Cerpen – Makan Malam Bersama Dewi Gandari

DOWNLOAD 

Cerpen: Indah Darmastuti

Versi Cetak: Majalah Horison, Oktober 2014

Narator: Irma Maulani

Waktu aku sampai di sana, tak ada siapa-siapa. Lalu perasaan ganjil tiba-tiba menyergap tatkala aku berdiri di depan pintu, langsung berpapas mata dengan batu kelabu perwujudan Dewa Syiwa. Menatapku, seolah memertanyakan kehadiranku.

“Aku diundang ke sini.” Tangkisku tegar meski tanpa pertanyaan. Bau harum magnolia, bersirebut dengan dupa menyesak di hidungku. Sunyi, sepi. Masih kental bau perkabungan.

Hanya meja bulat kecil tertata rapi ditutup taplak berpelisir biru pada tepi. Roti asin dan nasi dalam wadah perak, kudapan dan buah-buahan. Lalu beberapa buah pingan yang permukaannya gilap bisa untuk berkaca. Sondok dan serbet dipacak tak jauh dari cawan. Tetapi aku tak merasakan kehangatan.

Hawa yang menyambutku terasa begitu beku. Lengang sekali. Aku datang pertama, setelah aku ada siapa lagi yang akan hadir pada perjamuan ini? tentu tak banyak jika melihat jumlah kursi yang tertata mengitarinya. Di luar remang petang sudah membayang. Kelelawar-kelelawar terbang keluar dari sarang.    

Tak ada bunga dalam vas, tak ada lilin. Hanya baskom tempat cuci tangan terletak agak ke pojok kiri. Wangi magnolia makin menguat ketika aku melangkah masuk menginjak lantai dingin dan angkuh dalam tatapan batu kelabu Dewa Siwa yang penuh curiga.

“Dari  mana asal bau itu?” Aku berdehem. Lalu menyampaikan salam.

Ada langkah datang mendekat, menyeret sandal beludru hitam dengan sulaman benang emas berpola ombak. Mengenakan pakaian perkabungan yang rasanya tak akan pernah selesai itu. Tak ada perhiasan apa pun. Anting tidak, cincin juga tidak. Ia membawa seikat magnolia pada tangan kirinya. Terjawab sudah tentang wangi itu!

Langkahnya pelan-pelan, tegak dan berwibawa. Ramping pinggul itu berayun dan payudaranya membusung tanpa gentar. Rambutnya hitam tergerai kontras dengan pucat bibirnya. Aku menghela nafas. Leher jenjangnya langsung berhadapan denganku, leher tempat kecupan ciuman kakak ipar Drestrarata bermuara.  

“Silakan duduk adik.”

“Terimakasih kakak.” Ia serahkan magnolia kepadaku. Menggandeng tanganku dan menarik kursi untukku. Kuletakkan magnolia pemberiannya di sisi meja. Perasaan ganjil itu pelan lenyap oleh genggam tangannya.

Benar dugaanku. Hanya ada dua cawan, dua pinggan. Tahulah aku kalau dalam perjamuan ini tak ada lagi selain aku dan dia. Ia menuang air dalam cawan. Aku tak heran bahkan tak kuatir sedikit pun kalau air itu tumpah atau salah tuang. Dewi Gandari memang membebat matanya sejak hari pernikahannya, tetapi mata yang lain tak kalah awas. Matanya ada di sepasang payudaranya, di pangkal lengannya, di tulang panggulnya, ada di….

“Apa kabar anak-anak?” aku mendengar vibrasi suaranya menyentak otakku. Mestinya  harus ada siapa lagi selain aku dan dia dalam perjamuan ini? Dru, menantuku, mungkin.

“Mereka masih dalam suasana berduka, kakak. Atas kematian saudara-saudaranya, kerabat dan sahabat-sahabatnya, tanpa kecuali kematian para sepupu.” Lalu ia duduk setelah meletakkan cawan berisi air itu di hadapanku, tepat di hadapanku.

Kemudian diambilnya roti, diletakkan di pinggan dan ditaruh dekat cawanku. Aku kehilangan nafsu. Tetapi demi menghormatinya, aku menggigit roti itu, aku terkejut dengan rasa hambarnya. Terlalu hambar. Bukannya roti seperti ini biasanya asin?

“Mengapa tersentak adik?” Dewi Gandari telah melihatku bukan dengan matanya. Tetapi memang mata batinnya nan tajam itu sanggup membidikku. Aku harus tenang dan waspada, karena isi kepalanya adalah api. Ia sanggup membakarku hanya dengan mengirim pikiran dan terus dipikirkannya tentang kedengkian terhadapku. Terhadap rahim yang melahirkan para pembunuh anak-anaknya. Hanguslah aku.

“Mestinya kamu tak kaget. Dan mestinya kamu tahu, begitulah perasaanku. Hambar. Rasanya tak ada guna aku bertahan di sini.”

“Kakak,”

“Selesaikan makanmu, Kunti, adikku.”

Aku menggigit pelan-pelan roti hambar itu. Menggigit rasa hambar perasaannya. Ah, dia atau aku tak jauh beda, dibawa masuk ke pintu pernikahan lalu menjadi perempuan-perempuan Kuru dengan gagah berani megemban risiko bersuamikan lelaki-lelaki sembrono.

Bukankah lebih beruntung Dewi Gandari yang bisa memadu cinta dengan suami sendiri? Pemuja setia Dewa Syiwa yang dianugerahi seratus anak laki-laki dan satu anak perempuan untuk sentuhan kelembutan. Sejujurnya  aku tak suka, dan aku pernah mengatakan padanya bahwa aku tak melihat sisi baik saat ia menutup matanya dengan kain, seumur hidup. Tetapi ia keras kepala. Ia katakan,

“Itu karena aku berempati pada suamiku.” Saat aku katakan bahwa itu sama dengan ia menghina diri sendiri, dia memutar lehernya dan mengarahkan mata terbebat itu pada mataku.

“Kau tak pernah tahu penderitaanku.”

Penderitaan? Lebih menderita siapa? Aku selama menjadi istri Pandu, belum pernah sekali pun bermesraan dengannya, bercumbu, berkasih-kasihan. Tiga anakku adalah benih dari sosok lain. Belum lagi aku harus mengalami dimadu dengan Dewi Madrim yang gegabah itu. Yang lebih seksi, lebih genit merangsang. Yang akhirnya membuat Pandu tewas kala bercinta menuai karma. Aku meremas tangan betapa geram aku padanya ketika itu, mengapa ia tak hati-hati berbusana dan bicara sehingga membangkitkan gairah asmara Pandu hingga meledak ingin bercinta.

Tak sepantasnya mengenakan pakaian tipis transparan dengan potongan dada terbuka saat mengawani ke hutan untuk bersenang-senang. Sudah berkali-kali aku katakan, keteguhan dan kewaspadaan kita bisa bernego membuat hitungan dengan takdir. Sudah tahu kalau Pandu mengemban supata, kok nekat saja.  

Aku muntab, lebih karena didera cemburu. Sebab seumur hidupku, belum pernah aku bercumbu dengan suamiku. Sudah begitu, hak untuk mati dibakar menyertai jasad Pandu juga direbut olehnya. Dipasrahinya aku mengurus anak-anak, membesarkan di antara rivalnya, dipasrahinya aku untuk mengantar anak-anak itu untuk melangkah ke tampuk kekuasaan. Belum lagi sakit hati dan mata saat melihat Dru, menantuku dipermalukan di hadapan laki-laki serampangan yang tak bisa menjaga kehormatan ibu dan keluarga.

Belum lagi aku harus menanggung rasa bersalah yang tak kalah berat karena tetap bertahan bungkam menyaksikan keberhasilan dan aib Basusena, ya si Karna itu. Aibku telah ditelannya dengan sempurna, dan dititipkan pada pucuk anak panah yang dilesatkan hingga mengunjam cucuku si Gatotkaca.

Jika diingat, bukankah karena ketidak-tegasan Dewi Gandari juga yang telah membuat menantuku harus mengalami penderitaan panjang, oleh dera dan penghinaan anak-anaknya. Kurang hambar apa aku?

Sekarang Dewi Gandari mengundangku pada jamuan makan ini, untuk diajak merasakan betapa hambar perasaannya. Tidakkah ia mengerti perasaanku saat menyertai anak-anak di hutan pembuangan karena ulah suami dan anak-anaknya? Bahkan kasus pembunuhan berencana yang diserangkan padaku dan anak-anakku, ia tak sanggup mencegahnya. Anak-anakku harus menjadi pengemis sementara ia dan anak-anakknya tak pernah keluar dari nyaman istana. Pernah Dewi Gandari tidur di hutan berbulan-bulan? Tidak kan? pernah berlatih cakap kala tiba-tiba boa mengadang, babi dan serigala yang sama banyaknya? Pernah belajar mengukur dan menajamkan mata untuk melihat arah angin untuk bertenda? Tidak! ia tetap nyaman di istana.

Penghiburanku adalah mekarnya bunga-bunga, atau menyaksikan anak-anak kelinci berebut susu induknya.  Penghiburanku adalah gerimis yang membasahi rambut menantuku yang tak pernah lagi digelung dan bersisir sebelum keramas darah sepupu iparnya. Penghiburanku adalah ketika si Kembar anak-anak Dewi Madrim membacakan syair gubahannya, tentang cinta asmara, tentang pahit manis hidup, atau bermain sandiwara atau menceritakan lelucon-lelucon yang membuat tawa Bima membahana membangunkan penghuni belantara, baik tetumbuhan, hewan atau dedemit-dedemitnya. Lalu si Yudis akan turun tangan menenangkan si terganggu itu. aku tersenyum mengenangnya.

“Nah, kau tersenyum, di atas rasa hambarku.” Aku tersentak.  

“Aku memohon maaf karena Kuru harus menjadi begini.”

“Baru saja kau tersenyum, pasti karena pikirmu: lebih berbahagia memiliki anak-anak hanya lima saja setapi selamat. Daripada seratus tetapi tumpas.”

“Ampuni kami, Kakak Dewi.”

“Kau lebih berbahagia sebagai ibu, sebagai perempuan. Kau tetap mendapat penghormatan dan dihargai anak-anakmu. Tidak demikian dengan aku. Ayahnya terlalu memanjakan, tak pernah diajarkan untuk memerhitungkan aku.” Dewi Gandari menopang dagunya dengan tangan kiri. Tangan kanan menyentuh-nyentuh pinggiran pinggan seolah itu bibir jurang yang sebentar lagi akan membuat tubuhku terjengkang.

“Kau perempuan kuat, kakak.”

“Kuat? Kuat katamu? Semua penasehat terbaik di negeri ini menginginkan aku untuk mengendalikan amarah, dan tetap waras. Rela.”

“Demi kejayaan leluhur-leluhur kita, kakak.”

“Aku tak bisa. Tak bisa terus bertahan. Aku dan suamiku akan pergi dari sini. Kami akan menepi kepada kesunyian.”

“Aku akan menyertai kalian. Aku akan melayani kalian, sebagai tebusan.” Sang Dewi diam, memertimbangkan. Bahkan aku tak takut akan dihabisi oleh mereka di jalan nanti. Kalaupun itu harus terjadi tak apa. Aku akan mati dengan indahnya.

“Mari kita menua dengan anggun, kakak. Urusan dunia kita rasanya telah selesai.”

“Yakin kamu akan ikut dengan kami?” aku mengangguk. Dan sepasang bahu Dewi Gandari melunglai. Lalu ia menunduk. Suara tokek di pendapa menambah tintrim suasana. Di sana lah dahulu ksatria-ksatria Kuru menimba ilmu. Duduk mendengar para Guru mengajar. Tetapi suara tokek yang ke lima itu mengingatkan aku kala harus menyuruh Bima menyudahi raksasa Ekacakra. Yang membuat aku dimaki-maki oleh Yudis karena dianggap menyeret mereka dalam bahaya.

“Ada lagi, kakak?” ia bergeming. Tetapi bahunya terguncang, menangis dan mengepal-kepal tangannya. Kusentuh punggungnya. Ia diam, aku diam. Jadi seperti ini yang dimaksudkan undangan perjamuan makan? mencicip dan menikmati kepedihan sebagai perempuan-perempuan Kuru.

“Jika cukup, aku mohon pamit, Kakak Dewi.”

Dewi Gandari menghela nafas. Aku berbenah, meraih seikat magnolia, aku membaui sepuasnya lalu berbalik, melangkah meninggalkannya.

“Mestinya kalian menyisakan anakku barang satu!!”

Bbbrraakk!! Kedua tangan Dewi Gandari masih menyengkeram taplak meja setelah menggebraknya. Tangisnya pecah. Pecah juga dadaku. Alam gemetar, kelelawar terbang menjauh, malam beringsut. Langkahku terhenti. Dan batu kelabu Dewa Syiwa itu beku menatapku.

Kini aku tahu, penderitaanku tak ada artinya sama sekali.

“Kakak, maafkan aku.” []

  

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment