Cerpen – Kidung Natal

Spread the love

Download

 

 

Cerpen Effi S Hidayat

Versi Cetak: Majalah Gadis No.34, 25/12-4/1/1993

Narator: Noer Admaja

 

Panggilan Oma menyentuh gendang telinga Inez. Gadis remaja itu tersentak, menyadari dirinya masih mematung di depan cermin. Lekas-lekas dia menghapus bening yang bergulir di pipinya. Ah, kenapa harus meneteskan airmata lagi? Mata tua Oma yang masih setajam mata elang itu pasti tak dapat dikelabuinya!

Inez segera membedaki wajahnya tebal-tebal.Biarlah, asal Oma tak mengetahui bahwa dia habis menangis.Seulas senyum dipaksakannya muncul di muka cermin. Inez  harus gembira. Ya, dia tidak boleh membuat Oma sedih. Inez tidak mau lagi memandang bayangannya yang memantul di kaca.

Oh, Tuhan, tabahkan hati anak-Mu ini. Inez sempat berdoa dalam hati sebelum keluar dari kamar  mendapati Oma yang sedang menantikannya.

“Wah, cucu Oma cantik sekali!Sirkam mutiara itu serasi sekali menghiasi rambutmu. Ayo, Inez, kita berangkat sekarang. Gereja pasti sudah penuh sesak, “ Oma menyambut Inez dengan segudang pujian. Matanya gemerlap, memandang cucunya yang tampak  ayu dengan gaun Natal berwarna putih.

Hati Inez teriris mendengar ucapan Oma.Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Sirkam mutiara yang disambarnya sembarangan dari meja toilet di kamarnya itu,’kan hadiah Natal dari Mama tahun lalu? Ah, mengapa Mama dan Papa tidak datang menjemputnya? Mengapa mereka tidak bisa bersama-sama lagi mengikuti misa kudus pada malam Natal ini?

Jangan cengeng, Inez! Bukankah kamu sendiri yang tidak mengharapkan kedatangan mereka?Bukankah kamu lebih merasa damai bersama Oma tercinta? Papa dan Mama sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa dengan isterinya yang baru. Dan, Mama dengan Oom Hang? Sudah sepantasnya kamu menolak kehadiran mereka, Inez!

Berbagai perasaan berkecamuk di hati Inez.Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan sesak dalam rongga dadanya.Dia tidak ingin ikut serta menyanyikan kidung Natal yang dahulu pernah begitu disenandungkannya.  Ya, dahulu, ketika Inez masih hidup bahagia bersama Mama dan Papa.

Pikiran Inez terus mengembara, menjelajah pada suatu masa.Ketika itu keluarganya masih utuh.Alangkah indahnya kebersamaan. Tetapi kini, ke mana perginya saat-saat manis itu? Mama dan Papa tidak mencintai anaknya…keluh Inez kecewa.

Seperti robot dia duduk, berdiri, dan berlutut di sisi Oma yang tampak khidmat mengikuti misa yang sedang berlangsung.Inez tidak pernah mengerti mengapa kedua orangtuanya harus berpisah.Mengapa mereka tidak bisa rukun dan hidup damai bersama.

Dan, waktu berlari begitu cepat.Tidak terasa sudah hampir setahun Inez tinggal bersama Oma.Keputusan itu memang sudah bulat.Lebih baik Inez tidak memilih. Toh, sama saja. Inez akan mendapatkan orangtua baru.

Ajaib rasanya.Inez tidak pernah tahu darimana Tante Ella dan Oom Hang tiba-tiba muncul. Mereka datang begitu saja, seperti pencuri di tengah malam, mengambil Mama dan Papanya. Itu sebabnya Inez selalu menghindari mereka.Dia tidak suka pada Tante Ella, terlebih kepada Oom Hang yang merebut perhatian Mama.Apakah Inez salah jika merasa dirinya tidak punya siapa-siapa lagi selain Oma tercinta?

“Lihat, Inez! Anak perempuan yang berperan sebagai Bunda Maria itu Sisi, bukan?Hebat, dia sangat menjiwai perannya. Yang lainnya juga : Edu, Rega…, oh, rupanya mereka anak-anak dari  

“Tri Asih”…”, bisikan Oma menyadarkan Inez. Dia  segera membelalakkan matanya lebar-lebar ketika mendengar nama-nama yang dikenalnya.

Aha, Oma benar! Cerita Natal yang sedang dipentaskan di muka altar itu dimainkan oleh anak-anak “Tri Asih”. Sisi bermain bagus, padahal kedua matanya tak bisa melihat.Begitu pula, Edu, Rega, Rio yang melangkah tertatih-tatih dengan tongkat penyangka kaki mereka.

Inez tersenyum haru.Dia teringat kali pertama mengenal mereka.Anak-anak itu dengan penuh semangat menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untuknya.Dan, Inez merasa bahagia sekali pada pesta ulang tahunnya yang ke-15. Sungguh istimewa hadiah yang diberikan Oma! Melebihi kado-kado mahal yang diberikan Tante Ella dan Oom Hang.

Mau tidak mau Inez teringat kembali pada ucapan Sisi.Anak berusia delapan tahun itu dengan spontan tanpa malu-malu, memuji rasa cake yang dibagikan. “Mbak Inez senang ya, punya oma dan mama-papa yang  baik. Nggak kayak mamanya Sisi yang entah sekarang ada di mana. Eh, tapi biar gitu… Mbak tahu nggak, kalau Sisi suka kangeeen deh, sama Mama?” celotehnya polos sembari menjilati sisa cokelat yang bertaburan di tangannya.

Inez tidak dapat menjawab sepatah kata pun. Diam-diam dia hanya dapat menghapus sudut matanya yang basah.Sisi bilang, bahwa Inez sangat bahagia punya oma dan orangtua yang baik. Ya, Mama dan Papa memang tidak melupakan hari ulang tahunnya. Tante Ella dan Oom Hang juga.Mereka penuh perhatian kepadanya. Tetapi…, oh, Inez benci!

Lakon Natal yang dimainkan di muka altar itu cerita lama.Kisah kelahiran Yesus Kristus di kandang domba, bukti kesetiaan gadis Maria… semuanya tidak ada yang berubah.Dan, mata Inez semakin berkaca-kaca ketika di akhir cerita, Sisi dan teman-temannya menyanyi bersama.Suara mereka begitu bening.Kidung “Bahasa Cinta” yang bergema itu menyelusup ke sudut –sudut hati Inez.

“Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

Agar kami dekat pada-Mu, ya, Tuhanku

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

Agar kami dekat pada-Mu….”

Tanpa sadar perlahan-lahan hati Inez ikut bersenandung.Terasa mulai ada kesejukan yang merambati hatinya.Dia menegakkan kepalanya, berdiri di samping Oma dengan dada yang mulai terasa ringan. Kasih itu sabar, murah hati, tidak sombong, serta rela menderita….

Dan, Inez menerima hosti yang dibagikan pastor dengan kedamaian penuh.Dia mulai dapat merasakan keriangan yang bertebaran di sekelilingnya. Lihat senyum anak kecil yang berpita merah itu manis sekali! Tengok seringai ceria kakek dan nenek di seberang sana. Dan, dengarkan gelak tawa gadis-gadis muda remaja sebaya dengan dia. Wah, tidak sepantasnya Inez bersedih dalam suasana hangat, penuh cinta kasih seperti ini.

“Sisi, drama Natal dan lagunya bagus sekali!” Inez menyapa anak perempuan itu di depan pintu gereja. Misa baru saja selesai.Salam Natal sedang dibagikan di mana-mana.

“Oh, Mbak Inez!Selamat Natal ya, Mbak. Selamat Natal, Oma,” Sisi terlonjak senang mengenali suara Inez.

“Selamat Natal, Inez,” ada suara lain yang menyapa Inez. Gadis itu segera memutar kepalanya. Papa dan Mama berada di belakangnya, memandang puteri mereka sambil tersenyum.

Ah, selalu ada Tante Ella dan Oom Hang! Inez mengomeli dirinya sendiri, dia tidak dapat menghindari ketidaksenangan yang hadir tiba-tiba begitu melihat kedua orang tersebut ‘mengintili’ kedua orangtuanya.Menghalangi getaran kegembiraan yang sekejap dirasakannya begitu dia melihat Papa dan Mama. Mungkin, perasaan Inez sekarang ;  mirip balon yang tiba-tiba mengempis?

“Selamat Natal, Mbak Inez. Senaaang deh, Edu jadi adiknya Mbak!”

“Eh, Rega dan Sisi jugaa…!” Edu , Rega dan Sisi ikut bersorak riang. Membuat Inez terpaku di tempatnya.Dia memandang mereka dengan seribu pertanyaan di kepalanya.

“Inez tidak keberatan,’kan? Anggap saja kado Natal dari kami,” Mama menatap puterinya dengan lembut.

“Mereka menjadi anak asuh kami,” Papa menjelaskan.Inez melihat pula Tante Ella dan Oom Hang menganggukkan kepalanya berbarengan.

Apakah telinganya tidak salah mendengar?Adik-adik asuh? Oh,Tuhan, apakah karunia yang Engkau berikan ini tidak terlampau banyak?

Tentu tidak, Inez.Sepasang orangtua baru juga tidak terlalu banyak untukmu.Tiba-tiba Inez merasa Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaannya selama ini.Dia memalingkan wajah, menengok kepada Bunda Maria yang sedang tersenyum di kapel.

Dahulu, Maria didatangi malaikat dan dititipi pesan untuk melahirkan sekaligus menjaga seorang bayi mungil, padahal saat itu dia belum menikah.Tetapi, Maria menerimanya dengan tulus ikhlas.Ia begitu setia dan percaya kepada-Nya!

Mengapa Inez tidak mencontoh teladan Bunda Maria?Jalan Tuhan banyak macamnya, bukan?Orang-orang dewasa punya permasalahan sendiri.Mungkin, lebih baik Papa bersama Tante Ella. Dan, Mama menerima Oom Hang sebagai pengganti Papa? Ketimbang hampir  setiap malam dahulu mereka selalu bertengkar?

Inez memandang Mama.Ia tahu, kekerasan hatinya telah merintangi Mama. Karena mencemaskan puterinya yang semata wayang, Mama belum bisa memutuskan untuk menerima kehadiran Oom Hang.

“Selamat Natal, Mama. Selamat Natal, Papa. Selamat Natal, Mama Ella dan… Papa Hang,” Salam Natal itu begitu saja meluncur dari bibir Inez.Dan, dia merasa beban di hatinya telah terangkat.

Inez tidak peduli tatapan heran dari orang-orang tercinta di hadapannya.Direngkuhnya mereka satu persatu dengan mesra dan hati yang terasa ringan seperti di awang-awang.

Ya, Tuhan, andaikan dia pahami bahasa semua? Agaknya, hanya “bahasa cinta”-lah kunci semua hati! Dan, kidung Natal itu bergema ke mana-mana. Menyelusupi hati tua Oma yang diam-diam menghapus bening di matanya dengan perasaan bahagia….

 

Catatan Minggu pagi, 10122017

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment