Surga Semakin Jauh

Spread the love

Penulis: Dharmawati Tst
Versi Cetak : Antologi 8 Bahasa Cinta
Narator: Dharmawati Tst

DOWNLOAD

Surga Semakin Jauh

Kim mereguk air putih dingin yang baru dituangnya dari botol di kulkas sambil melangkah menuju kamar. Ia baru saja mau menyelesaikan tegukan yang kedua ketika tiba-tiba merasa dadanya mau meledak.

Pintu kamar tidur terbuka lebar. Lampu kamar mandi yang letaknya di sebelah kamar utama tampak terang benderang. Berarti Karel ada di dalam kamar mandi saat ini. Berarti dia yang membuka pintu kamar tidur tadi, semenit yang lalu setelah Kim menutupnya. Berarti juga ia yang tidak menutupnya kembali pintu kamar ini sebelum masuk ke kamar mandi. Padahal, sudah berapa ratus kali Kim selalu memperingatkan Karel untuk menutup kembali pintu kamar setelah membukanya?

Dada Kim terasa panas, sangat panas. Ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan membantingnya keras-keras. Diletakkannya gelas berisi air putih dingin ke meja kecil di samping tempat tidur. Seekor nyamuk terbang melintas. Kim menepuknya kuat-kuat. Tidak kena. Sialan, malahan telapak tangannya yang terasa sangat sakit. Dikejarnya nyamuk itu, yang dengan lincah terbang ke sudut kamar di atas televisi.

“Cari apa, Yang?”

Kim menoleh. Karel masuk ke kamar, dua langkah dari pintu yang terbuka.

“Tutup pintunya!” Kim menjerit. Dan dengan langkah sangat lebar, ia menuju pintu, dan membantingnya sekuat tenaga.

“Kamu kenapa, sih?” Karel duduk di tepi tempat tidur, dan menatap Kim dengan mata setengah marah.

“Sudah berapa ribu kali saya bilang, tutup pintu setiap kali kamu membukanya? Banyak nyamuk! Tapi setiap kali kamu selalu membiarkan pintu terbuka. Kamu sengaja? Kamu senang kalau kaki tangan saya bentolan dan korengan karena digigit nyamuk? Baru lima menit yang lalu saya perlihatkan ke kamu bekas gigitan nyamuk di paha saya waktu kita makan malam tadi, kan?”

“Kalau banyak nyamuk kan bisa disemprot.”

“Sudah, tadi siang! Tiap hari juga disemprot, tapi apa gunanya kalau setiap saat kamu biarkan pintu  kamar terbuka lebar begitu?”

“Apa, sih, susahnya disemprot lagi?” Karel menahan suaranya agar tidak kencang. “Masa kita harus bertengkar hanya gara-gara nyamuk?”

“Bukan gara-gara nyamuk!” Kim melotot, “gara-gara kamu tidak mau menutup pintu kamar!”

“Ya, sudah!” Karel menahan amarahnya, mengambil koran Kompas, melangkah menuju kursi baring dan memutarnya hingga membelakangi ranjang, duduk dan mulai membaca.

Kim menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan berbaring menghadap ke dinding. Dengan kukunya yang panjang, ia menggaruk betis dan pahanya kuat-kuat. Terdengar bunyi gemerisik. Kim tahu, Karel selalu marah kalau ia menggaruk kulitnya dengan kukunya yang panjang kuat-kuat. “Nanti kulit mulusmu rusak,“ katanya, ‘‘Itu kan sudah menjadi milikku.“ Biasanya Kim akan segera menghentikan aksinya. Tapi kali ini, Kim makin sengaja.

Biar, biar kulit halus yang dipuja Karel rusak. Tapi kali ini, walaupun mendengar garukan Kim pada kulit halusnya, Karel diam saja.

Kim memperhatikan titik-titik merah pada mahkota bunga kaktus berwarna kuning muda yang ditanam dalam pot plastik di teras belakang rumah. Kaktus dari jenis Opuntia bernama Opuntia Microdasys itu sudah hampir delapanpuluh centimeter tingginya. Di samping Opuntia, masih terdapat beberapa jenis kaktus lain yang berjejeran di jalan kecil terbuat dari semen sepanjang teras belakang.

Kim lebih senang kaktus-kaktus kecil yang ditanam dalam pot-pot kecil dan diletakkan di sepanjang tepi ruang tengah. Setiap siang, pot-pot kecil berwarna abu-abu itu dikeluarkan untuk dijemur dan setiap sorenya dimasukkan lagi. Hampir setiap hari, Kim menaruh pot berisi kaktus itu di meja ruang tamu. Berganti-gantian. Menggantikan vas berisi bunga plastik yang tidak disukai Karel.

Seluruh kaktus yang ada di rumah ini, Karel juga yang membelinya. Mula-mula yang kecil-kecil, sebelas buah dibeli sekitar empat bulan lalu, ketika mereka jalan-jalan ke Cibodas. Semula Kim heran, untuk apa Karel membeli kaktus sebanyak itu. Kalau untuk perhiasan rumah, satu dua buah cukuplah. Lagi pula, kapan Karel akan punya waktu untuk mengurusnya? Setiap hari dia pulang antara pukul enam hingga delapan malam.

“Ditaruh saja, Yang. Nggak susah kok merawatnya.

Lagi pula, nanti pasti ada yang senang mengurusnya.” “Siapa?”

“Adaaaa saja. Nanti kita lihat sama-sama. Oke?”

Tiga hari, kaktus itu tergeletak begitu saja di teras belakang. Baik Kim maupun Karel tidak mempedulikannya. Sampai suatu siang, Kim merasa jenuh bermain games di smart-phonenya dan merasa sudah membaca semua buku-buku Karel. Kim tiba-tiba memperhatikan kaktus-kaktus itu dan pertama kali jatuh cinta dengan tanaman  mungil berduri itu.

Sorenya, ketika Karel pulang, Kim menanyakan Karel siapa yang dimaksud Karel ketika bicara tentang orang yang akan menyukai kaktus itu. Berapa lama lagi orang itu akan datang mengambil dan mengurusnya?

“Dia nggak akan datang ke sini, kok.”

“Jadi, kamu yang antar? Kapan mau diantar?” “Enggak juga,” Karel menggeleng dan menatapnya

setengah tersenyum.

“Lalu?”

“Kamu suka, kan?” dipeluknya bahu Kim dan dikecupnya pipi Kim kuat-kuat. “Ingat sendiri saya sudah bilang, nanti pasti ada yang dengan sukacita mengurusnya. Yang saya maksudkan itu kamu, sayang. Mudah-mudahan ini akan sedikit mengurangi kebosanan kamu di rumah.”

Kim ingat, waktu itu ia ingin menangis. Dipeluknya Karel erat-erat. Laki-laki gagah itu selalu saja mempunyai cara untuk dicintai.

Malamnya, selesai makan, mereka langsung ke supermarket, dan Karel membantu Kim memilih pot-pot kecil yang sesuai ukurannya dengan batang kaktus yang dibelinya. Hari Minggu, ia digiring Karel ke toko buku. Kim sedang berkutat dengan novel-novel di bagian fiksi ketika Karel menepuk bahunya dan menunjukkan dua buah buku mengenai bertanam kaktus yang dibelinya untuk pedoman Kim.

Sejenak, Kim merasa dadanya hangat. Ada detak jantung Karel berpadu di dalamnya. Kim memejamkan matanya, mencoba meresapi kehangatan di dadanya. Tapi, deburan itu tidak bertahan lama. Makin lama makin pelan dan akhirnya lenyap sama sekali.

Kim membuka kelopak matanya. Dengan ujung jari manis sebelah kanan, ia menyentuh-nyentuh duri pada kelopak kaktus. Sudah empat malam, sejak malam mereka bertengkar tentang pintu kamar yang terbuka itu, ia dan Karel saling berdiam diri.

Pagi pertama, Kim yang memulainya. Ia tidak menemani Karel ketika sarapan. Sore kedua, Kim merasa tidak enak dan tersenyum menunggu Karel pulang di depan. Tapi Karel tidak menghentikan mobilnya dan mempersilahkan Kim masuk seperti kebiasaannya. Ia terus saja melajukan mobilnya menuju garasi. Kim marah. Malam ketiga, ketika Karel mencoba mencium lehernya, ia menepis dan tidur memunggunginya. Dan pagi tadi, sewaktu berangkat ke pabrik packaging tempat ia bekerja sebagai Direktur Divisi Export, Karel hanya mengusap pipinya sambil lalu, bukan mengecup seperti biasanya. Padahal, hari ini, sebenarnya Kim ingin mengadakan gencatan senjata. Tidak enak bersunyi sepi begitu.

Biasanya setiap malam, ia berebutan cerita dengan Karel. Karel punya sejuta cara untuk membuatnya bahagia. Mulai dari cerita menarik setiap hari, nonton bioskop paling tidak seminggu sekali, atau hanya duduk berpangkuan menonton serial HBO, dan keluar kota paling tidak dua minggu sekali.

Sudah berlalukah cinta itu? Pikir Kim sedih. Atau memang betul semua laki-laki begitu? Cepat bosan? Merasa bahwa setelah menikah, kekasihnya itu telah multak menjadi miliknya dan tidak perlu dibujuk-rayu lagi? Ataukah ia sendiri yang salah? Membanting pintu terlalu kuat dan memekik pada Karel terlalu kencang?

Ah, tidak. Kalau pun terlalu kuat dan terlalu kencang, bukankah Karel seharusnya sudah hapal sifatnya kalau sedang marah setelah mereka pacaran selama tiga tahun?

Lagi pula, bukankah Karel yang memang keterlaluan? Sudah tahu daerah Kelapa Gading tempat mereka tinggal banyak nyamuk, mengapa ia tidak mau menutup pintu setiap kali habis membukanya? Apa ia bahagia kalau kakiku luka-luka?

“Non, ada telepon.”

Kim menoleh, dan bertanya malas pada asisten rumah tangganya. “Siapa?”

Nggak tahu. Tadi lupa nanyain. Tapi, suaranya suara perempuan, Non.”

Ternyata telepon dari ibu mertuanya.

Kemarin di telepon, ia mencoba menyembunyikan kemelutnya dengan Karel. Awalnya, mereka bertukar cerita tentang hal-hal ringan. Sesekali, ibunya Karel menanyakan tentang putranya, dengan suaranya yang lembut dan penuh pengertian. Kim baru mengubah arah pembicaraan ketika ibunya Karel berkata, ”Sudah, ya, nanti kapan-kapan Mama telepon lagi. Kalau iseng di rumah, main saja ke rumah Mama. Bilang sama Karel, minta sekalian diantar pas dia ke kantor. Atau Mama kirim sopir Mama saja?“

Dan kini, berada di depan ibu mertuanya, tanpa terasa mata Kim menghangat. Sikap Karel sangat dingin pagi tadi. Ketika sarapan, Kim mencoba bertukar kata, tapi Karel hanya membalas dengan anggukan, dengusan, atau mengangkat bahu tak acuh.

Setelah mobil Karel pergi, tiba-tiba saja Kim merasa amat takut. Ia merasa tidak akan pernah mampu menjalani hari-hari mendatang kalau sikap Karel tetap tak mengandung mentari dan rembulan. Alangkah susahnya hidup seatap tanpa bertukar kata. Dengan Karel lagi, laki- laki yang dicintainya, suaminya, tempat ia menyandarkan hidup sampai ajal menjemput nanti.

“Dia marah padamu?”

Kim menggigit bibirnya, menggeleng.

“Tidak. Dia hanya diam. Dari kemarin dulu nggak mau ngomong sama sekali.”

“Begitulah anak itu kalau lagi kesal hatinya.“ “Dia akan segera baik lagi, kan, Mam?”

Ibu Karel terdiam sebentar. Ditatapnya Kim, dan berusaha menyimpan senyum. Melihat Kim, ia seperti melihat Stephanie, adik perempuan Karel satu-satunya yang meninggal karena leukemia satu setengah tahun lalu. Sepertinya, segala macam sifat Stephanie ada pada Kim. Keras dan lembut, ringkih dan galak, emosional tetapi penyayang, dan semua sifat yang bertentangan yang berpadu jadi satu.

“Kok Mama diam? Apa Karel ada pulang ke rumah Mama? Atau telepon ke Mama mengadukan tentang saya?”

“Ya,” ibunya Karel mengangguk. “Kemarin sore, setelah kita teleponan itu, Karel ke rumah.”

“Dia cerita apa sama Mama? Dia bilang saya marah- marah melulu?”

“Tidak,” Mama menggeleng cepat. “Dari dulu Karel bilang dia mencintaimu karena sifatmu yang lembut. Ia senang wanita yang lembut. Apa kamu memang marah- marah melulu sama Karel? Anak itu tidak senang dikasari. Kalau diberi tahu baik-baik, dia malah akan melakukan lebih dari yang kita harapkan. Mama mulai mengerti penuh wataknya ketika dia SMA. Waktu itu sudah mau ujian.  Mama masuk ke kamarnya, dan ia sedang mengganti seragam sekolahnya. Mama menegurnya, kenapa tidak belajar padahal ujian sudah dekat. Tahu kamu apa yang dia lakukan? Selama tiga hari berturut-turut, ia main sampai malam. Akhirnya Mama diamkan, tidak singgung sama sekali soal belajar dan ujian. Besoknya, begitu pulang sekolah, dia tidak keluar rumah dan hanya belajar dan belajar. Rupanya, waktu Mama masuk ke kamarnya hari itu, dia sebenarnya ganti baju mau belajar dan bukannya mau keluar rumah main.”

“Oh….” Kim tertawa kecil.

“Karel pernah cerita itu sama saya, Mam. Katanya sejak itu Mama tidak pernah marah-marah menyuruhnya belajar lagi.”

“Anak itu…” ibunya Karel menggelengkan kepalanya. Ditatapnya wanita muda di depannya lembut-lembut. “Karel bilang kamu seperti Mama. He loves you so much, Kim.”

Kim terdiam. “Dulu, Mama.” bisiknya di hati.

“Sekarang? Who knows? Mungkin cinta itu sudah sirna dari hatinya.”

Kok gantian kamu yang bengong, Kim?”

Kim memandang wajah arif di depannya. Dari dulu ia tahu, ia bisa berbicara dengan ibunya Karel sama baiknya seperti Stephanie atau Karel yang bicara dengan wanita itu. Ia seperti ibu kandungnya yang pergi ke Surga sana saat ia berumur lima tahun.

“Mungkin sekarang Karel sudah tidak mencintai saya lagi, Mam,” bisiknya lirih. Lalu kata demi kata dan kalimat demi kalimat meluncur begitu saja dari bibirnya. “Kami bertengkar hebat sekitar lima hari yang lalu. Saya sudah berulang kali bilang pada Karel supaya menutup pintu kamar. Soalnya, Mama tahu sendiri, di rumah banyak nyamuk. Apalagi kalau sudah sore. Dan entah mengapa, nyamuk-nyamuk itu senang betul menggigit saya. Selalu ada bekasnya kalau digaruk. Kalau tidak digaruk, gatalnya minta ampun. Nah, malam itu, dua kali Karel tidak menutup pintu kamar dan saya marah-marah sambil membanting pintu kamar.”

“Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaaan di rumah.”

“Maksud Mama?”

“Di rumah Mama tidak ada nyamuk, karena semua pintu dan jendela diberi Papa kawat nyamuk. Jadi kita bebas membiarkan pintu kamar masing-masing terbuka lebar. Tahu sendiri kan, Karel sering ke kamar Hanie atau Gerald, dan sebaliknya. Mungkin itu kebiasaan dari kecil yang terbawa sampai sekarang.”

“Nah, mestinya Karel kan tahu sekarang kondisi sudah berubah, Mam.”

“Begitulah. Mama juga bilang begitu pada Karel. Kita tidak boleh mengharapkan orang yang sudah menikah mendadak berubah sesuai dengan yang kita inginkan. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang mendarah daging. Bukan berarti tidak bisa diubah sama sekali, tetapi perlu waktu. Dan itu mesti komunikasi yang terbuka satu sama lain. Seperti kamu, Kim. Mungkin di rumahmu dulu semua pintu terbiasa ditutup rapat-rapat, sehingga kamu tidak bisa mengerti mengapa Karel selalu membiarkan pintu kamar terbuka. Mungkin ada juga kebiasaanmu yang tidak bisa diterima oleh Karel. Pernah Karel bilang?”

Kim terdiam. Ditatapnya ibu mertuanya. Tiba-tiba ia melihat adegan Karel yang ngomel-ngomel sambil merapikan kembali koran, majalah, dan novel yang sudah dibaca Kim, menyusunnya kembali ke rak samping tempat tidur dan kemudian menggetok ubun-ubun kepala Kim dengan manis. Kim memang selalu meletakkan begitu saja segala yang dibacanya. Di atas tempat tidur, di kursi malas, di atas tivi, di meja rias, di lantai kamar.“Sebenarnya ini pekerjaan kamu, Nyonya Karel. Seharusnya saya yang menaruh sembarangan, dan kamu yang membereskannya. Kamu sih istri ajaib.”

Dan Kim akan tergelak-gelak sambil menjawab geli, “Latihan, Sayang. Sesekali kan kita boleh bertukar peran. Kamu sih suami serba bisa.” Setelah itu, sering Kim berjanji dalam hati, nanti sehabis membaca, ia akan menaruh buku dan majalah pada tempatnya. Tapi selalu juga ia lupa, dan malamnya Karel yang mengembalikan koran, majalah, dan buku-buku itu ke tempatnya.

Kok senyum-senyum sendiri, Kim?”

“Ah, nggak…” Kim menggeleng dan memandang ibu mertuanya. “Pernah Karel cerita saya suka berantakin kamar, Mam?”

“Tidak. Kenapa?”

“Dia suka ngomel karena saya menaruh buku di mana- mana. Ah, Mama benar. Saya ingat. Dulu, saya sering bertengkar dengan adik atau kakak perempuan saya karena setiap mencari barang, saya harus membongkar empat kamar.”

“Oya? Lalu?” ibunya Karel bertanya sambil menimbang-nimbang apakah ia perlu bercerita tentang pengaduan Karel kemarin.

“Kata Karel, saya istri ajaib. Biasanya, suami yang membuat berantakan, dan istri yang merapikan. Tapi kami terbalik. Setiap Karel selesai ngomel-ngomel, saya selalu berjanji dalam hati untuk meletakkan semua buku dan majalah pada tempatnya, tapi sampai hari ini belum sukses. Tapi, oh Mama, tapi Karel tidak pernah marah-marah sampai membentak-bentak saya.”

Ibu Karel tersenyum. Ia pindah dari kursinya, dan duduk di sebelah Kim. Diambilnya tangan kiri Kim dan menggenggamnya hangat.

“Itulah, Kim. Selalu ada hal-hal kecil yang mengganggu apabila dua orang hidup bersama. Kita tidak bisa mengharapkan pasangan kita sempurna karena kita sendiri juga tidak sempurna. Mama pikir, justru karena kita tidak sempurna, maka kita memerlukan seseorang yang lain untuk melengkapi kita. Untuk lebih menyempurnakan hidup kita yang tidak sempurna. Mungkin, dalam hari-hari mendatang, ada lagi tingkah laku Karel yang tidak masuk di akal sehatmu, atau mungkin sebaliknya. Nah, terimalah itu sebagai bagian dari orang yang kamu cintai.” Mama berhenti sejenak untuk mengusap-usap punggung tangan Kim. Lalu melanjutkan dengan iringan senyumnya yang sejuk.

“Ingat apa yang kamu bilang di telepon kemarin? Rasanya surga yang kamu bayangkan sebelum menikah dulu semakin jauh. Sebenarnya tidak, Kim. Surga itu  bisa semakin jauh, tapi juga bisa semakin dekat, dan bahkan saking dekatnya bisa kita nikmati sehari-hari. Kamu ingin Karel menerima kamu apa adanya, kan? Nah, terimalah dia apa adanya. Mama yakin Mama tidak perlu  menguraikan lagi kelebihan dan kekurangan Karel. Kamu pasti sudah lebih mengetahuinya. Dan dengan berjalannya waktu, percayalah, kelebihan dan kekurangan kalian akan saling melengkapi.”

Kim tersenyum malu. Entah mengapa, tiba-tiba ia ingin sekali menyenangkan hati Karel. Tiba-tiba ia teringat, tadi pagi, majalah Femina langganannya datang. Setelah Karel ke kantor, ia membacanya dan meninggalkannya begitu saja terbuka pada halaman tengah di atas ranjang. Ah, ia harus segera meletakkan majalah itu ke raknya lagi sebelum Karel pulang.

“Sudah hampir pukul lima, Kim. Mama mau pulang dulu. Ntar keduluan Papa.”

Usai melambaikan tangan dan mobil Mama berlalu, Kim berlari menuju kamar. Seprei tempat tidur kusut, bekas ia bermalasan tadi siang, malah satu buah guling tergeletak di lantai. Cepat ia menarik seprei, memasukkan ujung yang keluar ke bawah kasur, dan menariknya hingga terlihat licin. Ia menyusun letak bantal dan guling. Setelah itu, diambilnya novel dan majalah yang terbuka halamannya, melipat halaman yang sedang dibaca dan menyusunnya ke rak samping tempat tidur. Ia memutar kepalanya, lalu jongkok dan mengintip kolong ranjang. Ada satu majalah, entah majalah apa, di ujung dalam. Pasti terjatuh sewaktu ia membaca dan ketiduran tadi malam. Kim menjulurkan kakinya ke kolong ranjang, dan berusaha mengaitnya dengan ujung jari kakinya.

“Cari apa sih, Yang?”

Kim menoleh. Di belakang pintu kamar yang tertutup, Karel ikut jongkok dan memandang ke kolong ranjang. Bagaimana bisa ia tidak mendengar pintu kamar yang dibuka dan ditutup oleh suaminya tadi?

“Ah, nggak apa-apa,” Kim melompat berdiri dan merangkul leher Karel. Ia merebahkan kepalanya ke dada bidang yang senantiasa memberikan sejuta kehangatan. “Saya sayang kamu, Karel. Sayang sekali. Saya ambilkan celana pendek dan T-shirt buat kamu ya. Kamu ganti di kamar mandi , ya.”

Karel membalas dekapan Kim, dan mengangguk patuh. Kalau tidak berpapasan dengan mobil Mama tadi, mungkin ia bingung setengah mati menerima sambutan Kim.

Begitu Karel melangkah keluar kamar, cepat-cepat Kim menjulurkan kakinya dan mengeluarkan majalah yang terjatuh di kolong ranjang dan meletakkannya di atas Femina dengan rapi. Lalu ia mencari bayangan Karel, tapi tidak menemukannya. Pintu kamar tertutup rapat. Kim mengembangkan dadanya. Rasanya surga begitu dekat, terletak di dalam rumahnya, bahkan di dalam kamarnya. []

 

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment