Cerita Anak – Anak Sampah

Spread the love

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

 

Cerita Anak: Pipiek Isfianti

Versi Cetak: Antologi Cermin Cahaya, Balai Bhasa Jawa Tengah 2018

Penutur: Muthia Sayekti

 

 

Ya …  ya, Adin,  anak kelas lima  SD itu sudah biasa   mendengar semua ejekan serupa. Yang bau sampah lah, tukang sampah lah, sampai anak sampah, sudah mulai didengarnya sejak tiga bulan lalu. Ya sih, tiga bulan lalu dia menggantikan ayahnya yang terbaring sakit di rumah. Ayah Adin memang bekerja sebagai tukang sampah. Selain harus membersihkan sampah di kampung sebagai tukang sapu, ayah Adin juga men- dapatkan tambahan uang dengan mengambil sampah-sampah milik orang sekampung. Namun, karena jatuh saat mengendarai sepeda sampahnya, kaki ayah Adin terkilir. Kakinya sakit hingga harus beristirahat. Keadaan itu menggugah Adin untuk menggantikan tugas ayahnya agar tercukupi kebutuhan keluarga. 

“Karena ayah masih sakit, boleh ya mulai besok Adin menggantikan pekerjaan ayah, sampai ayah benar-benar sembuh,” pinta Adin pada ayahnya yang berbaring. Ibu membalurnya dengan balsam karena kaki ayah terkilir.

“Jangan, Nak,” jawab ayah cepat. 

“Iya, Adin. Pekerjaan ayah itu berat, Nak. Biar sementara digantikan Pak Trimo dari kampung sebelah saja. Nanti ibu akan bilang pada Pak Trimo, lagipula, apa kamu tidak malu pada teman-temanmu?” sambung ibu.

“Ah, Adin tidak malu kok. Lagian kenapa mesti malu? Itu kan pekerjaan Ayah selama ini yang menghidupi kita semua. Dan yang terpenting adalah pekerjaan halal,” jawab Adin mantab. 

“Oh ya, Bu. Ibu tidak usah bilang ke Pak Trimo. Pak Trimo kan juga harus membersihkan sampah di kampung sebelah. Biar Adin saja yang menggantikan Ayah. Adin juga bisa mengerjakannya sebelum berangkat sekolah,” tukas Adin dengan mata berbinar.

Ayah dan ibu hanya diam dan saling berpandangan. Bahagia bercampur haru. Sebenarnya dalam hati mereka tidak tega jika Adin harus menggantikan pekerjaan ayah meski hanya untuk sementara. Namun, karena tekad dan semangat Adin yang begitu besar ayah dan ibu akhirnya mengizinkan.

“Baiklah, Nak. Kalau itu sudah menjadi keinginanmu. Hanya kalau kamu mendapat kesulitan, bilang Ayah ya, Nak. Yang penting jangan lupa belajar sungguh-sungguh,” kata ayah bijak.

“Iya, Adin. Pesan ibu, kalau itu sudah menjadi kehendakmu, lakukan dengan sebaik-baiknya, ya. Walaupun sebenarnya anak seusia kamu tidak seharusnya ikut menanggung beban pekerjaan seperti ini, Nak,” kata ibu sendu seraya memeluk buah hatinya itu.

Adin tersenyum dan membalas pelukan ibunya dengan erat.

“Ibu tidak usah khawatir. Sekalipun Adin baru kelas lima SD, lihat kan, badan Adin sebesar anak kelas tiga SMP. Hehehe, Ini karena Adin makan banyak dan gemar olah raga, Bu,” kata Adin sembari memamerkan otot lengannya seperti seorang bina- ragawan.

Ibu dan ayah yang semula terlihat bersedih, seketika menjadi terbahak melihat gaya Adin yang lucu.

Sejak itulah, sebelum berangkat sekolah, pagi-pagi betul seusai salat Subuh, Adin telah menyapu jalanan di kampungnya, seperti yang biasa ayahnya kerjakan. 

Sesudah itu, dengan mengayuh sepeda yang di belakangnya sudah diletakkan gerobak sampah, ia akan mengambili sampah dari tong sampah di depan tiap-tiap rumah. Setelah itu, ia akan membuangnya di tempat pembuangan sampah akhir di ujung jalan, dan nantinya akan diangkut truk sampah dari Dinas Kebersihan.

Adin melakukan pekerjaan itu dengan suka cita, tetapi suara ejekan teman-temannya itu kadang membuat hatinya sakit. Namun, mau bagaimana lagi, dia memang anak sampah, anak tukang sampah. Bahkan, sekarang setiap hari dia sendiri bergumul dengan sampah. Walau jengkel setiap mendengar ejekan dari teman-teman sekampungnya, Adin berusaha tak memedulikannya. Toh, yang dilakukannya itu halal. Bukankah sampah juga sumber penyakit? Adin dan juga ayahnya, telah membuat kampung itu bersih dari sampah. Adin selalu ingat kata pak Ustaz bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Hal itulah yang membuat Adin semangat menggantikan pekerjaan ayahnya. Adin selalu melakukannya dengan riang gembira karena ia adalag seorang anak dan menjaga kebersihan lingkungannya.

***

Sudah tiga hari Adin tak terlihat, begitu juga ayahnya karena memang belum sembuh. Sudah tiga hari pula sampah di depan rumah Jawad mulai menggunung. Bau busuknya mulai menyebar ke mana-mana. Tidak hanya di rumah Jawad, di rumah Jarin, Alma, Sasa, dan juga Rima, tetapi sampah di depan rumah seluruh warga kampung telah menggunung. Bayangkan, bau nasi basi berbaur dengan bau kulit udang dan macam-macam sampah lainnya. Bisa dibayangkan kan, bagaimana baunya?

“Kok sudah tiga hari ini Adin nggak mengambil sampah, ya?’’ tanya ibu Jawad. Ibu kelihatan gelisah. Ya, ibu pasti pusing mencium bau sampah. Tak hanya ibu, Jawad yang semula tak peduli dengan sampah di rumahnya menjadi ikut gelisah. Bagaimana tidak, setiap mau makan, dia akan mencium bau sampah. Saat hendak bersantai di teras rumah sambil bermain ular tangga, bau sampah akan segera menusuk hidung. Apalagi jika malam hari, saat angin bertiup kencang, bau itu akan terasa tajam, membuatnya tak bisa memejamkan mata.

“Wah, tak tahan rasanya di rumah,” kata Jawad kesal. Sungguh, sepulang sekolah siang itu dia sudah tak tahan lagi dengan bau sampah di depan rumahnya. Dengan cepat ia mengambil sepedanya, lalu menggoesnya menuju ke rumah Jarin. Sampai di rumah Jarin, ternyata sama saja. Bau sampah begitu menyengat, membuat kepala Jawad bertambah pusing. Ditambah lagi suara Ibu Jarin yang uring-uringan karena banyak lalat berterbangan di mana-mana. “Jarin, ini semua gara-gara kamu, suka menimbun sampah

di dalam kamar. Lihat ini, sampah kita jadi menggunung karena ibu baru saja membersihkan sampah di dalam kamarmu. Lain kali, begitu ada sampah langsung buang di tempat sampah. Jadi, begitu tukang sampah libur, sampah kita nggak begini banyak!” kata ibu sembari membereskan ruang depan rumah Jarin. Jarin hanya menunduk, tak berani membantah ibunya.

Ibu memang benar, selama ini dia memang paling malas membuang sampah di tempat sampah depan  rumah. Bungkus makanan, sisa bahan membuat kerajinan tangan, semua hanya dilempar begitu saja di pojok kamar. Jadi wajar jika ibu uring-uringan saat membersihkan kamarnya.

Karena di rumah Jarin juga tidak nyaman, Jawad mengajak Jarin ke rumah Alma. Astaga, di sana lebih parah lagi. Karena tak punya halaman, tong sampah di rumah Alma diletakkan tepat di depan pintu masuk. Tentu saja lalat yang ada di situ bisa masuk sampai ke rumah. Apalagi ibu Alma kemarin baru saja dipakai untuk pengajian. Jadi gelas-gelas plastik, kardus-kardus bekas makanan kecil, juga kardus-kardus besar menggunung di depan rumahnya.

“Payah ini, kita mesti cari penyebabnya,” kata Jawad tak tahan.

“Iya, semua ini pasti gara-gara Adin, dia tak mengambili sampah di rumah kita,” imbuh Jarin tak kalah kesal.

Alma, Sasa, dan Rima yang ternyata juga telah berada di rumah Alma manggut-manggut. Mereka jadi berpikir, bahwa ternyata mereka membutuhkan Adin.

“Wah, ternyata tukang sampah itu sangat berjasa sekali ya bagi kita?’’ kata Rima.

“Iya, kita baru merasakan. Kalau nggak ada Adin atau ayahnya yang mengambil sampah, alangkah kotornya lingkungan kita. Apa mungkin Adin sakit, ya? tiga hari ini dia tidak masuk sekolah,” imbuh Alma.

“Iya, ya. Apa yang terjadi pada Adin, ya,” sambut  Sasa. “Aku jadi menyesal, telah mengejek Adin selama ini,” kata Jawad. Teman-temannya akhirnya menyadari kesalahan. 

 “Jadi..jadi..kita ke rumah Adin sekarang!” kata mereka serempak.

Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah Adin. Dengan sopan mereka mengucap salam dan dipersilakan masuk oleh ibu Adin. Betapa kaget mereka melihat Adin terbaring di atas tempat tidur sederhana di kamarnya yang sempit.

“Adin, kamu sakit, ya? “ tanya Jawad trenyuh.

Adin tersenyum. “Iya, badanku panas sudah tiga hari ini. Makanya nggak bisa mengambil sampah di rumah kalian. Maaf ya,” jawab Adin lemah. Jawad dan teman-temanya terdiam dan saling berpandangan. Hati mereka sedih melihat keadaan Adin. Betapa mereka telah berlaku tak adil terhadap Adin selama ini.

“Ngomong-ngomong kalian dari mana?”

“Dari rumah, Din. Kami datang ke sini untuk menengok kamu. Kami juga ingin minta maaf telah mengejek kamu selama ini. Padahal, kalau nggak ada kamu, alangkah kotornya rumah kami.” kata Jawad pelan.

“Iya, Din. Baru terasa nggak ada kamu semuanya jadi kotor,” imbuh Jarin.

“Maafkan aku ya …,” kata Jawad tertunduk seraya menyalami Adin diikuti teman-teman lainnya. Mereka meminta maaf atas kesalahan mereka pada Adin selama ini. Adin tersenyum. 

“Iya, tidak apa-apa. Dan nggak perlu khawatir. Kaki ayahku sudah sembuh. Besok pagi ayah sudah bisa mengambil sampah di rumah kalian.”

Mereka tersenyum, membayangkan rumah akan bersih kembali. tak ada sampah menggunung. Dan mereka berjanji tak akan meremehkan pekerjaan tukang sampah lagi. 

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment