Cerita Anak – Bakwan Jagung

Spread the love

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Cerita anak: Jeli Manalu

Versi cetak; Antologi cerita Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia, 2019

Penutur: Muthia Sayekti

 

Hatiku riang. Senyumku lebar. Penerimaan raport penaikan kelas sudah selesai. Aku sekarang kelas dua. Setiba di rumah kulepas sepatu. Kuganti dinas merah putih, dan meletakkannya di ember hitam yang selalu disediakan ibu. Aku lalu membuka tudung saji. Uh, wangi sekali masakan ini! Segera kuambil piring, sendok dan gelas. Aku duduk di kursi plastik warna merah jambu, warna favoritku.

“Bu, cepat. Aku sudah sangat lapar,” panggilku, sembari melingkarkan kedua tangan di depan mulut, agar suaraku didengar ibu yang lagi di kamar. 

Tak lama setelahnya ibu muncul dari pintu kamar. Kulihat ia melangkah sambil menggulung rambutnya yang panjang.

“Bu, ayo cepat,” ujarku sekali lagi. Aku sungguh tidak sabar. Liurku berkali-kali kutelan dan bibirku kujilat. Makanan itu sungguh menggoda mata dan tanganku. Ambil aku, ambil aku, seperti begitu makanan itu merayu-rayuku. He-he-he-he. 

Aku makan dengan sangat lahap. Uh, masakan ibuku benar-benar lezat hari ini. Ibu memasak bakwan jagung, maksudku digoreng. Pertama-tama jagung ibu iris kecil-kecil. Bumbu-bumbunya bawang merah, bawang putih, um, apa lagi, ya? Oh, kunyit dan sedikit cabai merah. Semua itu digiling halus oleh ibu. Dua batang daun bawang dan setangkai seledri dipotong pendek-pendek. Kira-kira dua mili meter ukurannya. Ditambahkan sebutir telur ayam. Garam dan sedikit gula pasir. Lalu semua bahan dicampur bersama tepung roti dengan takaran tertentu. Terakhir dituang air secukupnya. Kemudian adonan disendoki ke minyak goreng panas dalam kuali. Dibalik sesekali. Ditunggu hingga berwarna kuning keemasan, baru diangkat. 

Saat makan, ibu bertanya padaku, “Kau sungguh-sungguh suka bakwan jagung, Tiur?”

“Iya. Aku suka sekali,” jawabku, dengan suara yang kedengaran jadi aneh (mungkin seperti suara kerbau yang lagi pilek), karena mulutku penuh makanan. Jawabanku itu, jadinya terdengar kira-kira seperti ini: iyoo, agu suko sekaye. He-he-he-he-he.

“Ya sudah, cepat habiskan makananmu. Jangan sampai sisa, ya,” kata ibu.

Aku mengangguk pelan. Bunyi aagh segera muncul dari mulutku, lebih tepatnya dari tenggorokanku. Aku bersendawa, mungkin karena kekenyangan. Aku menghabiskan empat bakwan jagung dengan nasi yang sengaja kusendok sedikit saja. Kutambahkan juga kecap manis biar rasanya lebih gurih.    

Selesai makan, ibu menyuruhku membantunya mengemasi barang-barang. Sepatu, kaus kaki, sarung tangan, baju dan celana, topi, dan tak lupa jaket tebal. Semuanya disusun rapi ke dalam tas besar, kecuali sepatu ke tas kecil. Tas-tas itu kemudian diletakkan di dekat pintu. Kata ibu, kami akan pergi. Akan berlibur ke rumah kakek dan nenek di desa. Lamanya sekitar delapan hari.  

Sepanjang jalan menuju desa kecil tempat kakek dan nenek tinggal, tampaklah hamparan jagung berwarna hijau. Aku memejamkan mata sejenak. Kuhirup wangi bunga-bunga jagung, sembari mendengar lebah-lebah yang hinggap di atasnya. Saat kutanya pada ibu apa di antara jagung-jagung itu ada milik kakek dan nenek, ibu menjawab tidak. Rumah mereka katanya masih di ujung sana. Di kaki bukit yang menyerupai seekor gajah tidur. Persis di bawah belalainya, bukan perut, yang saat mengatakan kalimat itu ibu memicingkan mata padaku sambil senyum. Aku jadi kikuk. Kata ‘perut’ yang diucapkan ibu seakan meledekku yang siang tadi menghabiskan empat bakwan jagung. 

Tidak lama setelahnya kami tiba di rumah kakek dan nenek. Aku memanggil kakek keras-keras. Kekek! Panggilku. Nenek! Panggilku juga. Kakek muncul dari mulut pintu. Ia rentangkan kedua tangan. Aku berlari memeluk kakek bergantian dengan nenek. 

Di desa udaranya ternyata dingin. Lebih dingin lagi saat malam hingga pagi hari di bawah pukul sepuluh. Aku bahkan belum melepas jaket dan kaus kaki. Begitu pula dengan topi bulu-bulu. Anehnya, dari mulutku muncul pula awan saat bicara. Aku bahagia, tak harus naik pesawat supaya bisa melihat awan lebih dekat. Itu bukan awan, kata kakek. Itu uap yang ditimbulkan oleh suhut dingin. 

“Oh, ya, Kakek dengar kau sangat suka makan bakwan jagung,” kakek mengalihkan pembicaraan saat ia perhatikan aku akan bertanya lagi.

 “Apa Ibu cerita pada Kakek?” tanyaku, teringat lagi betapa kemarin aku menghabiskan empat bakwan jagung. Aku cemas saja seandainya kakek ikut-ikutan meledekku, lalu meniru suara anehku saat bicara denga mulut penuh sehingga terdengar seperti suara kerbau yang lagi pilek. Aduh, semoga saja jangan, ucapku dalam hati.

Lalu kakek menjawab, “Iya. Ibumu membicarakannya sambil tertawa-tawa di telepon.”

Hah! Aku kaget sekali. Ternyata mereka sudah membicarakanku.

“Tenang, tenang, cucuku. Tidak apa-apa. Kakek juga suka makan bakwan jagung. Kakek bahkan pernah menghabiskan tujuh buah bakwan jagung bikinan nenekmu, ” kata kekek membujukku yang cemberut.

“Lalu apa kata Nenek padamu, Kek?”

“Nenekmu bilang, ia akan lebih sering-sering lagi membuatkannya.”

Kemudian, aku dan kakek kaget luar biasa. Diam-diam ibu dan nenek ternyata sudah merencanakan sesuatu. Di depan kami kini ada dua piring bakwan jagung. Kami harus berlomba memakannya. Dan kata ibu serta nenek, kami tidak boleh membuatnya berisa. Bila tidak, jagung-jagung di ladang akan cemberut dengan cara malas berbuah. **

 

Riau, Oktober 2018

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment