Primadona

Cerpen Iin Farliani
Narrator: Noer Admaja
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Rumah Rosa ada di pintu paling pojok. Aku harus menaiki tangga sempit sebelum sampai ke sana. Beberapa ekor lalat mengerubungi sebuah nyiru berisi ikan kering yang dijemur di anak tangga kedua. Aku berkali-kali mengangkat sepatuku untuk menghindari genangan air yang alirannya mengucur dari tangga atas lalu mengalir ke bawah hampir membasahi nyiru. Baunya sedikit pesing. Di sana-sini terdapat bekas tahi burung yang sudah mengering. Ada juga ceceran jagung dan beras yang bercampur debu ditumpuk di sudut tangga. Menjijikkan! Rosa tidak mungkin tinggal di tempat seperti ini.

Aku mengetuk pintu dengan suara ketukan yang sudah kupastikan sopan sekali. Aku ingin menimbulkan kesan sebagai tamu yang baik. Rosa pasti akan mau membukakan pintu. Dari dalam terdengar suara langkah tergesa-gesa seakan terusik mendekati pintu. Sekejap saja, di hadapanku berdiri seorang perempuan mengenakan celemek kumal yang melilit di pinggangnya. Kuperhatikan wajahnya dan aku berani bertaruh ia tidak mungkin Rosa!

“Permisi. Aku ingin menemui Rosa. Di sinikah rumahnya?” tanyaku sambil melongok sedikit ke dalam.

“Ya. Saya sendiri.” Suaranya terdengar ketus. Ia melihatku terheran-heran sambil mengeringkan tangannya yang basah pada celemek kumalnya.

Aku menarik napas. “Kau ingat aku, Rosa?” Aku ragu-ragu apakah langsung memberitahu namaku atau membiarkannya mengenali sendiri. Lagipula aku masih tidak percaya perempuan di hadapanku adalah Rosa yang kucari.

Ia diam beberapa saat sambil menatapku dari atas ke bawah. Aku melihat ada sebersit kemarahan pada matanya yang bercampur dengan keletihan. Ia masih saja menggosok-gosokkan tangannya yang berbau sabun cuci pada celemeknya itu.

“Apakah kau. . . , kau Sarah?”

Kami kemudian berpelukan lama sekali. Rosa menangis di pundakku sampai tubuhnya terguncang-guncang.

“Beginilah keadaanku sekarang.” Rosa menundukkan wajahnya seakan ingin menyembunyikannya dari penglihatanku. Aku tetap dapat memastikan bahwa perubahan wajahnya jelas sekali, terlalu tua untuk perempuan seumurannya. Aku tidak tahan ingin cepat-cepat mengeluarkan buku catatanku lalu menuliskan perubahan wajahnya. Tapi aku harus bersabar dulu, Rosa pasti tidak suka dengan niatku itu.

“Kemana suamimu?” tanyaku tanpa bisa berhenti menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Aku berkali-kali meyakinkan diriku bahwa yang kulihat adalah Rosa. Anak perempuan Rosa berlari-lari tanpa memakai celana sambil menggenggam remah roti di sekitar tempatku duduk. Ia tertawa riang dan sepertinya senang dengan kehadiranku. Aku sudah merekam pemandangan ini dalam otakku dan kupastikan aku tetap dapat mengingatnya sampai aku pulang ke rumah lalu mendeskripsikan semuanya dalam buku catatanku secara rinci.

“Aku tidak tahu kemana ia pergi,” jawabannya terdengar lemas sekali.

“Mengapa kau bisa tidak tahu?”

“Tak tahulah.” Ia mengangkat mukanya dan menatapku dengan pandang menyelidik. ”Kau pasti menertawaiku sekarang, bukan?”

“Tidak. Aku hanya terkejut.”

“Terkejut sekali. Pasti.”

“Terkejut sedikit. Mengapa kau tidak pulang saja ke rumah orang tuamu?”

“Orang tuaku sudah lama bercerai. Ayahku menghabiskan hartanya untuk wanita. Itu semakin mencelakakannya, bank menyita rumah kami. Ia juga terlibat korupsi.”

“Aku tidak tahu. Maaf, Rosa.”

“Tak mengapa. Kejadiannya sudah lama sekali.”

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Sama saja. Ia agak sedikit terganggu jiwanya. Kau tahu, ibuku tidak bisa tanpa kemewahan.”

“Nah, sekarang ceritakan padaku bagaimana kau bisa sampai ke neraka ini?”

Aku tertawa. “Toni yang memberikan alamatmu padaku. Aku bertemu dengannya di kafe. Kami membicarakan masa sekolah dulu dan saat itulah kami membicarakan tentangmu.”

“Oh, Toni! Ia pernah datang kemari tapi aku tidak berani membuka pintu. Dia selalu tahu tentang apa pun!”

“Toni masih menyukaimu!”

“Apa dia bilang begitu? Kalau waktu itu aku membuka pintu dan ia melihat keadaanku, ia pasti tidak suka lagi padaku.”

“Tidak. Dia memang sudah tahu. Aku tidak percaya dengan ceritanya, itu sebabnya aku datang kemari.”

“Bagaimana dia bisa tahu? Aku tidak pernah keluar rumah kecuali pergi ke pasar dan mengantar anak ke sekolah.”

“Dia sering melihatmu di pasar. Dia punya toko di pasar. Sebenarnya milik kakaknya, tapi Toni kadang-kadang diminta untuk menjaganya.”

“Begitu? Ya ampun, aku malu sekali.” Rosa terisak-isak sambil menutup mukanya.

Aku harus dapat mendeskripsikan keadaan Rosa yang sekarang agar tulisanku nanti terlihat meyakinkan. Tapi, sepertinya aku harus menulis garis besarnya dulu. Aku ingin mengeluarkan buku catatanku dan menulisnya secara sembunyi-sembunyi.

“Kau ingat Bogie?” tanyaku untuk menggali lebih dalam tentang perasaannya.

“Ya. Sang pembuat onar di kelas.” Rosa tertawa dan mengusap air matanya.

“Istrinya juga gemuk seperti dia. Kau pasti tidak percaya, betapa ramah dan periang istrinya.”

“Kau bertemu mereka dimana?”

“Aku bertamu ke rumah mereka. Bogie menyampaikan undangannya melalui email untuk disebarkan ke teman-teman yang lain.” Aku berhenti sebentar untuk melihat wajah Rosa yang tiba-tiba berubah tidak senang. “Maaf. Kami tidak tahu mengenaimu, Rosa.”

Rosa menunduk lagi sambil menarik-narik ujung taplak meja. “Aku sudah dilupakan.”

“Tidak. Kami hanya tidak tahu cara menghubungimu.”

“Aku memang sudah dilupakan. Kalian bersenang-senang sedangkan aku di rumah tidak pernah beres.” Ia menarik lagi ujung taplak meja.

“Tidak benar begitu. Kami saling menanyakan keberadaanmu. Kami juga waktu itu bertanya tentang Toni. Kalian berdua sama-sama menghilang.”

Toni dan Bogie adalah dua di antara beberapa lelaki yang secara terang-terangan berani mendekati Rosa. Di kelas, anak laki-laki suka menggunakan pecahan cermin yang mereka simpan di dalam saku lalu mengarahkan pecahan cermin itu menghadap cahaya matahari. Cahaya yang terpantul diarahkan ke wajah Rosa untuk mengalihkan perhatiannya.

Tiba-tiba seorang bocah laki-laki menerobos masuk sambil membawa layang-layang yang sobek dan seikat benang yang tergulung di kaleng bekas minuman. Ia terpaku di tempatnya sambil melihat ke arahku dan Rosa.

“Bapak pulang,” sahutnya berat. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang melakukan pengakuan dosa.

“Dimana dia sekarang?” Rosa bertanya gugup kemudian menoleh ke arahku seakan meminta persetujuan.

Suaminya sudah berdiri di depan pintu dan masuk ke dalam dengan langkah yang terhuyung-huyung. Sepertinya ia berusaha untuk tetap berdiri tegak dengan muka tertunduk. Ia memakai topi sutradara yang disampirkannya di bahu kursi lalu menjatuhkan dirinya ke bawah. Aku terkejut dan segera ingin menolongnya. Tetapi, Rosa menahanku dengan menggapaikan tangannya di depanku.

“Apakah dia mabuk?”

“Tidak. Dia memang seperti itu kalau sedang ada masalah.” Rosa masih memasang wajah siaga. Aku melihat bocah laki-laki tadi terdiam sambil menggulung benangnya. Si kecil berhenti bermain dengan remah rotinya. Kami semua memandang laki-laki yang tiba-tiba terjatuh tadi.

Laki-laki itu bergerak sedikit, aku mengira ia akan mengamuk. Aku harus mengeluarkan buku catatanku sekarang dan menuliskan semua reaksi yang baru saja ditunjukkannya. Tapi tidak akan sempat, kami semua masih was-was memperhatikan laki-laki itu. Tiba-tiba ia membuka matanya, menyampirkan sedikit badannya lalu bangun cepat-cepat, kembali berdiri dengan tegap.

Ia tertawa. “Bagaimana? Cukup meyakinkan bukan?” Ia mengibaskan mantel kelabunya yang rasanya tidak akan bersih dari debu yang melekat.

“Apa-apaan kau ini? Kau mulai lagi?” Muka Rosa memerah.

“Baru saja aku ikut jadi tokoh figuran. Mereka memberiku dua ratus ribu rupiah. Apa yang kulakukan? Sekedar jalan-jalan saja di belakang pemeran utama yang sedang bercakap-cakap. Mereka menyuruhku berjalan bolak-balik dua kali, aku melakukannya dengan senang hati. Aku bertanya apakah nanti wajahku akan terlihat juga di TV, mereka bilang tidak. Hanya punggungku saja yang terlihat dengan mantel yang berkibar-kibar. Tak mengapa, kataku. Banyak sekali yang ikut menonton shooting film itu. Kata mereka, filmnya akan tayang tahun depan. Kau harus menontonnya, Ros. Suamimu masuk TV.” Laki-laki itu tersenyum lebar. Ia kembali menepuk-nepuk mantelnya.

Rosa membeku di tempatnya. Ia meremas terus celemeknya dan kulihat matanya berkaca-kaca. Ia menahan sesenggukannya lalu berlari masuk ke kamar. Suaminya tercenung sebentar lalu ikut menyusul ke dalam.

Ini kesempatanku untuk menulis. Aku mengeluarkan buku catatanku dan melanjutkan tulisan yang tadi. Barangkali aku akan mencoba melanjutkan dengan kalimat ini: ”Rosa sebenarnya  adalah gadis cantik di sekolah kami. Aku berani bertaruh tidak ada satu pun anak laki-laki yang tidak menyukainya. Tapi apa mau dikata? Bukankah ini nasibnya? Toni dulu anak paling pintar di kelas tapi sekarang suka menghabiskan waktu di kafe. Dan Si Bogie gendut? Betapa baik nasibnya. Ia yang terkaya di antara kami. Padahal guru kami pernah menyumpahi ia tidak akan menemukan kesuksesan karena suka membuat onar.”

Sementara aku sendiri bagaimana? Ya, aku ini bagaimana? Aku hanya seorang penulis amatir yang masih terus saja menulis dan berharap akan ada media yang bersedia memuat karyaku. Inilah perubahan. Kau harus menerimanya. Karena cerita ini berfokus pada Rosa, aku akan memberi judul “Primadona”. Aku akan menyelipkan banyak pesan moral dalam karyaku ini agar orang-orang yang membacanya merasa tercerahkan. Setelah selesai, aku akan segera mengirimnya ke media yang tersohor. Barangkali akan mendapat mujur dan karyaku dimuat. Apa lagi yang akan kutulis? Ya, apa lagi?

Aku terus memaksa diriku menulis. Aku tidak menghiraukan bocah laki-laki yang masih memegang layang-layangnya dan adiknya yang duduk di pangkuannya. Aku tahu, mereka terheran-heran melihatku. 

Nguntapke Lakumu

Cerkak anggitan Endah Fitriana
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Kabar  lelayu…

Tanto, kancane dhewe kelas 3A, tilar donya, lagi wae, ing RSU. Layon bakal dikubur ing omahe ndesa. Swarga langgeng, Tanto…

Awan iku rikala mbuka WA ing sasela-selane nandangi gaweyan kantor, ing WA group kanca-kanca SMP rame kabar ngenani Tanto, kanca saangkatanku SMP sing tilar donya lagi wae. Kabeh anggota group banjur padha asung bela sungkawa, ing group.

Tanto…, pawongan kang melu ngrenggani crita ing lakune uripku. Rikala aku kelas 2 SMA dheweke nelakake rasa tresnane marang aku lumantar layang. Wektu kuwi pancen durung jaman HP android kaya saiki. Aja maneh kok HP android, telpon ngomah wae ora saben uwong nduwe. Dadi yen ana perlu, ya layang lumantar pos kang setya ngabarke. Kalebu  Tanto kang setya ngabarke kahananku lumantar layang. Awit aku lan dheweke pancen manggon beda kutha, aku lulus saka SMP neruske SMA ing Sala, dene Tanto neruske sekolah SMA tetep ing Purwodadi. LDR ngono yen istilahe bocah saiki, sesambungan kang adoh jarake. Wiwitane aku ora yakin yen dheweke tresna aku, dheweke bocah bagus lan akeh wanita kang nggadhang dadi pacare. Lha aku…? aku bocah wadon sing biasa-biasa wae, ora ayu, oran seneng dandan lan saka kulawarga sing kocar-kacir, amarga kahanan, bapak lan ibuku kudu pisahan. Pepuntone, tak tampa panembunge Tanto sing pengin dadi pacarku, kanthi nata ati, njagani mbokmenawa sawanci-wanci Tanto malih pikirane merga meruhi kahananku, aku ben ora nemen lara ati, nadyan saka wiwitan aku wis nyritakke apa anane ngenani kulawargaku.

Wektu lumaku, sesambunganku karo Tanto nganti tumeka aku lulus SMA lan nyambutgawe  ing kutha kang padha. Aku dadi buruh swasta dene Tanto dadi tenaga honor ing kantor pemerintah. Sesambunganku karo dheweke wis ora LDR maneh. Nganti sawijining awan, dheweke ngajak bareng maem awan.

“Tanti, tak blakani ya, sejatine sasuwene awake dhewe sesambungan watara 7 tahun iki, aku wis kober gonta-ganti pacar, merga kowe adoh, kadhang aku butuh ana sing tak jak crita,” Tanto crita sinambi ndulitke timun , lalap ayam bakar ing sambel trasi lombok mentah, kang ana ana ing cowek sandhuwure meja. Aku rada kaget, nanging untung aku enggal isa nguwasani rasa kagetku.

“Kowe nesu, Tik? Aku blaka apa anane.”

“Ora,Mas, aku nglenggana, aku ora bisa ngancani panjenengan sawayah-wayah merga panggonku adoh.”

Aku nyoba teteg lan biasa wae, sanadyan satemene atiku rada ora jenjem. Tumindak serong, nadyan blaka, kanthi alesan panggonanku adoh saka dheweke. Apa ana ing ati kang wis prasetya bebarengan ngrajut tresna ora ana rasa setya? Amarga kahanan panggon kang adoh ora merga dolan nanging merga ngrampungke sekolah. Ah…puntone atiku dadi goreh, nanging untung dislametke pangajake Tanto enggal bali menyang panggonanku lan kantore nyambutgawe amarga jam ngaso wis entek.

Bali saka panggonan nyambutgawe, aku isih kepikiran apa sing diomongke Tanto awan mau, aku dadi sansaya kepikiran ngenani sesambunganku karo dheweke. Yen lagi ing tataran pacaran wis kaya ngono, kepiye mengko yen wis dadi bojoku? Mokal dheweke ora bakan mbaleni tumindak iku.

Pikiranku tak wolak-walik. Sawise rada bisa sareh aku mutuske yen sesambungan iki kudu tak pungkasi. Gela ati saiki ora apa-apa, tinimbang lara ati mengko sawise dadi bojoku, bakal luwih akeh kang dadi korban.

Iku kedadeyan telulikur taun kepungkur. Saiki, Tanto dikabarke tilar donya. Durung percaya karo apa sing dikabarke kanca-kanca ing WA Group SMP, aku nyoba takon tanggaku, Mas Susilo, lumantar WA. Ndilalah WA ya centhang loro nanging durung werna biru centhange, ateges WA durung diwaca. Hmmm…

Tak sambi ngrampungke gaweyan, karo ngenteni WA dijawab Mas Sus. Klunthing….WA ku muni. Gageyan tak candhak lan tak buka. Bener, ana wangsulan chating saka Mas Sus.

“Mau ki ana kabar saka kanca-kanca sing tilik na rumah sakit, Tik. Kulawargane crita yen pihak rumah sakit wis nyatakke ora sanggup nambani lan kulawargane dijaluk tandha tangan banjur piranti perawatan sing dipasang ing awake Tanto dicopot kabeh. Nanging dhokter durung nyatakke yen Tanto tilar donya. Isih ana ruang ICU.” Mas Sus mangsuli WA ku kanthi cetha. Wangsulan WA iku banjur tak poto lan tak kirim ing group WA SMP. Karepku, ben ora kebacut-bacut warta lelayu sing durung bisa dipesthekke benere iku disebarke.

Mas Adi, bojoku, bali saka nyambutgawe jam telu sore. Sadurunge dheweke tekan ngomah, aku kober mulih saperlu nyepakke lawuh kanggo dhahare. Sinambi nyepakke ubarampe dhahare bojoku, atiku kaya krasa yen Tanto ngenteni tekaku. Pancen sasuwene iki aku arang sesambungan karo dheweke, njagani bab-bab sing ora kepenak. Sawijining wektu aku tau ketemu dheweke lan bojone ana ing sawijing bank pemerintah, bojone tak sapa lan tak salami, semono uga Tanto. Tangkepe bojone marang aku ora patiya kepenak. Wiwit saka iku aku rumangsa butuh njagani ben ora kedadeyan kabar sing ora nyenengke bab sesambunganku karo Tanto, biyen, utamane kanggo bojone, ben rasa cubriya ora thukul ngrembuyung.

Swara mobile bojoku dak rungu cetha ing ngarep omah. Lawang tak bukak, mobil bablas mlebu garasi. Mudhun saka mobil, tas isi laptop, kamera lan ubarampe nyambutgawene bojoku didhunke, dideleh ing panggonan biasane, cedhak meja. Sawise salin clana cekak lan kaos oblong, Mas Adi gageyan nyedhak meja mangan, ketok banget yen keluwen. Brambang asem karemane lan krupuk sing tak cepakke kanggo dhahar Mas Adi. Sinambi nunngoni Mas Adi dhahar, aku miwiti rembug.

“Mas…”

“Hmm….”

“Sinambi panjenengan dhahar, tak critani ya.”

“Hu um”.

“Nanging panjenengan aja duka,ya.”

Bojoku wurung anggone arep nutugke muluk sega, banjur mangsuli aku.

“Lha meh crita apa kok ndadak aku ra oleh nesu?”

“Aja duka ya, Mas.”

“Ora…ora, wis gek crita”, Mas Adi mangsuli sinambi neruske muluk sega.

“ Tanto, mantan pacarku biyen, kritis, Mas, na RSU. Malah iki mau kanca-kanca SMP wis ngabarke yen Tanto tilar donya. Nanging sawise tak takokke na Mas Sus sing sakantor karo Tanto, jare durung, saiki kritis, kabeh alat sing dipasang ing awake wis dicopot dening pihak rumah sakit. Rasaku dheweke ngenteni tekaku, Mas. Miturut panjenengan apike aku kudu piye?”

“ Ya…tiliki wae.”

Wangsulan iku entheng diucapke Mas Adi. Tanpa ana rasa cubriya ing praene.

“Tenan, Mas?”

“Iya, tenan. Wis kana, gek bali kantor. Mengko bar kantor tak terke tilik dheweke na rumah sakit.” Bojoku tak pandeng karo mripatku sing mbrabak. Dheweke pancen kalah bagus tinimbang Tanto, nanging jembare atine adoh banget yen ditandhingke Tanto. Salah siji sing dadi tetimbanganku sesambunganku karo Tanto tak pungkasi, merga dheweke ora gelem yen aku  dadi “publik figur” merga gaweyanku. Dheweke kuwatir aku dimeliki wong akeh. Beda karo Mas Adi, dheweke bisa nampa aku apa anane. Malah yen ana gaweyan kang kudu tak tandangi sawise jam kantor, kerep dheweke ngeterke, ngancani lan nunggoni.

Berkah Pandemi Covid-19

Cerita Liston P Siregar
Dituturkan oleh Liston p. Siregar

Karena aku mengidap diabetes maka aku dan istri harus tidur terpisah selama pandemi Covid-19, begitulah vonis dokter.

Aku protes, tapi vonis tak berubah.

“Kalau mau selamat, kalau nggak ya silahkan…,” tegas dokter langganan keluarga itu ketus. Tak biasanya dia galak.

Waktu dia -seperti biasa dengan sabar dan jernih- menjelaskan pengidap diabetes, jantung, ginjal, kanker, dan penyakit-penyakit kronis lainnya serta orang-orang tua tergolong kelompok yang ‘vulnerable’ serangan virus corona, aku memotong, “Kan covid-19 tak pandang bulu, pintar bodoh, kaya miskin ya kena dok. Semua orang rentan terserang.”

Dia tetap sabar menjelaskan, “Semua rentan terserang tapi yang punya underlying illness berisiko amat tinggi, sedang yang sehat ya pulih.” Ketika aku potong lagi, “Saya juga diisolasi dok, kerja dari rumah…,” itu tadi, dia jadi ketus ‘“Kalau mau cari selamat, kalau nggak ya silahkan… “ sambil melempar pulpen yang dipegangnya ke atas meja.

Akupun diam, dan dia tambah vonisnya, masih dengan ketus, “Kamar mandi dan toilet juga pisah.  Jaga jarak minimal satu meter sama semua orang di rumah, entah istri, anak, pembantu. Itu kalau mau selamat…”

***

Sampai di rumah, vonis itu kuteruskan ke istri, yang menanggapinya tenang-tenang saja, “Mari kita patuhi.”

Aku curiga dia malah senang, bisa cuti dari tugas seorang istri di tempat tidur.

Dan soal pertama langsung muncul ketika memutuskan ‘siapa tidur di mana’.

Ada kamar tamu di bawah, lengkap dengan kamar mandi. Kami jarang kedatangan tamu, jadi hanya satu ranjang tunggal yang kasurnya agak keras, sedang kamar mandinya sempit cuma cukup untuk berdiri di bawah pancuran air dan duduk di atas toilet.  Tak ada bathtub untuk malas-malasan berendam air hangat sambil berangan-angan diiringi musik.

Aku yakin orang sakit yang mestinya harus tidur nikmat di ranjang king size, kasur empuk, ruang lapang, dan kamar mandi luas yang bukan cuma ada bath tub-nya, juga TV kecil dan sound system Bose.

Cilakanya istriku, pegawai bank, punya alasan lain. “Aku harus ngantor, bajuku di kamar ini semua. Kau cuma pake zoom, atasan doang yang perlu. Bawahnya nggak pake apa-apa juga nggak ada yang lihat.”  Dan dibukanya empat pintu di lemari panjang berisi bajunya yang bergantungan berdempet-dempet, sebelum bergerak ke lemari kecilku di sebelahnya, yang tak pernah penuh.

***

Malam pertama, aku kesulitan tidur. Pastilah.

Ketika akhirnya bisa tertidur lelap, eh tersentak bangun subuh karena pembantu mulai bersih-bersih di ruang tamu dan siap-siap masak di dapur. Hari itu pula, aku terlambat rapat zoom dan ditegur bos di depan belasan orang. Tak mungkin kujelaskan alasan kenapa tertidur sampai jam sembilan pagi.

Tapi peribahasa ‘Alah bisa karena biasa’ benar sepenuhnya. Malam demi malam aku terbiasa tidur di ranjang tunggal dan kasur keras. Tentu setelah disiasati.  Pertama kutambah satu lapisan kasur tipis, terus menaruh lampu baca kecil, dan sound system Bose dari kamar mandi atas pindah ke kamar baruku.

 “Terserah, mau kau jadikan apa kamar itu. TV kamar mandi pun boleh kau pindahkan,” kata istri.

Kebiasaan masa lajang dulu terwujud, bisa membaca novel sampai mata tak mampu menahan kantuk dan tidur diiringi alunan lembut jazz fusion atau klasik pop sementara suara beres-beres pembantu tiap subuh bertransformasi jadi senandung yang sayup-sayup dalam mimpi.   

Ternyata nikmat sekali kembali ke rutinitas 20-an tahun lalu, karena setelah kawin, aturan kamar tidur kami jelas: lampu mati dan tak ada suara.  “Kamar tidur untuk tidur, bukan baca atau dengar musik,” tegas istri, setelah masa bulan madu kami lewat, 22 tahun lalu.

***

Yang lebih asyik –setelah kenikmatan rutin masa lalu itu terjamin-  setiap bangun pagi muncul pula rasa kangen. Jadi begitu bangun pagi setelah tidur enak, aku riang berlari kecil naik ke atas, membuka pintu kamar pelan-pelan, dan “Selamat pagi cintaku…”  Kata cinta yang sudah lama tenggelam di balik manajemen praktis keluarga, mengambang kembali terangkat rasa kangen, riang, dan tidur nyenyak bersama novel serta musik. 

Biasanya istri sudah bangun tiap aku membuka pintu. Kamipun ngobrol berjarak, aku duduk di kursi ujung kamar dan dia baring sambil bersandar di dinding sebelum masing-masing siap-siap kerja, aku di rumah dan istri berangkat ke kantor. Segala macam kami omongin.

Pelan-pelan pula kami bersaing menyapa duluan. Kalau aku keasyikan baca malamnya, giliranku yang mendengar suara lembut istri di kamar kerajaanku, “Selamat pagi cintaku…” dan kami ngobrol sekitar sepuluh menitan. Karena kamar tamu sempit –yang menurut istriku, “Ini asli udah kayak kamarmu sebelum kawin.”- maka istriku tetap berdiri di pintu dan aku selonjor di ranjang.

Sekali dua kali kami malah bertemu di tangga, aku mau naik ke atas tapi istri pas mau turun ke kamarku. Berdua kami tertawa dan lanjut ngobrol, satu di anak tangga paling atas, satu di anak tangga paling bawah.

***

Nyaris empat bulan berlalu dan pemerintah melonggarkan pembatasan sosial.  Aku telepon dokter andalan keluarga kami menanyakan urusan pisah kamar.

Dengan sabar dan jernih, dokter pengalaman dan bijaksana itu menjelaskan bahwa keputusan pemerintah ada unsur politiknya, ada pertimbangan ekonominya, sedang dia semata-mata berlandaskan kesehatan.

“Jangan buru-buru. Ada risiko gelombang kedua. Lebih bagus ekstra hati-hati. Sudah puluhan tahun disiplin injeksi insulin, sia-sia kalau kena Covid-19. Tahan dulu kangen istrinya… paling sebulan dua bulan lagi,” jelasnya.

Kali ini aku tidak protes, dan ketika menyampaikan perpanjangan vonis, istri mendukung tanpa syarat. “Iya, mending patuh sama dokter, bukan pemerintah yang memble.”

Malamnya aku sulit tertidur lagi. Mata tetap melotot walau terus membaca ketika otak tidak bisa menyerap apapun. Playlist di Spotify yang kubuat lebih panjang juga tak mampu membuai sedang suara beres-beres pembantu terdengar seperti beduk keras bertalu-talu yang niatnya memang membangunkan orang.

Parahnya, jantungku berdebar jauh lebih cepat dan lebih keras, seperti sedang menanti datangnya sesuatu yang berbahaya, yang entah apa wujudnya tak bisa diduga namun pasti akan datang. 

Subuh-subuh kusempatkan kirim email ke bos, mohon izin sakit. Juga kutempel pengumuman di pintu kamar, “Jangan dibangunkan, perlu tidur,” untuk mencegah sapaan pagi istri.

Cilakanya dia malah penasaran, membuka pintu pelan-pelan namun tetap terdengar. Aku terbangun kesal, “Kan udah kubilang jangan bangunin!”

Dibalasnya keras, “La kan aku perlu tau kau baik-baik atau ada masalah!.”

“Sebelum kau bangunkan, aku baik-baik saja!,” bohongku dengan suara lebih keras.

Dan pintu kamarku dibanting, “Ya sudah, sana tidur seharian!”

Terganggu oleh pertengkaran pertama dalam tiga  bulan terakhir lebih itu, aku makin tak bisa tertidur, dan debaran jantung makin keras, makin cepat, ditambah agak sesak nafas.

Tengah hari, kutelepon istriku dengan suara ngos-ngosan.

Dia panik, pulang. Kami sempat bertengkar kecil  karena dia mau langsung ke rumah sakit tapi aku mau ke dokter langganan keluarga, tak yakin sama dokter-dokter muda yang lebih banyak gaya dibanding keahliannya.

Kamipun ke rumahnya karena jam praktek masih sore nanti. Istriku menyetir di depan kanan, dan aku terpisah di kursi kiri belakang, masih dengan nafas sesak dan jantung berdebar. “Kena Covid juga aku,” pikirku.

***

Setelah dicek sana-sini, termasuk periksa darah di ruang kerja di rumahnya  kusaksikan rona wajah dokter kembali tenang walau awalnya tadi tampak tegang. Tapi debaran jantungku tetap cepat dan kuat, sementara nafas terasa berat.

Dipanggilnya istriku, dan kami bertiga duduk membentuk segitiga sama sisi berjarak satu meteran lebih.

Dibarengi senyum, dia menjelaskan dengan tenang dan jernih.  “Bukan virus corona, tapi stress…”

Istriku malah tampak agak lega, tapi aku tidak. Justru terasa ada tekanan baru akibat tertanya-tanya sendiri di dalam hati, “Stress???”  Sebagai orang pragmatis, pekerja keras, dan terbiasa terus terang, kata stress tak ada dalam kamusku.

“Saya kasih obat penenang. Tidur yang enak, nanti kita lihat lagi,” kata dokter sambil menulis resep. “Jangan ngikutin berita-berita dulu. Isolasi bisa bikin stress, mana berita-beritanya didramatisir wartawan.”

Usai menulis resep, dokter melihat kami satu persatu, kembali dengan senyum kecil, “Ya sudah, boleh sekamar lagi tapi cegah dulu persentuhan kulit langsung. Pelukan boleh tapi dari belakang jadi masih berlapis pakaian dan tanpa hembusan nafas langsung…”

Debaran jantungku tetap kuat dan cepat, nafas tetap berat, dan malah bertambah dengan jari-jari tangan gemetaran.

“Dulu itu bukan saya kejam misahin suami istri…  tapi si Mbak masih ke kantor, ketemu banyak orang, jadi lebih baik meminimalkan risiko…” tambah dokter beruban itu.

***

Dari rumah dokter, kami langsung ke apotik.

Stres  menyerangku  selama menunggu di dalam mobil.  Tak tahu berapa lama aku menunggu di kursi belakang mobil sambil menutup mata tapi tetap tak bisa tertidur dengan debaran jantung yang aku duga sampai terdengar ke luar mobil.

Sudah 24 jam lebih berlalu sejak aku menanyakan ke dokter aturan pisah kamar dan aku paling tertidur lelap sejaman.

Ketika istriku kembali ke mobil, dengan suara lemah dan masih ngos-ngosan aku minta maaf, “Maaf ya cinta kalau tadi pagi aku marah-marah…”

“Aku juga maaf ya,” jawab istriku lembut dan menjalankan mobil.

***

Di salah satu persimpangan lampu merah, mobil berhenti dan istriku menatapku dari spion. “Nanti kalau sudah normal tak ada covid tapi kau mau tetap tidur di kamar sendiri, nggak apa-apa. Nggak usah mikirin apa kata orang, kok suami istri tidur pisah kamar… Yang penting kita happy.”

Lampu hijau dan mobil jalan. Dengan mata menatap lurus ke jalan di depan, diteruskannya dengan suara riang, “Ya sekali-kali kau boleh kok berkunjung ke kamarku.”

Sedetik kemudian, aku tertidur lelap.

Ketika terbangun aku masih di dalam mobil di pekarangan rumah. Tak tahu berapa lama tertidur tapi tubuh enak, hati ringan, nafas lancar, dan debaran jantung normal.

Menikah 22 tahun mestinya memang cukup membuat seorang istri lebih paham kesehatan suami dibanding dokter langganan keluarga sekalipun. Jika dokter mendiagnosa stress pasiennya karena pusah ranjang, istri sejati yakin justru balik tidur sekamar lagi, tanpa bacaan dan tanpa musik, yang jadi sumber stress suaminya.

***

Musik Youtube Library:

1. Gently Onwards – ELPHNT
2. Peony Morning – Track Tribe
3. Three Wise People – E’s Jammy Jams
4. Jazz Mango – Joey Pecoraro
5. The New Darker of You – The Tower of Light

Kathok

Cerkak : Abednego Afriadi
Kawaca dening Endah Fitriana
Ilustrasi musik Endah Fitriana

“Yen ora gelem nyawang ya wis ta, ora usah nyawang? Lha wong perkara kathok wae ndadak digedhek-gedhekne, kaya ora ana gawean liyane?” ujare Yu Kambil karo malangkerik, sengol lan mencab-menceb.

“Yen panggonmu nyandhang kaya ngono kuwi ana pawon, senthong utawa kolah ora papa. Lha iki kan ana warung sak pinggire ndalan, ana sekolahan. Rak ya ora pantes disawang. Lha wong liyan-liyane nyandhang gruput kok kono dhewe sing nyeleneh,” ujare Dedi karo cengar-cengir kukur-kukur githoke dhewe.

“Ya ben ta? Wong ya kathok-kathokku dhewe, olehku tuku ya tuku dhewe, dhuitku dhewe. Huh…padhakne kene ngemis wae..”

“Halah..Iya ya, kuwi kathokmu, sing tuku kowe..Nanging panggonanmu nyandhang kathok iki kan panggonane wong sak kabehe. Aja ngeyel kaya ngono kuwi ta?”

“Aku sak jane mudheng kok, sapa sing sejatine ora betah nyawang aku kathokan cendhak, sapa sing kepingin aku lunga saka kampung kene! Dupeh aku randha banjur dianggep benalu!”

“Asss. embuh Yu..Karepku iki ya ming ngandhani apik-apik. Wangsulanmu malah mbetotong kaya bangkong.”

“Uwiss..uwis..ora usah diterusakue!! Sing waras ngalah!!! Ngalah!!!”

“Kaya putih-putiha!! Kaya mulus-mulusa!! Lha wong sikil sak gebug maling kebak varises ngono kok ya dipamerke!!”

“Ya ben ta!! Sing penting kan wis payu, wis tau payu..Ora kaya kowe…Ooo eling-eling yen jaka tuwa….Huhh..Gayamu kuliah dhuwur-dhuwur, wacananmu koran, buku filsafat lan pulitik, ujung-ujunge ming ameh nembung wong wadon wae ora wani, wanine ming SMS. Apa kuwi??? Luput-lupute yen duwe pacar wanine apel yen wayah awan. Apa kuwi??? Ora jantan!!!”

“Halah….wis tau payuuuu….kuwi beda yen wis payuu…Tak kandani ya…anane aku isih dadi jaka tuwa iki amarga pancen aku kudu selektif milih wanodya, apa maneh zaman saiki. Ora kaya kowe kuwi…grusa-grusu rabi amarga ora bisa ngampet nepsu…Ujung-ujunge LKMD, lamar keri meteng dhisik, MBA, merried by accident.”

“Ooo……njaluk tak bialang kambil tenan kowe?????”

***

Ya wis kaya ngono kuwi. Ora esuk, ora awan, ora sore, ora wengi, kakang-adhi iku ora tau rukun. Sajak ora eling nalika padha tangisan lan rangkul-rangkulan sak durunge Yu Kambil pamit merantau ana Jakarta. Gandheng saiki manggon sak omah maneh sak wise Yu Kambil pegatan, saben dina grombyangan wiwit perkara sepele nganti tekan perkara sing paling nggegirisi, yaiku padha ngajak paten-patenan.

Pekara anyar kang dadi udreg-udreg’an krompyangan iku perkara kathok. Sak jane sepele. Kayata kedaden sesai kepungkur. Yu Kambil dilabrak Yu Gemi jalaran bojone nyimpen fotone Yu Kambil nalika nyandhang kathok cendhak lan singletan ana ing handphone.

“Yen ameh golek bojo anyar kuwi mbok ya dhudha wae, sukur-sukur isih jaka. Rak ya bisa dienggo jamu, ngen bisa awet enom…”

“Sik..sik..sik sing arep ngrebut bojone wong liya ya sapa??”

“Ya kowe kuwi…senengane ngirim foto ora nggenah!!”

“Sing ngirim ki ya sapa???”

“Ya awakmu kuwi?? Mongsok, fotone bojone dhewe ora tau disimpen nanging fotone tanggane disimpen nganti ngebak-ngebaki memori…”

“Eh yu..yen ngomong ati-ati lho…Bisa tak tuntut kowe..Perkataanmu sungguh tidak menyenangkan!!!” ujare kanthi logat kayadene pengacara-pengacara ana tivi kae.

“Ya sak lumrahe..Sapa sing lila bojone direbut wong liya???”

“Bojomu kuwi sing gatelen. Indak indik Facebook, banjur fotone dikopi!!!!”

“Halahh!!! Apus-apus!!”

Yu Kambil samsaya muntab. Ora bisa nahan gregeting ati, sanadyan wis bolak-balik ngunjal ambegan. Tangane sing krempyangan gelang maneka warna iku banjur nyandhak rambute Yu Gemi sing kriting kemriwil, banjur mithing gulu nganti Yu Gemi keselak-selak. Sikile tengen dipalangake ana ing sikil kiwane Yu Gemi kanggo mbanting. Nanging amarga padha lemune, banjur loro-lorone jiblok glasaran ana pingir dalan.

“Wis gek ndang dipisahh..Ora ilok..Wong wadon kok gelut pethakilan pating pethothok ora nggenah!!!” ujare Lik Warin.

“Ora usah dipisah…idhep-idhep nonton MMA gratis lan siaran langsung!!” semaure nom-noman sing lagi thenguk-thenguk ana warung dhawet ngisor ringin.

“Huss!! Lambemu!!!”

“Malah bisa diunggahne ana Youtube, bisa entuk dolar,” ujare liyane.

“Ngawurr!!! Mengko bisa kena undang-undang IT kapok kowe!!”

***

Ming perkata kathok wae malah dadi ngambra-ambra tekan ngendi-endi. Loro-lorone padha menyang kantor pulisi, padha-padha lapurane. Sijine lapur amarga tumindak penganiayaan, sejene lapur amarga perbuatan tidak menyenangkan.

Sawijining petugas ana Polsek nganti bingung dhewe amarga wektune lapur bareng breng, kemriyek, lan malah krompyangan cecet cowet ora karuan. Warga liyane kang lapur golek SKCK milih minggir timbang melu-melu kesampluk wanodya kang awake bisa diarani kuru semangka iku.

Sawijining petugas mau gage ngurupke HT, ngujar nganggo basa sandhi kanggo Pak Kapolsek.

Ora perlu kesuwen anggone nunggu, Kapolsek banjur markirke mobil patroli sing ngangkut para warga sing kejaring razia.

“Eneng apa?” ujare Kapolsek.

Para warga, Yu Gemi lan Yu Kambil langsung meneng nggejejet. Mak klakep mingkem jalaran ngampet ngguyu nalika nyawang Pak Kapolsek nyandhang kaos ketat kathok leging macan tutul. Lambene abang amarga bengesan lan rambute dicet abang kaya landa keblasuk.

“Saking pundi Pak?Prrttt..Brrrttt?” pitakone sawijining petugas abang ireng sajak ngampet ngguyu, semana uga Yu Kambil, Yu Gemi lan para warga kang ngantri njaluk SKCK.

“Iki mau aku nyamar dadi bencong,” ujare Pak Kapolsek agawe petugas, Yu Gemi, lan Yu Kambil ngguyu kepingkel-pingkal ora sida nesu.

Nanging, sak tengahe guyune, Yu Kambil nguceg-uceg mripate. Sajak setengah percaya, nalika nyawang Dedi, adine lanang gandheng marang wong wadon kanti ndhungkluk kisinan, jumejer bareng para warga kang kena razia.  

“Di, kowe karo pacarmu kok kecekel ki bubar seka ngendi?”

“Bar tak cekel ana kamar hotel….” semaure Pak Kapolsek.

Mojosongo, November 2017

Keputusan

Cerpen Yola M. Caecenary
Narator Endah Fitriana
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Aku hampir menertawakan diriku sendiri ketika ia menuturkan kisah paradoksal itu. Kuurungkan niatku itu ketika menyadari bahwa tanpa penjelasan dia akan menganggapku menertawakan dirinya. Dan, pada akhirnya aku harus mulai dengan penjelasan panjang dan lebar untuk menjelaskan arti tawaku. Aku sangat enggan melakukannya. Karena itu artinya aku harus membuka lagi album masa lalu dan menelusuri kembali setiap jengkal kehidupan hingga kisah itu terbentuk.

Aku menatap matanya. Ia memang buku yang terbuka. Bukan hanya bagiku, tapi juga bagi orang-orang yang pernah bersinggungan hidup dengannya. Bibirnya mungkin saja dapat berhenti bicara tapi tidak matanya. Entah bagaimana tapi setiap kali melihat ke dalam bola matanya, aku akan langsung tahu apa yang dirasa hatinya saat itu. Mungkin aku mempunyai karunia untuk mudah membaca orang atau kedua matanya memiliki bibir sendiri untuk berucap.

Aku menyimak setiap tuturnya. Mengamati mimik yang menggambarkan dengan jelas perasaannya. Kadang aku ingin mengulum senyum melihatnya bercerita. Ia begitu ekspresif. Rasa senang, kecewa, sedih terbaca jelas di wajah dan suaranya.

“Benar-benar keterlaluan! Dengan dalil sebagai orangtua, mereka merasa bisa memaksakan kehendak mereka. Mereka kira hanya dengan menikah dengan laki-laki pilihan merekalah maka aku akan bahagia. Mereka juga mengatakan kalau mereka tidak akan merestui hubunganku dengan kekasih pilihanku.”

Aku melihat dadanya naik turun dengan cepat. Kugandeng tangannya dan kami duduk di bangku di ruang terbuka hijau di pusat kota. Kubiarkan ia menenangkan dirinya sendiri. Seorang penjual minuman berkeliling dengan sepedanya. Kupanggil dia dan minta dibuatkan dua gelas cappuccino panas.

“Kei…,” panggilku. Kuberikan gelas miliknya. Keira hanya diam melirik gelas tersebut.“ Keira, please. Jari-jariku tidak dapat menahan panasnya lagi.”

“Manja!” cibirnya seraya mengambil gelas dari tanganku dan meletakkannya di sampingnya. Aku cengar-cengir mendengarnya.

“Kau tahu, kalau saja kita di Italia, kita sudah dianggap aneh minum cappuccino di jam empat sore begini,” katanya lagi sambil menoleh padaku. Aku mengangkat alisku mendengarnya dan tersenyum.

Kami masih duduk dengan diam. Sesekali suara seruput terdengar setiap kali aku menyeruput cappuccino-ku. Suara seruput yang berbaur dengan suara riuh di taman. Tidak lama, suara seruput lain juga ikut bergabung. Aku menoleh dan mendapati Keira mulai menikmati cappuccino­ miliknya.

“Apa yang akan kamu lakukan tentang hubunganmu dengan Bram?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Aku akan mempertahankannya!” jawabnya mantap.

Aku mengenal Keira. Kami satu fakultas beda jurusan selama empat tahun. Dan selama delapan tahun kemudian setelah kami lulus, kami masih berteman. Aku tahu betul jika Keira sudah berbulat tekad, bahkan prahara pun tak sanggup menghadangnya. Aku menghela napas dan mengangguk. Bukan tanda setuju, tapi karena aku memahaminya. Keira memerlukanku, aku tahu. Kalau tidak ia tidak akan memintaku untuk bertemu hari ini. Mungkin ia tidak memerlukan pendapatku hari ini, tapi kehadiranku. Mungkin juga keduanya. Aku menunggu Keira untuk kembali mulai berbicara. Tidak akan ada guna dan baik jadinya jika aku mendesaknya

“Jika kamu adalah aku, apa yang akan kamulakukan?” tanyanya lagi. Matanya menatap lurus. Memandangi sekelompok anak yang sedang asyik bergelantung dan mengayun di sebuah monkey bar.

Aku ikut memandang kemudian menghela napas.

“Aku pun akan mempertahankannya.Aku akan mempertahankan orang yang aku cintai.” Aku mengecap kegetiran dalam kalimatku. Kecapan yang hanya dirasakan olehku dan aku berharap tidak disadari oleh Keira.

“Apa lagi yang harus kukatakan pada mereka? Mereka bersikeras sama seperti aku bersikeras.

“Tetaplah bersikeras,” jawabku.Keira menatapku.Aku balas menatapnya dan mengangguk. “Dengan cara yang lembut, santun, tanpa hilang rasa hormatmu pada mereka, tunjukkan hal positif yang dimiliki oleh Bram pada orangtuamu. Katakan alasan terkuatmu kenapa kamu mempertahankan hubungan kalian. Tegaskan bahwa kamu adalah orang dewasa yang bisa dan akan mengambil keputusan untuk dirimu sendiri dan kamu bertanggung jawab atas keputusanmu. Karena ini adalah hidupmu,” tandasku. Ini adalah hidupmu.Aku mengulang kalimat terakhirku dalam hati. Dan aku menyadari kepada siapa kutujukan kalimat itu.

*

“Ibu tidak dapat menerima Selvi sebagai menantu Ibu.”

“Aku tidak mencintai Riana, Bu.”

“Riana sangat mencintaimu. Kamu bisa belajar mencintainya.”

“Apa ini, Bu? Apa kita masih hidup di zaman perjodohan oleh orangtua?”

“Arda, Ibu tidak akan merestui hubunganmu dengan Selvi. Kamu tidak akan mendapat restu dari Ayah dan Ibumu kalau kamu tetap nekat menikahinya.”

*

Dua tahun sudah berlalu sejak perbincanganku dengan Ibu mengenai siapa yang harus kunikahi. Dan aku mengalah. Aku berhenti berkeras. Aku memutuskan hubunganku dengan perempuan yang kucintai dan menikah dengan Riana, perempuan pilihan Ibu. Memasuki dua tahun pernikahan tanpa cinta bukanlah hal yang mudah bagiku. Aku mencoba untuk menanam benih cinta dalam hatiku untuk Riana, tapi cinta itu tak pernah tumbuh. Hingga aku mulai membiasakan diriku dengan rumah tangga kami yang terus berjalan tanpa cinta. Aku tidak tahu hingga kapan aku dapat bertahan. Terkadang aku iba pada Riana yang selalu mencoba menunjukkan cintanya padaku tanpa aku dapat membalasnya. Aku hampir tidak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun, termasuk pada Keira. Yang Keira ketahui adalah aku menemukan cinta pada hati Riana dan memilih untuk menikah dengannya. Diperhadapkan pada situasi yang sama denganku, aku tidak ingin Keira mengulang sejarah. Aku tidak ingin sahabatku menjalani hidupnya dengan penyesalan bersama dengan orang yang tidak ia cintai.

*

“Arda!” Panggilan Keira membuatku kembali ke dunia nyata. Aku menoleh ke kiri dan mendapati Keira sedang mengernyitkan dahinya. Aku menunggu dengan sesekali mengalihkan pandanganku ke jalan. “Ada apa denganmu?” tanyanya. “Aku menunggu jawabanmu. Tapi sepertinya kamu tidak memerhatikan.”

Aku tergagap dan menyadari bahwa sejak aku masuk ke dalam mobil pikiranku tidak ikut serta rupanya.

Sorry, Kei, aku memikirkan pekerjaan,” ujarku berbohong.

“Bisa kau ulang pertanyaanmu?” pintaku.

“Aku bertanya padamu, bisakah kau menolongku bicara dengan orangtuaku?”

Aku menatap Keira tidak percaya.

“Keira,” aku menghela napas, “kamu bukan anak kecil. Bukan aku yang harus kamu perjuangkan di hadapan orangtuamu. Apa kamu pikir dengan aku ikut bicara, orangtuamu akan mengubah pendirian mereka begitu saja?”

“Kau sudah seperti anak laki-laki mereka, Arda,” potongnya.“Pendapatmu mungkin saja didengar mereka.”

“Keira, menurut pendapatku, kalau ada orang ketiga yang harus terlibat dalam hal ini, ialah Bram sendiri. Tidak kah terpikir olehmu bahwa Bram semestinya punya peran serta dalam usaha mempertahankan hubungan kalian? Entah apakah kalian pernah membicarakan hal ini atau tidak terpikirkan juga oleh Bram. Kei, menurutku, Bram harus mempunyai keberanian untuk memperjuangkanmu di hadapan orangtuamu. Biarkan orangtuamu melihat kesungguhan hati Bram.”

Aku tidak dapat melihat ekspresi Keira dengan jelas di dalam mobil yang temaram. Tapi, mengenal Keira, dan dengan tidak adanya bantahan, aku yakin ia sedang berpikir keras tentang kata-kataku.

Setelah mengantar Keira, aku lantas merasa hilang arah.Bagi kebanyakan orang, akhir minggu menjadi alasan paling tepat untuk bersama dengan orang yang dicintai. Tidak denganku.Sedapat mungkin aku tidak berbohong pada Riana. Cukup aku menyakiti hatinya dengan cinta yang tak dapat kubalas. Aku tidak perlu menambahnya dengan kebohongan-kebohongan kecil sekalipun. Aku mengatakan pada Riana bahwa aku menemui Keira hari ini. Riana yang tidak banyak bertanya pun telah mengenal Keira sebelumnya.Ia sangat tahu kami sudah bersahabat jauh sebelum ia mengenalku. Tapi sekarang, setelah Keira tidak di sampingku lagi, dan aku belum berkehendak untuk pulang, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kulajukan mobil di antara keramaian akhir minggu.Membunuh rasa bosanku dengan memutar musik keras-keras.

Entah sudah berapa kali jarum panjang berputar satu putaran penuh ketika aku memasukkan mobil ke garasi. Bagai pencuri di rumah sendiri aku mengendap masuk. Aku yakin Riana telah terlelap.Di dalam rumah hampir seluruhnya gelap. Dengan berupaya sesedikit mungkin mengeluarkan bunyi-bunyian aku berjingkat ke arah tangga menuju kamar kami.Langkahku terhenti ketika aku menyadari sesosok tubuh berbaring di sofa. Aku mendekat dan mendapati Riana tertidur di sana. Aku menarik napas.Kupandangi wajah perempuan yang sedang tertidur pulas itu. Gorden yang tidak tertutup sempurna menjadi jalan masuk bagi biasan cahaya bulan yang jatuh ke bumi, sesekali menerpa wajah lembutnya. Aku mengamati Riana Ia cantik, aku tidak mengingkarinya. Hatinya pun baik, aku pun menyadarinya. Dan ia mencintaiku. Sekali lagi aku menarik napas dan mengusap wajahku.Aku bangkit tanpa membangunkannya dan beralih ke ruang kerja.

*

Harum telur dadar membangunkanku. Aku berusaha bangkit dari sofa ruang kerja dan mengumpulkan semua daya untuk mengusir rasa kantuk dan lelah.Aku berjalan ke dapur dan mendapati Riana dan asisten rumah tangga kami tengah menyiapkan makan pagi.Riana melihatku dan menyapa.Aku balas menyapanya.

“Sarapan sudah siap kalau kamu mau makan,” ujarnya sambil memasukkan lembaran roti ke alat pemanggang.

“Aku mau mandi dulu,” kataku sambil mengangguk.Riana tersenyum dan melanjutkan kegiatannya.

Air yang mengalir jatuh dari pancuran berderai membasahi kepala dan tubuhku.Untuk beberapa saat aku mematung di bawahnya.Membiarkan alirannya membasuh kepenatan dan kebingungan yang menyergap tubuh dan pikiranku. Kubiarkan diriku tidak memikirkan apa pun.Kututup telinga jiwaku dari suara-suara dalam benak dan hati yang terus mencari celah untuk menguasaiku kembali.Telinga ragaku hanya menangkap deraian air yang menerjang tubuh dan lantai.Kuijinkan tubuhku bergeming menerima sentuhan dingin air dari kepala hingga ujung jari kaki selama beberapa menit kemudian.

*

Wangi durian memonopoli sudut rumah.Hari Minggu memang hari durian.Aku sangat menyukai buah kontroversial itu.Riana mengetahuinya. Di hari Minggu, hari di mana aku hampir selalu dapat dipastikan ada di rumah, Riana akan membuat kudapan dengan durian sebagai bahan dasarnya.Entah apa yang hari ini ia buat. Rasa ingin tahuku mengajak kakiku kembali ke dapur.Di antara ruang makan dan dapur, aku berpapasan dengan Riana yang sedang menuju ruang makan. Kedua tangannya membawa sepiring panekuk vladurian dan semangkuk saus coklat. Mirip kerbau dicocok hidung aku mengikuti langkah Riana.Aku termangu memandangi meja makan.Riana tersenyum melihatku.“Duduklah, kita makan,” ajaknya sambil menarik kursi.Aku mengikuti tindakannya dan duduk di hadapannya.Riana meletakkan dua potong panekuk di piringku.Aku membiarkannya. Biasanya kala Riana hendak melayaniku di meja makan, dengan halus aku akan menolaknya dan mengatakan aku akan melakukannya sendiri. Dan dengan tenang Riana akan membiarkanku. Di awal-awal pernikahan aku masih menangkap kekecewaan setiap kali aku menolaknya.Lama-kelamaan iamungkin mulai terbiasa.Namun itu tidak pernah menyurutkan niatnya.Sesekali kubiarkan hanya untuk membuat hatinya senang.Aku mulai menikmati panekuk durian dalam diam. Sesaat aku memandang Riana yang ternyata sedang memandangiku.Aku berusaha menghindari kontak mata dengannya.Kutatap kembali piring makanku.

“Bagaimana kabar Keira?” tanya Riana mengawali percakapan denganku.

“Dia baik,” jawabku sembari mengangguk dan meneruskan makanku.

“Keira dan Bram, bagaimana?” lanjut Riana yang membuatku mengangkat kepala dan menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.Riana tersenyum melihat ekspresiku. “Dua hari lalu Bram datang ke kantor. Ia bertemu Hardy, sahabatnya. Kamu juga tahu kalau Hardy sahabatku dari SMA, kan?” tanyanya sambil meletakkan pisau dan garpu di sisi piring.Aku mengangguk.“Hardy menceritakan padaku apa yang sedang dihadapi Bram. Pertimbangannya menceritakan hal itu padaku karena ia tahu latar belakang pernikahanku denganmu. Walau sesungguhnya aku berada di posisi yang berbeda dengan Keira.”Riana menatapku.Aku diam mendengarkan penuturannya.Aku menunggu Riana melanjutkan.Aku mengawasinya.Matanya terus menatapku. “Arda,” ia melanjutkan, “aku tidak tahu kapan kamu dapat mencintaiku. Tapi aku ingin tahu, apa kamu bisa membiarkan Keira menjalani kehidupan pernikahan yang sama seperti yang kamu jalani bersamaku?”Riana menuntaskan penjelasannya dengan pertanyaan yang menusukku.Aku terus menatapnya.Menatap perempuan yang tidak kucintai tapi mampu mencintaiku. Aku tidak tahu terbuat dari apa hatinya. Tapi aku mengenal Keira.Keira tidak mungkin bertahan dalam pernikahan tanpa cinta.

Aku bangkit dari kursi dan mengambil kunci mobil. Tiga langkah setelah aku melewati pintu, aku berbalik dan seperti biasa aku akan menemui sosok Riana berjalan di belakangku. Ia selalu mengantarku setiap kali aku akan pergi.

“Riana, aku telah memilihmu.Aku tidak akan biarkan pernikahanku gagal.”Aku mengatakannya tanpa keraguan sedikit pun.Riana menatapku lekat-lekat, mencari kebenaran dari ucapanku.Aku membalas tatapannya, mengirimkan kebenaran itu.Seulas senyum tampak di bibirnya.Sesederhana itu tapi aku tahu arti senyum itu.Aku pun tersenyum.Ya, itulah keputusanku.Keputusan yang pada akhirnya kuambil dengan sepenuh hati.Sungguh menikahi Riana.Aku memerlukan dua tahun untuk sampai pada keputusan ini.Aku sungguh tidak ingin Keira mengalami pengalamanku. Aku siap menceritakan pada Keira latar belakang pernikahanku dengan Riana. Aku merasa tidak adil dengan membiarkannya bergumul dengan perkara yang pernah kupijak sebelumnya tanpa dia punya kesempatan untuk tahu, sebelum dia mengambil keputusannya sendiri.

 

________________

Ambyar

Puisi Budi Setyawan
Narator Abednego Afriadi
Ilustrasi Musik Indah Fitriana

: buat didi kempot

1/
adalah kepergianmu yang gegas
tanpa kata
aba ataupun tanda
menengkarapkan sebuah pagi
ketika kemarau, tak ada hujan
hanya air mata negeri menderas
membasah di hari yang puasa

2/
dari stasiun balapan
kau terus berjalan perlahan
hingga lebih seribu kota
dengan rawan perasaan
patah hati
jatuh di kenyataan berbatu
menjadi luka
angan pecah berkeping
menjadi puing

tetapi terus berulang
harapan cinta selalu menjelma keriuhan
di dalam kepala dan dengan pesta
joget yang menguarkan gema
sambil pelan pelan merelakan
hasrat terjalin kian kecil
dan asmara yang muskil

3/
tak ada pertunjukan yang tak selesai
panggung pun sepi
saat kau diam diam pamit
lengang mengait
serupa benang melilit pada kenang
dan kuyup haru menggenang

tetapi orang orang seperti tak percaya
dan maut pun tak kuasa merenggut suaramu
yang masih akan mengembara
ke jantung pendengaran mereka
menjadi detak yang mengingatkan
berapa banyak surat kangen tak terbalas
ah, betapa murni kesedihan

4/
barangkali kau melanjutkan bernyanyi
sendiri di kejauhan langit
diiringi campursari sunyi

Bekasi, 5 Mei 2020

Adong Dope, Atik Pe Ndang Sinauju I

Puisi Saut Poltak Tambunan
Versi cetak antologi puisi Masih, Meski Bukan yang Dulu. (Penerbit SPT, Selasar Pena Talenta, 2013)
Dinarasikan dalam Bahasa Batak Toba oleh Saut Poltak Tambunan
Ilustrasi musik Newin Siahaan

Aha dope siholsohononmu, Hasian,

dison dope porlak na uli pasurduk rugunna

di hita marlinggom-linggom.

Adong dope ramba meol-eol

nang alang-alang humarasharas diullus alogo,

 manghalingi hita buni marholip-holip.

 Adong dope bunga ros na rara siputihonku,

sisolothononhu di pudi ni sipareonmu.

Adong dope habang nang sarongkap lampu-lampu na bontar

 mamolus metmet di ginjang ni simanjujungta.

 Atik pe – luhutna i ndada sinauju i be.

Aha dope siarsakhononmu, Hasian.

Adong dope langka-langka sirappakhononta,

nang pe bungkuk tanggurung jala mengkat humitir

pasarat-sarat simanjojakta.

Marbulung dope sitaruponmu

na ingkon sisihononhu sian pardompahanmu

– nang pe naung marbontar sap uban,

asa bolas hupasahat husip-husip na di bagas rohangki.

 Ra nunga humurang parbinegeanta,

alai sian mulana pe nunga parbinege hita di hita,

nang so pola  marsipandohan hata.

Aha dope silomosanmu, Hasian,

pos roham, tongtong do rade ahu di ho,

di  lambungmu, atik pe lam atik …!

spt, Jakarta, 14 Feb 2013

Dijahahon sian buku puisi ”Masih, Meski bukan yang dulu” – 26 Juni 2020

Masih, Meski Bukan yang Dulu

Puisi karya Saut Poltak Tambunan
Versi cetak: Antologi Puisi Masih, Meski Bukan Yang Dulu
(Penerbit SPT – Selasar Pena Talenta, 2013)

Dinarasikan oleh Flora Kioen Tanujaya
Ilustrator Musik:  Endah Firiana

Masih, Meski Bukan yang Dulu

Risaukan apa lagi, kekasihku. Masih ada taman ini menjulurkan rindangnya untuk kita berteduh. Masih ada rumpun semak melambai berkerisik ditiup angin, untuk kita sembunyi bercumbu. Masih ada mawar merah yang bisa kusunting untuk kuselipkan di  balik telingamu. Masih ada kupu-kupu putih mungil melintas di atas kepala kita. Masih, meski semua itu bukan yang dulu.

Risaukan apa lagi, kekasihku. Masih ada langkah yang bisa kita ayun bersama, meski sedikit goyah terseret. Masih ada helai rambut yang harus kusibak di keningmu untuk dapat membisikkan suara dari hatiku, meski mulai memutih. Pendengaran kita mungkin mulai berkurang, tetapi kita selalu sudah mendengar sebelum kita mulai saling bicara.

Risaukan apa lagi, kekasihku, aku selalu ada, meski semakin meski…!

mei 2009

Putik Magnolia dan Duka

Puisi Faris Al Faisal
Versi cetak Kedaulatan Rakyat Minggu, 21 April 2019
Narator: Abednego Afriadi
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Tak ada kebahagian pagi ini

Putik magnolia diserbuki kumbang

Aku hanya bisa memandang

Duka mengambang di dedaunan

Bau lembab mengalir ke lembah

Meranalah batu-batu kelam

Seseorang telah mengambilnya dariku

Larik sepal kelopak tampak koyak

Denting dawai bunga telah dipetik

Aroma musim gugur melayang lebih cepat

Menjemput bait-bait melankolia

Lada-lada hitam pecah di bola mata

Aku menggerus potongan rindu di usus

Menghancurkan ladang-ladang perburuan

Batang rumput patah dan terbakar

Seseorang yang lain pun datang

Mendekat dan membelai daun telingaku

Setiap orang akan bahagia dengan dukanya

Indramayu, 2019

>