Cerpen – Penafsir Mimpi dan Peramal

DOWNLOAD

Cerpen: Pangerang P. Muda

Versi Cetak: Koran Minggu Pagi, 16 Maret 2018

Narator: Astuti Parengkuh

 

Sejak terpasang, tulisan besar pada papan nama itu kerap menolehkan kepala orang-orang yang melintas. PENAFSIR MIMPI & PERAMAL. Menafsir Mimpi, Meramal Nasib, Memberi Solusi. Terpasang di bagian kiri rumah, di atas ruang yang dulunya diniatkan untuk garasi.

Di situlah kedua sahabat itu membuka tempat praktik. Sebelumnya, keduanya saling mengenalkan diri di bangku panjang sebuah warung kopi. Sebelum berkenalan itu keduanya kerap berpapasan di trotoar, sering bertemu di emperan toko, dan berkali-kali saling melihat di kerumunan pejalan kaki.

Tidak ada yang menyebutkan nama. Keduanya merasa bangga ketika mengenalkan diri dengan hanya menyebut keahlian masing-masing.

“Saya seorang penafsir mimpi.”

“Saya seorang peramal.”

Merasa saling cocok, keduanya lalu menjadi karib.

Pada persuaan berikutnya, si Penafsir Mimpi bertanya, “Dengan cara apa kamu meramal?”

“Dengan menelusuri garis-garis wajah seseorang,” jawab si Peramal. “Orang yang sudah berumur lebih mudah diramal nasibnya, dibanding yang masih belia. Yang berumur memiliki garis-garis wajah lebih banyak, jadi banyak pula yang dapat ditelusuri.”

Si Penafsir Mimpi mengangguk-angguk. Ketika sahabat barunya itu mengajukan pertanyaan serupa, ia menjelaskan, “Menceritakan mimpinya secara detail. Makin kabur mimpi itu, makin sulit ditafsir. Mimpi yang mudah ditafsir dan tafsirnya selalu tak terelakkan, adalah mimpi yang datang berulang-ulang dan selalu sama.”

Sebelum bersimpang jalan, si Peramal memberi saran, “Bukalah tempat praktik, agar kamu bisa menjalankan pekerjaanmu secara profesional.”

Sejenak si Penafsir Mimpi menimbang-nimbang, lalu berkata, “Kenapa kita tidak bekerja bersama-sama saja?”

Sejak itulah si Penafsir Mimpi menggunakan ruang sebelah kiri rumahnya sebagai tempat praktik.

***

Dengan hati girang, si Penafsir Mimpi mendengar ramalan sahabatnya. “Mulai tahun ini, pekerjaanmu akan mendatangkan penghasilan besar,” demikian terawang sahabatnya, seraya menelusuri garis-garis di wajahnya. “Orang-orang menyebutnya sebagai tahun politik. Akan banyak orang didatangi mimpi. Mimpi-mimpi mereka biasanya samar dan tidak jelas, sehingga butuh tafsir agar dapat memperlakukannya dengan strategi tertentu. Orang-orang ini akan menjadi klienmu.”

Garis-garis wajahnya belum rampung terbaca. Masih ada hasil terawang berikut, “Masa depan seseorang tidak melulu baik. Ada pula nasib buruk mengintai. Bila cepat mengetahui, tentu bisa diupayakan dielakkan.”

Si Penafsir Mimpi berdebar resah. “Seperti apa buruknya?” ia bertanya, tak kuat menunda sabar.

“Ajalmu akan datang ketika kamu sedang tidur lelap.” Murung wajah sahabatnya yang masih menelusuri garis-garis wajahnya, membuat semangatnya goyah. “Malaikat pencabut nyawa akan datang menjemputmu saat kamu sedang tidur.”

***

Sebelum klien pertama datang, si Peramal berkata, “Sebaiknya kamu menafsir pula mimpi-mimpiku.”

Menyambut antusias, Si Penafsir Mimpi merasa ini semacam pemanasan sebelum klien berdatangan. Toh sahabatnya telah pula meramal nasibnya.  

“Saya selalu bermimpi yang indah-indah, mimpi yang penuh kesenangan, penuh bahagia,” cerita si Peramal memulai. “Mimpi duduk di pelaminan dengan wanita cantik kaya-raya, menjadi pejabat yang disegani, menjadi pengusaha sukses, dan mimpi-mimpi semacam itu.”

“Mimpi cenderung terjadi sebaliknya,” kata si Penafsir Mimpi sendu, menatap sahabatnya.

“Maksudmu?”

“Mimpi baik-baik cenderung kenyataannya buruk; sebaliknya, mimpi buruk cenderung kenyataannya baik,” jelas si Penafsir Mimpi, membelalakkan mata sahabatnya.

Resah yang langsung menyergap, membuat si Peramal bertekad alam tidurnya nanti hanya didatangi mimpi-mimpi yang penuh kesusahan, mimpi yang penuh derita.

***

Sejak hasil terawang sahabatnya ia ketahui, si Penafsir Mimpi berupaya hidup tanpa tidur. Saat kantuk amat tak tertahankan, ia membesarkan hatinya bahwa ramalan sahabatnya bisa saja keliru. Ia berbaring di sofa tanpa niat untuk tidur. Namun hanya semenit, dengkurnya sudah mengalun. Saat itulah ia melihat sebuah bayangan putih melayang mendekat, sebelum hinggap di ubun-ubunnya.

Ia terkesiap, melompat bangun. Tatapnya berputar dan ia merasa linglung. Ia bersyukur masih dapat membuka mata. Ia yakin yang mendatanginya adalah sang Pencabut Nyawa, yang sesuai takdirnya akan menjemputnya kala ia sedang tidur pulas. Makin yakinlah ia pada ramalan sahabatnya.

***

Andai bisa, si Peramal rasanya ingin menyetel mimpinya menjadi mimpi-mimpi buruk. Kenyataannya, yang memasuki tidurnya masih juga mimpi yang baik-baik. Tidak sekali pun mimpi buruk datang.

“Mimpi yang terus berulang, cenderung lebih pasti menjadi kenyataan,” jelas sahabatnya tempo hari. “Kejadian-kejadian buruk akan menimpamu tanpa kamu duga dari mana datangnya.”

Merenung masygul, Si Peramal membayangkan kejadian buruk akan terjadi pada dirinya. Suatu hari ia menyeberangi jalan di depan tempat praktik, tiba-tiba ada mobil truk melindasnya. Atau suatu malam ia dihadang begal, lalu begal itu mengarit lehernya. Atau ia terpeleset di dekat pagar ruang praktik, dan kepalanya terantuk sudut pintu pagar….

Untuk mengelak dari mimpi, tentu caranya tidak memicingkan mata. Si Peramal mulai mempertimbangkan hidup tanpa tidur.

***

Tempat praktiknya mulai kedatangan klien. Ada saja orang yang bingung dan mempermasalahkan mimpinya, lalu datang meminta mimpi itu ditafsir. Selalu juga ada orang yang tidak sabar ingin mengetahui terlebih dahulu nasibnya, lalu berkunjung pula ke tempat praktiknya.

Keduanya merasa lebih nyaman, tinggal duduk menunggu. Sebelumnya, keduanya berkeliling menjajakan jasanya, mendatangi orang-orang di emperan toko atau yang berlalu-lalang di trotoar; menyambangi warung-warung kopi, lalu menawarkan jasa keahliannya. Di samping menguras tenaga, perasaan lebih sering pula terlecehkan. Sebagian besar orang yang didatangi malah mencibir dan menyangkanya tidak waras. Baik si Penafsir Mimpi, demikian juga sahabatnya si Peramal, mengalami kejadian tak jauh berbeda.

Seraya mulai menghitung klien, kedua sahabat itu berupaya pula saling mengingatkan bahwa tidur adalah ancaman bahaya. Si Penafsir Mimpi telah mengingatkan sahabatnya soal bahaya mimpi-mimpinya, si Peramal telah pula menerawang masa depan sahabatnya. Apa kata klien, bila tafsir pada mimpi dan ramalan akan nasib, pada masing-masing keduanya, malah mendatangkan malapetaka? Ini adalah pertaruhan reputasi pada keahlian masing-masing.

Keduanya lalu bertekad menjalani hidup dengan mata terus melek. Resep melawan kantuk mulai diterapkan, dari gerakan-gerakan tubuh sampai meminum ramuan khusus. Sampai di suatu pagi yang riuh oleh suara orang-orang berkerumun di depan ruang praktik itu.

***

Papan nama itu masih terpasang. Kepala orang-orang yang melintas masih suka menoleh membacanya. Namun di situ tidak ada lagi kegiatan menafsir mimpi dan meramal nasib. Sepekan lalu, si Penafsir Mimpi dan si Peramal ditemukan duduk berhadap-hadapan dengan mata menjegil, tapi tubuh keduanya kaku tidak bergerak. ***

Parepare, Jan-Feb. 2018.

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment