The Sad Mango Tree

Short story by Putu Felisia
Narrator Ilona Joline Surjorahardjo
Music Illustration by Ketto  

There were three trees in Mr. Tam’s garden. A Mei the adenium tree, Gugu the guava tree, and Mang Mang the mango tree. A Mei was very beautiful. Although she was tiny, she had a few silky leaves and many pink flowers. Mr. Tam often used her flowers for offerings.

Gugu was taller than A Mei. His flower was not as pretty as Ah Mei’s. But Gugu could grow many sweet fruits. Gugu’s fruit is red and soft. Mr. Tam’s loved to share Gugu’s fruit to his neighbor. He also said that Gugu’s fruit could be used as dengue fever medicine.

How great were they, weren’t they? How about Mang Mang? Well, poor Mang Mang did not have beautiful flowers. He also did not grow some fruits. Because of this, Mang Mang always sad everyday. Ah Mei and Gugu gave him such as motivation, but Mang Mang keep his sadness. He frustrated, why a mango tree can not grow mangoes, he thought. He also afraid if someday Mr Tam did not like him anymore, so Mr. Tam would cut him down.

But Mr. Tam never do that. He just let Mang Mang grew. Day by day, Mang Mang was getting bigger and taller. Although there was not mangoes on him, Mang Mang had many branches and leaves. The branches and leaves made a leave’s canopy. This canopy made Mr. Tam’s garden cooler when summer was come.

“Mr. Tam let you grow becaude of this, Mang Mang,” said Ah Mei.

“True. Do you know, without you, this garden will be very hot and uncomfortable?” Gugu told Mang Mang.

Today, Mang Mang is more happier. He might not had flowers, or fruits. But he had a comfortable canopy to protect his friends.

Glass Shoes

Short story by Putu Felisia
Narrator Ilona Joline Surjorahardjo
Ilustrasi Musik Ketto  

It was believed, beautiful girl with the most wonderful glass shoes would be married by the prince. Every girl in the entire kingdom took care of their beauty. They afraid of sunlight, because it could make their skin tanned. They also tied their feet, because they believed, the prince would choose the girl with the tiniest feet.

There was a girl, who lived in tailor village. Her name was Della. She loved to go around the forest, looking for ingredient to make some colors. Her job was giving colors to the clothes.

Do you think Della was pretty? No, she was not as pretty as another girl. Her skin pretty darker, because her activity in the forest. She also had not tiny feet. Therefore, Della did not bought glass shoes. She also made a simple dress to attend the royal ball.

Della parents did not happy because of this. But they could not force Della to buy a pair of glass shoes.

“Mother, the glass shoes is very expensive,” said Della, “I think, it will be better if I saved the money. So I have enough money to study coloring in the Royal University.”

So Della went to the ball with a pink primrose dress. The prince interested with Della. The girl looked very different among many glamorous girls. Specially, Della thought was similar with the prince.

The prince held Della’s hand. He asked her to be his bride. But Della just shooked her head, “I am so sorry, Your Highness,” she said, “For me, the most important thing is to reach my dreams. And I think I am too young to get married.”

The prince surprised. But he admired Della’s answer. So that he decided to wait Della.

Cerita Anak – Pirok Goes to the City

Pirok  Goes to the City

Author: Felicia Nayoan Siregar 

Illustrator: Astrid Sevrina Van Eenbergen.

Narrator: Ilona Joline Surjoraharjo

 

In one corner of the world, lies a tropical rain forest, where the water pouring down from the sky endlessly for the whole day or night. And the next day the sun would brightly shines for 12 hours non-stop. 

With enough rains and sunshine, all of the plans growth healthily with some kind of tree could be as high as around 80 metres or 260 feet. And there are thousands of plans around the forest which make all animals are happy. In the rain forest Kalimantan island, in Indonesia, we can find hundreds type of birds, tiger, rhino, elephant, snakes, bats, monkey, and orang utan.

One beautiful morning, Pirok, a little orang-utan was playing happily in the forest. Pirok loves swinging from tree to tree and is always curious. From one of the tree he look around, and none of his friend is around so he keeps jumping happily from one branch to other branches. But suddenly he hear something.

Pirok run to the forest entrance and saw Antar, a little boy from the small village outside the forest. Antar likes to come to the forest, to collect fruits to take home. In the forest there lots of durian, mango, and banana. “Yum, my favourite fruit!,”said Antar, collecting one fruit one by one and put on the basket at his back shoulder.

Tired from picking fruit, Antar sit in back in one of the tree and fell asleep. Pirok who follow Antar secretly came down the tree, curious to know what was in the basket.Pirok found the mangoes, bananas, and durians. And he feel a bit peckish after playing from one tree to another and following Antar from the top of trees. He ate the fruit all up. He then was so full that he fell fast asleep inside the basket. Soon Antar woke up. He walked home with his basket. But… was it fruit in his basket?

In the middle of the journey Pirok woke up and from inside the basket he is surprised to see many things that he hadn’t seen before. He saw many people wearing beautiful clothes.

He saw rows of buildings. Big and small and TALL. He saw vehicles with two, three and four wheels and one that could fly!

“Look at all the different foods! I wonder what they taste like?” Pirok thought.When he arrived home, it was Antar’s turn to be very surprised to find an orang-utan in his basket! No more the durian, manggo, or banana, but a little orang utan

Now Pirok was sorry he had eaten the fruit in the basket. He also felt sad because he was far from home. But Antar feeling sorry for the orang-utang and took Pirok back to the forest. 

When they arrive back in the forest, Pirok was very happy. The little orang utang is back at home and he gave Antar a big big hug.

 

Cerita Anak – Barry, Beruang yang Angkuh

Barry, Beruang yang Angkuh

cerita anak: Ilona Joline Surjorahardjo

Narator: Ilona Joline Surjorahardjo

download

 

Halo teman-teman, namaku Barry. Aku seekor beruang madu. Aku akan bercerita tentang kisahku dengan Albert, temanku siberuang hitam.

 

Pada suatu pagi yang indah di padang rumput yang tenang, aku sedang bersama Albert. Aku merasa bosan. Lalu aku mengajak Albert untuk bermain, akan tetapi sayangnya kaki Albert sedang sakit. Tiba-tiba muncul ide gemilang di kepalaku. Aku tahu tempat yang tepat untuk mengumpulkan madu bersama Albert.

“Apakah kamu mau berlomba mengumpulkan madu?”  

“Tentu saja,” jawab Albert. Albert dan aku membuat beberapa keranjang daun untuk tempat mengumpulkan madu. Aku sangat yakin akan memenangkan perlombaan ini. Kukatakan kepada Albert:

“Jangan menangis kalau aku menang ya,”

“Ini hanya sebuah permainan, kenapa aku harus menangis?” kata, Albert.

 

Sungguh siang yang  panas. Aku berkeringat sampai harus menyeka wajahku dengan menggunakan kelopak bunga. Ketika kami sampai, kami segera berhitung mundur. Kemudian aku berlari ke hutan dan mulai mengumpulkan madu.

 

Tiga jam kemudian, aku telah mengumpulkan 5 keranjang penuh madu. Tetapi ternyata Albert telah mengumpulkan 10 keranjang penuh madu. Dia adalah pemenangnya.

Aku tidak pernah kalah dalam perlombaan mengumpulkan madu! Tentu saja ini membuatku jadi cemburu. Wajahku terbakar kemerahan. Dengan tenang Albert berkata:

“Jangan khawatir,  Barry. Ini hanya permainan.”

”Aku sudah terlalu marah untuk menjawabnya. Aku tidak dapat menguasai diri sehingga kukatakan kata-kata jahat. Oh, Albert berlari kencang. Dia sangat terkejut aku telah bersikap kasar. Sementara aku hanya berdiri, merasa bersalah dengan apa yang telah aku perbuat.

 

Setelah itu, aku pulang ke rumah dan segera tidur.

Keesokan harinya ketika aku bangun, aku mencoba mencari madu milikku untuk makan pagi.

“Dimana maduku?” tanyaku kepada Ibu. Aku tidak tahu kalau Ibuku mendengar kelakuanku terhadap Albert. Dia telah mengambil maduku dan menyembunyikannya di padang rumput. Katanya:

“Kamu dihukum karena perbuatan jahatmu! Kamu tidak akan mendapatkan madu sampai kamu meminta maaf kepada Albert!”

Awalny aku kira Ibu sedang bercanda, maka aku mencoba mencari maduku di padang rumput. Teriakku: “Mana maduku?”

Kucoba renungkan kembali kata-kata yang Ibu ucapkan. Aku harus meminta maaf kepada Albert! Ketika mendekati rumah Albert, Ibu Albert berkata bahwa Albert sedang tidak di rumah. Maka aku menuju hutan dan mulai mencari-carinya. Aku berhenti di tepi sungai untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba aku teringat saat Albert dan aku berlomba renang. Meskipun aku menang, Albert tidak pernah mengeluh. Dia mengucapkan selamat kepadaku! Aku jadi kagum.

 

Kuteguk sedikit air dari sungai, dan berlari mencari Albert. Kemudian saat melintasi kebun bunga, aku kembali teringat pada Albert, lalu aku merangkai karangan bunga. Kataku kepada Albert kala itu, tanpa diriku pasti karangan bunga ini kelihatan jelek. Albert memuji sebagai balasannya,

“Iya, kamu sangat berbakat!” Akhirnya aku mencapai ujung hutan. Tempat dimana aku mengucapkan kata-kata kasar kemarin. Aku menangis,

“Maafkan aku, Albert! Ayolah keluar.”

Sesosok bayangan gelap nampak. Dia, Albert! Kupeluk dirinya seraya berkata, “Aku sungguh minta maaf.”

Albert memaafkan aku. Kemudian kami berjalan melewati padang rumput bersama. Sejak saat itu aku tidak pernah berkata-kata jahat lagi.

Barry, Beruang yang Angkuh

cerita anak: Ilona Joline Surjorahardjo

Narator: Ilona Joline Surjorahardjo

 

Halo teman-teman, namaku Barry. Aku seekor beruang madu. Aku akan bercerita tentang kisahku dengan Albert, temanku siberuang hitam.

 

Pada suatu pagi yang indah di padang rumput yang tenang, aku sedang bersama Albert. Aku merasa bosan. Lalu aku mengajak Albert untuk bermain, akan tetapi sayangnya kaki Albert sedang sakit. Tiba-tiba muncul ide gemilang di kepalaku. Aku tahu tempat yang tepat untuk mengumpulkan madu bersama Albert.

“Apakah kamu mau berlomba mengumpulkan madu?”  

“Tentu saja,” jawab Albert. Albert dan aku membuat beberapa keranjang daun untuk tempat mengumpulkan madu. Aku sangat yakin akan memenangkan perlombaan ini. Kukatakan kepada Albert:

“Jangan menangis kalau aku menang ya,”

“Ini hanya sebuah permainan, kenapa aku harus menangis?” kata, Albert.

 

Sungguh siang yang  panas. Aku berkeringat sampai harus menyeka wajahku dengan menggunakan kelopak bunga. Ketika kami sampai, kami segera berhitung mundur. Kemudian aku berlari ke hutan dan mulai mengumpulkan madu.

 

Tiga jam kemudian, aku telah mengumpulkan 5 keranjang penuh madu. Tetapi ternyata Albert telah mengumpulkan 10 keranjang penuh madu. Dia adalah pemenangnya.

Aku tidak pernah kalah dalam perlombaan mengumpulkan madu! Tentu saja ini membuatku jadi cemburu. Wajahku terbakar kemerahan. Dengan tenang Albert berkata:

“Jangan khawatir,  Barry. Ini hanya permainan.”

”Aku sudah terlalu marah untuk menjawabnya. Aku tidak dapat menguasai diri sehingga kukatakan kata-kata jahat. Oh, Albert berlari kencang. Dia sangat terkejut aku telah bersikap kasar. Sementara aku hanya berdiri, merasa bersalah dengan apa yang telah aku perbuat.

 

Setelah itu, aku pulang ke rumah dan segera tidur.

Keesokan harinya ketika aku bangun, aku mencoba mencari madu milikku untuk makan pagi.

“Dimana maduku?” tanyaku kepada Ibu. Aku tidak tahu kalau Ibuku mendengar kelakuanku terhadap Albert. Dia telah mengambil maduku dan menyembunyikannya di padang rumput. Katanya:

“Kamu dihukum karena perbuatan jahatmu! Kamu tidak akan mendapatkan madu sampai kamu meminta maaf kepada Albert!”

Awalny aku kira Ibu sedang bercanda, maka aku mencoba mencari maduku di padang rumput. Teriakku: “Mana maduku?”

Kucoba renungkan kembali kata-kata yang Ibu ucapkan. Aku harus meminta maaf kepada Albert! Ketika mendekati rumah Albert, Ibu Albert berkata bahwa Albert sedang tidak di rumah. Maka aku menuju hutan dan mulai mencari-carinya. Aku berhenti di tepi sungai untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba aku teringat saat Albert dan aku berlomba renang. Meskipun aku menang, Albert tidak pernah mengeluh. Dia mengucapkan selamat kepadaku! Aku jadi kagum.

 

Kuteguk sedikit air dari sungai, dan berlari mencari Albert. Kemudian saat melintasi kebun bunga, aku kembali teringat pada Albert, lalu aku merangkai karangan bunga. Kataku kepada Albert kala itu, tanpa diriku pasti karangan bunga ini kelihatan jelek. Albert memuji sebagai balasannya,

“Iya, kamu sangat berbakat!” Akhirnya aku mencapai ujung hutan. Tempat dimana aku mengucapkan kata-kata kasar kemarin. Aku menangis,

“Maafkan aku, Albert! Ayolah keluar.”

Sesosok bayangan gelap nampak. Dia, Albert! Kupeluk dirinya seraya berkata, “Aku sungguh minta maaf.”

Albert memaafkan aku. Kemudian kami berjalan melewati padang rumput bersama. Sejak saat itu aku tidak pernah berkata-kata jahat lagi.

 

English Lesson – Mengenal Nama Hewan di Peternakan Paman Alit

Mengenal Nama Hewan di Peternakan Paman Alit

Cerita karya: Dian Erika

Narrator: Ilona Joline Surjorahardjo

download

 

Hari ini Difa dan Tera berkunjung ke peternakan Paman Alit. Tera sangat senang dan bersemangat. Paman Alit memiliki peternakan yang luas. Setelah meminta izin pada Paman Alit, Difa dan Tera pun berjalan-jalan mengelilingi peternakan sambil belajar mengenal nama-nama hewan dalam bahasa Inggris.

“Lihat! Itu COW.” kata Difa saat tiba di kandang sapi.

“COW,” Tera menirukan.

“COW itu bahasa Inggris untuk sapi, dieja C-O-W, COW,” jelas Difa.

Tak jauh dari kandang sapi, mereka melihat sekumpulan bebek sedang berenang di kolam.

“Itu DUCK,” kata Difa.

“DUCK,” tiru Tera.

“DUCK artinya bebek, dieja D-U-C-K,” Difa mengeja.

Mereka melanjutkan hingga sampai di kandang kuda.

“Bahasa Inggris untuk kuda adalah HORSE,” ucap Difa.

“HORSE,” Difa mengulang.

“Benar, dieja H-O-R-S-E, HORSE,” Difa menguraikan.

Difa dan Tera berjalan lagi, mereka tiba di kandang ayam. Tampak beberapa pegawai peternakan Paman Alit sedang memberi makan ayam-ayam tersebut.

“Itu CHICKEN,” jelas Difa.

“CHICKEN,” Tera mengulangi ucapan Difa.

“CHICKEN adalah bahasa Inggris untuk ayam. Dieja C-H-I-C-K-E-N,” kata Difa.

“Ada juga kata khusus untuk menyebut ayam jantan dan betina,” lanjutnya.

“Apa, Kak?” Tera penasaran.

“HEN untuk menyebut ayam betina, dieja H-E-N,” jelas Difa.

“HEN, ayam betina,” Tera mengulang.

“Sedangkan untuk ayam jantan disebut ROOSTER,” lanjut Difa.

“ROOSTER,” Tera menirukan.

“ROOSTER dieja R-O-O-S-T-E-R,” Difa menerangkan.

Mereka berjalan lagi hingga tiba di kandang domba dan kambing yang terletak berdekatan.

“Ini SHEEP, domba,” kata Difa sambil mendekati seekor domba.

“SIP,” tiru Tera.

“Bukan SIP, tapi SHEEP,” Difa mengoreksi.

“SHEEP,” ucap Tera.

“Nah, benar. SHEEP dieja S-H-E-E-P,” ujar Difa menjelaskan.

“Kalau yang itu GOAT, kambing,” kata Difa seraya menunjuk seekor kambing.

“GOAT,” Tera menirukan.

“Dieja G-O-A-T,” terang Difa.

Tak terasa mereka sudah selesai mengelilingi peternakan Paman Alit.

“Jadi Tera, nama hewan apa saja yang sudah kamu pelajari dalam bahasa Inggris saat jalan-jalan tadi?” Difa bertanya.

“Banyak, Kak,” jawab Tera.

“Coba sebutkan,” pinta Difa.

“Pertama adalah COW, artinya sapi. Lalu DUCK, artinya bebek. Kemudian HORSE, artinya kuda,” Tera mengingat-ingat.

“Lalu apalagi?” tanya Difa.

“ CHICKEN, artinya ayam. HEN adalah ayam betina, dan ROOSTER adalah ayam jantan,” jawab Tera.

“Kemudian SHEEP, artinya domba. Dan yang terakhir adalah GOAT, artinya kambing,” lanjut Tera dengan mantab.

“Bagus, kita sudah jalan-jalan dan belajar hari ini. Sekarang hari sudah siang, ayo pamit pulang ke Paman Alit, ibu pasti sudah menunggu di rumah,” kata Difa.

Mereka berdua pun pulang dengan gembira.

 

English Lesson – Berkunjung ke Rumah Nina

Berkunjung ke Rumah Nina

Penyusun: Daria Ratna Gumulya

Penutur: Ilona Joline Surjorahardjo

download

 

Sore itu cerah, Difa mengajak Tera berkunjung ke rumah Nina, teman sekelasnya untuk mengerjakan tugas kelompok Bahasa Indonesia. Sesampai di sana, ternyata Nina sedang mandi.

“Silakan duduk dulu ya saying,” kata Ibu Nina. Difa dan Tera mengiyakan dan mereka menunggu di ruang tengah.

“Kamu ingat apa bahasa Inggris kursi, Tera?” Difa bertanya pada adiknya.

“Tentu. Kursi adalah Chair. C-H-A-I-R,” jawab Tera.

“Kalau meja?”

“Table. T-A-B-L-E,” Tera menjawab mantab.

“Tera, di sebelah kirimu ada lemari dan banyak foto dipajang di situ. Kamu ingat apa bahasa Inggris untuk lemari?”

“Cupboard. C-U-P-B-O-A-R-D” Tera mengeja.

“Good. kalau Foto?”

“Picture. P-I-C-T-U-R-E.”

“Ah, kamu pintar. Lalu persis di depanmu ada lukisan menempel di dinding. Apa bahaba Inggris Lukisan?”

“Painting. P-A-I-N-T-I-N-G,” jelas Tera.

“Kalau dinding?”

“Wall. W-A-L-L. Wall.”

“Lalu di sudut ruangan itu ada vas bunga cukup besar. Masih ingat bahasa Inggris Vas?”

“Vas bunga adalah VASE. V-A-S-E”

“Ah, kamu memang pintar. Nah, semua benda itu ada di sini. Di ruang tamu atau ruang keluarga. Dalam Bahasa Inggris disebut: Living Room. L-I-V-I-N-G R-O-O-M”

“Living Room,” Tera menirukan Difa.

“Nah, di ruangan ini juga ada Televisi. Television. T-EL-E-V-I-S-I-O-N, lalu Karpet dalam bahasa Inggris: Carpet C-A-R-P-E-T dan jam dinding. Clock dieja C-L-O-C-K” terang  Difa.

“Baik, Difa, aku akan mengingat semua kata benda yang kamu ajarkan hari ini.”

“Bagus. kamu memang pintar.”

English Lesson – Tubuh dan Fungsinya

Tubuh dan Fungsinya

Penyusun: Linna Benardi

Penutur: Ilona Joline Surjorahardjo

download

 

Cuaca cerah. Difa dan Tera bermain di halaman. Berdua asyik menyanyikan lagu ciptaan Pak Kasur. Dua mata saya / Hidung saya satu / Dua kaki saya / Pakai sepatu baru /

Dua telinga saya / Yang kiri dan kanan / Satu mulut saya / Tidak berhenti makan.

Tiba-tiba, Difa mengajak Tera bermain Tanya-jawab tentang anggota tubuh dalam bahasa Inggris.

 

“Aku dulu yang memulai. Bentukku bulat, tugasku melihat. Siapakah aku?” Tanya Difa.

“Eye,” jawab Tera. “Eye. Mata.”

“Good. Bagaimana mengejanya?”

“ E-Y-E, Eye,” Tera menjawab dengan jelas.

“Aku bisa mencium bau masakan lezat. Siapakah aku?”

“NOSE,” jawab Tera.

“Betul. NOSE,” Difa menirukan jawaban Tera. “NOSE itu Bahasa Inggris untuk hidung. Dieja  N-O-S-E, NOSE,”

“Coba tebak, berjalan, berlari dan melompat adalah beberapa fungsiku. Kemarin aku mendapat hadiah sepatu baru. Siapakah aku?” Tanya Difa.

“FOOT,”

“Benar. FOOT, artinya kaki. bagaimana mengejanya?”

“FOOT dieja F-O-O-T, FOOT,” kata Tera.

“Jumlahku dua, ada yang kiri dan kanan. Aku berguna untuk menulis juga bersalaman. siapakah aku?”

“HAND,” jawab Tera

“HAND, tangan. Bagaimana mengejanya?” Difa bertanya.

“HAND dieja H-A-N-D, HAND,” kata Tera

“Good! Jumlahku juga dua. Berguna untuk mendengar suaramu yang merdu, siapakah aku?” Tanya Difa.

“EAR,”jawab Tera lantang.

“EAR, benar. EAR adalah telinga. Dieja E-A-R, EAR,” jelas Difa.

“Tugasnya adalah bernyanyi, berbicara, makan dan minum. Siapakahaku?”

“MOUTH, mulut.” jawab Tera.

“MOUTH, good. bagaimana mengejanya?” Difa bertanya.

“MOUTH dieja M-O-U-T-H, MOUTH,”

“Wah, kamu pintar sekali, Tera, sekarang coba ulang dari awal,”

“EYE adalah mata. NOSE adalah hidung. FOOT adalah kaki. HAND adalah tangan. EAR  adalah telinga. Dan MOUTH adalah mulut.” Lancar Tera menyebut bagian tubuhnya dalam Bahasa Inggris.

“Bagus sekali, Tera. kita akan lanjutkan bermain tebak-tebakan besok ya, kita akan belajar lebih banyak lagi tentang tubuh kita.”

“Baik, Difa. Thank you.” kata Tera gembira.

 

>