Cerita Anak – Bakwan Jagung

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Cerita anak: Jeli Manalu

Versi cetak; Antologi cerita Memetik Keberanian, Gora Pustaka Indonesia, 2019

Penutur: Muthia Sayekti

 

Hatiku riang. Senyumku lebar. Penerimaan raport penaikan kelas sudah selesai. Aku sekarang kelas dua. Setiba di rumah kulepas sepatu. Kuganti dinas merah putih, dan meletakkannya di ember hitam yang selalu disediakan ibu. Aku lalu membuka tudung saji. Uh, wangi sekali masakan ini! Segera kuambil piring, sendok dan gelas. Aku duduk di kursi plastik warna merah jambu, warna favoritku.

“Bu, cepat. Aku sudah sangat lapar,” panggilku, sembari melingkarkan kedua tangan di depan mulut, agar suaraku didengar ibu yang lagi di kamar. 

Tak lama setelahnya ibu muncul dari pintu kamar. Kulihat ia melangkah sambil menggulung rambutnya yang panjang.

“Bu, ayo cepat,” ujarku sekali lagi. Aku sungguh tidak sabar. Liurku berkali-kali kutelan dan bibirku kujilat. Makanan itu sungguh menggoda mata dan tanganku. Ambil aku, ambil aku, seperti begitu makanan itu merayu-rayuku. He-he-he-he. 

Aku makan dengan sangat lahap. Uh, masakan ibuku benar-benar lezat hari ini. Ibu memasak bakwan jagung, maksudku digoreng. Pertama-tama jagung ibu iris kecil-kecil. Bumbu-bumbunya bawang merah, bawang putih, um, apa lagi, ya? Oh, kunyit dan sedikit cabai merah. Semua itu digiling halus oleh ibu. Dua batang daun bawang dan setangkai seledri dipotong pendek-pendek. Kira-kira dua mili meter ukurannya. Ditambahkan sebutir telur ayam. Garam dan sedikit gula pasir. Lalu semua bahan dicampur bersama tepung roti dengan takaran tertentu. Terakhir dituang air secukupnya. Kemudian adonan disendoki ke minyak goreng panas dalam kuali. Dibalik sesekali. Ditunggu hingga berwarna kuning keemasan, baru diangkat. 

Saat makan, ibu bertanya padaku, “Kau sungguh-sungguh suka bakwan jagung, Tiur?”

“Iya. Aku suka sekali,” jawabku, dengan suara yang kedengaran jadi aneh (mungkin seperti suara kerbau yang lagi pilek), karena mulutku penuh makanan. Jawabanku itu, jadinya terdengar kira-kira seperti ini: iyoo, agu suko sekaye. He-he-he-he-he.

“Ya sudah, cepat habiskan makananmu. Jangan sampai sisa, ya,” kata ibu.

Aku mengangguk pelan. Bunyi aagh segera muncul dari mulutku, lebih tepatnya dari tenggorokanku. Aku bersendawa, mungkin karena kekenyangan. Aku menghabiskan empat bakwan jagung dengan nasi yang sengaja kusendok sedikit saja. Kutambahkan juga kecap manis biar rasanya lebih gurih.    

Selesai makan, ibu menyuruhku membantunya mengemasi barang-barang. Sepatu, kaus kaki, sarung tangan, baju dan celana, topi, dan tak lupa jaket tebal. Semuanya disusun rapi ke dalam tas besar, kecuali sepatu ke tas kecil. Tas-tas itu kemudian diletakkan di dekat pintu. Kata ibu, kami akan pergi. Akan berlibur ke rumah kakek dan nenek di desa. Lamanya sekitar delapan hari.  

Sepanjang jalan menuju desa kecil tempat kakek dan nenek tinggal, tampaklah hamparan jagung berwarna hijau. Aku memejamkan mata sejenak. Kuhirup wangi bunga-bunga jagung, sembari mendengar lebah-lebah yang hinggap di atasnya. Saat kutanya pada ibu apa di antara jagung-jagung itu ada milik kakek dan nenek, ibu menjawab tidak. Rumah mereka katanya masih di ujung sana. Di kaki bukit yang menyerupai seekor gajah tidur. Persis di bawah belalainya, bukan perut, yang saat mengatakan kalimat itu ibu memicingkan mata padaku sambil senyum. Aku jadi kikuk. Kata ‘perut’ yang diucapkan ibu seakan meledekku yang siang tadi menghabiskan empat bakwan jagung. 

Tidak lama setelahnya kami tiba di rumah kakek dan nenek. Aku memanggil kakek keras-keras. Kekek! Panggilku. Nenek! Panggilku juga. Kakek muncul dari mulut pintu. Ia rentangkan kedua tangan. Aku berlari memeluk kakek bergantian dengan nenek. 

Di desa udaranya ternyata dingin. Lebih dingin lagi saat malam hingga pagi hari di bawah pukul sepuluh. Aku bahkan belum melepas jaket dan kaus kaki. Begitu pula dengan topi bulu-bulu. Anehnya, dari mulutku muncul pula awan saat bicara. Aku bahagia, tak harus naik pesawat supaya bisa melihat awan lebih dekat. Itu bukan awan, kata kakek. Itu uap yang ditimbulkan oleh suhut dingin. 

“Oh, ya, Kakek dengar kau sangat suka makan bakwan jagung,” kakek mengalihkan pembicaraan saat ia perhatikan aku akan bertanya lagi.

 “Apa Ibu cerita pada Kakek?” tanyaku, teringat lagi betapa kemarin aku menghabiskan empat bakwan jagung. Aku cemas saja seandainya kakek ikut-ikutan meledekku, lalu meniru suara anehku saat bicara denga mulut penuh sehingga terdengar seperti suara kerbau yang lagi pilek. Aduh, semoga saja jangan, ucapku dalam hati.

Lalu kakek menjawab, “Iya. Ibumu membicarakannya sambil tertawa-tawa di telepon.”

Hah! Aku kaget sekali. Ternyata mereka sudah membicarakanku.

“Tenang, tenang, cucuku. Tidak apa-apa. Kakek juga suka makan bakwan jagung. Kakek bahkan pernah menghabiskan tujuh buah bakwan jagung bikinan nenekmu, ” kata kekek membujukku yang cemberut.

“Lalu apa kata Nenek padamu, Kek?”

“Nenekmu bilang, ia akan lebih sering-sering lagi membuatkannya.”

Kemudian, aku dan kakek kaget luar biasa. Diam-diam ibu dan nenek ternyata sudah merencanakan sesuatu. Di depan kami kini ada dua piring bakwan jagung. Kami harus berlomba memakannya. Dan kata ibu serta nenek, kami tidak boleh membuatnya berisa. Bila tidak, jagung-jagung di ladang akan cemberut dengan cara malas berbuah. **

 

Riau, Oktober 2018

 

Cerita Anak – Anak Sampah

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

 

Cerita Anak: Pipiek Isfianti

Versi Cetak: Antologi Cermin Cahaya, Balai Bhasa Jawa Tengah 2018

Penutur: Muthia Sayekti

 

 

Ya …  ya, Adin,  anak kelas lima  SD itu sudah biasa   mendengar semua ejekan serupa. Yang bau sampah lah, tukang sampah lah, sampai anak sampah, sudah mulai didengarnya sejak tiga bulan lalu. Ya sih, tiga bulan lalu dia menggantikan ayahnya yang terbaring sakit di rumah. Ayah Adin memang bekerja sebagai tukang sampah. Selain harus membersihkan sampah di kampung sebagai tukang sapu, ayah Adin juga men- dapatkan tambahan uang dengan mengambil sampah-sampah milik orang sekampung. Namun, karena jatuh saat mengendarai sepeda sampahnya, kaki ayah Adin terkilir. Kakinya sakit hingga harus beristirahat. Keadaan itu menggugah Adin untuk menggantikan tugas ayahnya agar tercukupi kebutuhan keluarga. 

“Karena ayah masih sakit, boleh ya mulai besok Adin menggantikan pekerjaan ayah, sampai ayah benar-benar sembuh,” pinta Adin pada ayahnya yang berbaring. Ibu membalurnya dengan balsam karena kaki ayah terkilir.

“Jangan, Nak,” jawab ayah cepat. 

“Iya, Adin. Pekerjaan ayah itu berat, Nak. Biar sementara digantikan Pak Trimo dari kampung sebelah saja. Nanti ibu akan bilang pada Pak Trimo, lagipula, apa kamu tidak malu pada teman-temanmu?” sambung ibu.

“Ah, Adin tidak malu kok. Lagian kenapa mesti malu? Itu kan pekerjaan Ayah selama ini yang menghidupi kita semua. Dan yang terpenting adalah pekerjaan halal,” jawab Adin mantab. 

“Oh ya, Bu. Ibu tidak usah bilang ke Pak Trimo. Pak Trimo kan juga harus membersihkan sampah di kampung sebelah. Biar Adin saja yang menggantikan Ayah. Adin juga bisa mengerjakannya sebelum berangkat sekolah,” tukas Adin dengan mata berbinar.

Ayah dan ibu hanya diam dan saling berpandangan. Bahagia bercampur haru. Sebenarnya dalam hati mereka tidak tega jika Adin harus menggantikan pekerjaan ayah meski hanya untuk sementara. Namun, karena tekad dan semangat Adin yang begitu besar ayah dan ibu akhirnya mengizinkan.

“Baiklah, Nak. Kalau itu sudah menjadi keinginanmu. Hanya kalau kamu mendapat kesulitan, bilang Ayah ya, Nak. Yang penting jangan lupa belajar sungguh-sungguh,” kata ayah bijak.

“Iya, Adin. Pesan ibu, kalau itu sudah menjadi kehendakmu, lakukan dengan sebaik-baiknya, ya. Walaupun sebenarnya anak seusia kamu tidak seharusnya ikut menanggung beban pekerjaan seperti ini, Nak,” kata ibu sendu seraya memeluk buah hatinya itu.

Adin tersenyum dan membalas pelukan ibunya dengan erat.

“Ibu tidak usah khawatir. Sekalipun Adin baru kelas lima SD, lihat kan, badan Adin sebesar anak kelas tiga SMP. Hehehe, Ini karena Adin makan banyak dan gemar olah raga, Bu,” kata Adin sembari memamerkan otot lengannya seperti seorang bina- ragawan.

Ibu dan ayah yang semula terlihat bersedih, seketika menjadi terbahak melihat gaya Adin yang lucu.

Sejak itulah, sebelum berangkat sekolah, pagi-pagi betul seusai salat Subuh, Adin telah menyapu jalanan di kampungnya, seperti yang biasa ayahnya kerjakan. 

Sesudah itu, dengan mengayuh sepeda yang di belakangnya sudah diletakkan gerobak sampah, ia akan mengambili sampah dari tong sampah di depan tiap-tiap rumah. Setelah itu, ia akan membuangnya di tempat pembuangan sampah akhir di ujung jalan, dan nantinya akan diangkut truk sampah dari Dinas Kebersihan.

Adin melakukan pekerjaan itu dengan suka cita, tetapi suara ejekan teman-temannya itu kadang membuat hatinya sakit. Namun, mau bagaimana lagi, dia memang anak sampah, anak tukang sampah. Bahkan, sekarang setiap hari dia sendiri bergumul dengan sampah. Walau jengkel setiap mendengar ejekan dari teman-teman sekampungnya, Adin berusaha tak memedulikannya. Toh, yang dilakukannya itu halal. Bukankah sampah juga sumber penyakit? Adin dan juga ayahnya, telah membuat kampung itu bersih dari sampah. Adin selalu ingat kata pak Ustaz bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Hal itulah yang membuat Adin semangat menggantikan pekerjaan ayahnya. Adin selalu melakukannya dengan riang gembira karena ia adalag seorang anak dan menjaga kebersihan lingkungannya.

***

Sudah tiga hari Adin tak terlihat, begitu juga ayahnya karena memang belum sembuh. Sudah tiga hari pula sampah di depan rumah Jawad mulai menggunung. Bau busuknya mulai menyebar ke mana-mana. Tidak hanya di rumah Jawad, di rumah Jarin, Alma, Sasa, dan juga Rima, tetapi sampah di depan rumah seluruh warga kampung telah menggunung. Bayangkan, bau nasi basi berbaur dengan bau kulit udang dan macam-macam sampah lainnya. Bisa dibayangkan kan, bagaimana baunya?

“Kok sudah tiga hari ini Adin nggak mengambil sampah, ya?’’ tanya ibu Jawad. Ibu kelihatan gelisah. Ya, ibu pasti pusing mencium bau sampah. Tak hanya ibu, Jawad yang semula tak peduli dengan sampah di rumahnya menjadi ikut gelisah. Bagaimana tidak, setiap mau makan, dia akan mencium bau sampah. Saat hendak bersantai di teras rumah sambil bermain ular tangga, bau sampah akan segera menusuk hidung. Apalagi jika malam hari, saat angin bertiup kencang, bau itu akan terasa tajam, membuatnya tak bisa memejamkan mata.

“Wah, tak tahan rasanya di rumah,” kata Jawad kesal. Sungguh, sepulang sekolah siang itu dia sudah tak tahan lagi dengan bau sampah di depan rumahnya. Dengan cepat ia mengambil sepedanya, lalu menggoesnya menuju ke rumah Jarin. Sampai di rumah Jarin, ternyata sama saja. Bau sampah begitu menyengat, membuat kepala Jawad bertambah pusing. Ditambah lagi suara Ibu Jarin yang uring-uringan karena banyak lalat berterbangan di mana-mana. “Jarin, ini semua gara-gara kamu, suka menimbun sampah

di dalam kamar. Lihat ini, sampah kita jadi menggunung karena ibu baru saja membersihkan sampah di dalam kamarmu. Lain kali, begitu ada sampah langsung buang di tempat sampah. Jadi, begitu tukang sampah libur, sampah kita nggak begini banyak!” kata ibu sembari membereskan ruang depan rumah Jarin. Jarin hanya menunduk, tak berani membantah ibunya.

Ibu memang benar, selama ini dia memang paling malas membuang sampah di tempat sampah depan  rumah. Bungkus makanan, sisa bahan membuat kerajinan tangan, semua hanya dilempar begitu saja di pojok kamar. Jadi wajar jika ibu uring-uringan saat membersihkan kamarnya.

Karena di rumah Jarin juga tidak nyaman, Jawad mengajak Jarin ke rumah Alma. Astaga, di sana lebih parah lagi. Karena tak punya halaman, tong sampah di rumah Alma diletakkan tepat di depan pintu masuk. Tentu saja lalat yang ada di situ bisa masuk sampai ke rumah. Apalagi ibu Alma kemarin baru saja dipakai untuk pengajian. Jadi gelas-gelas plastik, kardus-kardus bekas makanan kecil, juga kardus-kardus besar menggunung di depan rumahnya.

“Payah ini, kita mesti cari penyebabnya,” kata Jawad tak tahan.

“Iya, semua ini pasti gara-gara Adin, dia tak mengambili sampah di rumah kita,” imbuh Jarin tak kalah kesal.

Alma, Sasa, dan Rima yang ternyata juga telah berada di rumah Alma manggut-manggut. Mereka jadi berpikir, bahwa ternyata mereka membutuhkan Adin.

“Wah, ternyata tukang sampah itu sangat berjasa sekali ya bagi kita?’’ kata Rima.

“Iya, kita baru merasakan. Kalau nggak ada Adin atau ayahnya yang mengambil sampah, alangkah kotornya lingkungan kita. Apa mungkin Adin sakit, ya? tiga hari ini dia tidak masuk sekolah,” imbuh Alma.

“Iya, ya. Apa yang terjadi pada Adin, ya,” sambut  Sasa. “Aku jadi menyesal, telah mengejek Adin selama ini,” kata Jawad. Teman-temannya akhirnya menyadari kesalahan. 

 “Jadi..jadi..kita ke rumah Adin sekarang!” kata mereka serempak.

Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah Adin. Dengan sopan mereka mengucap salam dan dipersilakan masuk oleh ibu Adin. Betapa kaget mereka melihat Adin terbaring di atas tempat tidur sederhana di kamarnya yang sempit.

“Adin, kamu sakit, ya? “ tanya Jawad trenyuh.

Adin tersenyum. “Iya, badanku panas sudah tiga hari ini. Makanya nggak bisa mengambil sampah di rumah kalian. Maaf ya,” jawab Adin lemah. Jawad dan teman-temanya terdiam dan saling berpandangan. Hati mereka sedih melihat keadaan Adin. Betapa mereka telah berlaku tak adil terhadap Adin selama ini.

“Ngomong-ngomong kalian dari mana?”

“Dari rumah, Din. Kami datang ke sini untuk menengok kamu. Kami juga ingin minta maaf telah mengejek kamu selama ini. Padahal, kalau nggak ada kamu, alangkah kotornya rumah kami.” kata Jawad pelan.

“Iya, Din. Baru terasa nggak ada kamu semuanya jadi kotor,” imbuh Jarin.

“Maafkan aku ya …,” kata Jawad tertunduk seraya menyalami Adin diikuti teman-teman lainnya. Mereka meminta maaf atas kesalahan mereka pada Adin selama ini. Adin tersenyum. 

“Iya, tidak apa-apa. Dan nggak perlu khawatir. Kaki ayahku sudah sembuh. Besok pagi ayah sudah bisa mengambil sampah di rumah kalian.”

Mereka tersenyum, membayangkan rumah akan bersih kembali. tak ada sampah menggunung. Dan mereka berjanji tak akan meremehkan pekerjaan tukang sampah lagi. 

 

English Lesson – Sakit Perut

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Cerita: Muthia Sayekti

Narator: Muthia Sayekti

 

“Kamu kenapa, Tera? Kok dari tadi pegang perut terus?” tanya Difa terheran-heran melihat adiknya seperti meringis menahan rasa sakit

“Aku tak tahu, Difa… Rasanya perutku sakit sekali.”

“Kamu sudah makan belum?” Difa mulai menebak penyebab sakit perut adiknya.

Tera menggeleng lemah. Difa melihat jam dinding. Siang sudah mulai bergeser sedikit dan waktu menunjukkan pukul tiga lebih lima menit. Tera pasti terlambat makan siang.

Difa cepat-cepat mengambilkan air putih hangat dan madu. Ia juga menyiapkan sepiring nasi dengan lauk yang ada di meja makan.

“Ini minum dulu, Tera…” kata Difa sambil membantu adiknya meminum air hangat dan menyuapinya sesendok madu. Tera sudah nampak berkeringat dan tiba-tiba ia bersendawa.

“Sudah agak enakan, Difa. Terima kasih…” kata Tera sambil mengatur nafas.

“Iya, sama-sama. Ini, makan dulu… perutmu sakit karena kamu terlambat makan siang,”

Tera tidak banyak membantah. Ia memang merasa bersalah karena sedari siang terlalu asyik mendengar audio-book sampai lupa waktu makan. 

“Lain kali jangan diulangi, ya… Di dalam perutmu ada banyak organ yang penting untuk dijaga kesehatannya. Kalau kamu makannya tidak teratur, organ-organ itu bisa berfungsi tidak maksimal,”

“Memangnya organ di dalam perut ada apa saja sih, Difa?” tanya Tera penasaran

“Macam-macam… terutama untuk sistem pencernaan, yang mengolah makanan yang kita konsumsi.”

“Contohnya?” desak Tera pada kakaknya.

“Yang barusan kamu rasakan sakit itu, namanya lambung…”

“Oh begitu… Eh sambil belajar Bahasa Inggrisnya dong, Difa… Mau nggak?”

“Boleh. Lambung itu bahasa inggrisnya STOMACH, S-T-O-M-A-C-H.”

“Stomach, S-T-O-M-A-C-H. Wah, sama seperti bahasa inggrisnya perut ya?”

“Betul sekali. Lalu setelah lambung, ada usus halus, bahasa inggrinya SMALL INSTESTINE, S-M-A-L-L-I-N-T-E-S-T-I-N-E,”

“SMALL INTESTINE, S-M-A-L-L-I-N-T-E-S-T-I-N-E”

“Sip. Selanjutnya ada usus besar. Kalau ini bahasa inggrisnya COLON, C-O-L-O-N,”

“COLON, C-O-L-O-N! Bukan Big Intestine ya? Hehe” kata Tera iseng bertanya.

“Hahaha… bukan, Tera. Bisa saja kamu ini. Oh ya, lupa… sebelum usus besar ada usus 12 jari. Yang ini bahasa inggrisnya, DUODENUM, D-U-O-D-E-N-U-M,”

“DUODENUM, D-U-O-D-E-N-U-M”

“Good! Nah, ini bagian dalam pencernaan yang fungsinya sebagai jalur untuk membuang sisa makanan namanya dubur, bahasa inggrisnya RECTUM, R-E-C-T-U-M”

“RECTUM, R-E-C-T-U-M. Bukan anus ya, Difa?

“Sama saja kok, itu sinonimnya. Anus pun bahasa inggrisnya sama, tapi pengucapannya ANUS, A-N-U-S,”

“ANUS, A-N-U-S”

“Yap! Betul begitu… nah, sekarang tahu kan organ-organ dalam perut kita? Semua itu perlu kita jaga kesehatannya. Jangan diulangi lagi ya lupa waktu makannya, biar nggak sakit lagi,”

“Siap, Difa… terima kasih ya!”

 

English Lesson – Di Mana Sepatuku?

Untuk mendengar audio, klik tombol di bawah ini:

Untuk mengunduh audio, silakan klik di sini.

Cerita: Muthia Sayekti

Penutur: Mutia Sayekti

 

“Sudah siap, Tera?” tanya  Difa kepada adiknya. Sore itu Difa ingin mengajak adiknya berjalan-jalan santai sambil mencari udara segar.

“Tunggu, aku belum pakai sepatu,” jawab Tera.

“Sini, mari kubantu…” kata Difa sambil menggandeng tangan adiknya ke tempat diletakannya rak sepatu. Kemudian Difa meletakkan tangan adiknya untuk meraba-raba sendiri dan menemukan alas kaki miliknya.

“Sebentar ya,  Difa…” ia kembali meraba-raba dengan ragu. Sampai akhirnya ia menemukan sepasang sepatu yang dirasa miliknya.

“Hey, Tera… that is my shoes, itu sepatuku” kata Difa menegurnya dengan halus. Ibu sesekali memang membelikan kedua putrinya sepatu kembar dengan ukuran yang berbeda. Kebetulan Tera saat itu keliru mengambil sepatu milik kakaknya.

“Oh, really? Iya kah…? I am sorry, Difa. So, where’s mine? Lalu, dimana ya yang punyaku?”

“Wait a moment… Tunggu sebentar, ya…” Difa ikut membantu mencarikan sepatu adiknya. Ternyata rak sepatu memang sudah begitu penuh. Banyak sepatu yang saling tumpuk.

“Is it mommy’s shoes? Apakah ini sepatunya ibu?” tanya Terra meraba-raba sepasang sepatu hak berbahan bludru.

“Yes, it is. It’s her shoes. Ya, betul sekali. Itu sepatunya ibu,” jawab Difa sambil dengan sabar membongkar satu demi satu tumpukan sepatu.

“How about this? It must be daddy’s shoes. Kalau yang ini? Ini pasti sepatunya ayah,” tanya Tera setelah meraba-raba sepatu fantofel hitam berukuran 43.

“Hahaha, that’s right, Tera. It is his shoes. How could you know? Hahaha Betul sekali, Tera. Itu sepatunya ayah. Bagaimana kamu bisa tahu?”

“It’s very big, Difa. Our daddy has big feet! Ini besar sekali, Difa. Ayah kita kan punya kaki yang besar!”

Difa terus mencari dan pada akhirnya menemukan sepatu milik Tera di bawah tumpukan sepatu olahraga ayahnya. 

“Nah, this is it! it is your shoes, Tera… Nah, ini dia! Ini sepatumu, Tera…” kata Difa sambil memberikan sepasang sepatu pada Tera. 

“Hore… akhirnya ketemu…” Tera pun segera menggunakan sepatunya. Ia sudah tak sabar untuk segera jalan-jalan sore dengan kakaknya.

“Are you ready? Sudah siap?” tanya Difa sekali lagi.

“Yes, I am ready! Let’s go!” jawab Tera bersemangat. Setelah keluar dari rumah, Tera merasakan kulitnya disentuh oleh angin yang lembut. Ah, sore yang cerah dan indah!

English Lesson – Di Kebun Nenek

Di Kebun Nenek

Cerita: Esty Dyah Imaniar

Narator: Muthia Sayekti

download

 

Libur sekolah kali ini Difa dan Tera bermain ke rumah Nenek di desa. Mereka senang sekali karena Nenek mempunyai kebun buah yang luas di belakang rumah. Sesampainya di rumah Nenek Difa segera mengajak Tera ke kebun buah.

“Buah-buah di kebun nenek ada banyak sekali. Aku akan menyebutkan nama-nama mereka dalam bahasa Inggris untukmu,” kata Difa.

“Ini apa?” Tera meraba pohon pisang. Dia bisa merasakan itu pohon pisang, hanya saja ingin tahu namanya dalam bahasa Inggris.

“BANANA.”

“BANANA.”

“Kita menulisnya B-A-N-A-N-A.”

“B-A-N-A-N-A,” Tera mengulangi sambil masih memegangi pohon pisang.

“Kalau ini PAPAYA,” kata Difa memindahkan tangan Tera ke pohon lain yang lebih pendek. Meskipun buahnya masih kecil, Tera bisa meraba kalau itu adalah pepaya.

“PAPAYA?”

“Betul, Tera. Ejaannya P-A-P-A-Y-A.”

“P-A-P-A-Y-A.”

“Coba tebak, ini pohon apa?” tanya Difa. Tera sudah dibawanya menuju pohon lain yang jauh.

Tera meraba sebentar sebelum menjawab pasti, “Kelapa!”

“Tepat sekali. Namanya adalah COCONUT.”

 

“COCONUT?”

“Iya. Ditulisnya C-O-C-O-N-U-T.”

“C-O-C-O-N-U-T.”

Terdengar suara daun bergoyang dan ranting yang patah. Tera menoleh khawatir sebelum Difa kembali dengan meletakkan buah di tangannya.

“Tadi Difa ambil buah ini. Coba tebak itu apa.”

Tera memakan buah di tangannya. “Jambu biji?”

“GUAVA. Bahasa Inggris untuk jambu biji adalah GUAVA.”

“GUAVA.”

“Ejaannya G-U-A-V-A.”

“Hati-hati, Tera!” teriak Difa saat Tera berjalan jauh darinya menuju daerah pohon nanas.

“Di sini ada banyak pohon buah nanas,” katanya pada Tera yang meraba di sekitarnya tapi tidak menemukan batang pohon apapun.

Difa membantunya berjongkok dan perlahan memegang pohon nanas yang sedang berbuah.

“This is PINEAPPLE. Ini adalah Nanas.”

“PINE..APPLE?” Tera mengulang perlahan.

“Betul. Dengar baik-baik ya ejaannya. P-I-N-E-A-P-P-L-E.”

“P-I-N-E-A-P-P-L-E.”

Difa masih mengajak Tera berkeliling di kebun Nenek saat Ibu memanggil.

“Difa! Tera! Ayo pulang dulu!” teriaknya dari jauh. Sebelum kembali ke rumah Nenek, cepat-cepat Difa menyebutkan nama-nama pohon buah yang mereka lewati menuju rumah Nenek sekaligus mengecek hafalan Tera.

“Labu?”

“PUMPKIN. P-U-M-P-K-I-N.”

“Mangga?”

“MANGO. M-A-N-G-O.”

“Jambu monyet?”

“CASHEW. C-A-S-H-E-W.”

“Good job, Tera!”

Keduanya mempercepat langkah ketika mencium aroma lezat dari teras belakang rumah Nenek.

