Cerpen – Benci Jadi Rindu

Spread the love

DOWLOAD

Liston P Siregar

Ada saatnya kalau ditanya apa yang paling saya benci di dunia, saya kesulitan menjawabnya. Bisa jadi karena tak ada yang saya benci atau sebenarnya terlalu banyak yang saya benci. Entahlah.

Jadi satu saat sya paksa mereka-reka sendiri, dengan meninbang macam hal. Ternyata banyak, ada Presiden Donald Trump, ISIS, anggota DPR, telepon cerdas (maaf ya, saya pakai Nokia seri 3, bisa menelepon dan untuk SMS, itulah fungsi telepon tgenggam) dan satu lagi Toyota Prius. Setelah ditimbang sana sini, pemenangnya, alias yang paling saya benci adalah Toyota Prius.

Ya mobil Toyota Prius, bertenaga listrik yang kalau baterainya habis bisa pakai bensin, sebagaimana mobil-mobil umumnya. Makanya disebut mobil hibrida atau campuran.

Dan di London, salah satu kota kosmpolitan yang sedang sok anti-polusi, semakin banyak tersedia saru ruang parkir gratis untuk mencas baterai mobil listrik. Mobil hibrida juga tak harus bayar biaya khusus kalau masuk kawasan pusta kota London. Jadi banyak insentif untuk mobil hibrida, apalagi yang total listrik, merek Tesla.

Tapi bukan urusan fasilitas itu yang membuat Toyota Prius yang paling saya benci

Beberapa orang kesal mendengar saya benci Toyota Prius. “Itu mobil masa depan Bung, bebas polusi asap dan suara,” kata kawannya dari kawan saya yang pegiat lingkungan, dengan nada benci ke saya. Memang, dengan tenaga baterai yang tidak mengeluarkan asap dan nyaris tak bersuara, Toyota Prius tak diragukan lagi tergolong akrab lingkungan.

Seorang rekan di kantor berkomentar, “Kamu itu mestinya bencinya ke teroris atau pembunuh berantai, kok sama mobil. Ada lagi: “Ya  bencilah sama tank yang memang niatnya membunuh, ini mah mobil sehari-hari di jalanan yang dibenci.”

Tapi ada juga yang agak sejalan. “Gua nggak ngerti abad 21 kok masih ada disain jelek kayak gitu,” kata kawan lain. Dia benci sama disain Toyota Prius yang, menurutnya, kayak tikus. “Tapi ya kok sampai kau paling benci mobil tikus itu, rada susah gua pahami,” tambahnya.

Ya benar, kenapa saya sampai bisa membenci Toyota Prius setengah mati?

Begini.

Ada kaitannya dengan lalu lintas di London, yang jelas tidak separah Jakarta tapi ya makin hari makin padat. Sekitar 20 tahun lalu ketika pertama kali mendarat di London, rasanya macet nyaris tak ada kecuali karena kecelakaan. Mobil yang pindah jalur seenaknya juga rasanya cuma satu dua saja.

Sekarang, tahun 2018, di jalanan pusat-pusat kota London, seperti di sekitar Big Ben atau Trafalgar Square, Picadily Circus, atau dekat jalanan belanja Oxford Street, ya bisa terlihat kemacetan di jam-jam sibuk. Dan karena macet, maka banyak pula pengemudi yang pindah-pindah jalur seenaknya tanpa peduli pengemudi lain, kayak di Jakarta.

Yang kedua, karena kemacetan dan biaya angkutan umum yang makin tahun makin mahal, saya naik sepeda ke kantor, kecuali hari Rabu, yang ditetapkan sebagai hari istirahat. Keputusan yang tepat untuk menghemat dan juga mengendalikan perut agar tidak sampai sebesar bola basket berhubung makanan utama saya adalah nasi dengan lauk rendang, kari, dan soto berbekal bumbu sache dari Pasar Mayestik, Blok M,  yang dibeli berkotak-kotak untuk cadangan tahunan.

Dan masuklah faktor ketiganya. Uber!

Di London, Uber sempat dilarang pengadilan karena para supirnya tidak dicek dengan benar sehingga bisa mengancam keamanan penumpang. Juga asuransinya tidak sampai mencakup penumpang, ditambah lagi dengan protes para supir taksi khusus London berwarna hitam itu atau Black Cab. Tapi Uber menang di pengadilan banding dan tetap beroperasi dan, rasanya pula semakin banyak.

Jelas Uber makin banyak karena murah untuk di London, salah satu kota termahal dunia. Dipadu lagi dengan kemacetan di London tak ada jalur busway, maka bus besar, apalagi yang bertingkat, akan bergerak lamban sementara Uber, yang kayak tikus, bisa menyalip-nyalip untuk mencuri jalur seenaknya dengan cepat, yang membuat bus- semakin merayap di jalanan dan bulan-bulanan Toyota Prius… eh Uber.

Persis. Sebagian besar pengemudi Uber menggunakan Toyota Prius karena biarpun harganya mahal, tapi irit bahan bakar, plus insentif-insentif tadi. Jadi sebenarnya perilaku sebagian besar pengguna Toyota Prius, yaitu pengemudi Uber, yang membuat saya mengkaitkan supir kacau-kacau dengan Toyota Prius.

Tapi Uber atau tidak, sasaran adalah Toyota Prius.

Dan sebagai pengayuh sepeda, maka sehari-harinya harus  berurusan dengan Toyota Prius yang seenaknya di jalanan. Urusan itu membuat saya paling benci dengan Toyota Prius.

Selama bersepeda selama 11 tahunan di London, tak pernah ada insiden dengan supir Black Cab selain satu ketika saya hampir terpojokkan namun masih ada jarak sehingga sempat merem sepeda. Pak supirnya langsung minta maaf akrab. “Sorry mate,” katanya. Penumpang masuk, dia jalan memencet klakson pendek bersahabat dan mengangkat tangan ke luar dari jendela sebagai isyarat ucapan terimakasih.

Tapi dengan supir Uber, lain cerita. Yang diperlukan adalah lisensi untuk semacam supir mobil carteran: yaitu izin membawa penumpang warga umum yang bukan anggota keluarga. Selain tes kecil membaca satnav dan peta, ada biaya administrasi £300 atau sekitar Rp6 juta. Setelah mendapat izin, ya –sama seperti di Jakarta dan kota-kota dunia lain- tinggal pasang aplikasi Uber dan bereslah urusan, langsung narik.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejak Uber mulai bermunculan, sudah terjadi pula beberapa insiden.

Baik, Anda bertanya kenapa yakin itu supir Uber, emangnya ada stiker atau ada warna khusus. Uber kan boleh pakai mobil merek dan jenis mobil apa saja dengan warna apa saja.

Persis! Makanya saya paling benci sama Toyota Prius. Singkirkan Uber atau apalah, tapi insidennya adalah dengan Toyota Prius, yang warna bisa beraneka tapi di pantat mobil ada lambang Toyota dengan tulisan Prius.

Salah satu insiden adalah dipojokkan ke tepi jalan. Satu Toyota Prius putih jalan pelan sehingga lebih lambat dari kecepatan sepeda dan ketika saya masih di mau mendahului dari kiri, eh dia memojok ke kiri tanpa pasang lampu tangan untuk berhenti mendadak, karena mungkin tiba-tiba aplikasinya bilang ‘you have reach your destination’ atau Anda sudah tiba di tujuan.

Saya memekik ‘Oi’ dan dia mengerem sehingga tak sampai terjadi kontak tabrakan.

Anda lihat dulu ke kiri baru motong, teriak saya. Dia malah melawan, ‘lihat jalan kamu’. Ketika saya mau mendekat ke jendela mobil untuk menegaskan lebih lanjut kekacauannya menyudut ke kiri tanpa lampu tangan, penumpangnya datang bergegas masuk ke dalam mobil dan Toyota Prius putih tadi melaju, meninggalkan saya tak perduli dengan kekesalan saya.

Ada tiga insiden lain seperti itu dalam waktu sekitar dua bulanan, dengan Toyota Prius hitam, abu-abu, dan satu lagi juga putih. Ketiga supir bereaksi berbeda: dua tidak perduli seperti tidak ada masalah dan satu lagi mengangkat kedua tangan seperti menyampaikan pesan ‘ada masalah ape lu’. Tak satupun meminta maaf.

Masih ada beberapa insiden yang berbeda. Toyota Prius berhenti di tepi jalan samoai menutup jalur sepeda di jalan yang padat pada jam sibuk sehingga kami pensepeda tak bisa dengan gampang mengalih ke kanan untuk memotongnya karena banyak mobil berseliweran.

Satu kali terjadi kontak fisik antara sepeda saya dengan Toyota Prius biru gelap. Penyebabnya sama, si mobil berjalan pelan sambil celengak celunguk ke kiri kanan mengidentifikasi pemesannya sambil sesekali melihat peta Waze di atas dashboard mobilnya. Saya potong dari kiri karena tak jelas dia mau kemana, dan tiba-tiba menyudut ke kiri dan mengenai stang sepeda.

Walau saya tak sampai jatuh, kekesalan saya memuncak dan saya tendang mobilnya. Supirnya marah dan membuka jendelanya sebelah kiri dan marah-marah ‘apa maksud lu nendang mobil gua’ dan saya jawab ‘lu menyudut ke kiri tiba-tiba’. Dia memaki-maki dan saya lihat ada orang mendekat ke mobilnya dan karena kekesalan masuh memuncak, saya pindah ke depan mobilnya membuat dia tak bisa maju.

Dia memencet klaksonnya panjang dan keras, tapi saya tak perduli dan bergerak. Dia mundur sedikit dan saya bergerak kembali ke depan mobilnya.

Insiden itu terjadi di sekitar Picadily Circus, salah satu tujuan wisata dunia yang selalu padat di empat musim, termasuk ketika angin dingin menusuk tulang di awal Januari. Piccadily Circus sebenarnya persimpangan empat jalanan. Cuma di salah satu sudutnya ada air mancur kecil yang antik, dan sekelilingnya toko-toko. Jadi par turis di Piccadily Circus sebenarnya lontang lantung ke luar masuk toko atau yang nongkoring di sekitar air mancur. Maka kawasan kaki limanya pun padat, apalagi ada pengamen berbagai jenis musik, dari punk rock sampai reggae.

Dan pada sore jam sibuk pulang kantor sekitar jam 5-an itu, kami menjadi tontonan para turis yang lontang lantung atau nongkrong maupun warga London yang pulang kantor yang sedang menunggu bus.

Pada satu titik, si supir berteriak sambil mengeluarkan sedikit kepalanya dengan tangan mengangkat telepon genggammya, “Saya telepon polisi’.

“Ya silahkan,” teriak saya menantangnya. 100% dia tidak akan  menelepon polisi karena jelas dia dalam posisi yang lemah dan berurusan sama polisi akan membuat dia kehilangan ordernya.

Jadi dia mundur lagi sedikit dan saya kembali menutup geraknya dengan mendekati bagian depan mobilnya sambil berteriak ‘Kamu harus minta maaf’.

Dalam hati saya berharap ada mobil polisi yang lewat karena khawatir juga jika tak ada jalan ke luarnya maka sayapun terkunci mati tak kemana-mana selama belasan menit di depan sebuah Toyota Prius ditontoni banyak orang dari seluruh dunia.

Tapi dalam sebuah pertarungan, jangan sampai pernah memperlihatkan kekhawatiran, karena itu artinya kelemahan dan akan membuka lobang-lobang untuk sasaran lawan. Jadi saya ambil telepon genggam untuk pura-pura tenang melihat pesan namun tetap berteriak ‘Kamu harus minta maaf.”

Si Supir tukar strategi, dia majukan mobilnya amat lembut perlahan-lahan, seperti mengancam kalau tak minggir akan ditabrak. Tapi malah memperlihatkan kelemahan, karena kalau memang dia mau nabrak tentu tidak akan bergerak perlahan-lahan.

Itu memang cuma gertak sambal, gumam saya, mana mungkin dia menabrak saya di depan umum dan saya kembali berteriak: “Kamu harus minta maaf”.

Dia akhirnya berhenti dan berteriak lagi ‘Minggir orang Gila.’

Tanpa melengos ke dia, saya berteriak balik, “Minta maaf’.

Lantas suasana hening. Dari pura-pura, saya jadi beneran membuka pesan-pesan WA yang belum terbaca.

Dari hening mendadak terdengar, “Ok, Maaf’ dengan nada ogah-oagahan. Cuma saya juga bosan dengan berdiri nggak jelas di depan Toyota Prius dan ditontoni sambil lalu oleh para turis dari seluruh dunia sementara tak ada tanda-tanda polisi yafg datang untuk melerai kami.

Beberapa satpam toko yang sedang berjaga di luar tampak senyum-senyum saja. Jadi maaf yang tak tulus tadi saya jawab juga dengan pernyataan kemenangan ‘Nah gitu dong.’ Dan sayapun naik kembali ke sepeda, mengayuh dan si Toyotra Prius pun langsung melaju.

Eh si supirnya tadi mengeluarkan tangan dari jendela ke atas dengan lambang maikan kasar sambil berteriak. Dia lupa bahwa sekitar jam 5-na sore Piccadily Circus macet berat jadi hanya beberapa puluh meter saja saya sudah bisa melihatnya lagi di barisan mobil yang menunggu lampu merah.

Saya mendekat dan memukul kap mesinnya keras. Si supir membunyikan klaksonnya marah dan panjang, tapi saya terus saja mengayuh tak memperdulikannya lagi.

Kekesalan terlampiaskan sedikit tapi kebencian pada Toyota Prius bertambah: bukan cuma pengacau  jalan raya tapi juga penipu: habis minta maaf malah memaki.

Setelah itu masih ada beberapa insiden, tapi tak seserius yang di Piccadily Circus. Sebagian besar karena berjalan santai seenaknya berhubung pak supir tengok-tengok peta sebeum menemukan titik yang ditentukan calon penumpang. Begitu dapat, mereka langsung berhenti tanpa lampu tangan atau lihat-lihat duu di kiri ada sepeda atau tidak.

Umumnya waktu insiden adalah ketika selepas kantor, dan kalau hari di kantor sedang buruk maka saya akan teriak, “Oi mau kemane lu.” Tapi kadang saya menyabarkan diri saja sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sepertinya kebencian akan Toyota Prius terbina baik.

Begitulah sekitar lima bulan lalu.

Ciakaya kantor saya menempuh efisiensi dan restrukturisasi, atau kata terus terangnya pemecatan. Saya masuk salah satu dari belasan yang terkena PHK. Sudah tiga bulan kirim lamaran ke sana ke mari, tak ada yang nyangkut sementara uang pesangon makin menipis. Sayapun terpaksa ikut narik Uber, bermodal sisa pesangon.

Maka saya beli Toyota Prius, yang menurut semua supir Uber yang saya tanya, memang irit jadi masuknya bakal lebih banyak disbanding, Hyundai, misalnya, apalagi Mercedez Benz. Ya ibartnya Benci Jadi Rindu lah.

Eh udah dulu ya, ada order nih. Di layar HP, ya sekarang saya juga pakai telepon pintar supaya pasang aplikasi Uber dan peta Waze, terlihat penumpangnya di Piccadily Circus.
***

Temukan kami di sini!

Leave a Comment