Cerpen – Bening di Mata Cakra

Spread the love

Bening di Mata Cakra

Cerpen Astuti Parengkuh

Narator: Astuti Parengkuh

Editor dan ilustrasi musik: Lani dan Ketto (Radio Mosintuwu, Poso) 

 

Untuk ketiga kalinya, Cakra  menerima pesan dari ibu Bening, “Tolong, kau jaga Bening ya. Ibu tidak tahu apa yang nanti akan terjadi di sekolah. Dia nekat berangkat padahal sudah Ibu cegah.”

 “Ibu nggak usah khawatir, Bening akan baik-baik saja,” jawab Cakra. Bening Jatiningtyas, tetangganya yang teman sekelas tak mengetahui jika ibunya berkirim pesan kepada Cakra Baladewa. 

Hari sabtu sekolah pulang pagi, dan ini kesempatan Cakra untuk dapat berbincang dengan Bening. Dipilihnya taman dekat parkir sepeda. Puluhan batang pohon akasia tengah meranggas daunnya karena musim hujan yang tak kunjung datang. 

Musim yang tak selalu bisa ditebak, membawa sejumlah  kata tanya yang tak terjawab. Bangku-bangku taman yang berdebu, tanah dipenuhi daun-daunan yang berserakan, serta udara siang yang menyengat. Masih dengan tanya yang sama, ke mana perginya suara burung-burung yang biasanya berkicau. Mungkinkan mereka telah terbang di gunung atau rerimbun daun di tempat lain? 

“Bening, bisa kau duduk sebentar di sini?” Cakra menghentikan langkah Bening saat gadis itu hendak mengambil sepedanya. “Ada apa? Kamu tahu kan kejadian tadi pagi? Mau menanyakan itu?” jawab Bening beruntun.

“Maafkan aku dan teman-teman, Bening. Aku nggak bisa ngebantuin kamu. Aku nggak tahu mesti berbuat apa,” Cakra menggeser tempat duduknya.

Beberapa teman melintas sambil bisik-bisik lalu tertawa cekikikan.

“Duh, sang ‘Pangeran’ sedang duduk bersanding dengan ‘Puteri Bersisik’,” canda mereka.

Bening menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ditahannya sesak tangis yang menggumpal, lanjutan dari kemasygulan peristiwa pagi tadi. Ya, jam pertama sekolah adalah pelajaran renang dan Bening tak diberi kesempatan oleh teman-temannya untuk dapat mengikuti. Dia ingat kejadian tadi. 

“Kamu lihatlah badanmu itu. Pantaskah untuk bersama kami dalam satu kolam renang ini?” kata Vina, sang ketua kelas.

“Tapi…tapi….,” Bening lantas duduk di kursi yang berderetan di pinggir kolam renang. Pak Guru pengajar olah raga mempersilakan Bening untuk tidak mengikuti pelajaran renang pagi ini. 

Bening menggigil dalam kesendirian.

Cakra yang melihatnya dari jauh seakan mahfum apa yang menjadi keputusan pak guru. Kolam renang menjadi lengang. Bening beranjak ke loker tempat penyimpanan tas dan sepatu. Bergegas dia kayuh sepedanya, menuju gedung sekolah melanjutkan belajar.

Cakra memulai pembicaraan.

“Kamu sudah mendapatkan surat pernyataan dari dokter? Padahal saat kamu masuk sekolah di sini, tak separah keadaan sekarang,” Cakra menatap mata Bening.

“Ada sebuah beban pikiran yang mengganjal akhir-akhir ini,” jawab Bening sesaat.

“Mau bercerita?” tanya Cakra.

“Boleh, tapi tidak di sini. Nanti sore kutunggu di kolam ikan, di citywalk depan rumah kita,” jawab Bening. Dua sahabat itu kemudian mengakhiri perbincangan. 

***

Suasana kelas masih menyisakan keperihan di hati Bening. Tentang kelainan yang dideritanya, ya, kelainan yang disandang Bening sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Kondisi yang akhirnya membaik ketika dia masuk SMP. Sesekali saja kambuh, namun dokter telah mengatisipasi dengan memberikan obat yang diminumnya rutin. Saat lamunannya sedang membuai, tiba-tiba suasana dikejutkan dengan ulah Cakra yang maju dan berdiri di depan kelas. 

“Hai, kalian kawanku. Maukah sedikit mengerti tentang keadaan teman kita, Bening? Sungguh, aku telah banyak searching tentang kelainan yang dideritanya itu tidak menular. Please, don’t worry, Friends…” Cakra tak meneruskan bicaranya.

“Cakra, sudah!” Suara Bening menyela.

Cakra berhenti bicara. Tiba-tiba tenggorokannya seperti tercekat. Apalagi tatkala dipandangnya Bening yang tengah duduk di bangku, menelungkupkan wajahnya di atas meja. Sepulang sekolah, Bening bercerita kepada ibunya bahwa telah terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. 

“Ibu, aku rindu Bapak,” gadis itu merajuk. 

Bening menyusuri masa lampau. Ya, saat di mana dia kecil dulu sangat berlimpah dengan kasih sayang dan semua kebanggaan sebagai sebuah keluarga. Waktu terus mengikis kenangan hingga tak tersisa sedikit pun sesuatu yang dia kais-kais sendiri dalam perjalanannya. Sampai sebuah kesadaran menyeruak bagaikan hunjaman sebuah belati. Kesadaran yang muncul begitu saja dan amat memerihkan sekeping hati. 

Bapak hanya menyapa dan berbasa-basi di  telepon. Dan baginya tak ada yang lebih penting dari sebuah pertanyaan, “Kau sedang butuh Bapak belikan apa? Uang sakumu masih kan, Sayang?”

***

Citywalk di depan rumah lengang. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang keluar dari sebuah swalayan yang berjarak beberapa puluh meter saja dari pagar  rumah. Sebentar sore, pasti tempat ini ramai dengan reriuhan bocah, entah dari mana mereka datang. Beberapa deret batang pohon kurma menjadi pemandangan yang indah di depan sebuah komplek tempat ibadah. Nun jauh di sana beberapa ratus meter jarak pandang dari sebuah bangku kecil, kedai-kedai makanan mulai dibuka.

Masih ada waktu beberapa puluh menit lagi menunggu kedatangan senja. Senja yang biasanya diiringi semburat warna jingga dan akan menyembul di antara pucuk-pucuk dedaunan pohon kurma. Hari ini terang benderang, dan dia tak ingin melewatkan begitu saja momen itu. 

Sebentar lagi Cakra pasti akan menampakkan batang hidungnya, batin Bening. Sudah tiga tahun lamanya dia hidup bertetangga dan bersahabat dengan remaja laki-laki keturunan Timur Tengah itu. Meski ada sesuatu yang Bening sembunyikan dari  Cakra. Jawaban pertanyaan yang selalu dia tunda-tunda apalagi kalau bukan pertanyaan Cakra mengenai Bapak. Mengapa aku jarang melihat bapakmu, Bening? Atau macam begini, Bapakmu orang sibuk ya?

Benar saja, Cakra datang dengan sekantong makanan. Dia bilang bahwa baru saja kedatangan tamu dari Ambon. “Kau tahu buah kenari kan? Nah kue kenari ini buatan tante aku yang lagi bertandang di rumah.”

“Di sini lagi banyak angin. Tak bagus untuk kondisimu saat ini. Aku pernah membaca, seseorang dengan Psoriasis yang menyertainya, selain tak boleh banyak stres juga nggak boleh kenal cuaca yang ekstrem. “ celoteh Cakra.

“Kita ke rumahku? Ngobrol di teras sambil ditemani teh atau kita todong ibuku untuk bernyanyi! Hahaha… Kamu kan pandai bermain gitar. Ayolah…”

Hari kian beranjak malam. Sesuara alam dengan segera menyadarkan Cakra untuk segera pulang. Di rumah tengah berkumpul keluarga besarnya. Pasti dia sudah dinanti-nanti di sebuah lingkaran meja makan yang besar untuk perhelatan makan malam.

“Tante dan Bening boleh bertandang ke rumah. Ada sanak kerabat yang datang dari jauh. Pasti suasana bertambah semarak jika Tante bertemu dengan tanteku. Orangnya ramah, ramai kayak Tante,” Cakra berpamitan. 

***

“Mereka akan pindah rumah,” kata Mama Cakra. 

“Serius?,”Cakra keheranan. Terhenyak dia dari tempat, kursi sofa yang diduduki.

“Rumah keluarga itu sudah ditawarkan pada sebuah agen property,” kata Mama Cakra.

“Mengapa mesti dijual? Mereka kan masih bisa tinggal di rumah itu setiap waktu?”tanya Cakra mencecar.

“Bapaknya bangkrut. Rumah itu sebenarnya hendak disita oleh bank, namun ada upaya untuk menjualnya terlebih dahulu,” Mama Cakra menjelaskan lagi.

“Duh…”, Cakra berpangku tangan. Tak berapa lama tangannya meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat dia duduk. Sebuah pesan dia kirim untuk sahabatnya, Bening.

“Kamu baik-baik saja kan, Bening?” 

Pesan yang tak langsung dijawab oleh Bening. Cakra seketika berjalan cepat dan membuka pintu pagar. Beberapa langkah saja dia akan sampai lalu mengetuk pintu rumah Bening dan hendak mengatakan kepada gadis itu bahwa dia akan baik-baik saja seperti biasanya. Sebelum suara gembok pintu pagar benar-benar dia buka, mamanya tiba-tiba mengagetkan dengan sebuah tepukan di pundak.

“Mereka sudah pergi. Sia-sia saja kamu jika nekat mendatangi  rumahnya,” kata Mama Cakra. Cakra tak surut langkah. Sampailah dia di depan pintu pagar dan mendapati sebuah tulisan tertempel di dinding dan terbaca sangat jelas. 

RUMAH INI DIJUAL CEPAT. HUBUNGI NOMOR SEKIAN.

Cakra tak mengira jika Bening akan berpindah rumah dan sekolah secepat itu. Tiba-tiba ponsel yang ada di saku bajunya bergetar, tanda ada pesan masuk.

“Cakra, aku baik-baik. Masih kunanti waktu kita bisa ngobrol lagi di bangku dekat kolam ikan, citywalk depan rumah kita.”

Segera dia menjawab pesan itu.

“Aku tahu kok, kamu sekarang punya sahabat baru lagi. Ya, si ‘Luppy’. Istilah untuk kawan barumu itu kan? Jika dia telah pergi, maka datanglah ke mari, Bening” 

Sebulan lalu, Cakra mendapat kabar bahwa sahabatnya itu positif mengidap penyakit Lupus yang menyerang sebagian kulit dan kekebalan tubuhnya. Bening tetaplah bening di mata Cakra. Bening yang selalu bersemangat menjalani hari-hari dan mengukir waktu dengan segala keceriaan yang ada padanya. []

 

BIODATA PENULIS : Astuti Parengkuh nama pena lain dari Astuti J. Syahban,  lahir 12 Agustus 1971. Selain sibuk sebagai ibu rumah tangga juga bergiat di kepenulisan. Sebuah novel memoar telah lahir dari tangannya. Beberapa novel anak menghiasi perpustakaan-perpustakaan sekolah. Ibu tiga anak yang aktif di sebuah lembaga parenting ini, selain dikenal sebagai mahasiswi FKIP Psikologi Pendidikan dan Bimbingan juga tercatat sebagai relawan pendampingan pasien anak berpenyakit kelainan darah di RS. Sardjito,Yogya. Dia tinggal di Solo. Cp : 085642037129, e-mail: astutijsyahban@yahoo.com. No.rek : Puji Astuti , BRI Unit Semanggi SOLO 3094-01-015223-53-8. NPWP : 26.021.114.9-526.001 

 

 

 

 

 

  

 

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment