangat yang surut. Bicaranya yang tidak banyak merupakan bagian dari kesepian seseorang yang daripadanya impian tentang surga dihapus satu persatu. Dan di hari ketika dia berubah lagi menjadi bonsai, maka dunianya menjadi tidak lebih daripada setapak tangan. Meja antik, pot manis, bagaimanapun tidak sepadan dengan apa yang direnggut daripadanya.

Dan tuan, Andalah kekasihnya!

Wanita itu telah menulis surat kepada anda namun tidak ada alamat untuk dituju. Surat-suratnya kemudian menumpuk, memerah lalu menjadi semacam kitab. Jadi kepada andalah kitab ini akan disampaikan. Dan jangan lupa jam tangan itu, yang ketika jam itu berdetak waktu pun berjalan mundur.

*****

Anda dan wanita itu sudah ditakdirkan untuk hidup abadi sejak hari pertama. Bayangkan kisah cinta yang abadi, dijalankan oleh dua orang yang hidup abadi, di dunia yang sepertinya akan abadi pula.

Bila suatu hari lelaki itu pergi ke padang rumput dia akan bertemu seorang gadis pemerah susu yang jelita. Jika cinta bisa dimulai dari senyuman pertama, maka demikianlah kejadiannya. Begitulah, anda adalah lelaki itu dan si wanita bonsai adalah gadis pemerah susu.

Kalian kemudian menikah dan tinggal di beberapa kota yang jauh dari tanah kelahiran. Kalian lalu beranak lalu bercucu. Abad demi abad pun berlalu.

Di hari baik dan hari buruk, wanita itu pergi ke toko swalayan dengan tas kecil mungil tersampir di bahu kanannya, membeli segala macam rerempah serta daging terbaik untuk makan malam kalian. Wanita telah menggunakan parfum-parfum berwangi lembut, mengenakan gaun-gaun anggun pada upacara-upacara istimewa, membaca banyak buku hampir seratus eksemplar yang ditulis oleh penulis dari masa ke masa serta menonton film-film percintaan terbaik yang pernah diciptakan. Dia melewatkan waktu malam di kedai kopi, dan bila bulan sedang tumbuh dia pergi ke pantai menyaksikan anak penyu. Dia menyukai musik klasik sebagaimana dia menyukai jus segar pada siang musim kemarau. Dia memasak dan menyisir rambut dengan sama piawai layaknya istri dalam kisah dongeng yang melenakan. Sesekali, di tengah malam saat terbangun karena sebuah mimpi, wanita itu akan mengajakmu bercinta.

Namun ada hari yang tampak lebih buruk dari hari lainnya, ibaratnya susunan tangga, maka hari itu adalah dua atau tiga tangga yang hilang sekaligus yang membuatmu terperangah dan sesak napas dan lantas berpikir apakah semua akan berakhir di hari itu. Hari itu Anda merasa tidak menginginkan wanita itu lagi. Itulah yang terjadi pada suatu hari di tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu; setelah hampir tujuh ratus dua puluh lima tahun bersama, anda merasa tidak mencintainya lagi.

Kira-kira apa yang akan anda lakukan setelah itu?

Di luar sana, banyak orang yang ketika merasa cintanya mati akan memilih mati pula. Tetapi bagaimana anda hendak menyingkirkan seorang wanita abadi? Anda pun pergi keluar rumah, berbaring di bebatuan tajam, berjalan masuk ke hutan yang penuh pakis basah, dan anda menemukan sepohon beringin muda.

“Aku akan meniupkan jiwa kekasihku ke dalam pohon ini. Jika dia tidak bisa musnah karena telah ditakdirkan untuk abadi, maka dia akan abadi di dalam pohon ini.”

Anda lanjut pergi ke toko barang bangunan untuk membeli sebuah gunting, sebuah pot, sedikit pupuk, kawat dan semacam obat nyamuk untuk wanita itu yang kemudian akan membuatnya tertidur sejenak.

Anda mencabut beringin muda dari suatu tempat lalu meniup jiwa wanita itu ke dalamnya. Apa yang terjadi pada hari itu, hanya Anda dan Tuhan Anda yang tahu.

Tahun demi tahun yang lewat hanya akan memahirkan anda membentuk bonsai dari beringin itu sehingga melalui kedua tangan anda yang artistik, jenis-jenis bonsai akan diciptakan; bonsai tegak lurus untuk tahun chokkan, bonsai tegak berliku selama seabad tachiki, bonsai miring dalam semasa shakan, dan bonsai kengai bonsai menggantung.

Tiap tunas yang anda pangkas, tiap ranting yg tidak anda perlukan dan tiap batang yang anda bengkokan; untuk suatu keindahan dia butuh luka. Anda memberikan dia air secukupnya, cukup untuk membuatnya terpojok dan berhenti tumbuh. Anda membuat dunia wanita menjadi kecil. Maka daun dan batangnya mengikuti akarnya yang kerdil. Maka di bawah sinar matahari musim panas yang membara, wanita dalam sebatang bonsai yang kau ramu dengan mahir itu, menjadi tidak hidup, dan hanya cantik saja.

Hingga datanglah tamu dari negeri seberang laut, melihat pot dengan beringin yang anda ramu, dia jatuh cinta.

“Oh, alangkah manisnya beringin kecil ini. Maukah anda menjualnya kepadaku? Aku ingin menukarkan setengah hartaku untuk membawanya pulang.”

“Aku menamainya bonsai.” Katamu.

“Bonsai? Aku malah akan menamainya keindahan atau kebebasan atau bentuk cinta yang agung.” Dan dia membawa pergi wanita bonsai itu dari hadapan anda. Di negeri yang baru, lelaki yang membelinya darimu akan menjelaskan ke orang-orang dengan caranya sendirinya tentang wanita bonsai.

“Ini sebuah keindahan.” Katanya kepada generasinya, lalu mewariskannya kepada anak cucunya.

“Ini sebuah seni yang mahal.” Suara dari generasi berikutnya.

“Ini sebuah keseimbangan. Titik tertinggi melambangkan langit, titik terendah melambangkan bumi sedang yang tengah melambangkan manusia.” Generasi lainnya lagi menamainya dengan pura-pura agung. Ibaratnya sebuah lelucon yang tidak lucu, dalam sebuah acara komedi di televisi dimana pemirsa yang jemu pura-pura ikut tertawa.

Tapi, tuan, wanita itu akan selalu menanti Anda menjemputnya pulang.

******

Lalu dengan langkah tegap lelaki yang mengetahui kisah hidup wanita bonsai itu akan berjalan melintasi sungai, mengangkangi kali-kali mati, untuk sampai kepada Anda.

“Hai kekasihku, Aku ingin pulang.” Surat wanita bonsai yang pertama. Dia demikian putus asa sekarang. Ketika dia merasa jiwanya akan terbelenggu terus menerus dalam bonsai itu, dia pun menulis surat yang lain;

“Aku bonsai, aku tidak mau hidup terperangkap di dalam sini lagi. Aku ingin besar. Aku ingin memberingin. Aku ingin merasakan bebatuan, mineral dan tanah yang luas. Aku ingin merasakan bulan di malam gelap dengan lengkingan anjing buduk.”

Lelaki itu pun terus berlari di tengah kota, di trotoar dengan gambar-gambar di muka tembok, gambar bunga kamboja di dinding yang mati dan berdebu. Dia akan terus berlari, dalam mimpi dan dalam sadar sementara hari-harinya akan terbentuk dari pesan si wanita yang membias di antara puncak bangunan dan pohon-pohon setengah mati di pusat-pusat kota. Sesekali, lelaki itu akan kehausan, dia akan menginap sejenak membeli beberapa botol air, dan di bawah matahari yang telanjang dia akan terbakar namun pada yang sama dia merasa gentar karena pesan si wanita yang dingin.

“Kekasihku, apa yang kau dapat dengan mengurungku?” suara wanita pemberi pesan itu mendentum dalam dadanya.

Barangkali, dalam perjalanannya dia akan bertemu dan jatuh cinta kepada seorang gadis di kota yang dia singgah semalam. Tetapi cinta semacam itu hanya bertahan sehari sebelum angin menghapus jejaknya menjelang waktu makan malam tiba. Bagi laki-laki itu, cinta yang abadi hanyalah cinta wanita bonsai kepada Anda, Tuan.

Bila hari-harinya menjadi semu dan suntuk di pusat-pusat belanja, lelaki itu akan berlari ke tepi hutan, duduk sendirian di seberang jalan. Angin akan menggulungnya sejenak, menawarkan kesegaran yang sama dengan sungai di tengah musim kemarau, sebelum angin berlalu dan lindap di reranting.

“Mana yang lebih masuk akal, kekasihku, kebebasanku atau keindahanku? Tentu kau akan memilih keindahan. Itu sebabnya kau memberikan sebidang dunia yang kecil; meja kaca, pot antik dan sederet wangi-wangian. Kau membiarkanku pucat dan kehilangan warna, kau memberiku makan yang hanya cukup untuk tumbuh sejengkal dalam sepuluh tahun.”

Maka lelaki itu akan terus berjalan, berlari dan melolong. Di kepungan kota dan di kampung-kampung nelayan, di hutan dan di pinggir sungai kesepian. Bila malam datang, dia melihat lampu trotoar juga sekilas samar cahaya bulan dan bintang-bintang. Tetapi keraguan besar membucah dadanya; sampai kapankah dia akan mencarimu, Tuan?

Dari timur, inilah cerita mengenai wanita bonsai, ketika orang Jepang mengecilkan sebuah pohon ke dalam gelas, mereka sebenarnya sedang mengurung seorang wanita muda kesepian. Ini bukan kisah mengenai keharmonisan manusia dengan alam, tetapi tentang daun-daun yang dipangkas, dahan-dahan yang digantungkan batu, batang-batang yang terlilit kawat, akar yang pendek. Tahukah mereka, ketika mereka membuat miniatur dari pohon yang hidup, sebenarnya mereka sedang membuat kehidupan yang mengerikan.

****

Dedaunan pinus di suatu puri yang jauh, kembang cempaka jatuh berserakan pada musim berbunga; siapakah yang lebih sendu lagi daripada seorang lelaki yang berjalan sendiri di kegelapan hutan, hingga hanya sibakan pakis dan langkah kaki sendiri yang terdengar, membawa pesan sederhana bahwa burung yang disangkar akan selalu bermimpi terbang tinggi, tentang jiwa yang dipangkas akan mati perlahan walaupun dia hidup seribu atau sejuta tahun lagi?

Ketika jam dengan rantai metalik itu berdetak, ketika saat bersamaan waktu sedang berjalan mundur, ketika lembar-lembar surat di kitab merah akan terbuka_Anda, Tuan yang terlibat dalam masalah ini, tahukah mengapa wanita itu terus menanti anda hingga tahun ke seribu? Tidak bisa dibayangkan betapa tercengangnya anda nanti.

iiii

Bagaimana Terjadinya Petir

Cerita anak  Agus Yulianto
Narator Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

 
DOWNLOAD

Anak-anak Sekolah Dasar Semesta Cendekia bergegas pulang usai mengikuti kegiatan pembelajaran. Hari mulai sore, tetapi para siswa masih menunggu jemputan dari orang tuanya. Awan hitam tampak menggantung  di langit.  Angin berhembus semakin kencang. Suara petir menggelegar. Hujan pun turun dengan derasnya.  Bagi sebagian anak yang belum di jemput, mereka  menunggu di halaman sekolah ditemani oleh guru piket.

Suara petir menggelegar dan menjilat-jilat. Anak-anak takut dengan suara petir. Ari dan Asep salah satu dari anak-anak yang takut dengan suara petir. Mereka berdua mendekati Pak Toni, guru yang sedang piket.

“Pak, suara petirnya menakutkan,” kata Ari.

“Kalian jangan takut dengan suara petir itu. Petir itu tidak mengginggit kalian,” canda Pak Toni menggoda Ari dan Asep.

Suasana pun menjadi cair meskipun hujan belum juga reda. Sambil menunggu hujan reda. Ari dan Asep berdiskusi dengan Pak Toni yang merupakan guru IPA mereka di kelas 6.

“Pak, Kenapa setiap hujan selalu ada petir?” tanya Asep.

“Kenapa ya?” Pak Toni sambil berfikir mencari  jawaban yang membuat mereka penasaran, akhirnya Pak Toni mengambil buku pengetahuan Sains modern di rak perpustakaan. Ari dan Asep diajak berdiskusi sambil membaca dan melihat gambar-gambar yang ada di buku itu.

Anak-anak yang belum di jemput ikut bergabung mengikuti diskusi kecil itu. Pak Toni menjelaskan tentang bagaimana proses terjadinya petir?

“Begini anak-anak, petir terjadi akibat perpindahan muatan negatif menuju ke muatan positif. Petir merupakan hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energi itu sangat besar sekali. Sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat. Pasti kalian pernah mendengar suara petir seperti halilintar, geluduk, atau guntur,”

“Pernah saya mendengar suara geluduk yang selalu membuat kaget. Suaranya sangat keras sekali,” jawab Ari.

“Iya benar sekali. Suara-suara geluduk, guntur dan halilintar ini dapat menghancurkan bangunan, memusnahkan pohon bahkan bisa membunuh manusia. Makanya, ketika ada suara petir kita diminta untuk menutup kedua telinga supaya tidak merusak pendengaran kita,“ jelas Pak Toni sambil memperlihatkan beberapa gambar yang ada di dalam buku pengetahuan sains modern. Anak-anak mendengarkan dengan serius seperti mendengar sebuah dongeng.

“Ketika suara-suara petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya. Sebagai akibat dari udara yang terbelah. Sambaran petir itu rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik, itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar,” ketika asyik bercerita ada salah satu anak yang sudah dijemput oleh orang tuanya. Hujan juga belum reda, malah semakin bertambah deras.

“Tahukah kalian bahwa energi yan dilepas oleh satu sambaran petir sangat besar. Suhu di sekitar jalur petir mencapai 10.000 derajat celcius. Pantas saja, kalau ada manusia yang tersambar petir tubuhnya langsung menjadi hitam. Pohon pun kalau tersambar petir langsung tumbang,”

“Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak tersambar petir?”  tanya Asep yang serius mendengarkan penjelasan Pak Toni. Mereka mendengarkan cerita sambil memakan roti keju bekal mereka yang masih sisa.

“Supaya tidak tersambar petir. Kalau hujan deras sebaiknya berteduh di tempat yang aman. Jangan berteduh di bawah pohon, nanti malah ke sambar petir. Oleh karena itu, ada yang namanya alat penangkal petir. Coba perhatikan gedung kelas 5 lantai dua, di atas itu seperti ada besi yang menjulang keatas. Nama alat itu penangkal petir. Biasanya kalau ada bangunan yang tinggi atau bertingkat harus dipasang penangkal petir. Bertujuan untuk menghindari bahaya yang timbul dari petir itu. Alat penangkal petir akan mengumpulkan muatan listrik sebanyak mungkin. Selanjutnya, mempolarisasi atau memproses udara sehingga udara bermuatan listrik. Muatan ini akan dihantarkan udara ke awan untuk mencegah terjadinya petir,”  jelas Pak Toni di akhir ceritanya. Pak Toni pun menutup cerita tentang proses terjadinya petir. Anak-anak sangat senang sekali mendengar ceritanya.

Hujan masih belum juga reda. Bahkan tambah semakin deras. Sebagian orang tua anak-anak sudah berdatangan. Ada yang membawa mobil dan ada juga yang naik sepeda motor. Begitu juga dengan orang tuanya Ari dan Asep. Mereka dijemput dengan naik motor. Tidak lupa Ari dan Asep mengenakan jas hujan. Sebelum pulang mereka berdua tidak lupa untuk berpamitan kepada Pak Toni. Suasana sekolah sudah mulai sepi. Anak-anak sudah pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Pak Toni . ***

Simbok Biyung

Photo Credit @donniecengkreng

Anggitan: Endah Fitriana
Katuturake dening Endah Fitrina
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

DOWNLOAD

 

Mbok…

Aku ketemu dheweke

Werkudara saiki pasuryane aclum

Gagah pideksa sing biyen

Tan ana tilase

 

Babar blassss….

 

Simbok..

Ana sapletik rasa

Pengin nyaketi

Nanging….

Tatu ati iki

Isih durung kena disayuti

 

 

Yung…

Tresnaku

Pangarep-arepku

Wis kebacut tak pupus

Kanggo nebus

Esemmu kang tulus

Lakuku tan kena mandheg tumoleh

 

Aku kudu mrantansi …!!!

 

 

Biyung…

Aku lila

Pangarep-arep lan tresnaku

Kentir ing tengah segara

Mung iku pisungsungku

Kanggomu

 

Sawiji….!!!

 

9 Oktober 2010 pukul 16.29

 

 

 

Aku dan Purnama

Penulis : Astuti Parengkuh

Pemenang Harapan Sayembara menulis Cerpen. Universitas Negeri Makassar

Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana


DOWNLOAD

 

Sesekali aku sengaja naik ke lantai dua  saat hujan turun. Lalu di teras loteng yang tak beratap itu, kutengadahkan wajah dan  tanganku ke atas untuk menyamarkan buliran air mata yang menyatu dengan air mata langit. Di tengah isak yang tak akan terdengar oleh seisi rumah, diam-diam hatiku sesak. Beberapa jenak aku akan menipu diri seolah-olah tegar dengan keadaan sebelum masuk ke rumah kembali dalam keadaan basah kuyup. Kukatakan kepada ibu jika aku rindu bermain hujan-hujanan seperti masa kecil. Ibu tak tahu jika aku merindukan seseorang nun jauh di sana; Kang Ama.

Beberapa kalimat yang kurangkai menjadi barisan kata-kata yang kini usang masih tertulis pada diary biru laut. Kubiarkan diriku bercengkerama dengan kenangan. Seperti hendak menyelam di kedalaman laut, aku tak ingin tenggelam dan kehabisan oksigen sebelum benar-benar henti napas.

kenangan tentang Kang Ama tiba-tiba melintas begitu saja beberapa puluh menit lalu. Aku ingin menziarahinya dengan menangis sejadi-jadinya, namun di suasana rumah masih ramai, mana mungkin itu kulakukan. Ketika hujan turun deras, kuanggap ada malaikat yang mendengar doa keinginanku. Maka mengeluarkan tangisan dalam derai hujan adalah menyembunyikan rindu yang tersamarkan.

Pagi ini aku akan menemui Kang Ama seperti janjiku kepadanya menjemput di stasiun Lempuyangan. Dia laki-laki yang kukenal beberapa tahun lalu saat menjadi mahasiswa di sebuah universitas. Kang Ama indekos di dekat rumah. Setiap pagi Kang Ama selalu menyempatkan diri sarapan di warung kepunyaan keluargaku. Kang Ama menyambi menjadi karyawan di sebuah toko komputer dan selalu mengambil shift sore. Kadang malam hari. Dia sering pulang pagi dan langsung menuju warung ibu.

Kang Ama menumpang kereta api Lodaya. Azan subuh baru saja terdengar, sementara para penumpang keluar dari gerbong seperti deretan semut yang menyembul dari lubang tanah.  Kulihat Kang Ama berjalan ke arah pintu keluar seperti orang-orang yang segerbong dengannya.

“Kang Ama?” sapaku sambil aku sentuhkan punggung tanganku ke punggung tangannya.

“Hai, Wid. Udah lama menunggu aku?”jawabnya kemudian sambil menggamit lenganku.

Kang Ama, kalau saja beberapa hari lalu aku tak memperoleh nomor teleponnya, mungkin aku tidak dapat menghubungi.Rupanya ibu masih menyimpan nomor telepon rumah keluarga Kang Ama. Dan sejak beberapa hari lalu setiap pagi, Kang Ama tak lupa menelepon ibu dan aku. Tepat di waktu-waktu dulu dia suka mampir ke warung untuk makan. Namun sekarang ibu sudah beranjak tua, warung makan sudah dijaga para pembantu. Ibu hanya menyiapkan bumbu-bumbu saja.

“Kita ngopi sebentar, Kang Ama? Hari masih sangat pagi,” usulku.

“Maaf, aku ke musala dulu,” jawab Kang Ama sambil mengeluarkan stik yang sudah dilipatnya di dalam tas. Dia berjalan sekira 10 meter hingga sampai ke musala stasiun.

“Wid, bagaimana keadaan kota Yogya sekarang?” Kang Ama mulai ingin tahu dengan kota yang pernah ditinggalkannya belasan tahun lalu.

“Yogya makin cantik, Kang. Seperti aku yang senantiasa berdandan,” candaku yang dibalasnya dengan tertawa ngakak,khas Kang Ama.

“Iya, iya percaya kalau kamu gadis paling cantik sekampung Prayan. Bukankah dulu aku pernah mengatakannya kepadamu?” Kang Ama masih ingat.

“Kamu sudah semester berapa sekarang?”tanya Kang Ama sambil menyeruput kopi hitam yang asapnya mengepul dan mengeluarkan bau khas campuran jagung.

“Aku baru menulis skripsi, Kang. Aku udah semester tua,” jawabku sambil terkekeh.

“Wah ternyata lama juga ya aku meninggalkan kota Yogyakarta,”

“Benar, Kang Ama. Saat Kang Ama lulus fakultas teknik, Widya masih duduk di bangku kelas 6 SD,” jawabku.

“Dan kau selama ini hanya tinggal di Jogja saja? Kalau aku sudah melalangbuana hahaha…”Kang Ama tertawa sambil memperlihatkan sederetan giginya yang tampak rapi.

Setelah selesai minum kopi di kedai dekat stasiun, lalu aku mengajak Kang Ama beranjak. Kusentuh lagi tangannya dengan punggung telapak tanganku.

“Ayo, Kang, kita jalan,” kataku.Beberapa detik kemudian Kang Ama menggandengku.

“Kamu sudah prigel menemani seseorang sepertiku. Kamu sangat cekatan dan sabar ya,”kata Kang Ama.

“Oh, itu karena aku juga akrab di komunitas yang didalamnya aku bertemu dengan teman-teman seperti Kang Ama,”kataku.

“Kamu kerja di panti?”

“Semacam itulah.”

Sejurus kemudian, ingatanku kembali ke masa 15 tahun yang silam.

***

 

15 Tahun Lalu

 

Pagi hari Kang Ama datang ke warung kami untuk sarapan. Dia seperti tergesa-gesa karena hendak mengikuti unjuk rasa mahasiswa menuntut reformasi yang beberapa hari ini terjadi di kampus. Kang Ama juga memesan 50 nasi bungkus pada ibu sehari sebelumnya. Setelah nasi yang dipesannya sudah pasti jadi di saat siang waktu jam makan, Kang Ama langsung pamit.

“Kemarin ada yang terluka, Purnama.Jadi berhati-hatilah,”kata Ibu menyampaikan pesan kepada Kang Ama.

Ibu lebih suka memanggil Kang Ama dengan panggilan nama sebenarnya. Tidak seperti teman-teman Kang Ama atau anak-anak kecil yang tinggal di dekat kos.

“Baik, Ibu. Lho, Nduk, kenapa kamu nggak bersekolah?Mbolos ya?” tanya Kang Ama kepadaku.

“Hari genting seperti ini, siapa sih yang tega membiarkan anaknya masuk sekolah. Apalagi komplek sekolah Widya dekat kampus. Bagaimanapun Ibu takut, Purnama,”jawab ibu mewakiliku.

“Coba Kang Ama antar kamu, Wid.Mau?” Kang Ama memprihatinkanku. Wajahnya berubah cerah bercampur lucu saat ajakannya kutolak.

Widya itu sudah gede, Purnama. Dia sudah punya rasa malu memboceng kamu,” lagi-lagi ibu mewakiliku menjawab pertanyaan Kang Ama.

Pada siang hari suasana kota Yogya kudengar memanas. Rakyat Yogya menghendaki Ngarso Dalem menentukan sikap. Ribuan orang memadati alun-alun, menggelar ritual ‘tapa pepe’. Bukan hanya di Yogya, di sejumlah kota besar selain Jakarta ribuan mahasiswa merangsek bergerak. Kota Solo yang berjarak sekira 60km dari Yogya pun mulai membara di beberapa tempat.

Siang hari setelah usai shalat Dhuhur, utusan Kang Ama datang mengambil pesanan nasi bungkus. Dia teman di satu komunitas mahasiswa. Ibu yang suka ramah terhadap para mahasiswa yang sering makan di warung menanyakan keadaan kampus siang itu.

“Masih terkendali, Budhe,”jawab teman Kang Ama.

“Semoga zaman lekas tentrem, ayem, kartaraharja,” kata ibulagi.

“Amin, Budhe,”jawab teman Kang Ama sambil melirik ke arahku.

“Oh, kamu ya, Nduk yang bernama Widya, putri Bu Zaenab pemilik warung Burjo,”teman Kang Ama mulai menyebut-nyebut namaku.

“Emang kenapa, Mas?”tanyaku sambil kukulum senyum.

Dengan logat Surabaya yang sangat kental, teman Kang Ama yang akhirnya kuketahui bernama Rosihan itu hanya meninggalkan senyum dan sebungkus permen lolipop.

Sore hari, tak ada kabar yang aku dengar tentang Kang Ama. Namun seperti mendengar kilatan halilintar di siang bolong, pagi-pagi sekali beberapa teman Kang Ama mengabarkan jika mahasiswa semester akhir itu tengah dirawat di rumah sakit. Mata Kang Ama terkena lemparan  para demonstran. Entah mana berita yang benar, karena ada yang mengabarkan jika pelaku pelemparan itu oknum polisi.

“Widya ikut menjenguk ya, Bu,”kataku merajuk saat ibu memberitahukan akan menengok Kang Ama yang sudah berpindah dan sekarang tengah dirawat di rumah sakit Dr.Yap.

“Boleh. Nanti kita sama-sama dengan keluarganya yang baru datang dari Bandung,” jawab ibu.

Sore itu aku melihat Kang Ama dikelilingi oleh teman-teman kuliahnya serta beberapa keluarga dengan keadaan mata berbalut perban.

Kudengar bisik-bisik jika Kang Ama tak lagi bisa melihat. Kedua matanya sudah tak berfungsi. Dokter akan mengambil tindakan operasi pencakokkan mata jika ada pendonor.

“Ada Widya ya. Apa kabarmu, Nduk? Kamu masih membolos ya?” Kang Ama menanyakan sekolahku.

“Aku mau sekolah besok, tapi harus Kang Ama yang mengantar,”

“Ah, kamu ini ada-ada saja,”

“Benar. Jika Kang Ama bisa mengantarku,aku mau sekolah,”

“Owalah, Nduuuuuk….”

Seketika orang-orang yang berada di ruang tertawa terpingkal-pingkal. Kang Ama sejenak lupa akan keadaan dirinya.

***

Bulan purnama sepenuh di atas langit Yogya meluruh. Aku dan Kang Ama duduk di teras depan rumah bermandikan cahaya bintang-gemintang. Sejak kedatangannya pagi tadi, Kang Ama banyak bercerita bahwa setelah lulus kuliah S1 dulu, dia lantas mengambil beasiswa S2 di London.Tak serta merta langsung berangkat, karena dia mesti mengakrabi huruf Braille yang tentu sangat asing baginya.

Kang Ama juga bercerita jika dirinya belum berkeluarga. Kepadatan aktivitasnya di beberapa organisasi masyarakat seperti melalaikan dari setengah kewajiban yang diembannya; menikah.

“Widya sudah punya pacar?” tanya Kang Ama.

“Sama dengan Kang Ama, aku lebih asyik bekerja di panti daripada berpacaran. Jadi begini deh, ngejomblo!”jawabku lalu dibalas tertawa ngakak khas Kang Ama.

Tuhan, aku tak berharap banyak tentang impian. Namun setidaknya tangisanku di setiap datangnya hujan deras,disertai doa-doaku pada sosok laki-laki yang telah kuanggap sebagai pahlawan ini mampu mengalihkan perhatianku dari apa pun.

“Malam ini nggak bakalan turun hujan ‘kan?”tanya Kang Ama.

“Bulan purnama tengah memikat langit, Kang. Seperti dirimu yang telah mencuri hatiku.”

Kuhentikan napas.Kuraba detak jantungku yang cukup keras. Aku diam membeku. Kang Ama pun demikian.

Malam semakin larut dan kami hanyut dalam kebisuan. Tiba-tiba Ibu memanggil kami.

“Widya! Purnama! Sudah larut malam.Ayo kalian masuk kamar masing-masing.”

Malam ini, akan aku tulis dalam diary sebuah kisah tentang aku dan Purnama.*)

 

Manuk Enggang

Cerkak Yessita Dewi
Katuturake dening Yesita Dewi
Ilustrasi musik: Endah Fitriana

DOWNLOAD

 

Dina iki awak luwih kesel tinimbang dina liyane, embuh ngapa. Rasane lungkrah, apa wae wegah. Jarene kanca raketku, Benik, iki amarga atiku dhewe. Sik, Benik? Iya, iku kancaku raket kawit dadi mahasiswa baru, ndilalah KKN jaman neng Amuntai, Kalimantan, uga sak kelompok. Beda jurusan nanging tetep regeng tekan seprene. Ibu lan bapake krenteg wenehi jeneng Benik amarga pancen bocahe menik-menik lucu lan ayu. Yen aku, Meranti, amarga mbiyen ketok ireng kaya ta kayu meranti. Pandonga samesthine bene bocahe kuwat lan bakoh kaya kayu wesi iku. Kuwi aku. Jarene kuat. Nanging nonton drakor tetep pating dlewer iluhku. Wis, iki kok malah nggagas jeneng.

“ Ranti, sesuk sida ta?,” suarane Benik seka ngarep lawang kamar kosku. Aku nyoba ngeling-eling. Sesuk? Ana apa ya?

“ Halah, lali. Sesuk ana Festival Seni Budaya neng Beteng Vastenberg, nonton ya!,”

“ Oh, kuwi. Jam pira ta?,”

“ Jam setengah wolu bengi sih, nanging yen isa jam pitu awak dhewe wis standby ben isa oleh kursi, nonton karo ngadeg ora penak, kesel,”

“ Oke, sesuk tak mulih rada cepet seka kantor. Eh, golek susu segar yuk,”

Aku karo Benik mlaku nuju dalan Slamet Riyadi. Kosku pindah daerah Kemlayan, karepku ben cedhak kantor rasah numpak pit montor, mlaku ngono kan penak. Wektu kuwi ana kamar siji sing kosong bar ditinggal rabi sing ngekos, aku nawani Benik sing kantore ana Coyudan. Ya uwis, karang jejodhoan iku ora kudu beda jinis kelamin, kaya ta aku karo Benik pancen jodho anggone kekancan. Sak durunge Benik isih ngekos neng Kentingan, nanging rada repot yen pas lembur nganti luwih jam 10 wengi, regole wis dikancing. Mlayune ya neng kamar kosku.

Pluk! Gantungan kunci wujud cucuk manuk enggang sing dadi ganthilan tas ucul.

“ Wah, pedhot. Emane..,” kandhaku karo rada gela. Benik mesem.

“ Dak kira ganthilan iku wis ilang, Ran. Isih ta?,”

“ Isih, mbuh kapan isa oleh ngene iki meneh. Adoh je,”

“ Cieeee.. kelingan karo sing menehi mesthi,”

“ Hish, cah gemblung,”

Aku karo Benik nyusu segar karo crita rena-rena. Cucuk manuk enggang sing dadi hiasan ganthilan kunci iku ukiran seka kayu. Rumbun. Iku jeneng sing gawe ukiran. Jeneng sing pancen ora memper kanggo wong Jawa, nanging kanggo keturunan Dayak iku ngandhut ateges bocah kang amba wawasan lan pikirane. Aku kelingan eseme sing marai ati semuten. Pating sengkring. Ketemu neng acara festival budaya Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Rumbun, wektu kuwi uga mahasiswa sing KKN seka Universitas Lambung Mangkurat, padha papane ing Amuntai nanging beda desa. Rumbun Jurusane Kehutanan, nanging dheweke ngaku ketarik karo babagan seni lan budaya. Apa maneh saiki seni lan budaya saka sukune wis kudu rikat digarap kanggo ndhedher pemangku seni adat dayak. Sesepuh wis butuh prunan murih lestari. Kuliah karo nyambi sinau budaya adat seka sesepuh sing wis dadi welinge Kepala Suku. Pancen beda adat Banjar karo Dayak, nanging isa nyandhing.

“ Ngalamun, mesti kelingan Rumbun! Ngaku..!,” Benik njawil marai ceguken. Ngerti wae hlo. Aku mesem rada kecut, amarga wis ora bakal isa ketemu maneh karo Rumbun. Bar KKN sok isih surat-suratan. Jaman iku henpon isih larang kanggo cah kost kaya aku iki, aja maneh nembung henpon, nembung tumbaske pit anyar wae malah kon mangkat rabi. Ngono banget ya aku, duh. Sasi dadi mataun jeneng lan wayangan Rumbun sansaya blawur, apa maneh saben byar ngadhepi dosen pembimbing sing kanggoku kaya Judge Bao nyandhing Aman Jagau. Lulus golek gaweyan, ketampa neng perusahaan bathik sing wis kondhang. Cedhak karo kanca lanang, nanging ora ana krenteg mbacutake luwih saka kekancan. Benik gumun, mosok golek cah lanang siji wae angel. Hm, padhake golek munthu apa piye?

*****

Wengi ing Beteng Vastenberg. Lampu pating kebyar. Regol gedhe tinggalan walanda iku sansaya katon bakoh. Antri siji-siji. Kutha Sala pancen ora nate sepi kanggo adicara seni lan budaya. Festival tari, gamelan, musik uga kuliner saiki dadi jujugan sapa wae sing tresna adiwisata. Kayata wengi iki. Aku karo Benik mlebu ing latar amba jeron beteng. Kursi ditata kanthi prasaja, lampu, slide lan layar gedhe. Kanggo sing adoh saka panggung ora prelu kuwatir, bakal cetha wela-wela amarga layar gedhe sing wis dicepakake. Kabeh sing ngebyuk ing latar iki ora mung wong sala, nanging uga wong manca. Seniman tari nglumpuk.

Adicara diwiwiti. Ana sing saka Papua lan Sulawesi. Aku dhewe ora ngerti ana pirang daerah sing bakale mbeksan kanggo dina iki.

“ Ran, saiki seka Kalimanta Selatan!,” Benik njawil aku sing semu ngalamun. Keprungu Sape dhayak. Iki Kalimantan Selatan sing dudu suku Banjar. Aku gage ngematke slide wenehi katerangan sapa wae seniman sing ana panggung. Balai Karungun Loksado, Kalimantan Selatan. Sak nalika ana rasa mak dheg ing dhadha. Ana yen wong sepuluh sing munggah panggung. Aku coba ngematake sing nari enggang. Wulu-wulu manuk sing endah lan edipeni iku kayata manuk enggang kang menclok rana rene. Ana siji sing kaya aku plega, nanging dak kipatake sak nalika. Mokal. Sawetara wektu ora krasa wis rampung beksan enggang saka Loksado iku. Aku ngajak Benik metu. Rasane dadi ngelak banget. Karo luwe. Nanging sing marai garing pancen rasa ati.

Lungguh kursi karo nonton koridor Jensud. Teh paling ndemenakake pancen racikan teh saka Sala. Benik antri neng wong dodol bakso bakar, aku ngenteni karo ngematke wong wira-wiri. Ora suwe ana rombongan teka, saka dialeke aku ngira dudu wong jawa. Iku dialek sing wis tahu dak arep-arep. Mbiyen banget. Karang wong penasaran, aku mengo nuju swara rame aba omben karo pacitan. Hm, awak penari dhayak. Bakoh, kokog balunge.

“ Ranti, iki bakso bakare, sing sate apus durung rampung dibakar. Antri,” Benik teka karo nggawa piring cilik isi bakso bakar telung sunduk. Benik nampa telpun seka pacare. Aku ethok-ethok sibuk ngudhak teh. Wis, ngene iki bakal suwe si Benik yen ngganyik karo yange.

“ Meran..ti..?,” ana swara saka klasa samping. Aku noleh. Uhuk! Keselek teh panas.

“ Ah, bener! Meranti kan?!,” eseme wong siji iki sing marai aku kelingan. Nanging kenangapa awakku adem panas, tangane rasane kaya akeh semute. Dumadakan tanganku disalami.

“ Aku Rumbun! Lali ya?,” mripate sing semu sipit, pipine sing semu dekik. Duh, wong bagus, ngertia, awakmu iku wis marai aku kena lesu darah. Lemes. Aku butuh jus jambu!

“ Eh, anu.. iya, aku Meranti. Suwe ora pethuk ya,” iku yen padhang jingglang mesthine ketok yen raiku pucet kaya yangko basah pasar gedhe kae. Pupure luntur sisan. Rumbun ngguyu. Aku rada lega. Benik wis srawung gayeng karo kanca-kancane Rumbun. Ijol crita kahanan neng kana lan kene. Rumbun crita yen kuliahe jurusan kehutanan mbiyen ora tutug amarga wektune entek kanggo ngupaya sanggar budaya karo kanca-kancane sing disengkuyung pamarentah daerah. Banjur tekan  saiki kerep pentas neng festival ngendi wae. Wis tahu neng Ostrali amarga klebu seleksi pertukaran budaya. Tahun iki kira-kira rong sasi engkas dheweke wiwit kuliah neng ISI Solo sinau jurusan etnomusikologi amarga oleh beasiswa. Ana rasa lega. Embuh ngapa aku durung ngerti.

*****

Rumbun saiki sregep ngabari. Wis  telung sasi kliwat anggonku ketemu dheweke neng Beteng Vastenberg. Ora ana ukara apa-apa antarane aku karo Rumbun. Yen chattingan uga crita biyasa kaya kanca. Kaya mbiyen jaman ketemu ing papan KKN. Dheweke crita yen saiki lagi neng Jakarta melu rombongan budaya Kalimantan, kira-kira seminggu engkas rampung. Ya ngono kuwi yen crita, babagan gaweyan, kuliahe dheweke sing wis wiwit nyenengake lan sak panunggale. Liyane kuwi ora.  Aku dhewe rumangsa ora pantes ndhisiki, mbok menawa Rumbun wis nduwe calon dhewe. Biyasane pancen suku dhayak sok dijodhoke karo pilihane sesepuh suku. Mbiyen, mbuh yen saiki. Kok dadi galau ngene ya, ah, sengit aku! Gek lagune Beautiful Goodbye, suarane Chen marai miris pisan.

“ Mbak Rantiiii.. ana sing nggolekiiii..!,” swara putrane sing nduwe kost pancen cemengkling. Aku menyat saka kasur, nyelehake buku lan mateni speaker bluethooth.

Aku metu. Neng teras wis katon Rumbun lungguh ing kursi becak kuno sing kerep tak nggo ngganyik karo cah kost lan Benik yen pas hawane sumuk. Malem minggu ngene iki ana sing nggoleki marai aku rada mbungahi. Hih, isin aku!

“ Eh, Rumbun. Piye kabare? Jarene isih rong dina engkas anggonmu mulih?,”

“ Iya, jadwale wis rampung dadi isa mulih dhisik. Benik kok ora ketok?,”

“ Wis mangkat nonton mau sore,”

“ Hlo, kok ora melu?,”

“ Ora lah, wegah banget dadi obat nyamuk,”

“ Ya wis, yen ngono dadi obatku wae ya. Obat kangen..,”

Byaarrrr..! dumadakan ana kembang api akeh banget neng ngarep kost-kostan. Sapa sing nyumet ya? Langit wengi dadi katon padhang. Sik, tibake dudu kembang api. Ning trafo ngarep kost njeblug! Whaaaa… ketiwasan. Oglangan! Mbangane ngenteni lampu murup, Rumbun ngajak mlaku-mlaku. Aku lagi wegah adoh-adoh. City walk Slamet Riyadi wis nyenengke banget kanggo golek hawa seger. Akeh sawangan lan jajanan. Crita ngalor ngidul karo ngedhep teh nasgitel. Dadi kelingan teh sing ana neng sabrang laut mbiyen, ambune wangi frambosen lan legi tanpa dicolok gula.

“ Wingi neng Jakarta piye, nyenengake mesthine ya,” pitakonku rada lamis. Jane ya wis ngerti amarga dheweke sregep ngabari.

“ Iya. Ketemu karo rombongan Kalbar sing uga mbukak stand kerajinan,”

Rumbung mbukak tas. Ngulungke ganthilan kunci ora beda karo nggonku sing ucul kawate wingi.

“ Iki kanggomu. Ketoke ganthilan enggangmu wis ilang,” Rumbung ngulungake ganthilan kuncine. Dak tampa karo mesem. Banjur aku ngetokake ganthilan enggang sing ucul kawate.

“ Iki isih kok, ora ilang. Lagi wingi ucul kawate,” aku nyelehke jejer neng ngarep gelasku karo gelase Rumbun. Rumbun ngematke.

“ Meranti, kira-kira ngerti ora kenangapa mbiyen aku wenehi ukiran cucuk manuk enggang iki marang awakmu?,” swarane Rumbun rada beda. Katon wigati banget.

“ Ora. Sak ngertiku amarga iki klebu simbol sukumu, Dayak Mayan,” wangsulanku ati-ati.

Rumbun mesem karo ngunjal ambegan. Aku nyedhot es teh.

“ Manuk enggang iku wigati banget kanggo kabeh suku Dayak. Manuk gedhe lan endah,  nduwe sipat kang setya marang sing disandhing. Yen pacangan iku mati, enggang sing isih urip ora bakal golek jodho maneh,”

“ Oh, ngono. Wah, manuk enggang pancen patut dadi tuladha ya. Layak dilestarikan iku!,”

“ Iya, kayata aku. Lestari lan njaga atiku semene suwene kanggo awakmu, Meranti,”

“ Eh..?!,” dunya rasane mandeg. Kabeh sing mlaku lan obah kaya film kae, kaku.

“ Ora percaya ora papa, Ranti. Suwe pedhot kabar dadi urup pepingin kudu isa nyabrang laut nggoleki manuk enggangku. Enggangku sing mabur kadung nggawa rasa lan atiku. Mula aku njaga supaya wewayanganmu iku ora ilang saka pikiranku,”

Aku ora isa obah. Melu kaku. Rumbun nyekel ganthilan enggang.

“ Iki, enggang wis ketemu jodhone. Mabure adoh banget,” Rumbun nyawang aku karo mesem. Aku keselek. Uhuk! Uhuk!

“ Ng, awakmu kok yakin yen aku durung duwe yang?,” aku takon. Yakin, aku ketok bodho wengi iki. Wagu banget.

“ Hahahaha, ngene iki hlo sing marai aku ora isa obah atine. Awakmu ki lucu orisinil. Aku yakin ora ana wong lanang sing bakal nesu aku nyedhaki. Hla wong saben malem minggu  awak dhewe chattingan, responmu ya kilat kok,” Rumbun ngguyu ngakak. Asem tenan. Ketok ya yen ora nduwe yang. Rasane kaya pingin dadi gelas teh gambar bagong. Isin.

“ Meranti. Ora perlu kuwatir karo apa sing dadi latare dhewe. Dayak karo Jawa padha wae. Padha-padha kudu nguri-uri tinggalane para sepuh. Sing penting ana kali diliwati, ana laut disabrangi. Ana lemah ayo dipaculi. Kabeh dilakoni bareng. Piye?,”

“ He?! Apane?,” aku kaya disirep karo carane Rumbun nglumerake atiku wengi iki.

“ Duh Gustii..!! iki mau aku aktinge wis apik banget hlo!,” Rumbun njambaki rambute.

“ Hlo, dadi iki mau akting?! Awakmu ngapusi aku?! ,” aku mlongo genten.

“ He?! Iki mau tenan yaaa, cah ayu Merantiii..,” Rumbun gage nyekeli tanganku. Drijiku lan drijine kaya ora isa owal. Aku mesem. Rumbun mesem lega, dekik pipine karo sipit mripate sansaya ketok nggemeske. Yen ngene iki Park Chanyeol kalah, tenan, ora ngapusi!

Ganthilan manuk enggang sing maune ana siji saiki dadi loro. Pancen ora ana sing gampang ngrumat ati semana suwene. Rumbun lan Meranti, kudu siyap mbabat alas kanggo masang umpak kauripan, mbangun papan antep kanggo mencloke enggang sing ora samubarang.

 

 

Gumading Peksi Kundur

Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penutur: Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Liston P. Siregar

DOWNLOAD

 

 

 

Laki-laki itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu.

Kau letakkan canting dan meredupkan nyala api pada wajan berisi malam cair. Tanpa meneliti ulang, gerak tanganmu telah mengatur nyala sumbu kompor itu pada ukuran yang tepat. Redup yang pas untuk menghangatkan malam dengan titik api yang aman, sekedar untuk menjaganya tetap berupa lelehan tanpa akan membakar apalagi menghanguskan.

Berkepul samar malam cair warna jelaga itu saat kau beranjak. Aromanya melekatimu, menguar kentara serupa jejak pada setiap gerakmu. Kau seka peluh di dahi dengan punggung tangan sesaat sebelum langkahmu menjejak ambang pintu terbuka, menyambut sang tamu. Bergerak lembut tanganmu mempersilahkannya duduk.

Monggo pinarak.”(1)

Mengangguk laki-laki paruh baya itu membalas salammu. Jalinan rotan pada kursi tua peninggalan orangtuamu, berderak lirih saat menerima beban tubuh sang tamu.

“Kudengar kau pembatik yang mumpuni,” begitu tamu itu mengawali niat kedatangannya. Pujian awal yang tidak membuatmu tersanjung apalagi tersipu. Perjalanan waktu telah membawamu melewati hal-hal semacam itu, tidak membuatmu terbiasa melainkan justru memberimu kemampuan mendeteksi sebagai basa-basi atau umpan tekak.

“Kabar tentang mumpuninya pembatik, acapkali menyesatkan,” katamu santun.

“Memahami batik sebagai karya, tidak serupa mengenakannya. Apa yang tampak hanyalah tampilan, yang justru kerap menjadi ukuran keindahan, sementara makna rohani yang tersirat pada coraknya justru terabaikan.”

“Kuinginkan keduanya. Elok tampilan dan indah rohaninya. Karena itulah aku datang padamu. Wujudkanlah dua keutamaan itu bagiku, maka akan kutahu apakah pilihanku padamu ini karena tersesat atau kaweruh ing panuju.” (2)

Lurus mata laki-laki itu padamu. Tidak demi menelusurimu, melainkan itulah gerak sebuah niat yang tak tergoyahkan. Seketika kau tahu bahwa kau telah terpilih untuk mewujudkan sesuatu. Seringkali langkah awal tetamu baru adalah langkah yang gamang. Beberapa di antaranya berbalik langkah membawa niat yang urung. Sebagian yang lain teryakinkan oleh wastra yang tersimpan di almarimu. Kali ini kau dapati pilihan yang tak goyah kepadamu.

Namun bukan rasa kemenangan yang mengendap di dalammu, melainkan beban yang samar. Akankah ternyatakan nanti bahwa reputasi mumpunimu bukan kabar angin belaka?

Bukan hal mudah mewujudkan keinginan. Tidak selalu tepat melakukan penafsiran dari hasrat tersirat. Perbedaan rasa keindahan selalu bisa terjadi. Ada yang bersimpang jalan untuk kemudian saling menghindar tanpa beban satu sama lain. Beberapa di antaranya memilih untuk menjadikan rasa keindahan pribadi sebagai sesuatu yang sama mutlaknya bagi orang lain. Kini, akankah karya wastramu sanggup menafsir dan memenuhi hasrat keindahan laki-laki itu dengan jitu?

“Wastra apakah yang dikehendaki?” pelan kau bertanya, melangkah awal pada penelusuran sebuah keinginan. Diperlukan kehati-hatian mengungkap pertanyaan demi menjadikannya tidak sebagai penyelidikan yang nyinyir.

“Kukasihi seorang perempuan, baginya ingin kuberikan tanda mata yang akan mengikat hatinya kepadaku.”

“Nuwun sewu, apakah berupa batik sarimbit (3) yang akan dipakai berdua?”

“Tidak,” menjawab laki-laki itu tanpa menggeleng. “Busana sarimbitku dengan yang lain.” Datar suaranya, bernada sangat biasa. Menandakan makna tersirat yang gamblang. Siapa pun mampu menafsirkan dengan persis isyarat itu.

“Kuinginkan sutera terbaik berkualitas utama, dengan serat terlembut yang pernah ada. Harga tidak masalah, berapa pun itu akan kubayar tunai, lunas kapan pun kehendakmu.”

“Maka wujudkanlah dengan sempurna wastra tanda mata itu. Temukanlah corak batik nan elok serta bermakna rohani terindah, yang niscaya sanggup mengikat hati kekasih kepadaku, tanpa hendak berpaling.”

Demikianlah laki-laki itu menitipkan hasrat pemujaannya kepadamu. Diakhirinya kunjungan sembari menaruh harapan seutuh bulan purbani kepadamu untuk mewujudkannya.

Kau bergeming dalam duduk. Tampak tenang serupa permukaan dataran air. Sementara di dalammu ada yang melepuh diam-diam. Itulah hatimu. Sebentuk hati lembut, yang seharusnya terjaga justru diguyur air mendidih pada pada suatu ketika. Didih air itu menggenangimu, melepuhkan hingga serabut saraf tersembunyi di benakmu.

Terjaga utuh dalam ingatanmu yang satu itu.

“Tak kupunya lagi kesetiaan yang utuh kepadamu,” kata suamimu pada suatu hari, “ada padaku seorang perempuan lain, yang kepadanyalah hendaknya kau berbagi hati dan keberadaanku.”

Mendidih darahmu seketika. Meluap didihan itu mengguyur hatimu lengkap dengan uap panas yang melepuhkan.

“Tak hendak aku berbagi,” begitu katamu dengan nada lurus seturut keteguhan hatimu.

“Kalau begitu, aku akan menceraikanmu,” gumam suamimu serupa ancaman.

“Kuterima talakmu,” kau mengangguk tanpa rasa gentar.

Benar kau tak gentar. Serupa burung-burung yang tak pernah kawatir pada hari esok, demikian kau jalani perceraianmu tanpa rasa gamang. Tapi luka itu tak bisa kau ingkari. Bukan karena rapuh hatimu melepuh, melainkan oleh kenyataan bahwa dirimu telah ditinggalkan. Bahwa janji yang seharusnya teguh telah diingkari.

Kini, kau menerima amanah untuk membuat wastra yang akan menjadi ‘perayu’ perempuan lain. Tanda mata yang akan menandai gerak awal terbaginya sebuah kesetiaan…..

Lama kau merenung di beranda. Mengabaikan reranting dan dedaunan yang bergemerisik mengabarkan dahaganya. Tak kau pedulikan pula semburat matahari sore yang telah meredup dan membuat rumahmu remang tanpa cahaya.

*

Entah berapa hari kemudian¾yang kau lalui dengan perasaan gamang yang menggelisahkan¾kau temukan sebuah pilihan pola batik yang sekiranya tepat untuk tanda mata yang diinginkan laki-laki itu.

Pagi masih muda ketika itu, embun belum mengering dari dedaunan di kebun saat sebuah sarang burung tergeletak di pelataran. Kau letakkan sapu lidi, demi memungut sarang itu dan menduga-duga asal mulanya. Barangkali berasal dari pohon belimbing yang ada di dekatmu. Sarang dari jalinan reranting dan daun kering itu kosong, tak ada telur sebutir pun tertinggal. Sarang yang telah ditinggalkan.

Kau tak hendak membuang sarang itu. Kau membersihkannya dari debu dan sampah yang tak perlu, meletakkannya pada sebuah dahan dengan beberapa tangkai bulir padi. Kau berpikir barangkali burung-burung itu akan memerlukan kembali sarang darimana mereka berasal dan gabah itu akan menjadi santapan yang melegakan, sepulang mereka dari perjalanan yang melelahkan.

Demikianlah sarang itu mengilhami sebuah corak batik. Teguh pilihanmu, tanpa gamang meski setitik cecek (4). Adalah pola buketan untuk mewujudkan rancanganmu. Setiap buketan terdiri dari seekor burung dengan sayap berlapis. Sebagai klowongan, yaitu ragam hias utama, kau tampakkan detil setiap helai sayap burung-burung itu. Seolah gerak melayang ujung sayap itu berkepak terbang. Sebagai ragam hias latar pola, terpilihlah ceplok bunga seruni yang kau posisikan serupa taman. Sengaja tak kau pilih jenis unggas, entah kupu-kupu atau capung sebagai latar hias, karena kau ingin sosok burung itu menjadi yang utama. Kau tata pola buketan itu dalam satu jajaran, seolah burung-burung itu berbaris menuju pada satu arah.

Gabah sinawur (5) untuk isen-isen (6), pengisi bidang kosong latar pola utama. Tangkai-tangkai padi itu seolah menjadi rangkaian gabah yang saling menyambung. Setiap tangkainya menampakkan bulir-bulir padi perlambang kemakmuran.

Ada ketelatenan yang tidak biasa saat kau mengerjakan wastra pesanan itu. Ketekunanmu menggoreskan canting melukis corak batik itu, tidak demi mengejar tenggat waktu semata-mata. Melainkan lebih karena kesungguhan hatimu yang menjadi penggeraknya. Lincah gerakmu, sesungguhnya karena jemari itu hanyalah perantara dari ungkapan rasa yang mengendap di benak. Sekian lapis endapan tak terungkap, yang nyaris tak tertanggungkan. Ada gelisah yang mereda, ada risau yang menjauh seiring wastra itu menuju pada tahap akhir penyelesaiannya.

*

Laki-laki itu datang menjemput tanda mata pesanannya pada sebuah pagi menjelang siang yang teduh.            Pagar bambu yang membatasi kebunmu dengan jalan kampung, berderak pelan saat bergerak terbuka menandakan kedatangannya.

Kau bentangkan wastra kuning lembut sewarna gading. Melayang sesaat sutera itu tanpa suara, sebelum kemudian rebah pada sandaran kursi panjang. Kau temukan sepasang mata yang berpendar takjub. Menampakkan hasrat yang seolah meletup demi menelusuri wastra panjang itu dari ujung ke ujung.

“Lebih indah dari bayanganku semula, ternyatalah reputasi mumpunimu tidak menyesatkan.”

Kau diam, membiarkan udara tak bergerak di sekitarmu. Sama sekali tidak tergesa untuk tersanjung. Sejatinya kau menunggu laki-laki itu menyelesaikan kekagumannya.

“Alangkah tepat corak pilihanmu. Kuingat kekasihku pernah menginginkan batik bercorak burung hong.”

“Burung-burung itu sedang terbang menuju pulang,” katamu pelan dengan nada yang sangat terjaga.

Laki-laki itu menoleh padamu.

Gumading Peksi Kundur, (7) demikianlah kunamakan wastra ini.”

“Apa maknanya?”

“Burung-burung yang terbang menuju pulang pada sarangnya, itulah Peksi Kundur. Akan melambangkan makna yang berbeda andai diserahkan pada dua orang yang tak sama.”

“Maksudmu?”

Kau berhenti sejenak. Seolah jeda sebelum melanjutkan sesuatu.

“Dia akan menjadi tanda mata pamit untuk mengakhiri sesuatu. Telah selesai persinggahan sang burung, dan inilah tanda mata untuk melepaskan kepulangannya menuju sarang bermulanya. Pada pihak lain, ia adalah perlambang yang menandai sebuah kepulangan dari perjalanan panjang. Entah sejauh apa perjalanan itu, namun inilah saatnya untuk menemukan kembali sarang yang ditinggalkan. Adalah gabah sinawur yang menjadi isen-isen, itulah tebaran biji padi di masa awal musim tanam, menandakan bermulanya sebuah musim baru. Demikianlah sebuah musim dimulai, dengan taburan benih untuk menumbuhkan kehidupan baru menggantikan apa yang telah terlalui.”

Lurus mata laki-laki itu padamu. Pendar takjubnya telah berubah menjadi kilauan tajam serupa kelewang terasah. Kau tak gentar, apalagi terhenti.

“Mengapa kuning?”

“Gumading, itulah warna kuning selembut gading. Dengan teknik pewarnaan batik wonogiren, warna dasarnya seolah retak, terkena rembesan warna soga. Karena serupa itulah gading, senantiasa retak. Demikian juga kehidupan, terutama kasih sayang, selalu tak sempurna. Namun selama tak patah, yang retak itu tetaplah berharga.”

Kau berhenti kemudian. Lalu menunggu. Tak ada debaran tak normal di dalammu, melainkan ketenangan yang teguh. Seteguh pilihan-pilihanmu sejauh ini.

Di hadapanmu, laki-laki itu bergeming dalam hening yang panjang. Entah sedang menjalani masa suwung, demi menelusuri ulang jejak terlalui untuk menemukan jalan kembali. Ataukah tak hendak beralih dari lorong-lorong labirin, yang setiap lekuk kelokannya menjanjikan adrenalin nan menggairahkan?

Kau tak hendak bertanya.

***

Keterangan

  1. Monggo pinarak : silahkan duduk
  2. Kaweruh ing panuju : memahami tujuan
  3. Sarimbit : berpasangan, busana bercorak sama yg dipakai suami istri.
  4. Cecek : ragam hias berupa titik-titik pada pola batik.
  5. Gabah sinawur : taburan gabah
  6. Isen-isen : ragam hias yg terletak di dalam latar pola batik
  7. Gumading : kuning gading

Peksi : burung

Kundur : pulang

Perempuan Pengembara yang Menunggangi Seekor Lembu

Cerpen: Artie Ahmad
Versi Cetak Koran Tempo 29 September 2018
Narator: Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

DOWNLOAD

 

 

Lapangan tempat pembakaran mayat itu telah senyap. Sebentar lalu, suara gemeretak kayu yang membakar jasadnya masih terdengar riuh. Kini, tubuhnya telah habis dilalap api, meninggalkan abu dan segenggam sisa tulang-belulang yang tak bisa lebur dimakan bara. Tak lama setelahnya, dia melihat sisa tubuhnya dibawa pergi seorang kawan lama. Di dalam kendi yang dicat serupa emas itu, sisa tubuhnya disemayamkan. Entah mau dibawa ke mana sisa dirinya itu, ia tak peduli.

Senjakala yang ditingkahi mendung telah melahirkan malam jauh lebih gegas. Dia tak juga beringsut dari tempatnya berdiri sejak tadi. Tempatnya untuk melihat upacara pembakaran mayat. Pembakaran dirinya sendiri. Di bawah naungan pokok mahoni, dia seperti patung yang baru saja selesai dipahat. Bergeming tanpa adanya nafsu untuk beranjak dari tempatnya berdiam. Sampai akhirnya dia sedikit terperanjat, saat telapak tangannya yang telah mati dan dingin itu dijilati benda lunak yang basah.

Seekor lembu berwarna hitam berada di sampingnya. Entah dari mana lembu itu datang, ia tak tahu. Lembu itu menggoyang-goyangkan ekornya. Dengusnya terdengar memburu, seolah ingin mengajak perempuan yang sepucat pualam itu beranjak pergi. Sesekali lidah lembu itu masih menjilati telapak tangannya.

“Dari mana kau datang?” bisik perempuan itu sembari mengelus kepala si lembu.

Tak ada jawaban. Hanya lenguhan pendek yang terdengar.

“Kau lihat, di tengah lapangan itu, masih ada sisa gosong bekas pembakaran mayatku. Kau tak takut denganku? Kini aku tak lebih dari sesosok hantu,” perempuan itu tersenyum simpul.

Lagi, ekor lembu itu bergoyang-goyang. Lenguhannya terdengar perlahan namun tidak lemah. Seolah-olah dia sedang menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya. Dia seekor lembu, yang tak mengenal takut apalagi pada sesosok hantu perempuan.

Perempuan itu tak lagi mengeluarkan kata-kata. Dia kembali ke posisinya awal. Bergeming. Matanya hanya menatap lurus. Malam mulai merambat. Senyap dan gelap kawin menjadi kekasih kelam yang sedikit menakutkan. Dari balik pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri, perempuan yang tubuhnya telah habis dibakar api itu melihat sesosok tubuh kecil melompat ke tengah lapangan. Tubuh gadis kecil berumur tak kurang dua belas tahun. Gadis kecil itu, tak lain adalah dirinya sendiri. Kini, gadis kecil bayangan dirinya itu melakukan hal sama. Gadis bertubuh kurus dengan dua kepang di kepalanya itu sedang mengamati sisa pembakaran jasadnya. Meski tak lama setelahnya, dia lesap dibawa angin yang berembus secara perlahan.

Perempuan itu masih terdiam. Meski lembu yang sedari tadi berada di sampingnya melenguh beberapa kali.

“Kau tahu, di tubuh gadis kecil itulah kali pertama aku melakukan pengembaraan sebagai perempuan yang selalu meneguk luka. Mungkin kau belum tahu itu.” Ucap perempuan itu sembari menatap mata si lembu.

*

Api di tungku bergoyang-goyang terkena udara dari tiupan ibu. Meminang malam tanpa makanan di tengah dingin yang menusuk-nusuk tulang, gadis kecil berkepang dua itu lebih memilih berdiang di depan perapian bersama ibunya. Ibunya, seorang wanita yang sejatinya masih cukup muda. Namun gelombang hidupnya yang kerap pasang seakan membawa dirinya dalam kerentaan yang lebih cepat dari semestinya. Rambutnya telah berwarna dua. Wajahnya yang belum berlumur banyak kerutan itu terlihat senantiasa lesu. Tubuhnya begitu ringkih dan menyedihkan di ambang umur empat puluh tahun.

Gadis kecil berkepang dua yang belum genap dua belas tahun umurnya itu hanya menggerak-gerakan kedua telapak tangannya di bibir perapian. Ibu telah lama kehabisan beras. Singkong yang bisa mereka makan telah habis direbus tadi pagi. Siang sampai malam ini, mereka tak makan apa pun. Hanya air putih saja yang mereka teguk untuk mengisi perut yang semakin melilit diterkam rasa lapar.

Suara pintu depan yang berdebam itu membuat mereka terperanjat. Gigil lantaran lapar menyilih menjadi gigil lantaran ketakutan. Suara langkah kaki yang berat namun memburu itu terdengar. Sebentar lagi manusia menakutkan itu akan muncul di pintu dapur. Benar saja, lelaki itu berdiri dengan sedikit limbung. Matanya yang merah menyala bagai sepasang mata milik lampor yang kerap merampas kedamaian malam kanak-kanak.

“Kau punya uang? Aku minta uang. Bajingan Sulaman itu mengalahkanku di meja judi hari ini,” suara berat itu terdengar. Basah dan serak. Aroma tuak yang membuat pening kepala menguar dari mulutnya yang busuk itu.

“Tidak ada uang, Bang. Bahkan beras habis. Singkong saja tak terbeli.” Jawab perempuan yang merenta lebih cepat itu dengan rasa takut.

Lalu pukulan menghantam kepalanya. Perempuan itu terjerembab. Tangisnya tertahan. Tak lama lelaki pemabuk yang gila judi itu menghilang ke dalam gelap. Entah mau ke mana dia, mungkin mencari pinjaman uang ke kenalan untuk kembali berjudi. Gadis kecil berkepang dua hanya melihat ibunya dari sudut dapur. Dia menggigil sembari menangis. Tak lama gigilnya menjadi gemetar yang hebat tatkala dia melihat ibunya mengakhiri semuanya dengan pisau dapur yang memutus urat nadi di leher. Kali pertama dalam hidupnya, gadis kecil itu melihat seseorang membunuh diri. Ibunya sendiri.

*

Lelaki bermulut busuk yang kerap mabuk tuak itu menyimpan pura-pura dalam dukanya. Selepas pelayat pulang, di bergegas ke tempat judi. Uang dari pelayat dalam sekejap amblas di meja judi. Dengan badan sempoyongan, dia kembali ke rumah. Kali ini dia pulang dengan seorang lelaki asing.

“Dia anakku satu-satunya. Sudah mulai remaja, sebentar lagi dewasa dan matang. Kau bisa membawanya. Tentu saja dengan ketentuanku tadi.” Ujar pria pemabuk itu dengan lelaki asing yang dibawanya.

Tak lama, gadis berkepang dua telah berpindah tangan. Dari tangan ayahnya yang kerap mabuk dan gemar berjudi ke tangan lelaki asing yang bahkan kali pertama ini dia lihat. Di tangan orang baru itu, dia diajak berkeliling ke tempat-tempat asing. Dari meja judi satu ke tempat meja judi lain, gadis berkepang dua selalu dibawa.

Waktu seakan cepat sekali berlalu. Bulan demi bulan berganti, bahkan tahun baru seakan cepat bertandang. Gadis kecil berkepang dua telah menjadi seorang perempuan muda yang mengembara. Selama bertahun-tahun mengikuti lelaki asing, dia merasa ada yang berbeda dari lelaki yang memeliharanya. Lelaki itu, yang ahli di meja judi tak pernah menyentuhnya sebagai mana layaknya seorang lelaki kepada seorang perempuan. Dia hanya menjadikan perempuan muda itu tak ubahnya pesuruh dalam hal-hal tertentu. Padahal, di hati kecil perempuan muda itu telah tumbuh rasa yang begitu purba bagi manusia. Cinta kepada lelaki asing yang selama ini menjadi tuannya.

“Aku tak bisa menyentuh seorang perempuan. Aku tak bisa jatuh cinta, kepada seorang wanita.” Ujar lelaki asing itu suatu hari tatkala perempuan muda memberanikan diri bertanya, mengapa lelaki yang selalu bersamanya sama sekali tak menyentuhnya.

Tak lama setelahnya, lelaki asing membawa perempuan muda pengembara itu ke kota asing. Di sana, dia menyerahkan perempuan muda itu kepada seorang perempuan tua. Seorang induk semang.

“Aku tak menjualmu. Hanya menitipkanmu kepadanya. Sebentar lagi aku akan mati. Sayang jika kau kubiarkan hidup sendiri.”

Ucapan lelaki itu menerbitkan sendu di dada perempuan muda. Hari itu juga, dia tinggal di kota yang terlahir di jantung kota besar. Tumbuh di dalam kota yang menua dengan degup yang berbeda. Kota yang sesak dengan rumah-rumah petak. Di kota ini, perempuan-perempuan muda tak perlu memiliki malu. Mereka kerap meneguk bergelas-gelas bir layaknya meminum sari buah. Got-got aliran air di kota kecil yang kerap dihujani kutukan itu kerap mampat lantaran karet-karet alat kontrasepsi dibuang ke dalamnya. Jorok dan penuh dengan hal-hal bedebah.

Perempuan muda yang dulu kerap mengembara dari meja judi satu ke meja judi lain, kini mengembara ke satu tubuh lelaki ke tubuh lain. Luka demi luka dia reguk saban waktu. Tangisnya tak lagi terdengar. Bukankah hidupnya sudah menderita sejak dalam kandungan? Ayah durhaka telah melahirkan luka di usianya yang masih begitu muda. Ibunya yang tak berdaya menerbitkan duka panjang bagi dirinya. Lalu lelaki asing yang dicintainya, melemparkan dirinya ke kota yang sarat dengan hal-hal celaka.

“Ada yang ingin aku lakukan sebentar lagi. Mimpi yang kujadikan kembang tidur saban malam,” ucap perempuan muda itu kepada kawan lama yang kebetulan hari itu bertandang.

Kawan lama, seorang lelaki setengah baya. Kawan karib lelaki asing yang dulu kerap mengajaknya mengembara. Malam itu, mereka bercakap-cakap layaknya dua manusia yang selama ini memendam rindu untuk bertemu. Tentu saja, setelah perempuan muda itu memberikan kepuasan di atas tilam untuk kawan lama yang baru saja bersua.

“Memangnya apa mimpimu itu?” tanya kawan lama sembari mengusir kantuk yang tiba-tiba melanda kedua matanya.

“Kematian.” Ucap perempuan muda itu datar.

Mata kawan lama urung memicing. Dia menoleh dengan kaget. Dan keterkejutannya bertambah tatkala perempuan muda itu kehilangan napasnya. Entah bagaimana mulanya, dia tak tahu. Ajal itu datang secara tiba-tiba. Seakan alam menjawab mimpi perempuan muda yang dulu dikenalnya sebagai pengembara. Kematian itu datang, bahkan sebelum mereka beringsut dari atas tilam di kota kecil yang sarat dengan hal-hal celaka.

*

Lembu itu mengeluh. Suaranya terdengar tak sabar. Kali ini perempuan itu beranjak dari tempatnya. Dielusnya kepala si lembu. Di atas punggung lembu yang hitam kelam itu, dia duduk dengan khidmat.

“Ajaklah aku pergi dari sini. Tapi aku tak ingin kau ajak terbang ke langit. Aku belum hendak pergi ke nirwana. Bawalah aku keliling dunia. Jika kita temui perempuan sepertiku, ajaklah ia turut menunggangi punggungmu ini, karena menjadi perempuan dengan nasib buruk sepertiku adalah luka di atas luka.” Ujar perempuan itu perlahan.[]

 

 

 

 

 

 

>