Rencana Kematian Menjelang Hari Pemilihan Umum

Cerpen Dadang Ari Murtono
Versi cetak Harian Jawa Pos 2019
Narator Luna Kharisma
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Bayang-bayang bergoyang sibuk malam itu, ketika mereka duduk berhadapan dan dipisahkan meja makan penuh piring-piring kotor bertumpuk di atasnya.

“Anak-anak sudah tidur semua?” si lelaki memecahkan hening yang menggenang.

“Aku yakin mereka sudah tidur semua,” jawab si perempuan. Ia menarik nafas panjang seperti mencari harum dan hangat udara yang tak lama lagi tak akan bisa ia rasakan.

“Aku tidak ingin ini terjadi,” ujar si lelaki.

“Tapi aku menginginkannya.”

“Kau harus memikirkan ulang gagasan ini sebelum semua terlambat.”

“Aku telah memikirkannya ulang, berkali-kali, bahkan mungkin ribuan kali. Dan aku selalu sampai pada satu kesimpulan bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan aku tidak akan menyesalinya.”

“Tentu saja kau tak akan menyesalinya. Kau tak akan lagi punya waktu untuk itu. Tapi aku, aku! Siapa yang bisa menjamin bahwa aku tidak akan menghabiskan sisa umurku dalam penyesalan dan kemurungan? Dan siapa yang bisa memastikan bahwa aku tidak akan gila karena itu semua?”

“Kau boleh berduka. Tapi kau tak boleh menyesal. Apalagi menjadi gila. Kau harus mempertimbangkan betapa aku menginginkan ini semua dan bahagia karenanya kalau-kalau kau memutuskan menjadi gila.”

“Menjadi gila bukanlah pilihan yang bisa kuputuskan begitu rupa.”

“Kalau begitu ini juga bukan pilihan yang bisa kau putuskan begitu rupa. Tak ada lagi pilihan untuk meneruskan atau membatalkan. Ini keharusan. Ini satu-satunya jalan. Dengan kata lain yang lebih reljius, ini adalah takdir yang tak bisa kita elakkan. Eh, kau mau bir?”

“Sepuluh botol bir pun tidak akan membantu,” si lelaki meloloskan sebatang rokok putih, menyalakannya, mengisap asapnya dalam-dalam sebelum kemudian menciptakan lingkaran-lingkaran putih yang segera terbang ke atas dan lenyap dihembus udara bergerak dari kipas angin di langit-langit ruang makan itu. Beranda terlihat begitu singun. Dan cahaya lampu masih saja setia menciptakan bayang-bayang sepasang kursi di lantai beranda yang berkilat.

“Mungkin kau perlu dua butir calmlet untuk menemani birnya. Itu tidak pernah gagal membuat kita tenang, bukan?”

“Tapi aku tidak yakin itu akan berhasil dalam keadaan seperti sekarang ini.”

“Sudahlah. Kau tak perlu terlalu memikirkannya.”

“Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya?”

“Sudah kubilang perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan keluargaku adalah orang-orang yang terbiasa berkorban untuk itu. Aku yakin kau belum melupakan kakakku.”

“Tentu saja. Tapi ini persoalan yang berbeda.”

“Berbeda bagaimana? Dia juga berjuang, ingat itu. Dia berangkat ke Jakarta pada hari Senin setelah korespondensi panjang dengan teman-teman pergerakannya. Teman-temannya bersumpah ia terlihat berkeliaran di Jalan Diponegoro pada hari Sabtu kelabu itu. Lalu ia menghilang. Belum genap seminggu ia berada di Jakarta dan ia menghilang. Banyak yang yakin ia tewas dan mayatnya dibuang entah ke  mana oleh pihak-pihak yang kita tahu siapa. Lihatlah. Bahkan sebagai statistik pun ia tidak tercatat. Komnas HAM menyatakan lima orang meninggal dan 149 orang terluka, termasuk aparat. Tapi ia tidak termasuk di antara itu semua. Dan kau tahu apa yang dikatakan bapakku waktu itu?”

“Aku tahu,” si lelaki mematikan rokok yang masih panjang dan memegang keningnya. Jari telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk kening berkilat tersebut. “Perjuangan memerlukan pengorbanan. Dan tidak semua pengorbanan harus tercatat. Persis seperti ribuan orang lain yang  mati pada masa penjajahan kolonial atau perang kemerdekaan.”

“Bagus kalau kau masih ingat,” jawab si perempuan. Ia bangkit lalu berjalan menuju kulkas tidak jauh dari tempat duduknya. “Dan kalau seandainya bapakku masih hidup, ia akan mendukung apa yang aku lakukan. Ia akan memelukku penuh keharuan. Ingat, ia terharu. Bukan bersedih,” lanjut si perempuan. Ia membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol bir. “Kau mau juga?” tanyanya sambil menoleh ke si lelaki.

“Tidak. Aku tidak ingin bir atau calmlet. Sudah kubilang aku tidak mau. Satu-satunya yang kuinginkan adalah kau membatalkan rencana tolol ini.”

“Ini bukan rencana tolol. Kau tahu itu. Kita telah membicarakannya. Bukan hanya kita, melainkan juga tim sukses kita. Ini adalah kesepakatan. Ini adalah bagian dari demokrasi. Dan kau tidak bisa membatalkan begitu saja keputusan yang dihasilkan dari diskusi yang mengusung semangat demokrasi seperti ini begitu saja. Kukira, kita tidak perlu lagi membicarakan ini semua atau tim sukses kita akan mengenang kita sebagai bagian dari orang-orang yang mengkhianati demokrasi, mengingkari hasil musyawarah mufakat.”

“Seandainya kita punya cukup banyak uang.”

“Oh, jangan mulai berdebat tentang apa yang sudah kita diskusikan dan simpulkan sebelumnya. Kebiasaanmu ini benar-benar menyebalkanku.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Kita tidak hidup di masa lalu. Sekarang, media sosial menguasai kehidupan kita, dan karenanya arus informasi mengalir tanpa bisa kita bendung. Orang-orang sudah cukup cerdas untuk menerima uang kita namun memilih calon lain di hari pemilihan. Alih-alih menjadi strategi pemenangan yang jitu, taktik seperti itu bisa menjadi bumerang bagi kita. Bisa saja mereka merekam itu dan mengunggahnya ke media sosial. Dan ujung-ujungnya, bukan hanya perjuangan kita yang gagal, namun kita juga mesti berhadapan dengan hukum.”

“Mungkin apa yang kau katakan memang benar.”

“Itu memang benar. Bukan ‘mungkin benar’. Yang kita butuhkan sekarang adalah drama. Ingat itu. Drama.”

“Kukira kita bisa memperbaiki materi kampanye kita. Kita bisa merumuskan kembali program-program yang akan kita jalankan kalau kita memenangkan satu  kursi di pemilu legislatif.”

“Oh, kenapa kau kembali membicararakan itu? Program-program dan janji-janji itu klise belaka. Hanya pemantas dan pemanis agar kampanye tetap tampak seperti kampanye. Apa yang akan kau perbaiki? Semua kandidat sesungguhnya memiliki program yang sama. Pendidikan dan layanan kesehatan gratis, pembukaan lapangan kerja, pengoptimalan kinerja pemerintah, pemberantasan korupsi, peningkatan keamanan, dan hal-hal semacam itu. Jika ada yang berbeda, maka itu hanyalah redaksional kalimatnya belaka. Intinya sama. Dan para pemilih tidak lagi peduli pada itu semua. Yang diinginkan orang-orang adalah drama. Dan drama itulah satu-satunya bahan kampanye yang bisa kita perbaiki. Semakin kita menempatkan diri sebagai pihak yang teraniaya, semakin orang bersimpati kepada kita. Dan bila mereka sudah bersimpati, maka mereka akan memilih kita. Sesimpel itu. Masa orang seperti kau tidak bisa mengerti hal sesederhana ini sih?”

Si lelaki kembali menyalakan sebatang rokok. Si perempuan meneguk bir langsung dari mulut botol dengan sebuah tegukan besar. Ia bersendawa sebelum menaruh botol itu di atas meja makan.

“Apakah kau tidak merasa takut?” si lelaki bertanya setelah menitikkan latu ke asbak di depannya.

“Tidak. Karena aku tahu kau akan menjadi anggota dewan. Dan kau akan menjadi anggota dewan yang baik. Dan itu bagaimana pun adalah langkah awal. Kelak, siapa tahu kau bisa menjadi kepala daerah atau bahkan presiden.”

“Aku menyesali keputusan yang kubuat dulu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku menyesal mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Kupikir, berjuang tidak harus dilakukan dengan cara itu.”

“Memang tidak. Tapi ini adalah cara paling efektif untuk membangun negeri tercinta kita, tanah air kita. Terlalu banyak orang busuk di lembaga terhormat itu dan hanya kau yang bisa memperbaikinya. Kau tahu sendiri kan berapa dari mereka yang terkena operasi tangkap tangan KPK? Yang tidak hadir sidang? Bahkan yang menonton video porno waktu sidang? Ini sudah benar-benar konyol. Belum lagi komentar-komentar mereka di media sosial yang benar-benar tidak masuk akal dan malah memecah belah serta merusak bangsa ini ketimbang menyatukan dan membangunnya. Kau, sayangku, kau yang harus memperbaiki itu semua. Dan untuk itu, kukatakan sekali lagi kepadamu, aku rela berkorban. Ini langkah besar untuk kita.”

“Aku tidak akan bisa memperbaiki apa-apa kalau polisi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan hakim menjebloskanku ke dalam penjara.”

“Karena itulah hal pertama yang harus kau lakukan setelah mereka melantikmu menjadi anggota dewan adalah menyumpal mulut para penegak hukum itu. Bila kau tak mendekati mereka dan menawarkan sesuatu yang tidak mungkin mereka tolak, mereka akan menyerangmu.”

“Menyuap mereka?”

“Oh, istilah itu terlalu kasar. Tapi tak apalah. Masyarakat mungkin tidak bisa kau suap untuk memilihmu, tapi para penegak hukum itu, tidak diragukan lagi, akan bungkam dengan sejumlah uang atau proyek, atau hal-hal semacamnya di tangan mereka.”

“Itu kalau aku menang.”

“Kau akan menang. Itu pasti. Besok, mereka akan menemukanku telungkup di selokan dengan dada berlubang dan sebuah peluru bersarang di dalamnya. Kau akan mengatakan bahwa aku sedang dalam perjalanan untuk menyantuni anak yatim piatu ketika entah siapa mencelakaiku dan kau akan bersedih. Kau tak perlu mengatakan apa-apa selain betapa kau mencintaiku dan betapa aku menaruh perhatian besar pada anak-anak, khususnya anak yatim piatu. Masyarakat akan tersentuh dengan itu semua. Dan tim sukses kita, seperti yang telah kita rencanakan, akan mengembuskan kabar melalui akun-akun bodong di media sosial bahwa lawan-lawan politikmu dalam perebutan kursi legislatif di daerah pemilihan inilah yang mencelakaiku. Masyarakat gampang percaya dan terprovokasi dengan berita-berita semacam itu. Percayalah. Drama yang luar biasa menarik akan terjadi. Dan bila setelah itu kau hanya ongkang-ongkang kaki, percayalah, kau akan tetap melenggang ke Senayan.”

“Aku tak tahu apakah aku akan sanggup melakukan itu semua. Anak-anak juga.”

“Kau akan sanggup melakukannya. Aku yakin itu. Dan kelak, anak-anak akan menceritakan kisahku dengan penuh kebanggaan. Mereka tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya akan tahu bahwa ibunya meninggal akibat kejahatan lawan-lawan politik bapaknya. Ibunya seorang patriot. Ibunya seorang pahlawan. Ibunya seorang legenda. Kau tahu, aku selalu ingin menjadi pahlawan dan legenda. Bukankah itu luar biasa?”

“Aku ingin memikirkan ulang ini semua.”

“Tidak. Jangan mulai lagi seperti itu. Sudah malam. Aku mengantuk. Besok adalah hari besar, ada hal maha penting yang harus aku lakukan,” si perempuan bangkit dari tempat duduknya, ia menenggak sisa bir dalam botol. Lalu dengan mantap berjalan menuju kamar tidurnya. Sesampainya di pintu kamar, ia menoleh ke si lelaki yang tengah mematikan puntung rokok di asbak. “Aku ingin bercinta denganmu untuk terakhir kalinya,” katanya. Suaranya begitu tenang. Dan ia tersenyum.

Catatan: kalimat Bayang-bayang bergoyang sibuk diambil dari puisi Goenawan Mohamad berjudul Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum.

Cerkak – Kecidhuk

DOWNLOAD

Cerkak Indah Darmastuti

Kamomot ing Solopos, Jagad Sastra Kemis Wage 28 Agustus 2014

Kawaca dening: Luna Kharisma

 

Esuk iku, kaya adat sabene aku menyang pasar mbonceng Mas Pandi, saperlu adol endhog pitik kanggo nyambung urip. Tuku beras, gula, teh sing wus meh entek. Uga katul lan sega aking kanggo pakan pitik ingon-ingonku sing cacahe luwih saka 30.

Iya pitik-pitik iku kang dadi sakaguru urip sak bubare Mas Pandi kena pemutusan hubungan kerja utawa PHK saka pabrik kaos. Dhuwit pesangon kang ora sepira kuwi dak tukokake pitik.

Pitik sing sekawit mung sejodho tak rumat nganti ngrembaka lan saiki kena dicakake kanggo nambal butuh. Kala-kala, aku nggoreng endhog menawa lagi ora duwe lawuh, uga mbeleh pitik menawa lagi ana perlu.

Anggonku ngingu pitik kuwi jan jane uga rekasa. Aku tau ngalami sedina kepaten pitik pitu. Jian tobat tenan. Mulane sakdurunge pitik mati, kudu dibeleh dhisik. Nganti saben dina lawuh pitik goreng, semur pitik utawa pitik bumbu kecap. Umpama konangan pamerentah, pitik-pitikku mesthi dikukut kabeh banjur diobong urip-uripan. Dipidhana kanthi jalaran katutuh dosa nyebarake flu burung. Umpama ngono tenan, apa bakal aku diwenehi modhal kanggo miwiti ngingu pitik maneh?

  Begjane Mas Pandi tanggap. Sadurunge pitik ingon-ingonku mati kabeh, sing iseh waras lan seger banjur didol. Murah rapapa sing penting ngasilake dhuwit. Yen wus tekan kahanan ngono kuwi, aku kudu bribik-bribik maneh. Nylametake pitik-pitik sing blas ra kambon lelara dingkelen. Lan saiki, pitikku wus ngrembaka maneh. Kena nggo tambal butuh. Mas Pandi uga wiwit nyerateni maneh kanthi gemati. Ora nggresula maneh menawa aku njaluk tulung dheweke tuku pakan kaya ing Minggu esuk iki.

  Wis kepara suwe anggonku bebrayan karo Mas Pandi. Sak durunge ningkah, aku yang-yangan sawetara wektu banjur pepacangan nganti tuking dina aku nyaguhi nalika dheweke nglamar aku, telung taun kepungkur. Sing tak ngerteni, Mas Pandi ora seneng ndem-ndeman, ora seneng gaple. Ora senang main kertu remi, ceki, utawa balakndol. Nanging, dheweke seneng nonton adu jago. Seneng melu ngregengake menawa kanca-kancane padha tatohan nganggo dhuwit. Dheweke ora melu totohan amarga pancen ora duwe dhuwit.

Tau mbiyen kae aku ngamuk, amarga jagoku sing arane Senthun, digelandang karo Mas Pandi, banjur dibanyoni lan digawa ning prapatan saperlu diadu. Bareng ngerti mangkono, aku banjur cincing nututi menyang prapatan ngepasi Senthun diadu, digabrus-gabrus mungsuhe. Keranjingan! Aku muntab. Ora nunggu suwe aku langsung nrabas, nyekel Senthun. Dak kempit dak gawa mulih karo ndremimil. Senthun isih menggeh-menggeh, awake ndredheg ana ing kempitanku.

 

“Ha thik penak, ora ngopeni. Ora ngrumat kok arep ngembat. Karo maneh apa ora mesakne jago iki, salah apa kudu dikon padudon karo sapepadhane.” Muringku ra ketulungan.

Tekan ngomah, Senthun tak dusi, tak pakani katul lan tak lela-lela. Swiwi lan cenggere sing getihen tak wenehi tentir, banjur tak kurungi ing wetan omah. Tak sawang-sawang terus, Senthun nyekukruk sajake depresi. Aku ngira dheweke kaget, ora tau-taune kerengan ning gelanggang kok ngerti-ngerti diedepake tanpa antan-antan. 

Nalika Mas Pandi mulih, dheweke tak genah-genahake. Tak ujar-ujari. Rumangsane jago kuwi seneng po yen digabrus-gabrus nganti godres getih? Apa seneng menawa gulune ketunjeb jalune mungsuhe? Tak omongi kaya mengkono, dheweke mung meneng wae. Muter-muter tombol gelombang radio, nggoleki siaran kethoprak.

  Sawuse iku, dheweke kapok. Malah dadi nggatekake pitik-pitik ingon-ingonku. Menawa esuk, nalika dheweke tangi turu mesthi banjur ngresiki kandhang lan nyepaki pakan. Ing wayah sore, ngandhangake pitik-pitik mau, ngitung cacahe lan melu ngupakara menawa ana pitik sing lereg-lereg katerak penyakit dingkelen.

  Nganti tiba titi wancine, dheweke nyekseni pitik-pitik mau kena dijagakake kanggo tambal butuh. Nalika dheweke masuk angin, mutah-mutah terus. Kudu tuku obat kamangka ora duwe dhuwit. Aku banjur nyekel babon siji, tak gawa menyang pasar. Dhuwit pepayonne kuwi banjur tak anggo tuku obat. Turah Rp 9000, tak anggo tuku timlo supaya Mas Pandi antuk seger-segeran. Dheweke ngrumangsani menawa babon kuwi sing nebus kesarasane. Mulane dheweke sansaya sregep ngopeni pitik-pitik ingon-ingonku lan ora tau maneh ndongkrok ning prapatan nonton adu jago.

  “Mas,” clulukku saka boncengan pit onthel sing digenjot dheweke alon-alon.

  “Ngapa?” wangsulane dheweke karo mengo nengen sithik.

  “Iki mengko rada akeh sing kudu dituku, mengko aku mulih mlaku wae. Sampeyan mboncengake sekarung beras, katul lan sega aking.”

  “Hla apa becike mengko tak unjal wae? Aku ngulehake katul banjur mapag awakmu?”

  “Ngono ya kena. Mengko tak tunggu ning tokone Nyah Pojok ya?”

  Enggok-enggoan wus kliwat. Mas Pandi tumuli ngerem pit onthel pener ning ngarep warung sing adate nampani endhog pitikku. Mas Pandi banjur bablas ngetan.

  Apa sing tak perlokake wus entuk kabeh, aku banjur mlaku menyang toko Nyah Pojok kaya kangsenanku karo Mas Pandi mau. Mas Pandi lagi bar nyelehake sakkarung beras sing dituku saka Nyah Pojok. Ngerti tekaku, dheweke banjur ngomong, “tutugna dhisik. Aku arep tuku katul lan sega aking. Mengko aku mrene maneh.” Aku manthuk. Mas Pandi banjur njupuk pit, mancal pedhal arah ngalor. Aku banjur itungan-itungan karo Nyah Pojok. Ngalap nyaur utang. Mbayar utang sasi kepungkur, lan utang maneh kanggo kebutuhan sasi iki. Ya mung merga pitik-pitik mau sansaya suwe, utangku selot suda.

  Durung suwe anggonku itung-itungan karo Nyah Pojok, dumadakan ning sisih lor ana gegeran. Akeh uwong padha mlayu-mlayu saprelu mangerteni kedadeyane. Aku lan wong-wong sing ngantri tuku ning Nyah Pojok melu-melu. Akeh wong bengok-bengok. Mrentah-mrentah. Malah kepara banter ana sing nglawan.

  “Kula mboten… kula mboten..” mangkono celathune sawijining wong sing dak krungu.

  “Ora usah kakehan rame! Munggah! Munggah!”

  “Kae.. kae.. ana sing mlayu menyang njaratan. ayo dioyak! dioyak ndang cepet!!” banjur swara-swara gedebugan padha akehe karo swara wong bengok-bengok.

  “Adhuh biyung… sakit, Pak!” swara iku banter banget.

 Aku mlayu nyedhak. Miyak-miyak wong kang kemruyuk rapet ing papan kuwi. Aku jinjit-jinjit supaya ngerteni apa sing lagi kedadeyan.

  “Ana apa ta iki?” pitakonku marang wong wadon kang nggendong tenggok.

  “Cidhukan, mbak. Kae mau garukan sing padha main gaple ning njaratan.”

  “O… walah.. akeh sing kecidhuk?” pitakonku maneh.

  “Iya, akeh. Ning uga akeh sing padha mlayu nylametake awake dhewe-dhewe. Malah kepara ana sing nyemplung kali barang.”

  “Hla ya esuk-esuk kok main gaple! Ben kapok!” swarane wong wadon sing nyandhang dhaster abang. “Ben! Kapokmu kapan!” unine maneh. Sajake pancen getem-getem tenan dheweke karo pawongan sing seneng gaple. Aku mung meneng bae, banjur jinjit-jinjit maneh.

  “Hlohh…. hLoh… kae.. kae…” aku nrabas. Miyak bokong-bokong lan gegere uwong. Nyrudhul nganti tekan ngarep dhewe.

  “Mas…. Mas… Mas Pandi!” bengokku saingan karo bengokan liya-liyane. Tanganku ngawe-awe. Sajake Mas Pandi krungu bengokanku, banjur dheweke clilengan nggoleki.

  “Massssss….” pambengokku sepisan maneh, banter lan dawa.

Mas Pandi nemu mripatku. Dheweke uga ngawe-awe. Nanging karo ngguyu. Malah kepara nyekakak. Asem! Apa karepe?

Dheweke banjur dijorok-jorokake karo wong-wong sing nganggo sragam ijo, supaya endang munggah ning bak trek. Akeh tenan sing wus ning ndhuwur trek. Aku mlayu nututi pingin ngerti sebab musababe. Apa Mas Pandi main gaple? Aku kok ra percaya amarga dheweke ora seneng lan ora bisa. Utawa mung melu toh-tohan thok?  Mosok iya? Wong wektune ora kacek suwe karo anggone ninggalake aku ning tokone Nyah Pojok.

  Pas aku mlayu lan wus cedhak, aku disingkrihake dening petugas sragam ijo mau. Banjur bak trek langsung ditutup. Mas Pandi nyedhak ana tutup kap trek.

  “Bali… ndang balio, Nis! Aku ora apa-apa. Precaya wae!” pambengoke Mas Pandi mbarengi trek mlaku ninggalake krukyukan wong-wong ing protelon gedhe iki. Atiku remuk sanalika. Nanging ora ana wektu kanggo nangis. Aku precaya menawa Mas Pandi mung korban salah cidhuk.

  Aku banjur mlayu bali njujug menyang warung katul sing ora adoh saka papan kuwi. Pit kebo dhuweke Mas Pandi ngglethek semende wit krambil sajak nelangsa, ana ngarepe warung katul. aku nyelakake mampir ning Mbah Nem sing dodol katul.

  “Mbah… kuwi mau piye kok bojoku iso katut? Wong kuwi mau arep mrene tuku katul lan sega aking. Apa dheweke melu main?”

  “Ora. Wong mau bojomu lagi wae nyelehake pit, arep mlaku mrene kok ngerti-ngerti ana garukan. Hla bojomu nyedhak sajake mung pingin ngerti, eh, malah kecidhuk sisan. Aku mbengok-mbengok. “Niku sanes.. niku sanes” ning ora digagas. Malah bojomu mung ngguyu  kaya bocah ra genep, banjur manut wae nalika digelandang pawongan sragam ijo.”

  “Ora genah! Yowes, Mbah… Nuwun ya. ” aku banjur njupuk pit kebo kuwi, nyengklak nggenjot mulih kepara ngebut. Bingung, gembledheg, lan mikir becike kudu piye. Nganti lali urusan karo Nyah Pojok. Wis, tutugne mengko wae. Iki ngurus bojo sing kecidhuk dhisik. Mangkono tetege atiku.

  Tekan ngomah aku nggoleki Mardi, ponakanku sing isih sinau ana STM. Aku kandha saprelune, banjur rembugan karo dheweke piye penake, lan apa sing kudu ndang ditindakake. Dheweke pancen pinter lan tanggap. Prigel lan cakcek. Aku dijak menyang nggone Pak Sukra, warga kang kelebu mudeng bab-bab wigati sing ana gandeng cenenge kepulisen. Pak Sukra banjur nuduhake dalan lan cara supaya aku lan Mardi teka ning kapulisen.

  Diboncengake Mardi aku menyang kantor pulisi. Jantungku isih ser-seran. Sikilku isih ndredeg. Aku wedi menawa Mas Mardi bakal dipilara ing kana. Kamangka dheweke mung dadi korban. Tekan kanor pulisi, aku lan Mardi nunggu sedela banjur diceluk supaya ngadhep. Aku lapur kanthi ati-ati. Rinci lan nyaguhi menawa pulisi butuh bukti lan seksi. Lapuranku digarap. Banjur aku dikon nunggu ana ing panggonan kan adem, sepi nanging ora pati jembar.

  Kepara suwe aku lan Mardi nunggu, banjur ana petugas mlebu ngiring Mas Pandi. Aku lan Mardi ngadheg meh barengan.

  “Semah sampeyan saged wangsul samenika, Bu.” Ngono kandhane pulisi kuwi.

  “Matur sembah nuwun, Pak.” wangsulanku.

  “Nyuwun pangapunten, menawi petugas punika lepat ingkang nyidhuk.” Aku manthuk, banjur enggal-enggal njaluk pamit.

  Aku lan Mas Pandi numpak becak, Mardi ngonthel ing mburine. Ning ndalan, ing sakroning becak aku takon karo Mas Pandi, piye mula bukane kok nganti isa kecidhuk.

  “Jane aku mau bisa wangsulan menawa aku dudu perangan sing main gaple. Aku bisa gage mlebu menyang warunge Mbah Nem. Ning aku malah nyedhak, wektu petugas nyekel pundhakku, aku manut wae. Aku ki kepingin ngerti piye para petugas kuwi ngupakara tukang botoh. Aku precaya menawa ning kantor pulisi aku bisa mbela awakku. Dadi rikala aku munggah trek lan awakmu ngawe-awe, mulane aku meling gek ndang bali wae, tenangno pikirmu.”

  “Asem! Dadi ngono critane? Tega temen awakmu! Ra ngrasakne aku bingung, nggregeli, mulih gembrobyos ngepit ngebut. Mardi lan aku repot-repot ngurus lan njaluk tulung tangga. Urusan utang tak tinggal semprung, katul kapiran. Jebul awalmu mung nyoba-nyoba ngrasakne piye dicidhuk. Semprul tenan. Ngertiya ngono aku ra gagas. Tak tinggal mulih banjur makani pitik. Dicidhuk karepmu ora karepmu!”

  “Ha ha ha.. mbok aja kaya ngono ta cah ayu…” Celathune Mas Pandi karo ngrangkul pundhakku. Aku mrengut, nanging Mas Pandi ora mandheg anggone ngerayu. Jare aku bojo sing gemati, sing iso dindelake. Aku mlengos karo mencep. Nanging sejatine atiku bungah ora karu-karuwan. Banjur Mas Pandi alon-alon nyelehake tangane ana wetengku.

  “Muga-muga anakku ora mbeling kaya bapake.” Kandhaku ning cedhak kupinge Mas Pandi. Dheweke mung mesem.

Wektu kuwi uga, aku ngerti sejatine atiku sansaya kesengsem. []      

 

Cerpen – Tegak Dunia

 

DOWNLOAD

Cerpen Karya Iksaka Banu

Versi Cetak: Koran Tempo 2017
Narator: Luna Kharisma

 

Setelah mendaki beberapa anak tangga curam, tibalah ia di bagian atas kubu. Sebuah bangsal luas, dengan enam buah jendela yang terbuka lebar. Rambut cokelatnya langsung berkibar diterpa angin laut yang menerobos melalui jendela-jendela itu. Ia menghampiri pintu utama, dan berdiri terpaku di sana. Bau laut yang belum begitu akrab bagi hidungnya kembali menyerbu. Tetapi aroma amis bercampur pesing itu tak sanggup mengalihkan rasa takjubnya melihat pemandangan yang terhampar di depan mata: sebuah lapangan luas berbentuk segi tiga, dikelilingi tembok setinggi kira-kira dua meter. Di balik tembok itu, ia bisa memilih obyek pemandangan. Sebelah kiri, sebatang sungai lurus lebar. Sementara jauh di utara, lautan luas dengan deretan kapal layar yang tampak seperti miniatur hiasan dalam botol.

Sekujur tembok memiliki lekukan yang diisi meriam. Ia menghitung. Bila setiap kubu memiliki enam meriam, maka keseluruhan meriam di keempat kubu Benteng Batavia itu berjumlah 22 pucuk. Cukup ampuh menahan serbuan darat maupun laut. Belum lagi meriam kecil di sekeliling tembok kota.

“Keempat kubu benteng ini diberi nama batu mulia. Parel, Robyn, Diamant, dan Safier. Kita berada di atas Kubu Parel. Mari mendekat ke tepi tembok meriam itu, Nak,” sebuah suara serak membuatnya menoleh ke kanan. “Engkau akan melihat, sebenarnya kita perlu semacam menara pengawas di seberang Kali Besar sana, di belakang Gerbang Pinang, dekat Kubu Culemborg. Kelak kau bisa membantuku mendesak Kepala Syahbandar mengajukan hal itu sekali lagi kepada Gubernur Jenderal.”

Sambil mengayun kaki, Jan van de Vlek, pemuda berambut cokelat itu, mencuri tatap wajah lelaki tua bermata satu yang mengajaknya bicara, dan mulai merasakan nuansa ancaman walau dalam bentuk samar. Tetapi ia tahu, Kapten Zwarte van de Vlek, pamannya ini, bukan sembarang orang. Sejak memasuki gerbang benteng tadi banyak petinggi schutterij menyapanya dengan hormat. Kalau para milisia terpandang saja segan kepada pamannya, apalah arti dirinya? Bocah berusia dua belas tahun yang selama ini menghabiskan waktu di panti asuhan. Sangat bijak kiranya memasrahkan nasib sepenuhnya kepada sang paman, walau terus terang ia merasa tak nyaman berdekatan dengan makhluk buas yang senantiasa menguarkan aroma alkohol dari mulutnya ini.

“Mengapa kita perlu menara pengawas, Paman?” tanya Jan sembari dalam hati berusaha menebak, seperti apa bola mata Kapten tanpa sungkup penutup mata itu.

“Penting sekali.” Telunjuk Kapten Van de Vlek teracung ke depan. “Agar kita waspada, dan segera menutup Gerbang Pinang di atas Kali Besar itu bila dari jauh terlihat kapal asing yang ingin menerobos masuk kota. Selain itu, menara juga bisa dipakai para nakhoda menentukan garis bujur.”

Jan melongok arah yang ditunjukkan pamannya, lalu manggut-manggut.

“Engkau harus mulai belajar soal kapal dan pelayaran, Nak,” ujar Kapten Van de Vlek. “Sesuai surat wasiat ayahmu, aku harus mendidikmu menjadi pelaut. Akhir tahun ini kau harus pergi dari rumah yatim-piatu itu. Tinggal bersamaku di rumah milik almarhum orang tuamu di Malleabaer Gracht. Bila aku berlayar, kau mesti ikut. Nanti kuminta pemilik panti asuhan agar memberimu keleluasaan bertemu denganku lebih banyak lagi.”

Jan tidak memberi jawaban. Sinar matanya memancarkan keraguan.

“Hei, tak suka menjadi pelaut?” Kapten Van de Vlek mendorong pundak Jan. ‘Jangan bikin malu. Ayahmu nakhoda hebat. Kakekmu juru mudi kapal Hollandia, kepercayaan Cornelis de Houtman.”

“Aku tahu. Aku pun mulai menyukai laut,” Jan menghela nafas, lalu melanjutkan bicara dengan suara lebih rendah. “Namun menurut Tuan Van Geloofig, hidup sebagai pelaut menjauhkan diri kita dari surga. Mungkin aku akan memilih magang sebagai Asisten Syahbandar saja.”

“Jauh dari surga? Tentu saja!” Kapten Van de Vlek mendadak terpingkal-pingkal. “Kami gemar mabuk, dan selalu mampir ke rumah pelacuran di setiap pelabuhan. Tidak pernah berdoa, kecuali saat kapal diserang badai. Itu pun sesungguhnya bercampur sumpah serapah. Jadi, siapa tadi nama gurumu yang suci itu?”

“Marius van Geloofig,” jawab Jan. “Pendeta dan guru agama kami di panti asuhan.”

Kapten Van de Vlek berhenti tertawa. “Mana ada pendeta di sekitar sini?” semburnya. “Pendeta resmi VOC adalah Tuan Johannes Stertemius, dan ia tidak mengajar di tempatmu. Orang ini pasti hanya ziekentrooster*). Banyak lagak! Betul, kami jauh dari surga. Tetapi tanpa kami, para penjelajah samudra ini, mana mungkin Eropa bisa mengenyam kesejahteraan?”

“Justru Tuan Van Geloofig bicara soal penjelajahan samudra itu, Paman,” sahut Jan. “Di situlah letak dosa yang lebih besar dibandingkan mabuk atau main perempuan. Menurut beliau, para pelaut mengabaikan firman Tuhan. Menyebar kepalsuan. Mereka berlayar seturut garis pantai. Bukan memutar separuh dunia.”

“Beraninya ia berkata demikan!” Kapten Van de Vlek menarik botol arak dari saku jas, meneguk sedikit isinya. “Kau kira semua pelaut berbohong? Apakah kau tidak belajar ilmu bumi? Kami sungguh-sungguh melintasi samudra. Itu sebabnya kuminta kau menjadi pelaut. Kau akan lihat sendiri.”

“Bukan berbohong. Tetapi para pelaut tak sadar, mereka hanya menyusur pantai. Kata Tuan Van Geloofig, kalau benar lurus menyeberangi lautan luas, kapal akan ditelan ujung samudera. Jatuh ke jurang tanpa dasar. Bagaimana pula manusia bisa menjelaskan air laut bisa tetap berada di tempatnya bila permukaan bumi bulat? Bumi bulat adalah bid’ah terbesar yang dilakukan orang Kristen kepada kaumnya sendiri,” kata Jan. “Begitulah yang diajarkan di panti asuhan.”

“Yang kita butuhkan adalah astrolabe, peta, kuadran, dan kompas, Nak. Dan alat-alat itu hanya berfungsi sempurna bila bumi ini bulat. Bukan datar. Gurumu tak paham navigasi. Aku yakin ia lahir di sini. Belum pernah melintas samudera ke Eropa,” Kapten Van de Vlek menggeleng. “Yang mengerikan dari kaum puritan adalah omong kosong semacam ini. Bumi itu bulat, berputar cepat pada sumbunya, sehingga air laut tidak tumpah.”

Jan terdiam.

“Sejak orang-orang macam gurumu dekat dengan pemerintah, semua berubah memuakkan,” sambung Kapten Van de Vlek . “Tak ada lagi pakaian warna-warni yang membuat mata segar. Sekarang semua serba hitam-putih. Topi hitam, kerudung putih, gaun hitam, karena manusia harus hidup sederhana seturut kesederhanaan Sang Penebus, begitu kata mereka. Seluruh bagian tubuh pun tertutup rapat. Lalu mereka menebar ancaman neraka bagi pelanggarnya. Di lain waktu, berjenis larangan itu justru dijadikan alat fitnah. Seseorang bisa memancing musuh yang dibencinya agar menemui seorang wanita di suatu tempat, lalu disergap beramai-ramai atas tuduhan zina. Betapa sering aku mendengar kasus seperti itu. Dan kini mereka ingin mengatur bidang yang bukan jatah keahlian mereka? Sudah waktunya pemerintah mendatangkan lebih banyak lagi pendeta berkualitas dari Eropa.”

“Aku hanya menyampaikan yang diajarkan selama ini kepada kami, Paman,” kata Jan.

“Ya, tapi jangan ikut menjadi tolol!” bentak Kapten. “Lihat kapal di sana. Semula hanya tampak ujung layar, kini seluruh bentuk kapalnya muncul. Kau tahu artinya? Bola, Jan! Bumi seperti bola! Kapal merambat ke atas mengikuti lengkungnya. Dan air laut tidak tumpah. Mengerti, Jan?”

“Ya, Paman,” jawab Jan tanpa gairah.

Donkere luchten!” Kapten Van de Vlek memaki sembari membanting kaki. “Lihat wajahmu. Kau benar-benar sudah keracunan pikiran abad kegelapan. Pulang sajalah. Minggu depan kita lihat apa yang bisa kau pelajari tentang kegiatan di syahbandar. Ada kapal dari Eropa akan masuk. Datanglah sepagi mungkin, temui aku di ruang pabean!”

Jan mengangguk, lalu menyeret kaki kembali ke bangsal. Kapten Van de Vlek mengawasi punggung kemenakannya dengan gundah. Sejak ayah anak itu memboyong istri mestizo-nya tinggal di rumah pusaka keluarga Vlek, ia segera melihat bahwa hidup berumah tangga, apalagi mengurus anak, tak ubahnya seperti neraka.

Setiap hari perempuan brengsek itu membuat abangnya, dan seluruh penghuni rumah, sakit kepala. Lebih sakit dibandingkan pengaruh tiga botol arak Madeira saat bangun pagi. Selain mengatur hidup suaminya, perempuan itu tak segan mencampuri urusan pribadi adik iparnya.

Maka suatu hari, pada usia 14 tahun, ia tak tahan lagi. Ia memutuskan pergi dari rumah kakaknya, ikut Kapal Nieuwe Hoorn, bertualang dari laut ke laut. Syukurlah nasib baik berpihak kepadanya. Dari kelasi biasa, jabatannya meningkat menjadi pembantu juru mudi, lalu naik lagi menjadi juru mudi, kemudian Asisten Mualim III. Lantas pada suatu pelayaran yang sial, terjadi pertempuran hidup-mati melawan bajak laut di sekitar Laut Banda. Sebelah matanya terpapas parang. Namun kejadian itu justru membuat namanya menjulang tinggi. Menjadi buah bibir di kalangan pelaut. Sebentar kemudian, ia menempati jabatan baru sebagai nakhoda, yang digelutinya selama 15 tahun hingga kini.

Sayang, di antara suka cita hidupnya, wabah pes mengganas di Batavia. Keluarga kakaknya tumpas. Meninggalkan si kecil Jan, yang segera dimasukkannya ke panti asuhan dekat Rumah Sakit Cina. Sesuai amanat Sang Kakak, setelah berusia 13 tahun ia harus mengeluarkan anak itu dari panti, dan menjadikannya seorang pelaut seperti ayahnya, atau seperti pamannya. Tetapi, lihatlah anak itu hari ini. Betapa akan sia-sia hidupnya kelak. Namun ia tak boleh menyerah. Mulai sekarang, Jan adalah bagian hidupnya. Ia bertanggung jawab atas masa depannya.

Demi masa depan kemenakan pulalah seminggu kemudian Kapten Van de Vlek, mengunjungi Tuan Adriaan Gewetensvol, Kepala Syahbandar. Sedikit menekan malu, ia merayu Tuan Gewetensvol agar menerima Jan magang sebagai petugas syahbandar.

“Keponakanku pintar,” ujar Kapten. “Kau takkan kecewa. Kebetulan ia akan ke sini siang ini. Lihatlah sendiri.”

Tuan Gewetensvol belum bisa memutuskan apapun. Pagi itu, dua buah tongkang besar merapat di pabean. Petugas syahbandar sibuk meneliti dokumen serta muatan yang diturunkan. Sebagian lain pergi ke teluk, memeriksa galiung Eropa, tempat asal muatan itu. Ukuran kapal galiung itu terlalu besar, tak bisa merapat. Mereka membuang sauh agak jauh dari daratan.

“Mari kita lihat kiriman untuk Kerajaan Gowa yang kemarin malam diturunkan,” Tuan Gewetensvol menunjuk satu peti besar di depan kantor syahbandar. “Ada yang harus ditandatangani Gubernur Jenderal. Ada pula rencana memamerkannya di Balai Kota. Entah kapan barang-barang ini akan diberangkatkan ke Makassar.”

“Apa isinya?” tanya Kapten.

“Kau akan kagum,” Tuan Gewetensvol menyorongkan dokumen barang.

Sebentar kemudian, kedua orang itu tenggelam dalam keasyikan memeriksa muatan lain, sehingga baru agak lama Kapten Van de Vlek menyadari bahwa jauh di belakang sana berdiri dua orang pria. Salah satunya adalah keponakannya sendiri.

“Tuan Van Geloofig ingin bicara berdua saja dengan Paman,” Jan mengarahkan tangan kepada lelaki tua di sisinya.

“Kehormatan bagi saya,” Van Geloofig menerima uluran tangan Kapten.

“Apa yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Kapten setelah mempersilakan Van Geloofig duduk di ruang tamu syahbandar. “Sebelumnya, terima kasih telah merawat keponakan saya selama 7 tahun. Semoga ia tak merepotkan Tuan.”

“Jan sama sekali tidak merepotkan,” Van Geloofig melipat kedua tangannya ke atas meja. “Tetapi sejak pulang dari pertemuan dengan Tuan minggu lalu, ia membuat resah panti asuhan, dan sedikit membuat saya kecewa. Ini berkaitan dengan paham yang Tuan sampaikan kepadanya.”

“Silakan teruskan,” Kapten Vlek mengail pipa dari saku jas. “Saya belum menangkap maksud Tuan.”

“Baiklah, saya akan langsung saja,” Van Geloofig merogoh tas, mengeluarkan sebuah Alkitab. “Saya orang bodoh, Tuan. Tidak akan bisa memahami ilmu pengetahuan. Bila Tuan ingin mengambil Jan hari ini, silakan bawa. Akan saya kembalikan biaya perawatan setahun ke depan yang sudah Tuan bayar. Tetapi lepaskan dia dari paham yang bertentangan dengan Sabda Tuhan.”

“Sabda Tuhan?” Kapten menggaruk kepalanya.

“Tuan Kapten,” rahang Van Geloofig tiba-tiba mengeras. “Tuan terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan ilmu kelautan yang begitu Tuan puja bersama rekan-rekan Tuan, sehingga barangkali alpa mendaras Kitab Suci. Oleh karena itu, biarlah pagi ini saya sampaikan beberapa ayat dari Kitab Mazmur untuk Tuan.”

Kapten Van de Vlek diam menunggu.

“Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak!” seru Van Geloofig, tangannya menelusuri huruf di atas halaman kitab bersampul kulit itu. “Yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya!” Van Geloofig menatap wajah Kapten. “Dengar, Kapten. Mendasarkan bumi di atas tumpuannya. Takkan goyang. Itu Sabda Tuhan. Apakah menurut Anda bumi berbentuk bola punya tumpuan yang takkan goyang? Dengarkan pula yang satu ini…”

“Yehova berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, tegak dunia, tidak bergeser dari tempatnya,” Van Geloofig menutup kitabnya. “Sekali lagi saya bertanya, Kapten. Apakah ada benda yang bisa berdiri tegak di atas tumpuan berbentuk bola?”

Kapten ingin mengatakan sesuatu, tetapi Van Geloofig lebih dahulu menukas: “Tak perlu Tuan bicara ilmu perbintangan. Semua buatan manusia. Pegangan saya adalah perkataan Tuhan sendiri!”

“Saya rasa itu soal tafsir,” Kapten mengangkat bahu. “Untuk menjawab pertanyaan Tuan, saya bisa menunjukkan bukti lewat alat. Tetapi Tuan tak ingin mendengar. Jadi, apa yang harus saya lakukan?” sesungguhnya amarah Kapten sudah tiba di ujung tanduk, tetapi rasanya tak baik memaki seseorang yang dekat dengan Alkitab.

“Seperti kata saya tadi, silakan ambil. Bawa Jan ke luar.” Van Geloofig bangkit dari kursi. “Jangan biarkan ia meracuni anak lain. Dunia sudah penuh dosa. Itu saja. Permisi. Semoga Tuhan masih besertamu.”

Kapten Van de Vlek membiarkan tamunya hilang ditelan tikungan. Lalu ia mendekati Jan yang sejak tadi berdiri terpaku di luar.

“Ikut aku!” ia menyeret tangan keponakannya. Berdua, mereka masuk ke gudang pabean. Tuan Gewetensvol memperhatikan kedatangan mereka berdua.

“Maaf Tuan Gewetensvol,” kata Kapten. “Dengan segala hormat, izinkan aku dan keponakanku melihat sekali lagi isi peti kemas untuk Raja Gowa itu.”

“Baru saja kututup. Tetapi, mengapa tidak? Aku juga senang melihatnya sekali lagi,” kata Tuan Gewetensvol. Ia menoleh kepada dua orang budak Melayu yang sedang sibuk memaku peti.

“Bongkar!” perintahnya.

Linggis dan palu kembali bekerja. Sebentar kemudian, tutup peti itu jatuh berdebam. Jan van de Vlek terbelalak. Seumur hidup belum pernah ia melihat benda seperti itu. Begitu besar. Begitu indah. Begitu rinci. Sebuah maha karya.

“Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudera, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya. Lihat bentuknya, Jan. Bola!” seru Kapten Van de Vlek.

“Menurut dokumen, benda ini hasil karya Joan Blaeu, ahli peta ternama dari Belanda. Tingkat keakuratannya sangat tinggi. Jangan kau kira garis lintang dan bujur ini digores sembarangan. Blaeu menghabiskan tujuh tahun untuk mencari data dan menempa benda ini. Ditambah satu seri peta dinding. Tahu berapa nilai maha karya ini? Lima ribu gulden. Setara harga satu rumah di kawasan elit Tygers Gracht.”

Jan van de Vlek tak berkedip.

“Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan!” bentak Kapten Van de Vlek. “Dengar, Jan. Selama ini kita membanggakan diri sebagai bangsa paling maju. Itu benar. Di luar sana, sejak 200 tahun lalu, para cendekiawan kita sudah selesai menyimpulkan bahwa bumi berbentuk bola, berputar pada porosnya, dan mengelilingi matahari setiap 365 hari. Tetapi, tahukah kau siapa yang memesan globe raksasa ini?”

Jan menggeleng.

“Pemesannya adalah Karaeng Pattingalloang, Mangkubumi dari Kerajaan Gowa. Seorang pribumi!” lanjut Kapten Van de Vlek. “Usianya 18 tahun. Tetapi sudah menguasai politik dan hukum tata negara. Fasih bicara bahasa Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, serta Latin. Lihat etsa wajahnya ini. Ia memiliki perpustakaan pribadi yang dijejali ribuan buku dari Eropa. Apa yang sudah kau pelajari selama ini?”

“Kita telah berjalan begini jauh, Jan. Para cendekiawan di seluruh dunia dengan takzim mempercayai ilmu kita. Sementara orang dari panti asuhan itu hendak kembali ke zaman kegelapan? Ia boleh setia pada keyakinannya, tetapi ia tak bisa mengancam pihak yang sudah memiliki bukti lebih kuat dan diuji banyak orang!” Kapten Van de Vlek meraih botol arak lalu melangkah ke luar ruangan, meninggalkan keponakannya di depan peti kemas.

Jan van de Vlek termenung. Perlahan ia berlutut. Tangannya menyentuh lempengan tembaga yang ada di bawah globe. Keempat sisi lempengan itu berlubang. Tampaknya disediakan untuk ulir paku.

“Sebelum dipasang pada dudukan globe, lempeng itu harus ditandatangani Gubernur Jenderal dan Kepala Dagang Hindia, Nak,” Tuan Gewetensvol yang sejak tadi mengamati Jan, merasa iba. Ditepuknya punggung Jan.

“Pamanmu pelaut hebat. Pelaut hebat tak takut mati. Mereka bertualang. meninggalkan tempat aman, menerobos tabu. Membuktikan bahwa kadangkala dunia jauh lebih menarik dibandingkan yang dibayangkan secara kaku dari balik meja atau ruang rapat pemuka agama.”

Jan van de Vlek menunduk. Matanya mengeja tulisan yang digrafir rapi di atas plakat tembaga itu. Potongan puisi karya penyair Belanda tersohor, Joost van Vondel:

 

Kantor Tuan Tujuh Belas

kirim bola dunia pada Pattingalloang Agung,

yang benaknya selalu penuh rasa ingin tahu,

sehingga seluruh dunia terlalu kecil.

 

 

Jakarta, Januari 2017

 

 

  • Ziekentrooster: Peran sesungguhnya adalah penghibur orang sakit. Membacakan ayat Alkitab. Belakangan, karena terbatasnya jumlah pendeta di Hindia, mereka mengambil alih peran pendeta.

 

>