Cerpen- Biar Ngaco Asal Bisa Wefie

Spread the love

 Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Ditulis dan dituturkan oleh Liston P Siregar

 

Kalau kau belum tau wefie, bergaullah sama anak jaman now.Tapi baiklah, kukasih tau.Wefie itu dari kata we atau kita, bukan self atau sendiri. Jadi wefie adalah narsis rame-rame, dan sering muncul di WA grup: pas waktu reuni, besuk kawan sakit, atau kawinan anak kawan segrup.

Di jaman now, selfie agak ketinggalan karena gampang bikinnya:  cukup pergi sendirian –kasihan kali kesepian tak ada kawan- untuk makan atau minum di restoran, jepret beberapa kali dan jadilah selfie. Orang lain–yang sama kesepiannya- bisajuga masuk restoran, jepret jepret, dan jadi juga selfie.

Tapi wefie bisa bikin orang lain angek, itu bahasa Medan untuk cemburu, karena pesannya, “Oi kami kumpul-kumpul, makan-makan, ketawak-ketawak, tapi kau tak ikut” dan “Kasian kalilah kau ya.”

Dari belasan WA grupku –kalian punya berapa?- ada satu yang super kreatif , yaitu grupEsema Tiga kami dulu. Grup ini tak capek-capeknya mencoba hal-hal baru demi wefie, supaya nampak lebih jago, lebih hebat, dan bisa bikin orang lebih angek lagi.

Wefie di di WA grup lama-lama sebenarnya cuma ngulang-ngulang saja, waktu  reuni pakai baju atau oblong seragam , juga pas kawinan anak kawanatau membesuk kawan sakit, sampai saat kemalangan. Memang sakit dan kematian suami, istri, ayah, ibu, dan anak adalah berita sedih, tapi itulah, demi wefie maka semua bisa diatur.

Coba hitung, berapa kali di WA grupmu ada wefie kawan-kawan, atau kaupun ikut juga, berdiri depan karangan bunga kiriman kawan-kawan segrup, yang nama atau grup pengirim bahkan sampai dua kali lipat lebih besar dibanding nama yang wafat atau keluarga yang kemalangan. Pasti sering!

Wefie memang membawa ‘lawatan kemalangan’ ke tingkat yang berbeda dibanding sebelum meluasnya Samsung, Apple, Huawei dan media sosial serta WA grup. Dan karena perilakuwefie seperti itu sudah jadi biasa, WA grup Esema Tiga kami berupaya melaju ke depan dengan wefie. 

Kek mana caranya?Inilah dia.

Ada kawan yang usul agar membuat usaha kecil makanan karena, katanya, hampir tiap akhir pekan pasti ada bazar di mana-mana.Kawan itu membuat kalkulasi dengan biaya pendaftaran stall, pembelian bahan, estimasi pendapatan, lengkap dengan saran produk yang dijual, berupa jajanan yang tahan lama’.

“Kalau segar, sulit menyiapkan dan dan repot melayani pembeli.Masih ada lagi risiko yang tak laku jadi terbuang,” katanya. Semuanya bersemangat, kecuali aku, dan menanglah suara yang setuju  jadidiputuskan berjualan kastengel, nastar, dan brownies dengan merek Estiga Kool.

Komentarku bernada canda tapi bermakna serius, “Kalian bikin teh saja cuma teriak sama pembantu, mau jualan kue pulak.Manalah jalan.”

Tapi balasannya serba meyakinkan, seperti “Jangan anggap remeh bro, selama ini bukan tak bisa, tapi tak sempat.”Ada pula,”Belajar tak mengenal usia” disusul gambar berlatar hijau muda dengan meme dua tangan berdoa dan tulisan miring berwarna putih, “Tuhan memberkati mereka yang selalu belajar”. Tak kalah banyaknya sticker-sticker dukungan, mulai dari tuyul yang mengangkat telunjuk dan jari tengah,  pria Arab berkafiyeh yang bilang ‘Ane dukung’ sampai mendiang Presiden Suharto dengan: “Saya nyataken semua setuju.”

Maka jadilah ide usaha kecil itu, dan aku tetap tak yakin karena jualan jajanan kue kering di kotak-kotak plastik kecil sudah dijalani belasan ribu orang sejak belasan tahun lalu.Jadi apa pulak yang membuat Estiga Kool bakal dibeli orang.

Dan betul. Foto-foto bazar pertama bermunculan di grup, mulai dari persiapan mengangkat meja, merapikan taplak berwarna semarak, menyusun dagangan dengan rapi, menaruh dua papan nama Estiga Kool, sampai beres-beres penutupan stall. Kawan-kawan yang ikut jualan pakai celemek putih dan beberapa bahkan pakai topi koki masak yang panjang.

Aku tertawa terbahak-bahak besar melihat foto itu, waktu duduk di depan TV bersama istri dengan masing-masing sibuk melihat telepon genggamnya, sampai istriku tertarik mengintip walau tak terlalu paham kenapa aku tertawa padahal anak SD juga tau kalau jualan kue kastengel, nastar, brownies yang sudah ditaruh rapi di kotak-kotak plastik tak perlu celemek putih, apalagi topi koki. 

Cilakanya istriku -yang tak tahu latar belakang seluruh ceritanya- serius memahami perilaku kawan-kawanku, “Tapi kan orang itu juga jualan kopi panas,” katanya yang malah memperpanjang tawaku dan membuat istriku jengkel.Kudiamkan tawaku dan kuamat-amati lagi puluhan foto yang dikirim sepanjang hari itu dengan hanya dua pembeli, yang masing-masing difoto wefie dengan latar belakang delapan penjual bercelemek putih yang cantik dan ganteng yang tersenyum cerah.

Rasa lucu berlanjut -walau tak bisa lagi aku ketawa lepas- karena ada beberapa ucapan selamat di grup -“Ayo bro sis, semua pencapaian besar dimulai dari lagkah kecil” plus gambar Neil Amstrong waktu jalan di bulan dengan kutipan di latar belakangnya, “One small step for a man, one giant leap for a mankind”.Ada komentar dari yang ikut jualan celemek dan topi koki tadi, “Ayo yo, ramaikan, hebohkan.”

Tersenyum-senyum kecil sajalah aku menyaksikan lawakan manusia itu.

Pekan depannya muncul lagi puluhan foto yang sama, dengan celemek putih dan beberapa topi koki panjang, untuk jualan kue kering dan kopi panas, namun kali ini sama sekali tak ada foto pembeli. Walau tak selucu yang pertama, aku masih tersenyum-senyum sambil membayangkan berapa kali pakailah nanti celemek putih dan topi koki putih itu, sebelum diapkirkan karena pembantu orang itu yang masak sampai asap mengepul-ngepul dan kuah yang bercipratan pun tak akan mau pakai celemek. 

Cuma sebulan, atau empat kali jualan, Estiga Kool bubar total, dan tak ada lagi yang membahas.

Eh muncul lagi ide dari kawan lainuntuk mendirikan yayasan sosial -“Saatnya memberi kembali ke masyarakat.” Bijak kali, pikirku, sampai tak berani menyindir karena pastilah dapat cap jahat, egois, individualis, negatif, pesimis, sinis, asosial, tidak manusiawi, dan segala macam yang lainnya kalau sampai berani menyindir ide mulia yang memperhatikan ‘nasib orang-orang yang tidak seberuntung kita’, seperti salah satu pesan kawan yang mendukung gagasan itu.

Aku diam saja dan yakin, “Juga tak akan lama.”

Nama yayasannya dipilih Estiga Kasih dan langsung  pula beredar penjualan oblong berlogo Estiga seharga seratus ribu perak, biarpun kurasa kalau dipatok harga tiga puluh ribu saja sudah ada untungnya. “Sekalian sumbangan awal,”kayak gitulah pesan pengantar jualan oblong itu. Aku tak mau membeli karena tak mau tertipu.

Selain pengumpulan dana lewat penjualan oblong, mengalir deras juga sumbangan dari orang per orang, seperti laporan lengkap sang koordinator dan baru dua minggu berdiri, terkumpul dana lima setengah juta perak. Hebat juga pikirku tapi tetap ragu.

Beberapa hari kemudian album berisi puluhan foto terpajang di WA grup menayangkan kawan-kawan yang dulu juga aktif Estiga Kool dulu, dengan tambahan beberapa kawan yang saleh beragama, yang tiap pagi bangun tidur dan tiap malam mau tidur mengirim kutipan Alkitab atau Alquran di WA grup.

Album wefie Estiga Kasih dimulai dari foto sambutan oleh koordinator di depan kerumunan orang, dan kawan-kawan yang duduk serius bersama para anak yatim piatu, makanan prasmanan yang disiapkan, bingkisan buku tulis dan pulpen, serta foto bersalaman sambil menyerahkan amplop sumbangan kepada pengurus rumah yatim piatu -“Minimal sejuta,” pikirku, “Tambah makanan dan bingkisan ke anak-anak yatim, lewatlah dua juta sekali acara.”

Barulah disusul wefie sebenarnya: kawan-kawan perempuan berkebaya panjang warna mencolok sementara yang pria berbaju batik atau tenun ikat dengan senyum penuh kasih melayani anak-anak yang berbaris rapi antri untuk dapat makanan. Ada yang memegang tangan seorang anak untuk mengantarnya kembali ke mejanya setelah mengambil makanan padahal anak itu tergolong remajasehat walafiat yang bisa jalan sendiri.Juga ada foto memperlihatkan seorang kawan tersenyum ke arah kamera dengan membawa piring makanan dan gelas minum sambil berdampingan berjalan dengan seorang anak yang tampak kagok.

Tapi kurasa puncaknya adalah wefie saat makan dan usai makan. Para kawan-kawan yang hidupnya selalu penuh dengan kasih itu mendekatkan kepala mereka dari sisi kiri dan kanan ke arah seorang anak, sambil mengangkat jempol dan tertawa riang, sementara si anak memandang ke arah kamera tanpa ekspresi karena sibuk mengunyah makanan, yang perlu usaha tambahan karena daging rendang jelas bukan menunya sehari-hari. Adegan lainadalah beberapa wanita dan pria yang anggun dan gagah berdiri di belakang seorang anak dengan telunjuk yang mengarah lembut ke si anak, yang tak melihat ke kamera karena sedang berkonsentarasi memotong ayam goreng dengan garpu dan sendok, karena biasanya makan pakai tangan.

Komentar-komentar di WA tak kalah serunya, “Terimakasih sudah mewakili kasih kami” atau “Anak yatimnya sehat-sehat ya” dan “Yang berikut aku mau ikut melayani” walau ada juga pesan yang sesat, “Dahlia, cantik kali kau” maupun “John, kau beli baju ikat itu di mana, sor awak bah”, termasuk juga “Bangga awak, kalian semua kayak barisan seleb bah.”

Aku diam saja walau terasa agak perih juga di hati karena mereka mengekespolitir anak-anak yang tak punya pilihan sementara anak-anak mereka dengan mudahnya akanmenolak berwefie karena sibuk mengupload fotonya sendiri di instagram atau main game di HP-nya.

Tapi kutahan untuk tidak berkomentar kaeena kuhitungtetap saja terlalu mahal menghabiskan sekitar 2 jutaan untuk satu kali wefie.”Dua kali dan bubarlah.” pikirku.

Menjelang lebaran, kunjungan kedua ke rumah yatim terwujud, dengan modus operandi yang sama: saling sambut pidato, dan makan bersama. Jadi album fotonya tak beda jauhketika dipajang di WA keesokan harinya.

Tapi kali ini, kekesalanku meningkat tajam karena kawan-kawan yang non-Muslim menggunakan busana bergaya Muslim: yang pria pakai baju koko putih berwarna putih atau krim dengan peci hitam yang licin, sementara beberapa kawan perempuan mengenakan selendang halus -aku yakin ada satu dua yang asli sutra- yang dilingkarkan ke bagian kepala seperti kerudung, yang aku yakin cuma untuk bergaya dan bukan dengan semangat solidaritas.

Miris rasanya aku menyaksikan orang-orang yang sandiwara-nya sampai memasuki ranah agama dan memanfaatkan anak-anak yang bernasib tidak sebaik anak-anak mereka.

Jadi kutulis, “Nggak malu kalian ya, mengeksploitir agama dan anak-anak yatim hanya untuk wefie” dan kupencet tanda panah untuk mengirimnya.Entah caci maki apapun yang aku dapat nanti, tak kuperdulikan lagi.

***

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment