Tiga Cerita di Batang Pisang

Cerpen Hermawan Aksan
Versi cetak Suara Merdeka, 7 November 2010
Narrator: Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Endah Fitriana


DOWNLOAD

Cerita Satu: Kurusetra

MAKA berceritalah Ki Dalang. Kocap kacarita….

Baratayuda akhirnya pecah juga meskipun sudah dilakukan berbagai

upaya untuk mencegahnya. Bahkan seorang Kresna, titisan Wisnu yang

sangat dihormati dan dipuja, tak mampu membendung gejolak saling

menumpah darah antarsaudara.

Begitu sabda sang raja kedua kubu membahana, kedua pasukan pun

saling berhadapan langsung di arena Kurusetra, dengan tameng di depan

dada, pedang dan tombak di genggaman, dan tanda tanya di kepala:

untuk apa? Toh mereka tinggal menunggu auman sangkakala. O, gelar

pasukan yang alangkah indah! Bukan kuda-kuda yang bersiap tawur

dalam perang campuh, bukan pula pameran kekuatan yang hanya

mengandalkan kegagahan diri berlebihan, melainkan langkah tegap dan

sikap tengadah untuk bersiap memulai tarung secara ksatria. Masing-

masing akan berhadapan dengan lawan yang setara.

Tak ada perwira yang sedia beradu pedang dengan tamtama. Tak ada

ksatria yang sudi membasahi tangannya dengan darah para sudra.

Sebaliknya, tak ada tamtama yang memberanikan diri menghadapi

perwira. Kemenangan akan ditentukan oleh gelar pasukan, tapi juga oleh

satu per satu kedigdayaan.

(Tapi, oh, apakah kemenangan juga ditentukan oleh takdir? Siapa yang

menentukan takdir? Kalau takdir sudah menentukan siapa yang bakal

menang, buat apa harus terjadi perang?) Ketika sangkakala meraung di

fajar yang mencekam, kedua kubu melaju dengan derap langkah yang

mantap dan kecepatan yang niscaya. Genderang dan tambur berdebum.

Dan ujung-ujung pedang yang saling membentur, disertai sorak-sorai yang

menggema, lebih menggairahkan ketimbang gamelan istana.

Lalu, tatkala tajam tombak menembus dada, dan menyemburkan darah

dari lubang seberang, jiwa pun melayang menuju arah yang benderang.

Tiada sesal ketika ujung-ujung senjata menembus tubuh mereka karena

tiap jiwa terbang menuju nirwana.

Sangkakala kembali berkumandang pada saat sang surya menyelinap ke

balik gunung dan langit tinggal garis-garis semburat merah. Tombak dan

pedang kembali tersarung dan sorak-sorai surut ditelan remang petang.

Semua prajurit menarik langkah ke kemah, menghimpun lagi tenaga dan

menyusun gelar baru, mempersiapkan episode berikutnya esok hari.

Esoknya, dan hari-hari berikutnya, bersiaga para ksatria, yang selama ini

memenuhi halaman kitab-kitab sastra. Para putra Pandawa dan Kurawa

saling berlaga beradu senjata. Masing-masing sudah punya lawan.

Pancawala, Angkawijaya, dan tentu saja Gatotkaca, bertarung sebagai

perisai Amarta, beradu jiwa dan raga dengan Burisrawa, Lesmana, dan

Jayadrata dari Hastina.

Dan, setelah para putra mereka perlaya, lalu Duryudana, Dursasana, dan

kesembilan puluh delapan adiknya, dibantu para waskita seperti Karna,

Durna, Bisma, dan Salya tampil satu demi satu mendarmabaktikan jiwa-

raga mereka untuk negeri yang mereka bela, Arjuna dan Bima maju

menjadi penentu….

“Ki Dalang!” Ki Dalang memandang arah suara datang.

“Mengapa para putra Pandawa harus gugur meskipun demi kejayaan

negeri mereka? Bukankah mereka adalah generasi yang lebih muda, yang

mestinya berkesempatan menghirup udara kehidupan lebih lama?”

Ki Dalang terdiam. Perang terhenti.

“Jawablah, kami ingin kejelasan. Bagaimana logika yang mendasarinya?

Bagaimana kita menarik moral dari cerita yang memutus sebuah

generasi?”

“Saya tak bisa menjawab pertanyaan ini. Kisah Baratayuda sudah digelar

beribu kali dan tak pernah ada perubahan cerita.”

“Bukankah Ki Dalang punya kewenangan membikin cerita yang baru yang

berbeda?”

“Kalau berubah, bukan lagi Baratayuda namanya.”

Penonton bungkam. Perang masih terhenti. Dan angin mati.

Cerita Dua: Astrajingga

KI Dalang kalang kabut ketika ia tak menemukan Semar dan anak-

anaknya di kotak wayang. Padahal, tiba saatnya para punakawan naik

pentas, melepas ketegangan di antara dentang pedang dan jerit kematian

di Kurusetra.

“Tadi ada,” kata pembantu dalang, dengan suara bergetar oleh rasa

gentar. Ia bertugas menyodorkan wayang yang diminta Ki Dalang.

“Coba cari lagi, siapa tahu keselip di antara para buta,” ucap Ki Dalang.

Pembantu dalang meneliti satu demi satu deretan wayang yang sudah

terpasang, baik yang berjajar di sebelah kiri maupun di sebelah kanan

batang pisang. Namun ia tak menemukan Astrajingga, Udawala,

Nalagareng, dan ayah mereka.

Diaduk-aduknya isi kotak wayang, siapa tahu ia lupa belum mengeluarkan

keempat wayang berwajah lucu itu meskipun, seingatnya, ia sudah

melakukannya sejak sore menjelang pentas. Ia hafal bahwa Ki Dalang tak

pernah menunggu puncak malam untuk menggelar gara gara para

punakawan. Semua isi kotak sudah dikeluarkan, tapi para punakawan itu

tak juga ditemukan. Ke mana mereka? Apakah ada yang mencuri? Buat

apa? Bahkan dalam bentuk ukiran kayu, harga punakawan tak lebih dari

para raksasa buruk rupa.

Lengking merdu Nyi Sinden sudah lewat setengah kawih. Mestinya,

Astrajingga langsung muncul dari awal dan berjaipongan.

“Mana, nih, Cepotnya!” teriak penonton.

Ki Dalang kian gelagapan. Dengan matanya ia bertanya. Namun si

pembantu, yang sudah bermandi peluh, karena lelah dan takut, hanya bisa

mengangkat bahu.

Dan, bahkan hingga lengking kawih pudar di langit malam, entakan-

entakan kendang hanya mengiringi pentas batang pisang yang hampa.

Akhirnya, Ki Dalang meneruskan pentasnya tanpa kehadiran punakawan,

tanpa selingan humor-humor segar yang menertawakan. O, bisa saja ia

memainkan para buta untuk bercanda, tapi tentu tak akan bebas seperti

senda-gurau Astrajingga dan Udawala. Dan yang pasti, tak mungkin

Yudistira bersabda sekaligus bercanda.

Ketika pentas tuntas, dan Ki Dalang membereskan wayang-wayangnya, ia

mendapati keempat punakawan mengintip dari balik kotak. Ki Dalang

terperangah.

“Nah, ini ada! Di mana tadi menyimpannya?” tanya Ki Dalang kepada

pembantunya.

Sebelum pembantu dalang menjawab, sekonyong-konyong Astrajingga

tertawa. Ki Dalang terkesiap. Bagaimana mungkin wayang tertawa

sendiri?

“Jangan terkejut, Ki Dalang,” kata Astrajingga. “Kami memang

memutuskan untuk istirahat dulu. Di negara yang sudah makin lucu ini,

buat apa kami tampil kalau tak lagi membuat penonton tertawa?”

Cerita Tiga: Indraprasta

KIAN panik Ki Dalang bukan kepalang. Ia tak bisa lagi menemukan

wayang-wayang dengan cepat. Wayang-wayang seakan-akan berebut

tempat di sebelah kanan batang pisang. Para raksasa, siluman, dan

denawa buruk rupa berdesakan dengan para ksatria tampan. Batas

memudar antara pembela kebenaran dan pengusung kejahatan.

Mengapa bisa begitu, Ki Dalang tak tahu. Ketika menyusun wayang-

wayang, ia dan pembantunya yakin bahwa para ksatria semua berjajar di

sebelah kanan dan para raksasa berbaris di sebelah kiri batang pisang.

Karena itu pergelaran menjadi tersendat-sendat seperti laju kura-kura. Ia

yakin sudah meraih Prabu Yudistira, eh, yang terpegang malah

Dursasana. Nyaris ia memainkan tokoh Hastina itu ketika ia membuka

adegan pasowanan di Keraton Indraprasta. Ia juga sudah siap menarikan

Astrajingga dalam entakan kendang yang mulai menggila, tapi yang

terpegang di tangannya adalah Dewi Supraba. Sungguh memalukan kalau

sampai sang dewi swargaloka berjaipongan sambil bercanda….

Yang lebih ganjil, Ki Dalang tak mampu lagi mengendalikan cerita. Alur

mengalir liar di luar kehendaknya. Ia sudah mempersiapkan cerita tentang

pengukuhan Yudistira sebagai raja Indraprasta, sesuai dengan permintaan

si empunya hajat, yakni seorang bupati yang baru terpilih.

Namun cerita berkembang tak jelas arah ketika tiba-tiba saja Bima

menolak pengangkatan itu. Bima beralasan kakak sulungnya berkubang

dosa yang mustahil terampunkan, yakni bermain dadu dengan

mempertaruhkan Kerajaan Hastina, bahkan istrinya sendiri, Dewi Drupadi.

Bima pun mengajukan diri untuk menjadi calon penguasa alternatif.

Alasannya, dialah yang selama ini menjadi tulang punggung perjuangan

Pandawa. Ia siap bersaing dengan kakaknya sendiri untuk berebut takhta.

Bima tidak sendiri. Sang panengah, Arjuna, pun mendadak berteriak

macam pelantang. Ia juga merasa berhak untuk bersaing dengan kedua

kakaknya guna berebut mahkota kebesaran. Arjuna berkilah, karena

memiliki rupa bak Kamajaya, dialah yang paling pantas menjadi raja.

Bahkan Nakula dan Sadewa, yang biasanya tak pernah bicara, kali itu juga

turut mengajukan diri bersaing sebagai pasangan raja dan menteri

perdana.

Kisah menjadi makin runyam ketika tokoh-tokoh golongan kiri—mereka

yang biasanya berbaris di sebelah kiri batang pisang berbondong-bondong

mengajukan diri untuk menjadi raja di Indraprasta. Dari Jayadrata,

Citrayuda, Dadungawuk, Padasgempal, hingga Sarpakenaka beramai-

ramai mendatangi istana.

“Setop! Setop!” Pak Bupati berteriak-teriak dari barisan terdepan para

tamu. Mukanya merah, malu tak terperi, karena ia berdampingan dengan

tokoh-tokoh terhormat dari provinsi.

“Ki Dalang, kenapa cerita tak keruan begitu?” semburnya.

“Saya juga tak mengerti,” sahut Ki Dalang.

“Bagaimana mungkin?”

“Lihat saja sendiri apa yang terjadi.”

Di pentas batang pisang, wayang-wayang berjalan, menari, dan berbicara

sendiri!

Tutup lawang sigotaka. (*)

Bumiayu, Oktober

Dari Wanita Bonsai Kepada Anda

Cerpen Willy Wonga
Narator Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

 
DOWNLOAD

Maka ketika dada yang bergemuruh itu pecah, seorang wanita dengan mimpi menjadi beringin besar telah memutuskan, dengan bisu untuk bergabung kembali dengan sebentuk bonsai yang teronggok di atas meja kaca.

“Baiklah, ini sudah seribu tahun. Aku tidak bisa menemukannya lagi.” Katanya sekali saja sebelum bonsai menelan jiwanya.

Sementara itu seorang lelaki yang tahu banyak hal tentang si wanita duduk di sampingnya, memegang sebuah buku bersampul merah yang nantinya hanya akan pernah dibaca oleh beberapa orang saja di dunia ini.  Juga selingkar jam tangan elektrik dengan rantai metalik yang memantulkan cahaya matahari, bulan dan bintang-gemintang. Ketika jam itu berdetak, waktu pun berjalan mundur.

Lelaki itu tahu seluruh kisah hidup wanita itu dengan lengkap, hampir sempurna. Di kepalanya, wanita itu telah sangat menderita hingga lupa bagaimana menyambut hidup seolah-olah setiap hari adalah satu hari yang sama; warna yang sama, bau yang sama, rasa yang sama, kebosanan yang makin pekat.

Kecantikannya berupa seribu hari ingatannya yang hilang. Gurat tajam di sudut matanya adalah bentuk dari semangat yang surut. Bicaranya yang tidak banyak merupakan bagian dari kesepian seseorang yang daripadanya impian tentang surga dihapus satu persatu. Dan di hari ketika dia berubah lagi menjadi bonsai, maka dunianya menjadi tidak lebih daripada setapak tangan. Meja antik, pot manis, bagaimanapun tidak sepadan dengan apa yang direnggut daripadanya.

Dan tuan, Andalah kekasihnya!

Wanita itu telah menulis surat kepada anda namun tidak ada alamat untuk dituju. Surat-suratnya kemudian menumpuk, memerah lalu menjadi semacam kitab. Jadi kepada andalah kitab ini akan disampaikan. Dan jangan lupa jam tangan itu, yang ketika jam itu berdetak waktu pun berjalan mundur.

*****

Anda dan wanita itu sudah ditakdirkan untuk hidup abadi sejak hari pertama. Bayangkan kisah cinta yang abadi, dijalankan oleh dua orang yang hidup abadi, di dunia yang sepertinya akan abadi pula.

Bila suatu hari lelaki itu pergi ke padang rumput dia akan bertemu seorang gadis pemerah susu yang jelita. Jika cinta bisa dimulai dari senyuman pertama, maka demikianlah kejadiannya. Begitulah, anda adalah lelaki itu dan si wanita bonsai adalah gadis pemerah susu.

Kalian kemudian menikah dan tinggal di beberapa kota yang jauh dari tanah kelahiran. Kalian lalu beranak lalu bercucu. Abad demi abad pun berlalu.

Di hari baik dan hari buruk, wanita itu pergi ke toko swalayan dengan tas kecil mungil tersampir di bahu kanannya, membeli segala macam rerempah serta daging terbaik untuk makan malam kalian. Wanita telah menggunakan parfum-parfum berwangi lembut, mengenakan gaun-gaun anggun pada upacara-upacara istimewa, membaca banyak buku hampir seratus eksemplar yang ditulis oleh penulis dari masa ke masa serta menonton film-film percintaan terbaik yang pernah diciptakan. Dia melewatkan waktu malam di kedai kopi, dan bila bulan sedang tumbuh dia pergi ke pantai menyaksikan anak penyu. Dia menyukai musik klasik sebagaimana dia menyukai jus segar pada siang musim kemarau. Dia memasak dan menyisir rambut dengan sama piawai layaknya istri dalam kisah dongeng yang melenakan. Sesekali, di tengah malam saat terbangun karena sebuah mimpi, wanita itu akan mengajakmu bercinta.

Namun ada hari yang tampak lebih buruk dari hari lainnya, ibaratnya susunan tangga, maka hari itu adalah dua atau tiga tangga yang hilang sekaligus yang membuatmu terperangah dan sesak napas dan lantas berpikir apakah semua akan berakhir di hari itu. Hari itu Anda merasa tidak menginginkan wanita itu lagi. Itulah yang terjadi pada suatu hari di tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu; setelah hampir tujuh ratus dua puluh lima tahun bersama, anda merasa tidak mencintainya lagi.

Kira-kira apa yang akan anda lakukan setelah itu?

Di luar sana, banyak orang yang ketika merasa cintanya mati akan memilih mati pula. Tetapi bagaimana anda hendak menyingkirkan seorang wanita abadi? Anda pun pergi keluar rumah, berbaring di bebatuan tajam, berjalan masuk ke hutan yang penuh pakis basah, dan anda menemukan sepohon beringin muda.

“Aku akan meniupkan jiwa kekasihku ke dalam pohon ini. Jika dia tidak bisa musnah karena telah ditakdirkan untuk abadi, maka dia akan abadi di dalam pohon ini.”

Anda lanjut pergi ke toko barang bangunan untuk membeli sebuah gunting, sebuah pot, sedikit pupuk, kawat dan semacam obat nyamuk untuk wanita itu yang kemudian akan membuatnya tertidur sejenak.

Anda mencabut beringin muda dari suatu tempat lalu meniup jiwa wanita itu ke dalamnya. Apa yang terjadi pada hari itu, hanya Anda dan Tuhan Anda yang tahu.

Tahun demi tahun yang lewat hanya akan memahirkan anda membentuk bonsai dari beringin itu sehingga melalui kedua tangan anda yang artistik, jenis-jenis bonsai akan diciptakan; bonsai tegak lurus untuk tahun chokkan, bonsai tegak berliku selama seabad tachiki, bonsai miring dalam semasa shakan, dan bonsai kengai bonsai menggantung.

Tiap tunas yang anda pangkas, tiap ranting yg tidak anda perlukan dan tiap batang yang anda bengkokan; untuk suatu keindahan dia butuh luka. Anda memberikan dia air secukupnya, cukup untuk membuatnya terpojok dan berhenti tumbuh. Anda membuat dunia wanita menjadi kecil. Maka daun dan batangnya mengikuti akarnya yang kerdil. Maka di bawah sinar matahari musim panas yang membara, wanita dalam sebatang bonsai yang kau ramu dengan mahir itu, menjadi tidak hidup, dan hanya cantik saja.

Hingga datanglah tamu dari negeri seberang laut, melihat pot dengan beringin yang anda ramu, dia jatuh cinta.

“Oh, alangkah manisnya beringin kecil ini. Maukah anda menjualnya kepadaku? Aku ingin menukarkan setengah hartaku untuk membawanya pulang.”

“Aku menamainya bonsai.” Katamu.

“Bonsai? Aku malah akan menamainya keindahan atau kebebasan atau bentuk cinta yang agung.” Dan dia membawa pergi wanita bonsai itu dari hadapan anda. Di negeri yang baru, lelaki yang membelinya darimu akan menjelaskan ke orang-orang dengan caranya sendirinya tentang wanita bonsai.

“Ini sebuah keindahan.” Katanya kepada generasinya, lalu mewariskannya kepada anak cucunya.

“Ini sebuah seni yang mahal.” Suara dari generasi berikutnya.

“Ini sebuah keseimbangan. Titik tertinggi melambangkan langit, titik terendah melambangkan bumi sedang yang tengah melambangkan manusia.” Generasi lainnya lagi menamainya dengan pura-pura agung. Ibaratnya sebuah lelucon yang tidak lucu, dalam sebuah acara komedi di televisi dimana pemirsa yang jemu pura-pura ikut tertawa.

Tapi, tuan, wanita itu akan selalu menanti Anda menjemputnya pulang.

******

Lalu dengan langkah tegap lelaki yang mengetahui kisah hidup wanita bonsai itu akan berjalan melintasi sungai, mengangkangi kali-kali mati, untuk sampai kepada Anda.

“Hai kekasihku, Aku ingin pulang.” Surat wanita bonsai yang pertama. Dia demikian putus asa sekarang. Ketika dia merasa jiwanya akan terbelenggu terus menerus dalam bonsai itu, dia pun menulis surat yang lain;

“Aku bonsai, aku tidak mau hidup terperangkap di dalam sini lagi. Aku ingin besar. Aku ingin memberingin. Aku ingin merasakan bebatuan, mineral dan tanah yang luas. Aku ingin merasakan bulan di malam gelap dengan lengkingan anjing buduk.”

Lelaki itu pun terus berlari di tengah kota, di trotoar dengan gambar-gambar di muka tembok, gambar bunga kamboja di dinding yang mati dan berdebu. Dia akan terus berlari, dalam mimpi dan dalam sadar sementara hari-harinya akan terbentuk dari pesan si wanita yang membias di antara puncak bangunan dan pohon-pohon setengah mati di pusat-pusat kota. Sesekali, lelaki itu akan kehausan, dia akan menginap sejenak membeli beberapa botol air, dan di bawah matahari yang telanjang dia akan terbakar namun pada yang sama dia merasa gentar karena pesan si wanita yang dingin.

“Kekasihku, apa yang kau dapat dengan mengurungku?” suara wanita pemberi pesan itu mendentum dalam dadanya.

Barangkali, dalam perjalanannya dia akan bertemu dan jatuh cinta kepada seorang gadis di kota yang dia singgah semalam. Tetapi cinta semacam itu hanya bertahan sehari sebelum angin menghapus jejaknya menjelang waktu makan malam tiba. Bagi laki-laki itu, cinta yang abadi hanyalah cinta wanita bonsai kepada Anda, Tuan.

Bila hari-harinya menjadi semu dan suntuk di pusat-pusat belanja, lelaki itu akan berlari ke tepi hutan, duduk sendirian di seberang jalan. Angin akan menggulungnya sejenak, menawarkan kesegaran yang sama dengan sungai di tengah musim kemarau, sebelum angin berlalu dan lindap di reranting.

“Mana yang lebih masuk akal, kekasihku, kebebasanku atau keindahanku? Tentu kau akan memilih keindahan. Itu sebabnya kau memberikan sebidang dunia yang kecil; meja kaca, pot antik dan sederet wangi-wangian. Kau membiarkanku pucat dan kehilangan warna, kau memberiku makan yang hanya cukup untuk tumbuh sejengkal dalam sepuluh tahun.”

Maka lelaki itu akan terus berjalan, berlari dan melolong. Di kepungan kota dan di kampung-kampung nelayan, di hutan dan di pinggir sungai kesepian. Bila malam datang, dia melihat lampu trotoar juga sekilas samar cahaya bulan dan bintang-bintang. Tetapi keraguan besar membucah dadanya; sampai kapankah dia akan mencarimu, Tuan?

Dari timur, inilah cerita mengenai wanita bonsai, ketika orang Jepang mengecilkan sebuah pohon ke dalam gelas, mereka sebenarnya sedang mengurung seorang wanita muda kesepian. Ini bukan kisah mengenai keharmonisan manusia dengan alam, tetapi tentang daun-daun yang dipangkas, dahan-dahan yang digantungkan batu, batang-batang yang terlilit kawat, akar yang pendek. Tahukah mereka, ketika mereka membuat miniatur dari pohon yang hidup, sebenarnya mereka sedang membuat kehidupan yang mengerikan.

****

Dedaunan pinus di suatu puri yang jauh, kembang cempaka jatuh berserakan pada musim berbunga; siapakah yang lebih sendu lagi daripada seorang lelaki yang berjalan sendiri di kegelapan hutan, hingga hanya sibakan pakis dan langkah kaki sendiri yang terdengar, membawa pesan sederhana bahwa burung yang disangkar akan selalu bermimpi terbang tinggi, tentang jiwa yang dipangkas akan mati perlahan walaupun dia hidup seribu atau sejuta tahun lagi?

Ketika jam dengan rantai metalik itu berdetak, ketika saat bersamaan waktu sedang berjalan mundur, ketika lembar-lembar surat di kitab merah akan terbuka_Anda, Tuan yang terlibat dalam masalah ini, tahukah mengapa wanita itu terus menanti anda hingga tahun ke seribu? Tidak bisa dibayangkan betapa tercengangnya anda nanti.

iiii

Bagaimana Terjadinya Petir

Cerita anak  Agus Yulianto
Narator Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

 
DOWNLOAD

Anak-anak Sekolah Dasar Semesta Cendekia bergegas pulang usai mengikuti kegiatan pembelajaran. Hari mulai sore, tetapi para siswa masih menunggu jemputan dari orang tuanya. Awan hitam tampak menggantung  di langit.  Angin berhembus semakin kencang. Suara petir menggelegar. Hujan pun turun dengan derasnya.  Bagi sebagian anak yang belum di jemput, mereka  menunggu di halaman sekolah ditemani oleh guru piket.

Suara petir menggelegar dan menjilat-jilat. Anak-anak takut dengan suara petir. Ari dan Asep salah satu dari anak-anak yang takut dengan suara petir. Mereka berdua mendekati Pak Toni, guru yang sedang piket.

“Pak, suara petirnya menakutkan,” kata Ari.

“Kalian jangan takut dengan suara petir itu. Petir itu tidak mengginggit kalian,” canda Pak Toni menggoda Ari dan Asep.

Suasana pun menjadi cair meskipun hujan belum juga reda. Sambil menunggu hujan reda. Ari dan Asep berdiskusi dengan Pak Toni yang merupakan guru IPA mereka di kelas 6.

“Pak, Kenapa setiap hujan selalu ada petir?” tanya Asep.

“Kenapa ya?” Pak Toni sambil berfikir mencari  jawaban yang membuat mereka penasaran, akhirnya Pak Toni mengambil buku pengetahuan Sains modern di rak perpustakaan. Ari dan Asep diajak berdiskusi sambil membaca dan melihat gambar-gambar yang ada di buku itu.

Anak-anak yang belum di jemput ikut bergabung mengikuti diskusi kecil itu. Pak Toni menjelaskan tentang bagaimana proses terjadinya petir?

“Begini anak-anak, petir terjadi akibat perpindahan muatan negatif menuju ke muatan positif. Petir merupakan hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energi itu sangat besar sekali. Sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat. Pasti kalian pernah mendengar suara petir seperti halilintar, geluduk, atau guntur,”

“Pernah saya mendengar suara geluduk yang selalu membuat kaget. Suaranya sangat keras sekali,” jawab Ari.

“Iya benar sekali. Suara-suara geluduk, guntur dan halilintar ini dapat menghancurkan bangunan, memusnahkan pohon bahkan bisa membunuh manusia. Makanya, ketika ada suara petir kita diminta untuk menutup kedua telinga supaya tidak merusak pendengaran kita,“ jelas Pak Toni sambil memperlihatkan beberapa gambar yang ada di dalam buku pengetahuan sains modern. Anak-anak mendengarkan dengan serius seperti mendengar sebuah dongeng.

“Ketika suara-suara petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya. Sebagai akibat dari udara yang terbelah. Sambaran petir itu rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik, itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar,” ketika asyik bercerita ada salah satu anak yang sudah dijemput oleh orang tuanya. Hujan juga belum reda, malah semakin bertambah deras.

“Tahukah kalian bahwa energi yan dilepas oleh satu sambaran petir sangat besar. Suhu di sekitar jalur petir mencapai 10.000 derajat celcius. Pantas saja, kalau ada manusia yang tersambar petir tubuhnya langsung menjadi hitam. Pohon pun kalau tersambar petir langsung tumbang,”

“Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak tersambar petir?”  tanya Asep yang serius mendengarkan penjelasan Pak Toni. Mereka mendengarkan cerita sambil memakan roti keju bekal mereka yang masih sisa.

“Supaya tidak tersambar petir. Kalau hujan deras sebaiknya berteduh di tempat yang aman. Jangan berteduh di bawah pohon, nanti malah ke sambar petir. Oleh karena itu, ada yang namanya alat penangkal petir. Coba perhatikan gedung kelas 5 lantai dua, di atas itu seperti ada besi yang menjulang keatas. Nama alat itu penangkal petir. Biasanya kalau ada bangunan yang tinggi atau bertingkat harus dipasang penangkal petir. Bertujuan untuk menghindari bahaya yang timbul dari petir itu. Alat penangkal petir akan mengumpulkan muatan listrik sebanyak mungkin. Selanjutnya, mempolarisasi atau memproses udara sehingga udara bermuatan listrik. Muatan ini akan dihantarkan udara ke awan untuk mencegah terjadinya petir,”  jelas Pak Toni di akhir ceritanya. Pak Toni pun menutup cerita tentang proses terjadinya petir. Anak-anak sangat senang sekali mendengar ceritanya.

Hujan masih belum juga reda. Bahkan tambah semakin deras. Sebagian orang tua anak-anak sudah berdatangan. Ada yang membawa mobil dan ada juga yang naik sepeda motor. Begitu juga dengan orang tuanya Ari dan Asep. Mereka dijemput dengan naik motor. Tidak lupa Ari dan Asep mengenakan jas hujan. Sebelum pulang mereka berdua tidak lupa untuk berpamitan kepada Pak Toni. Suasana sekolah sudah mulai sepi. Anak-anak sudah pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Pak Toni . ***

Aku dan Purnama

Penulis : Astuti Parengkuh

Pemenang Harapan Sayembara menulis Cerpen. Universitas Negeri Makassar

Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik Endah Fitriana


DOWNLOAD

 

Sesekali aku sengaja naik ke lantai dua  saat hujan turun. Lalu di teras loteng yang tak beratap itu, kutengadahkan wajah dan  tanganku ke atas untuk menyamarkan buliran air mata yang menyatu dengan air mata langit. Di tengah isak yang tak akan terdengar oleh seisi rumah, diam-diam hatiku sesak. Beberapa jenak aku akan menipu diri seolah-olah tegar dengan keadaan sebelum masuk ke rumah kembali dalam keadaan basah kuyup. Kukatakan kepada ibu jika aku rindu bermain hujan-hujanan seperti masa kecil. Ibu tak tahu jika aku merindukan seseorang nun jauh di sana; Kang Ama.

Beberapa kalimat yang kurangkai menjadi barisan kata-kata yang kini usang masih tertulis pada diary biru laut. Kubiarkan diriku bercengkerama dengan kenangan. Seperti hendak menyelam di kedalaman laut, aku tak ingin tenggelam dan kehabisan oksigen sebelum benar-benar henti napas.

kenangan tentang Kang Ama tiba-tiba melintas begitu saja beberapa puluh menit lalu. Aku ingin menziarahinya dengan menangis sejadi-jadinya, namun di suasana rumah masih ramai, mana mungkin itu kulakukan. Ketika hujan turun deras, kuanggap ada malaikat yang mendengar doa keinginanku. Maka mengeluarkan tangisan dalam derai hujan adalah menyembunyikan rindu yang tersamarkan.

Pagi ini aku akan menemui Kang Ama seperti janjiku kepadanya menjemput di stasiun Lempuyangan. Dia laki-laki yang kukenal beberapa tahun lalu saat menjadi mahasiswa di sebuah universitas. Kang Ama indekos di dekat rumah. Setiap pagi Kang Ama selalu menyempatkan diri sarapan di warung kepunyaan keluargaku. Kang Ama menyambi menjadi karyawan di sebuah toko komputer dan selalu mengambil shift sore. Kadang malam hari. Dia sering pulang pagi dan langsung menuju warung ibu.

Kang Ama menumpang kereta api Lodaya. Azan subuh baru saja terdengar, sementara para penumpang keluar dari gerbong seperti deretan semut yang menyembul dari lubang tanah.  Kulihat Kang Ama berjalan ke arah pintu keluar seperti orang-orang yang segerbong dengannya.

“Kang Ama?” sapaku sambil aku sentuhkan punggung tanganku ke punggung tangannya.

“Hai, Wid. Udah lama menunggu aku?”jawabnya kemudian sambil menggamit lenganku.

Kang Ama, kalau saja beberapa hari lalu aku tak memperoleh nomor teleponnya, mungkin aku tidak dapat menghubungi.Rupanya ibu masih menyimpan nomor telepon rumah keluarga Kang Ama. Dan sejak beberapa hari lalu setiap pagi, Kang Ama tak lupa menelepon ibu dan aku. Tepat di waktu-waktu dulu dia suka mampir ke warung untuk makan. Namun sekarang ibu sudah beranjak tua, warung makan sudah dijaga para pembantu. Ibu hanya menyiapkan bumbu-bumbu saja.

“Kita ngopi sebentar, Kang Ama? Hari masih sangat pagi,” usulku.

“Maaf, aku ke musala dulu,” jawab Kang Ama sambil mengeluarkan stik yang sudah dilipatnya di dalam tas. Dia berjalan sekira 10 meter hingga sampai ke musala stasiun.

“Wid, bagaimana keadaan kota Yogya sekarang?” Kang Ama mulai ingin tahu dengan kota yang pernah ditinggalkannya belasan tahun lalu.

“Yogya makin cantik, Kang. Seperti aku yang senantiasa berdandan,” candaku yang dibalasnya dengan tertawa ngakak,khas Kang Ama.

“Iya, iya percaya kalau kamu gadis paling cantik sekampung Prayan. Bukankah dulu aku pernah mengatakannya kepadamu?” Kang Ama masih ingat.

“Kamu sudah semester berapa sekarang?”tanya Kang Ama sambil menyeruput kopi hitam yang asapnya mengepul dan mengeluarkan bau khas campuran jagung.

“Aku baru menulis skripsi, Kang. Aku udah semester tua,” jawabku sambil terkekeh.

“Wah ternyata lama juga ya aku meninggalkan kota Yogyakarta,”

“Benar, Kang Ama. Saat Kang Ama lulus fakultas teknik, Widya masih duduk di bangku kelas 6 SD,” jawabku.

“Dan kau selama ini hanya tinggal di Jogja saja? Kalau aku sudah melalangbuana hahaha…”Kang Ama tertawa sambil memperlihatkan sederetan giginya yang tampak rapi.

Setelah selesai minum kopi di kedai dekat stasiun, lalu aku mengajak Kang Ama beranjak. Kusentuh lagi tangannya dengan punggung telapak tanganku.

“Ayo, Kang, kita jalan,” kataku.Beberapa detik kemudian Kang Ama menggandengku.

“Kamu sudah prigel menemani seseorang sepertiku. Kamu sangat cekatan dan sabar ya,”kata Kang Ama.

“Oh, itu karena aku juga akrab di komunitas yang didalamnya aku bertemu dengan teman-teman seperti Kang Ama,”kataku.

“Kamu kerja di panti?”

“Semacam itulah.”

Sejurus kemudian, ingatanku kembali ke masa 15 tahun yang silam.

***

 

15 Tahun Lalu

 

Pagi hari Kang Ama datang ke warung kami untuk sarapan. Dia seperti tergesa-gesa karena hendak mengikuti unjuk rasa mahasiswa menuntut reformasi yang beberapa hari ini terjadi di kampus. Kang Ama juga memesan 50 nasi bungkus pada ibu sehari sebelumnya. Setelah nasi yang dipesannya sudah pasti jadi di saat siang waktu jam makan, Kang Ama langsung pamit.

“Kemarin ada yang terluka, Purnama.Jadi berhati-hatilah,”kata Ibu menyampaikan pesan kepada Kang Ama.

Ibu lebih suka memanggil Kang Ama dengan panggilan nama sebenarnya. Tidak seperti teman-teman Kang Ama atau anak-anak kecil yang tinggal di dekat kos.

“Baik, Ibu. Lho, Nduk, kenapa kamu nggak bersekolah?Mbolos ya?” tanya Kang Ama kepadaku.

“Hari genting seperti ini, siapa sih yang tega membiarkan anaknya masuk sekolah. Apalagi komplek sekolah Widya dekat kampus. Bagaimanapun Ibu takut, Purnama,”jawab ibu mewakiliku.

“Coba Kang Ama antar kamu, Wid.Mau?” Kang Ama memprihatinkanku. Wajahnya berubah cerah bercampur lucu saat ajakannya kutolak.

Widya itu sudah gede, Purnama. Dia sudah punya rasa malu memboceng kamu,” lagi-lagi ibu mewakiliku menjawab pertanyaan Kang Ama.

Pada siang hari suasana kota Yogya kudengar memanas. Rakyat Yogya menghendaki Ngarso Dalem menentukan sikap. Ribuan orang memadati alun-alun, menggelar ritual ‘tapa pepe’. Bukan hanya di Yogya, di sejumlah kota besar selain Jakarta ribuan mahasiswa merangsek bergerak. Kota Solo yang berjarak sekira 60km dari Yogya pun mulai membara di beberapa tempat.

Siang hari setelah usai shalat Dhuhur, utusan Kang Ama datang mengambil pesanan nasi bungkus. Dia teman di satu komunitas mahasiswa. Ibu yang suka ramah terhadap para mahasiswa yang sering makan di warung menanyakan keadaan kampus siang itu.

“Masih terkendali, Budhe,”jawab teman Kang Ama.

“Semoga zaman lekas tentrem, ayem, kartaraharja,” kata ibulagi.

“Amin, Budhe,”jawab teman Kang Ama sambil melirik ke arahku.

“Oh, kamu ya, Nduk yang bernama Widya, putri Bu Zaenab pemilik warung Burjo,”teman Kang Ama mulai menyebut-nyebut namaku.

“Emang kenapa, Mas?”tanyaku sambil kukulum senyum.

Dengan logat Surabaya yang sangat kental, teman Kang Ama yang akhirnya kuketahui bernama Rosihan itu hanya meninggalkan senyum dan sebungkus permen lolipop.

Sore hari, tak ada kabar yang aku dengar tentang Kang Ama. Namun seperti mendengar kilatan halilintar di siang bolong, pagi-pagi sekali beberapa teman Kang Ama mengabarkan jika mahasiswa semester akhir itu tengah dirawat di rumah sakit. Mata Kang Ama terkena lemparan  para demonstran. Entah mana berita yang benar, karena ada yang mengabarkan jika pelaku pelemparan itu oknum polisi.

“Widya ikut menjenguk ya, Bu,”kataku merajuk saat ibu memberitahukan akan menengok Kang Ama yang sudah berpindah dan sekarang tengah dirawat di rumah sakit Dr.Yap.

“Boleh. Nanti kita sama-sama dengan keluarganya yang baru datang dari Bandung,” jawab ibu.

Sore itu aku melihat Kang Ama dikelilingi oleh teman-teman kuliahnya serta beberapa keluarga dengan keadaan mata berbalut perban.

Kudengar bisik-bisik jika Kang Ama tak lagi bisa melihat. Kedua matanya sudah tak berfungsi. Dokter akan mengambil tindakan operasi pencakokkan mata jika ada pendonor.

“Ada Widya ya. Apa kabarmu, Nduk? Kamu masih membolos ya?” Kang Ama menanyakan sekolahku.

“Aku mau sekolah besok, tapi harus Kang Ama yang mengantar,”

“Ah, kamu ini ada-ada saja,”

“Benar. Jika Kang Ama bisa mengantarku,aku mau sekolah,”

“Owalah, Nduuuuuk….”

Seketika orang-orang yang berada di ruang tertawa terpingkal-pingkal. Kang Ama sejenak lupa akan keadaan dirinya.

***

Bulan purnama sepenuh di atas langit Yogya meluruh. Aku dan Kang Ama duduk di teras depan rumah bermandikan cahaya bintang-gemintang. Sejak kedatangannya pagi tadi, Kang Ama banyak bercerita bahwa setelah lulus kuliah S1 dulu, dia lantas mengambil beasiswa S2 di London.Tak serta merta langsung berangkat, karena dia mesti mengakrabi huruf Braille yang tentu sangat asing baginya.

Kang Ama juga bercerita jika dirinya belum berkeluarga. Kepadatan aktivitasnya di beberapa organisasi masyarakat seperti melalaikan dari setengah kewajiban yang diembannya; menikah.

“Widya sudah punya pacar?” tanya Kang Ama.

“Sama dengan Kang Ama, aku lebih asyik bekerja di panti daripada berpacaran. Jadi begini deh, ngejomblo!”jawabku lalu dibalas tertawa ngakak khas Kang Ama.

Tuhan, aku tak berharap banyak tentang impian. Namun setidaknya tangisanku di setiap datangnya hujan deras,disertai doa-doaku pada sosok laki-laki yang telah kuanggap sebagai pahlawan ini mampu mengalihkan perhatianku dari apa pun.

“Malam ini nggak bakalan turun hujan ‘kan?”tanya Kang Ama.

“Bulan purnama tengah memikat langit, Kang. Seperti dirimu yang telah mencuri hatiku.”

Kuhentikan napas.Kuraba detak jantungku yang cukup keras. Aku diam membeku. Kang Ama pun demikian.

Malam semakin larut dan kami hanyut dalam kebisuan. Tiba-tiba Ibu memanggil kami.

“Widya! Purnama! Sudah larut malam.Ayo kalian masuk kamar masing-masing.”

Malam ini, akan aku tulis dalam diary sebuah kisah tentang aku dan Purnama.*)

 

Gumading Peksi Kundur

Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penutur: Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Liston P. Siregar

DOWNLOAD

 

 

 

Laki-laki itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu.

Kau letakkan canting dan meredupkan nyala api pada wajan berisi malam cair. Tanpa meneliti ulang, gerak tanganmu telah mengatur nyala sumbu kompor itu pada ukuran yang tepat. Redup yang pas untuk menghangatkan malam dengan titik api yang aman, sekedar untuk menjaganya tetap berupa lelehan tanpa akan membakar apalagi menghanguskan.

Berkepul samar malam cair warna jelaga itu saat kau beranjak. Aromanya melekatimu, menguar kentara serupa jejak pada setiap gerakmu. Kau seka peluh di dahi dengan punggung tangan sesaat sebelum langkahmu menjejak ambang pintu terbuka, menyambut sang tamu. Bergerak lembut tanganmu mempersilahkannya duduk.

Monggo pinarak.”(1)

Mengangguk laki-laki paruh baya itu membalas salammu. Jalinan rotan pada kursi tua peninggalan orangtuamu, berderak lirih saat menerima beban tubuh sang tamu.

“Kudengar kau pembatik yang mumpuni,” begitu tamu itu mengawali niat kedatangannya. Pujian awal yang tidak membuatmu tersanjung apalagi tersipu. Perjalanan waktu telah membawamu melewati hal-hal semacam itu, tidak membuatmu terbiasa melainkan justru memberimu kemampuan mendeteksi sebagai basa-basi atau umpan tekak.

“Kabar tentang mumpuninya pembatik, acapkali menyesatkan,” katamu santun.

“Memahami batik sebagai karya, tidak serupa mengenakannya. Apa yang tampak hanyalah tampilan, yang justru kerap menjadi ukuran keindahan, sementara makna rohani yang tersirat pada coraknya justru terabaikan.”

“Kuinginkan keduanya. Elok tampilan dan indah rohaninya. Karena itulah aku datang padamu. Wujudkanlah dua keutamaan itu bagiku, maka akan kutahu apakah pilihanku padamu ini karena tersesat atau kaweruh ing panuju.” (2)

Lurus mata laki-laki itu padamu. Tidak demi menelusurimu, melainkan itulah gerak sebuah niat yang tak tergoyahkan. Seketika kau tahu bahwa kau telah terpilih untuk mewujudkan sesuatu. Seringkali langkah awal tetamu baru adalah langkah yang gamang. Beberapa di antaranya berbalik langkah membawa niat yang urung. Sebagian yang lain teryakinkan oleh wastra yang tersimpan di almarimu. Kali ini kau dapati pilihan yang tak goyah kepadamu.

Namun bukan rasa kemenangan yang mengendap di dalammu, melainkan beban yang samar. Akankah ternyatakan nanti bahwa reputasi mumpunimu bukan kabar angin belaka?

Bukan hal mudah mewujudkan keinginan. Tidak selalu tepat melakukan penafsiran dari hasrat tersirat. Perbedaan rasa keindahan selalu bisa terjadi. Ada yang bersimpang jalan untuk kemudian saling menghindar tanpa beban satu sama lain. Beberapa di antaranya memilih untuk menjadikan rasa keindahan pribadi sebagai sesuatu yang sama mutlaknya bagi orang lain. Kini, akankah karya wastramu sanggup menafsir dan memenuhi hasrat keindahan laki-laki itu dengan jitu?

“Wastra apakah yang dikehendaki?” pelan kau bertanya, melangkah awal pada penelusuran sebuah keinginan. Diperlukan kehati-hatian mengungkap pertanyaan demi menjadikannya tidak sebagai penyelidikan yang nyinyir.

“Kukasihi seorang perempuan, baginya ingin kuberikan tanda mata yang akan mengikat hatinya kepadaku.”

“Nuwun sewu, apakah berupa batik sarimbit (3) yang akan dipakai berdua?”

“Tidak,” menjawab laki-laki itu tanpa menggeleng. “Busana sarimbitku dengan yang lain.” Datar suaranya, bernada sangat biasa. Menandakan makna tersirat yang gamblang. Siapa pun mampu menafsirkan dengan persis isyarat itu.

“Kuinginkan sutera terbaik berkualitas utama, dengan serat terlembut yang pernah ada. Harga tidak masalah, berapa pun itu akan kubayar tunai, lunas kapan pun kehendakmu.”

“Maka wujudkanlah dengan sempurna wastra tanda mata itu. Temukanlah corak batik nan elok serta bermakna rohani terindah, yang niscaya sanggup mengikat hati kekasih kepadaku, tanpa hendak berpaling.”

Demikianlah laki-laki itu menitipkan hasrat pemujaannya kepadamu. Diakhirinya kunjungan sembari menaruh harapan seutuh bulan purbani kepadamu untuk mewujudkannya.

Kau bergeming dalam duduk. Tampak tenang serupa permukaan dataran air. Sementara di dalammu ada yang melepuh diam-diam. Itulah hatimu. Sebentuk hati lembut, yang seharusnya terjaga justru diguyur air mendidih pada pada suatu ketika. Didih air itu menggenangimu, melepuhkan hingga serabut saraf tersembunyi di benakmu.

Terjaga utuh dalam ingatanmu yang satu itu.

“Tak kupunya lagi kesetiaan yang utuh kepadamu,” kata suamimu pada suatu hari, “ada padaku seorang perempuan lain, yang kepadanyalah hendaknya kau berbagi hati dan keberadaanku.”

Mendidih darahmu seketika. Meluap didihan itu mengguyur hatimu lengkap dengan uap panas yang melepuhkan.

“Tak hendak aku berbagi,” begitu katamu dengan nada lurus seturut keteguhan hatimu.

“Kalau begitu, aku akan menceraikanmu,” gumam suamimu serupa ancaman.

“Kuterima talakmu,” kau mengangguk tanpa rasa gentar.

Benar kau tak gentar. Serupa burung-burung yang tak pernah kawatir pada hari esok, demikian kau jalani perceraianmu tanpa rasa gamang. Tapi luka itu tak bisa kau ingkari. Bukan karena rapuh hatimu melepuh, melainkan oleh kenyataan bahwa dirimu telah ditinggalkan. Bahwa janji yang seharusnya teguh telah diingkari.

Kini, kau menerima amanah untuk membuat wastra yang akan menjadi ‘perayu’ perempuan lain. Tanda mata yang akan menandai gerak awal terbaginya sebuah kesetiaan…..

Lama kau merenung di beranda. Mengabaikan reranting dan dedaunan yang bergemerisik mengabarkan dahaganya. Tak kau pedulikan pula semburat matahari sore yang telah meredup dan membuat rumahmu remang tanpa cahaya.

*

Entah berapa hari kemudian¾yang kau lalui dengan perasaan gamang yang menggelisahkan¾kau temukan sebuah pilihan pola batik yang sekiranya tepat untuk tanda mata yang diinginkan laki-laki itu.

Pagi masih muda ketika itu, embun belum mengering dari dedaunan di kebun saat sebuah sarang burung tergeletak di pelataran. Kau letakkan sapu lidi, demi memungut sarang itu dan menduga-duga asal mulanya. Barangkali berasal dari pohon belimbing yang ada di dekatmu. Sarang dari jalinan reranting dan daun kering itu kosong, tak ada telur sebutir pun tertinggal. Sarang yang telah ditinggalkan.

Kau tak hendak membuang sarang itu. Kau membersihkannya dari debu dan sampah yang tak perlu, meletakkannya pada sebuah dahan dengan beberapa tangkai bulir padi. Kau berpikir barangkali burung-burung itu akan memerlukan kembali sarang darimana mereka berasal dan gabah itu akan menjadi santapan yang melegakan, sepulang mereka dari perjalanan yang melelahkan.

Demikianlah sarang itu mengilhami sebuah corak batik. Teguh pilihanmu, tanpa gamang meski setitik cecek (4). Adalah pola buketan untuk mewujudkan rancanganmu. Setiap buketan terdiri dari seekor burung dengan sayap berlapis. Sebagai klowongan, yaitu ragam hias utama, kau tampakkan detil setiap helai sayap burung-burung itu. Seolah gerak melayang ujung sayap itu berkepak terbang. Sebagai ragam hias latar pola, terpilihlah ceplok bunga seruni yang kau posisikan serupa taman. Sengaja tak kau pilih jenis unggas, entah kupu-kupu atau capung sebagai latar hias, karena kau ingin sosok burung itu menjadi yang utama. Kau tata pola buketan itu dalam satu jajaran, seolah burung-burung itu berbaris menuju pada satu arah.

Gabah sinawur (5) untuk isen-isen (6), pengisi bidang kosong latar pola utama. Tangkai-tangkai padi itu seolah menjadi rangkaian gabah yang saling menyambung. Setiap tangkainya menampakkan bulir-bulir padi perlambang kemakmuran.

Ada ketelatenan yang tidak biasa saat kau mengerjakan wastra pesanan itu. Ketekunanmu menggoreskan canting melukis corak batik itu, tidak demi mengejar tenggat waktu semata-mata. Melainkan lebih karena kesungguhan hatimu yang menjadi penggeraknya. Lincah gerakmu, sesungguhnya karena jemari itu hanyalah perantara dari ungkapan rasa yang mengendap di benak. Sekian lapis endapan tak terungkap, yang nyaris tak tertanggungkan. Ada gelisah yang mereda, ada risau yang menjauh seiring wastra itu menuju pada tahap akhir penyelesaiannya.

*

Laki-laki itu datang menjemput tanda mata pesanannya pada sebuah pagi menjelang siang yang teduh.            Pagar bambu yang membatasi kebunmu dengan jalan kampung, berderak pelan saat bergerak terbuka menandakan kedatangannya.

Kau bentangkan wastra kuning lembut sewarna gading. Melayang sesaat sutera itu tanpa suara, sebelum kemudian rebah pada sandaran kursi panjang. Kau temukan sepasang mata yang berpendar takjub. Menampakkan hasrat yang seolah meletup demi menelusuri wastra panjang itu dari ujung ke ujung.

“Lebih indah dari bayanganku semula, ternyatalah reputasi mumpunimu tidak menyesatkan.”

Kau diam, membiarkan udara tak bergerak di sekitarmu. Sama sekali tidak tergesa untuk tersanjung. Sejatinya kau menunggu laki-laki itu menyelesaikan kekagumannya.

“Alangkah tepat corak pilihanmu. Kuingat kekasihku pernah menginginkan batik bercorak burung hong.”

“Burung-burung itu sedang terbang menuju pulang,” katamu pelan dengan nada yang sangat terjaga.

Laki-laki itu menoleh padamu.

Gumading Peksi Kundur, (7) demikianlah kunamakan wastra ini.”

“Apa maknanya?”

“Burung-burung yang terbang menuju pulang pada sarangnya, itulah Peksi Kundur. Akan melambangkan makna yang berbeda andai diserahkan pada dua orang yang tak sama.”

“Maksudmu?”

Kau berhenti sejenak. Seolah jeda sebelum melanjutkan sesuatu.

“Dia akan menjadi tanda mata pamit untuk mengakhiri sesuatu. Telah selesai persinggahan sang burung, dan inilah tanda mata untuk melepaskan kepulangannya menuju sarang bermulanya. Pada pihak lain, ia adalah perlambang yang menandai sebuah kepulangan dari perjalanan panjang. Entah sejauh apa perjalanan itu, namun inilah saatnya untuk menemukan kembali sarang yang ditinggalkan. Adalah gabah sinawur yang menjadi isen-isen, itulah tebaran biji padi di masa awal musim tanam, menandakan bermulanya sebuah musim baru. Demikianlah sebuah musim dimulai, dengan taburan benih untuk menumbuhkan kehidupan baru menggantikan apa yang telah terlalui.”

Lurus mata laki-laki itu padamu. Pendar takjubnya telah berubah menjadi kilauan tajam serupa kelewang terasah. Kau tak gentar, apalagi terhenti.

“Mengapa kuning?”

“Gumading, itulah warna kuning selembut gading. Dengan teknik pewarnaan batik wonogiren, warna dasarnya seolah retak, terkena rembesan warna soga. Karena serupa itulah gading, senantiasa retak. Demikian juga kehidupan, terutama kasih sayang, selalu tak sempurna. Namun selama tak patah, yang retak itu tetaplah berharga.”

Kau berhenti kemudian. Lalu menunggu. Tak ada debaran tak normal di dalammu, melainkan ketenangan yang teguh. Seteguh pilihan-pilihanmu sejauh ini.

Di hadapanmu, laki-laki itu bergeming dalam hening yang panjang. Entah sedang menjalani masa suwung, demi menelusuri ulang jejak terlalui untuk menemukan jalan kembali. Ataukah tak hendak beralih dari lorong-lorong labirin, yang setiap lekuk kelokannya menjanjikan adrenalin nan menggairahkan?

Kau tak hendak bertanya.

***

Keterangan

  1. Monggo pinarak : silahkan duduk
  2. Kaweruh ing panuju : memahami tujuan
  3. Sarimbit : berpasangan, busana bercorak sama yg dipakai suami istri.
  4. Cecek : ragam hias berupa titik-titik pada pola batik.
  5. Gabah sinawur : taburan gabah
  6. Isen-isen : ragam hias yg terletak di dalam latar pola batik
  7. Gumading : kuning gading

Peksi : burung

Kundur : pulang

Hahaha

Penulis : Maulidan Rahman Siregar
Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik : Endah Fitriana


DOWNLOAD

 

 

dalam ketawamu kau tangisi

kepergian kekasihmu yang

memilih bertempur dengan Ibukota

yang mengajarinya menangis

 

tak lupa kau bilang kuat-kuat

kau akan menulis namanya

di setiap pohon yang berdoa

agar selalu hujan

 

di punggung ojek online yang kau

tumpangi, kau bedoa. agar seluruh

lelaki mati, dan mengubur diri

sendiri.

 

dan bedak kekasihmu.

serta belah dadanya.

beradu tumpah di televisi.

 

kau menangis dalam tahun-tahun

panjang, dalam sendiri.

dalam sepi, kau selalu berusaha

sembunyi.

 

sudah kubilang, jangan mati dulu.

kau malah bunuh diri. kekasihmu

menjadi menantu presiden, dan

seluruh televisi menayangkan mukanya.

 

Berguru dari Pahlawan Oranye

Penulis : Agus Yulianto
Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi Musik : Endah Fitriana


DOWNLOAD


Berguru dari Pahlawan Oranye

SD Permata Sari di Kabupaten Karanganyar adakan kegiatan outing class. Kegiatan ini bagian dari jeda tengah semester. Kegiatan outing class ini diikuti sebanyak 30 siswa dari kelas V.  Kegiatan Outing class  kali ini  berkunjung ke kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Kabupaten Karanganyar. Para siswa ingin belajar dengan petugas SAR mengenai penanggulangan bencana alam. Bita dan Morgen senang sekali bisa mengikuti kegiatan ini.   Para siswa di dampingi Ibu Kumala sebagai wali kelasnya.

Para siswa sejak tadi pagi sudah berkumpul di depan Kantor BPD Karanganyar. Mereka  di sambut sama  kakak-kakak dari tim SAR. Sebelum kegiatan di mulai, mereka mendapat pengarahan terlebih dahulu. Bita dan Morgen juga siswa lainnya mendengarkan pengarahan dari petugas tim SAR dengan saksama. Petugas  yang memberi pengarahan bernama Kak Kiki. Berseragam warna orange.

Kak Kiki memberi pengarahan tentang petunjuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. “Jika adik-adik melihat di daerah sekitar rumah ada hutan atau ladang tiba-tiba kebakaran. Maka hal pertama yang kalian lakukan segera laporkan kepada ketua RT  atau warga setempat. Supaya mereka mengusahakan pemadaman api terlebih dahulu.

Bila api telah menjalar, adik-adik harap segera lapor kepada petugas SAR yang ada di daerah kalian,” jelas Kak Kiki di hadapan siswa SD Permata Sari.

“Kak, bagaimana caranya menghubungi TIM SAR?,” tanya Morgen penuh rasa ingin tahu.

“Nah, kalian bisa menghubungi nomor telepon XXX atau bagi yang punya smartphone bisa lewat Whatshap xxxx. Kunci utama ketika  terjadi bencana alam seperti kebakaran, angin topan, dan lainnya kita tidak boleh panik,” jelas kak Kiki sambil memperlhatkan sebuah gambar petugas yang sedang memadamkan api.

“Kak, kalau hanya kebakaran kecil. Langkah apa yang harus kita lakukan,” Bita tidak mau ketinggalan untuk ikut bertanya kepada petugas.

“Kalau hanya kebakaran kecil, misal adik-adik sedang mainan api tiba-tiba menjalar  kalau apinya tidak besar cukup disiram pakai air atau gunakan karung basah untuk menutup api tersebut,” setelah memberikan penjelasan Kak Kiki melanjutkan dengan memperagakan cara memadamkan api dengan alat yang sudah disiapkan. Selain itu para siswa juga dikenalkan dengan mobil pemadam kebakaran. Yang selama ini hanya mereka lihat di tv. Kak Kiki beserta beberapa rekannya memperagakan cara memadamkan api. Anak-anak sangat antusias sekali melihat petugas  memperagakan cara memadamkan api. Supaya tidak terkena bau asap, petugas meminta kepada anak-anak untuk memakai masker agar tidak mengganggu pernafasan.

Disela-sela praktek cara memadamkan api. Morgen bertanya kepada salah satu petugas SAR, “ Apa kakak tidak takut kebakar ketika menolong orang yang terjebak di dalam sebuah gedung?”

“Kenapa harus takut? Ini sudah menjadi tugas kami. Bahkan kami sudah siap menerima resikonya. Menolong orang itu hal yang kami utamakan,” jelas salah seorang wanita bertubuh tinggi, berambut pendek yang merupakan bagian dari tim SAR juga.

“Wah, kakak walaupun wanita tapi pemberani. Kakak benar-benar wanita tangguh. Melebihi superhero,” pujian yang menggelitik diberikan Morgen kepada  wanita itu. Wanita itu hanya tersenyum mendengar pujian dari Morgen. Nama kakak itu adalah Tina, merupakan satu-satunya wanita yang bergabung menjadi tim SAR.

“Nah, adik-adik, akhirnya praktek memadamkan api sudah selesai. Pesan kakak buat kalian mari menjaga lingkungan sekitar kita dengan baik. Jangan suka bermain api. Apabila kalian melihat bencana harap segera hubungi petugas SAR terdekat, “ pesan Kak Kiki kepada seluruh siswa SD Permata Sari. Mereka semua bahagia dan  senang telah mendapatkan ilmu tentang penanggulangan bencana.

Disela-sela penutupan kegiatan outing class Morgen pun memberikan julukan kepada petugas SAR sebagai pahlawan orange. Sebab mereka petugas kemanusiaan yang berani berkorban tanpa mengenal waktu. Setiap saat harus siap melayani masyarakat apabila dibutuhkan. Kakak-kakak dari tim SAR Kabupaten Karanganyar sangat senang sekali mendapatkan kunjungan dari para siswa SD Permata Sari. Mereka juga mengucapkan terimakasih atas sebutan yang diberikan sebagai Pahlawan Orange.**

 

 

Arus

Penulis : Latif N. Janah
Penutur : Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Endah Fitriana

Download di sini.

Kereta berhenti di jalur tiga. Gugup tiba-tiba saja menyerbumu. Saat kakimu menjejak peron Stasiun Balapan, sensasi naik kereta yang selalu kau suka seketika berubah. Dari Lempuyangan, kau bertolak pukul sebelas siang. Yogyakarta-Solo memang dekat, namun kau merasa perjalananmu kali ini teramat singkat melebihi biasa. Perjalanan dengan kereta api lokal ini tak nikmat sama sekali. Ya, kau tak bisa menikmati suasana gerbong khusus pria kereta Prameks layaknya kepulanganmu sebelum-sebelumnya. Kau tak mendengar celoteh anak-anak kecil yang terpaksa duduk di dasar gerbong bersama ayah mereka. Atau, berebut berdiri saat lori makanan ringan tiba-tiba muncul di antara penumpang.
Tiba di Solo, seperti merasakan kembali pelukan ibumu berpuluh tahun yang lalu. Suasana Balapan siang itu begitu kau hafal. Ada banyak orang yang dari wajahnya, seperti enggan mengucapkan kata perpisahan. Barangkali, dari banyak mata yang tertutup kacamata hitam, ada hati yang enggan untuk melepas atau ditinggalkan. Ada banyak tetes air mata yang dipaksa untuk tergenang. Ada kobohongan yang pahit dari setiap kalimat; “Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Kita pasti akan bertemu lagi.”
Kendati kau tak ingin pulang, bapakmu telah berkali-kali melancarkan perintah lewat telepon hampir tiga hari berturut-turut. Kau merasa, setahun ini bapakmu memiliki semacam ketakutan yang tak lazim. Bahkan, beberapa kali ia bertanya perihal kabarmu kepada sejumlah teman yang kebetulan sedang pulang ke Solo.
Kau lekas menyusuri lorong di sebelah selatan stasiun menuju pintu keluar. Seketika serombongan sopir taksi dan tukang becak menyambut kedatanganmu seperti biasa. Menawarkan jasa yang terus menerus—meski tahu, beberapa orang sudah menolaknya. Kau harus berebut tempat untuk sekadar berjalan. Kau menolak saat bapakmu menawari untuk menjemput. Bukan karena sekarang ini perasaanmu tengah teraduk, tapi kau kasihan jika membiarkan ia berkendara dengan motornya. Belum lagi, di akhir pekan seperti ini, stasiun menjelma lautan manusia.
Tak ada penyambutan istimewa seperti biasa. Tak ada pula jamuan yang biasa terhidang selepas kakimu melampaui bibir pintu. Seperti tahu, sekarang ini kau memang tak bernafsu menikmati wedang ronde yang selalu diantar Bibi saat kaupulang. Yang kautemui hanya kekosongan.
Sejam lamanya kau merebahkan diri di kamar ukuran sedang. Sementara bapakmu tak terlihat batang hidungnya setelah kau cium punggung tangannya saat kautiba. Padahal hatimu tengah beradu. Menunggu pertanyaan yang mungkin saja akan mengalahkanmu secara telak jika kau jawab dengan sebenarnya.
Memang, sejak kepergian ibumu beberapa tahun silam, seolah bapakmu memikul beban begitu berat. Kau tak menampik jika penghasilannya sebagai pensiunan pegawai negeri sangat pas-pasan untuk menyekolahkanmu di universitas. Terkadang, kau membayangkan, ibumu masih ada di sela-sela hari yang kaulalui. Melihatmu mengenakan toga tanda kebanggaan hingga dapat pekerjaan mapan. Tapi, kau tahu itu hanya harapan. Dan harapan tak selamanya akrab dengan kenyataan.
“Bapak tak ingin gagal.” Selarik kalimat itu seketika berdenyar-denyar dalam pikiranmu. Seperti boomerang yang tiba-tiba lepas kendali menelanjangi keberanianmu sendiri. Kau menerka, bapakmu sudah mengendus perihal kelakuanmu. Kau tahu, semuanya telah terlambat, tapi paling tidak, kau ingin ia tahu pada saat yang tepat. Saat yang baginya pas untuk menanyaimu sendiri. Kau merasa bodoh jika harus mengatakan apa yang terjadi.
***
Barulah ketika kau tengah sendiri di ruang depan, bapakmu tiba-tiba muncul. Dapat kaubaca kegelisahan dalam setiap gerak tubuhnya. Bahkan, sapaan yang biasanya terdengar begitu menenangkan, kini terasa begitu hambar. Isyarat matanya saja, kental akan kekhawatiran.
“Dua hari lalu, orang tua Anandari datang kemari.” Kau tak tahu harus menanggapi bagaimana pernyataan bapakmu itu. Memang, kau telah memutus hubunganmu dengan Anandari sejak setahun yang lalu. Tapi, alih-alih memberitahukan ini kepada bapakmu dan orang tuanya, kau dan ia sepakat untuk menutup rapat mulut kalian dahulu. Kalian tak ingin ada semacam kekecewaan mendalam dari hal itu, kendati pastilah pada saatnya nanti, bapakmu dan orang tuanya juga tak akan mudah menerima.
Anandari. Gadis yang selalu membuat hatimu dulu kian merindu. Seperti halnya bapakmu, ialah orang yang sangat kau sayangi. Kau teringat saat ia berlarian di sepanjang peron Stasiun Purwosari. Ia yang tadinya mengira kau berangkat dari Balapan, harus bekejaran dengan waktu. Ia tak mengindahkan lagi larangan petugas yang berteriak-teriak menghalanginya masuk peron. Namun,kau tahu, kedatangannya saat itu memang hanya untukmu. Untuk melepasmu ke Yogyakarta. Hubungan kalian empat tahun lalu memang sedang ranum-ranumnya. Seperti gejolak cinta Galih dan Ratna.
Bapakmu dan orang tua Anandari pun mengangguk setuju dengan hubungan kalian. Bagaimana tidak, Pak Masdar, ayah Anandari, adalah sahabat bapakmu yang sejak dulu bekerja di kantor yang sama. Saat mengetahui anak-anaknya tengah menjalin asrama, hal itu menjadi semacam kabar suka-cita yang tak ada bandingannya.
Kau tak berani menatap wajah bapakmu. Sesekali hanya melirikkan mata dan jarak pandangmu hanya sampai pada dagunya yang kini dipenuhi rambut memutih. Kau menunggunya bertutur lagi. Barangkali ada sesuatu yang memang harus segera kauketahui.
“Bapak tak ingin kau bermain-main dengan Anandari, Pram.”
Kau masih membisu. Kau tak mampu membayangkan bagaimana reaksi orang tua Anandari. Membuat hati Anandari kecewa itu saja sudah membuatmu jengah pada dirimu sendiri. Jika ditambah dengan rasa kecewa orang tuanya terhadapmu, tentu akan menjadi empedu. Pahit dan sakit.
“Kali ini Bapak benar-benar gagal, Pram. Bapak kecewa padamu.” Kau dengar suaranya bergetar.
Dalam benak, kau berusaha menyusun kalimat yang mungkin saja akan terdengar rumpang. Sebenarnya, kau tak mau jika harus mengatakan ini. Andai bapakmu tahu, sebetulnya, tak ada sedikit pun keinginan untuk membuatnya kecewa. Terlebih, rasanya kau tak punya hak untuk membuatnya terus mengkhawatirkanmu. Caci maki yang tiba-tiba menghujaninya ketika orang tua Anandari datang, kau rasa sudah lebih dari cukup membuat hari-harinya makin pahit.
Tak mengapa jika memang orang tua Anandari menyimpan kebencian terhadapmu, tapi jika itu harus berimbas pada bapakmu, kau memberi beban dua kali lipat di pundaknya. Maka setelah tandas keretek di bibirnya, pernyataan yang ia berikan, membuatmu semakin bungkam.“Ajaklah Bastian ke sini sesekali. Bapak ingin berkenalan dengannya. Dia teman akrabmu, bukan?”Pertanyaan itu menjadi retorika. Kau iyakan dalam hati dengan kegugupan yang tak bisa kau tutupi.
Hubungan yang kau jalin dengan Bastian, bermula saat pertemuan kalian di sebuah pentas teater. Ia seorang fotografer. Tak tahu bagaimana, ia begitu pintar menarik perhatianmu. Seperti saat ketiga kali ia datang ke kosmu di Yogyakarta. Ketika itu ia numpang mandi di tempatmu lantaran kemalaman dan harus segera meliput berita. Kau tak tahu mengapa, tubuhnya yang dililit handuk sebatas pinggang begitu menggoda darah lelakimu. Kau tak bisa menampik, jika kau mencintainya setelah kau rasakan bagaimana aroma tubuhnya, sentuhan tangannya yang acap kali menjelajah setiap inchi tubuhmu. Bahkan, Anandari tak pernah membuatmu sedemikian bergejolak. Itulah mengapa, sekarang kau jarang pulang untuk menengok bapakmu hanya karena tak mau melewatkan kedatangan Bastian demi menuntaskan rindu yang terasa ganjil, namun begitu menggebu.
“Kau mencintai Bastian, kan, Pram?” suara bapakmu kini semakin berat. Terasa bergetar di bilik hatimu. Kau tatap matanya yang kini basah. Bahkan untuk mengatakan “ya” saja, kau tak bisa.(*)

Jogja, 2013-2018
Latif N. Janah lahir di Sragen, 1990. Bersetia menjadi pembaca.

Cerpen – Pulang

Cerpen: Marina Herlambang

Narator:Astuti Parengkuh

klik di sini untuk mengunduh audio

 Meski sungkan aku terpaksa pulang, ke rumah Ibu, dan ke rumah Ayah. Sudah sejak lama aku tak pernah lagi merasa ada tempat yang layak untuk kusebut sebagai rumah. Sebuah rumah yang diisi dengan kasih sayang, kehangatan, tawa riang yang di dalamnya hanya ada Aku, Ibu, dan Ayah. Bukan Ibu dan Om, bukan Ayah dan Tante. Sungguh aku enggan pulang, enggan mendengar keluhan Ibu tentang Ayah dan keluhan Ayah tentang Ibu. Jengah melihat laki-laki yang bersama Ibu, karena dia bukan Ayah. Jengah melihat perempuan yang bersama Ayah, karena dia bukan Ibu. Tapi aku tetap harus pulang. Ritual ini kusebut “Ramah tamah” Demi adab, demi sopan santun. Meski jengah, meski enggan. Karena aku adalah anak sudah seharusnya seorang anak menjenguk orang tua, meski hanya datang dan diam, aku tak lagi punya selera untuk berbicara, terlebih lagi tertawa riang, semuanya menjadi dingin, kaku, membeku, tak ubahnya es batu dalam kulkas. Aku tetap harus  pulang, demi cintaku pada Ibu, demi cintaku pada Ayah, meski diam, meski dingin, sunyi. Dan harus tetap pulang, meski perempuan yang bersama ayah bukan ibu. Dan laki-laki yang bersama ibu bukan ayah. Pulang aku harus pulang.

 

****

“Hai kamu sudah datang sayang, kita makan siang bareng ya, hari ini ibu masak makanan kesukaan kamu” Senyum Ibu melebar di atas lipstick  merah marun koleksinya, dia bilang lipstick itu hadiah dari Om Robert yang dibeli dari Swiss. Aku muak dengan warna lipstickmu Bu. “Saya tidak lapar”  Sambil memasang headset ke telinga, meski tak kunyalakan musik dari ponselku, aku hanya pura-pura mendengarkan musik, aku enggan berbicara dengan Ibu lebih lama,  aku tahu Ibu tidak menyukai kalimat ‘Saya’ Terlihat jelas Ibu sedang menahan kekesalan, sambil menarik nafas dia berlalu meninggalkanku, langkah Ibu tergesa menuju kamar, aku tahu dia pasti menangis, meluapkan kekesalannya, pada bantal, pada kasur, juga Om Robert. “I her mom”  Isak Ibu, “Ok honey I know, don’t cry, you have me ” Aku muak dengan suara Om Robert yang terdengar seperti kaset kusut di telingaku. Aku masih tertegun dengan headset yang menyumpal gendang telingaku ketika ibu bilang “Dia menganggap saya orang lain, dia tidak pernah mendengarkan saya” Kau salah, Bu. Suaramu terdengar jelas menusuk gendang telingaku, aku tidak pernah memutar musik dari ponselku, aku hanya menyumbatkan headset ke dalam telingaku, aku malas berbicara, beramah tamah, semuanya hanya klise, meski kuakui aku pulang karena aku mencintaimu. Kau tahu, Bu. Hatiku pun sakit mendengar suaramu dan laki-laki itu. Akhirnya yang kudengar hanya suara cicit, persis tikus, desahan halus dari kamar Ibu, aku muak! Aku pergi, kembali pada sepi, selamat tinggal Bu, nikmati harimu dengan laki-laki itu.

 

****

Bunga-bunga di sini lebih banyak dari bunga yang ada di rumah Ibu,  ada kolam dengan ikan mas yang berwarna merah kekuningan, aku pernah berpikir apakah ikan-ikan itu juga hidup satu keluarga, punya Ayah punya Ibu, atau mereka pun punya dua Ayah dan dua Ibu sepertiku, “Tidak!” Aku hanya punya satu Ayah dan satu Ibu, “Sial” Aku tak pernah punya jawaban, kenapa aku harus memanggilnya Ayah? Kenapa aku harus memanggilnya Ibu, apa karena Dia menanam benih di Rahim Ibu lantas aku harus memanggil Dia Ayah? Atau karena aku lahir dari rahimnya dan aku harus menyebutnya Ibu? Mereka menanam benih, kemudian lahirlah aku, lalu kenapa mereka berpisah? Aku tidak percaya mereka saling mencintai kemudian melahirkan aku, dan sekarang bersekongkol menyiksa batinku, atau memang mereka tidak pernah mencintai satu sama lain? Tidak sengaja menanam benih, dan tidak menghendaki kelahiranku, mungkin aku  lahir dari Rahim yang salah? Dan masihkah aku harus menyebut mereka Ayah dan Ibu, rasanya lebih baik aku lahir dari batu, tak perlu beramah tamah, meski aku tidak tahu betapa sakitnya menjadi batu. “Kok ngelamun di sini? Ayah nunggu kamu di meja makan” Dan wanita itu haruskah aku memanggilnya Ibu? “Bagaimana kuliahmu?” Hanya basa basi, aku tahu Ayah tidak pernah perduli, tentang kuliahku bahkan ketika Guru BP mengirimkan surat ke rumah, karena tingkah lakuku yang buruk di sekolah, atau mungkin Ayah tak pernah menerimanya karena surat dikirim ke alamat Ibu, lima tahun lalu waktu aku masih SMA. “Biasa saja” Begitu datar begitu dingin, aku tahu kau menahan marahmu Yah, namun aku sudah terbiasa acuh. Kau pikir hanya kau yang bisa marah, aku pun sangat marah, meski entah marah untuk apa, untuk perceraian kalian atau karena kalian melahirkan aku. “Hari ini kamu menginap di sini ya sayang, Bunda siapin kamar buat kamu” Hah! Bunda? Lelucon apa ini, aku tak pernah keluar dari rahimmu, jangan perlakukan aku seperti itu. “Tidak usah Tante, saya pulang ke kosan” Wanita itu berhenti memasukan makanan ke mulutnya. Apa harus aku menerimanya sebagai Ibu sedang aku begitu membenci Ibu yang melahirkan aku lewat rahimnya, ‘Durhaka’ apa hanya anak yang durhaka kepada orang tua, dan kenapa orang tua selalu benar meskipun mereka menelantarkan anaknya?. “Sudah lima tahun kamu masih memanggilnya Tante” lima tahun pula aku terpuruk dalam sepi, sendiri, tanpa Ibu, tanpa Ayah, karena aku tidak pernah mau tinggal bersama salah satu dari mereka, aku memilih sendiri menikmati sepi. “Saya pulang”  Aku bergegas tanpa menunggu ayah bicara, memberi izin atau mengucap “Hati-hati di jalan” Mungkin Ayah memang tidak akan pernah mengatakan apa pun dan aku sangat enggan mendengar apa pun. Maaf, Yah. Aku masih marah, terlalu lelah dengan basa-basi, kau tahu, Yah. Karena mencintaimu aku pulang meski marah.

 

****

Dalam hingar bingar pusat pertokoan, penglihatanku mulai buram, ketika orang berjalan seperti bayang-bayang, tak dapat  kurasan pijakan kakiku yang menginjak tanah, pandanganku semakin buram, aku limbung, “Bangun Yang, Mayang bangun” aku sempat mendengar orang-orang berteriak, entah itu suara teman-temanku atau suara orang-orang yang kebetulan hanya lewat di tempat itu, yang jelas bukan suara Ayah dan Ibu. Sempat kurasakan seseorang mengguncang bahuku, sebelum semua menjadi gelap.

 

****

 Lamat-lamat aku mendengar suara tawa, seperti tak asing, tawa bocah perempuan, sesaat aku melihat cahaya putih seperti lorong, tawa itu berasal dari lorong cahaya, aku berjalan ke arah cahaya, aku melihat wajah ibu dan ayah, mereka nampak sangat bahagia, seorang bocah perempuan berlari dan tertawa riang di sekitar mereka. Itu aku, aku melihat diriku. Diriku ketika sepuluh tahun lalu, waktu ayah dan ibu masih bersatu, aku pernah bahagia, aku pernah tertawa, aku melihat senyumku yang sudah hampir aku lupa. Aku berlari ingin memeluk Ayah dan Ibu, aku berlari terus berlari, namun aku seperti berjalan di tempat, mereka begitu sulit aku gapai hingga datang sinar yang menyilaukan mataku. “Adik sudah sadar?” Dia tersenyum seorang suster dengan baju seragam serba putih sedang mengisi cairan ke dalam botol infus di sebelah ranjangku. “Sebentar ya, saya panggilkan Dokter  Alex, beliau ingin berbicra padamu” Masih dengan senyum dia bergegas meninggalkanku, aku hanya terbaring beberapa menit kemudian Dokter Alex datang menemuiku. “Sudah memberi tahu keluargamu” Aku hanya diam. “Atau kau ingin aku membantumu berbicara pada mereka?” Aku menggelengkan kepalaku. Dokter Alex mengusap tanganku, sambil tersenyum kukatakan padanya “Saya sudah siap Dok, tak perlu katakana apa-apa saat ini, jika saya sudah pergi, berjanjilah, untuk menyampaikan pada mereka, bahwa saya sangat mencintai mereka” Aku tak dapat membendung bening di pojok mataku, Ia hanya mengangguk. “Terima kasih” Ucapku lirih. “Istirahatlah”.

Aku ingin pulang dalam dekap Ibu dan Ayah, Tuhan apa aku tak punya pilihan selain memeluk sepi, mati dalam gigil dan sunyi, jika aku dapat dilahirkan kembali, aku ingin hidup dalam dekap Ibu dan Ayah, tak ada diam, tak ada sepi. Jangan dengar doaku yang ingin lahir dari batu, namun aku sadar aku tidak akan bisa lepas dari takdir-Mu, aku lelah, tuhan peluk aku.

 

****

“Tidak!, ini tidak mungkin!” Ibu menangis, nampak pula butir-butir bening dari sudut mata ayah. “Tolong jelaskan Dok” Suara Ayah terdengar sangat berat, parau “Anak Ibu mengidap leukemia tiga tahun lalu, dia melarang saya untuk memberi tahu keadaannya pada keluarganya, sebelum meninggal Ia meminta saya untuk menyampaikan bahwa Ia sangat mencintai kalian”  Ibu terisak, Ayah memeluk Ibu, Aku bahagia melihat Ayah memeluk Ibu, Aku bahagia meski tak dapat memeluk kalian, “Ayah, Ibu, maafkan aku” Selamat tinggal, aku pergi menyatu dengan angin, melebur bersama cahaya, dan di hari lain aku akan turun sebagai hujan, bahkan menjelma sebagai pelangi, tanpa kalian sadar, tanpa kalian tahu, di lubuk hatiku aku selalu mencintai kalian.

 

Cerpen – Bening di Mata Cakra

Bening di Mata Cakra

Cerpen Astuti Parengkuh

Narator: Astuti Parengkuh

Editor dan ilustrasi musik: Lani dan Ketto (Radio Mosintuwu, Poso) 

 

Untuk ketiga kalinya, Cakra  menerima pesan dari ibu Bening, “Tolong, kau jaga Bening ya. Ibu tidak tahu apa yang nanti akan terjadi di sekolah. Dia nekat berangkat padahal sudah Ibu cegah.”

 “Ibu nggak usah khawatir, Bening akan baik-baik saja,” jawab Cakra. Bening Jatiningtyas, tetangganya yang teman sekelas tak mengetahui jika ibunya berkirim pesan kepada Cakra Baladewa. 

Hari sabtu sekolah pulang pagi, dan ini kesempatan Cakra untuk dapat berbincang dengan Bening. Dipilihnya taman dekat parkir sepeda. Puluhan batang pohon akasia tengah meranggas daunnya karena musim hujan yang tak kunjung datang. 

Musim yang tak selalu bisa ditebak, membawa sejumlah  kata tanya yang tak terjawab. Bangku-bangku taman yang berdebu, tanah dipenuhi daun-daunan yang berserakan, serta udara siang yang menyengat. Masih dengan tanya yang sama, ke mana perginya suara burung-burung yang biasanya berkicau. Mungkinkan mereka telah terbang di gunung atau rerimbun daun di tempat lain? 

“Bening, bisa kau duduk sebentar di sini?” Cakra menghentikan langkah Bening saat gadis itu hendak mengambil sepedanya. “Ada apa? Kamu tahu kan kejadian tadi pagi? Mau menanyakan itu?” jawab Bening beruntun.

“Maafkan aku dan teman-teman, Bening. Aku nggak bisa ngebantuin kamu. Aku nggak tahu mesti berbuat apa,” Cakra menggeser tempat duduknya.

Beberapa teman melintas sambil bisik-bisik lalu tertawa cekikikan.

“Duh, sang ‘Pangeran’ sedang duduk bersanding dengan ‘Puteri Bersisik’,” canda mereka.

Bening menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ditahannya sesak tangis yang menggumpal, lanjutan dari kemasygulan peristiwa pagi tadi. Ya, jam pertama sekolah adalah pelajaran renang dan Bening tak diberi kesempatan oleh teman-temannya untuk dapat mengikuti. Dia ingat kejadian tadi. 

“Kamu lihatlah badanmu itu. Pantaskah untuk bersama kami dalam satu kolam renang ini?” kata Vina, sang ketua kelas.

“Tapi…tapi….,” Bening lantas duduk di kursi yang berderetan di pinggir kolam renang. Pak Guru pengajar olah raga mempersilakan Bening untuk tidak mengikuti pelajaran renang pagi ini. 

Bening menggigil dalam kesendirian.

Cakra yang melihatnya dari jauh seakan mahfum apa yang menjadi keputusan pak guru. Kolam renang menjadi lengang. Bening beranjak ke loker tempat penyimpanan tas dan sepatu. Bergegas dia kayuh sepedanya, menuju gedung sekolah melanjutkan belajar.

Cakra memulai pembicaraan.

“Kamu sudah mendapatkan surat pernyataan dari dokter? Padahal saat kamu masuk sekolah di sini, tak separah keadaan sekarang,” Cakra menatap mata Bening.

“Ada sebuah beban pikiran yang mengganjal akhir-akhir ini,” jawab Bening sesaat.

“Mau bercerita?” tanya Cakra.

“Boleh, tapi tidak di sini. Nanti sore kutunggu di kolam ikan, di citywalk depan rumah kita,” jawab Bening. Dua sahabat itu kemudian mengakhiri perbincangan. 

***

Suasana kelas masih menyisakan keperihan di hati Bening. Tentang kelainan yang dideritanya, ya, kelainan yang disandang Bening sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Kondisi yang akhirnya membaik ketika dia masuk SMP. Sesekali saja kambuh, namun dokter telah mengatisipasi dengan memberikan obat yang diminumnya rutin. Saat lamunannya sedang membuai, tiba-tiba suasana dikejutkan dengan ulah Cakra yang maju dan berdiri di depan kelas. 

“Hai, kalian kawanku. Maukah sedikit mengerti tentang keadaan teman kita, Bening? Sungguh, aku telah banyak searching tentang kelainan yang dideritanya itu tidak menular. Please, don’t worry, Friends…” Cakra tak meneruskan bicaranya.

“Cakra, sudah!” Suara Bening menyela.

Cakra berhenti bicara. Tiba-tiba tenggorokannya seperti tercekat. Apalagi tatkala dipandangnya Bening yang tengah duduk di bangku, menelungkupkan wajahnya di atas meja. Sepulang sekolah, Bening bercerita kepada ibunya bahwa telah terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. 

“Ibu, aku rindu Bapak,” gadis itu merajuk. 

Bening menyusuri masa lampau. Ya, saat di mana dia kecil dulu sangat berlimpah dengan kasih sayang dan semua kebanggaan sebagai sebuah keluarga. Waktu terus mengikis kenangan hingga tak tersisa sedikit pun sesuatu yang dia kais-kais sendiri dalam perjalanannya. Sampai sebuah kesadaran menyeruak bagaikan hunjaman sebuah belati. Kesadaran yang muncul begitu saja dan amat memerihkan sekeping hati. 

Bapak hanya menyapa dan berbasa-basi di  telepon. Dan baginya tak ada yang lebih penting dari sebuah pertanyaan, “Kau sedang butuh Bapak belikan apa? Uang sakumu masih kan, Sayang?”

***

Citywalk di depan rumah lengang. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang keluar dari sebuah swalayan yang berjarak beberapa puluh meter saja dari pagar  rumah. Sebentar sore, pasti tempat ini ramai dengan reriuhan bocah, entah dari mana mereka datang. Beberapa deret batang pohon kurma menjadi pemandangan yang indah di depan sebuah komplek tempat ibadah. Nun jauh di sana beberapa ratus meter jarak pandang dari sebuah bangku kecil, kedai-kedai makanan mulai dibuka.

Masih ada waktu beberapa puluh menit lagi menunggu kedatangan senja. Senja yang biasanya diiringi semburat warna jingga dan akan menyembul di antara pucuk-pucuk dedaunan pohon kurma. Hari ini terang benderang, dan dia tak ingin melewatkan begitu saja momen itu. 

Sebentar lagi Cakra pasti akan menampakkan batang hidungnya, batin Bening. Sudah tiga tahun lamanya dia hidup bertetangga dan bersahabat dengan remaja laki-laki keturunan Timur Tengah itu. Meski ada sesuatu yang Bening sembunyikan dari  Cakra. Jawaban pertanyaan yang selalu dia tunda-tunda apalagi kalau bukan pertanyaan Cakra mengenai Bapak. Mengapa aku jarang melihat bapakmu, Bening? Atau macam begini, Bapakmu orang sibuk ya?

Benar saja, Cakra datang dengan sekantong makanan. Dia bilang bahwa baru saja kedatangan tamu dari Ambon. “Kau tahu buah kenari kan? Nah kue kenari ini buatan tante aku yang lagi bertandang di rumah.”

“Di sini lagi banyak angin. Tak bagus untuk kondisimu saat ini. Aku pernah membaca, seseorang dengan Psoriasis yang menyertainya, selain tak boleh banyak stres juga nggak boleh kenal cuaca yang ekstrem. “ celoteh Cakra.

“Kita ke rumahku? Ngobrol di teras sambil ditemani teh atau kita todong ibuku untuk bernyanyi! Hahaha… Kamu kan pandai bermain gitar. Ayolah…”

Hari kian beranjak malam. Sesuara alam dengan segera menyadarkan Cakra untuk segera pulang. Di rumah tengah berkumpul keluarga besarnya. Pasti dia sudah dinanti-nanti di sebuah lingkaran meja makan yang besar untuk perhelatan makan malam.

“Tante dan Bening boleh bertandang ke rumah. Ada sanak kerabat yang datang dari jauh. Pasti suasana bertambah semarak jika Tante bertemu dengan tanteku. Orangnya ramah, ramai kayak Tante,” Cakra berpamitan. 

***

“Mereka akan pindah rumah,” kata Mama Cakra. 

“Serius?,”Cakra keheranan. Terhenyak dia dari tempat, kursi sofa yang diduduki.

“Rumah keluarga itu sudah ditawarkan pada sebuah agen property,” kata Mama Cakra.

“Mengapa mesti dijual? Mereka kan masih bisa tinggal di rumah itu setiap waktu?”tanya Cakra mencecar.

“Bapaknya bangkrut. Rumah itu sebenarnya hendak disita oleh bank, namun ada upaya untuk menjualnya terlebih dahulu,” Mama Cakra menjelaskan lagi.

“Duh…”, Cakra berpangku tangan. Tak berapa lama tangannya meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat dia duduk. Sebuah pesan dia kirim untuk sahabatnya, Bening.

“Kamu baik-baik saja kan, Bening?” 

Pesan yang tak langsung dijawab oleh Bening. Cakra seketika berjalan cepat dan membuka pintu pagar. Beberapa langkah saja dia akan sampai lalu mengetuk pintu rumah Bening dan hendak mengatakan kepada gadis itu bahwa dia akan baik-baik saja seperti biasanya. Sebelum suara gembok pintu pagar benar-benar dia buka, mamanya tiba-tiba mengagetkan dengan sebuah tepukan di pundak.

“Mereka sudah pergi. Sia-sia saja kamu jika nekat mendatangi  rumahnya,” kata Mama Cakra. Cakra tak surut langkah. Sampailah dia di depan pintu pagar dan mendapati sebuah tulisan tertempel di dinding dan terbaca sangat jelas. 

RUMAH INI DIJUAL CEPAT. HUBUNGI NOMOR SEKIAN.

Cakra tak mengira jika Bening akan berpindah rumah dan sekolah secepat itu. Tiba-tiba ponsel yang ada di saku bajunya bergetar, tanda ada pesan masuk.

“Cakra, aku baik-baik. Masih kunanti waktu kita bisa ngobrol lagi di bangku dekat kolam ikan, citywalk depan rumah kita.”

Segera dia menjawab pesan itu.

“Aku tahu kok, kamu sekarang punya sahabat baru lagi. Ya, si ‘Luppy’. Istilah untuk kawan barumu itu kan? Jika dia telah pergi, maka datanglah ke mari, Bening” 

Sebulan lalu, Cakra mendapat kabar bahwa sahabatnya itu positif mengidap penyakit Lupus yang menyerang sebagian kulit dan kekebalan tubuhnya. Bening tetaplah bening di mata Cakra. Bening yang selalu bersemangat menjalani hari-hari dan mengukir waktu dengan segala keceriaan yang ada padanya. []

 

BIODATA PENULIS : Astuti Parengkuh nama pena lain dari Astuti J. Syahban,  lahir 12 Agustus 1971. Selain sibuk sebagai ibu rumah tangga juga bergiat di kepenulisan. Sebuah novel memoar telah lahir dari tangannya. Beberapa novel anak menghiasi perpustakaan-perpustakaan sekolah. Ibu tiga anak yang aktif di sebuah lembaga parenting ini, selain dikenal sebagai mahasiswi FKIP Psikologi Pendidikan dan Bimbingan juga tercatat sebagai relawan pendampingan pasien anak berpenyakit kelainan darah di RS. Sardjito,Yogya. Dia tinggal di Solo. Cp : 085642037129, e-mail: astutijsyahban@yahoo.com. No.rek : Puji Astuti , BRI Unit Semanggi SOLO 3094-01-015223-53-8. NPWP : 26.021.114.9-526.001 

 

 

 

 

 

  

 

 

>