“Ayo makan kudapan dulu,” kata Ibu sambil memberikan gorengan hangat ke tangan Tera.

“Ini nangka, ya?” Tera menebak irisan buah yang jadi isian gorengan tepung di tangannya.

“Iya, ini namanya satelit. Seperti bakwan tapi isinya buah nangka. Apa nama bahasa Inggris nangka?” tanya Ibu.

“JACKFRUIT. J-A-C-K-F-R-U-I-T.” Tera menjawab dengan cepat karena sebelumnya sudah berkenalan dengan pohon itu di kebun Nenek.

“Sekarang minum jusnya, Tera. Coba tebak itu buah apa!” kata Difa.

“AVOCADO?” jawab Tera setelah meminum jus alpukatnya, langsung dalam bahasa Inggris.

“Wah, hebat!” Ibu menepuk bahu Tera pelan.

“Kata Tera, ejaannya A-V-O-C-A-D-O.”

“Betul sekali!” Difa bertepuk tangan lalu mengambil gorengan nangka sebagai hadiah untuk Difa yang sudah belajar nama-nama buah dengan penuh semangat.

Makan dan minum olahan buah dari kebun sendiri seperti itu rasanya sangat nikmat. Rasanya dia ingin liburan tidak segera berakhir. []

English Lesson – Bentuk dan Garis

Bentuk dan Garis

Cerita: Indah Darmastuti

Narator: Muthia Sayekti

download

 

Malam itu Difa dan Tera bersama ibu dan bapak pulang dari melihat sirkus di gedung pertunjukan. Tera masih terkesan dengan keterampilan dua badut yang bermain-main dengan bermacam-macam bentuk benda tadi.

Di perjalanan, Difa mengajarkan kepada Tera tentang bentuk dan garis dalam bahasa Inggris.

“Shape and Line.” Kata Difa begitu jelas.

“Shape and Line?”

“Ya. Shape adalah bentuk. S-H-A-P-E.”

“Shape.”

“Line. L-I-N-E. adalah Garis.”

“Line.”

“Benar. Nah, untuk bentuk, mari kita mulai dari lingkaran,” Difa berkata.

“Baik. Apa bahasa Inggris Lingkaran?”

“Circle. C-I-R-C-L-E.”

“Circle.”

“Benar. Kalau Kubus. Cube. C-u-B-E.”

“Cube,” Tera menirukan.

“Silinder adalah Cylinder. C-Y-L-I-N-D-E-R.”

“Cylinder.”

“Good. Piramid dalam bahasa Inggris adalah Pyramid. P-Y-R-A-M-I-D-E.”

“Pyramid.”

“Kalau Kotak, apa bahasa Inggris kotak, Difa?”

“Square. Kotak adalah Square. S-Q-U-A-R-E,”

“Square.”

“Iya, benar. Kalau Triangle adalah Segitiga. T-R-I-A-N-G-L-E.’

“Triangle.”

“Kamu sudah mengucapkan dengan benar. Kalau Pilin bahasa Inggrisnya Spiral. S-P-I-R-A-L.”

“Spiral.”

“Kalau Curve adalah Gares lengkung atau kurva. Curve. C-U-R-V-E.”

“Curve.”

“Benar.”

“Kalau Garis tegak lurus, apa, Difa?”

“Perpendicular. Garis tegak lurus. Perpendicular. P-E-R-P-E-N-D-I-C-U-L-A-R.”

“Perpendicular.”

“Kalau Garis Lurus; Straight line. S-T-R-A-I-G-H-T L-I-N-E.”

“Straight Line.”

“Garis sejajar adalah Paralel line. P-A-R-A-L-E-L L-I-N-E.”

“Paralel line.’

“Yang terakhir, Garis berobak.Wavy line. W-A-V-Y L-I-N-E.”

“Wavy Line,”

“Bagus. Sekarang kamu bertambah pintar, Tera. Lain waktu kita akan mengulang lagi tentang Shape and Line. Okay?” Tera mengangguk riang dan tak sabar ingin segera sampai di rumah.

 

 

>