Glass Shoes

Short story by Putu Felisia
Narrator Ilona Joline Surjorahardjo
Ilustrasi Musik Ketto  

It was believed, beautiful girl with the most wonderful glass shoes would be married by the prince. Every girl in the entire kingdom took care of their beauty. They afraid of sunlight, because it could make their skin tanned. They also tied their feet, because they believed, the prince would choose the girl with the tiniest feet.

There was a girl, who lived in tailor village. Her name was Della. She loved to go around the forest, looking for ingredient to make some colors. Her job was giving colors to the clothes.

Do you think Della was pretty? No, she was not as pretty as another girl. Her skin pretty darker, because her activity in the forest. She also had not tiny feet. Therefore, Della did not bought glass shoes. She also made a simple dress to attend the royal ball.

Della parents did not happy because of this. But they could not force Della to buy a pair of glass shoes.

“Mother, the glass shoes is very expensive,” said Della, “I think, it will be better if I saved the money. So I have enough money to study coloring in the Royal University.”

So Della went to the ball with a pink primrose dress. The prince interested with Della. The girl looked very different among many glamorous girls. Specially, Della thought was similar with the prince.

The prince held Della’s hand. He asked her to be his bride. But Della just shooked her head, “I am so sorry, Your Highness,” she said, “For me, the most important thing is to reach my dreams. And I think I am too young to get married.”

The prince surprised. But he admired Della’s answer. So that he decided to wait Della.

Berburu Kupu-kupu

S. Gegge Mappangewa
Versi cetak Antologi Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia 2019
Narator Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Peserta perkemahan SD Plus Al Ashri akhirnya tiba di Bantimurung.  Semua murid  sangat senang karena  selain terkenal dengan air terjun dan guanya, kawasan  wisata ini juga dikenal sebagai tempat penangkaran kupu-kupu.  Aneka spesies kupu-kupu ada di Bantimurung, bahkan beberapa jenis kupu-kupu langka dunia sering didapatkan terbang di sini.

Dede sudah hendak berlari untuk melihat-lihat kupu-kupu yang diawetkan dan dijual di pinggir jalan tapi Pak Bahtiar melarang lewat speaker megaphone.

“Seluruh peserta perkemahan, tidak meninggalkan kelompoknya!”

Langkah Dede.

“Seluruh komandan regu, langsung mengatur barisannya. Regu putra di samping kanan saya. Putri di sebelah kiri. Jangan lupa, barang-barang disimpan di samping  barisan masing-masing.”

Selain pemandangan air terjun yang jatuh dari tebing tinggi, peserta perkemahan juga  terkesima dengan  kupu-kupu yang terbang  bebas di atas kepala mereka.

“Woow…cantiknya! Masyaallah!” puji Gita saat seekor kupu-kupu bersayap biru kombinasi putih terbang di depannya.

“Air terjunnya juga  indah, tuh sana, tinggi sekali!” teriak Zahira.

“Menurut Pak Bahtiar, besok sebelum pulang, akan ada acara mandi-mandi di bawah air terjun….” ucap Gita sambil terus melangkah bersama teman regunya.

“Asyiiikkkkk…!” seru mereka satu regu.

***

Hari kedua. Mencari jejak.

Regu Kijang, regu Dede dan Rahmat mendapat giliran berjalan paling terakhir. Sepanjang perjalanan, setiap regu akan memecahkan kalimat sandi. Namun, Dede dan Rahmat sudah punya misi lain. Sengaja mereka berdiri di barisan paling terakhir agar   bisa keluar dari barisan untuk mencari kupu-kupu.

“Duh, perutku mules!” Dede bersandiwara. “Kalian duluan aja, saya mau  buang air dulu. Rahmat temanin saya ya!” lanjutnya sambil mengedipkan mata.

Temannya yang lain tak curiga. Mereka berangkat duluan, sementara Dede dan Rahmat mengambil jalur lain. Belum beberapa menit berjalan mereka sudah menemukan kupu-kupu kuning yang terbang rendah.

“Tuh sana, De! Cantik sekali!”

Mereka sudah menyiapkan stoples plastik bening yang tutupnya dibocori untuk menyimpan kupu-kupu yang sudah tertangkap. Sementara alat penangkapnya, mereka buat dari  plastik bening yang diikat berbentuk  stoples tanpa tutup kemudian diberi kayu panjang.

Mereka melangkah pelan. Kupu-kupu yang diincarnya sedang hinggap di rumput berbunga. Dede melangkah hati-hatisambil menjulurkan kayu panjang yang ujungnya berupa perangkap kupu-kupu.

Satu… dua… tiga… happp…! Berhasil.

“Alhamdulillah…. Cepat, Rahmat! Cepat masukkan stoples!”

Rahmat berlari ke arah kupu-kupu yang terperangkap dan memasukkannya ke dalam stoples.

“Cantik sekali…! Cari lagi, yuk!”

Mereka berjalan lagi ke dalam hutan. Mengejar kupu-kupu biru yang lebarnya  hampir sama dengan telapak tangannya. Sayangnya, kupu-kupu yang dikejarnya kali ini tak pernah terbang rendah, jadi susah untuk ditangkap.

“Kejar terus aja, De! Kayaknya kupu-kupu ini langka lho, lebar sekali!”

Semak belukar mereka lompati, berlari dengan mata mengarah ke kupu-kupu membuat mereka sering terjatuh karena kaki tersangkut rumput  yang merambat, hingga akhirnya kupu-kupu yang dikejar itu menghilang. Tanpa mereka sadari, mereka  terlalu dalam masuk ke hutan.

Kuweekkk…,kweeekkk….

“De, suara apa itu?”

Keduanya kemudian melihat ke sekeliling. Tak ada yang didapatkannya kecuali hutan lebat.

Kuweekkk…,kweeekkk….

Mereka secara bersamaan menghadap ke atas, dan didapatkannya kawanan monyet di atas pohon. Dede yang usil kemudian melemparinya dengan batu kecil dan tanpa pernah diduga, monyet itu melemparinya dengan buah pohon liar. Tak hanya membalas dengan melempar, suaranya yang semakin keras ternyata memberi isyarat kepada monyet lain untuk terus berdatangan. Mereka melempari  Dede dan Rahmat, bahkan ada yang berani turun  lebih rendah untuk mencakar Rahmat dan Dede.

Keduanya lari terbirit-birit, sementara suara monyet semakin ramai melompat di atas pohon, tepat di  atas mereka berlari.  Dede kemudian mengambil kayu yang dipakai sebagai  alat penangkap kupu-kupu. Kayu panjang itu dipukul-pukulkan ke arah monyet, hingga monyet ketakutan.

“Kita hampir mati dicakar monyet,”

“Tapi, De! Sepertinya sudah hampir sore….”

Dede mencari matahari yang terlindung pohon lebat sehingga tidak terasa kalau mereka sebenarnya sudah lama sekali berada di dalam hutan. Dede yang pemberani itu, kini mulai menampakkan wajah cemas. Semakin lama mereka berjalan, hutan malah semakin lebat.

“De, sepertinya ini bukan jalan pulang,” Rahmat sudah setengah menangis.

Suasana dingin  mulai  menyerang pertanda sore semakin mendekati malam. Hutan juga sudah mulai gelap.

“Rahmat, kamu punya bekal nggak, lapar nih,”

“Tasku cuman berisi stoples tempat kupu-kupu….”

“Kalo gitu, kita coba jalan ke arah sana….”

Semakin lama dia berjalan, semakin lelah, juga semakin gelap. Bukan karena hutan yang semakin lebat, tapi karena malam sudah mulai datang.     

“Istirahat dulu, De! Capek. Saya juga lapar sekali,”

Dede yang merasakan hal yang sama, memilih duduk dan bersandar di sebatang pohon besar. Malam benar-benar telah turun. Dede dan Rahmat sudah menangis ketakutan. Kini, mereka  baru menyesal telah melanggar aturan mencari jejak.  Terbayang di kepalanya, dia akan dimangsa binatang buas malam ini. Tenaganya pun semakin habis. Lagi pula, dia tak tahu jalan pulang, semakin dia berjalan, yang didapat hanyalah hutan yang semakin  lebat.

“Teman-teman pasti sudah pulang ke Makassar,” Dede terisak.

“Kita jalan lagi, yuk! Daripada tinggal di sini, bisa-bisa kita dimangsa binatang buas.”

 Mereka memaksakan diri untuk  berdiri dan berjalan lagi. Berkali-kali mereka terjatuh karena  kaki tersangkut.  Mereka tak melihat apa-apa karena  cahaya bulan tak bisa menembus hutan berpohon lebat. Mereka berjalan sambil menangis dan berteriak meminta tolong. Dalam hati, mereka berjanji tidak akan mengulang lagi perbuatannya yang melanggar aturan.

“Toloooonngngng…,” teriaknya bergantian dengan suara yang serak karena bercampur tangis.

Tak ada balasan kecuali suara rayap malam yang bersahut-sahutan. Tapi dia tetap berusaha, berjalan dan berjalan terus untuk keluar dari hutan itu. Dalam hati pun mereka selalu berdoa agar diselamatkan.

“Rahmaaaaatt….”

“Deeeedeeeeee….”

“Ada yang memanggil-manggil, De!”

Mereka semakin mengeraskan suaranya minta tolong.  Dalam hati mereka bergembira dan bersyukur. Tapi begitu suara orang-orang yang memanggilnya mendekat, mereka ketakutan lagi. Suara-suara itu bukan suara gurunya, juga bukan suara teman-temannya. Mereka membawa obor.

“Jangan-jangan mereka penghuni hutan ini,” bisik Dede.

“I…iya, mereka pasti akan menangkap lalu membakar kita untuk disantapnya….”

Orang-orang yang memanggilnya tadi semakin mendekat ke arahnya. Dede gemetar. Rahmat  sudah ngompol ketakutan. Mereka pingsan berdua saat orang-orang  yang mendekat ke arahnya itu.

***

Saat terbangun, Dede dan Rahmat sudah berada di tenda. Ternyata yang menangkap mereka di hutan semalam adalah  regu penyelamat.

“Bukannya dapat kupu-kupu langka dunia malah tersesat dan hampir meninggal dunia.” goda Pak Bahtiar.

Teman-temannya tertawa. Dede dan Rahmat tersenyum malu-malu. Mereka senang punya teman yang selalu ada untuk menghibur dan memaafkannya.***

Kaca mata Nenek

Penulis : Efierfita Ayulis
Versi cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita : Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana

Thania heran melihat Nenek yang hanya berputar-putar saja di ruang tamu. Entah apa yang akan dilakukan Nenek, dari tadi hanya berputar-putar di ruangan itu.

“Nek!” sapa Thania. Tetapi Nenek tidak menjawabnya.

Thania mendekati Nenek, beliau sibuk mencari-cari sesuatu. Thania pun ikut melihat-lihat di sekitar Nenek. Thania melihat ada kacamata di bawah meja, sekarang dia mengerti.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Thania mengambil kacamata tersebut dan meletakkannya ke dalam genggaman Nenek.

“Terimakasih, Cu!” Nenek memakai kacamata. Thania melihat rona bahagia di wajah Nenek.

“Wealah, Thania, Nenek tidak tahu kalau itu kamu. Pusing Nenek mencari kaca mata ini dari tadi, terimakasihya Than!” Nenek membelai rambut Thania dengan lembut.

“Sama-sama, Nek!” Thania ikut senang melihat senyum Nenek.

Pandangan Thania terhenti pada kaca mata nenek yang sudah jelek, ada rasa kasihan timbul di hatinya. Tiba-tiba saja Thania punya ide,

“Nek, Thania pamit dulu ya, Thania mau main ke rumah Ratna.”

“Hati-hati ya Than, jangan pulang kesorean!”

“Iya Nek, Assalamualaikum!”

Thania menyalami Nenek dan berlalu ke luar rumah.

Thania tidak pergi ke rumah Ratna, tetapi dia berbelok ke samping, dia mencari kakaknya Naila yang sedang menanam bunga.

“Uni! Tadi Thania lihat kacamata Nenek sudah jelek, Uni kan pintar melukis, bagaimana kalau kaca mata Nenek kita perbaiki?”

“Boleh juga Than, tapi bagaimana caranya meminjam kaca mata itu? Nenek kan tidak pernah melepaskan kaca matanya,” Naila terlihat bingung.

“Uni tenang saja, sekarang Uni pikirkan lah model yang akan Uni buat, supaya kaca mata Nenek jadi bagus,” Thania menjawab dengan tersenyum.

“Okay deh, tugas Thania mengambil kaca mata Nenek ya, biar Uni yang menghiasnya,” Naila segera merapikan tanaman bunga, dan membersihkan tangannya.

Thania senang sekali, dia kembali ke dalam rumah. Diam-diam dia mengintip Nenek yang sedang istirahat di kamar. Sepertinya Nenek sudah tertidur, dengan berjinjit Thania masuk pelan-pelan, dia mengambil kaca mata Nenek yang ada di meja samping tempat tidur. Tanpa banyak halangan, Thania berhasil mengambil kaca mata itu, lalu segera membawanya ke kamar Naila.

“Ini kaca matanya, Ni,” Thania memberikan kaca mata itu pada Naila.

“Wah…kasihan Nenekya, kaca matanya sudah jelek begini.”

Naila mengeluarkan cat air yang biasa digunakannya untuk melukis, dengan hati-hati, dia mulai menyapukan kuas itu ke cat air yang telah dituangkan ke mangkok. Naila memang suka melukis, perlahan gagang kaca mata itu mulai dilukisnya, ternyata dia melukis pelangi, sehingga gagang kaca mata yang tadi kusam, dan mengelupas, kini berubah seperti untaian pelangi, paduan warnanya juga bagus.

Ada belitan pelangi mengitari gagang itu, di dekat bagian kaca yang ada lempengannya, diberi gliter warna warni.

“Wahhh.. bagus sekali Uni,” Thania sangat senang melihat hasil kerja Naila.

“Iya Than, Nenek akan tambah keren kalau pakai kaca mata ini,” mereka sangat senang.

“Ayo kita ke kamar Nenek,” Thania mengajak kakaknya menemui Nenek.

Ketika sampai di kamarNenek, mereka sangat kaget, karena di sana ada Papa yang sedang sibuk mencarise suatu, sementara Nenek duduk di kasur sambil memegang keningnya yang benjol.

Sepertinya Nenek kejedut pintu, gara-gara tidak pakai kaca mata.

“Nah…kebetulan kalian datang, tolong bantu Papa mencarikan kaca mata Nenek!” Papa berkata sambil terus mencari-cari kaca mata di bawah tempat tidur. Thania dan Naila saling berpandangan, ada rasa takut tiba-tiba muncul di hati mereka.

“Kok kalian tidak juga bergerak?” tanya Papa heran.

“Maaf Pa, ini kacamata Nenek,” Thania menyerahkan kaca mata itu pada Papa. Papa terlihat kaget. Dia membolak balik kacamata yang ada di tangannya.

“Kenapa kaca mata ini ada pada kalian? Kok gagangnya jadi seperti ini?” tanya Papa heran. Thania dan Naila ketakutan, mereka bingung mau berkata apa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka, Nenek akan celaka gara-gara kaca matanya mereka ambil.

“Ada apa dengan kalian? Kok diam saja?” tanya Papa heran.

“Maaf Pa!” Thania menjawab sambil mengumpulkan segenap keberaniannya.

“Kami sengaja mengambil dan menghias kaca mata itu, Pa. Karena gagangnya sudah jelek,” jawab Thania ragu-ragu.

Papa terlihat kaget, ada rasa yang tidak dapat ditebak dari wajahnya, selama ini dia tidak memperhatikan kondisi kacamata Ibunya. Kalimat Thania serasa menampar wajahnya.

“Wahhh… pintar cucu Nenek, makasihya Thania dan Naila, Nenek senang sekali dengan kejutan kalian ini,” ujar Nenek dengan wajah penuh kebahagiaan.

“Wow…kaca mata Nenek jadi keren, nih!” Nenek memakai kaca matanya dengan senyum ceria.

“Alhamdulillah Nenek suka dengan karya kami,” Naila tersenyum puas. Nenek meraih Thania dan Naila ke dalam pelukannya. Mereka berdua tersenyum bahagia.

Diam-diam Papa menghapus air matanya yang luruh tak tertahan, ada rasa haru merasuk ke dalam hatinya. Papa sangat bersyukur memiliki putri yang sangat peduli dan menyayangi neneknya.

Papa berdoa semoga Naila dan Thania tumbuh menjadi anak-anak yang soleha, penuh kasih saying dan membanggakan kedua orang tuanya.

Dalam hati, Papa berjanji akan membelikan Nenek kaca mata baru. Memang sudah waktunya kaca mata nenek diganti.

Terima kasih anak-anak baik, papa pun ikut memeluk Naila dan Thania. Mereka semua tersenyum bahagia. Nenek pun larut dalam kehangatan pelukan anak dan cucu-cucunya.

Andi dan Teman Barunya

Penulis : Arie Siregar
Versi Cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita : Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana

Andi berjalan mengumpet ke dapur sambil menenteng tas sekolahnya. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada siapa pun yang melihatnya. Sampai di dapur, ia mengambil beras dari tempat penyimpanan beras. Dimasukkannya satu liter ke dalam kantong plastik lalu disimpannya ke dalam tasnya. Ia tidak tahu, ibunya melihat perbuatannya itu dari balik tembok ruang tengah. Mengintipnya sejak tadi.

            “Andi berangkat, ya, Bu!” teriak Andi dari pintu samping, setelah meninggalkan dapur dan memakai sepatu. Ia hendak berangkat ke sekolah.

            Ibunya lantas keluar dari persembunyian, mengejarnya ke pintu samping sambil balas berteriak, “Andi, tunggu dulu!”

            Andi berhenti dan berdiri di depan pintu, menunggu Ibunya. Ia menyandang tasnya yang bertambah berat karena seliter beras yang dimasukkannya.

            “Ada apa, Bu?” tanya Andi pada Ibu yang sudah berdiri di ambang pintu.

            Ibu tersenyum sekejap lalu meraih dan mengelus-elus kepala Andi.

“Kamu nggak bawa bekal kan? Ini ibu kasih uang saku, siapa tahu nanti kamu lapar di sekolah dan pengin beli jajan. Tapi jangan jajan sembarangan,” kata Ibu sembari memberikan selembar uang lima ribu rupiah.

            Andi tentu saja menerima uang itu dengan senang hati, lalu berangkat ke sekolah setelah mencium punggung tangan kanan Ibu. Lantaran sekolahnya tidak jauh, Andi berangkat sendiri berjalan kaki. Ia tidak pernah mau lagi diantar Ayah atau Ibu sejak ia naik kelas tiga. Sekarang, ia sudah duduk di kelas lima.

            Begitu Andi keluar dari halaman rumah, Ibu ternyata diam-diam mengikuti Andi. Berjalan agak jauh di belakangnya. Ibu mengikutinya karena ingin tahu mengapa tadi ia mengambil beras di dapur. Apakah akan memberikannya kepada orang lain sebelum masuk ke sekolah? Tanya Ibu dalam hati.

            Namun ternyata, perkiraan Ibu salah. Andi tidak mampir ke mana-mana. Andi langsung menuju sekolah. Tapi Ibu tetap saja tidak yakin kalau Andi akan menggunakan beras itu di sekolah, atau menyerahkannya kepada orang lain di sekolah. Maka Ibu akhirnya memutuskan pulang dulu ke rumah, dan akan melanjutkan lagi pengintaiannya saat nantiAndi pulang sekolah.

Benar kecurigaan Ibu, setelah bel pulang berbunyi dan Andi keluar dari gerbang sekolah, Andi ternyata tidak langsung pulang rumah. Ia berjalan sendirian menuju ke arah yang lain.

Ibu yang ternyata sudah bersembunyi di dalam warung depan sekolah sejak tadi, langsung keluar dan mengikuti Andi lagi. Ibu berjalan diam-diam agak jauh di belakang Andi. Hingga hampir lima belas menit berjalan, Ibu berhenti dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar di pinggir jalan. Ibu berhenti karena melihat Andi menghampiri seorang anak laki-laki di sebuah pos ronda.

            Anak laki-laki yang dihampiri Andi itu, terlihat lebih tua dari Andi. Tubuhnya juga terlihat lebih tinggi dan besar. Ia menyambut kedatangan Andi dengan senyum yang sangat ramah. Tapi, penampilan anak laki-laki itu membuat Ibu khawatir. Ia Nampak kotor dan lusuh. Bercelana pendek dan kaos oblong yang sudah compang-camping. Ibu menduga ia pasti bukan anak sekolah.

            Ibu terus memperhatikan Andi dan anak laki-laki itu dari balik pohon hingga Andi memberikan beras yang dibawanya kepada anak laki-laki itu. Setelah itu, Ibu cepat-cepat pulang lebih dulu ke rumah

Di rumah, Ibu langsung menanyakan soal beras itu kepada Andi setelah Andi menyantap habis makan siangnya. Andi sempat terkejut dan takut ingin menjawab, karena mengira Ibu akan marah. Tapi setelah Ibu mengatakan “tidak akan marah”, Andi akhirnya menjawab jujur.

“Buat Andi kasih ke teman Andi, Bu,” jawab Andi pelan sambil menundukkan wajah.

            “Teman Andi siapa? Kok dikasih beras?” Tanya Ibu lagi semakin penasaran.

            Andi sempat bingung mau menjawab apa, tapi akhirnya ia menjelaskannya pelan-pelan tentang siapa temannya itu. “Namanya Lindu, Bu. Dia pemulung. Dia Cuma tinggal dengan ibunya di rumah kardus di pinggir sungai dekat sekolah. Ibunya sakit, nggak bisa berjalan lagi. Andi sudah beberapa kali kasih dia beras, dan kadang Andi bawain bekal Andi juga buat dimakan bareng sama dia.”

            “Terus, kenapa dikasih beras sama bekal Andi?”

            “Karena dua minggu lalu, dia tolongin Andi dari anak-anak jahat, Bu.”

            “Anak-anak jahat?” Tanya Ibu dengan raut wajah terkejut.

            “Iya, Ma. Anak-anak SMP yang sering memalak uang saku Andi setiap kali pulang sekolah. Waktu Andi digangguin sama mereka dua minggu lalu, Lindu nggak sengaja lihat dan langsung menghajar mereka. Berkat Lindu, Andi nggak pernah digangguin anak-anak nakal itu lagi, Bu.”

            Ibu benar-benar tidak tahu kalau ternyata Andi sering diganggu dan dipalak anak-anak nakal. Ibu sedih, tapi senang juga karena ternyata Andi mendapatkan teman baik, yaitu Lindu. Ibu kemudian beranjak memeluk Andi.

Dalam pelukan Ibu, Andi berkata, “sebenarnya, Andi sering coba ngasih Lindu uang jajan Andi. Tapi Lindu menolak. Makanya, Andi kasih beras. Andi sedekah, seperti Ibu.”

Ibu tersenyum menatap wajah Andi yang juga tersenyum. Ibu mencium kening Andi laluberkata, “Ya sudah. BesokajakLindukemari, ya. Kalaudiamausekolah, Mama akan bantu biaya sekolahnya. Kita sedekah buat dia.”

“Bener, Bu? Asyik!” Andi teriak kegirangan.

Milana dan Sungai Purba

Cerpen Ken Hanggara
Versi cetak Kompas, 4 September 2016
Narator Panji Sukma
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

“Dulu, di depan kita ada sungai,” kataku. “Sungai besar dan nyata.” Telunjukku menuding ke timur, titik matahari berangkat, lalu jariku melayang dan mendekat pada kami, hingga melampaui wajah Milana dan bersambung ke arah benamnya hari.

Milana menoleh sejenak. Ia tutup mulut dengan dua tangan.

“Sungguh,” kataku lagi.

Ia menggeleng-geleng dan tersenyum. “Bukan. Bukan itu.”

Milana berdiri dan menarikku dari bangku taman. Kami menyisir garis panjang di depan bangku, terus ke barat hingga beberapa puluh meter. Garis itu—aku menyebutnya batas sungai purba yang hilang—memang ada dari dulu dan gadis ini tahu legendanya. Mestinya aku tak menjelaskan, karena toh telah tercatat dalam buku-buku dongeng di kota kami.

Namun begitu, Milana tidak berkata-kata, seperti misalnya menjelaskan bahwa ia lahir di kota yang sama, atau bahwa ia tahu cerita itu dari mulut-mulut para tetua meski belum membuktikan kebenaran keberadaan sungai itu di masa purba, atau malah bilang, “Kamu kira aku bodoh?” Ia justru tersenyum sembari kami jalan, seakan menganggap lelaki ini, yang ada di dekatnya ini, anak yang lucu.

Milana kukenal sejak sebelas tahun lebih delapan bulan silam. Waktu itu kami ke taman ini, tempat yang dulu pernah dialiri sungai purba, beribu-ribu tahun silam, suatu masa yang dapat kulihat jelas, sejelas ikan-ikan di dalam akuarium baru. Bagaimana aku melakukannya, aku tidak tahu. Penglihatan itu suka muncul tiba-tiba dan aku semakin ingin membuktikan paling tidak kepada satu orang saja, bahwa sungai purba itu bukan sekadar legenda.

Pada hari itu, aku yang belum menunjukkan tanda keanehanku, merengek pada Oma seakan keinginanku bentuk wajar dari rasa penasaran bocah usia tujuh tahun. Aku mendesak dan mengancam bunuh diri jika tidak dituruti. Setiap malam aku membuat keributan di kamar. Hari keenam, Oma terpaksa mengajakku pergi karena kalau tidak tidur bermalam, nanti ia sendiri mati dan itu bukan gagasan yang bagus; omaku masih ingin hidup beberapa tahun lagi, katanya.

Sebelum kami berangkat, Oma berpesan, “Jangan bikin malu, Anak sinting!” Aku tidak menjawab, juga tidak membantah. Hampir selalu Oma kerepotan oleh ulahku yang suka menendang atau memukul atau meludahi orang-orang asing di jalan, karena kukira dulu ibuku mati karena kejahatan mereka. Aku tak pernah tahu ibuku. Mungkin karena itulah perhatianku lalu tertuju pada taman dan hutan dan sungai purba yang hilang di kota kami.

Kali itu aku tenang, karena menurut penglihatanku, sesuatu yang serupa mimpi tapi nyata, sesuatu yang serupa dongeng tapi fakta, di sungai purba yang hilang itu hidup arwah orang-orang mati dan salah satunya ibuku. Mereka mendiami pohon-pohon jati di hutan. Untuk soal yang satu ini, aku tidak bisa bicara ke orang asing, kecuali pada Oma dan para tetangga yang tidak mengacuhkanku, atau pada teman-teman sepermainan di rumah, yang lebih sering tidak mendengar ucapanku. Di penglihatan anehku, sungai itu tampak jernih dan nyata.

Sesampai di taman ini, aku tidak bermain seperti anak-anak lain, tetapi duduk dan meraba-raba garis yang dulunya kuyakini adalah tepi sungai. Dan aku sangat yakin akan pendapat ini, karena di seberang sana, beberapa meter jauhnya, ada garis yang juga sama, seakan tercetak di tanah yang ditaburi daun-daun mati.

Kubilang, sungai itu benar ada dan bukan legenda. Aku belum bisa membuktikan, tapi suatu hari nanti, suatu hari nanti… Kata-kataku kuulang sementara penglihatan itu lagi-lagi datang. Jernihnya air, bau basah, ikan-ikan berlompatan…

Oma menepis udara dan tertawa begitu keras sampai beberapa pengunjung taman menoleh. Mereka tidak memedulikanku dan kembali ke urusan masing-masing, kecuali seorang gadis yang nantinya aku jatuh cinta padanya. Ia berdiri tidak begitu jauh dariku. Ia mendekat.

Milana tidak begitu jauh tempat tinggalnya dari rumahku; aku tidak kenal karena hari-hariku kulalui bersama Oma yang jahat dan pelit. Setelah ia memperkenalkan diri dan duduk di sisiku dan bertanya apa benar sungai itu nyata, penglihatanku mendadak sirna dan aku kembali ke masa kini. Kubilang: “Kamu dengar kata-kataku? Kamu nguping?”

Sejak itu, aku sering bercerita padanya tentang sungai purba yang dulu pernah ada lalu hilang di taman kota ini. Hilang oleh suatu sebab yang masih misterius. Sayangnya, tak banyak orang percaya sungai itu nyata, bukan sekadar legenda. Atau jangan-jangan di dunia ini, di kota ini persisnya, cuma aku satu-satunya yang percaya?

Begitulah aku cerita panjang lebar mengenai dugaan-dugaanku bahwa sungai itu hilang karena tandas diminum para penjelajah yang ingin mencari jamu keabadian dari daun langka di hutan sebelah barat taman. Atau, bisa jadi sungai itu hilang oleh karena Tuhan mengeringkan tempat ini pada zaman dulu kala agar tidak ada lagi yang percaya takhayul keabadian.

Takhayul, seperti kata Oma, bujuk rayu setan. Dan setan ingin kita masuk neraka. Dulu setan berhasil menghasut moyang kita, Adam, sehingga kita dibuang ke bumi. Dan kini, setan belum puas kalau belum memastikan kita semua masuk neraka, kataku.

Milana terus mengangguk-angguk. Lalu aku membahas soal langit dan bumi, juga malaikat dan setan sampai berlarut-larut dan sampai lupa bahwa aku pergi bersama Oma dan Milana pergi bersama ibunya—yang mungkin mencari-cari anaknya sebab tidak ada bersama anak-anak lain; kalau Oma, kukira ia mulai pikun dan mungkin saja pergi ke toko parfum di seberang taman, lantas duduk di sana selama beberapa jam sampai ingat bahwa hari sudah sore dan kami harus pulang. Tapi, hari belum sore, bahkan belum juga siang, sehingga aku terus bicara di depan Milana.

Setelah puas bicara soal alam gaib, aku kembali ke bahasan soal sungai purba yang hilang itu. Aku mulai membahas arwah-arwah di sekitar hutan, yang salah satunya tak lain tak bukan adalah ibuku yang mati dibunuh orang-orang asing. Kamu orang asing, kataku, tapi kamu baik, jadi kuyakin bukan kamu yang membunuh ibuku. Lagi pula Ibu mati setelah aku dilahirkan dan pada malam itu pastilah Milana juga masih bayi merah dan baru keluar dari perut ibunya.

Milana antusias dan dia gadis yang jujur. Aku tahu dia tidak seperti orang lain, yang nyaris selalu tertawa keras-keras seperti Oma, kalau bukan berdiri dan menyuruh orang lain membawaku ke rumah sakit jiwa. Ia juga tidak seperti teman-temanku di rumah, yang kebanyakan suka pura-pura mendengarkan, padahal di kepala mereka ada bayang-bayang es krim atau donat yang dijanjikan ayahnya atau bahkan arwah hantu tua di dalam tubuh kecilku. Entahlah.

Kukira, satu-satunya yang memahami ceritaku hanya Milana.

***

Milana menahanku setelah kami jalan beberapa lama. Di titik ini, pepohonan jati tumbuh lebih lebat dan semak belukar tampak tak beratur. Tak ada yang merawat tempat ini sedemikian rapi sebagaimana taman tempat kami bertemu selama sebelas tahun lebih, juga tak ada seorang pun suka berlama-lama di sini, kecuali orang gila.

Tidak jauh dari tempat kami berdiri ada sebuah bukit.

“Itu tempatnya, ‘kan?”

Aku mengangguk. Mungkin saja itu, tapi, yah, kurasa itu.

Kami tak pernah jalan sejauh ini. Mungkin sejam lebih atau jangan-jangan dua jam? Aku tak membawa arloji dan aku selalu gugup di dekat gadis ini. Jatuh cinta membuat kepalamu kadang sedikit kacau dan otakmu berkelana entah ke mana. Caraku mengatasi ini dengan terus menerus bercerita soal sungai purba dan arwah Ibu yang mungkin saja kutemui tidak jauh di sekitar sini.

Milana, meski sudah beribu kali mendengar, tak jenuh. Mungkin, ia cinta. Dan caranya mengalihkan kekacauan di kepala adalah dengan mengangguk dan tersenyum seakan ceritaku hiburan yang selalu mengasyikkan baginya.

Milana menatap bawah dan terkagum-kagum. Kami melihat betapa garis ini masih bertahan sekian jauhnya. “Kalau sekadar legenda, rasanya garis ini terlalu panjang untuk sebuah kebetulan. Sungai itu memang nyata, ya.” Ia berkata pelan.

Seperti ceritaku dulu, tidak jauh dari bukit di depan kami, ada tikungan. Garis itu melengkung mengikuti kaki bukit. Mula-mula serong ke barat laut, lalu persis garis itu mengarah utara.

Kubilang, aku belum pernah kemari, tapi aku tahu belokan-belokan selanjutnya, misalnya dari tempat kami berdiri saat ini, tiga mil menuju utara, ada lagi belokan ke barat. Tidak lama, kalau kami tiba di sana—sayangnya itu tidak mungkin terjadi karena kami tak punya kendaraan dan hutan ini sangat luas—sungai purba akan serong ke barat daya. Sesudahnya, sungai itu tetap demikian, tidak berbelok lagi. Di bagian itu, andai seseorang menyelidiki kebenaran sungai sampai jauh, ia akan menembus negeri lain dan konon di sanalah tempat jamu keabadian itu berada.

“Kita sudah di hutan,” kata Milana. “Jadi, bagaimana sungai itu hilang?”

Aku tak menjawab pertanyaannya. Kurasa tidak jauh dari bukit ada kampung kecil. Dan benar, ada tujuh rumah terbuat dari bambu dan kayu. Rumah-rumah itu telah lama ditinggalkan dan tidak mungkin ditinggali lagi karena rusak dan diselimuti lumut serta membatu oleh waktu.

“Ini rumah penjelajah pada zaman itu. Mereka mati kehausan,” kataku. “Dan, ya, pohon-pohon yang menyerap sungai.” Aku mengernyitkan dahi. Penglihatan muncul sekelebat. Orang-orang mati. Pohon-pohon menggeliat seperti setan yang kabur dari neraka. Milana ketakutan dan ia mengajakku pulang.

Tidak, kita tidak pulang sebelum mendapat jawaban bagaimana sungai itu hilang, kataku. Kami lalu berjalan menembus hutan yang gelap. Kami tidak akan menempuh jarak bermil-mil, karena tidak jauh dari sini, arwah-arwah itu tinggal. Di sanalah, kataku padanya, jawaban yang benar-benar meyakinkan ada, karena di tempat itu aku merasa melihat ibuku.

“Tentu saja,” kata Milana. Ia genggam tanganku lembut. “Ibuku tidak suka bohong. Kukira semua ibu ingin yang terbaik bagi anaknya, begitupun ibumu.” [ ]

Gempol, 17 Desember 2015 – 2 Mei 2016

Puncak Becici

Penulis: Muhhamad Nanda Fauzan
Versi cetak Fajar Makassar
Narrator: Abednego Afriadi
Ilustrasi Musik: Endah Fitriana

Apakah kalian harus kembali.

Untuk angin yang  menghantam kulit daun-daun

pinus yang anggun bagai api unggun

dilesap embun Pada pukul tiga pagi.

//

Untuk ranting tempat nuri menari-nari

mewartakan kematian hades,

Menjelma peluh buruh-buruh yang

Menetes lalu menetaskan kecemasan

//

Untuk akar menjalar dan mencengkram serupa

bahasa ibu yang disingkirkan

 dan disungkurkan kamus.

//

Untuk batang-batang yang mengucapkan dan mengecupkan

selamat datang kepada pelancong angkuh

dari negeri serupa doa bandit mesum ;

Jauh tak terengkuh.

//

Mampukah kalian menghapus kata Apakah pada awal puisi ini?

Becici 2018

Tikus Besar dan Kerbau Kecil

Penulis : Syaifuddin Gani
Versi Cetak : Gora Pustaka Indonesia 2019
Penutur : Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana

Suatu hari, seekor anak kerbau sedang asyik menyantap padi di sawah. Batang-batang padi yang mudadimakannya dengan lahap. Tiba-tiba saja, terdengar suara cericit yang kesakitan.

“Aduuuuh tolooong, sakiiit. Kakiku sakit. Kakiku kau injak.”

Anak Kerbau kaget. Siapa yagerangan yang kesakitan minta tolong itu. Ah pusing amat, katanya dalam hati.

Anak Kerbau semakin asyik saja mengunyah daun-daun padi yang kehijauan, ketika suara kesakitan kembali tedengar.

“Tolong Kerbau, jangan injak kakiku, saya bisa mati tenggelam ke dalam lumpur.”

“Siapa kamu. Kok saya tidak melihat rupamu. Saya hanya mendengar suara saja,” balas Kerbau.

“Saya, Tikus. Kaki kecilmu sedang menginjak tubuhku yang besar,” jawab Tikus.

Kerbau kaget. Apa saya salah dengar? Begitu ia berkata dalam hati mendengar Tikus mengatakan bahwa kakinya kecil.

“Eh Tikus, telapak kakiku saja lebih besar daripada badanmu. Sayalah penguasa sawah.”

“Kamu jangan sombong Kerbau kecil. Kamu hanya anak Kerbau, sedangkan aku adalah ibunya tikus,” jawab Tikus tidak mau kalah.

“Walaupun kamu ibunya tikus dan saya anak kerbau, tetap saja saya lebih besar daripada kamu,” jawab Kerbau dengan nada sombong.

Ibu Tikus tidak mau kalah. Walaupun memang dia seorang ibu, tetap saja tubuhnya lebih kecil dibanding daun telinga kerbau. Tetapi dia mempertahankan nama baiknya.

“Hei anak Kerbau, jangan anggap remeh saya. Untuk membuktikan siapa yang besar, ayo kita masuk kampung secara beriringan.”

“Oke, siapa takut. Saya pasti lebih besar. Tidak perlu kita beriringan, kamu cukup berada di atas badanku saja,” ejek Kerbau.

“Oke…oke. Saya ikutsaranmu. Saya akan berdiri di atas badanmu,” jawab Tikus.

Nah, Anak Kerbau dan Ibu Tikus pun masuk ke dalam kampung. Saat mau masuk ke kawasan perumahan warga, Ibu Tikus pun meloncat naik di atas belakang Anak Kerbau. Secara sepintas yang besar adalah Anak Kerbau. Tikus tampak kecil di atas belakang sambil menari-nari. Akan tetapi, Tikus yang satu ini lebih besar dari biasanya.

Akan tetapi, saat melewati warga, orang-orang pun berteriak.

“Waaaw besarnya itu tikus.”

“Tapi kenapa ada juga itu anak kerbau kecil.”

“Barusan saya lihat ada tikus yang sangat besar, berjalan bersama anak kerbau kecil.”

Anak Kerbau pun bingung. Dia tiba-tiba merasa kecil. Sebaliknya, Ibu Tikus bergembira disebut sangat besar.

Tiba di ujung kampung, Anak Kerbau lemas. Dia duduk di tanah masih dalam kebingungan. Dia pun bertanya kepada Ibu Tikus.

“Tikus, saya benar-benar bingung, kenapa orang kampung bilang saya kerbau kecil dan kamu tikus besar. Bukankah saya lebih besar daripada kamu?”

“Memang benar, kamu besar daripada saya. Tetapi karena perasaanmu yang terlalu percaya diri dan merendahkan saya, kamu jadi percaya bahwa saya lebih besar daripada kamu.”

“Saya mohon maaf Tikus atas kesalahan saya. Kamu mau kan maafkan saya?”

“Iya mau dong, kita kan teman. Saran saya, hargailah semua orang, eh semua binatang yang ada di dekatmu, oke?”

Nah, adik-adik, Kerbau dan Tikus pun kembali berteman akrab. Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke ujung kampung . Di sana ada padang hijau menanti. Mereka akan makan bersama.

Berteman itu asyik bukan?

Kendari, 5 November 2018

Paket Daun Lumbu Untuk Rumpun Melatiku

Penulis : Nashita Zayn
Versi cetak antologi Joglo 8 Shinigami, Taman Budaya Jawa Tengah
Penutur : Noer Atmaja
Ilustrasi musik : Endah Fitriana

“Selamat pagi Rumpun Melati. Hey, kau di sana. Aku titipkan paket untukmu yang dibawa oleh kawanan burung emprit sahabatku. Balas jasa karena aku telah merawat kawannya yang mati kemarin dibidik anak kampung dengan ketapel lambung. Sudah aku coba merawatnya. Lukanya terlalu parah, terlalu banyak darah. Sudah aku bilang padanya. Berhati-hatilah saat mengambil bulir padi. Penjaganya banyak sekali. Mereka berketapel ranting setinggi, berpeluru kerikil dan bermata jeli, sangat-sangat ahli,” gumamku sendiri berharap suara ini terbawa angin dan sampai padanya.
Kuingat kata emprit malang ketika itu, “tidak apa-apa aku mati dalam kewajibanku, mencari makan untuk anak-anakku.”

“Tapi kamu mencuri. Dianggap pencuri padi yang ditanam paman petani,” kataku.

“Aku hanya menjalankan perintah dari Tuhan, untuk mengambil seperduapuluh bagian dari setiap bulir padinya,” jawab Emprit sambil menahan sakit.

“Itu pekerjaan yang sangat beresiko, sangat berbahaya. Mengapa Dia tega menugaskan kamu mengambil bagian itu?” Protes spontan atas ketidaktahuanku yang membuat Emprit tersenyum di tengah ringisannya.
“Itu tugas mulia kami. Masih sama tugasnya seperti saat pertama Dia menciptakan nenek moyangku untuk mengambil zakat dari setiap bulir padi, agar manusia sadar dan peduli adanya bagian zakat setiap bulirnya bagisesama manusia. Ini berat, tapi Dia adil. Aku diberi-Nya sayap, sehingga aku bisa melihat keindahan bumi dari atas sana. Perdagangan yang sangat adil menurut kami.”
Burung emprit sahabatku terbatuk lalu muntah darah. Aku seka dengan lenganku, tapidia melemah.
“Aku akan segera menghadap Rabb-ku, adakah sesuatu yang akan kamu titipkan?”
Aku bisikkan di dekat telinganya. Aku titipkan paket ini. Jarum dan benang warna sari pelangi. Jarumnya dari duri kaktus suci. Benang dari serat pelepah pisang raja sedang bunting, yang selalu berdoa kepada-Nya untuk keselamatan sang jabang jantung pisang.  Pembungkusnya daun Lumbu yang kalis air, diikat pita warna jambu dari kembang Turi. Aku titip untuk Rumpun Melatiku. Tarian cintaku terlalu bersemangat saat menyematkan puja-puja, dan ternyata aku belum pandai menarikannya. Banyak daunnya yang sobek. Ada ranting tergores. Putiknya merana. Sampaikan padanya paket ini, yang di dalamnya  juga aku masukkan daun sirih anti bakteri, sehingga benang dan jarum ini anti infeksi.

Burung emprit sahabatku tersengal-sengal. Matanya menutup, paruhnya mengatup, ia terbatuk-batuk.

“Bagaimana cara kawananku menemukan Rumpun Melatimu?” tanya Emprit sangat pelan.

“Mudah saja. Terbanglah ke taman sari. Carilah Rumpun Melati terelok di sana. Pokok rumpunnya seperti penari. Cabangnya seperti lengan berjemari penari Legong. Bunganya paling indah dan wangi. Sampaikan paket ini padanya, bacakan mantra untuknya. Tolong tirukan suara dengungku. Agar ia tahu bahwa aku yang telah mengirimnya.”

Matahari meninggi, aku tutupi kepala Emprit malang dengan daun lumbu. Ia menghela nafas satu-satu dan didekapnya erat paket titipanku. Seiring dengan hembusan paru-parunya yang paling bungsu, dia pergi menghadap Rabb-nya menuju surga burung-burung. Disaksikan kawanan emprit yang sangat berduka.

Setelah menimbun temannya yang barusan mati dengan kelopak bunga kamboja, paketku dibawa kawanan emprit ke arah utara.

Malam cepat merayap, warnanya  gelap, suasana senyap makin menyergap dan seketika membuatku terkejap. Dalam hati aku banyak berharap semoga paketku kau terima dengan cepat, hatiku menderap rapat. Kunyanyikan kidung malam dengan suara dari gesekan lar sayapku, suaranya merdu dipadu dengan kecipak ikan gabus yang memangsa belalang.

***

Mentari dua puluh derajat miringnya, disana cahaya berpendar nanar.  Tampak siluet biru tua berpadu biru muda. Gunung Merapi berasap dari kejauhan, bergandengan terus dengan gunung Merbabu. Mesranya!

Selamat pagi Rumpun Melati. Sudahkah kau terima paketku yang berbungkus daun lumbu dengan pita merah jambu? Jahitlah lukamu dengan jarum dan benang sari pelangi. Warna hijau untuk jahit daunmu, warna putih untuk jahit bungamu, warna abu
untuk ranting-rantingmu…. Memang sedikit perih, tapi daunmu akan segera rapih. Spaleg rantingmu yang patah.Jepit dengan lidi dan ikat dengan benang, sampai yang patah tersambung, yang tercerabut akan terhubung.

Kumbang ini malu. Aku terbang hilir mudik hilang arah. Jangan diingat penyebab robeknya. Ingat saja benang yang merapihkannya. Aku jamin sepenuh
cinta, cinta kepadamu Rumpun Melatiku, dari sumber cinta karena-Nya sang penciptamu. 

Setelah kau terima paket itu, tolong tuliskan pada selembar daunmu. Bubuhi dengan aroma putik.Lalu titipkan pada angin kemarau utara. Akan kuminta sahabatku laba-laba menangkap pesan pada daunmu dengan jaringnya. Tahukah kau? Aku bersalto sangat cemas.

Pernah kau bilang, kurang subur lagi tanah di sekelilingmu…. Tenang sayang, akan kuminta para cacing tanah berdansa tango agar tanah meremah hara. Kabut pagi tadi, terasa sejukkah di kutikulamu? Hatiku merana lama tak jumpa denganmu. Aku malu temui dirimu.

Hiasi pokokmu dengan renda. Mohon usir semua duka nestapa. Akan kuminta ulat hijau membuatkannya dari daun nangka. Daun nangka tua warna kuning merah. Daun nangka muda warna hijau cerah. Dikombinasi kelopak tua bunga nangka di atas dan di bawah. Kau akan terlihat cantik. Menarilah Legong untukku saja. Tentu akan kudengungkan mantra-mantra mengiringi gerakan jemarimu dibantu semilir sang bayu.

Pasti semerbak bau buana dan lantunan doa agar turun hujan pun membahana. Sehingga akan terhiasi daunmu bak bulir embun, dan berpendarlah cahaya mentari pagi melewati setiap rumpun. Embun laksana intan berlian berwarna pelangi, hiasi seluruh tubuhmu yang harum mewangi. 

***

Selamat siang rumpun melatiku. Mentari sembilan puluh derajat, tepat di atas jidat dengan panas yang menyengat. Angin utara tak jua membawa daun pesanmu. Tadi laba-laba berkata, belum ada pesanmu yang terjala. Hanya dua ekor lalat kurus yang menggelepar tak berdaya.

Waktu berjalan laksana kura-kura. Aku tak sabar. Tapi aku harus sabar dengan gemuruh dada yang makin berkobar. Aku redam dan aku siram dengan air dari daun pohon badam. Aku hinggap di atas pucuk sengon laut yang pucuk daunnya dihiasi warna kuning pucat. Rantingnya yang masih hijau aku cecap, tapi nafsu makanku lenyap terambil oleh Rumpun Melatiku yang sangat kuharap.

Matahari semakin miring ke barat. Warnanya kekuningan dengan warna semburat merah.Belum ada surat dari jejaring laba-laba. Apakah kau lupa dengan alamatku, sayang?

Disini ku nanti. Mata air dengan pohon randu gumbala yang berusia ratusan tahun mengumpulkan milyaran embun. Di kanan dan kirinya tumbuh talas lumbu juga di sebelah batu tumbuh pohon sirih yang berumpun seperti mahkota ratu. Di seberangnya tumbuh rumpun bambu kuning yang rebungnya manis sama seperti nektarmu.

Jangan pergi Rumpun Melatiku. Jangan menyerah. Tolong jadikan cintaku sebagai penyemangatmu walau kau rasakan lemah.Pelajari lagi agar cinta itu segera membuncah. Tetaplah berdoa kepada Sang Penguasa, agar hujan membawa rindu yang pergi.

 Wahai cintaku. Kudoa agar kau mau memaafkan keliruku. Ataukah kau lupa padaku, kumbang yang menarikan tarian cinta dengan semangat membara? Sudah aku teriakkan namaku berkali-kali kepadamu: Tonggeret! Tapi kau diam ikuti, tetap memendam setinggi. Wahai Rumpun Melatiku, akan aku kirimkan lagi paket daun lumbu  satu-satu. Sampai kaupun tahu. Hari esok pasti lebih baik tanpa terpekik.”’

……..

Air matanya menggenang di pelupuk. Nyaris jatuh mencari teduh setelah membaca tulisan Priya sampai akhir. Tak mudah akhiri semua dengan berlari, andai Tuhan beri kekuatan untuk berlari.

“Untaian kata-katamu terlalu merayuku,” katanya parau.

“Lalu bagaimana, Amara? Maukah kau memberiku kesempatan lagi?” desak Priya yang lebih suka memanggil gadis itu, Rumpun Melati. Bening mata yang berkaca-kaca, tak mudah mengartikannya. Amara masih terpana datar. Inginnya Priya mendekap Amara erat.

Priya semakin optimis. Hanya butuh waktu sebentar untuk mengembalikan kepercayaan Amara. Tinggal sedikit lagi. Priya akan tunjukkan kalau ia pantas menjadi sang juara menyisihkan kompetitor lain. Amara tak boleh meragukannya lagi. Karena cintanya memang tak biasa. Cinta yang bertanggungjawab. Seindah puisi-puisi cinta yang terlahir setiap detik dalam getar suar asmara bumi. Setelah bertahun-tahun lamanya tidakkah ini cukup bukti?

Meskipun Tuhan selalu campur tangan, Priya merasa penentu pilihan. Hal hidup bersambung Amara, itu semua karenaperannya. Silau materi wanita, Priya pastikan semua bisa ia persembahkan jika Amara minta. Setiap orang butuh pendewasaan. Tentunya tak ada alasan pengingkaran. Doa yang tak lepas menderas. Caci yang tak lagi memaki. Priya harapusahanya meruntuhkan dinding setinggi milik Amara.  Pujaan hati yang berhati lembut, penyabar, sederhana, bahkan sangat pemaaf. Dialah Rumpun Melati yang sanggup mewangikan keindahannya.

“Ampuni aku?” pinta Priya sambil tersenyum lebar.

Amara menggeleng dengan rekah senyum tipisnya.

“Kenapa?” Priya masih berusaha setegar Tonggeret, pemilik banyak paket daun lumbu yang akan terus berjuang sampai mati.

“Maaf, karena kau psikopat…,” jawab Amara kemudian berlalu pergi.

>