Cerpen – Natal yang Pura-pura, Terlambat Lagi

DOWNLOAD


Cerpen Liston P Siregar

Narator: Liston P Siregar

 

 

Walau SMAku dulu namanya Sekolah Kristen Nasrani, keadaannya tak banyak beda dengan SMA pada umumnya. Jelaslah ada satu dua sekolah di Medan di liga utama: yang banyak lulusannya yang masuk universitas negeri dan muridnya juga alim-alim. Sedang sekolahku, ya samalah dengan banyak SMA lain di Indonesia: yang masuk universitas negeri bisa dihitung jari dan kelakuan muridnya bereneka ragam.

Ada memang murid yang sopan dan patuh, tapi ada yang supermalas, atau yang tiap istirahat mojok di ujung lapangan bola untuk merokok,dan ada yang bawa majalah porno, terus ada murid yang hamil, selain yang hobi berantam, yang tukang bual, atau yang tukang nembak jajanan di kantin. Pokoknya jadi tempat kumpul semua masalah anak-anak puber.

Bedanya dengan sekolah umum lain, masuk kelas dimulai dengan nyanian Kidung Jemaat dan doa secara bergiliran. Nanti pas lonceng pulang, kamipun nyanyi Kidung Jermaat lagi dan doalagi sebelum cabut bertaburan ke luar sekolah.

Mimpin berdoa tak wajib untuk murid non-Kristen.Ada beberapa orang Islam -walau tak ada yang berkerudung- juga Budha serta satu dua umat Hindu.Tapi tunggu dulu, yang kumaksud agama di sini, mungkin cuma formalitas di kartu keluarga dan KTP karena aku yakin , seperti di kelas kami, hanya dua tiga anak yang bolehlah disebut memang taat beragama sedang yang lainnya tampaknya tak terlalu peduli. Jadi semua di kelasku, termasuk orang Budha dan Islam, tak keberatan mimpin doa. Sudah adanya kayak template, jadi marilah kita nyanyi, berdoa, dan pulang.

Begitulah kira-kira SMAku dulu, sekitar 35 tahun lalu.Tunggu dulu, ini baru pengantarnya.

***

Kini berkat WhatsApp, bisa terjalin baik hubungan alumnus SMA Nasrani, samakayak SMA-SMA lainnya. Juga sedikitnya ada dua grup, yang untuk satu angkatan dan yang seluruh angkatan.Begitu ada yang tamat maka -entah cemana caranya- admin grup WA KasihNasrani bisa memasukkannya, walau beberapa langsung ke luar.

Menurutku, dari melihat pesan-pesan WA, hampir semua anak SMA Nasrani paling tidak sudah naik satu tingkat keimanannya.Si Parlin, yang tukang berantam, misalnya, sekarang sekalu pakek Tuhan Berkati di ujung pesan WAnya. Kalau Fernando, yang dulu tak bandal dan sekaligus tak alim, tiap pagi pasti kirim potongan ayat Alkitab, dan Rajesh –anak Hindu satu angkatan di bawahku- menegaskan tak makan daging sapi tiap kali ada acara kumpul-kumpul, sementara Rahayu, yang dulu dor pakai rok dan baju ketat sampai pantat dan susunya entah kemana, sekarang pakai kerudung.

Alice yang Budha, lain lagi.Tiap Jumat dan Minggu, dia pun menulis pesan mengingatkan kawan-kawan di KasihNasrani untuk sembahyang dan ke gereja. Kek gitulah manusia, semakin tua, semakin dekat sama kematian, semakin taat beragama.

Sedangkan yang dulu memang sudah beragama serius –salah satu ukurannya adalah kalau doa masuk dan pulang sekolah panjang dan khusuk- malah jadi pendeta, kayak si Tunggul, atau pengurus gereja, macam si Sahala atau si Rosita.

Akupun kurasa agak naik tingkat karena sekarang ke gereja sudah kemauan sendiri, jadi bukan disuruh Bapak Mamak lagi. Cuma kalau di WA, tak mau awak singgung soal-soal agama: itu urusan masing-masing oranglah.  

Sabar sikit kalian, ini juga masih pengantar tapi sudah makin dekat ke cerita utama.

Eh lupa satu tadi, juga banyak anak SMA Nasrani yang sekarang bekerja di Jakarta, dan sekitarnyalah, termasuk Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi: Jabodetabek. Anak Medan kan memang suka merantau.

***

Entah ide siapa aku tak tau, tapi muncul rencana perayaan Natal alumni SMA Nasrani se-Jabodetabek. Semuanya setuju, dan sudah terpikir pula sama si penggagas supaya yang tak merayakan Natal, datang setelah kebaktian saja.Cuma begitu penentuan tanggal, ternyata tak mudah. Semuanya sudah sibuk berNatal sana sini atau jalan-jalan liburan ke luar kota. Sempat kupikir, bakal tak jadilah itu.

Ternyata salah awak bah.Diatur-atur orang itulah dan ketemulah tanggal yang hampir semuanya bisa datang, Sabtu 26 Januari. Tempatnya dapat pulak diBalai Kartini: aula besar, megah, dan di pusat kota. Semangatlah lagi pembahasannya walaupun sekelompok orang tak setuju, termasuk aku, karena Natal apa pulak di akhir Januari. “Kita bikin reuni sajalah, kok Natal.Kan kaco jadinya,” kutulis dan didukung beberapa kawan tapi dihajar oleh sejumlah besar kawan.

“Salah ngerti kau bah.Ini bukan acara cakap-cakap, senang-senang.Ini merayakan turunnya Kristus yang menyelamatkan kita semua.Masak harus kujelaskan lagi apa itu perayaan Natal,” sorong si Patar, yang dulu tukang main judi di Pajak Sore. Awak kandulu sempatnyadiajaknya ikut-ikutan main jud, tapi kudiamkan sajalah. Ada lagi yang bilang, “Ya kita bersiturahim sambil memuji Tuhan. Kan bagus.” Kawanku main basket, si Juanda yang Budha ikut nyambar: “Payah kali kau, kan tak ada salahnya memuja yang maha kuasa, kapanpun.”

Diamlah aku.

Tapi muncul masalah lain. Yang orang itu pikirnya nyewa Balai Kartini itu murah?Begitu tiap orang harus beli menyumbang 500.000 perak per orang, kutengok semangat agak turun sikit.Tapi kubu penggagas dan pendukung tak menyerah.Orang itu bikin ide, di buku acara dan kebaktian, bisa pasang iklan, untuk perusahaan atau juga pribadi. Dibikin orang itulah rancangan bukunya, lengkap dengan contoh iklan satu halaman atau setengah halaman:ada namaperusahaan tapi juga ada foto satu keluarga mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru. Tarifnya disebutkan jelas.

Bermasukanlah japri ke aku, baik dari yang sejak awal tak setuju dengan Natal di ujung Januari sampai yang tadinya semangat dan mengendor karena mahalnya sumbangan.Kubilang kalian pertanyakan saja di grup langsung, kalau aku sudah jelas keberatan.

Panas lagi perdebatan, dan muncul penjelasandari panitia bahwa biaya memang agak tinggi karena akan mengundang 50 anak-anak yatim dari salah satu yayasan Kristen. Beberapa muji, “Setuju, saatnya kita berbagi dengan mereka yang kesulitan, sejalan dengan semangat Natal’, yang lain protes, “Kurasa lebih baik kita kasih mentahannya saja sama orang itu.”

Perdebatan masih jalan, muncul poster bergambar “Mari kita rayakan kelahiran Yesus Kristus dengan penuh suka cita.” plus kutipan satu ayat di bawahnya.Poster itu dikirim ke grup secara teratur bergantian dengan peluang pasang iklan di buku acara.Beberapa pesan yang mengiringi poster-poster itu agak intimidatif, menurutku, seperti ‘Kita berikan yang terbaik bagi Kemuliaan Allah’ atau ‘Tuhan tidak pernah meminta tapi selalu memberi. Apakah kita juga sudah memberi?”.Sedang untuk menangkap yang non-Kristen, ditegaskan kalau kebaktian akan disusul ramah tamah kekeluargaan dengan hidangan buffet.

Semakin dekat acara, semakin kencang tekanannya karena poster bergambar dan iklan sampai dijaprikan ke orang per orang.Aku yang tadinya sudah mau beli dua undangan –satu untuk istriku- jadi mundur.Terganggu kali aku rasanya ditekan-tekan pakai Kemuliaan Allah atau Kemurahhatian Tuhan, jadi kubeli saja satu undangan untuk aku sendiri.

Beberapa hari sebelum acara, muncul lagi seruan agar koordinator masing-masing angkatan meningkatkan upaya membina sesama untuk Memuji Kemegahan Tuhan.Tak lama, masuk lagi japri dari si Surung, koordinator angkatan kami, yang minta kalau bisa tiap orang sedikitnya membeli dua undangan.“Sudah kita hitung seksama, bisa kok kita tutup semua biaya dengan gotong royong penuh kasih Tuhan.”

Habis itu masuk lagi beberapa japri dari kawan-kawan yang sejak awal tak setuju atau mempertanyakan kemewahan acara. “Kau datang kan Jo,” tanya si Lista, bekas pacarku dulu. “Istrimu ikut Jo?Kalau dia ikut kuajak juga istriku,” kata si Halomoan.Ada pula yang tanya, “Cemana bro, beli dua atau cukup satu. Mohon arahan,”

***

Aku akhirnya beli satu undangan, tapi pas hari acara malah tak bisa datang karena tugas mendadak ke luar kota. Rugi rasanya, sementara istriku tak mau datang menggunakan undangan seharga setengah juta rupiah itu, “Ngapain pula aku di sana.Belalatlah aku di tengah kawan-kawanmu, yang tak kukenal kali itu. Jadi agak nyesa sikit aku: kalaulah sejak awal kuikuti protes menentang Natal di penghujung Januari dan tak temakan intimidasi, selamatlah setengah juta rupiahku.

Sehari setelah acara, ada banjir foto dan video di grup WA, yang angkatan dan yang seluruh sekolah. Sebagian besar foto dan video mengarah ke panggung: barisan kor, pendeta yang sedang berkotbah, barisan pembaca ayat, anak-anak yatim piatu naik ke panggung untuk mengucapkan terima kasih, plus –sudah pasti- foto dan video selfie orang-orang yang duduk semeja. Panggungnya nampak sederhana, ada tirai merah bertuliskan “Perayaan Natal Kasih Nasrani Seluruh Jabodetabek 2018” dan di bawahnya dengan tulisan lebih kecil, “Memberi Yang Terbaik untuk Kemuliaan Tuhan”. Agak naik alisku sikit, kok mahal kali undangannya.

Cuma semakin kugeser foto dan videonya, mulai terpicu kekesalan.Makanannya nampak seru kali. Kutengok ada sop jamur, rendang, daging balado, ikan teri sambal, ayam goreng, tahu sama tempe tumis, cap cai, dan agak tersudut nampak babi panggang, persis di samping botol anggur merah. Di foto yang lain, tersaji tiramisu, es cendol, dan kue sus.  

Kugeser lagi galeri fotonya, ada banyak potongan video yang merekam karaoke lagu Sing Sing So, Situmorang, Butet, atau Anak Medan.Dan makin kugeser ternyata jauh lebih banyak foto dan videoyang merekam joget-joget pakai Lagi Syantik, Terajana, dan Kopi Dangdut.Bah, yang macam mananya, Natal jadi alasan untuk bersenang-senang.Mulai panas kepalaku tapi kutenang-tenangkan, bisa jugalah.

Cuma terbayang-bayang lagi uang undangan 500.000 perakku yang hangus dan kulihat-lihat lagi foto dan videonya lebih rinci. Bah, kulihat si Lista joget Kopi Dangdut sama si Halomoan, terus kawan-kawan yang tadinya tidak setuju dan manas-manasi aku juga makan lahap dan asyik berjoget. Tak tahan lagi kulampiaskan kemarahanku, “Yang kek gininya kalian maksud Kemuliaan Tuhan.Cuma cari-cari alasannya kalian rupanya,” sambil mereply satu foto orang itu waktu joget rame-rame.

Tapi tak ada satupun yang menanggapinya.Makin kesal, kuputuskan keluar dari grup dan, kalau ada yang japri-japrki minta masuk lagi, aku mau sok jual mahal sepukul.

Sudah dua hari lewat dan tak satupun japri masuk, yang membuat aku malah gelisah ‘jangan-jangan orang itu malah ngejek-ngejek aku’ jadi kuminta lagi si Surung memasukkan aku.‘Sorry Surung, tolong masukkan lagi aku, teleponku sempat heng.’

***

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment