Cerpen – Ulos Bolean

Ulos Bolean

Cerpen Yuditeha

versi cetak: antologi Kotak Kecil Untuk Shi

Narator: Astuti Parengkuh

 

Sekarang baru pukul lima sore, tapi malam rasanya seperti datang lebih awal dari biasanya. Langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar tenggelam di cakrawala. Entah kenapa perasaanku seperti tidak nyaman. Aku duduk di teras sedang memerhatikan perubahan alam itu. Aku seperti baru menyadari kalau desa ini rasanya lebih primitif dari desa asalku, padahal desaku masih dekat dengan hutan. Waktu aku kecil dulu, kupikir hutan hanya ada di sana, di tempat di mana aku berasal. Aku membayangkan seluruh tempat selain desaku adalah kota-kota yang mewah, terlebih di pulau Jawa.

Dulu, saat kau mengatakan, akan mencari tempat tinggal untuk kita, kupikir kau tidak akan mengajakku ke tempat pedalaman seperti ini. Ingat ya, aku mengatakan begitu bukan sedang mengharapkan kemudahan-kemudahan atau kemewahan-kemewahan. Sama sekali tidak. Bukankah kamu tahu sendiri, aku juga memperjuangkan cinta kita di hadapan keluargaku. Meski awalnya mereka juga keberatan ketika aku memilihmu untuk kujadikan suami tetapi pada akhirnya mereka menyetujuinya. Bahkan ketika kau akan memboyongku ke Jawa, mereka memberiku setumpuk ulos lengkap yang mereka yakini ulos-ulos itu akan berguna bagi kehidupan kita di sini. Ulos itu adalah perlambang penghormatan kami kepada lelehur. Terkhusus untukku, mereka berharap meski aku berada jauh dari tanah Batak, semoga aku selalu ingat dari mana aku berasal.

Untuk masalah tempat ini, sejujurnya aku ikhlas. Apa yang kubicarakan tadi hanya sebatas aku mengenang bayangan yang kupunyai di masa kecilku. Dulu aku berpikir, seluruh wilayah di pulau Jawa berupa kota-kota. Segala jenis kota ada di pulau Jawa. Meski lambat laun bayanganku tentang kota-kota itu pudar oleh kedewasaanku tetapi pemikiran di masa kecilku itu terkadang masih saja muncul. Bayangan-bayangan yang kupunyai waktu itu seperti tetap ada di bawah kesadaranku. Pada akhirnya aku sungguh-sungguh diyakinkan bagaimana sebenarnya keadaan pulau Jawa, aku kesampaian menginjakkan kaki di tanah Jawa ini, pada saat aku diberi kesempatan bisa menempuh ilmu di sini. Dan hal itu semakin gamblang saat aku melaksanakan program KKN. Pada saat itu kami ditempatkan di sebuah desa yang sangat terpencil.

Kelebat seekor kelelawar sempat kulihat terbang rendah di depan rumah. Kesunyian malam ini semakin terasa. Deru angin yang menggoyangkan daun-daun pun terdengar dengan jelas. Pada saat itu aku seperti baru disadarkan bahwa desa ini sungguh-sungguh sepi. Lantas aku berpikir, laku hidupku ini seperti sebuah perjalanan untuk menjawab apa yang menjadi pertanyaanku pada saat aku kecil dulu. Sampai akhirnya bukan saja aku ditunjukkan bahkan kini aku tinggal di desa yang sunyi ini, salah satu desa pedalaman di pulau Jawa. Aku memerhatikan keadaan, rupanya malam telah benar-benar datang.

Ibu Tutik, tetangga terdekat kita (dalam arti jarak), datang bertamu ke rumah kita. Dia ingin bertemu denganmu. Kupersilakan dia masuk rumah dan duduk di ruang tamu. Aku mencarimu dan mendapatimu sedang membaca di samping rumah. Setelah kuberitahu perihal kehadiran Ibu Tutik, kita bersama-sama menemuinya.

“Kok malam-malam, Bu. Ada apa ya?” tanyamu begitu kita telah sampai di ruang tamu.

Ibu Tutik tidak segera menjawab. Kulihat dia seperti ragu-ragu bicara. Entah kenapa, aku meyakini pasti ada sesuatu. Mungkin sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan sedang terjadi. Tetapi apa itu, aku tak tahu.

“Ada apa, Bu?” tanyamu lagi terlihat penasaran.

“Tadi siang ada yang mencari Mas Bimo. Rumah sedang kosong.”

“Kami sedang ke puskesmas, Bu. Kontrol si kecil ini,” sahutku sembari kuelus perutku yang mulai membesar.

“Gimana kandungan Mbak Manurung?”

“Sehat Bu,” jawabku.

“Oya lantas gimana tadi, Bu?” tanyamu seperti tidak sabar.

“Orang itu ke rumah saya.”

“Ibu Tutik tahu, siapa dia?” tanyaku.

“Dia tidak lama. Saya tidak kepikiran menanyakan siapa dia, Mbak.”

“Lalu gimana, Bu?” tanyamu.

“Dia memberitahu, kalau bapak.. bapak Mas Bimo meninggal. Ibu Mas Bimo meminta Mas Bimo datang. Katanya jenazah akan dimakamkan esok pukul 1 siang Mas.”

Mendengar Ibu Tutik mengatakan begitu, dadaku seperti tersentak. Kabar itu seperti mengingatkan bahwa kita telah lama menjadi anak yang durhaka. Meskipun aku yakin menurutmu tidak demikian, bahkan saat kau mendengar kabar itu kau tampak biasa saja. Tidak kaget sedikit pun. Apakah dendam itu masih mendekam di hatimu? Setelah Ibu Tutik pulang, kau langsung melanjutkan membaca. Ah, kerasmu memang tak berkobar-kobar di mulut tapi mengkristal di hatimu. Kau tampak tenang saja seperti tak terjadi apa-apa. Sebaliknya dengan apa yang kurasakan. Kupikir inilah jawaban atas tidak nyamannya perasaanku tadi sore. Sejak mendapat kabar itu perasaanku semakin tidak nyaman. Aku ingin sekali mengajakmu bicara. Pikirku sebaiknya kita segera bersiap pergi melihat jasad bapak untuk yang terakhir kalinya. Paling tidak menemani ibu dalam masa berkabung ini.

Bukankah kemarin-kemarin aku selalu menurutimu? Setiapkali aku ingin menjenguk orangtuamu, kau selalu melarang karena kau menganggap bapak telah mengusirmu. Bapak sudah tidak mengakuimu sebagai anak, dan aku tahu hal itu hanya demi aku. Dulu kau tidak menuruti kemauan bapakmu untuk memilih jodoh di lingkaran keningratan kalian bahkan kau tetap nekat memilih untuk menikahiku, yang menurut bapakmu pribadi, hal ini akan memutus garis keturunan keningratan kejawaanmu. Selain itu kau akan masuk dalam dunia marga Batak. Kau akan punya nama Batak dengan cara dilemparkan ke saudaraku dan masuk dalam garis marganya bahkan nama itu nanti sampai kepada garis keturunan kita. Oleh karenanya nama margaku terhenti. Aku tahu sesungguhnya kau tidak memedulikan masalah itu karena yang kau anggap penting adalah rasa cinta itu sendiri. Cinta itulah yang menurutmu harus diperjuangkan. Tetapi keberanianmu itu membawa konsekuensi yang tidak mudah. Bapakmu marah dan mengusirmu dari rumah. Kau tidak lagi menjadi anggota keluarga mereka. Dengan ketetapan hati kau pergi dan memberanikan diri menikahiku dan akhirnya membawaku ke desa ini. Aku sangat menghormatimu, kau memang lelaki pekerja keras. Dengan tanpa membawa harta sepeser pun dari bapakmu kau mampu membahagiakan aku.

Jika boleh aku bicara, dan memberi saran, kini saatnya kita mencoba mendekat kembali ke orangtua, dalam hal ini bapakmu. Bukankah kau tahu, yang namanya bapak kandung tetaplah bapak kandung. Tidak ada bekas bapak kandung. Bapak memang seyogyanya harus kita hormati, bahkan sebangsat apa pun seorang bapak, kita tetap harus menghormatinya. Tidakkah kau ingat, dulu aku pernah menceritakan hal ini kepadamu? Bagi kami, perempuan Batak, orangtua itu penting, terlebih bapak. Bapak seperti segala-galanya. Perempuan Batak harus menyayangi bapaknya. Jika nanti perempuan itu sudah menikah, dia juga harus bisa menyayangi mertuanya, terlebih bapak mertuanya. Harusnya kau tahu bagaimana perasaanku selama ini. Pada kenyataannya aku masih punya mertua, tetapi aku seperti tak pernah memedulikan mereka, terlebih bapak. Ya, ya, ya, aku tahu, pastinya perasaanmu lebih tersiksa. Tapi tidak bisakah kau luluhkan hatimu di hari terakhir beliau ini? Mari kita bergegas pergi ke sana. Saat semua pemikiranku itu kusampaikan kepadamu, kau tetap menanggapinya dengan tak acuh.

“Kita pasti akan pergi ke sana tapi bukan sekarang. Setelah selesai pemakaman kita akan menemui ibu,” katamu.

Malam itu kau tetap memutuskan tidak pergi. Setelah perbincangan itu kita jadi saling diam. Aku yakin kita bukan sedang marahan, lebih tepatnya pikiran kita saling sibuk sendiri. Tentu saja aku berpikir bagaimana caranya agar kau mau mengubah keputusan lalu bersedia melayat esok hari. Kupikir kita masih ada waktu untuk membicarakannya, tentu saja jika kau berkenan. Sebelum akhirnya aku memutuskan tidur, aku mencoba lagi untuk mengajakmu bicara. Tapi perbincangan itu tak juga mampu mengubah keputusanmu. Akhirnya aku menyerah dan lebih dulu izin berangkat tidur dengan perasaan tidak menentu. Pada saat aku membaringkan badanku di tempat tidur, pikiranku tetap mengembara. Aku membayangkan ada seorang anak yang tega menyia-nyiakan orangtuanya. Gambaran tentang kuasa kemurkaan terus mengemuka dalam benakku. Dini hari, mataku baru merasa ngantuk. Sebelum terlelap aku masih sempatkan berdoa, memohon petunjuk kepada-Nya.

Pagi datang. Udara kurasakan lebih sejuk dari biasanya, membuat hati menjadi lebih tenang, terlebih lagi karena aku merasa telah menemukan caranya. Cara agar aku bisa pergi menemui ibu. Oh, tampaknya Tuhan memberi jawaban atas doaku. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan rumah dan mempersiapkan makan untukmu, aku segera mandi. Selesai mandi aku mengenakan pakaian yang cocok untuk situasi berkabung. Nantinya aku akan mengenakan selendang Ulos Bolean. Selain itu aku juga akan membawa ulos Ragi Pakko yang jika memungkinkan rencananya akan kubentangkan sebagai selimut di peti mati bapak. Ini lambang penghormatan di adat kami untuk orangtua yang meninggal. Dengan cara itu semoga kamu bisa memakluminya. Bukankah kau sangat menghargaiku sebagai orang yang berbeda? Jika kau tak berkenan datang, aku yang akan datang sendiri mewakili segenap jiwa kita untuk penghormatan kepada bapak. Jika kamu nanti berubah pikiran dan bermaksud ikut, masih ada satu lagi ulos Bolean. Kau bisa menggunakannya sebagai ikat kepala.

Pada akhirnya aku memberanikan diri menyampaikan semua itu kepadamu. Tapi kurasa merasa tak ada tanggapan yang berarti darimu aku langsung berlalu menyiapkan perlengkapan bepergian. Pada saat aku sibuk menyiapkan perlengkapan itu, kau mendekatiku.“Ulos Bolean yang satunya kautaruh mana?” tanyamu.

***

Temukan kami di sini!

Leave a Comment