Cerpen – Jhegeh

Jhegeh

Cerpen : Stebby Julionatan

Narrator: Stebby Julionatan

download

“Kamu masih menari?”

Tiga puluh menit yang lalu tubuhnya hampir menubruk Esha di mulut ruang ganti. Ia tiba-tiba menyeruak begitu saja. Hampir merobohkan sekat ruangan itu. Ya, ruangan ganti itu sebenarnya hanya sebuah sudut di belakang anjungan. Disekat sebegitu rupa hanya untuk memberikan keleluasaan pada kami, para penari, untuk bersiap dan berganti kostum.

“Kau punya waktu?” Tanyanya ragu-ragu. Seperti tak percaya jika kini benar-benar melihatku ada di hadapannya. Aku menangkap sorot mata itu. Legam telaga yang sanggup menenggelamkan siapapun dalam pesonanya.

“Hai, kamu punya waktu?” Fiuh, hampir saja aku terpeleset di sana. Suaranya kembali membentur dinding kesadaran. Aku menunduk cepat. Menaruh dan merapikan hiasan rambut yang masih kupegang. Tak ada pilihan, aku lantas menggangguk.

Ya, aku lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Bahwa setelah bertahun-tahun pasca kepergiannya aku masih tetap menekuri takdirku. Menari.

“Kau tak ingin pindah ke sini?” Ia lanjutkan pertanyaannya saat kami sudah duduk di salah satu bangku taman. Lampu-lampu bola yang membiaskan cantik cahayanya. Sehari sebelumnya, saat aku baru tiba, lampu-lampu taman tersebut rupanya sengaja dipadamkan untuk memperingati Earth Hour. Jadi aku baru tahu kalau ternyata pemandangan dari bangku taman ini ternyata cantik dan… ro-man-tis.

Aku tersenyum samar. Berusaha menahan pias merah yang kurasakan menyembul di pipiku. Sama seperti ketika sejurus kemudian aku menarik nafas dalam, belum berniat untuk menjawab semua tanyanya. “Kau pasti sudah jadi artis terkenal kalau kau menetap di sini,” ia melanjutkan.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku di sini?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Aku sedang bersama teman-temanku. Kupikir, seperti apa asyiknya berkunjung ke TMII di malam minggu? Sudah bosan terus-terusan nongkrong di Starbuck,” ia nyengir. Lantas melanjutkan kembali ceritanya. “Kami berkeliling dan… ketika lewat di depan Anjungan Jawa Timur kulihat ada ramai-ramai. Aku penasaran ada apa. Maka kuminta pada teman-temanku untuk menurunkanku di sana.”

“Tak keluar negeri lagi?” Aku menyela keheningan yang kemudian terasa tak berjarak dari kami. “Aku sering melihatmu di tivi,” kataku.

“Kamu juga sering mengintipku di IG.” Mukaku terasa panas. Ketahuan sering mengintip instagram-nya. Dari ekor mataku aku melihatnya kembali nyengir. Menahan tawa. “Belum. Kan jazz festival baru saja selesai.” Jawaban kali ini ditatanya dengan serius.

Aku tak heran jika kini ia sering keluar negeri. Terbang ke sana-sini seakan jaraknya cuma beberapa meter dari rumah. Mendapatkan undangan dari negara-negara yang tenggah menggelar pertunjukan jazz berskala internasional. Ya, perkusi adalah talentanya. Sejak kami kecil, Mbah telah mengenalkannya pada banyak alat musik tradisional. Pada gong yang menggaung, pada bonang yang berdengung, pada sitar, peking, gambang, demung, suling, kempul, siter dan… kendang pastinya. Ia kini adalah seorang perkusian yang cukup ternama dan dihormati di negeri ini.

Ya, sama tak heranya aku jika kini tampilannya pun berubah. Untuk menaklukkan Jakarta, semua memang harus diubah sesuai standar kota ini. Wajah bersih, maskulin, badan bidang dan… harum. Aku sempat melirik bungkus rokok yang menonjol di saku bajunya. Aih, betapa kini aku telah kehilangannya. Betapa sekarang, aku tak lagi punya hak untuk melarang-larangnya.

“Kau tak ingin pindah ke Jakarta?” Ia mengulangi pertanyaannya. Tak lagi ada logat Sakerah atau medhok Jawa Timur yang kutemukan dalam tuturannya. Tiba-tiba aku merasa hatiku kembali dihinggapi kehilangan untuk kedua kalinya, di saat yang sama.

Ya, pertanyaan itu menghempaskanku pada peristiwa 8 tahun yang lalu. Sebuah lorong. Untuk terakhir kalinya aku menatap bayang punggungnya menjauh dari teras rumah. Sore itu, pertengkaran antara Bagus dan Mbah tak terhindarkan.

*****

“Bagus”

“Tiara,” jawabku ringkas, merespon perkenalannya. Beberapa detik tatap di awal pertemuan yang membuatku mawas kalau legam telaga di matanya bakal menyedot hati siapapun untuk terperosok ke dalamnya. Termasuk Mbah.

Ya, tak perlu waktu lama bagi Bagus untuk menarik perhatian Mbah. Mbah tak punya anak laki-laki. Pun begitu pula dengan kedua cucunya, aku dan Maria, semuanya perempuan. Maka dengan cepat Bagus menjadi kebanggaan Si Mbah. Apalagi, dengan paras dan talentanya yang terus diasah, ia adalah kebanggaan bagi kami semua, di Sanggar Mardi Luhung. Kehadirannya mengangkat kesenian sanggar kami ke permukaan. Undangan demi undangan berdatangan, meminta kami untuk manggung.

Bagus, yang kala itu, kehadirannya di pintu rumah kami seperti hantu –sebab surup-surup datang, meminta diri untuk dibimbing belajar kendang, bahkan aku masih ingat, saat itu dia belum mengganti seragam sekolahnya, kini menjadi cucu kesayangan Si Mbah. Tiga tahun ia menggeser posisiku –kurasa sampai sekarang pun masih sama, posisi yang tak pernah kududuki di hati Mbah. Sampai kejadian sore itu…

“Tari adalah bahasa tubuh yang sakral. Ia bersemayam pada hidup, dan merupakan persembahan agung pada Yang Mpunya Hidup,” seringkali Mbah mengulangi kata-kata ini selepas kami berlatih nari, termasuk hari ini. “Sengkok riyah tak setujuh mon Lengger dedih komersil. Etontonagih biasa padenah dangdut.”

Mbah memang sangat tidak sepakat jika Lengger menyentuh wilayah-wilayah komersil. Dipertontonkan tanpa menghormati yang magis. Hanya untuk lipstik. Apalagi, jika hanya untuk mengisi pembukaan acara-acara pemerintah.

“Tapi Mbah tahu, siapa siapa yang di sini, yang diam-diam main di luar tanpa sepengetahuan Mbah,” suara Mbah tiba-tiba berubah dalam, menyelam jauh ke dalam hati kami. Anak-anak sanggar menunduk. Tak ada yang berani menatapnya.

“Penari di Pasar Mbabian itu hanya merusak citra Lengger. Tak seperti itu harusnya penari Lengger. Minum. Badan ditowel-towel,” Mbah kembali menekan kami.

“Tapi kita akan mati kelaparan kalau sok idealis!” Entah setan apa yang hinggap. Bagus dengan lantang seketika mendebat Mbah. Suaranya mencengkram langit-langit pendapa, berpacu dengan jantungku.

Apa yang kau lakukan? Dengan sorot mataku, aku berusaha bertanya padanya. Suasana terasa makin mencekam.

Ya, bagi Mbah, Lengger adalah tarian sakral. Memang, sudah tidak ada lagi ujian bagi kami, para penari lengger seperti yang dialami Srintil, bahwa kami harus dipermandikan di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Atau… kami pun sudah tak perlu “dikorbankan” kepada salah satu tamu yang mampu membeli kami dengan harga yang paling tinggi. Bagi Mbah, Lengger tetaplah Lengger. Tarian sakral yang hanya ditarikan pada acara syukuran desa. Dan itu berarti, di kotaku, tarian itu hanya ditarikan pada bulan Juli, menjelang hari jadi.

Anak-anak maunya manggung. Biar bisa menambah jam terbang. Tapi itu sulit kalau Mbah tetap bertahan pada pendapatnya. “Kan ada tarian lain,” sergahku. Tapi kau lihat sendiri, kan? Permintaan mereka pada tarian itu lebih tinggi dibanding tarian apapun.

 “Colok’en kakeh! Siapa yang mengenalkanmu pada budaya luhur bangsa ini?” Mbah menggebrak meja. “Kalau kamu kira kamu sudah pintar, silahkan kamu keluar dari tempat ini!” Bibir Mbah bergetar. Sebelum membalikkan badan, aku sempat melihat mata nanar itu.

“Kau mau ikut denganku?”

“Kurasa kau pasti tahu apa jawabku.” Aku menggeleng. Kudengar kata-katanya kembali merambat keluar dari benakku. Bergidik aku ketika mengingat kejadian itu. Tiga tahun runtuh dalam sekejap. Seketika itu, putuslah hubungan tali keluarga di antara Bagus dan Mbah. Antara Bagus dan kami. Yang aku tahu, batin Mbah sangat tersiksa setelah kejadian itu. Jarang ada senyum yang bisa terbit dan kami saksikan di sisa hidupnya.

*****

Oia, bagaimana kabar Mbah?” Bagus kembali bertanya. “Sehat-sehat kan? Apa dia masih seperti dulu? Suka memaksakan kehendaknya?” Kurasa ia ingin menyelamatkan dera kebisuan kami dengan bercanda. Tapi entah mengapa, kali ini candaan itu seperti pisau yang merobek ulu hatiku.

Oia, memangnya ga kenapa ya, kamu ikut sanggar menari lain?” Tanyanya mungkin dikarenakan sekarang aku tengah mengikuti penampilan duta kesenian Kota Probolinggo bersama sanggarnya Pak Pri, Bayu Kencana.

Sebenarnya aku ingin berkabar kalau Mbah sudah tidak ada. Sebenarnya aku ingin berkabar kalau keadaan sanggar kami sekarang sepi. Mungkin kau tak lagi bisa menyebutnya sanggar. Kau benar soal kolaborasi. Kau benar soal mendekati cahanya. Kilau publikasi, jaringan mafia kesenian dan segala macam tetek bengek aturan untuk menyederhanakan sisi asketis tari ketika kita diminta tampil di acara-acara birokrasi.

Tapi kurasa Mbah juga benar. Harus ada orang yang menjaga agar nilai sakral tari itu tetap ada. Harus ada orang yang berani menjaga tradisi.

Hening kembali menguar, dan entah kenapa kali ini aku merasa mual. Padahal tadi, lelaki di sampingku ini mampu menghadirkan sisi romantisme kami yang sempat lesap sepeninggalnya.

“Tadi itu apa yang kau tarikan?”

Jhegeh.”

“Ceritanya?”

“Soal penjajahan. Pribumi yang disuruh tanam paksa selama 50 tahun oleh pemerintahan kolonial. Kopi, tebu, nila dan tembakau yang sebagian besar harus diserahkan kepada Belanda. Tentunya, sangat bertentangan dengan aturan yang ditetapkan.” Aku teringat novel Max Havelar yang belum lama ini kubaca. Bagaimana Max, yang berusaha membela harkat martabat pribumi harus menggung sendiri derita kebobrokan sistem pemerintahan saat itu. “Hal itu membuat rakyat Probolinggo bangkit, jhegeh, melawan penguasa. Tembheng potheh matha angok potteh tolang.” Daripada mati dijajah Belanda lebih baik mati karena berjuang. Aku sengaja mengakhirinya dengan bahasa Madura.

“Aku kangen Mbah.” Ujarnya.

Kau nanti bisa menjenguknya. Membawakannya bunga.

“Kamu nggak mau tinggal di sini?” Ia kembali bertanya.

Kurasa harus ada yang jegeh untuk menjaga budaya di tempat asalnya, Gus. Saat itulah, kurasakan hantu Karni, sang legenda Lengger, tengah menyusup ke dalam tubuhku.

Probolinggo, 19 Maret 2016.

Temukan kami di sini!

Leave a Comment