Cerpen – Klappertaart Cinta

DOWNLOAD

Cerpen dan narator: Astuti Parengkuh

 

 

Dering suara telepon seluler panggilan dari Za mengagetkanku. “Lagi di mana? Makan di luar, yuk?!” ajak Za, teman cowok. “Hah? Kok mendadak begini? Aku lagi nemenin Mami nih, pijat refleksi sekalian Spa,” jawabku kaget. “Huh! Lalu kapan kita bisa bertemu? Kegiatan ektra kurikulermu akhir-akhir ini padat banget. Lalu, kamu mau alasan apa lagi, Lin?” Za menjawab kesal. Aku mendengar dengusan suaranya, hampir mirip kambing yang kehausan. Haha…dalam hati aku mentertawakan dirinya. Bukankah selama ini kamu, Za, yang selalu beralasan jika kuajak keluar rumah? Ingatlah kejadian dua minggu lalu saat aku meneleponmu untuk menemani renang, teman ngobrol di jalan lah. Kamu malah asyik nonton DVD terbaru koleksimu. Terus, seminggu lalu aku juga mengirim pesan. Aku ingin kamu menemaniku datang ke pameran buku. Lagi-lagi aku harus menelan kekecewaan. “Aku lagi ‘intrance’ menulis nih. Kapan lain waktu saja ya?” jawabmu ketika itu. Itu semua tentang ingatanku kepada Za.

Za, sapaan kesayanganku untuknya. Ya, hanya aku yang memanggil nama Zaquest dengan hanya Za saja. Mamanya memanggil dia, Zaky. Teman-teman sekolah menyapanya dengan Kiki. “Lintang, aku suka dengan panggilan sayangmu kepadaku,” kata Za suatu ketika. Ah, kau tak tahu saja Za, jika panggilan itu sebenarnya panggilan sayangku untuk abangku yang meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas, Bang Nizam. Aku suka memanggilnya Bang Za.

Za adik kelasku di SMP. Tahun ini dia akan lulus dan bercita-cita ingin satu SMA denganku. Aku selalu mendorongnya untuk belajar lebih giat, karena kulihat dia tipe cowok yang sangat cuek. Mungkin bisa dikatakan dia seorang pelajar yang menggampangkan segala urusan. Meski hubungan pertemanan kami lebih serius baru tiga bulan ini. Sebelumnya Za seorang yuniorku di OSIS. “Kak, boleh aku meminjam koleksi film terbarumu?” begitu awal kedekatan kami. Bukannya bertanya tentang seluk-beluk organisasi atau pinjam meminjam buku, Za malah banyak meminjam DVD koleksiku.

Dan siang ini, Za. Aku sengaja berkirim pesan kepadamu. Dengan segenggam harapan untuk waktumu kucuri, buat mendengarkan aku bercerita. Kisah yang sebenarnya telah aku pendam selama sebulan ini. Aku akan bertutur tentang kakakku. Untuk itu, aku sengaja datang pagi-pagi ke toko Bakery yang berada dekat rumah, lalu memilih kue kesukaanmu, Klappertaart. Aku tahu dari mamamu kalau kamu menyukai kue lumer yang terbuat dari kelapa muda itu. Mama kamu bahkan sampai mencoba resep itu berkali-kali guna meyakinkan kamu jika dia bisa membuat Klappertaart paling enak sedunia. Tapi, lagi-lagi kau lebih menyukai Klappertaart buatan toko roti paling terkenal di kota ini. Suatu saat kamu mesti percaya kepadaku bahwa aku telah berusaha keras juga untuk mencari resep yang pas, dari buku-buku yang aku beli baik di toko buku maupun di loakan. Aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku serius ingin membuat kue Klappertaart terenak di dunia. Aku menggumam dalam hati.

Mamiku yang mengajariku membuat kue-kue. Lalu kue-kue itu kami titipkan di kantor Mami. Setiap hari, ada-ada saja yang memesan, selain kue-kue itu yang memang sudah menjadi pelanggan para pemilik toko.

“Lintang, bulan depan ada lomba membuat Cupcake di kantor gubernur. Mami berniat mengikuti,” kata Mami suatu hari. “Hah? Beneran nih, Mom? Kalau begitu kita bikin Klappertaart aja,” kataku menyahut. “Kamu searching resep lagi ya? Tentu biar hasilnya lebih yahud dari yang selama ini sudah kita buat,” kata Mami. Aku mengiyakan kata-kata Mami.

 

***

Sore ini aku sengaja menemui Za di rumahnya. Kupanggil dia berkali-kali sampai dia nongol di depan pintu. Kusorongkan sepeda anginku untuk masuk ke pintu gerbang. Za tidak heran atas kedatanganku. Namun raut mukanya amat murung. Ada awan mendung yang menutupi wajahnya. Dia lalu mempersilakan aku duduk di teras rumahnya yang sejuk, penuh bunga-bunga yang tumbuh di dalam pot. Kelihatan sangat terawat oleh tangan terampil. Seorang perempuan keluar dari pintu samping rumah Za.

“Kenalkan, ini kakakku,” kata Za sambil mengangsurkan tangan kakaknya kepadaku. “Sisilia…” Kakak perempuan Za berkata dengan terbata. Seperti kurang jelas. Saat raut wajahku berubah dan mulutku membentuk huruf ‘O’, dengan secepat kilat Za mencubit punggungku tanpa sepengetahuan kakaknya. “Kak Sisil tuna wicara dan tuna rungu sejak lahir. Tapi dia sangat cinta kepada kami,” penjelasan Za membuat aku menelan ludah. “Aku dua bersaudara,” kata Za lagi. “Papamu?” tanyaku. “Sudah meninggal saat aku masih umur 9 tahun,” jelas Za. “Sama, dong. Aku hanya tinggal berdua dengan Mami. Kakakku meninggal beberapa waktu lalu. Cuma bedanya, Papiku meninggalkan kami dan menikah dengan perempuan lain,” imbuhku.

Kami lalu berbincang ke sana-ke mari. Bercerita dari soal buku hingga film-film terbaru. Za mengeluarkan koleksi mainan yang dikumpulkan semenjak dia duduk di SD. Ada banyak koleksi puzzlenya.

“Lintang, puzzle inilah mainan fave-ku,” kata Za sambil mengeluarkan sebuah kotak besar dengan gambar sampul seorang wanita bercelemek yang sedang menata sebuah meja makan. Sepertinya wanita itu sedang membuat sebuah kue. “Sayangnya, puzzle yang berukuran 75x100cm ini ada beberapa yang hilang di bagiannya,” kata Za. “Mainan ini pemberian Mama untuk kakakku, tapi aku malah menyukainya,” kata Za lagi.

Kulihat raut muka Za menyiratkan kegembiraan yang tak terkira saat aku bertanya tentang masa kecilnya yang penuh bahagia. Za, aku sangat iri kepadamu. Hidupmu yang sangat kecukupan, penuh dengan mainan-mainan yang mahal. Bahkan kamu pernah bercerita tentang petualanganmu yang sering bepergian bersama keluargamu di sejumlah negara. Itu saat ayahmu masih aktif berdinas. Aku? Aku dan Mami harus hidup hemat supaya kebutuhan sekolahku terpenuhi. Sesekali kami berdua pergi ke salon saat pesanan kue Mami sedang ramai.

Di sebuah diary warna biru, tulisan-tulisan Za tentang negara-negara yang pernah dia kunjungi tersimpan dengan rapi. Aku heran dengan cowok satu ini. Sifatnya yang romatis, kadang berbaur dengan sentimental dan tak jarang berlaku garang. Itu terjadi tatkala belajar kelompok guna persiapan lomba pada pelajaran biologi. Za ngotot kami mesti pergi ke laut saat mengumpulkan binatang-binatang di laut sebagai contoh. Padahal, kami sekelompok dan beda kelas, bisa membeli benda-benda itu di toko ikan hias.

***

Pagi ini Za menelepon sebelum aku berangkat ke sekolah. “Lintang, Kakak sakit. Aku mesti menjaganya. Aku bolos sekolah,” kata Za. “Hah? Sakit apa? Lho, kan kamu memang sedang libur bukan? Kan tinggal mendaftar ke SMA-ku?” kataku ceriwis.

Telepon ditutup. Tak ada keterangan lain setelah itu. Kutelepon Za kembali, namun tak diangkat. Ah, Za! Kamu semakin misterius saja! Tak ada kabar dari Za sampai beberapa hari ini. Sekolahku masih saja padat dengan kegiatan belajar-mengajar yang kadang membosankan. Ekstra kurikuler sedikit membuatku terhibur. Membuat kue bersama Mami selalu menyenangkan. Hingga suatu hari kudapatkan berita itu.

Za kehilangan kakak tercintanya. Rupanya si Kakak mengidap sakit tumor otak sejak lama. Operasi pertama di luar negeri dinyatakan berhasil. Operasi kedua kakaknya sempat anfal beberapa hari, lalu meninggal. “Aku kini hidup hanya berdua dengan Mama,” kata Za. “Sama!” sahutku. “Mama sangat kehilangan Kak Sisil,” kata Za lagi. “Kita akan membuat Mamamu bahagia,” kataku.

*** Za yang pintar, sederhana dan yang semula menyembunyikan banyak sekali rahasia dalam hidupnya, akhirnya semakin mempererat persahabatannya denganku. Terlebih saat kakak perempuan yang disayanginya meninggal. Za potret seorang adik yang ideal. Kasih sayang di keluarganya sangat bisa untuk menjadi satu contoh untukku.

Akhirnya aku dapat menarik hati Za untuk menekuni apa yang menjadi hobiku ; membuat kue. Za datang pagi itu memenuhi undangan Mami untuk belajar memasak. Za berangkat dengan naik taksi. “Selamat pagi, Tante,” sapa Za. “Pagi, Za. Apa kabar? Bagaimana Mamamu? Kau sudah minta ijin untuk hari ini kan?” tanya Mami. “Mama bilang, Za boleh belajar memasak, dan belajar menunggang kuda serta berburu,” jawab Za panjang lebar. Lalu kami bertiga tertawa bersama. Za kadang suka bercanda.

Mami telah siap dengan berbagai peralatan memasak yang kami butuhkan. Aku juga telah menyediakan beberapa tumpuk resep kue yang aku dapat dari koleksi buku mami serta kliping resep memasak yang aku gunting dari koran. “Hari ini kita telah siap, bukan?” tanya Mami. Kami bertiga terlalu asyik untuk sebuah percobaan pembuatan Cupcake Klappertaart dengan berbagai versi resep. Za begitu bersemangat. Saking begitu senangnya dia melakukan kegiatan memasak ini, tak dihiraukannya bunyi alarm hp yang memanggilnya. Mamanya memanggilnya pulang di saat langit mulai gerimis. “Mama selalu takut jika sendirian di rumah berteman dengan hujan dan bunyi petir,” kata Za. Hujan dan petir memberi ketakutan tersendiri bagi mama Za sepeninggal Kak Sisil. Sekaligus perasaan kekhawatiran mama jika Za masih berkegiatan di rumah. Namun Za sebagai anak yang baik selalu dapat mengerti keadaan mama yang di usia paruh baya ini, selalu ingin melindungi anak. Dan sekarang, di saat Za masih asyik dengan kegiatan baru, mamanya sudah memanggil dan berusaha mengingatkan Za bahwa waktunya sudah habis untuk bermain sore ini. “Kita siap untuk ikut lomba minggu depan?”tanya Mami. “Siap, Mom,” jawab kami serempak berdua.

*** Hari minggu yang kami tunggu. Bertiga kami mempersiapkan diri dengan berbagai peralatan yang sudah dipersiapkan. Za datang setengah jam lalu, dan seperti biasanya, dia diantar sopir taksi.

Aku berharap, ini adalah hari terbaik. Apalagi untuk Za yang menjadikan ini sebuah pengalaman pertama lomba memasak. Di sekolah yang baru nanti, yakni di SMA Inklusi tempat aku belajar, aku harap Za akan menemukan kegiatan ektrakurikuler yakni memasak yang tentu akan sangat menyenangkan hati.

Tentu, dengan sepenuh kasih dan cinta dari kami bertiga, aku akan berusaha membuat Cupcake Klappertaart nanti akan menjadi juara. Aku melihat Za penuh semangat. Dengan kursi roda dia masuk ke dalam mobil kami yang disetiri oleh Mami. Ya, Za adalah calon siswa baru di sekolahku. Dia murid yang berkebutuhan khusus. Za difabel, terlahir dengan bentuk kaki yang berbeda. Namun, itu semua tak menyurutkannya untuk belajar dan terus belajar. Tentang apa saja.

****

 

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment