Berburu Kupu-kupu

Spread the love

S. Gegge Mappangewa
Versi cetak Antologi Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia 2019
Narator Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Peserta perkemahan SD Plus Al Ashri akhirnya tiba di Bantimurung.  Semua murid  sangat senang karena  selain terkenal dengan air terjun dan guanya, kawasan  wisata ini juga dikenal sebagai tempat penangkaran kupu-kupu.  Aneka spesies kupu-kupu ada di Bantimurung, bahkan beberapa jenis kupu-kupu langka dunia sering didapatkan terbang di sini.

Dede sudah hendak berlari untuk melihat-lihat kupu-kupu yang diawetkan dan dijual di pinggir jalan tapi Pak Bahtiar melarang lewat speaker megaphone.

“Seluruh peserta perkemahan, tidak meninggalkan kelompoknya!”

Langkah Dede.

“Seluruh komandan regu, langsung mengatur barisannya. Regu putra di samping kanan saya. Putri di sebelah kiri. Jangan lupa, barang-barang disimpan di samping  barisan masing-masing.”

Selain pemandangan air terjun yang jatuh dari tebing tinggi, peserta perkemahan juga  terkesima dengan  kupu-kupu yang terbang  bebas di atas kepala mereka.

“Woow…cantiknya! Masyaallah!” puji Gita saat seekor kupu-kupu bersayap biru kombinasi putih terbang di depannya.

“Air terjunnya juga  indah, tuh sana, tinggi sekali!” teriak Zahira.

“Menurut Pak Bahtiar, besok sebelum pulang, akan ada acara mandi-mandi di bawah air terjun….” ucap Gita sambil terus melangkah bersama teman regunya.

“Asyiiikkkkk…!” seru mereka satu regu.

***

Hari kedua. Mencari jejak.

Regu Kijang, regu Dede dan Rahmat mendapat giliran berjalan paling terakhir. Sepanjang perjalanan, setiap regu akan memecahkan kalimat sandi. Namun, Dede dan Rahmat sudah punya misi lain. Sengaja mereka berdiri di barisan paling terakhir agar   bisa keluar dari barisan untuk mencari kupu-kupu.

“Duh, perutku mules!” Dede bersandiwara. “Kalian duluan aja, saya mau  buang air dulu. Rahmat temanin saya ya!” lanjutnya sambil mengedipkan mata.

Temannya yang lain tak curiga. Mereka berangkat duluan, sementara Dede dan Rahmat mengambil jalur lain. Belum beberapa menit berjalan mereka sudah menemukan kupu-kupu kuning yang terbang rendah.

“Tuh sana, De! Cantik sekali!”

Mereka sudah menyiapkan stoples plastik bening yang tutupnya dibocori untuk menyimpan kupu-kupu yang sudah tertangkap. Sementara alat penangkapnya, mereka buat dari  plastik bening yang diikat berbentuk  stoples tanpa tutup kemudian diberi kayu panjang.

Mereka melangkah pelan. Kupu-kupu yang diincarnya sedang hinggap di rumput berbunga. Dede melangkah hati-hatisambil menjulurkan kayu panjang yang ujungnya berupa perangkap kupu-kupu.

Satu… dua… tiga… happp…! Berhasil.

“Alhamdulillah…. Cepat, Rahmat! Cepat masukkan stoples!”

Rahmat berlari ke arah kupu-kupu yang terperangkap dan memasukkannya ke dalam stoples.

“Cantik sekali…! Cari lagi, yuk!”

Mereka berjalan lagi ke dalam hutan. Mengejar kupu-kupu biru yang lebarnya  hampir sama dengan telapak tangannya. Sayangnya, kupu-kupu yang dikejarnya kali ini tak pernah terbang rendah, jadi susah untuk ditangkap.

“Kejar terus aja, De! Kayaknya kupu-kupu ini langka lho, lebar sekali!”

Semak belukar mereka lompati, berlari dengan mata mengarah ke kupu-kupu membuat mereka sering terjatuh karena kaki tersangkut rumput  yang merambat, hingga akhirnya kupu-kupu yang dikejar itu menghilang. Tanpa mereka sadari, mereka  terlalu dalam masuk ke hutan.

Kuweekkk…,kweeekkk….

“De, suara apa itu?”

Keduanya kemudian melihat ke sekeliling. Tak ada yang didapatkannya kecuali hutan lebat.

Kuweekkk…,kweeekkk….

Mereka secara bersamaan menghadap ke atas, dan didapatkannya kawanan monyet di atas pohon. Dede yang usil kemudian melemparinya dengan batu kecil dan tanpa pernah diduga, monyet itu melemparinya dengan buah pohon liar. Tak hanya membalas dengan melempar, suaranya yang semakin keras ternyata memberi isyarat kepada monyet lain untuk terus berdatangan. Mereka melempari  Dede dan Rahmat, bahkan ada yang berani turun  lebih rendah untuk mencakar Rahmat dan Dede.

Keduanya lari terbirit-birit, sementara suara monyet semakin ramai melompat di atas pohon, tepat di  atas mereka berlari.  Dede kemudian mengambil kayu yang dipakai sebagai  alat penangkap kupu-kupu. Kayu panjang itu dipukul-pukulkan ke arah monyet, hingga monyet ketakutan.

“Kita hampir mati dicakar monyet,”

“Tapi, De! Sepertinya sudah hampir sore….”

Dede mencari matahari yang terlindung pohon lebat sehingga tidak terasa kalau mereka sebenarnya sudah lama sekali berada di dalam hutan. Dede yang pemberani itu, kini mulai menampakkan wajah cemas. Semakin lama mereka berjalan, hutan malah semakin lebat.

“De, sepertinya ini bukan jalan pulang,” Rahmat sudah setengah menangis.

Suasana dingin  mulai  menyerang pertanda sore semakin mendekati malam. Hutan juga sudah mulai gelap.

“Rahmat, kamu punya bekal nggak, lapar nih,”

“Tasku cuman berisi stoples tempat kupu-kupu….”

“Kalo gitu, kita coba jalan ke arah sana….”

Semakin lama dia berjalan, semakin lelah, juga semakin gelap. Bukan karena hutan yang semakin lebat, tapi karena malam sudah mulai datang.     

“Istirahat dulu, De! Capek. Saya juga lapar sekali,”

Dede yang merasakan hal yang sama, memilih duduk dan bersandar di sebatang pohon besar. Malam benar-benar telah turun. Dede dan Rahmat sudah menangis ketakutan. Kini, mereka  baru menyesal telah melanggar aturan mencari jejak.  Terbayang di kepalanya, dia akan dimangsa binatang buas malam ini. Tenaganya pun semakin habis. Lagi pula, dia tak tahu jalan pulang, semakin dia berjalan, yang didapat hanyalah hutan yang semakin  lebat.

“Teman-teman pasti sudah pulang ke Makassar,” Dede terisak.

“Kita jalan lagi, yuk! Daripada tinggal di sini, bisa-bisa kita dimangsa binatang buas.”

 Mereka memaksakan diri untuk  berdiri dan berjalan lagi. Berkali-kali mereka terjatuh karena  kaki tersangkut.  Mereka tak melihat apa-apa karena  cahaya bulan tak bisa menembus hutan berpohon lebat. Mereka berjalan sambil menangis dan berteriak meminta tolong. Dalam hati, mereka berjanji tidak akan mengulang lagi perbuatannya yang melanggar aturan.

“Toloooonngngng…,” teriaknya bergantian dengan suara yang serak karena bercampur tangis.

Tak ada balasan kecuali suara rayap malam yang bersahut-sahutan. Tapi dia tetap berusaha, berjalan dan berjalan terus untuk keluar dari hutan itu. Dalam hati pun mereka selalu berdoa agar diselamatkan.

“Rahmaaaaatt….”

“Deeeedeeeeee….”

“Ada yang memanggil-manggil, De!”

Mereka semakin mengeraskan suaranya minta tolong.  Dalam hati mereka bergembira dan bersyukur. Tapi begitu suara orang-orang yang memanggilnya mendekat, mereka ketakutan lagi. Suara-suara itu bukan suara gurunya, juga bukan suara teman-temannya. Mereka membawa obor.

“Jangan-jangan mereka penghuni hutan ini,” bisik Dede.

“I…iya, mereka pasti akan menangkap lalu membakar kita untuk disantapnya….”

Orang-orang yang memanggilnya tadi semakin mendekat ke arahnya. Dede gemetar. Rahmat  sudah ngompol ketakutan. Mereka pingsan berdua saat orang-orang  yang mendekat ke arahnya itu.

***

Saat terbangun, Dede dan Rahmat sudah berada di tenda. Ternyata yang menangkap mereka di hutan semalam adalah  regu penyelamat.

“Bukannya dapat kupu-kupu langka dunia malah tersesat dan hampir meninggal dunia.” goda Pak Bahtiar.

Teman-temannya tertawa. Dede dan Rahmat tersenyum malu-malu. Mereka senang punya teman yang selalu ada untuk menghibur dan memaafkannya.***