Putri Rosmarika dan Mawar Biru

Spread the love

Putri Rosmarika dan Mawar Biru
Cerita Anak: Fitriani Eka
Versi Cetak: Antologi Memetik Keberanian, Gora Pustaka 2019
Narator: Yessita Dewi

Alkisah di sebuah kerajaan Bunga, tinggallah seorang putri. Tidak seperti putri lainnya, Putri Rosmarika berparas buruk. Bahkan, ia pun dianggap bukan putri raja karena memiliki jari tangan sebanyak dua belas buah karena dikutuk Ratu Lebah sebab sewaktu istrinya, Ratu Alea sedang mengandung, Raja Brus sering memburu kawanan hewan itu untuk mengambil madunya.
Namun, meskipun memiliki banyak kekurangan, Putri Rosmarika dikenal baik karena suka bekerja keras membantu ibunya merawat tanaman-tanaman bunga mawar yang ada di halaman belakang istana. Hampir setiap sore, ia menghabiskan waktu di sana. Ada banyak jenis mawar dengan warna beranekaragam yang Putri Rosmarika tanam.
Pernah empat bulan lalu, seorang pengemis datang menemuinya di istana. Ia memberikan Putri Rosmarika sebuah kantong kecil.

“Kau adalah putri yang baik. Terimalah ini sebagai ucapan terima kasih karena telah memberikan segelas air minum padaku,” ucap pengemis itu.

“Apa ini, Pak tua?” Putri bertanya heran.

“Ini adalah bibit tanaman obat untuk segala macam penyakit. Tanamlah di belakang istana. Setelah memberikan kantong tersebut, pengemis itu pergi. Putri Rosmarika lalu langsung menanamnya di belakang istana.

***

Tak lama kemudian, musim penghujan tiba. Biji-biji itu tumbuh sangat subur. Ada banyak kuncup-kuncup bunga di setiap ujung tunas. Tanaman itu berbeda dengan tanaman mawar yang biasa. Warnanya biru, dengan ukuran kelopak bunga yang lebih besar. Tidak ada duri-duri tajam yang tumbuh di sepanjang tangkainya dan baunya lebih harum.
Putri Rosmarika sangat menyayangi tanaman itu. Ia selalu memberikan perhatian khusus setiap hari. Sampai lupa waktu. Bahkan, melupakan keempat sahabat karibnya yang selalu datang menjemput untuk bermain bersama.
***

Suatu malam, Putri Rosmarika dipanggil Raja Brus. Raja Brus mendapat berita bahwa seorang pangeran dari kerajaan tetangga tengah mencari obat untuk ibunya yang sakit keras. Beberapa orang tabib dari seluruh pelosok negeri telah didatangkan.
Menurut kabar, obat yang dicari pangeran adalah mawar biru. Madu yang dihasilkan dari bunga tersebut bisa menyembuhkan penyakit yang diderita oleh ibunya. Namun sayang, Putri Rosmarika menolak untuk memberikan bunga itu kepada pangeran. Hal ini membuat Raja Brus marah. Ia tidak menyangka bunga mawar yang ditanam putri itu bisa membuatnya berubah menjadi jahat. Padahal, Raja Brus ingin mengajak Putri Rosmarika membantu pangeran tersebut.

“Aku tidak mengenal pangeran itu, Ayah!” bentak Putri Rosmarika.

“Kita harus menolong siapa saja yang membutuhkan meski kenal atau pun tidak, Putri,” kata Raja Brus menasihati Putri Rosmarika, namun gadis itu tetap menolak.

“Tidak, Ayah. Itu adalah satu-satunya mawar biru yang kupunya. Lagipula, bunganya masih menguncup. Tidak mungkin kuberikan, Yah!”

“Hhmm. Kalau begitu kau harus membantu ayah,” ucap Raja Brus.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Carilah bunga mawar serupa yang tumbuh di tempat lain. Akan kubangunkan kau sebuah kerajaan dari emas jika berhasil menemukannya. Tapi jika tidak, akan kukirim kau ke kerajaan bawah laut,” tegas Raja Brus.

“Baik, Ayah. Aku akan membantumu menemukan bunga mawar berwarna biru yang tumbuh di tempat lain. Beri waktuku satu minggu.” Putri Rosmarika menjawab yakin.

***

Keesokan hari pagi-pagi sekali, Putri Rosmarika berangkat mencari tanaman bunga mawar yang diinginkan ayahnya. Putri Rosmarika akan pulang ke istana jika matahari sudah terbenam. Begitu seterusnya sampai hari ke enam, namun usahanya sia-sia. Putri Rosmarika putus asa. Bayangan wajah sang ayah membuatnya tidak bisa tidur. Putri Rosmarika pun menjadi takut. Ia tidak sanggup jika hidup sendiri di kerajaan bawah laut.
Saat semua sudah terlelap, Putri Rosmarika pergi ke taman belakang untuk melihat tanaman mawar biru miliknya. Rupanya kuncup-kuncup itu sudah merekah. Ia terus pandangi bunga-bunga itu. Tiba-tiba ia teringat dengan keempat orang sahabat karibnya yang telah lama ia lupakan semenjak ada tanaman mawar biru itu.
Ah, kenapa tidak meminta bantuan mereka saja? Batin Putri Rosmarika. Ide untuk menemui keempat orang sahabatnya tersebut muncul di benak Putri Rosmarika. Malam itu juga, ia langsung menemui Gira. Putri Rosmarika pun menceritakan permintaan ayahnya.

“Aku dan teman-teman bersedia membantumu, Putri. Besok, kami akan mencari mawar yang diinginkan Raja. Tunggulah di istana sebelum matahari terbenam. Kami akan membawakan bunga mawar biru untukmu,” kata Gira meyakinkan Putri Rosmarika.

***

Waktu berdentang. Satu jam lagi matahari akan terbenam. Tapi, keempat orang sahabatnya belum juga datang. Ia menjadi putus asa. Haruskah kukatakan bahwa aku tak berhasil mendapatkan bunga mawar biru yang diinginkan ayah dan memberikan bunga mawar biru milikku? Tanya Putri Rosmarika dalam hati. Ia bimbang.

“Bersiaplah untuk hidup seorang diri di kerajaan bawah laut, Putri,” ucap Raja Brus membuyarkan lamunan Putri Rosmarika.

Namun tiba-tiba, tanpa disangka. Keempat orang sahabat Putri Rosmarika memasuki istana. Mereka membawa sebuah peti kayu berisikan bunga mawar biru yang diinginkan Raja Brus. Putri Rosmarika menyambut kedatangan keempat temannya tersebut. Ia membuka peti itu.

“Aku mengenali mawar ini. Harumnya persis sama dengan mawar biru milikku,” kata Putri Rosmarika sambil mencium setangkai mawar biru yang ia ambil dari dalam peti yang dibawa oleh teman-temannya.

“Ini mawar ajaib. Obat dari segala macam penyakit. Aku menemukannya di desa seberang, Putri,” jawab Delima, salah satu sahabat Putri Rosmarika.

“Tidak. Aku mengenali bunga ini. Kau telah berbohong!” kata putri.

Saat Putri Rosmarika dan teman-temannya sedang berbincang, Raja Brus datang mendekat. Ia mengambil mawar biru di tangan Putri Rosmarika.

“Apakah kau mengenali bunga ini, Putri?” tanya Raja Brus.

“Iya, Ayah. Itu adalah mawar milikku. Maaf, aku tidak bisa menemukan bunga mawar serupa di tempat lain. Tanaman ini hanya tumbuh di kerajaan Bunga. Ia bisa mengobati segala macam penyakit,” Tegas Putri Rosmarika.

Raja Brus tersenyum. Ia sengaja bertanya seperti itu agar Putri Rosmarika bisa mengenali bahwa sesungguhnya bunga itu adalah mawar biru yang ia tanam di belakang istana. Raja Brus pun ingin meyakinkan bahwa bunga itu hanya tumbuh di kerajaannya.

“Apakah sekarang kau bersedia memberikannya untuk Pangeran, Putri?” tanya Raja Brus.

“Iya, Ayah. Aku bersedia memberikan bunga ini untuk Pangeran.” Putri Rosmarika memberikan bunga mawar biru miliknya kepada Raja Brus.

Lalu, secara mengejutkan. Jari-jari di kedua tangan Putri Rosmarika tiba-tiba menjadi sepuluh. Dua buah jarinya menghilang setelah memberikan peti kayu itu kepada Raja Brus. Saat itu juga, Raja Brus memberitahu putri bahwa ibu dari pangeran adalah Ratu Lebah yang telah mengutuknya. Dan, kutukan itu akan menghilang jika Putri Rosmarika bersedia memberikan madu mawar biru yang ia tanam kepada Ratu Lebah.

Temukan kami di sini!

1 Comments

  1. Nice story, mengajarkan sebuah nilai kehidupan bahwa seseorang seharusnya mau berbagi, memberi kemudahan bagi org lain yg mengalami kesulitan, membantu sesama yg membutuhkan pertolongan. Jangan pelit dengan apa yg kita miliki…krn ternyata kita mendapat hikmah dari peristiwa itu…

Leave a Comment