Memetik Keberanian

Spread the love

Cerita Anak: Deasy Tirayoh
Versi cetak: Gora Pustaka Indonesia 2019
Narator: Indah Darmastuti
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Sejak dulu, ibuku sering membacakan sebuah cerita pengantar tidur, dan cerita paling berkesan adalah kisah seorang anak yang ingin memetik bintang di langit.

Dikisahkan, bahwa ada seorang anak yang takut gelap, ia selalu menatap ke luar jendela untuk menatap bintang. Ia berandai-andai jika saja bintang itu bisa diraihnya, ia akan menaruhnya tepat di muka jendela, atau ke dalam kamarnya. Ia membayangkan kamarnya tak akan pernah gelap setiap gelap malam datang.

Di satu malam, bintang pun datang ke dalam mimpinya. Anak itu merasa senang.

“Hai bintang yang terang, tinggallah di sini,” ucapnya. Bintang itu tersenyum, lantas menjawab dengan lembut,“Maaf aku tidak bisa.”

Wajah anak itu menjadi sedih, “Apakah kau tak mau jadi kawanku? Aku takut gelap, tolonglah …,” pinta anak tersebut.

“Aku tahu kau takut gelap. Tapi aku tak bisa tinggal di kamarmu.”

“Kenapa?” ucap anak itu dengan tatapan sendu.

“Ada banyak anak sepertimu, mereka juga takut gelap dan selalu menatap ke jendela untuk menatapku, untuk itu, aku harus tinggal di langit agar bisa menemani semua anak dari sana. Kau jangan takut gelap, sebab, jika tanpa gelap, maka cahayaku tak mungkin tampak dari jendelamu.” Bintang kembali tersenyum.

Anak itu terbangun dari tidurnya. Ia pun bergegas ke jendela. Ia bahagia karena melihat bintang mengerling padanya. Dan sejak malam itu, ia belajar untuk tak takut lagi pada gelap. Karena ia tahu, ada bintang yang akan selalu menemaninya.

***

Nah, cerita tentang anak kecil dan bintang itu menjadi inspirasiku, ketika aku ingin melawan ketakutanku sendiri. Satu hari, di belakang rumahku, tumbuh sebatang pohon jambu yang tak begitu tinggi. Dan di pohon itu, ada jambu yang tampaknya telah matang karena warnanya yang merah.

Aku membayangkan rasanya yang manis dan segar. Tetapi, bagaimana caraku mengambilnya? Sebab aku sangat takut ketinggian. Aha! Aku melihat ada sebuah gala yang tersandar di tembok. Aku mengambilnya, tapi rupanya gala itu terlalu berat untuk aku pikul, terlebih untuk aku ayunkan ke dahan pohon jambu.

Tak habis akal, aku mengambil kursi plastik dari teras rumah, lalu berdiri di atasnya dengan kaki yang gemetar karena takut. Hmmm …, ternyata buah jambu itu masih terlalu jauh dari tanganku.

Aku sangat ingin mendapatkan jambu itu, tapi bagaimana caranya. Sedangkan tak ada satu orang pun yang bisa dimintai tolong. Aku pun duduk memandangi pohon sambil mencari cara.memanjatnya?

Sebetulnya pohon jambu itu tak begitu tinggi, aku hanya perlu memanjat sedikit agar sampai ke dahan kedua saja. Aku sangat ingin mendapatkan jambu, tapi aku takut ketinggian.

Rasa takut membuatku gelisah. Tetapi, sampai kapan aku takut.

Pelan-pelan kupegangi pohon jambu. Dengan penuh hati-hati, aku telapak kakiku menapak dan dengan tangan yang bertumpu kuat pada sebuah cabang, kuayunkan tubuhku agar bisa terangkat. Aku sudah di dahan pertama.

Napasku berat sekali. Dadaku berdebar. Sebisa mungkin aku tak menengok ke bawah.

Kemudian, tangan kananku kembali memegang cabang pohon, dan kakiku mencari pijakan yang kokoh agar tak membahayakan saat aku naik ke dahan kedua.

Tak kusangka aku sudah sampai di dahan yang jadi tujuanku. Seketika aku mengingat cerita seorang anak di muka jendela, menatap bintang yang sedang tersenyum padanya. Aku pun menatap jambu di hadapanku dengan perasaan senang karena telah melawan ketakutanku. Lalu, tangan kiriku berpegang erat di batang, saat yang kanan memetik jambu itu. Aku tersenyum beberapa saat sebelum menuruni pohon dengan penuh hati-hati.

Setiba kakiku menginjak tanah, ada perasaan haru sekaligus puas karena baru saja kutaklukkan ketakutanku selama ini. Kuraih jambu dari kantong bajuku. Lagi-lagi kutersenyum menatapnya. Hingga kudengar samar, ada suara seorang kawan yang memanggil namaku dari depan rumah. Aku bergegas menemuinya.

Aku pun mengisahkan perjuanganku melawan ketakutan, dan kawanku memberiku tepuk tangan yang riang. Kemudian, jambu yang kuperoleh itu, akhirnya kubagi dua.

Sapotong untuk kawanku, dan sepotong lainnya untukku. Itulah jambu terenak yang pernah kumakan selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *