Berkah Pandemi Covid-19

Cerita Liston P Siregar
Dituturkan oleh Liston p. Siregar

Karena aku mengidap diabetes maka aku dan istri harus tidur terpisah selama pandemi Covid-19, begitulah vonis dokter.

Aku protes, tapi vonis tak berubah.

“Kalau mau selamat, kalau nggak ya silahkan…,” tegas dokter langganan keluarga itu ketus. Tak biasanya dia galak.

Waktu dia -seperti biasa dengan sabar dan jernih- menjelaskan pengidap diabetes, jantung, ginjal, kanker, dan penyakit-penyakit kronis lainnya serta orang-orang tua tergolong kelompok yang ‘vulnerable’ serangan virus corona, aku memotong, “Kan covid-19 tak pandang bulu, pintar bodoh, kaya miskin ya kena dok. Semua orang rentan terserang.”

Dia tetap sabar menjelaskan, “Semua rentan terserang tapi yang punya underlying illness berisiko amat tinggi, sedang yang sehat ya pulih.” Ketika aku potong lagi, “Saya juga diisolasi dok, kerja dari rumah…,” itu tadi, dia jadi ketus ‘“Kalau mau cari selamat, kalau nggak ya silahkan… “ sambil melempar pulpen yang dipegangnya ke atas meja.

Akupun diam, dan dia tambah vonisnya, masih dengan ketus, “Kamar mandi dan toilet juga pisah.  Jaga jarak minimal satu meter sama semua orang di rumah, entah istri, anak, pembantu. Itu kalau mau selamat…”

***

Sampai di rumah, vonis itu kuteruskan ke istri, yang menanggapinya tenang-tenang saja, “Mari kita patuhi.”

Aku curiga dia malah senang, bisa cuti dari tugas seorang istri di tempat tidur.

Dan soal pertama langsung muncul ketika memutuskan ‘siapa tidur di mana’.

Ada kamar tamu di bawah, lengkap dengan kamar mandi. Kami jarang kedatangan tamu, jadi hanya satu ranjang tunggal yang kasurnya agak keras, sedang kamar mandinya sempit cuma cukup untuk berdiri di bawah pancuran air dan duduk di atas toilet.  Tak ada bathtub untuk malas-malasan berendam air hangat sambil berangan-angan diiringi musik.

Aku yakin orang sakit yang mestinya harus tidur nikmat di ranjang king size, kasur empuk, ruang lapang, dan kamar mandi luas yang bukan cuma ada bath tub-nya, juga TV kecil dan sound system Bose.

Cilakanya istriku, pegawai bank, punya alasan lain. “Aku harus ngantor, bajuku di kamar ini semua. Kau cuma pake zoom, atasan doang yang perlu. Bawahnya nggak pake apa-apa juga nggak ada yang lihat.”  Dan dibukanya empat pintu di lemari panjang berisi bajunya yang bergantungan berdempet-dempet, sebelum bergerak ke lemari kecilku di sebelahnya, yang tak pernah penuh.

***

Malam pertama, aku kesulitan tidur. Pastilah.

Ketika akhirnya bisa tertidur lelap, eh tersentak bangun subuh karena pembantu mulai bersih-bersih di ruang tamu dan siap-siap masak di dapur. Hari itu pula, aku terlambat rapat zoom dan ditegur bos di depan belasan orang. Tak mungkin kujelaskan alasan kenapa tertidur sampai jam sembilan pagi.

Tapi peribahasa ‘Alah bisa karena biasa’ benar sepenuhnya. Malam demi malam aku terbiasa tidur di ranjang tunggal dan kasur keras. Tentu setelah disiasati.  Pertama kutambah satu lapisan kasur tipis, terus menaruh lampu baca kecil, dan sound system Bose dari kamar mandi atas pindah ke kamar baruku.

 “Terserah, mau kau jadikan apa kamar itu. TV kamar mandi pun boleh kau pindahkan,” kata istri.

Kebiasaan masa lajang dulu terwujud, bisa membaca novel sampai mata tak mampu menahan kantuk dan tidur diiringi alunan lembut jazz fusion atau klasik pop sementara suara beres-beres pembantu tiap subuh bertransformasi jadi senandung yang sayup-sayup dalam mimpi.   

Ternyata nikmat sekali kembali ke rutinitas 20-an tahun lalu, karena setelah kawin, aturan kamar tidur kami jelas: lampu mati dan tak ada suara.  “Kamar tidur untuk tidur, bukan baca atau dengar musik,” tegas istri, setelah masa bulan madu kami lewat, 22 tahun lalu.

***

Yang lebih asyik –setelah kenikmatan rutin masa lalu itu terjamin-  setiap bangun pagi muncul pula rasa kangen. Jadi begitu bangun pagi setelah tidur enak, aku riang berlari kecil naik ke atas, membuka pintu kamar pelan-pelan, dan “Selamat pagi cintaku…”  Kata cinta yang sudah lama tenggelam di balik manajemen praktis keluarga, mengambang kembali terangkat rasa kangen, riang, dan tidur nyenyak bersama novel serta musik. 

Biasanya istri sudah bangun tiap aku membuka pintu. Kamipun ngobrol berjarak, aku duduk di kursi ujung kamar dan dia baring sambil bersandar di dinding sebelum masing-masing siap-siap kerja, aku di rumah dan istri berangkat ke kantor. Segala macam kami omongin.

Pelan-pelan pula kami bersaing menyapa duluan. Kalau aku keasyikan baca malamnya, giliranku yang mendengar suara lembut istri di kamar kerajaanku, “Selamat pagi cintaku…” dan kami ngobrol sekitar sepuluh menitan. Karena kamar tamu sempit –yang menurut istriku, “Ini asli udah kayak kamarmu sebelum kawin.”- maka istriku tetap berdiri di pintu dan aku selonjor di ranjang.

Sekali dua kali kami malah bertemu di tangga, aku mau naik ke atas tapi istri pas mau turun ke kamarku. Berdua kami tertawa dan lanjut ngobrol, satu di anak tangga paling atas, satu di anak tangga paling bawah.

***

Nyaris empat bulan berlalu dan pemerintah melonggarkan pembatasan sosial.  Aku telepon dokter andalan keluarga kami menanyakan urusan pisah kamar.

Dengan sabar dan jernih, dokter pengalaman dan bijaksana itu menjelaskan bahwa keputusan pemerintah ada unsur politiknya, ada pertimbangan ekonominya, sedang dia semata-mata berlandaskan kesehatan.

“Jangan buru-buru. Ada risiko gelombang kedua. Lebih bagus ekstra hati-hati. Sudah puluhan tahun disiplin injeksi insulin, sia-sia kalau kena Covid-19. Tahan dulu kangen istrinya… paling sebulan dua bulan lagi,” jelasnya.

Kali ini aku tidak protes, dan ketika menyampaikan perpanjangan vonis, istri mendukung tanpa syarat. “Iya, mending patuh sama dokter, bukan pemerintah yang memble.”

Malamnya aku sulit tertidur lagi. Mata tetap melotot walau terus membaca ketika otak tidak bisa menyerap apapun. Playlist di Spotify yang kubuat lebih panjang juga tak mampu membuai sedang suara beres-beres pembantu terdengar seperti beduk keras bertalu-talu yang niatnya memang membangunkan orang.

Parahnya, jantungku berdebar jauh lebih cepat dan lebih keras, seperti sedang menanti datangnya sesuatu yang berbahaya, yang entah apa wujudnya tak bisa diduga namun pasti akan datang. 

Subuh-subuh kusempatkan kirim email ke bos, mohon izin sakit. Juga kutempel pengumuman di pintu kamar, “Jangan dibangunkan, perlu tidur,” untuk mencegah sapaan pagi istri.

Cilakanya dia malah penasaran, membuka pintu pelan-pelan namun tetap terdengar. Aku terbangun kesal, “Kan udah kubilang jangan bangunin!”

Dibalasnya keras, “La kan aku perlu tau kau baik-baik atau ada masalah!.”

“Sebelum kau bangunkan, aku baik-baik saja!,” bohongku dengan suara lebih keras.

Dan pintu kamarku dibanting, “Ya sudah, sana tidur seharian!”

Terganggu oleh pertengkaran pertama dalam tiga  bulan terakhir lebih itu, aku makin tak bisa tertidur, dan debaran jantung makin keras, makin cepat, ditambah agak sesak nafas.

Tengah hari, kutelepon istriku dengan suara ngos-ngosan.

Dia panik, pulang. Kami sempat bertengkar kecil  karena dia mau langsung ke rumah sakit tapi aku mau ke dokter langganan keluarga, tak yakin sama dokter-dokter muda yang lebih banyak gaya dibanding keahliannya.

Kamipun ke rumahnya karena jam praktek masih sore nanti. Istriku menyetir di depan kanan, dan aku terpisah di kursi kiri belakang, masih dengan nafas sesak dan jantung berdebar. “Kena Covid juga aku,” pikirku.

***

Setelah dicek sana-sini, termasuk periksa darah di ruang kerja di rumahnya  kusaksikan rona wajah dokter kembali tenang walau awalnya tadi tampak tegang. Tapi debaran jantungku tetap cepat dan kuat, sementara nafas terasa berat.

Dipanggilnya istriku, dan kami bertiga duduk membentuk segitiga sama sisi berjarak satu meteran lebih.

Dibarengi senyum, dia menjelaskan dengan tenang dan jernih.  “Bukan virus corona, tapi stress…”

Istriku malah tampak agak lega, tapi aku tidak. Justru terasa ada tekanan baru akibat tertanya-tanya sendiri di dalam hati, “Stress???”  Sebagai orang pragmatis, pekerja keras, dan terbiasa terus terang, kata stress tak ada dalam kamusku.

“Saya kasih obat penenang. Tidur yang enak, nanti kita lihat lagi,” kata dokter sambil menulis resep. “Jangan ngikutin berita-berita dulu. Isolasi bisa bikin stress, mana berita-beritanya didramatisir wartawan.”

Usai menulis resep, dokter melihat kami satu persatu, kembali dengan senyum kecil, “Ya sudah, boleh sekamar lagi tapi cegah dulu persentuhan kulit langsung. Pelukan boleh tapi dari belakang jadi masih berlapis pakaian dan tanpa hembusan nafas langsung…”

Debaran jantungku tetap kuat dan cepat, nafas tetap berat, dan malah bertambah dengan jari-jari tangan gemetaran.

“Dulu itu bukan saya kejam misahin suami istri…  tapi si Mbak masih ke kantor, ketemu banyak orang, jadi lebih baik meminimalkan risiko…” tambah dokter beruban itu.

***

Dari rumah dokter, kami langsung ke apotik.

Stres  menyerangku  selama menunggu di dalam mobil.  Tak tahu berapa lama aku menunggu di kursi belakang mobil sambil menutup mata tapi tetap tak bisa tertidur dengan debaran jantung yang aku duga sampai terdengar ke luar mobil.

Sudah 24 jam lebih berlalu sejak aku menanyakan ke dokter aturan pisah kamar dan aku paling tertidur lelap sejaman.

Ketika istriku kembali ke mobil, dengan suara lemah dan masih ngos-ngosan aku minta maaf, “Maaf ya cinta kalau tadi pagi aku marah-marah…”

“Aku juga maaf ya,” jawab istriku lembut dan menjalankan mobil.

***

Di salah satu persimpangan lampu merah, mobil berhenti dan istriku menatapku dari spion. “Nanti kalau sudah normal tak ada covid tapi kau mau tetap tidur di kamar sendiri, nggak apa-apa. Nggak usah mikirin apa kata orang, kok suami istri tidur pisah kamar… Yang penting kita happy.”

Lampu hijau dan mobil jalan. Dengan mata menatap lurus ke jalan di depan, diteruskannya dengan suara riang, “Ya sekali-kali kau boleh kok berkunjung ke kamarku.”

Sedetik kemudian, aku tertidur lelap.

Ketika terbangun aku masih di dalam mobil di pekarangan rumah. Tak tahu berapa lama tertidur tapi tubuh enak, hati ringan, nafas lancar, dan debaran jantung normal.

Menikah 22 tahun mestinya memang cukup membuat seorang istri lebih paham kesehatan suami dibanding dokter langganan keluarga sekalipun. Jika dokter mendiagnosa stress pasiennya karena pusah ranjang, istri sejati yakin justru balik tidur sekamar lagi, tanpa bacaan dan tanpa musik, yang jadi sumber stress suaminya.

***

Musik Youtube Library:

1. Gently Onwards – ELPHNT
2. Peony Morning – Track Tribe
3. Three Wise People – E’s Jammy Jams
4. Jazz Mango – Joey Pecoraro
5. The New Darker of You – The Tower of Light

Urusan Zoom di Masa Virus Corona

Cerpen dan penutur Liston P Siregar
Ilustrasi Musik Liston P. Siregar

DOWNLOAD

“Kalau habis pakai hand sanitizer jangan langsung masak, kesambar api tangan klen,” istriku mengingatkan kami waktu makan malam.

Pastilah sumbernya  grup WA, yang makin menggila di musim isolasi corona virus. Banyak yang lontang lantung di rumah dan sibuk nyebar pesan WA, untuk melucu, jaim, sok bijak, dan satu dua memang berbagi informasi penting.

Peringatan istriku tidak masuk akal. Tak satupun kami yang masih masak tapi pembantu dan kompor kami listrik. Jadi mau kandungan alkohol di hand sanitizer sampai 60%-pun, tak akan tersambar api. Tapi campuran panik dan banjir informasi, membuat istriku terprovokasi meneruskan semuanya ke grup WA keluarga.

Pernah aku kesal karena ada video 21 menit plus segala macam foto-foto tentang corona virus sampai telepon lemotku jadi makin woles. Kubilang, kirim sajalah linknya, dan cilakanya kutambah, “Tak perlulah kau tarok di grup WA kita, kalok kau baca koran adanya semua itu.”

Dia berang, “Koran otaknya komersil, yang di WA jujur saling perhatian keluarga sama kawan akrab.”

“Okeh,” kujawab tenang, “Tapi banyak yang loak-loak tak jelas.”

“Kaunya yang dor negatip.”

Panas kupingku, kutantang dia, “Jadi kau mau minum vodka yang katanya bisa membunuh virus corona.”

“Haram!,” bentaknya, “kalau ada yang mau berdosa mabuk-mabukan, urusan orang itulah.”

Mau kudebat lagi, tapi kubatalkan. Cuma bikin makin emosi tanpa kesepakatan akhir.

Kerja sama padu yang kami impikan waktu pacaran dulu ambruk bukan karena virus corona tapi sejak kelahiran anak kami, 20 tahun lalu. Tiap malam kami saling sikut di atas tempat tidur untuk nyiapkan susu untuk anak sulung yang lapar terus.

“Giliran kau!” perintahnya membangunkan dengan menjepit hidungku.

“Pakai asimu-lah lebih baik,” balasku.

“Udah kering, besok pagi baru ada lagi,” alasannya.

Setelah kedua anak kami bisa membaca, persaingan berlanjut, antara lain memilih dan menulis kartu ulang tahun yang lebih cantik, juga waktu sudah SMA, bersaing soal saran masuk universitas, dan waktu anak-anak kuliah bersaing untuk siapa dari kami berdua yang lebih ‘cool’.

Isolasi covid cuma menjadi lahan tarung yang baru saja.

Jadi waktu mulai lockdown dan harus ngajar pakai aplikasi Zoom, dia minta bantuan putriku, biarpun sudah dilihatnya aku berapa kali pakai zoom untuk rapat.

“Nggak semua orang yang tahu bisa mengajar dengan baik,” tegasnya penuh otoritas.

Istriku mengajar privat Bahasa Indonesia dan muridnya setahun ini adalah eksekutif perusahaan minyak asal Inggris. Biasanya dia datang ke kantor muridnya tapi virus corona membuat kursus lewat internet.

“Pakai Zoom,” saran sekretaris muridnya.

Cilakanya setelah di rumah masing-masing, guru dan murid itu sadar tidak paham Zoom dan sekeretaris tak bisa dipanggil ke rumah untuk membantu. Keduanya, guru dan murid tadi, mengandalkan putri masing-masing di rumah sendiri-sendiri dan semua orang tahu risiko jika orang tua bertanya tentang teknologi kepada anak sendiri. Amat berbahaya!

Nada kesal suara putriku terdengar ketika melatihnya pakai zoom sambil tergesa-gesa, “Ya pencetlah sharing file, kan jelas tulisan kek gitu….” Tapi tetap dia pilih yang seperti itu daripada bertanya ke saingan utamanya, yang jelas lebih woles, tenang, dan sabar.

Setelah Minggu malam latihan sekali lagi buka Zoom –juga dengan nada kesal dan tergesa-gesa dari putri kami- istriku memproklamirkan siap ngajar lewat Zoom. Aku yakin dia belum siap tapi diam saja, yakin komentarku akan menyulut perang dunia ke-1386.

Senin pagi tiba. Sekali-sekalinya dia bangkit lebih dulu dari tempat tidur dan kucari-cari, ketemu di ruang tamu.

“Pagi pak darling,” nadanya bersahabat menutup peluang protesku melihat ruang tamu ditata ulang habis.“Masa covid kan tak ada tamu.”

Sofa digeser untuk menampung meja sarapan yang dibawa dari teras belakang, dan kursi bacaku yang  bersandaran tinggi ikut dikerahkan. Di atas meja terpajang laptop Mac-nya, vas keramik dengan bunga warna-warni dari halaman, plus cangkir teh berukir oleh-oleh kakaknya dari Inggris, bukan mangkuk putih besar yang biasa dipakai sarapan.

Ada juga dua buku di atas meja, Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia dan “Adult Teaching, An effective way”  plus edisi Majalah Tempo terbaru. Sementara lukisan tiruan Raden Saleh diturunkan dan ditopang di atas kursi sehingga jadi latar belakang.

Aku menyaksikan dengan tertib. Setelah tata sana sini bersama pembantu, dia –mengenakan syal buatan Obin- duduk di kursi dan minta difoto pakai HP dengan instruksi jelas, “Kamu tunduk dikit Isah, mendekat ke komputer” supaya kira-kira seperti itulah nanti dia tampak di layar komputer. Isah tampak bingung tapi tak bisa menolak. Kalau minta tolong aku, maka maunya dia akan langsung tercapai tapi minta tolong saingat sengit???

Beberapa kali foto, beberapa kali tata ulang kursi, aksesoris di meja, dan lukisan di belakang bersama Isah.

“Ini mau kerja atau nampang…” pikirku tapi tersimpan di dalam mulutku dan yang ke luar adalah pertanyaan. “Jam berapa kau mulai ngajar.”

“Jam sembilan pak darling,” katanya  ringan tak melepas sorot mata dari HP-nya mengevaluasi tata letak pengajaran pagi itu.

Aku keluar dan menutup pintu penghubung ke ruang TV dan terlihatku tempelan tulisan warna merah, “At work, quiet please” dengan tanda seru.

Kuambil kopiku, kupasang TV untuk berita pagi tapi kupelankan suaranya. Isah keluar dan kutanya, “Sudah beres?”

“Sampun Pak.”

Tapi aku tak yakin.

Beberapa menit lewat pukul sembilan kupelankan lagi TV sampai nyaris tak bersuara. Terdengar sayup-sayup percakapan. Aku mendekati pintu, nguping.

“Bapak mohon terima invitation yang saya kirim lewat email,” kata istriku perlahan-lahan dengan jelas.

Lantas hening.

“Sudah Bapak buka aplikasi Zoom-nya,” tanya istriku lagi.

Ah, mereka rupanya berbicara lewat HP, jadi kuketuk pintu. “Perlu bantuan?” tanyaku pelan.

“We are fine…” jawabnya ke aku sekaligus menegaskan ke muridnya yang orang Inggris di seberang telepon sana sambil mengangkat jempol kirinya.

Baiklah, dan aku duduk kembali menonton berita pagi.

Tak lama pintu terbuka dan istriku bergegas naik ke atas. Ini berbahaya! Dia bangunkan putriku, yang selalu–entah pada masa tenang atau masa virus corona- tidur selepas tengah malam.

Aku diam, menanti bencana tiba.

Terdengar nada menghiba yang dibalas bentakan. “Kenapa Mamak ngaku semalam udah bisa?”

“Bukan di Mamak, tapi dia yang bingung.”

“Ya sana suruh dia tanya anaknya.”

“Sudahlah bantulah kami…” kata suara memelas itu lagi.

Ada hentakan langkah turun tangga, diikuti istriku di belakang, yang langsung menutup pintu ruang tamu, mengisolasiku dari masalah Zoom.

Kali ini sayup-sayup terdengar suara putriku, yang mengambil alih pemecahan masalah dan setelah sebelas menit –aku lihat jam di dinding di atas TV-, putriku keluar dengan membanting kecil pintu.

Dia ikut duduk selonjor di sofa, di sampingku. “Bapak sudah nawarin bantuan tapi ditolak,” jelasku menenangkan dia, yang diam membatu.

“Nggak nyambung tidur?” tanyaku bersimpati.

“Nanti ada masalah dibangunin lagi…,” suaranya masih kesal.

“Tapi sudah bereskan…Makasihlah,” akupun cari muka sikit.

“Laptop murid Mamak tak ada kamera. Makanya disuruh pencet ikon kamera, dia bingung…” kata putriku dengan sisa-sisa kekesalan.

“Ha? Masak laptop bos eksekutip tak ada kamera.”

“Bos jaman old yang semua diurus sekretarisnya, tak tau dia laptop lamanya tak berkamera…” jelas putriku dan menambahkan, “Tadi dibanguninya anaknya, tapi anaknya tak mau minjamin laptopnya.”

“Kalau cumak pake suara, kayak mana bagi layarnya?” tanyaku makin pingin tahu.

“Tadi dokumennya dikirim pakai email dulu. Udahlah Pak, jangan tanyak-tanyak terus.”

Akupun diam.

Berita pagi sudah habis tapi kutemani putriku duduk selonjoran antara nonton TV dan bermalas-malasan, ikut cemas menanti jika ada masalah baru dari ruang tamu yang bertranformasi jadi ruang kerja istriku di sebelah.

Sekitar pukul setengah sebelas, pintu terbuka dan istriku ke luar berjalan santai membawa cangkir teh berukir, sambil mengumumkan, “Istirahat lima belas menit. Makasih tadi ya anak Mamak sayang.”

Putriku diam dan aku basa-basi bertanya, “Gimana…Lancar?”

“Lancar jaya,” kata istriku mantab, “Efektif juga kok pakai Zoom,” tambahnya ringan gembira.

Hampir terucap dari mulutku, “Tapi nggak jadi mejeng kau ya…” tapi segera kugenggam kuat tangan kananku menahan komentar itu tidak loncat ke luar, mencegah perang dunia  ke-1387, biarpun pasti aku menang karena putriku pas sedang di kubuku.

***

Musik (Youtube Library)
1. Get Me on The Floor- Gunnar Olsen
2. Escape – Houses of Heaven
3. New Land – Albis

Gumading Peksi Kundur

Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penutur: Astuti Parengkuh
Ilustrasi musik: Liston P. Siregar

DOWNLOAD

 

 

 

Laki-laki itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu.

Kau letakkan canting dan meredupkan nyala api pada wajan berisi malam cair. Tanpa meneliti ulang, gerak tanganmu telah mengatur nyala sumbu kompor itu pada ukuran yang tepat. Redup yang pas untuk menghangatkan malam dengan titik api yang aman, sekedar untuk menjaganya tetap berupa lelehan tanpa akan membakar apalagi menghanguskan.

Berkepul samar malam cair warna jelaga itu saat kau beranjak. Aromanya melekatimu, menguar kentara serupa jejak pada setiap gerakmu. Kau seka peluh di dahi dengan punggung tangan sesaat sebelum langkahmu menjejak ambang pintu terbuka, menyambut sang tamu. Bergerak lembut tanganmu mempersilahkannya duduk.

Monggo pinarak.”(1)

Mengangguk laki-laki paruh baya itu membalas salammu. Jalinan rotan pada kursi tua peninggalan orangtuamu, berderak lirih saat menerima beban tubuh sang tamu.

“Kudengar kau pembatik yang mumpuni,” begitu tamu itu mengawali niat kedatangannya. Pujian awal yang tidak membuatmu tersanjung apalagi tersipu. Perjalanan waktu telah membawamu melewati hal-hal semacam itu, tidak membuatmu terbiasa melainkan justru memberimu kemampuan mendeteksi sebagai basa-basi atau umpan tekak.

“Kabar tentang mumpuninya pembatik, acapkali menyesatkan,” katamu santun.

“Memahami batik sebagai karya, tidak serupa mengenakannya. Apa yang tampak hanyalah tampilan, yang justru kerap menjadi ukuran keindahan, sementara makna rohani yang tersirat pada coraknya justru terabaikan.”

“Kuinginkan keduanya. Elok tampilan dan indah rohaninya. Karena itulah aku datang padamu. Wujudkanlah dua keutamaan itu bagiku, maka akan kutahu apakah pilihanku padamu ini karena tersesat atau kaweruh ing panuju.” (2)

Lurus mata laki-laki itu padamu. Tidak demi menelusurimu, melainkan itulah gerak sebuah niat yang tak tergoyahkan. Seketika kau tahu bahwa kau telah terpilih untuk mewujudkan sesuatu. Seringkali langkah awal tetamu baru adalah langkah yang gamang. Beberapa di antaranya berbalik langkah membawa niat yang urung. Sebagian yang lain teryakinkan oleh wastra yang tersimpan di almarimu. Kali ini kau dapati pilihan yang tak goyah kepadamu.

Namun bukan rasa kemenangan yang mengendap di dalammu, melainkan beban yang samar. Akankah ternyatakan nanti bahwa reputasi mumpunimu bukan kabar angin belaka?

Bukan hal mudah mewujudkan keinginan. Tidak selalu tepat melakukan penafsiran dari hasrat tersirat. Perbedaan rasa keindahan selalu bisa terjadi. Ada yang bersimpang jalan untuk kemudian saling menghindar tanpa beban satu sama lain. Beberapa di antaranya memilih untuk menjadikan rasa keindahan pribadi sebagai sesuatu yang sama mutlaknya bagi orang lain. Kini, akankah karya wastramu sanggup menafsir dan memenuhi hasrat keindahan laki-laki itu dengan jitu?

“Wastra apakah yang dikehendaki?” pelan kau bertanya, melangkah awal pada penelusuran sebuah keinginan. Diperlukan kehati-hatian mengungkap pertanyaan demi menjadikannya tidak sebagai penyelidikan yang nyinyir.

“Kukasihi seorang perempuan, baginya ingin kuberikan tanda mata yang akan mengikat hatinya kepadaku.”

“Nuwun sewu, apakah berupa batik sarimbit (3) yang akan dipakai berdua?”

“Tidak,” menjawab laki-laki itu tanpa menggeleng. “Busana sarimbitku dengan yang lain.” Datar suaranya, bernada sangat biasa. Menandakan makna tersirat yang gamblang. Siapa pun mampu menafsirkan dengan persis isyarat itu.

“Kuinginkan sutera terbaik berkualitas utama, dengan serat terlembut yang pernah ada. Harga tidak masalah, berapa pun itu akan kubayar tunai, lunas kapan pun kehendakmu.”

“Maka wujudkanlah dengan sempurna wastra tanda mata itu. Temukanlah corak batik nan elok serta bermakna rohani terindah, yang niscaya sanggup mengikat hati kekasih kepadaku, tanpa hendak berpaling.”

Demikianlah laki-laki itu menitipkan hasrat pemujaannya kepadamu. Diakhirinya kunjungan sembari menaruh harapan seutuh bulan purbani kepadamu untuk mewujudkannya.

Kau bergeming dalam duduk. Tampak tenang serupa permukaan dataran air. Sementara di dalammu ada yang melepuh diam-diam. Itulah hatimu. Sebentuk hati lembut, yang seharusnya terjaga justru diguyur air mendidih pada pada suatu ketika. Didih air itu menggenangimu, melepuhkan hingga serabut saraf tersembunyi di benakmu.

Terjaga utuh dalam ingatanmu yang satu itu.

“Tak kupunya lagi kesetiaan yang utuh kepadamu,” kata suamimu pada suatu hari, “ada padaku seorang perempuan lain, yang kepadanyalah hendaknya kau berbagi hati dan keberadaanku.”

Mendidih darahmu seketika. Meluap didihan itu mengguyur hatimu lengkap dengan uap panas yang melepuhkan.

“Tak hendak aku berbagi,” begitu katamu dengan nada lurus seturut keteguhan hatimu.

“Kalau begitu, aku akan menceraikanmu,” gumam suamimu serupa ancaman.

“Kuterima talakmu,” kau mengangguk tanpa rasa gentar.

Benar kau tak gentar. Serupa burung-burung yang tak pernah kawatir pada hari esok, demikian kau jalani perceraianmu tanpa rasa gamang. Tapi luka itu tak bisa kau ingkari. Bukan karena rapuh hatimu melepuh, melainkan oleh kenyataan bahwa dirimu telah ditinggalkan. Bahwa janji yang seharusnya teguh telah diingkari.

Kini, kau menerima amanah untuk membuat wastra yang akan menjadi ‘perayu’ perempuan lain. Tanda mata yang akan menandai gerak awal terbaginya sebuah kesetiaan…..

Lama kau merenung di beranda. Mengabaikan reranting dan dedaunan yang bergemerisik mengabarkan dahaganya. Tak kau pedulikan pula semburat matahari sore yang telah meredup dan membuat rumahmu remang tanpa cahaya.

*

Entah berapa hari kemudian¾yang kau lalui dengan perasaan gamang yang menggelisahkan¾kau temukan sebuah pilihan pola batik yang sekiranya tepat untuk tanda mata yang diinginkan laki-laki itu.

Pagi masih muda ketika itu, embun belum mengering dari dedaunan di kebun saat sebuah sarang burung tergeletak di pelataran. Kau letakkan sapu lidi, demi memungut sarang itu dan menduga-duga asal mulanya. Barangkali berasal dari pohon belimbing yang ada di dekatmu. Sarang dari jalinan reranting dan daun kering itu kosong, tak ada telur sebutir pun tertinggal. Sarang yang telah ditinggalkan.

Kau tak hendak membuang sarang itu. Kau membersihkannya dari debu dan sampah yang tak perlu, meletakkannya pada sebuah dahan dengan beberapa tangkai bulir padi. Kau berpikir barangkali burung-burung itu akan memerlukan kembali sarang darimana mereka berasal dan gabah itu akan menjadi santapan yang melegakan, sepulang mereka dari perjalanan yang melelahkan.

Demikianlah sarang itu mengilhami sebuah corak batik. Teguh pilihanmu, tanpa gamang meski setitik cecek (4). Adalah pola buketan untuk mewujudkan rancanganmu. Setiap buketan terdiri dari seekor burung dengan sayap berlapis. Sebagai klowongan, yaitu ragam hias utama, kau tampakkan detil setiap helai sayap burung-burung itu. Seolah gerak melayang ujung sayap itu berkepak terbang. Sebagai ragam hias latar pola, terpilihlah ceplok bunga seruni yang kau posisikan serupa taman. Sengaja tak kau pilih jenis unggas, entah kupu-kupu atau capung sebagai latar hias, karena kau ingin sosok burung itu menjadi yang utama. Kau tata pola buketan itu dalam satu jajaran, seolah burung-burung itu berbaris menuju pada satu arah.

Gabah sinawur (5) untuk isen-isen (6), pengisi bidang kosong latar pola utama. Tangkai-tangkai padi itu seolah menjadi rangkaian gabah yang saling menyambung. Setiap tangkainya menampakkan bulir-bulir padi perlambang kemakmuran.

Ada ketelatenan yang tidak biasa saat kau mengerjakan wastra pesanan itu. Ketekunanmu menggoreskan canting melukis corak batik itu, tidak demi mengejar tenggat waktu semata-mata. Melainkan lebih karena kesungguhan hatimu yang menjadi penggeraknya. Lincah gerakmu, sesungguhnya karena jemari itu hanyalah perantara dari ungkapan rasa yang mengendap di benak. Sekian lapis endapan tak terungkap, yang nyaris tak tertanggungkan. Ada gelisah yang mereda, ada risau yang menjauh seiring wastra itu menuju pada tahap akhir penyelesaiannya.

*

Laki-laki itu datang menjemput tanda mata pesanannya pada sebuah pagi menjelang siang yang teduh.            Pagar bambu yang membatasi kebunmu dengan jalan kampung, berderak pelan saat bergerak terbuka menandakan kedatangannya.

Kau bentangkan wastra kuning lembut sewarna gading. Melayang sesaat sutera itu tanpa suara, sebelum kemudian rebah pada sandaran kursi panjang. Kau temukan sepasang mata yang berpendar takjub. Menampakkan hasrat yang seolah meletup demi menelusuri wastra panjang itu dari ujung ke ujung.

“Lebih indah dari bayanganku semula, ternyatalah reputasi mumpunimu tidak menyesatkan.”

Kau diam, membiarkan udara tak bergerak di sekitarmu. Sama sekali tidak tergesa untuk tersanjung. Sejatinya kau menunggu laki-laki itu menyelesaikan kekagumannya.

“Alangkah tepat corak pilihanmu. Kuingat kekasihku pernah menginginkan batik bercorak burung hong.”

“Burung-burung itu sedang terbang menuju pulang,” katamu pelan dengan nada yang sangat terjaga.

Laki-laki itu menoleh padamu.

Gumading Peksi Kundur, (7) demikianlah kunamakan wastra ini.”

“Apa maknanya?”

“Burung-burung yang terbang menuju pulang pada sarangnya, itulah Peksi Kundur. Akan melambangkan makna yang berbeda andai diserahkan pada dua orang yang tak sama.”

“Maksudmu?”

Kau berhenti sejenak. Seolah jeda sebelum melanjutkan sesuatu.

“Dia akan menjadi tanda mata pamit untuk mengakhiri sesuatu. Telah selesai persinggahan sang burung, dan inilah tanda mata untuk melepaskan kepulangannya menuju sarang bermulanya. Pada pihak lain, ia adalah perlambang yang menandai sebuah kepulangan dari perjalanan panjang. Entah sejauh apa perjalanan itu, namun inilah saatnya untuk menemukan kembali sarang yang ditinggalkan. Adalah gabah sinawur yang menjadi isen-isen, itulah tebaran biji padi di masa awal musim tanam, menandakan bermulanya sebuah musim baru. Demikianlah sebuah musim dimulai, dengan taburan benih untuk menumbuhkan kehidupan baru menggantikan apa yang telah terlalui.”

Lurus mata laki-laki itu padamu. Pendar takjubnya telah berubah menjadi kilauan tajam serupa kelewang terasah. Kau tak gentar, apalagi terhenti.

“Mengapa kuning?”

“Gumading, itulah warna kuning selembut gading. Dengan teknik pewarnaan batik wonogiren, warna dasarnya seolah retak, terkena rembesan warna soga. Karena serupa itulah gading, senantiasa retak. Demikian juga kehidupan, terutama kasih sayang, selalu tak sempurna. Namun selama tak patah, yang retak itu tetaplah berharga.”

Kau berhenti kemudian. Lalu menunggu. Tak ada debaran tak normal di dalammu, melainkan ketenangan yang teguh. Seteguh pilihan-pilihanmu sejauh ini.

Di hadapanmu, laki-laki itu bergeming dalam hening yang panjang. Entah sedang menjalani masa suwung, demi menelusuri ulang jejak terlalui untuk menemukan jalan kembali. Ataukah tak hendak beralih dari lorong-lorong labirin, yang setiap lekuk kelokannya menjanjikan adrenalin nan menggairahkan?

Kau tak hendak bertanya.

***

Keterangan

  1. Monggo pinarak : silahkan duduk
  2. Kaweruh ing panuju : memahami tujuan
  3. Sarimbit : berpasangan, busana bercorak sama yg dipakai suami istri.
  4. Cecek : ragam hias berupa titik-titik pada pola batik.
  5. Gabah sinawur : taburan gabah
  6. Isen-isen : ragam hias yg terletak di dalam latar pola batik
  7. Gumading : kuning gading

Peksi : burung

Kundur : pulang

Cerpen- Biar Ngaco Asal Bisa Wefie

 Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Ditulis dan dituturkan oleh Liston P Siregar

 

Kalau kau belum tau wefie, bergaullah sama anak jaman now.Tapi baiklah, kukasih tau.Wefie itu dari kata we atau kita, bukan self atau sendiri. Jadi wefie adalah narsis rame-rame, dan sering muncul di WA grup: pas waktu reuni, besuk kawan sakit, atau kawinan anak kawan segrup.

Di jaman now, selfie agak ketinggalan karena gampang bikinnya:  cukup pergi sendirian –kasihan kali kesepian tak ada kawan- untuk makan atau minum di restoran, jepret beberapa kali dan jadilah selfie. Orang lain–yang sama kesepiannya- bisajuga masuk restoran, jepret jepret, dan jadi juga selfie.

Tapi wefie bisa bikin orang lain angek, itu bahasa Medan untuk cemburu, karena pesannya, “Oi kami kumpul-kumpul, makan-makan, ketawak-ketawak, tapi kau tak ikut” dan “Kasian kalilah kau ya.”

Dari belasan WA grupku –kalian punya berapa?- ada satu yang super kreatif , yaitu grupEsema Tiga kami dulu. Grup ini tak capek-capeknya mencoba hal-hal baru demi wefie, supaya nampak lebih jago, lebih hebat, dan bisa bikin orang lebih angek lagi.

Wefie di di WA grup lama-lama sebenarnya cuma ngulang-ngulang saja, waktu  reuni pakai baju atau oblong seragam , juga pas kawinan anak kawanatau membesuk kawan sakit, sampai saat kemalangan. Memang sakit dan kematian suami, istri, ayah, ibu, dan anak adalah berita sedih, tapi itulah, demi wefie maka semua bisa diatur.

Coba hitung, berapa kali di WA grupmu ada wefie kawan-kawan, atau kaupun ikut juga, berdiri depan karangan bunga kiriman kawan-kawan segrup, yang nama atau grup pengirim bahkan sampai dua kali lipat lebih besar dibanding nama yang wafat atau keluarga yang kemalangan. Pasti sering!

Wefie memang membawa ‘lawatan kemalangan’ ke tingkat yang berbeda dibanding sebelum meluasnya Samsung, Apple, Huawei dan media sosial serta WA grup. Dan karena perilakuwefie seperti itu sudah jadi biasa, WA grup Esema Tiga kami berupaya melaju ke depan dengan wefie. 

Kek mana caranya?Inilah dia.

Ada kawan yang usul agar membuat usaha kecil makanan karena, katanya, hampir tiap akhir pekan pasti ada bazar di mana-mana.Kawan itu membuat kalkulasi dengan biaya pendaftaran stall, pembelian bahan, estimasi pendapatan, lengkap dengan saran produk yang dijual, berupa jajanan yang tahan lama’.

“Kalau segar, sulit menyiapkan dan dan repot melayani pembeli.Masih ada lagi risiko yang tak laku jadi terbuang,” katanya. Semuanya bersemangat, kecuali aku, dan menanglah suara yang setuju  jadidiputuskan berjualan kastengel, nastar, dan brownies dengan merek Estiga Kool.

Komentarku bernada canda tapi bermakna serius, “Kalian bikin teh saja cuma teriak sama pembantu, mau jualan kue pulak.Manalah jalan.”

Tapi balasannya serba meyakinkan, seperti “Jangan anggap remeh bro, selama ini bukan tak bisa, tapi tak sempat.”Ada pula,”Belajar tak mengenal usia” disusul gambar berlatar hijau muda dengan meme dua tangan berdoa dan tulisan miring berwarna putih, “Tuhan memberkati mereka yang selalu belajar”. Tak kalah banyaknya sticker-sticker dukungan, mulai dari tuyul yang mengangkat telunjuk dan jari tengah,  pria Arab berkafiyeh yang bilang ‘Ane dukung’ sampai mendiang Presiden Suharto dengan: “Saya nyataken semua setuju.”

Maka jadilah ide usaha kecil itu, dan aku tetap tak yakin karena jualan jajanan kue kering di kotak-kotak plastik kecil sudah dijalani belasan ribu orang sejak belasan tahun lalu.Jadi apa pulak yang membuat Estiga Kool bakal dibeli orang.

Dan betul. Foto-foto bazar pertama bermunculan di grup, mulai dari persiapan mengangkat meja, merapikan taplak berwarna semarak, menyusun dagangan dengan rapi, menaruh dua papan nama Estiga Kool, sampai beres-beres penutupan stall. Kawan-kawan yang ikut jualan pakai celemek putih dan beberapa bahkan pakai topi koki masak yang panjang.

Aku tertawa terbahak-bahak besar melihat foto itu, waktu duduk di depan TV bersama istri dengan masing-masing sibuk melihat telepon genggamnya, sampai istriku tertarik mengintip walau tak terlalu paham kenapa aku tertawa padahal anak SD juga tau kalau jualan kue kastengel, nastar, brownies yang sudah ditaruh rapi di kotak-kotak plastik tak perlu celemek putih, apalagi topi koki. 

Cilakanya istriku -yang tak tahu latar belakang seluruh ceritanya- serius memahami perilaku kawan-kawanku, “Tapi kan orang itu juga jualan kopi panas,” katanya yang malah memperpanjang tawaku dan membuat istriku jengkel.Kudiamkan tawaku dan kuamat-amati lagi puluhan foto yang dikirim sepanjang hari itu dengan hanya dua pembeli, yang masing-masing difoto wefie dengan latar belakang delapan penjual bercelemek putih yang cantik dan ganteng yang tersenyum cerah.

Rasa lucu berlanjut -walau tak bisa lagi aku ketawa lepas- karena ada beberapa ucapan selamat di grup -“Ayo bro sis, semua pencapaian besar dimulai dari lagkah kecil” plus gambar Neil Amstrong waktu jalan di bulan dengan kutipan di latar belakangnya, “One small step for a man, one giant leap for a mankind”.Ada komentar dari yang ikut jualan celemek dan topi koki tadi, “Ayo yo, ramaikan, hebohkan.”

Tersenyum-senyum kecil sajalah aku menyaksikan lawakan manusia itu.

Pekan depannya muncul lagi puluhan foto yang sama, dengan celemek putih dan beberapa topi koki panjang, untuk jualan kue kering dan kopi panas, namun kali ini sama sekali tak ada foto pembeli. Walau tak selucu yang pertama, aku masih tersenyum-senyum sambil membayangkan berapa kali pakailah nanti celemek putih dan topi koki putih itu, sebelum diapkirkan karena pembantu orang itu yang masak sampai asap mengepul-ngepul dan kuah yang bercipratan pun tak akan mau pakai celemek. 

Cuma sebulan, atau empat kali jualan, Estiga Kool bubar total, dan tak ada lagi yang membahas.

Eh muncul lagi ide dari kawan lainuntuk mendirikan yayasan sosial -“Saatnya memberi kembali ke masyarakat.” Bijak kali, pikirku, sampai tak berani menyindir karena pastilah dapat cap jahat, egois, individualis, negatif, pesimis, sinis, asosial, tidak manusiawi, dan segala macam yang lainnya kalau sampai berani menyindir ide mulia yang memperhatikan ‘nasib orang-orang yang tidak seberuntung kita’, seperti salah satu pesan kawan yang mendukung gagasan itu.

Aku diam saja dan yakin, “Juga tak akan lama.”

Nama yayasannya dipilih Estiga Kasih dan langsung  pula beredar penjualan oblong berlogo Estiga seharga seratus ribu perak, biarpun kurasa kalau dipatok harga tiga puluh ribu saja sudah ada untungnya. “Sekalian sumbangan awal,”kayak gitulah pesan pengantar jualan oblong itu. Aku tak mau membeli karena tak mau tertipu.

Selain pengumpulan dana lewat penjualan oblong, mengalir deras juga sumbangan dari orang per orang, seperti laporan lengkap sang koordinator dan baru dua minggu berdiri, terkumpul dana lima setengah juta perak. Hebat juga pikirku tapi tetap ragu.

Beberapa hari kemudian album berisi puluhan foto terpajang di WA grup menayangkan kawan-kawan yang dulu juga aktif Estiga Kool dulu, dengan tambahan beberapa kawan yang saleh beragama, yang tiap pagi bangun tidur dan tiap malam mau tidur mengirim kutipan Alkitab atau Alquran di WA grup.

Album wefie Estiga Kasih dimulai dari foto sambutan oleh koordinator di depan kerumunan orang, dan kawan-kawan yang duduk serius bersama para anak yatim piatu, makanan prasmanan yang disiapkan, bingkisan buku tulis dan pulpen, serta foto bersalaman sambil menyerahkan amplop sumbangan kepada pengurus rumah yatim piatu -“Minimal sejuta,” pikirku, “Tambah makanan dan bingkisan ke anak-anak yatim, lewatlah dua juta sekali acara.”

Barulah disusul wefie sebenarnya: kawan-kawan perempuan berkebaya panjang warna mencolok sementara yang pria berbaju batik atau tenun ikat dengan senyum penuh kasih melayani anak-anak yang berbaris rapi antri untuk dapat makanan. Ada yang memegang tangan seorang anak untuk mengantarnya kembali ke mejanya setelah mengambil makanan padahal anak itu tergolong remajasehat walafiat yang bisa jalan sendiri.Juga ada foto memperlihatkan seorang kawan tersenyum ke arah kamera dengan membawa piring makanan dan gelas minum sambil berdampingan berjalan dengan seorang anak yang tampak kagok.

Tapi kurasa puncaknya adalah wefie saat makan dan usai makan. Para kawan-kawan yang hidupnya selalu penuh dengan kasih itu mendekatkan kepala mereka dari sisi kiri dan kanan ke arah seorang anak, sambil mengangkat jempol dan tertawa riang, sementara si anak memandang ke arah kamera tanpa ekspresi karena sibuk mengunyah makanan, yang perlu usaha tambahan karena daging rendang jelas bukan menunya sehari-hari. Adegan lainadalah beberapa wanita dan pria yang anggun dan gagah berdiri di belakang seorang anak dengan telunjuk yang mengarah lembut ke si anak, yang tak melihat ke kamera karena sedang berkonsentarasi memotong ayam goreng dengan garpu dan sendok, karena biasanya makan pakai tangan.

Komentar-komentar di WA tak kalah serunya, “Terimakasih sudah mewakili kasih kami” atau “Anak yatimnya sehat-sehat ya” dan “Yang berikut aku mau ikut melayani” walau ada juga pesan yang sesat, “Dahlia, cantik kali kau” maupun “John, kau beli baju ikat itu di mana, sor awak bah”, termasuk juga “Bangga awak, kalian semua kayak barisan seleb bah.”

Aku diam saja walau terasa agak perih juga di hati karena mereka mengekespolitir anak-anak yang tak punya pilihan sementara anak-anak mereka dengan mudahnya akanmenolak berwefie karena sibuk mengupload fotonya sendiri di instagram atau main game di HP-nya.

Tapi kutahan untuk tidak berkomentar kaeena kuhitungtetap saja terlalu mahal menghabiskan sekitar 2 jutaan untuk satu kali wefie.”Dua kali dan bubarlah.” pikirku.

Menjelang lebaran, kunjungan kedua ke rumah yatim terwujud, dengan modus operandi yang sama: saling sambut pidato, dan makan bersama. Jadi album fotonya tak beda jauhketika dipajang di WA keesokan harinya.

Tapi kali ini, kekesalanku meningkat tajam karena kawan-kawan yang non-Muslim menggunakan busana bergaya Muslim: yang pria pakai baju koko putih berwarna putih atau krim dengan peci hitam yang licin, sementara beberapa kawan perempuan mengenakan selendang halus -aku yakin ada satu dua yang asli sutra- yang dilingkarkan ke bagian kepala seperti kerudung, yang aku yakin cuma untuk bergaya dan bukan dengan semangat solidaritas.

Miris rasanya aku menyaksikan orang-orang yang sandiwara-nya sampai memasuki ranah agama dan memanfaatkan anak-anak yang bernasib tidak sebaik anak-anak mereka.

Jadi kutulis, “Nggak malu kalian ya, mengeksploitir agama dan anak-anak yatim hanya untuk wefie” dan kupencet tanda panah untuk mengirimnya.Entah caci maki apapun yang aku dapat nanti, tak kuperdulikan lagi.

***

 

Cerpen – Ibu Tak Berangkat

Oleh : Sanie B. Kuncoro

Penutur: Liston P Siregar

download

Kau sedang berada di pekarangan rumah Ibu. Sebuah tempat yang paling kau suka setiap kali kembali ke rumah itu. Entah sekadar singgah dari sebuah perjalanan tugas, atau saat kau bawa istri dan anak-anakmu mudik mengunjungi Ibu di kampung halaman.

Sebuah pekarangan yang senantiasa menghadirkan jejak masa kanak-kanakmu. Membelah kenangan menjadi penggalan-penggalan, yang setiap irisannya membawamu kembali menelusuri perjalanan masa silam, yang seakan terperangkap di pekarangan itu. Seakan tak ada yang benar-benar berubah di sana.

Lihatlah, pohon ketapang yang rantingnya bercabang menjalar ke empat arah itu, tetap tegak di sudut barat daya pekarangan. Helai-helai daunnya yang lebar, sebagian berwarna merah saga, adalah daun dengan merah yang sama, yang dulu sesekali menjatuhimu saat kau bermain gundu di keteduhan pohon itu.

Kau tak lagi bermain gundu sekarang, keahlian meluncurkan bola kaca kecil yang menghantam gundu lawan-lawanmu, telah menghilang darimu. Tak lagi luwes jemarimu mengarahkannya serupa peluru. Kini kau kembali berada di keteduhan pohon ketapang itu, sembari menikmati koran pagi dan secangkir teh hangatmu yang mulai mendingin.

Lalu kau dengar sesuatu.

Berapa ongkos naik haji sekarang?” Ibumu bertanya. Ringan nada katanya serupa pertanyaan yang diucapkan sambil lalu. Apalagi karena Ibu melakukannya sembari napeni. Menyingkirkan kulit gabah dan kerikil yang terbawa butiran beras.

Entahlah, barangkali sejumlah…..” kau sebutkan sejumlah angka perkiraan.

Benar sejumlah itu?” Ibumu mendadak antusias, dihentikannya gerak mengayun tampah.

Ibu ingin berangkat?” kau mendadak berdebar dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang membawamu pada suatu kalkulasi, perhitungan dan pertimbangan ini itu.

Tentu saja, siapa yang tidak?”

Ada cahaya samar-samar berkelip pada sirat mata Ibumu. Terlihat jelas olehmu harapan yang tersimpan di dalamnya. Seolah-olah kau melihat bayang keagungan Ka’bah, antara menjauh dan mendekat berganti-ganti. Panggilan doa bergema pada dinding-dinding liang dengarmu.

Kalau bagus hasil panen nanti, agaknya cukup untuk menggenapi saldo tabungan sejumlah ongkos itu. Insya Allah Ibumu ini akan berangkat.”

Ibumu bergumam halus. Kehalusan suara itu lebih mirip angin yang terdesir di antara batang-batang padi yang tumbuh di sebidang sawah warisan mendiang ayahmu. Dari kejauhan desiran itu berasal, namun menghampirimu hingga sedemikian dekat.

Insya Allah, Tuhan meridhoi niat mulia. Amin” ucapmu mengamini.

Desir angin dari kejauhan itu, mendesirkan hatimu, menyadarkanmu bahwa sejauh ini telah kau abaikan sesuatu. Yang satu itu luput dari perhatianmu, terlipat di antara pantauan pada kesehatan dan hal-hal material yang lebih tampak.

Kau simpan desiran itu, rapi terbungkus dalam ingatan, seumpama bekal yang kau bawa saat kau pamit pada Ibumu selepas tengah hari itu. Selembar daun ketapang warna saga melayang sesaat dan rebah di ujung kakimu ketika kau tinggalkan pekarangan rumah Ibu.

*

Kau rebahkan dirimu. Bilah-bilah cahaya matahari yang menembus partisi jendela, menampakkan partikel debu yang menari-nari dalam cahaya itu. Kau hela napas, tanpa hirau partikel lembut itu memasuki liang napasmu.

Ada apa?” istrimu bertanya. Agaknya kepekaannya menangkap sesuatu yang tak biasa pada tarikan napasmu yang berat itu.

Lagi napasmu terhela, sebelum kau jawab pertanyaan istrimu dengan pertanyaan yang berbeda.

Kapan batas waktu pembayaran tanah itu?”

Akhir bulan depan” istrimu menjawab dengan mata bertanya.

Seandainya kita tunda pembelian tanah itu, apakah kau keberatan?” tanyamu menerawang.

Teringat olehmu saat pertama kali menemukan sebidang tanah itu.

Dengan sepeda kau telusuri jalan desa itu, sebuah rute yang tak kau rencanakan. Saat itu kau hanya bosan dengan rute yang biasa kau lalui. Jarak tempuh dan situasi perjalanannya tidak lagi memberikan tantangan karena medan itu telah kau kuasai. Tak lagi terpicu sama sekali andrenalin di dalam dirimu saat menaklukan tanjakan-tanjakannya. Maka pagi itu kau arahkan sepedamu tanpa rancangan sebuah arah. Kau hanya mengayuh seakan membiarkan kemudi sepeda mencari arahnya sendiri. Berbelok acuh saat melalui persimpangan, menambah kecepatan di jalur lurus dan terengah saat melaui tanjakan. Dan kau temukan sebidang tanah di ujung itu atau sesungguhnya kau tersesat? Tanpa pertimbangan kau memilih sebuah jalan kampung, lambat roda sepedamu menggelinding menelusuri jalan tanah yang membelah ladang tembakau. Lalu kau terhenti, tak ada lagi jalan setapak setelah itu.

Baru saja kau memutar balik arah sepedamu ketika seseorang menghampirimu, menyangka bahwa kau tertarik dengan sebidang tanah yang akan dijualnya itu. Maka kau pun terperangkap untuk berbasa-basi.

Namun ternyata tanah berilalang itu mengikat hatimu.

Letaknya di ujung, dengan kontur yang agak menanjak, berseberangan dengan ladang tembakau. Luasnya 200 m, harganya bisa dinegosiasi” kau jelaskan dengan antusias pada istrimu. Antusiasme yang bernada bujukan.

Tabungan kita cukup untuk melunasinya.”

Tapi sesudah itu kita tak punya tabungan lagi” kata istrimu bimbang.

Tentu akan ada rezeki lagi. Bisnis tak berhenti, pastilah rezeki tersedia bagi para pencarinya” katamu sepenuh keyakinan, yang dengan segera menghentikan kebimbangan istrimu.

Tersimpan dalam ingatanmu, semburat yang meronai paras istrimu. Antara takjub dan angan yang melambung saat kalian meninjau tanah itu.

Apakah setuju bila menjadikannya sebagai rumah akhir pekan?” begitu istrimu berkata di antara gelembung-gelembung harapannya. “Kita bagi lahan ini menjadi dua. Seratus meter untuk koleksi tanamanmu, selebihnya untuk ruang baca dan buku-buku?”

Pembagian yang adil. Tentu kau setuju. Dan bertemulah kalian dengan pemilik lahan untuk bernegosiasi.

Dan di sinilah kau sekarang, menawarkan alternatif bagi istrimu untuk membatalkan pengambil-alihan lahan itu, justru setelah negosiasi harga dengan pemiliknya berhasil tersepakati.

Mengapa?” kau dengar lirih suara istrimu.

Kau berpaling, tak hendak menatap mata istrimu. Ah, tepatnya tak sanggup. Karena kau tahu akan mendapati luruhnya angan yang telah melangit. Angan yang kau lambungkan, dan kini kau hempaskan pula.

Ibu ingin naik haji, kupikir itu sebuah keinginan yang layak diprioritaskan” nada katamu hati-hati. Kehati-hatian yang kau lakukan demi supaya tidak mengesankan bahwa kau lebih mengutamakan seorang daripada yang lain apalagi mengesampingkan yang satu dari lainnya.

Kalau demi ibadah itu, tentu aku setuju” seru istrimu.

Dan kau terkejut mendapati tiadanya sirat kekecewaan pada suara itu. Bahkan suara itu lebih serupa seruan yang menyatakan kelegaan.

Ibadah perjalanan menuju rumah Allah tentulah lebih utama dari rumah manapun. Apalagi ibadah seorang Ibu. Rumah akhir pekan kita tentu bisa menunggu.”

Sungguh?” kau bertanya meyakinkan.

Istrimu mengangguk. “Seperti yang kau katakan, bahwa rejeki akan tersedia bagi para pencarinya. Pastilah Allah tak alpa menyediakan rejeki bagi mereka yang ikhlas demi bakti pada ibunya. Bukankah begitu?”

Seketika keharuan itu mendatangimu, menghangatkan hati. Dan kau temukan bahwa angan yang melangit itu tak luruh dari paras istrimu. Gurat wajahnya tetap menampakkan harapan yang terpeta jelas, yang seakan memberimu jalan untuk mencapainya.

*

Pagi menjelang siang saat telepon ini mengejutkanmu.

Ibu tak berangkat” kau dengar Ibumu berkata. Tak begitu bagus sambungan telepon itu, sehingga seakan-akan suara itu terdengar dari kejauhan, nyaris sayup, namun tertangkap olehmu getar yang menyertainya.

Mengapa, Ibu? Apakah terjadi sesuatu?” tak mampu kau tutupi rasa terkejut terpadu khawatir dalam dirimu.

Ada peraturan baru yang tak mengijinkan calon haji perempuan berusia 65 tahun untuk berangkat,” melirih suara Ibu “Akhir tahun lalu usia Ibumu ini sudah menjelang 70.”

Sesuatu menikam hulu jantungmu.

Kau tercekat. Lirih suara itu, kau tahu bukan karena suara itu berasal dari kejauhan sekian ribu kilometer darimu berada, melainkan karena luruhnya harapan yang tersimpan di dalam diri Ibumu.

Lirih suara itu mendekatkanmu pada suatu bayang-bayang, seolah dirimu berdiri di hadapan sebuah dinding berbata merah. Kau aduk pasir dan semen untuk melapisi batu itu. Kau lakukan dengan rapi, polesanmu halus merata hingga dinding itu tertutup sempurna, ujung-ujungnya membentuk siku 90 derajat. Namun tepat saat kau sapukan kayu penghalus sebagai penghalusan akhir, saat itulah curah hujan mengguyur deras. Luruh seketika adonan pasir dan semen yang belum sempat mengeras. Seakan dinding itu mencair, lapisan yang meluruh menampakkan kembali susunan bata yang seharusnya diselimutinya, dan lapisan itu menggenang bersama curah hujan serupa lumpur.

Demikianlah harapan itu luruh. Tidak hanya di dalam diri Ibumu, melainkan di dalam dirimu juga.

Regulasi peraturan haji. Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan untuk tidak menerima calon haji perempuan yang telah berusia 65 tahun. Begitulah ketika negara mengambil alih hak seseorang untuk beribadah dan menjadikan prosesi ibadah sebagai monopoli sebuah negara.

Ibu, maaf….” tak selesai kalimatmu yang terucap dengan bergetar itu. Sedemikian sesak dadamu, terhimpit beban penyesalan yang menghampirimu seketika.

Tidak apa-apa. Kalau belum ada ridho Allah untuk niat ibadah Ibu kali ini, barangkali karena Allah memiliki rencana lain. Ibu ikhlas.”

Kalimat itu menghangatkan hatimu sekaligus meneguhkan keberadaan Ibu yang serupa tiang bagimu. Penyesalan itu membebanimu, dan tiang keikhlasan Ibu menjadi sandaranmu.

Namun tak tercegah ketika ingatan tentang tahun-tahun yang telah berlalu mendatangimu. Tahun-tahun berisi kesempatan-kesempatan yang telah kau lewatkan tanpa usaha yang cukup berarti untuk memberangkatkan Ibu dalam perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah.

Tahun-tahun yang tak akan pernah kembali.

Setengah hati terhela napasmu. Tak tahu hendak ke mana akan kau letakkan kesedihan dan penyesalan yang membebanimu.

Lalu kau ingat film itu.

Pada sebuah film Korea, seorang serdadu menemukan dirinya menjadi bagian dari pemerintah Jepang yang justru sedang menjajah negaranya. Saat menelusuri sejarah masa lalunya, serdadu itu mendapati bahwa di masa lalu dirinya gagal menunaikan tugas negara sehingga bangsanya di masa kini tetap berada dalam kekuasaan penjajah. Dalam penyesalan itu mendadak terjadi keajaiban fenomena alam yang memungkinkan serdadu itu kembali pada sebuah masa silam. Itu adalah masa lalu tepat saat dia melaksanakan tugas negara yang gagal itu. Maka diraihnya kesempatan kedua itu, diperbaikinya kesalahan diri hingga kegagalan itu tak terulang. Akhirnya serdadu itu berhasil menunaikan tugasnya dan negaranya di masa kini adalah negara yang merdeka. Di kemudian masa, anak-anak bangsa itu mengenang serdadu itu sebagai seorang pahlawan yang gugur demi kemerdekaan negaranya. Gambar dirinya terpajang di museum dan kisahnya menjadi tauladan kepahlawanan yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Itu film. Di kehidupan nyata akankah kau temukan terulangnya sebuah peluang untuk menebus kealpaan masa lalu? Akankah kesempatan yang terlewat itu kembali, hingga kau bisa memberangkatkan Ibumu menunaikan perjalanan ibadah mengunjungi rumah Allah sebelum usia 65 tahun?

Pohon ketapang yang tegak berdiri di barat daya pekarangan rumah Ibu, seakan memerangkap seluruh masa silammu. Tahun berlalu sementara, gugur daun merah saganya silih berganti dengan tunas daun baru hingga kini.

Apakah salah satu kesempatan itu juga sekadar terperangkap, dan akan kembali mendatangimu pada suatu ketika nanti? Wallahualam.

 

***

 

>