Cerpen – Makan Seisi Hutan

DOWNLOAD

Makan Seisi Hutan

Liston P Siregar

 

Terbaring terpaksa di tempat tidur, apalagi di rumah sakit, jelas tak nyaman. Begitulah penderitaanku setelah didiagnosa ada masalah di ginjal yang, menurut dokter, mungkin perlu operasi kecil dan istirahat total di tempat tidur. Dokter spesialis dengan kacamta tebal kayak pantat botol itu itu panjang lebar menjelaskan dan memberi buku kecil tentang penyakit dan pengobatanku.

Tapi aku tak ambil pusing. “Kubayar kau dan bereskanlah supaya tak kesakitan lagi awak kalau kencing. Entah apa sakitnya dan kek mana caranya, urusan kaulah itu.”

Aku rahasiakan sakitku dari banyak kawan cuma ada pulak orang sekantor yang kenal dengan kawan kuliah dulu, maka beredarlah kabar aku diopname di grup WA alumni universitas. Entah cemana pula, besoknya, berita itu menyebar ke grup WA SMA dan karena kawan SMA biasanya juga nyambung sama kawan main di kompleks dulu, menyebarlah ke grup WA anak kompleks.

Terpaksalah awak basa basi: nulis ucapan terimakasih atas perhatian orang itu semua. Bisalah klen bayangkan banyak kalilah dukungan di pesan-pesan WA: semoga cepat sembuh, sabar kau dengan pengobatan. Ada yang cuma copy paste dari pesan di atasnya, ada yang mengutip ayat-ayat suci Al-Quran dan Alkitab , yang satu menulis peribahasa, dan yang lain sempat-sempatnya menulis puisi.

Setelah makasih-makasih kutegaskan kalau aku tidak bisa dibesuk untuk sementara. Supaya mantap kubilang saja ada komplikasi diare sehingga masuk kamar isolasi. Jadi rencana beberapa kawan yang mau membesuk bisa dicegah.

Terus terang tak tahan aku dengan besuk jaman WA sekarang ini. Hampir pasti skenarionya kek gini: datanglah beberapa orang, dan setelah basa-basi, besuk ditutup dengan berfoto. Mereka akan berdiri berbaring di samping tempat tidur kiri dan kanan, terus aku di tengah. Supaya makin mantap, semuanya angkat jempol.

Bah, aku tak mau jadi obyek foto seperti itu. Dan yakinlah klen, bukan Cuma sekali. Yang tak bisa datang sama grup itu, akan cari grup lain dan’basa basi, foto bersama, plus angkat jempol’…  hmmm di jaman kampanye Pilpres mungkin satu atau dua jari.

Jadi biarpun sudah kubilang aku di kamar isolasi, kuminta ke suster kepala kalau aku tak boleh dibesuk kecuali oleh kedua anak dan istriku, yang sudah mereka kenal. Kudengar sudah ada dua grup terdiri dari enam orang dan tiga orang yang datang ke resepsionis bangsalku mau besuk, tapi berhasil ditangkal suster.

Bayangkan sudah dibilang jangan, masih juga ada yang ngotot. Ya itu tadilah.

Orang sakit dijadikan alasan kumpul-kumpul kawan lama. Habis foto di rumah sakit, modus operandi berikutnya adalah333 lanjut ke café atau restoran dan berfoto narsis lagi.

Nanti foto-foto dipajang di grup WA, dan macam-macamlah komentar yang bukan tentang si sakit. ‘”Eh si Sabar makin gemuk sekarang” atau ‘Ada si Tiur gabung, jarang-jrang itu” atau, “Makannya di mana klen, kok nampaknya enak kali.” Atau ‘Lebih mantab gabung sama yang besok, akan lanjut  ke karaoke.”

Aku tak mau jadi obyek selfi dan reuni.

***

Soal lain saran dan nasihat yang bertubi-tubi dan beraneka ragam di Grup WA. Terbaring di tempat tidur, ya awak jadi rajin juga tengok-tengok WA, biarpun jadinya bingung.

Semua orang punya buah atau sayuran yang ampuh untuk penyakit tertentu. “Bro, kau kena batu ginjal kan, jadi makanlah lemon sama semangka. Ampuh, nggak usah operasi-operasian,” tulis kawan sekuliah dulu.

“Semangka saja cukup dan sudah terbukti juga di Barat sana,” sambung kawan lain sambil narok tautan beritanya. Seorang kawan lain maju dengan, “Kau peras satu lemon terus campur sama potongan apel kecil-kecil dan kau makan tiap pagi. Beres kawan.”

Entah darimana orang itu tahu aku kena batu ginjal, kurasa Cuma Hantu lah yang tahu karena tak pernah kukasih tau. Banyak yang tanyak, tapi kujawab ‘masih nunggu hasil periksa darah’.

Yang aku bingung, kok bisalah orang-orang itu tahu kesaktian buah-buah itu dan yakin keampuhannya. Seorang kawan nulis “Entah apa persisnya masalah ginjal kau, tapi makanlah 3 apel per hari. Ada kandungan resveratrolnya untuk melindungi ginjal.” Kawan lain menimpali, “Sejatinya terapi air putih. Pagi bangun tidur, pastikan satu liter air putih. Nanti siang habis makan satu liter lagi dan juga malam sebelum tidur.”

Pusing kepala awak dibuat saran-saran itu, jadi kubaca-baca saja walau sedikit kesal. ‘Orang-orang kok sok tau semua’.

Di tengah banjir saran di grup WA, masuk pesan japri dari abang sulungku di Palangkaraya.  Dia kerja di penelitian karet dan sering beberapa hari masuk hutan tanpa internet  jadi begitu masuk kota lagi, baru dia tahu aku diopname.

Dia marah. “Bodoh kali kau. Mestinya pakai bantuan tanaman organik, ngapain perutmu sampai dibelah cuma urusan batu ginjal,” tulisnya. Aku bersabar, ini sama dan sebangun dengan puluhan pesan-pesan  WA yang memvonis sakitku apa dan memastikan obatnya.

Jadi kujawab jalani sajalah pengobatan modern ini. Tapi dia membabi buta, “Kau habis-habiskan uang untuk orang-orang yang sama bodohnya sama kau. Buah Naga itu bisa menghancurkan batu ginjal.”

Tak kujawab dan dia malah menelepon pakai WA. Dikuliahinya aku dengan fungsi tanaman organik dan aku iya-iya saja. “Kukirim nanti cara merasnya dan kalok sudah sempat operasi, bisa membersihkan sisa-sisa bekas operasi yang masih tertinggal,” tegasnya sebelum menutup telepon.

Tak lama kemudian muncul pesan WA berisi resep hebat-hebatnya dan kujawab saja pendek makasih.

Cuma dia ngecek hampir tiap hari ‘sudah kau minum’. Awalnya kucoba dengan berbagai alasan, seperti tak sempat beli dan dibalas ,”kau suruh kawanmu beli, pastilah mereka mau.”

Begitulah cek-cek terus. “Kau kok bandal kali, aku ini orang pertanian dan biokimia itu makanan sehari-hari kami,” atau ‘jangan terlalu lama kau tunggu, nggak bersih itu operasi potong perutmu. Operasi kan akal-akalan supaya kau bayar sajanya .”

Lama-lama capek juga jadi kubalas, “Kalaulah semua saran makan buah dan sayur kuikuti, kurasa sekarang ini sudah habis satu lahan hutan di Kalimantan sana kumakan.

Abangku ternyata tersinggung, “Bah kau samakan aku yang mengerti biokimia dengan orang-orang yang asal cakap. Matilah kau disitu,” tulis pesan WA-nya.

***

Sampai tiga bulan kemudian aku tak berkomunikasi lagi sama abangku itu, yang nampaknya masih marah besar. Ginjalku sendiri sudah beres tapi masih perlu periksa sekali sebulan. Di bagian bawah perutku juga ada garisan bekas pisau bedah.

Sekarang aku berbaring lagi di tempat tidur rumah sakit, juga terpaksa. Kali ini, menurut dokter spesialis setengah baya, debaran jantungku tidak stabil.

Menyebarlah kembali berita sakitku dan bermunculanlah kembali segala macam saran. Kembali Kubaca tapi tak kuanggap.

Cuma pesan WA dari abang sulungku yang kutunggu, penasaran apakah dia akan kirim saran biokimia baru tapi belum muncul.

Dan ada instruksi baru ke suster kepala selain larangan besuk, ‘apel, semangka, dan buah naga jangan masuk dalam menu buahku’

Ketika ditanya alasannya, sulit menjelaskannya, jadi kubilang saja tak suka. Tapi jelas debaran jantungku masih meningkat jika melihat apel, semangka, dan buah naga. []

Temukan kami di sini!

Leave a Comment