Pesan Bu Aini

Spread the love

Cerita anak Reski Indah Sari
Versi cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita Indah Darmastuti
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Guru baru itu terus melangkah menyusuri lorong-lorong kelas. Buku-buku tebal sudah ia pegang sejak turun dari mobil angkutan umum. Penampilannya biasa saja, tidak ada bedak, lipstik, dan alis tebal yang menghiasi wajahnya. Tidak ada cincin, jam tangan atau pun gelang emas yang ia kenakan. Ia sangat sederhana.

“Wahh, di sekolah kita ada guru baru, Gin.”

“Iya, Nai. Aku juga melihatnya. Kalau tidak salah, namanya Bu Aini, guru Bahasa Indonesia di kelas empat.”

“Senyumnya manis sekali, yahh. Semanis gula aren di kampung kita. Hehehe.”  jawab Gina sambil tertawa kecil.

*

Bu Aini selalu masuk ke sebuah ruangan yang sepi, ruangan itu sudah tiga tahun tidak difungsikan. Aku sering mendapai Bu Aini menyapukan jemarinya di sepanjang rak buku. Ia merapikan buku-buku yang berdebu, buku-buku itu ia susun sepenuh hati.  Bu Aini selalu bilang kalau perpustakaan adalah ruang ajaib. Perpustakaan bisa mengenalkan banyak hal, ruang yang dipenuhi kata-kata indah seisi dunia.

Bapak Kepala Sekolah pernah memandang Bu Aini dengan kesal. Bu Aini masih terus merapikan buku-buku tua yang mulai termakan rayap.

“Apa yang Bu Aini lakukan di sini?”

“Saya sedang  merapikan buku-buku perpustakaan, Pak.”

“Ini ruangan yang tidak difungsikan lagi. Bu Aini pergi saja mengajar.”

“Astagaaa. Maaf, Pak. Saya benar-benar lupa. Tapi ini perpustakaan, Pak. Anak-anak harus dekat dengan buku. Anak-anak harus rajin membaca.”

“Ah, cukup. Terserah Ibu saja.” Kepala Sekolah pergi begitu saja, Bu Aini terlihat cemas. Ia melupakan waktu mengajarnya karena merapikan perpustakaan.

*

Bu Aini selalu mengerti apa yang kami inginkan, entah dengan cara apa. Saat ajakan pertama, kami selalu menolak untuk datang ke perpustakaan, tapi Bu Aini  selalu menang dengan cara yang tak pernah bisa dimengerti. Aku tahu kalau Bu Aini sudah sepenuh hati mengubah perpustakaan menjadi tempat mengagumkan seperti saat ini. Aku juga tahu kalau Bu Aini telah mengeluarkan uang pribadinya demi merenovasi perpustakaan di sekolah kami.  Lukisan, buku-buku baru, dan warna ruangan sangat menarik perhatian kami

Seluruh siswa mulai berkunjung ke perpustakaan setiap jam istirahat. Tempat ini benar-benar ajaib, semakin hari semakin ramai, perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan untuk semua siswa.

“Nailah….” sahut Bu Aini.

Ia tersenyum lebar saat melihatku dan beberapa teman lainnya membaca buku di perpustakaan.

“Terima kasih untuk hari ini. Besok datang lagi, yaaaah.”

“Iya, Bu. Pasti.”

*

Tapi, aku benar-benar terlambat. Hari itu aku melihat Bu Aini berbicara dengan Bapak Kepala Sekolah di kantor, aku belum mengerti maksud mereka. Bu Aini mulai berjalan keluar, pergi dan tidak menoleh lagi. Semakin jauh, tubuh Bu Aini pelan-pelan mengecil dan hilang di lorong kelas. Aku terlambat sadar kalau Bu Aini benar-benar berhenti menjadi guru di sekolah kami

“Tolong jaga perpustakaan. Rajinlah membaca, Nak!”

Hanya kalimat itu yang aku temukan di atas meja Bu Aini.

“Hmm. Ini tidak lucu. Ini jahat.” aku menggumam.

Aku menelan ludah yang terasa pahit, susah payah menguatkan diri. Aku maju selangkah dan merapikan buku-buku yang berserakan di perpustakaan.

Dua bulan benar-benar singkat bersama Bu Aini. Semenjak Bu Aini pergi, aku selalu duduk di lantai dengan punggung yang bersandar di dinding. Perpustakaan terasa berbeda, kami selalu terdiam. Tak ada senyum yang dulunya meneduhkan hati kami, tak ada tatapan yang menguatkan kami, tak ada kata-kata  ajaib yang menyihir kami lagi.

Banyak buku-buku cerita yang menarik perhatian kami untuk ke perpustakaan. Buku-buku baru dengan gambar yang beragam selalu kami lihat bergantian. Menghidu halaman buku-buku  juga sangat menyenangkan. Bu Aini pernah berpesan, kalau sesama manusia itu harus sipakainge. Dalam bahasa Bugis, sipakainge  itu berarti saling mengingatkan dalam kebaikan. Membaca itu baik, dan mengajak orang lain membaca adalah mengajak pada kebaikan.

“Terima kasih untuk hari itu, Bu.”

Aku berjanji akan rajin membaca dan menjaga buku-buku di perpustakaan.

***