Choco Jasmine

Spread the love

Penulis : Fitri Nganthi Wani
Narator : Yessita Dewi

 

DOWNLOAD

Perkenalkan namaku Jasmine. Kata ibu dulu ayahku pernah membuatkan ibu minyak wangi alami dari kelopak bunga melati. Dari semangkuk penuh bunga melati, hanya menghasilkan beberapa mililiter saja, tetapi harum sekali baunya.
Ayah menyimpan hasil kerja kerasnya itu dalam botol kaca kecil lalu memberikan pada ibu sebagai hadiah pernikahan. Ibu bilang, ia senang sekali dan sering memakai minyak wangi itu setiap bepergian, juga di malam hari saat ibu tiba-tiba terbangun karena bermimpi buruk, ibu meneteskan minyak itu sedikit di bantal tidurnya. Aroma itu selalu berhasil membuat perasaannya tenang sampai ia kembali tertidur.
Ibu sangat menyukai aroma minyak melati. Hingga saat ibuku hamil lalu melahirkanku, ibu memberiku nama Jasmine, bahasa inggris dari bunga melati.
Ayahku memiliki indera penciuman bagus. Ia pemilik kedai kopi terkenal di kota kami. Kedai kopi ayah selalu ramai karena kopi yang diramunya ayah bisa membuat ketagihan sehingga pengunjung selalu ingin datang lagi.
Ayah mengandalkan indera penciumnya untuk memilih biji kopi. Tetapi ayah tak mengijinkan aku terlalu banyak minum kopi, karena aku masih kecil. Tetapi ayah akan membuatkan minuman cokelat spesial setiap aku dan ibu datang ke kedai. Spesial, karena cokelat dicampur dengan ramuan racikannya sendiri. Ayah memberi nama minuman itu “Choco Jasmine”. Yang artinya coklat untukku, Jasmine.
Suatu hari saat libur sekolah, tanpa ibu aku ke kedai ayah hampir seharian, cuaca mendung sekali kala itu lalu hujan turun amat deras. Kedai ayah ramai orang ngopi sekalian numpang berteduh dari hujan yang awet itu. Ada beberapa anak seusiaku yang juga berteduh bersama orangtuanya.
Aku duduk di dekat jendela kaca menikmati choco jasmine sambil mendengarkan suara hujan berpadu dengan suara Sia penuh semangat menyanyikan lagu “Titanium”, kesukaan ibu yang diputar di kedai ayah.
Aku mengamati beberapa orang tampak kecewa karena kedai ayah tidak menyediakan minuman untuk anak-anak. Jadi para orangtua itu hanya bisa membeli kopi tanpa membelikan minuman lain untuk anaknya. Tetapi ada seorang anak duduk tak jauh dari mejaku, ia bertanya pada ibunya sambil menunjukku,
“Ibu, dia juga meminum kopi. Kalau dia boleh, kenapa aku tidak?” Ibu itu melihatku heran lalu menghampiriku.
“Hai anak manis, apa kamu minum kopi?” ia bertanya. Aku menggeleng kepala.
“Bukan, Tante.” jawabku singkat.
“Lalu apa yang kamu minum itu?” tanyanya lagi. Sambil menunjukkan isi gelasku aku menjawab,
“Ini, Tante. Namanya choco jasmine.” Ibu itu mengamati isi gelasku.
“Ini cokelat hangat ya?” tanyanya lagi.
“Betul, Tante. Tapi cokelat ini beda. Rasa dan aroma coklat ini sangat enak. Ini minuman favoritku, paling enak dibanding semua minuman yang pernah kucoba di dunia ini,” tambahku meyakinkan. “Ayah membuatkan spesial untukku bila aku datang ke kedai ini.” Ibu itu semakin penasaran.
“Kamu anak pemilik kedai ini?” ia bertanya lagi.
“Betul, Tante. Pemilik kedai ini adalah ayahku,” jawabku tersenyum bangga.
Kemudian ibu itu mendatangi meja ayah. Ia sedang meracik kopi untuk pelanggan.
“Bolehkah aku memesan cokelat seperti yang kau buatkan untuk anakmu itu? Anakku ingin minum tapi tidak ada yang lain selain yang ada di daftar menu kedaimu. Jika boleh aku akan membayarnya dua kali lipat dari harga kopi yang kuminum.”
Ayah melihatku sebentar kemudian tersenyum lebar, “Tentu saja. Akan kubuatkan secangkir choco jasmine untuk anakmu dengan senang hati,” Jawabnya dengan ekspresi penuh semangat.
“Tidak usah membayar. Karena aku hanya butuh cinta dari putriku saat membuat minuman ini. Jadi kita buat sama saja seperti itu.”
Lalu ayah mendekatkan wajahnya pada anak itu, “Bayarlah dengan cintamu kepada ibumu ini,” lanjutnya sambil mengedip sebelah mata; ia memang ramah dan suka bercanda. Rupanya anak itu senang juga, lalu mengangguk berkali-kali.
Tak disangka, permintaan orang itu terdengar juga oleh pelanggan lain. Mereka yang membawa anak ikut-ikutan memesan hingga akhirnya bertambahlah kesibukan ayahku. Aku melihat dari jauh, ayah tampak kewalahan.
“Apa ayah butuh bantuan?” Tanyaku saat berada di dekatnya. Ayah tersenyum sambil mengelap keringat di dahinya.
“Bantulah apa yang kamu bisa, Jasmine. Mungkin kau bisa mulai dengan menyiapkan cangkir-cangkir dan menatanya di atas meja. Nanti biar ayah meracik dan menuang isinya. Atau bawalah lap dan ember kosong ke meja-meja pelanggan kita, ambil gelas kotor dan jika kamu mau, cucilah cangkir-cangkir kotor itu,” kata ayah rinci. Aku mengangguk penuh semangat.
“Siap, komandan!” kucandai ayahku dengan memberi tanda hormat layaknya seorang perajurit. Kulakukan semua yang diperintahkan tadi.
Waktu berlalu begitu cepat. Hujan mereda, berganti suasana sore cerah serta aroma choco jasmine yang semerbak memenuhi kedai ayah. Beberapa pengunjung mulai meninggalkan kedai, juga mereka yang membawa anak-anak. Aku membereskan semua sisa cangkir di meja. Kuhitung jumlah cangkir yang terpakai. Ada delapan puluh cangkir. Mataku berbinar. Delapan puluh cangkir bekas choco jasmine yang isinya habis tak bersisa!
“Aku tidak sabar ingin segera menceritakan pengalaman hari ini pada ibu, Yah,” kataku saat kami hendak menutup kedai malam itu.
“Ayo kita segera pulang. Ayah juga tak sabar ingin melihat wajah ibumu yang pastinya akan senang mendengar ceritamu.”
Jauh dalam hatiku, ada alasan lain dari gembiraku hari itu. Aku merasa dicintai banyak orang melalui choco jasmine buatan ayah. Banyak orang yang ternyata menyukai choco jasmine. Hatiku terasa sangat hangat karena bahagia. Sehangat secangkir choco jasmine yang dibuatkan ayah untukku.
***
Oiya, aku juga akan bercerita tentang ibuku. Ia perempuan hebat idolaku. Tetapi ibu mengidap penyakit lupus, gangguan kekebalan tubuh yang kerap membuat ibu banyak di rumah karena penyakit itu pantang terlalu lama terpapar matahari. Itu akan melemahkan stamina ibu lalu munculkan ruam-ruam merah bersisik pada kulitnya.
Kata ibu rasanya sangat tidak nyaman. Perih dan sangat gatal. Penyakit itu juga yang sering membuat ibu opname, karena gangguan itu menyebabkan sel-sel pertahanan tubuh ibu memproduksi pasukan imun secara berlebihan yang justru berefek menyerang sistem pertahanan tubuh ibu sendiri karena jumlahnya terlampau banyak.
Sering gangguan itu menyerang jantung, ginjal dan saluran pencernaan ibu sehingga membuat ibu vertigo yang membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Begitulah ibuku, fisiknya lemah tapi tidak dengan jiwanya.
Aku percaya ibu berjiwa kuat. Dia mampu membuat suasana sekitar terasa indah menyenangkan. Bahkan hingga sekarang, saat usiaku 14 tahun, aku masih sering minta tidur bersama ibu. Berada di sampingnya membuatku merasa nyaman. Ibu kaya imajinasi dan pendongeng handal. Membuatku berhasil tidur lelap dan bermimpi indah tentang superhero karangannya.
Aku diam-diam meyakini, ibuku sebenarnya wujud nyata dari superhero-superhero yang diceritakannya itu. Ibu selalu berhasil melawan semua rasa sakitnya. Bahkan pada tengah malam saat ibu terserang vertigo dan membuat ayah panik, ibu masih sempat bercanda:
“Jangan panik. Anggap aku ini Wonder Woman yang sedang menyerap energi pada mahkota di kepalanya.” Atau di lain waktu saat tiba-tiba ibu mendapatkan nyeri hebat di sekujur tubuh yang membuatnya sampai kesulitan bergerak, ibu hanya menanggapi gangguan itu dengan candaan, “Aku sedang jadi Erza Scarlett yang mencoba kostum perang yang terbuat dari serat-serat baja. Cuma butuh beberapa waktu untuk beradaptasi dengan ini. Besok aku pasti bisa bergerak lagi.”
Aku kagum pada ibu. Dalam perjuangan melawan sakitnya, dia masih memasak untuk kami bertiga, menenamiku belajar, membereskan rumah, bahkan membantu ayah mengurus kedai kopinya.
Ibu juga mencintai sastra. Ia gemar membaca buku dan sering menulis cerita inspiratif lalu diunggah ke dunia maya yang membuatnya memiliki banyak teman. Pernah juga karya tulis ibu dibeli dengan harga cukup tinggi, tetapi uangnya justru ibu gunakan untuk membantu tetanggaku membayar biaya sekolah anaknya yang terlambat berbulan.
Ibu mengajariku untuk menjadi perempuan yang tangguh, berwawasan luas dan selalu berpikir positif. Ibu penuh ide mengagumkan sekaligus penuh empati dan kasih sayang. Yang paling membuatku kagum: ibu tidak pernah takut pada segala bentuk rasa sakit.
Kami juga sering berbagi cerita. Seperti malam ini. Aku bercerita tentang kejadian menyenangkan di kedai ayah tadi siang. Aku yakin ibu senang mendengarnya. Sesampai di rumah aku langsung menuju kamar ibu, aku ingin tidur bersamanya. Kuketuk pintu kamar itu.
“Ibu, bolehkah aku masuk?” tanyaku dari luar sambil melongok kepala. Kulihat ibu sedang membaca buku di atas kasur lalu meletakkan buku itu dan menghampiriku.
“Ada cerita apa hari ini?” kulihat senyum mengembang di bibirnya.
“Hari ini seru sekali, Bu.” aku membuka cerita penuh semangat. Lalu kusisahkan semua kejadian menyenangkan di kedai tadi dengan sangat rinci. Mata ibu berbinar.
“Ibu tahu tidak? Delapan puluh cangkir! Banyak sekali bukan? Semua orang suka choco jasmine!” kataku penuh semangat. “Ayah harus mulai menjual choco jasmine besok. Ibu pasti juga setuju. Iya kan?” Ibu tertawa sambil mengangguk.
Ayah baru saja bergabung dengan kami seusai mandi. Ia sedang menyisir rambutnya.
“Kau ini anak hebat, bisa melihat peluang baik. Ayah kagum padamu,” katanya kemudian.
Mulai hari itu, choco jasmine menjadi menu baru di kedai ayah dan dekai ayah makin ramai. Kini kedai ayah tak hanya dikenal bukan hanya kedai kopi, tetapi juga menyediakan menu coklat yang unik dan nikmat. []

Temukan kami di sini!

Leave a Comment