Sepatu Kayu

Spread the love

Cerita Anak: Indah Darmastuti
Versi cetak: Antologi Memetik Keberanian, Ideaksi 2019
Narrator: Yessita Dewi

Ini hari ke tiga liburan sekolah yang dihabiskan Timoti di rumah Bibi, terletak di sebuah kota tua yang kecil tetapi bersih. Bangunan dan gedung-gedung berhalaman luas, daun pintu dan jendela tampak kokoh. Pepohonan tinggi dan besar tumbuh di bahu-bahu jalan. Sebuah taman dengan kolam ikan nan luas terletak tak jauh dari rumah Bibi Timoti.
Setiap sore Timoti pergi ke taman itu untuk melihat dan memberi pakan ikan-ikan atau sekadar melihat angsa berenang dan kijang liar merumput. Untuk sampai ke taman itu, ia akan melewati sebuah rumah bercat putih menghadap matahari terbit. Pada halamannya terdapat patung pesulap, tangan kanannya mengacungkan tongkat, tangan kiri memegang topi di kepala sedikit miring.
Rumah itu sepi. Tetapi Timoti selalu melihat seorang nenek duduk di beranda memangku sebuah buku, sepertinya nenek itu senang membaca. Sebuah meja kayu di sisinya, setumpuk buku terletak di atasnya. Sehingga Timoti menjuluki perempuan tua itu Nenek Buku.
Timoti melambatkan jalan jika melintas di depan rumah itu, agar ia bisa mengamati lebih lama. Dan selalu ia bertatap muka dengan nenek buku, ia tersenyum lalu berlalu.
Kemarin petang saat Timoti melihat-lihat lagi koleksi ratusan perangko dan kartu posnya, tiba-tiba ia teringat rumah itu. Gambar rumah di salah satu kartu pos itu mirip dengan rumah nenek buku. Itu kartu pos kiriman dari kolega ayah dari negeri yang jauh. Pantas saja aku seperti tidak asing dengan rumah itu, pikir Timoti.
Rupanya hal itu cukup menganggu tidur Timoti, sehingga pada esoknya, Timoti sudah siap dengan sebuah rencana. Ia akan membawa kotak perangko dan kartu posnya pergi ke taman kota. Saat ia melintas di depan rumah Nenek Buku, Timoti sengaja menjatuhkan kotak perangkonya sehingga perangko dan kartu pos itu berceceran.
Seperti yang ia duga, nenek itu akan menyapanya, beranjak dari beranda lalu membantunya memunguti perangko-perangko dan kartu pos.
“Kamu mestinya menyimpan semua ini di kotak berpenutup kuat. Sepertinya Nenek punya, jika kamu mau. Mari singgahlah sebentar. Siapa namamu?”
“Namaku Timoti, aku tinggal di rumah agak jauh di ujung jalan sana. Itu rumah bibiku,”
“Oh, aku akan ingat itu. Tetapi mari kita bereskan perangko dan kartu-kartu ini. Kalau kamu mau, Nenek bisa ambilkan kotak kartu pos untukmu. Nenek juga punya sirop jahe dan roti pandan.” Timoti mengangguk senang. Undangan itu memang sangat diharapkannya.
Sampai di beranda, Timoti melihat tumpukan buku tebal dan besar di atas meja dan lemari-lemari di dalam rumah juga banyak buku. Nenek itu tersenyum saat melihat Timoti menatapnya takjub.
“Semua milik nenek?” Ia mengangguk. Timoti mengedar pandang mengamati.
“Ayo sekarang kita cari kotak kayu untuk menampung hartamu,” Timoti menyambut riang dan langsung mengikuti ketika Nenek Buku mengajaknya ke ruang belakang.
Di ruang itu, banyak barang-barang antik. Nenek Buku bilang, puluhan tahun lalu rumah ini ditinggali leluhurnya mengelola persewaan properti untuk keperluan pembuatan film. Jadi di situ banyak sekali barang kuno tetapi masih terlihat kuat dan bagus. Nenek Buku sudah menemukan kotak kayu untuk Timoti ketika ia melihat lukisan-lukisan yang sepertinya ada juga di kartu posnya. di Bawahnya ada teronggok sepatu kayu yang ia yakin seukuran dengan kakinya.
“Nenek akan siapkan sirop jahe dan biskuit untukmu, kamu boleh tetap melihat-lihat semua yang ada di sini,” Nenek berkata tersenyum, matanya bercahaya hangat dan Timoti tiba-tiba merasa begitu akrab.
Saat Nenek Buku sudah hilang di balik pintu, ia mengambil kartu pos yang bergambar mirip dengan lukisan terpasang di dinding barat, “Tak berbeda jauh, tetapi kincir air di sungai itu benar-benar mirip,” ia membatin tetapi pandangannya beralih pada sepatu kayu di bawahnya. Lalu ia tergoda mengangkat kaki kanannya dan mencoba mengenakan sepatu itu. Tiba-tiba sebuah pusaran membungkus tubuhnya lalu ia tersedot hingga ia merasakan tulang-tulangnya melunak. Dan sekejab ia sudah berada di tempat lain.
Timoti kaget bukan main. Ia sudah pindah tempat, dan sepertinya ia mengenali tempat itu. Sebuah sungai mengalir jernih. Induk angsa berenang membimbing anak-anaknya. Sebuah kincir air berputar pelan. Sejuk sekali tempat ini. Hening dan ia tak melihat siapa-siapa. Timoti bingung, ia tak tahu bagaimana bisa sampai ke tempat asing ini dan bagaimana caranya ia bisa kembali?
Ia mencoba mengingat apa yang tadi ia lakukan. Kaki kanannya mencoba sepatu kayu milik leluhur Nenek Buku. Sekarang kedua kakinya menginjak rumput lembut dan kulitnya merasai desir angin. Ia tak punya makanan dan minuman, sebentar lagi pasti ia akan kelaparan dan Bibi akan bingung mencarinya. Dalam hati ia menyesal mengapa ceroboh dan mencoba-coba sepatu tanpa meminta ijin pada pemiliknya.
Hatinya mulai didera ketakutan. Jangan-jangan Nenek Buku itu seorang penculik anak-anak dengan cara digiringnya menuju ruang belakang, lalu disesatkan anak-anak itu ke tempat seperti ini. Timoti berpikir keras, mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini. Tak ada jalan. Ia semakin bingung, yang ia lakukan hanya memandangi kartu pos di tangannya. Itu satu-satunya yang menghubungkan dirinya dengan dunia tempat tinggalnya. Lalu dengan sedih, sambil memejam mata ia menempelkan kartu pos itu ke dadanya.
Tiba-tiba sebuah pusaran kembali meringkus tubuh Timoti dan sekejab kemudian, dia sudah kembali berada di tempat semula. Terkejut karena sebelah kakinya masih mengenakan sepatu kayu dan sebelah lainnya menjejak lantai. Selekasnya ia menarik kaki itu dan mengenakan sandalnya sendiri.
“Kurasa kamu akan suka sirop ini, mari!” Timoti gugup. Nenek Buku kembali dari dapur sementara ia sempat meninggalkannya entah di dunia mana. Mungkin hanya beberapa menit saja Nenek Buku meninggalkannya, tetapi Timoti merasa ia sudah cukup lama pergi ke suatu tempat yang aneh.
“Oh.. gudang ini panas sekali rupanya sehingga kamu berkeringat seperti itu, Timoti.” Nenek tersenyum. Timoti belum berani memutuskan apakah ia akan menceriakan apa yang baru saja dialami atau ia akan merahasiakannya, ia takut dituduh anak kurang sopan karena menjajal sepatu tanpa minta ijin. Ia yakin, dirinya berkeringat bukan karena tempat ini panas, tetapi karena ia baru saja mengalami peristiwa yang sulit masuk di akalnya. Seperti mimpi.
“Nenek juga punya banyak kartu pos,” kata Nenek Buku sambil mengangsurkan kotak perak yang sudah kusam terutama pada detil ukirnya.
“Semua itu kiriman dari kerabat semasa aku kecil dulu.” Timoti mengambil satu lembar dan mengamati gambarnya. Seorang anak laki-laki sedang bermain dengan anjing kecil di lapangan rumput. Bunga-bunga dandelion mekar di musim panas. Timoti terus mengamati, lalu ia melirik sepatu kayu di bawah lukisan besar itu.
“Em, Timoti, Nenek akan mengambil apel untukmu, kamu suka?” Timoti mengangguk gugup. Jantungnya berdebar kencang. Begitu Nenek Buku berlalu, ia melangkah mendekat pada sepatu kayu dan meletakkan kaki kanannya di sana. Seperti tadi, ia dirungkus oleh pusaran kuat dan mengempaskannya di padang rumput tempat seorang anak laki-laki bermain dengan anjingnya.
“Halo, aku Timoti, kamu siapa?” anak lelaki kecil ia menolehnya dan tersenyum. Hanya tersenyum saja tanpa ia mengucapkan sepatah kata.
“Anjingmu lucu, siapa namanya?” kembali anak itu hanya tersenyum, tanpa memberitahu siapa nama anjingnya. Dengan sabar Timoti mendekat. tak ada siapa-siapa selain anak lelaki itu dan anjingnya. Tetapi saat Timoti mendekat, anak lelaki itu mundur dan menjauh.
“Aku tidak jahat, aku ingin menjadi temanmu. Maukah kamu jadi temanku?” anak lelaki itu diam. Tiba-tiba air mata mengalir di pipinya.
“Jangan menangis. Aku tidak jahat. Di mana rumahmu?” Anak laki-laki itu menggeleng. “Apa maksudmu?” lalu ia menunjuk ke arah nun jauh. Timoti melihat banyak anak-anak kecil seusianya bermain di sepetak halaman rumah.
“Oh, mengapa kamu tak bermain bersama mereka?” Anak itu menggeleng sekali lagi. saat Timoti semakin mendekat, anak-anak di jauh sana berteriak kepadanya.. ia gelandangan, dia tak punya tempat tinggal. Dia tidur di kios-kios pasar. Dia bisu.” Timoti tertegun. Lalu menoleh pada anak lelaki itu dan meraih tangannya.
“Kamu tinggallah bersamaku di rumah bibi. Aku mau menjadi temanmu.” Anak lelaki itu tetawa lalu mengusap air matanya. Anjing kecil di sebelahnya terus mengibas-ngibas ekornya.
“Mulai sekarang kamu adalah temanku,” kata Timoti meletakkan tangan anak lelaki itu di dadanya, ia lupa tangan kanannya masih menggennggam kartu pos milik Nenek Buku, sehingga sebuah pusaran besar meringkusnya dan mengembalikan dirinya di gudang dengan kaki sebelah kanan masih mngenakan sepatu kayu.
Timoti terengah, ia menyesal mengapa terlalu cepat ia kembali. Ia masih ingin bersama anak laki-laki itu. Tetapi saat sekali lagi kakinya ia letakkan di sana, tak terjadi apa-apa. ia mengganti kaki kirinya yang diletakkan di atas sepatu kayu. tak ada yang terjadi.
“Kamu hanya bisa mengunjungi satu kali saja.” tiba-tiba suara Nenek Kayu mengagetkannya. Nenek itu tersenyum sambil meletakkan piring apel di atas meja.
Timoti terkesiap dan tiba-tiba ia sangat takut. Pasti dia nenek sihir karena mengetahui apa yang apa yang terjadi. Timoti bersiap lari. Tetapi tangan nenek secepat kilat menangkapnya.
“Jangan takut. Namaku Nenek Bijaksana. Duduklah, aku bukan nenek jahat. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa setiap kesempatan hanya datang satu kali. Jadi pergunakan waktu sebaik-baiknya. Tak perlu kamu sesali peristiwa tadi. Karena kamu akan menjumpai pengalaman yang lebih banyak lagi dan pasti menyenangkan. Sekarang makanlah, kamu pasti lapar.” []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *