Cerpen – Belantara

Spread the love

           

  DOWNLOAD   

Oleh : Yessita Dewi

 

Namaku Barini. Sudah hampir satu minggu aku berada di rumah Betang khas dayak ini. Niatku sangat kuat untuk mengunjungi habitat orangutan di sepanjang pegunungan Meratus Kalimantan. Alam Kalimantan yang sangat cantik dan natural akan tertuang dalam rekaman lensa yang selalu menjadi narasi fotografi ku. Aku tersenyum membayangkan hal yang sudah kulakukan. Bagaimana tidak, ini menjadi dua dunia berbeda ketika aku sibuk berkutat dengan deadline-deadline On Air di radio tempat aku bekerja. Dan saat ini, Cuti itu benar-benar aku manfaatkan. Rencana liburan bersambut dengan komunitas fotografi yang kebetulan mempunyai jadwal hunting bersama di saat yang tepat. Setelah butuh sehari semalam mencapai rumah si pygmous dengan perahu dari Kumai, Kalimantan Tengah, sampailah aku di rumah betang ini. Rumah yang dipenuhi ukiran khas Dayak. Aku hanya menunggu cuaca bagus untuk meninggalkan rumah panjang ini menuju tempat berikutnya. Menelusuri Loksado, Kalimantan Selatan.

 

Ada  sesuatu yang sedang menarik saat ini, setidaknya menurutku. Sudah tiga hari aku melihat laki-laki itu duduk di bawah pohon besar. Dari pakaian yang dikenakan jelas ia adalah seorang petualang hutan. Tapi aku tidak melihat ada tas carrier di sampingnya. Masih dari jendela rumah Betang nan panjang ini aku selalu melihat laki-laki itu menekuri tanah. Aku tidak tahu, apa yang membuat aku akhirnya memutuskan untuk turun menemuinya. Gemeresak ranting dan semak hutan sepertinya tidak membuatnya beralih pandang.

“ Sepertinya..hutan ini mempunyai cerita khusus..,” sapaku.

“ Sebenarnya tidak.. tapi memang iya.. ada cerita khusus..,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Aku menaksir dari usianya belumlah genap 30 tahun. Tapi wajahnya tidak segar. Pucat. Aku mencoba sedikit mendekat.

“ Sudah berapa hari di hutan..?,” aku mencoba ramah.

“ Aku tidak tahu.. aku hanya mencari jalan pulang.. tapi semua sama gelap..,”

Laki-laki itu menoleh ke arahku. Deg! Begitu pucat raut wajah laki-laki itu. Pasi bibirnya.

“ Apakah kamu sakit..? aku ada sedikit obat terutama untuk mencegah malaria..,”

“ Aku tidak merasakan apa – apa.. aku hanya lelah..,”

“ Kenalkan.. aku Barini.. kamu bisa ikut menginap di rumah itu, banyak tempat kok.. yuk..,” aku coba papah tubuhnya yang dingin. Ini pasti demam karena gigitan nyamuk malaria, sebentar lagi badannya akan panas tinggi. Sesampainya di tangga paling atas aku merasa lega karena bisa merebahkan tubuhnya yang putih pucat itu di sudut ruang. Aku siapkan matras yang biasa aku pakai alas. Ku pindahkan tubuhnya dengan susah payah. Ku selimuti dia. Terengah seakan putus napasku belum juga hilang, dan aku membuatnya agar tetap hangat. Aku pun merasa heran, kemana Amak, si pemilik rumah itu pergi. Jika ke sungai, aku melihat dari kejauhan perahu klothok nya masih tertambat. Dan kemana pula sepupu amak yang beranak tiga itu, biasanya mereka berkumpul disini. Dinding kayu ulin ini seolah merasakan apa yang aku pikirkan tentang laki-laki muda itu.

 

“ Siapa ini ai..? kelihatannya sangat payah dia..,” kata Amak tiba-tiba membuyarkan terawang otakku. Aku beranjak bangun membantu Amak yang membawa umbi-umbian dan beberapa labu kuning kecil. Ternyata mereka beramai-ramai mengambil ubi dan labu yang sudah tua dan matang.

“ Ini Mak, sudah tiga hari orang ini berdiri di bawah pohon besar itu, dia sakit..,”

“ Biar aku lihat..,” Amak mendekati laki-laki telah berselimut itu. Tapi Amak hanya sebentar melihatnya. Dan yang membuatku sedikit merinding adalah tatapan Amak kepadaku yang tajam.

“ Sakit malariakah dia Amak..?,” tanyaku sedikit gugup. Amak hanya menggeleng. Diam. Dan pergi keluar lagi. Aku ikuti dengan mataku penuh tanda tanya. Kenapa Amak menjadi aneh? Siapa pula laki-laki ini ? Banyak yang aku tak mengerti hari ini. Yang aku tahu, aku hanya berusaha menolong laki-laki pucat pasi ini.

 

Siang beranjak senja. Suara burung berganti hewan malam. Suara uwa-uwa riuh datang kembali ke rumah mereka, pohon. Segerombolan Bekantan, monyet berhidung bengkok itu berlompatan dari pohon ke pohon. Mereka seolah terbang. Entah sudah berapa kali jepretan yang masuk dalam memory kameraku tentang semua isi hutan Kalimantan ini. Juga bekantan itu, Nasalis Larvatus nama latin mereka, dan para orangutan yang kadang bertingkah lucu, berwajah mengejek. pygmous pygmous, aku ingat nama latin mereka ketika sekolah dulu. Aku terkekeh geli. Tidak pernah terbayang bahwa suatu saat aku akan bisa menemui mereka semuanya.

 

Aku beranjak menuju jalan pulang ke rumah Amak. Belum jauh kaki berjalan, aku melihat laki-laki pucat itu sudah berdiri menghadap sungai lebar dan jernih itu. Dari arah pandangannya, ia mengamati dua anak sepupu Amak, Suping dan Liang yang sedang menjaring ikan dari pinggir sungai. Aku hampiri sosok yang masih misterius itu, terutama setelah pandangan mata Amak padaku siang tadi.

“ Hai!.. sudah sedikit baik kelihatannya..,” sapaku

“ Terimakasih.. oiya, namaku Damang..,” katanya.

Dan sekali ini aku melihatnya tersenyum. Tapi aku merasa bukan senyum, tapi seringai. Aku merinding. Matanya sudah berkantung. Lingkaran matanya lebih hitam dari siang tadi. Aku alihkan mataku pada Suping dan Liang yang menjala ikan. Dapat beberapa rupanya mereka.

“ Kamu datang dari mana..?,” tanya Damang

“ Aku dari Semarang, sudah seminggu di hutan Meratus ini..,”

“ Sendiri..?,”

“ Ada teman, lebih tepat rombongan sih, tapi mereka sudah berangkat kemarin ke Banjarmasin, pingin lihat pasar terapung,  rencana mau ke Loksado juga..,”

“ Hati-hati di Hutan Kalimantan, Barini.. kamu perempuan,”

“ Amak cukup baik.. dia pula yang besok akan mengantarku ke tepi hutan, rencana mau ke Kumai..,”

“ Kumai..?!,”

Aku melihat perubahan wajahnya. Mata itu tersorot semakin muram dan sedih. Ada apa dengan laki-laki ini. Tidak ada kawan, tidak ada bekal, hanya ada muram dan sedih.

“ Bisakah aku minta tolong..?,”

“ Aku  akan bantu semampuku..,”

“ Terimakasih, besok saja kalau begitu.. ketika kamu akan berangkat ke Kumai..,” Damang beranjak dari tempatnya. Aku lihat punggungnya yang kurus berjalan. Bukan ke rumah Amak, tapi ke pohon besar itu lagi.

Malam semakin ramai dengan suara serangga nocturno dan terkadang suara gelombang air berkecipak. Kata Amak itu suara buaya muara yang lewat mencari mangsa pada malam hari. Pada malam hari pula rumah betang itu menjadi ramai. Ada yang bercerita, ada yang bernyanyi, ada yang bercanda. Wajah Amak terlihat lebih tegang malam ini. Aku tidak berani bertanya. Aku takut matanya. Amak adalah sosok pria paruh baya. Aku tidak tahu siapa nama sebenarnya, selama ini orang hanya memanggilnya Amak. Istrinya telah lama meninggal karena melahirkan. Ke 4 anaknya sudah dewasa kini. Anak perempuan satu-satunya telah menikah dan tinggal di Palangkaraya bersama suaminya yang mencari nafkah sebagai sopir taksi air. Ketiga anak laki-lakinya sudah bergabung dengan para pekerja di tambang emas, yang terletak sekitar 5 jam perjalanan dengan menembus semak belukar hutan berjalan kaki. Keluarga Amak adalah keluarga Dayak Kaharingan. Tapi Amak tidak sendiri, masih ada beberapa kerabat yang tinggal di Betang itu. Di antaranya adalah Suping dan Liang yang paling sering bersama Amak keluar masuk hutan. Ada beberapa patung kayu semacam totem di depan rumah panjang itu. Selama beberapa hari bergaul dengan Amak, yang telah begitu ramah, tulus dan terbuka, aku merasa ada kekuatan spiritual yang dimiliki oleh Amak. Apa itu, aku tidak tahu. Aku hanya tahu dari cerita Suping bahwa Amak bisa melihat yang orang tidak bisa lihat. Itulah yang membuatku tidak berani mengusik ketegangan Amak malam ini. Dan aku merasa bulu tengkuk meremang. Kualihkan rasa tidak nyaman ini dengan membuka file foto-foto tadi siang.

 

“ Anak.. hati-hatilah selama bejalanan sendiri di hutan.. apalagi kalau Amak tidak ada di rumah..,”

“ Iya Mak.. ,”

Hutan memang berbeda dengan tempat lain. Ketika siang kadang tetap terasa masih gelap karena begitu lebatnya hutan. Hari terasa lebih lama dan lembab. Malam lebih pekat. Inilah hutan negeriku. Tiba-tiba aku ingat bahwa Damang belum lagi masuk rumah. Aku beranjak menuju jendela untuk melihat di mana dia. Belum sempat aku buka kait jendela, pintu panjang terbuka. Amak menoleh kearah pintu. Kami melihat Damang yang berjalan pelan, seperti mengambang. Damang melewati Amak yang ada di depannya. Aku baru sadar, selama ini belum pernah aku mendengar Amak berbicara pada Damang. Dan Damang tidak pernah memandang wajah Amak, juga pada yang lain. Damang memang lebih sering menunduk dan merenung. Apa sebenarnya yang ada di pikirannya, aku tidak tahu. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang berat buat Damang. Aku melihat mata Amak yang tajam menatap punggung Damang. Aku tidak mengerti.

“ Anak.. ikut Amak sebentar..,”

Aku ikuti Amak yang berjalan keluar rumah. Kami duduk di tangga paling bawah.

“ Anak, siapa pemuda pucat itu..?,” tanya Amak dengan tatapan menyelidik, tapi tidak tajam. Aku merasa lega.

“ Dia Damang.. sepertinya dia mencari sesuatu, tapi dia bilang sedang mencari jalan pulang..,”

Amak menatap wajahku lekat-lekat. Aku merasa kedua matanya membesar.

“ Anak, hutan di sini berbeda.. di sini adalah belantara..,’

Amak bercerita tentang banyaknya kejadian tidak masuk akal di hutan. Seperti banyaknya orang pendatang yang hilang karena tidak mau mendengar nasehat warga setempat yang menjadi penghuni hutan. Banyak di antara mereka adalah calon perambah hutan. Tidak jarang juga ketika melewati semak persembunyian para buaya muara, ditemukan tulang belulang manusia yang telah hilang beberapa hari dan tidak ketemu. Aku menjadi merinding. Sekaligus bersyukur bisa bertemu Amak yang baik hati. Aku merasa aman.

“ Tapi Amak.. Damang sepertinya memang sedang sakit, dia juga ingin menitip sesuatu besok ketika aku berangkat ke Kumai..,”

“ Anak.. besok berangkat ke Kumai pakai perahu itu saja, Amak sendiri yang akan mengantarmu ke sana.. ,”

“ Iya Mak.. terimakasih..,”

Malam itu aku lalui dengan tidak bisa tidur lelap. Sering aku curi pandangan pada ujung ruang tempat Damang tidur. Tapi aku tidak melihat Damang dengan jelas. Aku hanya melihat Amak yang berbaring telentang sambil memeluk mandau yang biasa tergantung di atas dinding. Dan aku tertidur. Sampai suatu ketika aku mendengar suara kasak-kusuk orang berbicara serius.

“ Jangan kau coba ganggu kehidupan kami disini.,”

Aku mengenali itu suara Amak.

“ Tidak.. aku hanya ingin mencari jalan menuju pulang.. jalan yang lapang dan terang.. tidak gelap seperti ini..,” kata suara itu

Itu suara Damang! Akhirnya aku mendengar Amak berbincang dengan Damang. Tapi mengapa suara Damang begitu murung dan bingung. Benarkah dia terpisah dari rombongannya ?

“ Tolong aku tetua.. Bantu aku..,” suara Damang terdengar seperti rintihan

“ Baiklah.. Amak akan bantu kamu ..,”

Percakapan itu tidak bisa aku dengar lagi karena rasa kantuk yang dalam membawaku kembali lelap.

 

Keesokan harinya, aku sibuk mempersiapkan semua barang-barangku. Amak membawa bekal untuk perjalanan yang akan memakan waktu selama 5 jam menyusuri sungai. Itu pun baru awal perjalanan. Masih butuh waktu sekitar satu hari menggunakan angkutan sewaan menembus belantara berlumpur untuk bisa sampai tepi hutan. Perjalanan yang panjang dan melelahkan memang. Rupanya tidak sepenuhnya salah keputusanku berangkat hari ini, keluar dari hutan. Meskipun butuh waktu beberapa belas jam, aku baru bisa melihat lagi manusia peradaban pinggir sungai Sekonyer yang bertemu sungai Kumai nan luas dan bisa dilayari kapal besar. Seperti kedatanganku minggu lalu dari Tanjung Mas, Semarang.

“ Barini..!,” kudengar Damang memanggil dan datang menghampiri. Amak sedang menyiapkan perahunya di dermaga sungai.

“ Eh..kau rupanya Damang.. jadikah kau titip..?,” tanyaku dalam dialek setempat. Dialek yang aku pelajari dari sekian orang yang ku temui. Damang mengangguk.

“ Aku titip kalung ini.. dan ini alamat yang bisa kamu temui..,”

Aku baca secarik kertas berisi alamat, tulisan Damang terlihat aneh, bukan seperti tulisan manusia normal, hm, mana ada pena berwarna cokelat ? Tapi biarlah, aku akan coba temukan alamat ini.

“ Martapura..?? ini rumah orangtuamu..?,”

“ Bukan.. rumah pamanku.. aku dari Surabaya.. itu kalung ibuku..,”

“ Ooo.. hanya ini..?,” aku lihat Damang mengangguk. Dan tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum, bukan seringai.

“ Barini.. terimakasih sebelumnya, dan ini.. gelang ini buat kamu, sebagai kenang-kenangan dari aku.. Damang, jangan hilang ya..,”

Aku terima gelang anyaman dari entah tanaman apa. Aku pandangi Damang lekat-lekat. Pucat itu tidak semuram tiga hari lalu. Lingkaran matanya semakin tebal.

“ Hati-hati di belantara Kalimantan, Barini.. selamat jalan.. ,” kata Damang sambil tersenyum dan melambaikan tangan beranjak keluar rumah. Di luar aku lihat Damang berbicara sebentar dengan Amak. Mereka berdua berjalan menuju hutan belakang rumah diikuti Suping dan Liang. Dan semua itu tidak lagi aku pikirkan.

*****

Satu bulan lewat perjalananku bersama teman-teman klub fotografi di hutan Meratus Kalimantan berlalu. Titipan kalung dan surat Damang di Martapura pun sudah sampai ke tujuan. Ketika itu setelah bertemu rombongan di Banjarmasin, kami berangkat pagi ke Loksado. Karena rute melewati Martapura, aku mencari alamat yang diberikan Damang. Rumah khas Banjar menurut alamat itu terlihat sepi. Surat dan kalung aku selipkan di bawah pintu. Aku lanjutkan perjalanan ke Loksado menyusul teman-teman.

 

Kini aku sedang menikmati suasana rumah kembali. Ternyata beberapa hari aku di hutan waktu itu, bersamaan dengan hilangnya dua orang pelancong yang diduga tenggelam di sungai Sekonyer, Kumai, karena di serang buaya. Bergidik. Aku baca semua berita itu termasuk nama salah satu korban yang hingga kini belum ditemukan. Karena banjir maka pencarian korban dihentikan. Nama korban yang belum ditemukan itu adalah… Barini Agni usia 26 tahun. Hingga saat ini keluarga berharap gadis yang juga berprofesi sebagai Programme Director Medio FM ini, bisa lekas ditemukan. Deg! Ini namaku!? Bergegas aku menyentuh laptop yang masih menyala. Gemetar folder itu aku buka. Ngeri melihat tanganku menembus benda padat. Lidahku tercekat, hatiku mencelat lepas. Aku ingat Amak. Rupanya, Amak tahu siapa aku yang sedang mencari jalan pulang. Pulang ke tempat yang semestinya aku kembali. Aku tergugu bisu. Amak berdiri di depanku dengan pakaian kebesaran lengkap dengan mandau di tangannya. Siapa yang datang tanpa menghayati hutan, ia harus kembali ke belantara untuk memperbaikinya, aku adalah penjemputmu, kata Amak tajam. Nyeri telingaku mendengar suara Amak.

Saung Solo medio akhir 2007

 

Temukan kami di sini!

1 Comments

Leave a Comment