Bagaimana Terjadinya Petir

Cerita anak  Agus Yulianto
Narator Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

 
DOWNLOAD

Anak-anak Sekolah Dasar Semesta Cendekia bergegas pulang usai mengikuti kegiatan pembelajaran. Hari mulai sore, tetapi para siswa masih menunggu jemputan dari orang tuanya. Awan hitam tampak menggantung  di langit.  Angin berhembus semakin kencang. Suara petir menggelegar. Hujan pun turun dengan derasnya.  Bagi sebagian anak yang belum di jemput, mereka  menunggu di halaman sekolah ditemani oleh guru piket.

Suara petir menggelegar dan menjilat-jilat. Anak-anak takut dengan suara petir. Ari dan Asep salah satu dari anak-anak yang takut dengan suara petir. Mereka berdua mendekati Pak Toni, guru yang sedang piket.

“Pak, suara petirnya menakutkan,” kata Ari.

“Kalian jangan takut dengan suara petir itu. Petir itu tidak mengginggit kalian,” canda Pak Toni menggoda Ari dan Asep.

Suasana pun menjadi cair meskipun hujan belum juga reda. Sambil menunggu hujan reda. Ari dan Asep berdiskusi dengan Pak Toni yang merupakan guru IPA mereka di kelas 6.

“Pak, Kenapa setiap hujan selalu ada petir?” tanya Asep.

“Kenapa ya?” Pak Toni sambil berfikir mencari  jawaban yang membuat mereka penasaran, akhirnya Pak Toni mengambil buku pengetahuan Sains modern di rak perpustakaan. Ari dan Asep diajak berdiskusi sambil membaca dan melihat gambar-gambar yang ada di buku itu.

Anak-anak yang belum di jemput ikut bergabung mengikuti diskusi kecil itu. Pak Toni menjelaskan tentang bagaimana proses terjadinya petir?

“Begini anak-anak, petir terjadi akibat perpindahan muatan negatif menuju ke muatan positif. Petir merupakan hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energi itu sangat besar sekali. Sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat. Pasti kalian pernah mendengar suara petir seperti halilintar, geluduk, atau guntur,”

“Pernah saya mendengar suara geluduk yang selalu membuat kaget. Suaranya sangat keras sekali,” jawab Ari.

“Iya benar sekali. Suara-suara geluduk, guntur dan halilintar ini dapat menghancurkan bangunan, memusnahkan pohon bahkan bisa membunuh manusia. Makanya, ketika ada suara petir kita diminta untuk menutup kedua telinga supaya tidak merusak pendengaran kita,“ jelas Pak Toni sambil memperlihatkan beberapa gambar yang ada di dalam buku pengetahuan sains modern. Anak-anak mendengarkan dengan serius seperti mendengar sebuah dongeng.

“Ketika suara-suara petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya. Sebagai akibat dari udara yang terbelah. Sambaran petir itu rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik, itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar,” ketika asyik bercerita ada salah satu anak yang sudah dijemput oleh orang tuanya. Hujan juga belum reda, malah semakin bertambah deras.

“Tahukah kalian bahwa energi yan dilepas oleh satu sambaran petir sangat besar. Suhu di sekitar jalur petir mencapai 10.000 derajat celcius. Pantas saja, kalau ada manusia yang tersambar petir tubuhnya langsung menjadi hitam. Pohon pun kalau tersambar petir langsung tumbang,”

“Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak tersambar petir?”  tanya Asep yang serius mendengarkan penjelasan Pak Toni. Mereka mendengarkan cerita sambil memakan roti keju bekal mereka yang masih sisa.

“Supaya tidak tersambar petir. Kalau hujan deras sebaiknya berteduh di tempat yang aman. Jangan berteduh di bawah pohon, nanti malah ke sambar petir. Oleh karena itu, ada yang namanya alat penangkal petir. Coba perhatikan gedung kelas 5 lantai dua, di atas itu seperti ada besi yang menjulang keatas. Nama alat itu penangkal petir. Biasanya kalau ada bangunan yang tinggi atau bertingkat harus dipasang penangkal petir. Bertujuan untuk menghindari bahaya yang timbul dari petir itu. Alat penangkal petir akan mengumpulkan muatan listrik sebanyak mungkin. Selanjutnya, mempolarisasi atau memproses udara sehingga udara bermuatan listrik. Muatan ini akan dihantarkan udara ke awan untuk mencegah terjadinya petir,”  jelas Pak Toni di akhir ceritanya. Pak Toni pun menutup cerita tentang proses terjadinya petir. Anak-anak sangat senang sekali mendengar ceritanya.

Hujan masih belum juga reda. Bahkan tambah semakin deras. Sebagian orang tua anak-anak sudah berdatangan. Ada yang membawa mobil dan ada juga yang naik sepeda motor. Begitu juga dengan orang tuanya Ari dan Asep. Mereka dijemput dengan naik motor. Tidak lupa Ari dan Asep mengenakan jas hujan. Sebelum pulang mereka berdua tidak lupa untuk berpamitan kepada Pak Toni. Suasana sekolah sudah mulai sepi. Anak-anak sudah pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Pak Toni . ***

Berguru dari Pahlawan Oranye

Penulis : Agus Yulianto
Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana


DOWNLOAD


Berguru dari Pahlawan Oranye

SD Permata Sari di Kabupaten Karanganyar adakan kegiatan outing class. Kegiatan ini bagian dari jeda tengah semester. Kegiatan outing class ini diikuti sebanyak 30 siswa dari kelas V.  Kegiatan Outing class  kali ini  berkunjung ke kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Kabupaten Karanganyar. Para siswa ingin belajar dengan petugas SAR mengenai penanggulangan bencana alam. Bita dan Morgen senang sekali bisa mengikuti kegiatan ini.   Para siswa di dampingi Ibu Kumala sebagai wali kelasnya.

Para siswa sejak tadi pagi sudah berkumpul di depan Kantor BPD Karanganyar. Mereka  di sambut sama  kakak-kakak dari tim SAR. Sebelum kegiatan di mulai, mereka mendapat pengarahan terlebih dahulu. Bita dan Morgen juga siswa lainnya mendengarkan pengarahan dari petugas tim SAR dengan saksama. Petugas  yang memberi pengarahan bernama Kak Kiki. Berseragam warna orange.

Kak Kiki memberi pengarahan tentang petunjuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. “Jika adik-adik melihat di daerah sekitar rumah ada hutan atau ladang tiba-tiba kebakaran. Maka hal pertama yang kalian lakukan segera laporkan kepada ketua RT  atau warga setempat. Supaya mereka mengusahakan pemadaman api terlebih dahulu.

Bila api telah menjalar, adik-adik harap segera lapor kepada petugas SAR yang ada di daerah kalian,” jelas Kak Kiki di hadapan siswa SD Permata Sari.

“Kak, bagaimana caranya menghubungi TIM SAR?,” tanya Morgen penuh rasa ingin tahu.

“Nah, kalian bisa menghubungi nomor telepon XXX atau bagi yang punya smartphone bisa lewat Whatshap xxxx. Kunci utama ketika  terjadi bencana alam seperti kebakaran, angin topan, dan lainnya kita tidak boleh panik,” jelas kak Kiki sambil memperlhatkan sebuah gambar petugas yang sedang memadamkan api.

“Kak, kalau hanya kebakaran kecil. Langkah apa yang harus kita lakukan,” Bita tidak mau ketinggalan untuk ikut bertanya kepada petugas.

“Kalau hanya kebakaran kecil, misal adik-adik sedang mainan api tiba-tiba menjalar  kalau apinya tidak besar cukup disiram pakai air atau gunakan karung basah untuk menutup api tersebut,” setelah memberikan penjelasan Kak Kiki melanjutkan dengan memperagakan cara memadamkan api dengan alat yang sudah disiapkan. Selain itu para siswa juga dikenalkan dengan mobil pemadam kebakaran. Yang selama ini hanya mereka lihat di tv. Kak Kiki beserta beberapa rekannya memperagakan cara memadamkan api. Anak-anak sangat antusias sekali melihat petugas  memperagakan cara memadamkan api. Supaya tidak terkena bau asap, petugas meminta kepada anak-anak untuk memakai masker agar tidak mengganggu pernafasan.

Disela-sela praktek cara memadamkan api. Morgen bertanya kepada salah satu petugas SAR, “ Apa kakak tidak takut kebakar ketika menolong orang yang terjebak di dalam sebuah gedung?”

“Kenapa harus takut? Ini sudah menjadi tugas kami. Bahkan kami sudah siap menerima resikonya. Menolong orang itu hal yang kami utamakan,” jelas salah seorang wanita bertubuh tinggi, berambut pendek yang merupakan bagian dari tim SAR juga.

“Wah, kakak walaupun wanita tapi pemberani. Kakak benar-benar wanita tangguh. Melebihi superhero,” pujian yang menggelitik diberikan Morgen kepada  wanita itu. Wanita itu hanya tersenyum mendengar pujian dari Morgen. Nama kakak itu adalah Tina, merupakan satu-satunya wanita yang bergabung menjadi tim SAR.

“Nah, adik-adik, akhirnya praktek memadamkan api sudah selesai. Pesan kakak buat kalian mari menjaga lingkungan sekitar kita dengan baik. Jangan suka bermain api. Apabila kalian melihat bencana harap segera hubungi petugas SAR terdekat, “ pesan Kak Kiki kepada seluruh siswa SD Permata Sari. Mereka semua bahagia dan  senang telah mendapatkan ilmu tentang penanggulangan bencana.

Disela-sela penutupan kegiatan outing class Morgen pun memberikan julukan kepada petugas SAR sebagai pahlawan orange. Sebab mereka petugas kemanusiaan yang berani berkorban tanpa mengenal waktu. Setiap saat harus siap melayani masyarakat apabila dibutuhkan. Kakak-kakak dari tim SAR Kabupaten Karanganyar sangat senang sekali mendapatkan kunjungan dari para siswa SD Permata Sari. Mereka juga mengucapkan terimakasih atas sebutan yang diberikan sebagai Pahlawan Orange.**

 

 

Puisi – Perempuan Itu

DOWNLOAD

Puisi Agus Yulianto

 

Wajah sayu menatapku sendu

Matanya ada segenang air cinta

Menetes basahi wajah pilu.

 

Perempuan itu…

Tak ada kata sepatah pun

Karna luka yang menyayat.

 

Semburat hati yang pilu

Wajah perempuan itu

Ada rasa ingin ku dekat

Memeluk erat.

 

Perempuan itu…

Tertegun di ujung senja

Sambil menyeka air mata

Menahan haru perih kehidupan

Seka air matamu

Dari kehilangan cinta yang penuh duka

Biarkan ia pergi bersama angin lalu

 

                                                   Karanganyar 2015

 

 

Puisi – Maaf, Bu

DOWNLOAD

Puisi Agus Yulianto

 

Teduh, aku memandang wajahmu

Di dalam kesepian, para malaikat menemanimu

Maaf, aku bukan malaikat itu

Sungguh malu aku, ketika usiamu mulai senja

Aku tak dapat bercerita tentang cinta dan kesetiaan

Wajahmu pucat serupa bulan cacat

Kau pun tak bisa menerka seperti apa harumnya bunga mawar atau melati.

 

Aku ingin memujamu seperti bulan purnama

Tetapi kau tertawa, kau terus tertawa

“buat apa pujaan itu, ketika kau tak peduli lagi pada usia senjaku,

tidakkah kau mencintaiku seperti aku  mencintaimu’, katamu

maka malam pun gelap, segelap  rumahku tanpa senyuman manismu.

Maaf, bu.

 

April 2018

 

 

 

 

>