Cerita Anak – Pengumpul Serangga

Pengumpul Serangga

Oleh: Indah Darmastuti

versi cetak Antologi Sayap Cahaya, Balai Bahasa Jawatengah 2018

Narator: Indah Darmastuti

download

 

Waktu belum menunjuk pukul sebelasbelas, tetapi matahari bersinar terik ketika anak kelas 1 SD  Merapi itu pulang. Begitu mereka keluar gerbang sekolah, mereka sudah menghambur berlarian sambil bercanda.

Tetapi Inno berjalan cepat pulang ke rumah melalui jalan utama desa. Tas punggung berwarna hitam tampak terlalu besar untuk badan Inno yang kurus kecil. Peluh sudah membasahi dahinya ketika sepasang kaki kurus itu melewati ladang-ladang tomat, cabe dan terong. Seekor tupai nangkring di pokok pohon kelapa. Jauh di sana sawah membentang hijau di bawah langit biru bersih. Burung-burung terbang mencari makan. Sesekali terbang rendah berpapas dengan kupu-kupu yang mencari madu.

Sesampai di rumah, tanpa melepas sepatu Inno segera menemui teman-teman bersayapnya yang tinggal di kotak-kotak kayu buatan bapak. Ia memandangi empat ekor Jengkeriknya sebesar ibu jari berwarna hitam mengilat.

Jika malam mulai turun dan bintang-bintang menyala satu persatu, jengkerik-jengkerik itu mengerik nyaring bersaing dengan serangga malam lainnya. Puas memandangi jengkeriknya, Inno beralih ke kandang gangsir, orong-orong dan kepik berpunggung merah totol-totol hitam, hinggap di daun-daun manthang.

Dia juga mempunyai satu ekor kumbang badak dan tiga ekor bapak pucung. Semua dikandangkan dalam kotak kayu berkawat kasa yang terpisah. Agak lebih tinggi ia meletakkan kotak berisi tiga ekor wangwung. Si Kumbang bercula itu pemberian Pakde Supar.

Ia membuka tutup kandang wangwung lalu mengelus punggung hitam legamnya. Inno suka bentuk cula itu, seperti gantungan baju yang terpasang di balik pintu rumahnya. Ya memang kumbang itu yang menjadi penyebab matinya pohon kelapa di dekat balai desa, tetapi menurut Inno, serangga itu  sangat lucu dan kelihatannya tidak pemarah meski cula itu membuatnya terkesan jahat.

Lalu ia beralih di kandang kecil bercat cokelat tua. Ada dua ekor tonggeret hadiah ulang tahun dari Kak Ria, Pembina Pramuka di sekolah. Kak Ria menyebutnya garengpung. Bila sore tiba, khususnya di pergantian musim hujan ke musim kemarau si Garengpung itu akan bernyanyi seperti paduan suara, mengabarkan bahwa sore begitu cerah.

Di dekat rimbun tanaman jail-jali di atas tanah cukup lembab, ada satu kotak cukup besar berisi serangga kecil pemalu, sayapnya tampak biasa dan ia tidak nakal. Bila malam tiba, dari jendela kamarnya, Inno bisa melihat teman-teman kecilnya itu bercahaya.

Apakah Kunang-kunang itu ibunya bintang-bintang di langit?Apakah kunang-kunang mengasuhnya, menggendongnya diajak terbang ke mana-mana, lalu kelak jika bintang itu sudah besar, kunang-kunang akan membawanya terbang ke langit dan  memasang bintang di dekat bulan?

Begitu Inno membuat catatan dan menyimpan pertanyaan tentang Kunang-kunang. Memang setiap ia mendapatkan serangga dari jenis yang berbeda, Inno mencatatnya di buku yang dibelikan Ibu. Ia masih serius mengamati serangga kecil itu ketika mendengar ibu memanggil.

“Inno, lepas dulu sepatumu, ganti baju dan lekas makan.” Inno tak menjawab tetapi segera meninggalkan kotak-kotak serangga itu dan mendapati ibunya.

“Ibu tahu tidak, berapa jumlah kunang-kunang yang kupunya?”

“Banyak,” jawab ibunya cepat.

“Iya, memang banyak tetapi berapa?”

“Seratus?”

“Belum sampai. Tetapi suatu saat nanti aku akan punya seratus kunang-kunang setelah bapak buatkan kandang lagi yang cukup besar,” katanya sambil melepas sepatu dan seragam sekolah.

“Tetapi, kamu sudah punya banyak sekali kotak serangga, itu sudah cukup. Lagi pula, rumah kunang-kunangmu sudah cukup besar. Tak perlu menambah jumlah kotak serangga lagi kan?”

“Harus tambah, Bu. Aku kan belum punya samberlilin, belum punya belalang sembah, belum punya ngengat. Aku juga pingin punya wangwung bercula lagi. Serangga itu keren sekali, ia seperti panglima perang.”

“Iya, tetapi jangan sampai lupa kamu mencari makan untuk serangga-seranggamu itu, mereka butuh makan,” pesan ibu sambil meletakkan baju seragamnya yang kotor. Inno mengangguk pasti.

“Ibu suka serangga-serangga juga?” ibu hanya tersenyum. Inno tak puas hanya dijawab dengan senyum. Maka ia datangi ibu dan mengguncang tangannya sambil berkata:

“Ibu, serangga-serangga itu sangat baik. Aku tahu mereka suka padaku dan pasti juga suka pada bapak dan ibu,”

“Iya.. iya… lekas makan dan jangan lupa nanti mengantar panenan jambu ke rumah Budhe Mardi ya,” kata ibu sambil berlalu.

Inno makan dengan sangat lambat, tak pernah semenit pun bayangannya meninggalkan serangga-serangga koleksinya. Masing-masing mereka selalu ada makanan yang dipasok Inno secara berkala. Dia hapal tanaman apa yang harus berikan kepada setiap teman-teman serangganya.

Serangga-serangga itu kebanyakan ia temukan ketika bermain bersama Zen dan beberapa teman ke area sawah dan ladang-ladang di dekat aliran Sungai yang membelah desa di kaki Gunung Merapi. Juga di hutan pinus yang hanya berjarak satu kilo meter dengan desanya. Jangkerik dan bapak pucung ia temukan di dekat sumber air.

 Dulu saat ia pindah dari kota Solo ke desa lereng Merapi untuk mengikut bapak yang ditugaskan mengajar di sini, Inno sangat kesepian karena ia belum mempunyai teman, sehingga bapak sering mengajaknya jalan-jalan menyusuri pematang sawah dan ladang sambil berkenalan dengan para tetangga.

Saat jalan-jalan itu, bapak juga mengenalkan Inno pada banyak tanaman dan serangga-serangga yang baginya sangat lucu dan aneh-aneh bentuknya. Karena suka, bapak menangkapkan empat ekor kepik untuknya.Tetapi Inno tak puas hanya dengan empat ekor kepik, ia meminta bapak menangkapkan bapak pucung juga.

Inno mulai menyukai tempat tinggalnya yang baru dan ia tidak kesepian lagi karena setiap sore bersama bapak, ia akan menjelajah desa. Kadang ia pulang membawa dua atau tiga ekor serangga. Lalu bapak membuatkan kotak-kotak kayu untuk menampung serangga-serangga itu.

Siang itu, ketika pulang dari rumah Budhe Mardi untuk mengantar panen jambu, Inno berjumpa Zen, Banyu, Sifa dan Iqbal yang berjalan menuju ladang jagung. Mereka akan membantu Suranto mengangkut jagung yang dipetik bapak dan ibunya, lalu mereka akan main ke sungai yang membatasi desa mereka dengan desa tetangga.

Ladang jagung milik keluarga Suranto tak seberapa luas, tetapi panen jagungnya menyenangkan. Ketika melihat teman-teman Suranto datang membantu, Pak Saman ayah Suranto memberi mereka masing-masing lima buah jagung.

“Baiknya jagung-jagung ini kita kumpulkan jadi satu, lalu kita bawa saat kemah besok, kita akan bakar bersama-sama. Bagaimana?” ide Zen langsung disambut gembira oleh teman-temannya. Mendengar rencana itu, Pak Saman kemudian menyisihkan setengah karung lalu ia berkata:

“Suranto, simpan yang setengah karung ini untuk teman-temanmu. Kapan kalian akan berkemah?”

“Besok malam, Pak. Kami menamakan Malam Pertemanan, jadi anak-anak kelas 1 dan kelas 2 akan mendirikan tenda di tepi hutan pinus bersama kakak Pembina Pramuka.”

“Wah, besok bulan purnama, pasti dinginnya berlipat-lipat. Tetapi tentu langit sangat indah,” Kata ayah Suranto sambil menyaksikan anak-anak itu melanjutkan pekerjaan mengangkut jagung dengan gembira.

Besoknya, tampak lima tenda didirikan saling berhadapan di tepi hutan pinus yang tak jauh dari rumah mereka. Hutan itu tidak lebat. Penduduk desa kerap masuk hutan untuk mencari kayu bakar, rumput untuk pakan ternak atau bunga-bunga pinus kering pengganti kayu bakar.

Di area itu, mereka sering melihat ayam hutan hinggap di pohon-pohon, sesekali unggas-unggas itu berteriak memekakkan telinga. Mereka hanya melihat saja dengan kagum, mereka tahu kalau siapa pun tidak boleh menangkap ayam-ayam itu.  

Kata Kak Ria, kalau mereka memburu ayam hutan itu, si Ratu ayam akan marah dan ia akan mengajak semua ayam-ayam itu pergi, tidak mau tinggal di hutan tempat mereka bermain. Itu pasti akan sangat meyedihkan.

Malam itu bulan bulat berwarna oranye, bintang-bintang menyala cemerlang. Hari baru saja beranjak petang tetapi di sekitar hutan sudah menjadi gelap dan dingin bukan kepalang. Suara jengkerik, tonggeret dan serangga malam yang lain saling bersahutan mengisi keheningan.  

Dalam acara kemah itu, Kak Ria mengajak keponakannya yang tinggal di pesisir sebelah selatan kota Yogyakarta untuk merasakan sejuk hawa pegunungan.

“Kamu tidak boleh sembarangan membuat api di dekat hutan sini, Radik,” Kak Ria menasehati ketika keponakan dan kawan-kawan barunya membuat api unggun yang juga akan mereka gunakan untuk membakar jagung.

“Kami hanya ingin menghangatkan badan sambil bakar jagung, Kak,” katanya.

“Iya, tetapi jangan di situ, ambilah tempat agak jauh dari pohon-pohon pinus itu dan jaga apinya jangan sampai terlalu besar. Karena api meskipun kecil kalau terbawa angin lalu menyambar pohon pinus, seluruh hutan ini akan habis terbakar. Kalian harus tahu kalau batang Pohon Pinus itu mengandung getah yang mudah terbakar.”

Malam itu, meskipun tenda yang didirikan tak terlalu jauh dari rumah mereka, tetapi pengalaman berbagi tempat tidur dan berbagi makanan serta bermain bersama teman-teman tentu menyenangkan.

Mereka berkumpul mengelilingi api unggun dan membakar jagung hasil panen ayah Suranto. Zen duduk dekat dengan Radik yang tampak kedinginan.

“Kamu tidak biasa di tempat dingin ya?” tanya Zen kepada Radik.

“Di pantai kadang dingin, tetapi dinginnya tidak sampai seperti ini,” jawabnya.

“Seperti apakah pantai itu, apakah banyak sekali pohon pinus?”

“Tak ada pohon pinus. Yang ada pohon kelapa. Rumahku menghadap ke laut. Kalau menjelang sore saat air surut, aku dan teman-teman bermain bola di pantai, di tepi laut. Kadang kalau laut sedang baik hati, bapak akan mengajak kami menjala ikan naik perahu.”

“Itu menyenangkan sekali. Kamu tidak takut ombak?”

“Setiap nelayan tidak takut ombak.”

“Ikan apa yang kamu tangkap?”

“Banyak. Nanti kapan-kapan mainlah ke pantai kami. Aku akan mengajakmu menangkap ikan bersama bapak.” Mereka asyik berbincang-bincang hingga tak menyadari kalau Inno tak ada di antara mereka.

“Inno, ada di mana Inno…” Kak Ria dan kakak Pembina yang lain langsung sibuk mencari Inno. Mereka mengambil senter dan memanggil-manggil Inno. Panggilan bersautan  terpantul, menggema, bergaung di empat penjuru mata angin. Mereka cemas, saling bertanya satu sama lain kapan terakhir Inno terlihat.

“Ayo kita cari agak ke atas, sebagian menunggu di tenda,” seru Kak Ria langsung disusul dengan pembagian siapa yang ikut naik, siapa yang menjaga tenda.

“Aku ikut naik,” kata Radik melangkah di sebelah Zen yang membawa senter.

“Innooooo… Innoooo… kamu di manaaaa?” teriak teman-temannya. Mereka terus melangkah naik sedikit dalam masuk hutan.

“Hallooooo… Innoooo…”

“Iyaaaa… aku di siniii….” Terdengar Inno menjawab panggilan.

“Itu diaa… Inno ada di sana! di arah jam dua,” Kak Ria berkata.

“Bukan! aku dengar di sana!” Sifa berpendapat.

“Itu gaungnya… itu hanya gema.. aku yakin Inno ada di sana!” mereka masih berdebat tentang asal suara.

“Halooo… aku di sini!” sekali lagi Inno menjawab. “Kemarilah… tempat ini indah sekali!” teriakan Inno semakin jelas, dan ternyata ia ada di sebelah tenggara.

Dari jauh, tampak sepetak tanah yang dirubungi kunang-kunang yang terbang rendah. Tempat itu berkelip-kelip keperakan. Inno duduk di sebuah batu cukup besar di tanah yang agak lapang. Tubuh Inno seperti mandi cahaya.

“Apa yang kamu lakukan di situ, Inno?” teriak Radik.

“Aku hanya melihat kunang-kunang.”

“Indah sekaliii…” teriak Kak Ria dari kejauhan. “Tetapi mestinya kamu pamitan pada teman-teman dan kakak Pembina sehingga tidak membuat kami bingung.”

“Maaf, Kak, tadi sebenarnya aku hanya ingin mengambil tambahan kayu bakar dan bunga pinus kering, tetapi aku melihat dari jauh banyak kelip kunang-kunang, jadi aku datang ke sini. Sayang sekali aku tidak membawa kotak kawat kasa, mungkin lain waktu aku akan mengajak bapak ke sini untuk menangkapnya.”

“Oh, kamu mau memelihara kunang-kunang?”  Zen bertanya.

“Betul. Di rumahku sudah ada banyak, tetapi aku ingin punya lebih banyak lagi.”

“Kak, apakah kunang-kunang tidak capai membawa lampu sepanjang malam?” tanya Radik.

“Bukan lampu. Itu bayi bintang.” semua tertawa mendengar kalimat Inno. Kak Ria juga tertawa.

“Nah, kakak beri tahu ya.. apa yang kalian sebut sebagai lampu, atau bayi bintang itu sebenarnya zat-zat, seperti oksigen, kalsium, magnesium dan zat kimia alami yang bernama luciferin. Ketika zat-zat itu bercampur, maka akan bereaksi di dalam perut kunang-kunang dan menghasilkan cahaya cemerlang seperti yang kalian lihat.”

“Aku ingin punya seratus kunang-kunang,” kata Inno sambil menadah tangannya, dan seekor kunang-kunang hinggap di ujung jarinya.

“Kak Ria tidak yakin kamu akan mampu mengumpulkan kunang-kunang sebanyak itu, mengingat masa hidup kunang-kunang sangat pendek. Hanya 2-3 minggu saja.” Inno menggigit-gigit bibir.

“Kasihan kunang-kunang, mereka hanya bisa melihat indah dunia ini sependek itu,” kata Inno kemudian.

“Nah, kalau begitu mengapa kamu malah mengurungnya? apakah tidak sebaiknya kamu membiarkan kawan-kawan bercahayamu itu terbang menikmati kebebasan dan menikmati masa hidup mereka yang pendek?” Kak Ria berkata sambil mengusap-usap bahu Inno.

“Iya, betul. Aku tak boleh mengurungnya. Pasti kunang-kunang itu sedih sekali tidak bisa bebas bermain dan bertemu dengan teman-temannya. Di rumahku mereka terkurung, padahal di sini banyak teman-teman mereka.”

“Jadi bagaimana?”

“Besok sepulang dari kemah, aku akan lepas mereka,” Inno berjanji sungguh-sungguh.

“Tetapi bagaimana dengan serangga-serangga yang lain? di rumahku ada banyak serangga yang aku taruh di kotak kayu, mereka semua temanku,”

“Asal kamu merawatnya, sepertinya tidak apa-apa,”    

“Iya, aku janji, Kak.”

“Asyik…. bagaimana kalau besok kita lihat serangga-serangga milik Inno?” mereka menyambut gembira usul Kak Ria.   

“Tetapi kakak rasa sudah cukup kita bersama kunang-kunang di sini, baiknya kita segera balik ke tenda supaya teman-teman kita tidak cemas menunggu,” Mereka setuju dan saling bergandeng tangan meninggalkan sepetak tanah itu.

Ketika kaki-kaki anak-anak itu menjauh, sekali lagi Inno menoleh ke belakang, ia memandangi kunang-kunang terbang riang membuat area itu seperti serpihan bintang-bintang. Ia berjanji dalam hati, besok akan mengajak bapak membawa kotak kunang-kunang dan ia akan melepas mereka di tempat itu. []    

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment