Cerpen – Perahu Rongsok

Perahu Rongsok

Cerpen: Indah Darmastuti

Versi cetak: Harian Minggu pagi, Minggu ke-5 Juni 2014

Narator: Maya Sandita

Editor dan Ilustrasi Musik: Lani dan Ketto (Radio Mosintuwu, Poso)

 

Tentu saja aku tahu. Aku meminjam mata mercusuar yang menjulang di pulau karang itu. Mata yang selalu berkilat-kilat memancar mengamati setiap apa dan siapa saja yang lewat. Kapal dagang, kapal kargo, kapal penumpang, kapal pesiar, kapal nelayan, kapal patroli, bahkan kapal penyusup. Mata yang selalu bersitatap dengan layar dan kemudi, haluan dan buritan. Kepadamu mata mercuku pasti sanggup menceritakan dengan rinci setiap pelayaran itu, pula mengisahkan kondisi dan situasi laut. Saat pasang naik atau pasang surut. Sulit dibedakan, mana mataku, mana mata mercu.

Suatu hari, ada seorang penerjun tersesat karena angin terlampau kuat menyeretnya, menjauh dari titik sasaran pendaratan. Jelas mata mercuku yang pertama kali tahu. Tim penyelamat datang terlambat sehingga penerjun itu sekarat berombang-ambing gelombang dengan tubuh terjerat tali-tali parasutnya sendiri.

Mata mercuku paham benar, betapa tangkasnya merpati laut mengintai dari ketinggian, menukik tajam lalu menyambar ikan-ikan kecil yang sedang riang berenang. Slaaap!! Langsung sikat! tanpa memberi kesempatan mangsanya untuk terpana apalagi berdoa.

Juga tahu pasti, kala gelondong-gelondong kayu berdiameter sedepa tangan dewasa dipindahkan dari gua garba mooi indie ke garba lain lewat kapal berbendera lusuh dan berlambung rapuh ke kapal berbendera merona pada malam buta di antara jutaan plankton yang berkeriap di permukaan laut. Biru lazuardi, hijau berkilau.  

Atau saat daging Salmon dan bibir sensual Napoleon, mekar menjadi idola di restaurant-restaurant dan hotel-hotel berkelas. Berapa saja kapal yang hilir mudik mengangkut calon hidangan utama pada jamuan istimewa itu? Yah! Dari dalam laut pindah ke piring-piring keramik China di hotel-hotel bintang lima. Tempat para konglomerat menandatangani kesepakatan-kesepakatan penting demi tegaknya sebuah singgasana. Juga kesepakatan dagang. Dari jual-beli lidi sampai jual-beli hati.

Mata mercuku tak pernah lelah menatap, mengawasi, menjadi saksi. Apakah bulan sedang purnama atau baru tanggal pertama. Bahkan saat gerhana pun, mata mercuku tetap awas. Apakah di langit sedang terhampar awan mendung gelap, awan stratus atau cumulonimbus, ketajaman mata mercuku tak perlu diragukan.

Seperti dua malam lalu. Saat ombak menderu, bintang perak dan bulan emas jatuh di antara buih putih. Sepi lebih menggigit dari sebelumnya. Sebuah gelombang besar tengah menyeberangkan perahu-perahu yang penuh bermuatan puisi-puisi dan sajak-sajak belia dan prosa-prosa yang dilumuri mimpi-mimpi prematur. Menuju sebuah tempat yang sedang merayakan pesta keringat manusia.

Lihatlah di matanya, mata para perahu itu. Mata mereka adalah laci-laci yang berisi surat-surat gadai dan tagihan utang. Beberapa di antaranya terselip surat cerai. Ah, iya. Ada juga segepok resep obat yang harus ditebus segera, sebagai trisula untuk bertarung melawan malaikat maut yang semena-mena menuding, ingin merebut nyawa suami atau anak-anaknya, atau ibunya, atau mertuanya. Gila bukan? Perahu-perahu rapuh itu harus bertempur melawan malaikat, di sebentang samodra yang bergelombang dahsyat!

Mereka berduyun datang memenuhi undangan, atau panggilan? Diam-diam menyelinap menghindar dari tangkapan kaisar laut. Menyelinap, jangan sampai kedatangannya diketahui, bahkan oleh bayangannya sendiri. Keinginannya adalah lekaslah waktu berlalu, hari berganti. Dan lekaslah sampai di negeri janji yang menawarkan koin-koin dan lembaran-lembaran penebus hidup yang sudah tergadaikan pada tahun-tahun penuh penghinaan, kekerasan dan perjuangan. Di sebuah negeri yang mengidap ironi.

Lekaslah terlewati malam-malam insomnia yang merebut tidur percuma karena dihantui sejumlah digit tagihan berbagai pajak dan pembayaran. Menanggung mulut dan perut yang tak mungkin ditenangkan dengan merebus batu-batu.  

“Menyumbangkan devisa?” itu jerit karang pemecah gelombang yang tak sudi memendam rahasia. Selalu blak-blakan apa adanya. Kadang keceplosan hingga yang mendengar mengurut dada. “Mereka datang dari sebuah kampung kecil di Riau. Yang paling muda itu, ia diambil dari kemiskinan lalu dinikahkan dengan anak lelaki tetangga desa untuk menuju kepada kemiskinan yang lain. Mertuanya ingin pergi ke Mekah butuh tambahan biaya. Kalau yang itu, yang manis berambut ikal itu, ia ingin membelikan sepeda motor buat ayahnya supaya jangan berjalan kaki saat berjualan buah di gang-gang kampong di desa tetangga. Lalu bermata sayu itu, ia ingin menyeberang karena sudah tidak tahan terus melarat. Namanya Dara. Lihat saja, penderitaan sudah menghanguskan kegembiraan hingga tak tersisa sinar di matanya. Hanya meninggalkan cekung di seputar mata seperti danau di musim kemarau. Dan lihatlah bercak-bercak cokelat tua pada pipi mudanya. Tentu kulit wajah, leher dan tangannya tak pernah mengenal sunblock atau krim-krim pemutih dan pencerah wajah. Tak mengenal scrab dan body lotion yang melembabkan kulit tubuhnya, yang jika diberi perawatan rutin, pasti tak kalah indah dengan kulit tubuh kaum ningrat atau sosialita.”

Malam sudah sangat larut saat angin laut makin menderu, entah lantang atau lancang, mengajak bertaruh bersama sepi, bersama ombak juga mata mercuku, bahwa tak lebih setahun pasti perahu-perahu itu akan kembali. Mata mercuku berharap Angin itu tidak sedang bernubuat, lalu menunggu penggenapan-penggenapan. Mata mercuku selalu berharap, biarlah mimpi-mimpi Perahuwan itu terwujud, mimpi mereka bukan jenis mimpi yang buruk.

Tetapi siapa yang tak tahu kalau di sana, perahu-perahu itu akan dipaksa berlayar siang-malam tanpa henti. Menjadi alat pengangkut yang terus didorong tanpa hati. Berputar-putar, dihalau untuk melayari laut-laut asing, ceruk-ceruk asing. Mengatasi badai. Telanjang tanpa perlindungan, tanpa jaminan.

Bahkan sinarmata mercuku sanggup menembus kabut gelap yang menyelimuti kantor-kantor atau biro-biro yang menangguk keuntungan dari pelayaran perahu-perahuwan muda itu. Saat mereka menagih upah yang tak jua terbayarkan, mereka datang pada mereka yang pernah melayarkan ke seberang itu. Tetapi ada kata sakti untuk membungkam haknya: ilegal! “kau datang secara ilegal!” Sambil memelintir kumis menjilat harta rampasan dari perahu-perahu yang membawa mimpi-mimpi kandas. Macam bajak laut yang beroperasi di darat. Mereka lupa bahwa mata mercuku sungguh tahu kalau perahu-perahu legal pun tak lebih beruntung.

Lihatlah, sambil membakar surga yang berada di telapak kaki Dara, mereka tertawa bangga, membanggakan neraka yang disunggi di atas kepalanya. Lalu mereka bersulang segelas keringat yang diperas dari pori-pori Dara dan kawan-kawan sepenyeberangan.

“Semua ada aturan mainnya. Tergantung kalian bermain dengan siapa.”

“Sudah jadi takdir kalian. Mestinya kalian tahu, bahwa tak mungkin di dunia ini semua akan bernasib mujur. Harus ada yang hancur.” Kalimat-kalimat seperti itu yang keluar dari kisi-kisi jendela dan celah pintu, yang ditangkap mata mercuku.

Makin hari, tulang belikat, tulang pipi, tulang leher Dara dan kawan-kawannya kian berterus terang. Tonjol menonjol semakin tampak tercetak. Sebulan tak digaji, untuk ganti ongkos jalan. Dua bulan tak digaji untuk bea administrasi, tiga bulan tak digaji untuk upeti. Empat bulan tak digaji untuk sandra dengan tebusan sepasang kaki jenjang yang harus rela bertualang. Menjadi sampan yang didayung dari malam ke malam.

Mata mercuku tahu, terkadang tiang gantungan menjadi jawaban atas pertanyaan Dara. Atau sebaliknya, pertanyaan itu yang digantung di tiang bendera kedutaan yang hati yang jantungnya didetakkan dengan baterai buatan luar negeri.  

“Sampai kapan kami tidak menerima gaji yang menjadi hak kami? Kami sudah bekerja dengan tenaga kami.” Itu pertanyaan terakhir yang digantung di tiang bendera kedutaan.

Cengkok lagu melayu hanya sanggup menginterupsi sejenak kerinduan Dara pada bau asin air laut dan angin liar yang membelai-belai betis kurus keringnya. Bayangan wajah ibu yang duduk merindu di depan gubug menunggunya pulang makin menyeretnya bersama mengajak kawan-kawan sepenyeberangan untuk menurunkan pertanyaan yang digantung di tiang itu.

Isakan. Airmata terburai. Semusim belum genap. Tuhan menjauh. Rindu sudah berubah menjadi hantu yang menghantui hari-hari berat. Perahu-perahuwan itu mulai lumpuh dimangsa malam. Mengembarai teluk, delta dan palung-palung. Lalu begitu saja harus pulang. Maksudnya dipulangkan. Pulang bagi mereka terlalu indah.

Maka sekali lagi pada malam buta, gelombang menyeberangkan perahu-perahu. Kala angin bungkam dan ombak teredam marah dan dendam. Bulan sudah tertusul tiang layar, bintang bimbang bersinar.

Perahu rongsok melintas, mengapung bingung diayun gelombang. Lambungnya, haluan dan buritan sudah menjadi kanvas tanpa tepi yang dilukisi caci maki. Mereka mengangkut kembali mimpi-mimpi prematur yang hancur sebelum mereka terjaga. Seperti yang sudah-sudah, yang mereka bawa bukan cenderamata, tetapi dukalara. []

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment