Putik Magnolia dan Duka

Puisi Faris Al Faisal
Versi cetak Kedaulatan Rakyat Minggu, 21 April 2019
Narator: Abednego Afriadi
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Tak ada kebahagian pagi ini

Putik magnolia diserbuki kumbang

Aku hanya bisa memandang

Duka mengambang di dedaunan

Bau lembab mengalir ke lembah

Meranalah batu-batu kelam

Seseorang telah mengambilnya dariku

Larik sepal kelopak tampak koyak

Denting dawai bunga telah dipetik

Aroma musim gugur melayang lebih cepat

Menjemput bait-bait melankolia

Lada-lada hitam pecah di bola mata

Aku menggerus potongan rindu di usus

Menghancurkan ladang-ladang perburuan

Batang rumput patah dan terbakar

Seseorang yang lain pun datang

Mendekat dan membelai daun telingaku

Setiap orang akan bahagia dengan dukanya

Indramayu, 2019

Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum

Cerpen Dadang Ari Murtono
Versi cetak Harian Jawa Pos 2019
Narator Luna Kharisma
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Bayang-bayang bergoyang sibuk malam itu, ketika mereka duduk berhadapan dan dipisahkan meja makan penuh piring-piring kotor bertumpuk di atasnya.

“Anak-anak sudah tidur semua?” si lelaki memecahkan hening yang menggenang.

“Aku yakin mereka sudah tidur semua,” jawab si perempuan. Ia menarik nafas panjang seperti mencari harum dan hangat udara yang tak lama lagi tak akan bisa ia rasakan.

“Aku tidak ingin ini terjadi,” ujar si lelaki.

“Tapi aku menginginkannya.”

“Kau harus memikirkan ulang gagasan ini sebelum semua terlambat.”

“Aku telah memikirkannya ulang, berkali-kali, bahkan mungkin ribuan kali. Dan aku selalu sampai pada satu kesimpulan bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan aku tidak akan menyesalinya.”

“Tentu saja kau tak akan menyesalinya. Kau tak akan lagi punya waktu untuk itu. Tapi aku, aku! Siapa yang bisa menjamin bahwa aku tidak akan menghabiskan sisa umurku dalam penyesalan dan kemurungan? Dan siapa yang bisa memastikan bahwa aku tidak akan gila karena itu semua?”

“Kau boleh berduka. Tapi kau tak boleh menyesal. Apalagi menjadi gila. Kau harus mempertimbangkan betapa aku menginginkan ini semua dan bahagia karenanya kalau-kalau kau memutuskan menjadi gila.”

“Menjadi gila bukanlah pilihan yang bisa kuputuskan begitu rupa.”

“Kalau begitu ini juga bukan pilihan yang bisa kau putuskan begitu rupa. Tak ada lagi pilihan untuk meneruskan atau membatalkan. Ini keharusan. Ini satu-satunya jalan. Dengan kata lain yang lebih reljius, ini adalah takdir yang tak bisa kita elakkan. Eh, kau mau bir?”

“Sepuluh botol bir pun tidak akan membantu,” si lelaki meloloskan sebatang rokok putih, menyalakannya, mengisap asapnya dalam-dalam sebelum kemudian menciptakan lingkaran-lingkaran putih yang segera terbang ke atas dan lenyap dihembus udara bergerak dari kipas angin di langit-langit ruang makan itu. Beranda terlihat begitu singun. Dan cahaya lampu masih saja setia menciptakan bayang-bayang sepasang kursi di lantai beranda yang berkilat.

“Mungkin kau perlu dua butir calmlet untuk menemani birnya. Itu tidak pernah gagal membuat kita tenang, bukan?”

“Tapi aku tidak yakin itu akan berhasil dalam keadaan seperti sekarang ini.”

“Sudahlah. Kau tak perlu terlalu memikirkannya.”

“Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya?”

“Sudah kubilang perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan keluargaku adalah orang-orang yang terbiasa berkorban untuk itu. Aku yakin kau belum melupakan kakakku.”

“Tentu saja. Tapi ini persoalan yang berbeda.”

“Berbeda bagaimana? Dia juga berjuang, ingat itu. Dia berangkat ke Jakarta pada hari Senin setelah korespondensi panjang dengan teman-teman pergerakannya. Teman-temannya bersumpah ia terlihat berkeliaran di Jalan Diponegoro pada hari Sabtu kelabu itu. Lalu ia menghilang. Belum genap seminggu ia berada di Jakarta dan ia menghilang. Banyak yang yakin ia tewas dan mayatnya dibuang entah ke  mana oleh pihak-pihak yang kita tahu siapa. Lihatlah. Bahkan sebagai statistik pun ia tidak tercatat. Komnas HAM menyatakan lima orang meninggal dan 149 orang terluka, termasuk aparat. Tapi ia tidak termasuk di antara itu semua. Dan kau tahu apa yang dikatakan bapakku waktu itu?”

“Aku tahu,” si lelaki mematikan rokok yang masih panjang dan memegang keningnya. Jari telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk kening berkilat tersebut. “Perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan tidak semua pengorbanan harus tercatat. Persis seperti ribuan orang lain yang  mati pada masa penjajahan kolonial atau perang kemerdekaan.”

“Bagus kalau kau masih ingat,” jawab si perempuan. Ia bangkit lalu berjalan menuju kulkas tidak jauh dari tempat duduknya. “Dan kalau seandainya bapakku masih hidup, ia akan mendukung apa yang aku lakukan. Ia akan memelukku penuh keharuan. Ingat, ia terharu. Bukan bersedih,” lanjut si perempuan. Ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol bir. “Kau mau juga?” tanyanya sambil menoleh ke si lelaki.

“Tidak. Aku tidak ingin bir atau calmlet. Sudah kubilang aku tidak mau. Satu-satunya yang kuinginkan adalah kau membatalkan rencana tolol ini.”

“Ini bukan rencana tolol. Kau tahu itu. Kita telah membicarakannya. Bukan hanya kita, melainkan juga tim sukses kita. Ini adalah kesepakatan. Ini adalah bagian dari demokrasi. Dan kau tidak bisa membatalkan begitu saja keputusan yang dihasilkan dari diskusi yang mengusung semangat demokrasi seperti ini begitu saja. Kukira, kita tidak perlu lagi membicarakan ini semua atau tim sukses kita akan mengenang kita sebagai bagian dari orang-orang yang mengkhianati demokrasi, mengingkari hasil musyawarah mufakat.”

“Seandainya kita punya cukup banyak uang.”

“Oh, jangan mulai berdebat tentang apa yang sudah kita diskusikan dan simpulkan sebelumnya. Kebiasaanmu ini benar-benar menyebalkanku.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Kita tidak hidup di masa lalu. Sekarang, media sosial menguasai kehidupan kita, dan karenanya arus informasi mengalir tanpa bisa kita bendung. Orang-orang sudah cukup cerdas untuk menerima uang kita namun memilih calon lain di hari pemilihan. Alih-alih menjadi strategi pemenangan yang jitu, taktik seperti itu bisa menjadi bumerang bagi kita. Bisa saja mereka merekam itu dan mengunggahnya ke media sosial. Dan ujung-ujungnya, bukan hanya perjuangan kita yang gagal, namun kita juga mesti berhadapan dengan hukum.”

“Mungkin apa yang kau katakan memang benar.”

“Itu memang benar. Bukan ‘mungkin benar’. Yang kita butuhkan sekarang adalah drama. Ingat itu. Drama.”

“Kukira kita bisa memperbaiki materi kampanye kita. Kita bisa merumuskan kembali program-program yang akan kita jalankan kalau kita memenangkan satu  kursi di pemilu legislatif.”

“Oh, kenapa kau kembali membicararakan itu? Program-program dan janji-janji itu klise belaka. Hanya pemantas dan pemanis agar kampanye tetap tampak seperti kampanye. Apa yang akan kau perbaiki? Semua kandidat sesungguhnya memiliki program yang sama. Pendidikan dan layanan kesehatan gratis, pembukaan lapangan kerja, pengoptimalan kinerja pemerintah, pemberantasan korupsi, peningkatan keamanan, dan hal-hal semacam itu. Jika ada yang berbeda, maka itu hanyalah redaksional kalimatnya belaka. Intinya sama. Dan para pemilih tidak lagi peduli pada itu semua. Yang diinginkan orang-orang adalah drama. Dan drama itulah satu-satunya bahan kampanye yang bisa kita perbaiki. Semakin kita menempatkan diri sebagai pihak yang teraniaya, semakin orang bersimpati kepada kita. Dan bila mereka sudah bersimpati, maka mereka akan memilih kita. Sesimpel itu. Masa orang seperti kau tidak bisa mengerti hal sesederhana ini sih?”

Si lelaki kembali menyalakan sebatang rokok. Si perempuan meneguk bir langsung dari mulut botol dengan sebuah tegukan besar. Ia bersendawa sebelum menaruh botol itu di atas meja makan.

“Apakah kau tidak merasa takut?” si lelaki bertanya setelah menitikkan latu ke asbak di depannya.

“Tidak. Karena aku tahu kau akan menjadi anggota dewan. Dan kau akan menjadi anggota dewan yang baik. Dan itu bagaimana pun adalah langkah awal. Kelak, siapa tahu kau bisa menjadi kepala daerah atau bahkan presiden.”

“Aku menyesali keputusan yang kubuat dulu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku menyesal mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Kupikir, berjuang tidak harus dilakukan dengan cara itu.”

“Memang tidak. Tapi ini adalah cara paling efektif untuk membangun negeri tercinta kita, tanah air kita. Terlalu banyak orang busuk di lembaga terhormat itu dan hanya kau yang bisa memperbaikinya. Kau tahu sendiri kan berapa dari mereka yang terkena operasi tangkap tangan KPK? Yang tidak hadir sidang? Bahkan yang menonton video porno waktu sidang? Ini sudah benar-benar konyol. Belum lagi komentar-komentar mereka di media sosial yang benar-benar tidak masuk akal dan malah memecah belah serta merusak bangsa ini ketimbang menyatukan dan membangunnya. Kau, sayangku, kau yang harus memperbaiki itu semua. Dan untuk itu, kukatakan sekali lagi kepadamu, aku rela berkorban. Ini langkah besar untuk kita.”

“Aku tidak akan bisa memperbaiki apa-apa kalau polisi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan hakim menjebloskanku ke dalam penjara.”

“Karena itulah hal pertama yang harus kau lakukan setelah mereka melantikmu menjadi anggota dewan adalah menyumpal mulut para penegak hukum itu. Bila kau tak mendekati mereka dan menawarkan sesuatu yang tidak mungkin mereka tolak, mereka akan menyerangmu.”

“Menyuap mereka?”

“Oh, istilah itu terlalu kasar. Tapi tak apalah. Masyarakat mungkin tidak bisa kau suap untuk memilihmu, tapi para penegak hukum itu, tidak diragukan lagi, akan bungkam dengan sejumlah uang atau proyek, atau hal-hal semacamnya di tangan mereka.”

“Itu kalau aku menang.”

“Kau akan menang. Itu pasti. Besok, mereka akan menemukanku telungkup di selokan dengan dada berlubang dan sebuah peluru bersarang di dalamnya. Kau akan mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan untuk menyantuni anak yatim piatu ketika entah siapa mencelakaiku dan kau akan bersedih. Kau tak perlu mengatakan apa-apa selain betapa kau mencintaiku dan betapa aku menaruh perhatian besar pada anak-anak, khususnya anak yatim piatu. Masyarakat akan tersentuh dengan itu semua. Dan tim sukses kita, seperti yang telah kita rencanakan, akan mengembuskan kabar melalui akun-akun bodong di media sosial bahwa lawan-lawan politikmu dalam perebutan kursi legislatif di daerah pemilihan inilah yang mencelakaiku. Masyarakat gampang percaya dan terprovokasi dengan berita-berita semacam itu. Percayalah. Drama yang luar biasa menarik akan terjadi. Dan bila setelah itu kau hanya ongkang-ongkang kaki, percayalah, kau akan tetap melenggang ke Senayan.”

“Aku tak tahu apakah aku akan sanggup melakukan itu semua. Anak-anak juga.”

“Kau akan sanggup melakukannya. Aku yakin itu. Dan kelak, anak-anak akan menceritakan kisahku dengan penuh kebanggaan. Mereka tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya akan tahu bahwa ibunya meninggal akibat kejahatan lawan-lawan politik bapaknya. Ibunya seorang patriot. Ibunya seorang pahlawan. Ibunya seorang legenda. Kau tahu, aku selalu ingin menjadi pahlawan dan legenda. Bukankah itu luar biasa?”

“Aku ingin memikirkan ulang ini semua.”

“Tidak. Jangan mulai lagi seperti itu. Sudah malam. Aku mengantuk. Besok adalah hari besar, ada hal maha penting yang harus aku lakukan,” si perempuan bangkit dari tempat duduknya, ia menenggak sisa bir dalam botol. Lalu dengan mantap berjalan menuju kamar tidurnya. Sesampainya di pintu kamar, ia menoleh ke si lelaki yang tengah mematikan puntung rokok di asbak. “Aku ingin bercinta denganmu untuk terakhir kalinya,” katanya. Suaranya begitu tenang. Dan ia tersenyum.

Catatan: kalimat Bayang-bayang bergoyang sibuk diambil dari puisi Goenawan Mohamad berjudul Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum.

Kalender, Undangan Nikah dan Puisi

Cerita pendek Gunawan Triatmojo
Tersiar di Basa Basi.com 8 januari 2016
Narrator: Abednego Ariadi
Ilustrasi Musik: Endah Fitriana

Model kalendernya kurang merangsang. Harusnya pula di sebelah kanan bawah model, di bidang yang masih tampak kosong itu dibubuhi doa sebelum renang.

Tentu saja tak ada yang mendengar kritikku ini karena memang hanya kusuarakan dalam batin. Bila pun kuperdengarkan juga tetap akan sia-sia. Desain kalender pesanan salah satu produsen obat pelangsing ini sudah final. Kemungkinan untuk diedit lagi sudah tertutup. Dan, memang lebih baik jika kupendam saja kritikku ini untuk mencegah kemungkinan pemesan itu sakit hati yang berujung pada urungnya pesanan. Aku hanya dapat menilai dalam hati bahwa desainer grafis perusahaan itu memiliki kreativitas dan nilai estetika yang rendah. Tugasku sebagai pemilik percetakan hanyalah memastikan cetakan kalendernya sempurna. Aku tinggal mengatur ukuran kertas dan komposisi warna idealnya, lalu dua pegawai harianku akan mencetaknya sebanyak dua ratus eksemplar sebagaimana pesanannya.

Pada bulan November ini aku mencatat ada tiga belas pesanan kalender. Sepuluh pemesan sudah membawa desain jadi sedangkan sisanya adalah tipikal terima jadi. Ketiga pemesan itu cuma datang dengan uang muka beserta beberapa instruksi yang mesti kueksekusi sendiri. Aku senang dengan pemesan semacam ini karena menantang naluri seni dan kreasiku. Aku bakalan mendesain kalender pesanan itu sebaik mungkin karena nama baikku adalah taruhannya. Kepuasan pemesan adalah puncak apresiasi bagi karyaku.

Siklus tahunan semacam ini hampir bisa dipastikan. Setiap mendekati pergantian tahun aku selalu kebanjiran order cetak kalender. Kebanyakan pemesan itu datang dari perusahaan-perusahaan kecil, semacam dealer motor, produsen jamu, rumah makan, dan sebagainya. Aku pun sudah mengantisipasinya sejak jauh-jauh hari dengan menyiapkan kertas dan perlengkapan lainnya. Jumlah pemesan kali ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Hal ini cukup melegakanku karena meski hampir tiap orang telah punya ponsel yang terdapat kalender di dalamnya, penggemar kalender manual masih banyak. Masa depan kalender kertas masih cerah. Kebiasaan melingkari angka dan mencoret-coretnya belum akan punah.

Selain kalender, aku juga menerima order cetak buku kecil-kecilan, semacam buku Surah Yasin dan aneka undangan. Yang terlaris tentu saja undangan nikah, apalagi di Solo ini pantangan nikah hanya terjadi di bulan Sura. Aku senantiasa kebanjiran order desain dan cetak undangan nikah mulai dari yang sederhana hingga yang istimewa. Sebagaimana kalender dan yang lainnya, sebelum undangan nikah itu dicetak pasti kukonsultasikan terlebih dahulu hasil desainnya dengan pelanggan. Untuk undangan nikah biasanya pemesan lebih rewel. Tentu mereka ingin undangan nikah yang diniatkan hanya dicetak sekali seumur hidup itu secantik mungkin. Undangan nikah bagi mereka adalah prasasti doa agar pernikahan mereka langgeng dan bahagia selama-lamanya. Meski belum beristri aku tahu pasti perasaan itu karena diam-diam aku telah mendesain undangan pernikahanku sendiri walau kini aku belum punya pacar dan mungkin jodohku sedang berdakwah mencerahkan batin lelaki lain. Dengan perasaan yang kurang lebih sama, aku mendesainkan undangan mereka. Kerap sekali ketika pemeriksaan akhir desain sebelum dicetak aku mendengar komentar bernada kepuasan dari pasangan mempelai. Saban kali begitu kebahagiaan dan kebanggaan juga membuncah dalam diriku. Selain potongan ayat suci, aku juga menyertakan beberapa larik puisi cinta dalam undangan nikah tersebut. Biasanya mereka akan memuji-muji puisi cinta itu. Barangkali mereka akan menjadikannya kata-kata mutiara andalan atau mantra favorit yang akan mendamaikan mereka kelak ketika terjadi prahara rumah tangga. Ketika mendengar pujian dari mereka jiwaku rasanya melambung kian tinggi, karena puisi cinta yang kububuhkan dalam undangan nikah mereka adalah puisi karanganku sendiri.

Aku tak keberatan jika puisiku itu dikira puisi Kahlil Gibran, WS Rendra, atau bahkan Chairil Anwar, para penyair yang dikenal masyarakat umum. Aku tak lagi menyertakan namaku dalam potongan puisi cinta itu karena aku pernah melakukannya dan imbasnya malah melukai hatiku. Di masa percobaan, sepasang pemesan memintaku menghapus namaku sendiri dari puisiku sementara mereka bersikeras menyertakan puisinya. Mereka suka pada puisinya tapi tak suka pada nama penyairnya yang tak terkenal. Untung saja mereka tak menanyakan perihal penyairnya dan tak minta mengganti nama penyairnya dengan penyair lain yang telah kondang namanya. Hatiku terselamatkan dari nestapa yang lebih bahaya. Akhirnya aku mengalah karena kepuasan konsumen adalah segalanya. Dari peristiwa itu aku berpendapat bahwa kualitas dan nilai estetika puisi itu terkait erat dengan nama besar penyairnya. Keindahan sebuah puisi bisa turun drastis jika ketahuan ditulis oleh seorang pengusaha percetakan rumahan sepertiku. Puisi dalam undangan nikah terlampau suci untuk ditulis sembarang orang. Aku belajar dari pengalaman pahit itu. Biarlah puisiku mengembara sendirian dalam tiap undangan nikah tanpa namaku. Setidaknya dalam undangan-undangan pernikahan itu puisiku abadi.

Bisa dibilang aku adalah penyair gagal. Dahulu ketika masih kuliah aku menyuntuki puisi. Di awal-awal proses kreatifku beberapa puisiku memang sempat dimuat di koran lokal sebanyak dua kali. Tapi setelah itu tak ada lagi puisiku yang dimuat meski aku telah ratusan kali mengirimkannya ke berbagai media massa. Padahal aku merasa kualitas puisiku makin bagus. Hal inilah yang melemahkan semangatku. Puisiku hanya beredar di komunitas teman-teman kuliahku di fakultas sastra. Aku hanya menjadi penyair untuk kalangan sendiri. Di luar semesta itu namaku tak dikenal sebagai penyair. Tapi aku senantiasa mengikuti perkembangan puisi di negeri ini dan di pengujung masa kuliah tibalah aku pada kesimpulan bahwa dunia kepenyairan di Indonesia sangatlah ketat dan kejam. Banyak nama baru bermunculan. Setiap orang seperti bisa menulis puisi dan dengan kesimpulan itu pulalah niatku menjadi penyair besar di negeri ini resmi kupupus dengan sukarela. Sebagai gantinya─setelah wisuda dan gagal menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan pendidikan─aku meminta modal pada kakakku yang kaya raya dan pernah kuliah di Amerika dengan beasiswa. Setelah mendengarkan ceramah halusnya tentang kengeyelanku dulu yang nekat kuliah di jurusan sastra Indonesia yang berujung pada status pengangguran terselubungku, akhirnya beliau memodaliku juga, yang kugunakan untuk membeli seperangkat mesin cetak kecil dan membuka usaha percetakan rumahan.

Pilihan usaha ini sudah kuperhitungkan dengan matang. Sebelumnya aku sudah belajar desain pada kawanku selama tiga bulan. Kursus gratis itu kumanfaatkan sebaik-baiknya, maklum, gurunya adalah kawan sekuliahku. Dia juga adalah prosais gagal. Kegagalannya lebih parah dibandingkan aku. Semasa kuliah dulu, dia telah menulis puluhan cerpen tapi tak satu pun yang berhasil dimuat koran meski telah berulang kali dikirimkannya. Dua novelnya juga tak ada yang menerbitkan dan hingga kini masih teronggok sebagai manuskrip. Perihal novel ini dia bercita-cita akan menerbitkannya sendiri dan akan dibagi-bagikannya secara gratis kepada para tamu kelak pada hajatan khitan anaknya. Kedua novelnya itu sama-sama bercerita tentang bong supit dan selaras dengan cita-citanya memiliki dua anak laki-laki. Nasibnya serupa denganku, setelah tak mendapat pekerjaan yang cocok dia pun banting setir membuka usaha sablon kaus. Sebelumnya dia sempat kursus desain secara resmi selama satu tahun. Dia bersedia mengajariku setelah aku bersumpah tak akan membuka usaha sablon kaus yang akan menyaingi usahanya.

Tak terasa kini usaha percetakanku sudah menapaki tahun ketiga. Memang belum ada kemajuan usaha yang berarti tapi hasilnya cukup untuk menghidupiku dan dua orang pekerja harianku. Aku kian percaya pada kata-kata mutiara yang tertempel di kaca lemariku: selama ada usaha di situ ada jalan & putus asa adalah kawannya setan. Sebagai penghargaan dan ucapan terima kasih, aku mendesain kalimat itu seindah-indahnya kemudian mencetaknya dalam kertas ukuran 40×200 sentimeter lalu membingkainya dan menjadikannya hiasan dinding kantor.

Selain dengan doa, Ibu mendukung usahaku dengan tindakan nyata. Memang beliau tidak urun modal tapi di masa menjelang tutup tahun seperti ini, beliau senantiasa memasokku kalender yang diperolehnya dari toko emas langganannya. Ibuku adalah penggemar sejati perhiasan emas. Aku mendengar sendiri cita-cita beliau tentang logam mulia itu yakni bahwa beliau tak akan meninggal dunia sebelum mengoleksi emas seberat 5 ons. Aku terharu mendengar cita-cita sederhananya itu tapi tak ikut membelikan beliau perhiasan emas. Aku takut bila koleksi emas beliau kian berat maka saat berpulangnya juga kian dekat. Ibu yang mendapat pasokan dana dari kakakku yang kaya raya seakan mewujudkan sendiri cita-citanya itu sementara Bapak hanya dapat ikut merasa memiliki. Penghasilan Bapak sebagai pembuat sambal pecel sudah ludes untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibu sering menghadiahi dirinya sendiri dengan perhiasan emas. Tahun lalu ketika Hari Ibu, beliau membeli kalung seberat 25 gram. Kalung itu dipakainya sendiri sedangkan bonus kalendernya diberikan padaku. Katanya, kalung emas dalam bentuk panjang itu cocok digunakan saat Ibu berhijab. Dan, kalung itu memang tampak kian berkilau ketika dipakai Ibu di luar kerudung. Aku ikut senang dengan pembelian itu dan teringat pesan Ibu ketika memberikan kalendernya, “Untuk studi banding.”

Perkara studi banding ini sebenarnya adalah balas jasa dari Ibu. Beberapa tahun lalu semasa fisiknya masih kuat, Ibu membuka usaha berjualan lemper. Lemper itu adalah buatan Ibu sendiri yang dititipkan ke warung-warung dan terkadang juga menerima pesanan. Di masa itu aku berkecukupan asupan lemper dan telah mencapai titik bosan. Setiap ada acara dan aku mendapat hidangan lemper maka lemper itu akan kubawa pulang dan kuberikan kepada Ibu untuk studi banding. Ibu akan memakan lemper itu sembari menganalisisnya, membandingkan dengan lemper buatannya sendiri. Biasanya pula di akhir santap lemper ibu akan memberikan penilaian yang sudah bisa diduga. Ibu akan menghujat lemper yang barusan dimakannya dan mengatakan bahwa lemper buatannya jauh lebih enak. Kurasa hal itu manusiawi dan itu baik bagi perkembangan mental dan kepercayaan diri Ibu sebagai produsen lemper.

Kurasa dalam hal apa pun studi banding itu perlu. Hal ini sesuai dengan buku yang sedang kubaca yakni salah satu buku motivasi usaha karya Sugih Seko Lair berjudul Mengaspal Jalan Rezeki. Aku beberapa kali mengikuti seminarnya. Beliau adalah motivator, pengusaha sukses, merangkap ustaz kondang. Saran beliau yang kucatat baik-baik adalah kemauan untuk senantiasa belajar hal baru dan belajar dari para pesaing. Kurasa studi banding adalah hal yang harus disikapi dengan serius. Kucermati baik-baik kalender pemberian Ibu. Kalender itu terdiri dari tiga lembar. Masing-masing lembar memuat empat bulan dengan gambar tiga artis yakni Nela Karisma, Wiwik Sagita, dan Yuni Ayunda yang lebih dominan. Ketiga artis dangdut lokal itu berpose sopan dan tampak lebih jelita gambarnya setelah tersentuh aplikasi permak foto. Aku berusaha mencari-cari kelebihan dari kalender tersebut. Kucermati tiap item dengan teliti. Setelah setengah jam menelitinya aku berkesimpulan bahwa kelebihan kalender itu adalah tidak ada.

Selagi menunggu utusan dari Warung Sate Jamu Kambing Balap mengambil tiga ratus eksemplar pesanan kalendernya, kugunakan waktu untuk meneruskan baca buku Mengaspal Jalan Rezeki. Di bab yang kubaca, Sugih Seko Lair menggarisbawahi perkara rekreasi usaha dari usaha yang sama. Aku merenungkan uraian beliau itu dan terlintas untuk membikin kalender meja dengan gambar diriku sendiri beserta puisi-puisi cintaku. Aku berangan-angan akan mencetaknya secara spesial sebanyak seratus eksemplar. Jika memungkinkan aku akan menjualnya tapi jika pun nanti kalender itu tak laku, aku akan mengantisipasinya dengan memberikannya kepada saudara dan kawan-kawan terdekat. Kurasa itu akan menjadi koleksi berharga bagi mereka dan bagiku akan menjadi sebuah monumen mahakarya. Aku akan menciptakan kombinasi sempurna antara panggilan jiwa dan usaha. Aku tinggal menyeleksi dua belas puisi terbaikku dari sekitar tiga ratusan puisi yang telah kutulis, juga dua belas foto terbaikku dari sekian ratus foto di galeri ponselku. Kukira ini akan menjadi pekerjaan cukup berat dan melibatkan pertentangan batin karena hampir semua puisiku berkualitas setara baiknya dan foto-fotoku juga memiliki kadar ketampanan yang berimbang.

Aku sudah akan memulai proses kurasi ini dengan menghidupkan komputer ketika ponselku berdering. Kulihat dari nomor tak dikenal tapi tetap kuangkat.

“Iya.”

“Ya, dengan siapa ini?”

“Harusnya saya yang bertanya karena Bapak yang menelepon saya. Dengan siapa ini, Pak?”

“Saya Sapardi.”

“Iya, Pak Sapardi, ada yang bisa saya bantu?”

“Saya sedang di Solo dan baca undangan nikah kawan saya. Sampean yang mencetak undangannya?”

“Benar, Pak, saya yang mencetaknya.”

“Ada penggalan puisi di undangan ini tapi tak dicantumkan nama penyairnya. Ini puisi siapa?”

“Itu puisi saya sendiri Pak.”

“Sampean tidak sedang bercanda, kan?”

“Benar, Pak, itu puisi saya sendiri.”

“Wah….”

“Ada apa memangnya, Pak?”

“Puisi sampean bagus. Saya suka.”

“Terima kasih, Pak.”

Lalu percakapan diakhirinya. Di benakku langsung membayang sosok penyair legendaris dari Solo, Sapardi Djoko Damono, si Hujan Bulan Juni. Pujiannya barusan seakan menumbuhkan kembali gairah kepenyairanku yang layu. Kurasa ini bukan pujian sembarangan. Perkataan seorang Sapardi pastilah tidak main-main. Aku mencium peluang untuk membukukan puisi-puisiku. Siapa tahu Sapardi bisa membukakan jalannya dan cita-cita lawasku menjadi seorang penyair bisa jadi kenyataan. Syukur-syukur juga jika beliau berkenan menulis kata pengantarnya. Segera saja kutelepon balik nomor tadi.

“Pak Sapardi?”

“Iya, siapa ini?”

“Saya yang Bapak telepon tadi. Benarkah ini Pak Sapardi Djoko Damono?”

“Oh, bukan Mas. Saya Sapardi Mulia Jaya pemilik CV Mulia Offset di Jakarta. Perusahaan saya juga melayani cetak undangan nikah. Desain undangan sampean bagus. Saya suka, apalagi bagian puisinya. Tadi langsung saya hubungi nomor telepon percetakan yang tertera di undangan karena sangat penasaran. Sudah lama sampean bisnis cetak undangan?”

Aku tak menjawab pertanyaannya itu. Langsung kumatikan ponselku. Aku merasa ada sesuatu yang tercerabut dari dalam diriku. Gairah kepenyairanku pudar seketika.

Lugut ing Ati

                                     

Anggitan lan kawaca Dening Yessita Dewi
Ilustrasi musik Endah Fitriana

            Lindri, kanca raketku awit saka cilik. Omahe adu geger, dadi yen jaman semana aku adus nganggo ember, mesthi Lindri melu ngedrel arep melu adus. Kungkum karo cengingisan, gedhe-gedhenan ember. Wates mburi omahku karo omahe Lindri papringan sing ora patia ngrembuyung. Wis, yen dadi siji mesthi pating jlerit, sok guyang-guyangan banyu, uncal-uncalan sabun. Wusanane aku karo Lindri saya njerit amarga dicebleki ibu utawa mbak Ninik sing rumangsa kebrebegen, uga eman marang banyu sing wis diangsu. Saka cilik nganti sekolah aku karo Lindri ora tahu uwal, senadyan saka SMP nganti kuliah ora dadi siji. Lindri kuliah neng Semarang, aku cukup neng Sala mbacutake ing jurusan sing wis dadi angen-angen. Saiki wis padha nyambut gawe, Lindri oleh papan gaweyan ing salah siji kantor Bank neng kutha Semarang. Aku sing seneng nggambar lan njait saiki ngrintis nggawe modiste dhewe. Lumayan, pesenan klambi utawa melu pameran dadi dalanku mbangun koneksi.

Awan iki mau Lindri mampir ngajak jagongan. Amarga wis suwe anggone ora ketemu, aku nutup kios cilik sing daksewa kanggo usaha. Pancen nyenengake ketemu kanca raket, crita samubarang, aba milkshake karo kenthang goreng amirika, terus roti isine sawi, keju, tomat karo apa embuh. Karo pegawe bank pancen beda jajane, mbiyen nyega kucing karo ngeteh jahe wis mayar karang cah sekolah. Saiki? Jan jane aku ora papa yen neng wedangan utawa nyega goreng pinggir dalan. Nanging Lindri wis ngajak mlebu neng warung..eh, cafe. Jyan, rada kamso sithik aku ki. Cafe beda karo warung ya, Nduuu.. tujune Lindri ora sadhar yen aku isih wagu.

“ Win, aku arep ningkah sasi ngarep, kowe kudu teka !,” Lindri crita katon sumringah. Aku cekikan. Ana ukara sing wis bola-bali aku krungu lan mesti marai aku cekikan. Ukara sing asring Ibu nuturi aku. 

“ Nigkah?! Kapan? Karo sapa, kok ora tahu rasan-rasan yen kowe wis nduwe yang..,”

“ Durung ngerti, lagi sasi ngarep rembug tuwa.,”

“ Wis suwe anggonmu kenal ta, Ndri?

“ Yaa.. durung jane. Nanging aku rumangsa ayem yen jejer Mas Had..,”

“ Oh, jenenge Mas Had? Had.. sapa?,”

“ Hadi..,”

Aku ngekek, Lindri njiwit karo mecucu.

“ Kok ngguyu ta, emoh aku!,”

“ Lha kowe lucu kok, tak kira jeneng dhawane Hadirin..,”

Lindri melu ngguyu kemekelen. Jeneng khusus pancen penting kanggo uwong sing wigati ing ati. Suk, aku ya ngono ah! Aja takon kapan, ora sopan!

Sedina iku aku karo Lindri runtang-runtung, nganti dak kon ngancani golek renda kanggo kebaya pesenan.

“ Oiya, Win.. suk, aku gawekne kebaya kanggo ijab lan resepsi ya. Awas yen ora gelem!,”

“ Iyaa.. tak gawekake, wernane apa kira-kira?,”

“ Suk wae yen wis genah tak japri ya, kowe kan ngerti ta seleraku,”

“ Inggiiihhh.. Mas Manteeennn..,”

“ Kowe ki lho, isih celelekan wae.. mengko angel jodho mbuh!,”

“ Hloo, kok malah nyepatani ki piye ta..,”

“ Ora nyepatani nanging ngelingake..,”

Iya, nganti seprene aku durung gandheng maneh karo wong lanang. Embuh ngapa, mbiyen wis tahu nanging mandeg tengah dalan. Rumangsaku ora ana lampu abang, nanging kok bubar. Bapak lan Ibu wis sarujuk kari ngenteni ditembung, nanging yen pancen durung jodho arep kepriye maneh. Dumadakan, aku kelingan karo salah siji pawongan sing ora sengaja ketemu neng toko buku. Kedadeyan iku telung sasi kepungkur sak durunge Lindri mulih prei. Mas Seno, uga pindahan saka Semarang.

            Awan gemlanthang sak nalika dadi adhem amarga aku mlebu ing toko buku gedhe. Dina iki aku arep golek buku disain kebaya. Aku wis nggambar, nanging rumangsaku ana sing durung mathuk. Rekake arep golek inspirasi, sapa ngerti ana sing pas. Durung nganti ketemu bukune, aku weruh novel sing wis suwe pingin daktuku. Jon Moyes, novel romantis. Mak cek! Hloh, buku kandel iku padha-padha ana sing nyekeli, kaya rebutan. Mak deg! Aku karo uwong kuwi meneng, pandeng-pandengan sawetara. Bruk! Buku sing digawa mas-mas kuwi tiba kabeh. Aku nulungi, eh.. isih kelakon nyekel buku sing padha. Jan, kaya drama korea kae jane. Ning iki luwih marai trataban. Ndredeg. Piye ora nggregeli, aku adhep-adhepan karo uwong bagus, dhuwur, tur mesthi seneng maca. Wis, mirip aktor Gong Yoo sing main neng tipi kae, Goblin. Tipeku banget. Aku mesem, mase melu mesem. Ngajak salaman.. utawa kenalan ya?

“ Seno..,” eseme entheng banget, semanak.

“ Windu..,” aku uga mesem nanging karo wedi, mbok menawa ngerti yen aku grogi.

“ Windu? Asmane manis, kaya priyayine.. ,”

Cleesss..! aku njiwit jenthik, lara! Iki dudu impen-impen, iki kasunyatan! Dhuh, maturnuwun Gusti diparingi tiyang bagus, eh..

Ora suwe anggonku tepung karo Mas Seno, wis criwis crita ngalor-ngidul. Mas Seno lagi wae pindah saka Semarang, kantor sing dadi papan gaweyan diwajibake pindah tugas sak wayah-wayah. Kekancan antarane aku karo Mas Seno dibacutake lumantar inbox lan whatsapps. Embuh ngapa, lagi ketemu pisan wis kaya gathuk banget. Pacelathon sing kewetu lucu-lucu. Sok-sok ya rada serius sithik yen ngobrol bab abot. Paling klop yen criwis bab buku karo film, wis, hpku nganti entek batune. Sasate aku dadi luwih kemepyar yen lagi nggambar disain klambi. Ana semangat anyar. Apa maneh arep ana pameran Industri Kreatif, aku kudu nyepakake rancangan anyar.

            Bab Mas Seno aku ora tau crita karo Lindri, suk wae yen wis pas wektune. Saben ana sela wektu utawa sesuk dinane prei, Mas Seno ngampiri ngajak mlaku-mlaku. Ing sak wijining wengi, bapak tindak tugas luar kota. Aku maca buku neng ngarep tivi.

‘ Ndhuk, kekancanmu karo Mas Seno iku sejatine arep kepriye?,” Ibu lenggah neng sandingku.

“ Kula kaliyan Mas Seno taksih kekancan biasa kok, Bu,” aku wis deg-degan.

“ Hla kok wis runtang-runtung? Ora ilok yen durung genah kok kerep bebarengan,”

“ Mboten kok, namung yen sela kemawon. Mas Seno niku tiyang sibuk, kula nggih kedah netepi pesenan ingkang numpuk,”

“ Ya wis, eling, Ndhuk.. kowe bocah wadon aja gelem yen mung kanggo ampiran,”

Aku manthuk. Ibu ningali berita. Atiku kaya dirambati semut, pating kremut. Ngendikane Ibu ora luput, nanging sak suwene iki ora ana ukara sing menjurus nggambarake rasa ati masiya aku ya ngenteni. Thiit! Hpku muni, ana pesen seka aplikasi WA, Mas Seno.

“ Windu, aku ora isa turu. Piye iki?,” Mas Seno nulis ditambahi gambar lucu. Aku  ngguyu.

“ Ngitung endog kodok, Mas..”

“ Ora isa merem, saben merem kelingan Windu..,” ana gambar konfeti akeh banget. Mak byar! Atiku kaya disebar kembang api, anget, padhang. Aku mesem bungah. Semut sing mau ana ing ati wis ilang, saiki kaya ana konser isine drum kabeh. Pating jedhung. Chatting karo Mas Seno nganti wengi, aku merem karo mesem. Impen wengi iki katon endah banget. Ora wagu kaya biyasane.

            Dina setu ngene iki aku mangkat rada awan. Rampung resik-resik omah lan olah-olah dhapur ngrewangi Ibu, aku leyeh-leyeh ing ngisor papringan mburi omah. Ngeteh, maca koran. Papringan gadhing sing mbiyen mung sak larik, saiki saya ngrembuyung. Manuk pating cemuwit, garengpung golek kanca tepung.

“ Ndhuk, ana tamu. Mas Seno..,” Ibu nimbali. Aku menyat saka kursi goyang. Kadingaren isuk wis tekan kene, ana apa ya?

“ Eh, Mas Seno. Njanur gunung, “

“ Iya, mau arep golek sarapan kok terus menggok kene, aku ya gumun,” Mas Seno mesem.

“ Oh, arep sarapan kene sisan piye, Mas? Aku ya durung sarapan kok,”

“ Iya, Nak Seno, iki mau ndilalah wis matengan.. ayo, Ndhuk.. cepakna piring,” Ibu nyumanggakake Mas Seno.

“ Dhuh, kok dados ngresahi Ibu ta punika..,”

“ Halah, ora.. ayo ta, ben Windu ana kancane. Yen dhewe malah sok ora sarapan,”

Aku nyepakake piring lan gelas. Sop ayam karo tempe tahu, sega panas. Pas karo ati lan kahanan.  Dina iku aku ora bukak toko, mrei. Tujune pesenan wis kari packing. Mas Seno ngajak mlaku-mlaku neng Cemara Sewu. Aku ora ngerti yen suk bakal ana bab kang marai ampeg.

            Rasa ing ati isih rapet dak simpen ngati Lindri Cuti wingi. Dina iki aku ngrampungke gaweyan karo persiapan pameran. Salah siji kebaya sing arep dak pamerke iku jaitan tanganku , sirku daksimpen kanggo aku dhewe. Biasane ya aku, nanging yen rame direwangi pegawe-pegaweku. Jaitan kebaya iku dak garap jaman durung bukak usaha, saiki metu saka lemari njero. Ana sing kudu dibenerke kana lan kene. Klinthing! Aku krungu lawang ngarep ana sing teka, swara pegaweku neng ngarepan.

“ Windu!,” Lindri wis ngadeg neng ngarepku katon sumringah. Aku bungah.

“ Lindri?! Kok ora kanda yen prei? Kapan mulih?,”

“ Aku lagi teka mau isuk, iki arep ngurusi ningkahan. Nginguk sedhela wae, mengko aku tak mampir meneh, wis ya!,” Lindri ngglethakake oleh-oleh terus gage metu. Sak klepatan aku kaya paham wong lanang sing mboncengke Lindri. Sapa ya, kok kaya..? ah, ora mungkin.

            Aku mulih rada kesoren. Nginguk mburi omah, rame banget. Ibu ndhekep pundhakku.

“ Lindri mau ditembung, saiki rembug tuwa. Ndang dicepetke ningkah soale Lindri arep pindah Jakarta,” Ibu banjur nyirami wit kembang angsoka lan kembang sepatu sing ngrembuyung ijo. Sak klepat, ana wewayang sing rumangsaku pancen aku ora isa luput. Hem kothak-kothak rena ijo ireng ora manglingi. Swara abot adem sing tansah ora tahu ngalih saka kupingku sak durunge aku turu. Aku lungguh nglentruk. Ora isa crita kaya ngapa rasane ati. Karo jangan tumpang sing lentreg semu pait kae sajake atiku luwih letheg.

“ Windu..!,” Lindri katon mlaku nyedhak, sumringah. Wong lanang sing neng mburine Lindri iku sing dak wedeni, aku ora bisa mlayu mlebu. Aku menyat saka lincak, Lindri ngadeg karo nggandeng.. Mas Seno! Tenan, sirahku rasane kaya siwur sing dithutuk nganti remuk. Ngelu. Aku kaya kena lugut sing akeh banget. Perih, angel dilangi.

“ Eh, Lindri.. lagi akeh tamu sajake ya?,” pitakon sing dak anggep isa nylamurake rasa ampegku. Mas Seno ngadeg nggejejer ora jenak.

“ Iki, dak kenalke karo calonku.. ya iki sing jenenge Mas Hadi. Mas, iki kanca kenthelku, Windu. Suk ijab karo resepsi aku bakale nganggo kebaya rancangane Windu,”

Mas Seno glagepan. Aku ngajak salaman ethok-ethok rung kenal.

“ Oh, niki ta asmane Mas Hadi calonipun Lindri? Tepangaken, kula Windu..,”

“ Mm.. Hadi Suseno.. “

Aku ora arep takon kenangapa Mas Seno ora crita yen arep dadi manten. Nanging yen dipikir ya ngapa crita karo aku, aku ki sapa? Duh, iyuunngg..

“ Lindriii.. Pakdhe Marto arep konduurr..,” Mbak Ninik ngawe Lindri. Lindri gage mulih. Mas Seno isih ngadeg ing ngarepku. Aku meneng wae, pipiku wis panas. Mripatku rasane kaya nganggo kacamata seka botol kandel banget. Abot. Blawur.

“ Windu, aku.. njaluk ngapura. Sak temene iki dudu kekarepanku nglamar Lindri,”

“ Mas Seno, tak kira wis ora ana sing kudu digenahke. Aku ngerti yen awak dhewe mung kekancan,”

“ Windu, sak temene aku…,”

Aku ora kuwat maneh krungu swarane Mas Seno. Aku mlayu mlebu, ora ngerti yen Ibu mirsani sinambi nyirami samping omah.

            Kabeh sing wis dakampet ambrol. Rasa seseg ing dhadha dadi iluh kang deres, nilas abuh ing tlapukan mata. Ora ngerti wayah, ora ninggal kamar, ora obah.

“ Ndhuk cah ayu, iki susu soklate dimimik dhisik ya,” Ibu ngeluk kaya jaman aku isih cilik. Biasane mbiyen aku terus manut, mimik susu. Nanging saiki, tangi wae aras-arasen.

“ Ndhuk, urip pancen ora kudu kaya sing dikarepake. Nanging kabeh mau menungsa sak drema nglakoni,”

Aku obah banjur tangi. Lungguh. Pasuryan Ibu katon peteng.

“ Ibu, Lindri pun weling yen benjang ijab lan resepsi kaliyan Mas Seno pesen kebaya kalih kula. Kula kedah pripun ibuuu..,” aku ngguguk.

“ Apa Lindri ngerti yeng kowe karo Mas Seno wis tepung?,”

Aku gedheg. Ibu nayogyani.

“ Ya wis, cukup tok simpen critamu karo Mas Seno. Lakoni kanthi ikhlas, pancen abot. Ora kabeh nasib pait iku ala, ndhuk. Sing sabar, cah ayu..,”

Wengi kuwi krasa nyenyet. Aku merem, meksa kudu turu.

            “ Winduu..! Bu, Windu wonten?,” swarane Lindri kaya biyasane, cemengkling.

“ Eh, lha kok isuk-isuk wis tekan kene ta, Ndhuk? Isih cuti?,” Ibu saka pawon nggawa piring isi gedhang goreng.

“ Nggih, bu.. ajeng ngejak Windu sarapan bareng kaliyan Mas Hadi uga,.. Ibu, punika tepangaken Mas Hadi,” Lindri narik tangane Mas Seno sing ethok-ethok nonton pigura cemanthel ing tembok. Ibu nyalami Mas Seno, kaya durung nate tepung. Mas Seno kikuk.

“ Kula ibunipun Windu, mmm.. iki mau Windu isuk-isuk wis mangkat. Kanda yen arep ngoyake pesenan kebayakmu, ndhuk..,”

“ Ooo, ngaten ta, tiwas kula ampiri.. nggih sampun, mangke kula tak mampir mrika,”

Ora suwe Lindri karo Mas Seno banjur pamit. Ibu nyawang wong sak kloron iku karo ngunjal ambegan. Lindri nggandheng lengene Mas Seno.

            Aku mung isa nyawang kebaya rena putih sing dak gawe seka broklat alus. Kebaya iku pancen kanggo aku, mula golek bahan sing apik tenan. Kebaya sing wis dadi sak durunge ketemu Mas Seno. Ah, Mas Seno. Kenangapa Lindri kudu karo Mas Seno? Apa ya karo Lindri chattingane padha kaya yen karo aku? Rasa ampeg iki isih mbethetheg. Aku genti nyawang kebaya sing durung dadi, kaine isih daklilitke neng manekin. Bahan rena balung iku pesenane Lindri, broklat kebak manik.

“ Aku kudu kuwat. Iki dudu salahe Lindri, dheweke ora ngerti yen aku cedhak karo Mas Seno,” aku menyat nutup lawang toko, aku arep nggarap iki tanpa akeh uwong. Ben ndang gelis rampung, ndang golek tamba lara tresna. Lara tresna, duh, tibake kaya ngene iki..

“ Windu! Kok tutup?,” Lindri mbukak rolling door sing ora rapet. Aku kaget.

“ Lhoh, Lindri?! Kok.. tekan kene?,” rada gela, amarga aku lagi ora nepsu ketemu kancaku siji iki. Apa maneh karo wong lanang sing ngadeg neng mburine Lindri. Lindri wis mlaku-mlaku nonton kebaya-kebaya sing biyasane disewa, karo klambi-klambi sing suk arep kanggo pameran. Dumadakan, Lindri mandeg neng ngarep lemari sing lawange mbukak.

“ Windu, aku nganggo kebaya iki wae..,”

Aku noleh. Lindri wis njupuk kebaya putih sing dak simpen kanggo aku dhewe.

“ Kuwi ukuranku, keciliken yen mbok enggo. Iki wae, pitung ndina engkas dadi,”

“ Emoh, aku pingin ijab nganggo iki wae..,”

Mas Seno ngematke aku. Aku ethoke ora ngerti. Ora nggagas.

“ Ndri, kan kowe wis pesen bahan ta? Iki wae, wis digawe pola kari njait kok.. kuwi koleksine Mbak Windu dadi ora samubarang uwong isa nganggo,” Mas Seno sajake ngewaki.

Lindri mecucu,” Mosok karo aku ora oleh mbok enggo ta, Win?!,”

“ Ya wis, yen cukup enggonen ora apa-apa,”

Aku wis ora nduwe daya maneh. Kebaya iku pancen dak gawe lan suk bakale yen aku dadi manten. Nanging wis kadung, pangarep atiku wis ucul. Kebaya iku uga dakculake kanggo kanca raket sing bakale dadi bojone Mas Seno, pangarep sejatine atiku. Lindri lunjak-lunjak seneng banget. Aku dikekep kenceng karo bengok-bengok.

“ Kok kowe nangis, Win..?,” Lindri kaget, katon bingung.

“ Oh, aku nangis bungah amarga kanca raketku arep dadi manten. Suk mben dadi angel yen arep ketemu, kowe mesti sibuk,” aku semaur alesan. Mas Seno ngematke aku saya panteng. Lugut ing atiku saya kandel. Perih nanging ora ketok wujude.

                                                ****

            Wis telung sasi kebaya pesenane Lindri isih neng lemari butikku. Wis telung sasi iki uga aku pameran mubeng ing kutha-kutha gedhe kayata Surabaya, Semarang, Bandung. Jakarta sasi ngarep siyap mangkat maneh. Aku lungguh dhewe, kelingan telung sasi kepungkur, sak uwise ketemu Lindri sing karep nganggo kebayaku, aku nglembur rampung banjur cepak-cepak kanggo pameran. Ibu ngendika yen nikahane Lindri diundur amarga calone sing lanang kudu pendidikan singkat neng Medan rong sasi. Kawit ngerti yen Mas Seno arep ningkah karo Lindri, aku wis ora nate kontak maneh. Mas Seno kadang sok nge-Ping utawa kirim emotikon neng inbox. Aku ora tahu semaur. Atiku durung mari, nanging wis ora apa-apa.

            “ Windu..,” Lindri ngadeg neng ngarep lawang. Aku kaget, banjur noleh, mesem seneng weruh kanca sing wis telung sasi iki ora nate tak angkat telpune. Aku karo Lindri kekep-kekepan.

“ Windu, aku ora sida rabi..,”

“ He..?”

“ Win, aku ora bisa meksa karep lan atiku, Mas Hadi blaka marang aku. Kabeh..,”

Aku ora bisa ngira apa sing bakale arep kedadeyan. Nanging aku ngerti, yen saiki dhadhaku kaya digebugi nganggo bantal cilik.

“ Win, kenangapa kowe ora crita karo aku yen Mas Hadi iku Mas Seno-mu? Kenangapa kowe meneng wae rikala aku meksa nganggo kebayamu? aku rumangsa wis dadi kanca sing paling ala kanggo kowe! Aku ora tahu gelem ngrungakake crita-critamu, aku wis egois! Ayo ta, senenana aku!,” Lindri ngguguk. Aku ngrungokake Lindri ndremimil akih banget. Njaluk ngapura lan sak panunggale. Banjur Lindri kesel. Aku lingguhan karo Lindri, thenguk-thenguk ngematke iwak koki neng akuarium cilik. Meneng. Kekancan ki pancen kudu nduwe ati sak segara jembare, pisuhan lan rasa anyel cemplungna laut rasah digoleki, ben dipangan iwak teri. Atiku wis krasa entheng. Lucu. Apa lugut iku wis arep gogrog ya? Ah, mengko yen isih ana lugute tak user-userke rambut utawa mbun-mbunanku. Jarene yen diuserke rambut lugut bakal gogrog. Sujokna mung lugut, hla nek pulut apa ora njindhet rambute.

“ Ndri, bab iku wis klewat mangsa. Saiki mangsa rendeng, aja nambahi gendheng. Wis ta, aku ora apa-apa,” aku nyawang Lindri sing isih kemu-kemu teles amarga nangis. Mbuh ngapa kok ujug-ujug banjur ngguyu bareng.

Pangarep atiku bisa uga ana dalan, nanging aku ora wani nandur pangarep dhuwur-dhuwur. Wis ben, ngene wae. Lugut sing ana ing atiku pirang-pirang wektu iki ilang mbaka siji, kanggoku wis cukup. Aku nyawang kebaya putih sing isih neng njero lemari. Aku mesem lega..

                                                                                                           

>