Kaca mata Nenek

Spread the love

Penulis : Efierfita Ayulis
Versi cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita : Indah Darmastuti
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana

Thania heran melihat Nenek yang hanya berputar-putar saja di ruang tamu. Entah apa yang akan dilakukan Nenek, dari tadi hanya berputar-putar di ruangan itu.

“Nek!” sapa Thania. Tetapi Nenek tidak menjawabnya.

Thania mendekati Nenek, beliau sibuk mencari-cari sesuatu. Thania pun ikut melihat-lihat di sekitar Nenek. Thania melihat ada kacamata di bawah meja, sekarang dia mengerti.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Thania mengambil kacamata tersebut dan meletakkannya ke dalam genggaman Nenek.

“Terimakasih, Cu!” Nenek memakai kacamata. Thania melihat rona bahagia di wajah Nenek.

“Wealah, Thania, Nenek tidak tahu kalau itu kamu. Pusing Nenek mencari kaca mata ini dari tadi, terimakasihya Than!” Nenek membelai rambut Thania dengan lembut.

“Sama-sama, Nek!” Thania ikut senang melihat senyum Nenek.

Pandangan Thania terhenti pada kaca mata nenek yang sudah jelek, ada rasa kasihan timbul di hatinya. Tiba-tiba saja Thania punya ide,

“Nek, Thania pamit dulu ya, Thania mau main ke rumah Ratna.”

“Hati-hati ya Than, jangan pulang kesorean!”

“Iya Nek, Assalamualaikum!”

Thania menyalami Nenek dan berlalu ke luar rumah.

Thania tidak pergi ke rumah Ratna, tetapi dia berbelok ke samping, dia mencari kakaknya Naila yang sedang menanam bunga.

“Uni! Tadi Thania lihat kacamata Nenek sudah jelek, Uni kan pintar melukis, bagaimana kalau kaca mata Nenek kita perbaiki?”

“Boleh juga Than, tapi bagaimana caranya meminjam kaca mata itu? Nenek kan tidak pernah melepaskan kaca matanya,” Naila terlihat bingung.

“Uni tenang saja, sekarang Uni pikirkan lah model yang akan Uni buat, supaya kaca mata Nenek jadi bagus,” Thania menjawab dengan tersenyum.

“Okay deh, tugas Thania mengambil kaca mata Nenek ya, biar Uni yang menghiasnya,” Naila segera merapikan tanaman bunga, dan membersihkan tangannya.

Thania senang sekali, dia kembali ke dalam rumah. Diam-diam dia mengintip Nenek yang sedang istirahat di kamar. Sepertinya Nenek sudah tertidur, dengan berjinjit Thania masuk pelan-pelan, dia mengambil kaca mata Nenek yang ada di meja samping tempat tidur. Tanpa banyak halangan, Thania berhasil mengambil kaca mata itu, lalu segera membawanya ke kamar Naila.

“Ini kaca matanya, Ni,” Thania memberikan kaca mata itu pada Naila.

“Wah…kasihan Nenekya, kaca matanya sudah jelek begini.”

Naila mengeluarkan cat air yang biasa digunakannya untuk melukis, dengan hati-hati, dia mulai menyapukan kuas itu ke cat air yang telah dituangkan ke mangkok. Naila memang suka melukis, perlahan gagang kaca mata itu mulai dilukisnya, ternyata dia melukis pelangi, sehingga gagang kaca mata yang tadi kusam, dan mengelupas, kini berubah seperti untaian pelangi, paduan warnanya juga bagus.

Ada belitan pelangi mengitari gagang itu, di dekat bagian kaca yang ada lempengannya, diberi gliter warna warni.

“Wahhh.. bagus sekali Uni,” Thania sangat senang melihat hasil kerja Naila.

“Iya Than, Nenek akan tambah keren kalau pakai kaca mata ini,” mereka sangat senang.

“Ayo kita ke kamar Nenek,” Thania mengajak kakaknya menemui Nenek.

Ketika sampai di kamarNenek, mereka sangat kaget, karena di sana ada Papa yang sedang sibuk mencarise suatu, sementara Nenek duduk di kasur sambil memegang keningnya yang benjol.

Sepertinya Nenek kejedut pintu, gara-gara tidak pakai kaca mata.

“Nah…kebetulan kalian datang, tolong bantu Papa mencarikan kaca mata Nenek!” Papa berkata sambil terus mencari-cari kaca mata di bawah tempat tidur. Thania dan Naila saling berpandangan, ada rasa takut tiba-tiba muncul di hati mereka.

“Kok kalian tidak juga bergerak?” tanya Papa heran.

“Maaf Pa, ini kacamata Nenek,” Thania menyerahkan kaca mata itu pada Papa. Papa terlihat kaget. Dia membolak balik kacamata yang ada di tangannya.

“Kenapa kaca mata ini ada pada kalian? Kok gagangnya jadi seperti ini?” tanya Papa heran. Thania dan Naila ketakutan, mereka bingung mau berkata apa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka, Nenek akan celaka gara-gara kaca matanya mereka ambil.

“Ada apa dengan kalian? Kok diam saja?” tanya Papa heran.

“Maaf Pa!” Thania menjawab sambil mengumpulkan segenap keberaniannya.

“Kami sengaja mengambil dan menghias kaca mata itu, Pa. Karena gagangnya sudah jelek,” jawab Thania ragu-ragu.

Papa terlihat kaget, ada rasa yang tidak dapat ditebak dari wajahnya, selama ini dia tidak memperhatikan kondisi kacamata Ibunya. Kalimat Thania serasa menampar wajahnya.

“Wahhh… pintar cucu Nenek, makasihya Thania dan Naila, Nenek senang sekali dengan kejutan kalian ini,” ujar Nenek dengan wajah penuh kebahagiaan.

“Wow…kaca mata Nenek jadi keren, nih!” Nenek memakai kaca matanya dengan senyum ceria.

“Alhamdulillah Nenek suka dengan karya kami,” Naila tersenyum puas. Nenek meraih Thania dan Naila ke dalam pelukannya. Mereka berdua tersenyum bahagia.

Diam-diam Papa menghapus air matanya yang luruh tak tertahan, ada rasa haru merasuk ke dalam hatinya. Papa sangat bersyukur memiliki putri yang sangat peduli dan menyayangi neneknya.

Papa berdoa semoga Naila dan Thania tumbuh menjadi anak-anak yang soleha, penuh kasih saying dan membanggakan kedua orang tuanya.

Dalam hati, Papa berjanji akan membelikan Nenek kaca mata baru. Memang sudah waktunya kaca mata nenek diganti.

Terima kasih anak-anak baik, papa pun ikut memeluk Naila dan Thania. Mereka semua tersenyum bahagia. Nenek pun larut dalam kehangatan pelukan anak dan cucu-cucunya.