Primadona

Cerpen Iin Farliani
Narrator: Noer Admaja
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Rumah Rosa ada di pintu paling pojok. Aku harus menaiki tangga sempit sebelum sampai ke sana. Beberapa ekor lalat mengerubungi sebuah nyiru berisi ikan kering yang dijemur di anak tangga kedua. Aku berkali-kali mengangkat sepatuku untuk menghindari genangan air yang alirannya mengucur dari tangga atas lalu mengalir ke bawah hampir membasahi nyiru. Baunya sedikit pesing. Di sana-sini terdapat bekas tahi burung yang sudah mengering. Ada juga ceceran jagung dan beras yang bercampur debu ditumpuk di sudut tangga. Menjijikkan! Rosa tidak mungkin tinggal di tempat seperti ini.

Aku mengetuk pintu dengan suara ketukan yang sudah kupastikan sopan sekali. Aku ingin menimbulkan kesan sebagai tamu yang baik. Rosa pasti akan mau membukakan pintu. Dari dalam terdengar suara langkah tergesa-gesa seakan terusik mendekati pintu. Sekejap saja, di hadapanku berdiri seorang perempuan mengenakan celemek kumal yang melilit di pinggangnya. Kuperhatikan wajahnya dan aku berani bertaruh ia tidak mungkin Rosa!

“Permisi. Aku ingin menemui Rosa. Di sinikah rumahnya?” tanyaku sambil melongok sedikit ke dalam.

“Ya. Saya sendiri.” Suaranya terdengar ketus. Ia melihatku terheran-heran sambil mengeringkan tangannya yang basah pada celemek kumalnya.

Aku menarik napas. “Kau ingat aku, Rosa?” Aku ragu-ragu apakah langsung memberitahu namaku atau membiarkannya mengenali sendiri. Lagipula aku masih tidak percaya perempuan di hadapanku adalah Rosa yang kucari.

Ia diam beberapa saat sambil menatapku dari atas ke bawah. Aku melihat ada sebersit kemarahan pada matanya yang bercampur dengan keletihan. Ia masih saja menggosok-gosokkan tangannya yang berbau sabun cuci pada celemeknya itu.

“Apakah kau. . . , kau Sarah?”

Kami kemudian berpelukan lama sekali. Rosa menangis di pundakku sampai tubuhnya terguncang-guncang.

“Beginilah keadaanku sekarang.” Rosa menundukkan wajahnya seakan ingin menyembunyikannya dari penglihatanku. Aku tetap dapat memastikan bahwa perubahan wajahnya jelas sekali, terlalu tua untuk perempuan seumurannya. Aku tidak tahan ingin cepat-cepat mengeluarkan buku catatanku lalu menuliskan perubahan wajahnya. Tapi aku harus bersabar dulu, Rosa pasti tidak suka dengan niatku itu.

“Kemana suamimu?” tanyaku tanpa bisa berhenti menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Aku berkali-kali meyakinkan diriku bahwa yang kulihat adalah Rosa. Anak perempuan Rosa berlari-lari tanpa memakai celana sambil menggenggam remah roti di sekitar tempatku duduk. Ia tertawa riang dan sepertinya senang dengan kehadiranku. Aku sudah merekam pemandangan ini dalam otakku dan kupastikan aku tetap dapat mengingatnya sampai aku pulang ke rumah lalu mendeskripsikan semuanya dalam buku catatanku secara rinci.

“Aku tidak tahu kemana ia pergi,” jawabannya terdengar lemas sekali.

“Mengapa kau bisa tidak tahu?”

“Tak tahulah.” Ia mengangkat mukanya dan menatapku dengan pandang menyelidik. ”Kau pasti menertawaiku sekarang, bukan?”

“Tidak. Aku hanya terkejut.”

“Terkejut sekali. Pasti.”

“Terkejut sedikit. Mengapa kau tidak pulang saja ke rumah orang tuamu?”

“Orang tuaku sudah lama bercerai. Ayahku menghabiskan hartanya untuk wanita. Itu semakin mencelakakannya, bank menyita rumah kami. Ia juga terlibat korupsi.”

“Aku tidak tahu. Maaf, Rosa.”

“Tak mengapa. Kejadiannya sudah lama sekali.”

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Sama saja. Ia agak sedikit terganggu jiwanya. Kau tahu, ibuku tidak bisa tanpa kemewahan.”

“Nah, sekarang ceritakan padaku bagaimana kau bisa sampai ke neraka ini?”

Aku tertawa. “Toni yang memberikan alamatmu padaku. Aku bertemu dengannya di kafe. Kami membicarakan masa sekolah dulu dan saat itulah kami membicarakan tentangmu.”

“Oh, Toni! Ia pernah datang kemari tapi aku tidak berani membuka pintu. Dia selalu tahu tentang apa pun!”

“Toni masih menyukaimu!”

“Apa dia bilang begitu? Kalau waktu itu aku membuka pintu dan ia melihat keadaanku, ia pasti tidak suka lagi padaku.”

“Tidak. Dia memang sudah tahu. Aku tidak percaya dengan ceritanya, itu sebabnya aku datang kemari.”

“Bagaimana dia bisa tahu? Aku tidak pernah keluar rumah kecuali pergi ke pasar dan mengantar anak ke sekolah.”

“Dia sering melihatmu di pasar. Dia punya toko di pasar. Sebenarnya milik kakaknya, tapi Toni kadang-kadang diminta untuk menjaganya.”

“Begitu? Ya ampun, aku malu sekali.” Rosa terisak-isak sambil menutup mukanya.

Aku harus dapat mendeskripsikan keadaan Rosa yang sekarang agar tulisanku nanti terlihat meyakinkan. Tapi, sepertinya aku harus menulis garis besarnya dulu. Aku ingin mengeluarkan buku catatanku dan menulisnya secara sembunyi-sembunyi.

“Kau ingat Bogie?” tanyaku untuk menggali lebih dalam tentang perasaannya.

“Ya. Sang pembuat onar di kelas.” Rosa tertawa dan mengusap air matanya.

“Istrinya juga gemuk seperti dia. Kau pasti tidak percaya, betapa ramah dan periang istrinya.”

“Kau bertemu mereka dimana?”

“Aku bertamu ke rumah mereka. Bogie menyampaikan undangannya melalui email untuk disebarkan ke teman-teman yang lain.” Aku berhenti sebentar untuk melihat wajah Rosa yang tiba-tiba berubah tidak senang. “Maaf. Kami tidak tahu mengenaimu, Rosa.”

Rosa menunduk lagi sambil menarik-narik ujung taplak meja. “Aku sudah dilupakan.”

“Tidak. Kami hanya tidak tahu cara menghubungimu.”

“Aku memang sudah dilupakan. Kalian bersenang-senang sedangkan aku di rumah tidak pernah beres.” Ia menarik lagi ujung taplak meja.

“Tidak benar begitu. Kami saling menanyakan keberadaanmu. Kami juga waktu itu bertanya tentang Toni. Kalian berdua sama-sama menghilang.”

Toni dan Bogie adalah dua di antara beberapa lelaki yang secara terang-terangan berani mendekati Rosa. Di kelas, anak laki-laki suka menggunakan pecahan cermin yang mereka simpan di dalam saku lalu mengarahkan pecahan cermin itu menghadap cahaya matahari. Cahaya yang terpantul diarahkan ke wajah Rosa untuk mengalihkan perhatiannya.

Tiba-tiba seorang bocah laki-laki menerobos masuk sambil membawa layang-layang yang sobek dan seikat benang yang tergulung di kaleng bekas minuman. Ia terpaku di tempatnya sambil melihat ke arahku dan Rosa.

“Bapak pulang,” sahutnya berat. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang melakukan pengakuan dosa.

“Dimana dia sekarang?” Rosa bertanya gugup kemudian menoleh ke arahku seakan meminta persetujuan.

Suaminya sudah berdiri di depan pintu dan masuk ke dalam dengan langkah yang terhuyung-huyung. Sepertinya ia berusaha untuk tetap berdiri tegak dengan muka tertunduk. Ia memakai topi sutradara yang disampirkannya di bahu kursi lalu menjatuhkan dirinya ke bawah. Aku terkejut dan segera ingin menolongnya. Tetapi, Rosa menahanku dengan menggapaikan tangannya di depanku.

“Apakah dia mabuk?”

“Tidak. Dia memang seperti itu kalau sedang ada masalah.” Rosa masih memasang wajah siaga. Aku melihat bocah laki-laki tadi terdiam sambil menggulung benangnya. Si kecil berhenti bermain dengan remah rotinya. Kami semua memandang laki-laki yang tiba-tiba terjatuh tadi.

Laki-laki itu bergerak sedikit, aku mengira ia akan mengamuk. Aku harus mengeluarkan buku catatanku sekarang dan menuliskan semua reaksi yang baru saja ditunjukkannya. Tapi tidak akan sempat, kami semua masih was-was memperhatikan laki-laki itu. Tiba-tiba ia membuka matanya, menyampirkan sedikit badannya lalu bangun cepat-cepat, kembali berdiri dengan tegap.

Ia tertawa. “Bagaimana? Cukup meyakinkan bukan?” Ia mengibaskan mantel kelabunya yang rasanya tidak akan bersih dari debu yang melekat.

“Apa-apaan kau ini? Kau mulai lagi?” Muka Rosa memerah.

“Baru saja aku ikut jadi tokoh figuran. Mereka memberiku dua ratus ribu rupiah. Apa yang kulakukan? Sekedar jalan-jalan saja di belakang pemeran utama yang sedang bercakap-cakap. Mereka menyuruhku berjalan bolak-balik dua kali, aku melakukannya dengan senang hati. Aku bertanya apakah nanti wajahku akan terlihat juga di TV, mereka bilang tidak. Hanya punggungku saja yang terlihat dengan mantel yang berkibar-kibar. Tak mengapa, kataku. Banyak sekali yang ikut menonton shooting film itu. Kata mereka, filmnya akan tayang tahun depan. Kau harus menontonnya, Ros. Suamimu masuk TV.” Laki-laki itu tersenyum lebar. Ia kembali menepuk-nepuk mantelnya.

Rosa membeku di tempatnya. Ia meremas terus celemeknya dan kulihat matanya berkaca-kaca. Ia menahan sesenggukannya lalu berlari masuk ke kamar. Suaminya tercenung sebentar lalu ikut menyusul ke dalam.

Ini kesempatanku untuk menulis. Aku mengeluarkan buku catatanku dan melanjutkan tulisan yang tadi. Barangkali aku akan mencoba melanjutkan dengan kalimat ini: ”Rosa sebenarnya  adalah gadis cantik di sekolah kami. Aku berani bertaruh tidak ada satu pun anak laki-laki yang tidak menyukainya. Tapi apa mau dikata? Bukankah ini nasibnya? Toni dulu anak paling pintar di kelas tapi sekarang suka menghabiskan waktu di kafe. Dan Si Bogie gendut? Betapa baik nasibnya. Ia yang terkaya di antara kami. Padahal guru kami pernah menyumpahi ia tidak akan menemukan kesuksesan karena suka membuat onar.”

Sementara aku sendiri bagaimana? Ya, aku ini bagaimana? Aku hanya seorang penulis amatir yang masih terus saja menulis dan berharap akan ada media yang bersedia memuat karyaku. Inilah perubahan. Kau harus menerimanya. Karena cerita ini berfokus pada Rosa, aku akan memberi judul “Primadona”. Aku akan menyelipkan banyak pesan moral dalam karyaku ini agar orang-orang yang membacanya merasa tercerahkan. Setelah selesai, aku akan segera mengirimnya ke media yang tersohor. Barangkali akan mendapat mujur dan karyaku dimuat. Apa lagi yang akan kutulis? Ya, apa lagi?

Aku terus memaksa diriku menulis. Aku tidak menghiraukan bocah laki-laki yang masih memegang layang-layangnya dan adiknya yang duduk di pangkuannya. Aku tahu, mereka terheran-heran melihatku. 

Sepanjang Hari Hujan

Cerpen Tjak S Parlan
Terbit di Harian Padang Ekspres, 13 November 2016
Narator Noer Atmaja

Sekembalinya dari dapur, Zubay langsung duduk di sampingku. Ia meletakkan teko dan memutar pegangannya ke arahku. Aku menuangkan teh ke dalam dua cangkir porselen di atas tatakan piring itu; satu untuknya dan satu untukku. Cahaya lampu menerangi ruangan tempat kami berada. Remang cahayanya membuat meja kayu di depan sofa panjang tempat kami duduk bersebelahan, menjadi tampak lebih tua. Kini ruangan itu berbaur dengan aroma tipis teh hangat yang khas dan bau hujan dari luar yang menyusup hingga ke dalam.

“Ah, aku lupa. Apa kau ingin beberapa potong roti?” tanya Zubay.

“Sudahlah. Biar aku saja.”

Aku beranjak ke dapur tanpa menunggu persetujuan Zubay. Saat aku kembali dengan beberapa potong roti dan sebotol selai, Zubay mulai menghirup tehnya dengan meniup bibir cangkirnya terlebih dahulu. Zubay tidak pernah lupa dengan kebiasaannya yang satu itu. Bahkan saat ia sedang minum air dingin pun, kebiasaan itu masih terbawa-bawa. Aku kerap tersenyum saat memergokinya.

“Cuaca semakin buruk. Mereka tak akan datang lagi.”.

“Mungkin saja begitu. Hmm, dingin sekali.”

“Apa kau ingin merokok?” tanya Zubay.

Aku mengambil sebungkus kretek dari dalam saku jaketku dan meletakkannya di atas meja. Sudah berhari-hari rokok itu tak berkurang satu batang pun. Aku hanya sesekali menciumnya, sekadar mengobati ketagihanku pada aromanya. Belakangan dadaku sering terasa sesak dan Zubay mulai batuk-batuk. Jadi kupikir, tak ada salahnya jika aku berhenti merokok. Setidaknya menunggu hingga kondisi Zubay normal kembali. Tentu saja, semoga pada saat itu juga dadaku sudah tidak sesak lagi.

“Benar, mereka tak akan datang lagi. Bagaimana menurutmu?” Zubay kembali menegaskan pertanyaanya kepadaku.

“Entahlah, dengan hujan dan angin seperti ini? Ya, walaupun sebenarnya mereka biasa berkendara, kan?”

Sekilas Zubay menatapku. Sambil menahan batuk, ia mengoleskan selai kacang di atas setangkup roti tawar dan menyodorkannya padaku. Aku menerimanya dan membagi separuh untuknya. Tapi ia menolak. Zubay memilih kembali menghirup tehnya. Sesekali matanya menyinggahi seonggok pesawat telepon yang kedinginan si sudut ruangan. Sejak menempati rumah ini, kami tak pernah memindahkan pesawat telepon itu dari sana. Benda itu selalu tidur manis di atas sebuah meja marmer mungil. Belakangan benda itu semakin jarang berdering hingga membuatnya tampak begitu bosan dan kedinginan.

“Semakin lebat. Kenapa tak kau tutup saja tirainya?” Zubay beranjak ke depan. Ia menarik tirai jendela kaca yang sengaja kusingkap untuk melihat pemandangan di luar. Tumben, kali ini ia protes. Biasanya Zubay juga senang melihat rintik-rintik hujan di luar melalui tirai yang terbuka separuhnya itu, apalagi jika diselingi dengan minum-minum teh dan kudapan a-la kadarnya. “Nanti kalau mereka datang, kan juga terdengar suara klakson mobilnya,” katanya kemudian.

“Makanlah dulu barang sepotong. Kalau kau mau, sebentar biar kuhangatkan kari untukmu. Apa selai ini akan membuat batukmu bertambah parah?”

Zubay hanya menggeleng. Aku segera mengoleskan selai pada setangkup roti lainnya dan memberikannya pada Zubay. Kali ini ia menerimanya setelah terlebih dahulu membagi separuhnya untukku. Zubay tampak sedikit menikmatinya. Tiba-tiba aku teringat koran harian yang belum selesai kubaca tadi pagi. Di rumah ini, akulah yang paling rajin membaca koran. Zubay lebih suka membaca resep masakan di sebuah majalah. Dulu, saat anak-anak kami masih sering datang, mereka selalu membawakan majalah wanita untuknya. Setelah membaca, Zubay akan suntuk mencatatnya dalam sebuah lembaran-lembaran kecil dengan bahasa yang dipilihnya sendiri. Lalu pada sebuah Minggu pagi —saat aku masih mengantuk— Zubay akan lupa di mana menaruh catatanya dan mulai berteriak dari dapur. Jika sudah begitu, aku harus menemaninya di dapur dan membacakan resep untuknya langsung dari sumber aslinya sampai ia menyelesaikan tamasya kulinernya.

“Sepertinya masih akan lama kondisi seperti ini. Makin parah dengan terputusnya akses ke luar kota akibat salah satu jembatan penghubung ambrol gara-gara banjir. Jadi beberapa kendaraan harus jalan memutar memilih jalur alternatif…”

“Di tengah hujan seperti ini?” sela Zubay. “Ini pasti gara-gara sampah. Entahlah, sampai kapan kota ini akan terbebas dari banjir. Bagaimana menurutmu?”

“Ya, bisa jadi. Tapi aliran itu tidak hanya mampat di sana saja. Coba kau lihat di seputaran sini. Bagaimana mungkin di atas sepanjang trotoar yang dulunya saluran irigasi itu berdiri bangunan-bangunan baru. Bagaimana air bisa mengalir?”

Zubay meraih sweater yang sedari tadi tersampir di punggung sofa dan memakainya sambil menguap kecil beberapa kali. Aku kembali menuangkan teh ke cangkirnya yang masih berisi setengah. “Tambah lagi, biar lebih hangat badanmu,” kataku.

Aku melirik arloji di tanganku. Sudah hampir pukul dua siang. Meskipun derasnya mulai berkurang, hujan tampaknya masih lama akan berhenti. Satu dua kilatan petir menembus jendela kaca yang bertirai di ruang tamu hingga cahayanya sebentar mampir ke wajah kami. Gelegar suaranya sedikit mengagetkan Zubay.

“Jangan-jangan mereka juga terjebak di sana. Tapi mereka pasti berkabar, kan?”

“Tentu saja mereka akan memberi kabar,” kataku selang-seling menatap Zubay dan pesawat telepon yang mengonggok bisu di meja marmer itu.

Kali ini, tiba-tiba aku benar-benar ingin menyalakan rokok. Aku mungkin bisa merokok di dapur sambil menghangatkan kari untuk makan siang kami berdua. Tapi mendengar batuk-batuk kecil Zubay, aku menjadi tidak tega untuk meninggalkannya. Lalu seperti biasa, seperti seorang pecandu yang putus asa, aku menghirup aroma kretek itu tepat di ujung hidungku.

“Apa kau ingat, di mana aku menaruh sirup rasa jeruk itu?” tanya Zubay

“Tadi aku melihatnya. Biar kuambilkan.”

Aku berlalu ke dapur, berharap bisa menemukan obat batuk yang pernah kulihat sebelumnya. Seingatku ada di atas kulkas. Tapi sekarang di mana? Apa aku memasukkannya kembali? Ah, tidak mungkin. Aku tadi cuma mengambil roti. Aku ragu, meski akhirnya kubuka juga. Dan ternyata benar, sirup obat batuk itu berderet bersama dengan dua botol selai yang sudah kosong isinya. Aku tersenyum waktu mengambilnya. Sambil menertawai ingatanku sendiri aku kembali ke ruang tamu.

Aku segera membuka tutup botol obat batuk yang sekaligus dijadikan takaran untuk meminumnya itu. Setelah menuang ke takaran sesuai dengan yang tertera dalam aturan pakai yang begitu sulit kubaca, aku memberikannya pada Zubay. Zubay menerimanya dan langsung meminumya dengan sekali teguk.

Aku kembali duduk di samping Zubay dan mulai melanjutkan membaca koran. Beberapa pejabat daerah yang tersangkut korupsi masih terus memiliki peluang sebagai headline sepanjang minggu ini. Hanya saja, kali ini foto halaman muka menampilkan sebuah jembatan yang ambrol, dengan beberapa mobil, sepeda motor dan orang-orang yang berkerumun di sekitarnya. Tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. Meskipun begitu, sempat membuat jalur macet total hingga beberapa hari ke depan. Beberapa berita lainnya hanya seputar kenaikan harga. Langkanya bahan-bahan baku di dalam negeri hingga harus rela mengimpor dari negara lain, ada juga beberapa berita hiburan yang ringan.

Setelah selesai menyusuri lembar demi lembar halaman berita, aku berhenti sejenak di halaman hiburan. Sepertinya aku tertarik untuk mengisi TTS. Aku mulai mengingat-ingat di mana aku bisa mendapatkan pensil atau semacamnya. Aku baru saja akan bertanya pada Zubay yang mulai tampak gelisah, ketika ia menyelaku dengan sebuah pertanyaan.

“Apa kita harus setuju dengan ajakan mereka? Maksudku apa kita memang harus ke sana, tinggal di rumahnya?”

“Tenanglah. Jika kau mau kita bisa tinggal sementara waktu di sana. Kau bisa memilih di rumah Nito, Bram, atau si bungsu, July. Iya, kan? Mereka akan patuh pada keputusan kita. Lihat saja nanti,” aku mencoba menenangkan Zubay.

“Aku berharap merekalah yang di sini. Ya, salah satunya. Menetap. Kau tahu, mereka semua tumbuh besar bersama-sama di sini, bukan? Semuanya di rumah ini.”

“Ya, aku tahu itu. Tenanglah. Aku selalu bersamamu. Mereka juga.”

“Tapi mereka belum pernah datang lagi. Apalagi dalam cuaca seperti ini. Benar, kan mereka akan datang?” Zubay semakin bersikukuh dengan pertanyaannya.

Aku berhenti membaca koran dan menaruhnya di atas meja. Menuangkan kembali teh yang sudah berkurang hangatnya ke dalam cangkirku. Mengoleskan kembali selai kacang di atas setangkup roti lainnya, membaginya berdua untukku dan untuk Zubay. Sementara, di luar hujan masih terus berderai; meski kecil-kecil sepertinya akan menjadi rintik-rintik yang tahan lama.

Zubay mencoba menikmati roti selai buatanku sambil terus menahan batuk. Rupanya sirup yang diminumnya tadi belum cukup bereaksi. Bahkan batuk-batuk itu semakin tinggi intensitasnya. Wajahnya tampak kelelahan. Sebulir keringat dingin pecah di keningnya. Keningnya terasa hangat saat tanganku menyentuhnya dengan lembut.

“Ya, Tuhan. Kau mungkin kambuh lagi. Biar aku teleponkan dokter untukmu,” kataku sambil berlalu meraih gagang telepon.

Namun aku terus termangu menatap angka-angka di tubuh pesawat telepon itu. Tiba-tiba itu menjadi sebuah persoalan rumit dalam kepalaku. Aku mencoba memencetnya, memilih nomor-nomor yang seoalah-olah kuingat dan menunggu beberapa saat suara di kejauhan sana. Tapi aku hanya mendengar suara hujan bercampur sesuatu mirip angin yang berdesis dan batuk-batuk tertahan Zubay. Aku mencoba memencet nomor-nomor itu lagi, nomor-nomor lainnya yang sebentar-sebentar hilang dari kepalaku. Sedikit ragu aku menoleh ke arah Zubay. Ia hanya menggelengkan kepala berkali-kali.

“Di mana buku telepon itu?” tanyaku

Zubay menggeleng sekali lagi. Saat itulah aku merasa, bahwa kami sudah cukup tua dan begitu ringkih. Pastinya akan lebih mudah dikalahkan oleh hujan dan angin di luar sana. Lalu aku menutup telepon itu seperti semula dan kembali ke sofa hanya untuk memeluk Zubay yang mulai menggigil. Badannya panas, bulir-bulir keringat dingin bertebaran di keningnya.

“Lebih baik kita ke dalam saja. Tidak sampai malam mereka akan datang. Percayalah.”

Zubay mengangguk. Tertatih aku memapah tubuhnya menuju sebuah kamar. Kamar tempat kami dulu selalu menidurkan ketiga anak kami dengan penuh kasih. Biasanya mereka akan lebih cepat pulas, terutama pada saat hujan seperti ini. ()

(Terbit di Harian Padang Ekspres, 13 November 2016)

Pesawat Kertas

Penulis Yuditeha
Versi cetak Gora Pustaka Indonesia 2019
Pencerita Noer Atmaja
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Tersebutlah lima sekawan yang kompak. Yang pertama bernama Anjani yang berarti putih, kedua bernama Hepita yang berarti putri, ketiga bernama Kamal yang berarti luar biasa, keempat bernama Nursam yang berarti cahaya matahari, dan kelima bernama Sehar yang berarti cerdas. Meski mereka berbeda sifat tetapi selalu rukun. Suatu hari mereka memutuskan untuk bertanding membuat dan menerbangkan pesawat kertas. Siapa di antara mereka yang bisa menerbangkan paling jauh pesawat kertas buatannya, dialah yang menjadi juaranya.

Hari yang ditentukan tiba. Kelima sekawan telah bersiap. Yang digunakan untuk bertanding adalah tempat favorit mereka biasa bermain, di sebuah kebun yang cukup luas, belakang rumah tak berpenghuni yang di dekatnya ada sungai kecil yang airnya sangat jernih. Masing-masing dari mereka sudah menyiapkan kertas sebagai bahan membuat pesawat. Begitu pembuatan pesawat kertas telah selesai, mereka berlima siap di tempatnya masing-masing untuk menerbangkannya.

Dari kelima sahabat itu, hanya Nursam yang sangat yakin akan memenangi pertandingan itu. Sedangkan yang lainnya lebih menikmati uforia kegembiraan bertanding. Ketika sudah siap, mereka memberi aba-aba bersama-sama. Satu, dua, tiga…. Pesawat kertas mereka terbang.

Setelah masing-masing melakukan pengamatan sendiri-sendiri, pesawat Sehar menempati urutan ke-4, dan pesawat Anjani meraih nomor 3. Lalu yang berhasil menempati urutan ke-2 pesawat milik Kamal. Dan tidak disangka, yang meraih juara pertama si cantik Hepita. Mereka tampak bersuka ria. Tapi sorak-sorai mereka seketika terhenti usai mendengar peringatan “Stop” dari Hepita.

“Ada apa Hepita?” tanya Kamal.

“Pesawat Nursam mana?” tanya Hepita. Spontan mereka melihat ke arah Nursam, yang ternyata sedang nangis terisak.

“Nursam kenapa?” tanya Anjani. Tanpa bicara tangan Nursam menunjuk ke arah sungai. Ternyata pesawat Nursan sedang hanyut di sungai kecil itu. Tanpa diberi aba-aba keempat teman Nursam mendekati pesawat. Mereka saling bantu untuk meraih pesawat Nursam yang hanyut. Saking gembiranya mereka seperti tak peduli basah, bahkan tak peduli tentang peringkat juara yang ditentukan di awal. Kegembiraan itu terasa sempurna kala Sehar memanggil Nursam untuk ikut larut dalam kebersamaan itu.***

Katastrofa

Cerpen Han Gagas
Versi Cetak Harian Kompas, 21 September 2015
Narator Noer Admaja
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

Begitu Astrid turun di sebuah stasiun kecil yang lengang, cahaya rembulan membius sepasang rel membuatnya tampak lebih pucat dan kaku. Lampu-lampu merkuri berpendar redup membuat segalanya tampak murung. Penumpang yang turun tak lebih dari tiga orang, kecuali Astrid, mereka bergegas ke pintu keluar.

DINGIN makin menggigit tulang, jarum jam menunjuk pukul 02.30, Astrid merekatkan jaket, dan duduk di sebuah kursi panjang di koridor stasiun. Toko-toko telah tutup padahal perutnya keroncongan. Seorang petugas stasiun memerhatikannya sebentar lalu kembali mengurung diri dalam siaran televisi di depan loket karcis yang tutup.

Saat Astrid meregangkan tubuh, tiba-tiba muncul sosok kecil dari dalam gerbong yang mangkrak. Langkahnya pincang. Terbawa hatinya, Astrid mendekat tapi ia nyaris mati ketakutan saat melihat sepasang mata anak itu yang mendelik. Bulatan hitamnya nyaris tiada, bagian putihnya melotot sempurna!

Ketakutannya buyar, saat jaraknya dengan anak itu makin dekat dan cahaya lampu merkuri menyinari sosoknya lebih jelas. Wajahnya seperti bengkak dengan dahi yang lebar, sedang rahangnya ciut, tangan kanannya bergerak acak tak terkendali. Kepalanya selalu meleng.

Sosok itu langsung menikam perasaan Astrid.

“Maaf, aku bantu….”

 

Astrid memapahnya pelan, mengajaknya duduk. Angin musim kemarau menghempas kencang. Atap stasiun yang melengkung dan lebar berderit-derit. Kawanan kelelawar terbang, mencicit menghunus senyap malam, lenyap di balik menara pengawas.

“Mengapa keluar malam-malam, dingin sekali bukan?” kata Astrid sambil menuntunnya duduk.

Anak itu hanya diam. Bajunya kumal robek bau apak, dan tubuhnya yang penuh daki membuat bau tubuhnya menyengat tajam. Astrid sesekali menahan napas.

Si petugas datang mendekat.

“Anda hendak ke mana?” tanyanya ringan.

“Saya… hmmm, belum tahu, tampaknya saya ingin menunggu kereta selanjutnya.”

“Masih lama. O ya, dia hanya gembel yang tidur dalam gerbong itu, anda tak perlu repot, dan cukup kasihan saja dengan memberinya uang buat beli makan,” tunjuknya pada si bocah.

Astrid tak mengerti arah bicara petugas itu, apakah sedang memerasnya dengan memakai anak ini, ataukah tengah bersimpati padanya yang masih berpikir antara ingin menolong atau segera mengurus keperluan sendiri.

“Bapak tahu?” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Semua orang stasiun tahu, ia anak yang sangat menyedihkan. Kita semua harus kasihan padanya, orang tua yang kejam, bapak ibunya meninggalkannya begitu saja dalam gerbong. Ia tak hanya buta, bisu tapi juga….” Ia tak melanjutkan kata-katanya.

Astrid tak ingin mendengar apa yang mau dikatakannya karena dengan melihat anak ini saja rasanya sudah cukup. Kata-kata bisa menjadi garam yang menaburi luka pedih, membuat rasa sakit makin bertambah sakit. Ia pilih mengelus rambut anak itu yang kasar bagai ijuk. Pasti sudah berminggu-minggu tak keramas. Mulutnya menguap memerlihatkan gigi-gigi kuning dan kotor, menguarkan bau tak sedap yang menyengat, Astrid menahan napas, dan memalingkan muka. Sikapnya terbaca si petugas.

“Oh tentu ia tak pernah mandi, orang-orang yang kasihan hanya  melemparkan makanan ke dalam gerbong dan ia memakannya seperti monyet. Gerbong itu seperti kandang buatnya, namun itu pula yang membuatnya tak kedinginan dan kehujanan. Dia hanya akan keluar saat stasiun sepi seperti sekarang. Kerumunan orang membuatnya takut.”

Penjelasan petugas itu bagi Astrid terlalu banyak, ia bosan dengan kata-kata, ia mengelus rambut anak itu yang rasanya seperti mengelus dirinya sendiri, rasanya ada kesepian yang sama, kesendirian, dan derita yang sama sebagai sesama perempuan.

“Tidakkah selama ini ada seseorang yang mencoba untuk membantunya?”

“Anda boleh bertanya demikian namun jangan sampai anda berpikir akan mengajaknya pergi. Telah banyak orang yang mengajaknya bahkan membawanya ke panti asuhan, merawatnya dengan baik, namun ia selalu kembali ke sini. Otaknya lemah, mungkin juga telah rusak, dan karenanya banyak orang yang merasa punya hak menghina dan merendahkannya. Barangkali karena itu ia pilih kembali ke sini.”

Udara dingin kembali menggigit tulang saat angin menghempas kencang menerbangkan koran dan kertas tisu. Lampu merkuri stasiun berpendar di sepanjang koridor menyinari kursi-kursi panjang yang diam, dan membeku. Kaca-kaca toko, papan reklame, dan neonbox mulai mengembun.

Astrid merogoh saku, mengambil sejumlah uang, dan mengangsurkannya pada bocah gembel itu.

“Apa kau lapar?”

Bocah itu mengangguk, langsung berdiri dan berjalan terseok-seok. Astrid mengikuti dan menggandengnya.

“Hati-hati di jalan, percayalah kau tak perlu membawanya lebih jauh dari warung di ujung stasiun. Sesudah ia makan, biarlah ia kembali ke sini, dan kau melanjutkan perjalanan!” teriak petugas itu dengan nada panggilan kau yang aneh, tak lagi bersikap sopan santun seperti tadi. Kali ini ada nada perintah yang otoriter dalam ucapannya.

Astrid mengangguk. Mereka menyusuri rel, menuju terang lampu yang berkerlip dari sebuah warung tenda kaki lima.

Sepanjang jalan, gadis itu melenguh namun suaranya seperti tersangkut di tenggorokan. Hanya terdengar suara hah-huh yang keluar. Kepalanya selalu meleng, dan tangan kanannya bergerak tak terkendali.

Mereka memasuki warung yang sepi. Hanya seorang penjual yang duduk terkantuk-kantuk. Mendengar pembeli datang ia terbangun, dan melihat si bocah gerbong, tanpa bertanya ia membuat teh hangat, mengambil nasi, membuka bungkus dan menyajikan semuanya di muka bocah itu.

Tangan si anak mulai meraba-raba, menemukan nasi dan makan dengan lahap. Kepalanya yang meleng nyaris menempel pada permukaan meja. Jemari tangan kanannya dengan cekatan menjumput nasi dan memasukkannya ke mulut. Dari kejauhan barangkali orang akan melihat caranya makan seperti binatang. Wajahnya tak menghadap apa yang dimakan, menengadah tanpa ekspresi, dan makan cepat dengan jemari yang belepotan.

“Mbak tak makan?” tanya si penjual.

Seolah ingin menghapus rasa tak percayanya melihat cara makan anak itu, tanpa menjawab pertanyaan, Astrid mendekati makanan yang tersaji, mengambil sebungkus nasi, lauk, dan duduk di samping si bocah.

“Jahe panas,” katanya lirih.

Penjual itu langsung membakar jahe di atas bara dari arang. Ia memutar radio baterai kecilnya, membuat suara kerit sebentar yang kemudian melatunkan lagu kenangan.

Widuri elok bagai rembulan… oh sayang…

Widuri indah bagai lukisan… oh sayang….

Penjual itu ikut menyanyi mengikuti lagu dari radio. Wajahnya mulai bersinar, tampaknya telah hilang rasa kantuknya. Sembari bernyanyi asal-asalan, ia melangkah mengambil sebungkus nasi lagi, membuka, mengambil lauk, dan kembali menaruhnya di depan bocah itu. Melihatnya seperti melakukan hal yang sudah biasa menimbulkan pertanyaan pada diri Astrid.

“Apakah ia sering makan di sini?”

“Sering. Ada saja orang yang mengajaknya ke sini.”

“Termasuk petugas itu?”

“Petugas mana?”

“Petugas stasiun yang tua dan botak.”

Penjual itu tak menjawab, wajahnya terlihat mengerut aneh seperti tak biasa, hal yang ditangkap Astrid sebagai sebuah ketidakwajaran.

“Petugas itu bilang banyak orang yang ingin mengajak anak ini pergi, namun ia selalu kembali, kembali ke dalam gerbong itu,” tunjuk Astrid pada gerbong mangkrak yang nyaris tenggelam dalam kegelapan.

Penjual itu seakan malas mendengar ucapannya, bibirnya tersenyum kecut.

“Apakah ada yang salah dengan perkataan saya?”

“Tanyalah pada orang lain, aku takut dikira bikin onar!” serunya sambil duduk di kursi, matanya memejam, bibirnya mengatup beku. Udara makin terasa dingin. Angin menggoyang-goyang ke-4 ujung tenda yang masing-masing diikat oleh tali tambang ke sebuah pengait di lantai. Astrid memerhatikan bocah itu yang tengah makan, tampaknya itu suapan terakhir, dan si penjual mendiamkan saja. Barangkali memang sudah jadi kebiasaan ia makan nasi dua bungkus. Tangannya meraih segelas teh hangat, dan meminumnya beberapa tegukan.

“Apakah kau nyaman tinggal di gerbong itu?” tanya Astrid ragu. Ia tak tahu apakah bocah ini mengerti atau tidak, ia hanya mengikuti nalurinya untuk mengajaknya berbicara.

Gadis kecil hanya melenguh pendek. Tanpa disadari Astrid, dia berdiri, menundukkan badan, dan tersenyum, bibirnya lebih tampak seperti menyeringai, lalu berjalan terseok-seok menyusuri rel kembali.

“Mbak tak usah heran, setelah kenyang dia langsung pulang, dia sudah hapal jalannya,” katanya sambil menyajikan segelas jahe yang mengebulkan uap.

Astrid hanya ternganga heran, menatap sosoknya yang membelah kegelapan. Punggungnya tersapu cahaya samar lampu merkuri. Sepasang rel yang pucat mengiringi langkahnya yang sesekali tersaruk-saruk karena tersandung batu bantalan rel.

“Mbak tak perlu merasa bersalah, dunia memang kejam, kabarnya ibunya ingin anak itu mati dalam kandungannya, ia minum banyak pil, namun nyatanya anak itu lebih kuat dari obat aborsi, ia lahir dalam keadaan yang begitu menyedihkan.”

Astrid hanya diam, perasaannya ngilu.

“Ibunya, apakah punya alasan?”

“Apa maksud Mbak?”

“Apakah ibunya korban perkosaan?” tanya Astrid. Ia ingat nasibnya sendiri, ia tahu pula bahwa korban perkosaan bisa hamil.

“Tidak, tidak. Kakeknya tak menyetujui pernikahan mereka.”

“Kakek? Masihkah ada kejadian itu di jaman sekarang.”

“Masih, lihat itu, lelaki botak petugas itu, dia adalah kakeknya. Ah…” Lelaki tua itu seperti menyesal karena terlalu banyak bicara.

“Petugas itu?”

“Ya, kalau tanpanya, bagaimana bisa seorang gembel boleh tidur seenaknya di gerbong yang walaupun mangkrak, stasiun ini juga jawatan resmi milik pemerintah.”

Dari kejauhan, Astrid melihat si petugas mendekati langkah anak itu, meraih tangan kanan, dan menggandengnya berjalan. Lampu merkuri yang paling dekat dengan mereka berkedip-kedip seperti hendak mati. Angin masih bertiup kencang menghempas tenda warung. Astrid menguatkan kelopak matanya, menahan air mata yang hendak jatuh.

 

 

Senja di Pangrango

Cerpen: Marina Herlambang
Narator: Noer Atmaja
Ilustrasi Musik Endah Fitriana

 

Dari kabut yang mulai tipis di antara daun dan semak setapak pangrango, matamu sayup, menatap kosong bebatuan, jalan seolah tak berujung dengan batuan yang tidak sama rata, kakiku terpeleset oleh licin lumut yang menempel di setiap batu,

“Berjalanlah di depanku”  Ucapmu, sesaat kuperhatikan wajahmu, wajah itu nampak sedikit berubah dengan bulu-bulu di bawah hidung dan  sekitar dagu, mungkin dia sedang malas bercukur beberapa hari ini, atau memang dia sengaja memelihara kumis dan janggutnya, aku sadar satu hal bahwa usia kami sudah semakin dewasa, bahkan menua,

“Kita hanya bisa menunggu waktu”  sampai waktu mempertemukan dan membawa kami ke lembah ini.

“Pangrango..”  Tanpa banyak berucap aku berjalan di depannya, membiarkan waktu mecipta hening, kami sama-sama diam, entah karena berkonsentrasi dengan jalan setapak yang harus dilewati atau kami diam dengan pikiranmasing-masing, atau mungkin dia sedang memikirkan aku dan  kekasihnya yang sekarang, dan aku pun sedang memikirkan dia dan kekasihku yang sekarang, entahlah, kami terbalut hening.  Kadang aku masih belum percaya bahwa laki-laki yang hari ini bersamaku mendaki jalan setapak adalah dia, laki-laki yang pernah ingin meminangku beberapa tahun lalu.

 

****

“Adikku sudah menikah, coba kau dekati ibuku, siapa tahu dia memungutmu jadi menantu” Aku tercekat, dia sahabatku, atau mungkin kepalanya habis terbentur batu ketika mendaki Gunung Semeru.

“Masa aku harus mendekati ibumu, memangnya aku mau menikah sama ibumu apah” Aku paham betul maksudnya, namun aku kurang yakin.

“Ya enggak lah, bodoh sekali kamu ini” kami sempat melakukan beberapa hal, memberi tahu orang tuaku, memberi tahu orang tuanya, mencari waktu kapan?. Hingga suatu hari ketika rasa ingin memiliki begitu kuat namun harus terbentur dengan jarak, keegoisan untuk saling mempertahankan pendapat masing-masing.

“Aku harus pergi ke Michigan”

“Kita menikah sekarang, jangan pergi”

“Menikah denganmu adalah impianku, namun kau tahu upayaku untuk mendapatkan beasiswa itu”

“Waktu akan merubah siapa pun, termasuk kau dan aku”

Matamu merebak aku bersikukuh dengan pendapatku, begitupun juga dirimu, kita sama-sama meradang, sama-sama terdesak situasi, kau harus mengembangkan perusahaan keluargamu dan aku harus melanjutkan kuliahku ke Michigan, kota kecil di benua Amerika.

“Baiklah tak perlu ada komitmen, jika itu kau anggap akan mengungkungmu. Selesaikan urusanmu, begitu juga aku, jika kita berjodoh kita akan kembali bertemu” kami sepakat untuk menjalani waktu yang biasa, tanpa rasa, tanpa rindu dengan jarak, meski kuakui tak merindunya adalah hal yang mustahil bisa kulakukan, namun keegoisan, keadaan, kebutuhan yang menuntut, memaksa untuk sepakat, mengubur rasa sementara, meski berat, karena keputusan sudah ditetapkan.

 

****

Aku berhenti, nafasku sesak, aku mulai terbatuk,

“Kalau cape istirahatlah” aku duduk di atas batu besar jalan setapak, batukku semakin keras, nampaknya aku sudah tak terbiasa untuk berjalan terlalu jauh.

“Mau minum” ada nada khawatir dari suaranya. Aku menggeleng, sekilas kuperhatikan wajahnya, kekosongan masih nampak, kami masih saling diam. Apa yang sedang kau pikirkan, lelaki berwajah pucat yang pernah menjadi milikku dulu. Masih kuingat gigilku pada salju Michigan ketika hatiku begitu merindunya, rasanya lebih sesak dari ini. Kami sama-sama membisu, betapa tidak ruang dan waktu bersekutu mempermainkan kami. Di sana mungkin seorang gadis mempertanyakan kemana dia pergi hari ini, dan aku harus berbohong pada kekasihku. Dia benar waktu akan merubah segalanya, namun waktu pula yang kembali mempertemukan kami. Ingin kutanyakan bagaimana kabar percintaannya sekarang, rasanya aku pun tak akan mampu menjawab jika dia menanyakan hal yang sama padaku, masih kuingat saat kami berpetualang menyusuri pesisir pantai, bergumul dengan ombak, menyelam dan bercanda dengan para ikan badut di dasar laut. Atau ketika kami berpetualang pada lembah, bukit, danau, bahkan ketika kami membuntuti para gerombolan kupu-kupu dan  capung di ladang ilalang. Ingin mengulang masa yang sama namun tak mungkin dia sudah menjadi milik kekasihnya dan aku menjadi milik kekasihku sekali lagi dia benar waktu bisa merubah segalanya.

“Akkh..” aku terpekik, kakiku terpeleset dengan sigap tangannya merengkuhku,

“Cari batu yang rata untuk pijakan, sepertinya habis gerimis batunya jadi agak licin” ucapnya tanpa menoleh kearahku,

“Maklum aku sudah mulai tua, sudah lama tak mendaki rasanya cape sekali” nafasku terengah-engah sambil berjongkok aku mengatur nafas dan batukku

“Istirahatlah dulu kita lanjutkan beberapa menit lagi” aku hanya mengangguk kemudian duduk pada batu besar di pinggir jalan setapak,

“Sebaiknya kita mendaki tak perlu sampai ke puncak, kau akan kehabisan tenaga nanti” aku hanya mengangguk sambil menarik nafas kuperhatikan tatapannya yang masih kosong begitupun dengan aku, kemudian kami terus berjalan mendaki dan terus mendaki, melewati beberapa telaga yang dulu pernah mengukir cerita tentang aku dan dia.

“Tak perlu ke lembah edelwise” dia memandangku untuk beberapa saat, kemudian menarik nafas dalam dan menghembuskannya, seperti menahan beban yang sangat berat.

“Baiklah kita mendaki sampai Curug Cibeurum saja” aku mengangguk, sebenarnya hatiku yang lelah, tersesat pada labirin-labirin kenangan bersamanya. Dan aku harus kembali terdampar pada kenyataan, dia bukan miliku lagi.

 

****

Derasnya air terjun mengingatkanku pada musim gugur di Michigan,  hawa sejuk yang sama, yang dalam sepoi anginnya selalu menerbangkan rindu untuknya, lelaki yang berada di sampingku. Kutatap wajahnya, mata itu semakin dalam menatapku,  semakin dekat, mendekap “Aku sangat merindumu, apakah kau tahu itu?” dapat kudengar detak jantung yang terpompa sangat cepat, “Aku pun sama” aku ingin kembali pada waktu di mana kita saling berjabat erat, andai kau tahu itu. Kunikmati kehangatan meski sejenak, mengulum rindu meluapkan rasa yang bergemuruh.

“Kita harus pulang”  perlahan kurenggangkan tubuhku, aku merasa terdampar pada hutan ingatan, kami lupa bahwa seharusnya ini tak pernah terjadi.

“Kita pulang sekarang” kau masih lekat menatapku,

“Berlarilah bersamaku” kemudian tanganmu menggengam erat tanganku, pada perjalanan  pulang, kita tak hanya berjalan menuruni jalan setapak, kadang berlari juga melompat, tak kurasakan rasa lelah meski batu-batu mulai membuat lecet jempol kaki. Beberapa kali aku terpeleset, beberapa kali juga tanganmu yang kokoh merengkuhku,

“Kita tak akan terjatuh percayalah padaku, aku akan melindungimu” kau tersenyum, wajahmu tak lagi kosong, sorot matamu begitu hidup, kita lupakan sejenak tentang dia yang menunggumu di sana dan ia yang sedang menungguku di tempat yang lainnya. Aku  hanya ingin berlari berlari bersamamu menuruni bukit. Berlari meninggalkan kekosongan yang tadi.

 

****

Matamu menatapku lekat, kau tersenyum, kita sama-sama merasa puas mendaki dan menuruni setapak Pangrango, meski bebatuan terjal dan licin lumut mengintip, namun kita mampu melewati hal itu.

“Maukah kau kembali bersamaku” seulas senyum dari bibirnya yang tipis dan tatap dari sudut matanya yang lancip membuat jantungku berdegup semakin kencang.

“Bawa aku pergi” ucapku. Benar katamu dulu, kalau memang jodoh tak akan lari kemana, kita sama-sama tak mungkin lagi untuk terus membohongi ia dan dia, kekasihmu dan kekasihku, terlebih lagi membohongi perasaan sendiri. Mungkin ini yang terbaik untuk semua, bagaimanapun akan sangat menyakitkan untuk Ia jika tahu kau mencintai aku, dan akan sangat menyakitkan untuk dia jika tahu aku mencintaimu. Senja mulai menyebar jingga dari balik bukit. Cahayanya yang ranum menerpa wajah kita, kau dekap aku lebih erat lebih dekat, dalam hati berjanji, aku tak akan mau lagi berpisah denganmu, karena hatiku sudah memilihmu, miliki aku dengan cintamu.

 

 

 

 

 

Paket Daun Lumbu Untuk Rumpun Melatiku

Penulis : Nashita Zayn
Versi cetak antologi Joglo 8 Shinigami, Taman Budaya Jawa Tengah
Penutur : Noer Atmaja
Ilustrasi musik : Endah Fitriana

“Selamat pagi Rumpun Melati. Hey, kau di sana. Aku titipkan paket untukmu yang dibawa oleh kawanan burung emprit sahabatku. Balas jasa karena aku telah merawat kawannya yang mati kemarin dibidik anak kampung dengan ketapel lambung. Sudah aku coba merawatnya. Lukanya terlalu parah, terlalu banyak darah. Sudah aku bilang padanya. Berhati-hatilah saat mengambil bulir padi. Penjaganya banyak sekali. Mereka berketapel ranting setinggi, berpeluru kerikil dan bermata jeli, sangat-sangat ahli,” gumamku sendiri berharap suara ini terbawa angin dan sampai padanya.
Kuingat kata emprit malang ketika itu, “tidak apa-apa aku mati dalam kewajibanku, mencari makan untuk anak-anakku.”

“Tapi kamu mencuri. Dianggap pencuri padi yang ditanam paman petani,” kataku.

“Aku hanya menjalankan perintah dari Tuhan, untuk mengambil seperduapuluh bagian dari setiap bulir padinya,” jawab Emprit sambil menahan sakit.

“Itu pekerjaan yang sangat beresiko, sangat berbahaya. Mengapa Dia tega menugaskan kamu mengambil bagian itu?” Protes spontan atas ketidaktahuanku yang membuat Emprit tersenyum di tengah ringisannya.
“Itu tugas mulia kami. Masih sama tugasnya seperti saat pertama Dia menciptakan nenek moyangku untuk mengambil zakat dari setiap bulir padi, agar manusia sadar dan peduli adanya bagian zakat setiap bulirnya bagisesama manusia. Ini berat, tapi Dia adil. Aku diberi-Nya sayap, sehingga aku bisa melihat keindahan bumi dari atas sana. Perdagangan yang sangat adil menurut kami.”
Burung emprit sahabatku terbatuk lalu muntah darah. Aku seka dengan lenganku, tapidia melemah.
“Aku akan segera menghadap Rabb-ku, adakah sesuatu yang akan kamu titipkan?”
Aku bisikkan di dekat telinganya. Aku titipkan paket ini. Jarum dan benang warna sari pelangi. Jarumnya dari duri kaktus suci. Benang dari serat pelepah pisang raja sedang bunting, yang selalu berdoa kepada-Nya untuk keselamatan sang jabang jantung pisang.  Pembungkusnya daun Lumbu yang kalis air, diikat pita warna jambu dari kembang Turi. Aku titip untuk Rumpun Melatiku. Tarian cintaku terlalu bersemangat saat menyematkan puja-puja, dan ternyata aku belum pandai menarikannya. Banyak daunnya yang sobek. Ada ranting tergores. Putiknya merana. Sampaikan padanya paket ini, yang di dalamnya  juga aku masukkan daun sirih anti bakteri, sehingga benang dan jarum ini anti infeksi.

Burung emprit sahabatku tersengal-sengal. Matanya menutup, paruhnya mengatup, ia terbatuk-batuk.

“Bagaimana cara kawananku menemukan Rumpun Melatimu?” tanya Emprit sangat pelan.

“Mudah saja. Terbanglah ke taman sari. Carilah Rumpun Melati terelok di sana. Pokok rumpunnya seperti penari. Cabangnya seperti lengan berjemari penari Legong. Bunganya paling indah dan wangi. Sampaikan paket ini padanya, bacakan mantra untuknya. Tolong tirukan suara dengungku. Agar ia tahu bahwa aku yang telah mengirimnya.”

Matahari meninggi, aku tutupi kepala Emprit malang dengan daun lumbu. Ia menghela nafas satu-satu dan didekapnya erat paket titipanku. Seiring dengan hembusan paru-parunya yang paling bungsu, dia pergi menghadap Rabb-nya menuju surga burung-burung. Disaksikan kawanan emprit yang sangat berduka.

Setelah menimbun temannya yang barusan mati dengan kelopak bunga kamboja, paketku dibawa kawanan emprit ke arah utara.

Malam cepat merayap, warnanya  gelap, suasana senyap makin menyergap dan seketika membuatku terkejap. Dalam hati aku banyak berharap semoga paketku kau terima dengan cepat, hatiku menderap rapat. Kunyanyikan kidung malam dengan suara dari gesekan lar sayapku, suaranya merdu dipadu dengan kecipak ikan gabus yang memangsa belalang.

***

Mentari dua puluh derajat miringnya, disana cahaya berpendar nanar.  Tampak siluet biru tua berpadu biru muda. Gunung Merapi berasap dari kejauhan, bergandengan terus dengan gunung Merbabu. Mesranya!

Selamat pagi Rumpun Melati. Sudahkah kau terima paketku yang berbungkus daun lumbu dengan pita merah jambu? Jahitlah lukamu dengan jarum dan benang sari pelangi. Warna hijau untuk jahit daunmu, warna putih untuk jahit bungamu, warna abu
untuk ranting-rantingmu…. Memang sedikit perih, tapi daunmu akan segera rapih. Spaleg rantingmu yang patah.Jepit dengan lidi dan ikat dengan benang, sampai yang patah tersambung, yang tercerabut akan terhubung.

Kumbang ini malu. Aku terbang hilir mudik hilang arah. Jangan diingat penyebab robeknya. Ingat saja benang yang merapihkannya. Aku jamin sepenuh
cinta, cinta kepadamu Rumpun Melatiku, dari sumber cinta karena-Nya sang penciptamu. 

Setelah kau terima paket itu, tolong tuliskan pada selembar daunmu. Bubuhi dengan aroma putik.Lalu titipkan pada angin kemarau utara. Akan kuminta sahabatku laba-laba menangkap pesan pada daunmu dengan jaringnya. Tahukah kau? Aku bersalto sangat cemas.

Pernah kau bilang, kurang subur lagi tanah di sekelilingmu…. Tenang sayang, akan kuminta para cacing tanah berdansa tango agar tanah meremah hara. Kabut pagi tadi, terasa sejukkah di kutikulamu? Hatiku merana lama tak jumpa denganmu. Aku malu temui dirimu.

Hiasi pokokmu dengan renda. Mohon usir semua duka nestapa. Akan kuminta ulat hijau membuatkannya dari daun nangka. Daun nangka tua warna kuning merah. Daun nangka muda warna hijau cerah. Dikombinasi kelopak tua bunga nangka di atas dan di bawah. Kau akan terlihat cantik. Menarilah Legong untukku saja. Tentu akan kudengungkan mantra-mantra mengiringi gerakan jemarimu dibantu semilir sang bayu.

Pasti semerbak bau buana dan lantunan doa agar turun hujan pun membahana. Sehingga akan terhiasi daunmu bak bulir embun, dan berpendarlah cahaya mentari pagi melewati setiap rumpun. Embun laksana intan berlian berwarna pelangi, hiasi seluruh tubuhmu yang harum mewangi. 

***

Selamat siang rumpun melatiku. Mentari sembilan puluh derajat, tepat di atas jidat dengan panas yang menyengat. Angin utara tak jua membawa daun pesanmu. Tadi laba-laba berkata, belum ada pesanmu yang terjala. Hanya dua ekor lalat kurus yang menggelepar tak berdaya.

Waktu berjalan laksana kura-kura. Aku tak sabar. Tapi aku harus sabar dengan gemuruh dada yang makin berkobar. Aku redam dan aku siram dengan air dari daun pohon badam. Aku hinggap di atas pucuk sengon laut yang pucuk daunnya dihiasi warna kuning pucat. Rantingnya yang masih hijau aku cecap, tapi nafsu makanku lenyap terambil oleh Rumpun Melatiku yang sangat kuharap.

Matahari semakin miring ke barat. Warnanya kekuningan dengan warna semburat merah.Belum ada surat dari jejaring laba-laba. Apakah kau lupa dengan alamatku, sayang?

Disini ku nanti. Mata air dengan pohon randu gumbala yang berusia ratusan tahun mengumpulkan milyaran embun. Di kanan dan kirinya tumbuh talas lumbu juga di sebelah batu tumbuh pohon sirih yang berumpun seperti mahkota ratu. Di seberangnya tumbuh rumpun bambu kuning yang rebungnya manis sama seperti nektarmu.

Jangan pergi Rumpun Melatiku. Jangan menyerah. Tolong jadikan cintaku sebagai penyemangatmu walau kau rasakan lemah.Pelajari lagi agar cinta itu segera membuncah. Tetaplah berdoa kepada Sang Penguasa, agar hujan membawa rindu yang pergi.

 Wahai cintaku. Kudoa agar kau mau memaafkan keliruku. Ataukah kau lupa padaku, kumbang yang menarikan tarian cinta dengan semangat membara? Sudah aku teriakkan namaku berkali-kali kepadamu: Tonggeret! Tapi kau diam ikuti, tetap memendam setinggi. Wahai Rumpun Melatiku, akan aku kirimkan lagi paket daun lumbu  satu-satu. Sampai kaupun tahu. Hari esok pasti lebih baik tanpa terpekik.”’

……..

Air matanya menggenang di pelupuk. Nyaris jatuh mencari teduh setelah membaca tulisan Priya sampai akhir. Tak mudah akhiri semua dengan berlari, andai Tuhan beri kekuatan untuk berlari.

“Untaian kata-katamu terlalu merayuku,” katanya parau.

“Lalu bagaimana, Amara? Maukah kau memberiku kesempatan lagi?” desak Priya yang lebih suka memanggil gadis itu, Rumpun Melati. Bening mata yang berkaca-kaca, tak mudah mengartikannya. Amara masih terpana datar. Inginnya Priya mendekap Amara erat.

Priya semakin optimis. Hanya butuh waktu sebentar untuk mengembalikan kepercayaan Amara. Tinggal sedikit lagi. Priya akan tunjukkan kalau ia pantas menjadi sang juara menyisihkan kompetitor lain. Amara tak boleh meragukannya lagi. Karena cintanya memang tak biasa. Cinta yang bertanggungjawab. Seindah puisi-puisi cinta yang terlahir setiap detik dalam getar suar asmara bumi. Setelah bertahun-tahun lamanya tidakkah ini cukup bukti?

Meskipun Tuhan selalu campur tangan, Priya merasa penentu pilihan. Hal hidup bersambung Amara, itu semua karenaperannya. Silau materi wanita, Priya pastikan semua bisa ia persembahkan jika Amara minta. Setiap orang butuh pendewasaan. Tentunya tak ada alasan pengingkaran. Doa yang tak lepas menderas. Caci yang tak lagi memaki. Priya harapusahanya meruntuhkan dinding setinggi milik Amara.  Pujaan hati yang berhati lembut, penyabar, sederhana, bahkan sangat pemaaf. Dialah Rumpun Melati yang sanggup mewangikan keindahannya.

“Ampuni aku?” pinta Priya sambil tersenyum lebar.

Amara menggeleng dengan rekah senyum tipisnya.

“Kenapa?” Priya masih berusaha setegar Tonggeret, pemilik banyak paket daun lumbu yang akan terus berjuang sampai mati.

“Maaf, karena kau psikopat…,” jawab Amara kemudian berlalu pergi.

Cerpen – Lukisan Siluet

Cerpen Ary Yulistiana

Versi cetak: Antologi Cerita: Suatu Pagi di Karlovy Vary

Narator: Noer Admadja

download

Malam ini, untuk kesekian kalinya, engkau mengajakku pergi berdua. Bukan untuk pergi berpesta, atau menyesap candu lalu terlena. Namun cukup sekadar berjalan mengikuti kaki melangkah yang terkadang tak tentu arah. Hanya berbincang tentang apa saja. Menghirup udara malam sambil sesekali melempar pandang ke arah bintang. Atau jika beruntung sembari mengirimkan senyuman kepada purnama yang anggun dan menggetarkan. Katamu setiap malam adalah istimewa, setiap malam adalah perayaan yang selalu berbeda, setiap malam adalah tabir misteri yang tak pernah sama. 

Malam masih sepekat jelaga saat tanganmu yang dingin menggamitku dengan mesra, menyusuri pedestrian di jantung kota. Kawasan yang tak pernah jenuh berdenyut dalam keramaian, tak pernah sepi dari lalu lalang orang dengan segala kesibukan. Jantung kota ini selayak tempat di mana gelak tawa bercampur dengan suka cita, ruang di mana perbincangan hangat berpadu dalam kasih mesra, dan sudut-sudut yang merekam kasak-kusuk rahasia yang berseling dusta. Di antara cangkir-cangkir kopi yang sedap aromanya, di sela-sela kepulan asap rokok yang tak berjeda, bersanding dengan santapan dari kedai-kedai kaki lima.

Aku selalu mencoba memahami kesenanganmu untuk menikmati malam. Mencoba untuk menyelami dan menikmati gelap yang berhias kerlip bintang dan rona rembulan. Hingga pada akhirnya aku juga selalu merindukan malam. Aku selalu terlena dengan suasana syahdu dan romantisnya malam-malam temaram. Aku kini menyepakatimu bahwa waktu terbaik kita bertemu adalah saat malam tiba.

Aneh juga kalau orang hidup dengan bekerja mati-matian di siang hari dan kelelahan tak berdaya di malam hari. Padahal betapa sayang suasana yang ada untuk dilewatkan. Tak perlu jauh-jauh pergi berwisata untuk bisa melipur hati. Malam yang datang pun sudah sangat menyenangkan untuk dijelajahi.

Seperti halnya situasi pedestrian di malam ini. Satu sudut menawarkan keriuhan orkestra jalanan yang membuat siapapun ingin menari di sana, dengan para pemain musik yang tampak bergairah menghangatkan suasana. Sudut lain tampak ramai dengan kerumunan anak muda yang menghabiskan makanan dari penjaja kaki lima, juga penuh dengan senda gurau yang terlihat seru dan gembira. 

Engkau mengajakku menikmati sudut yang berbeda malam ini. Pelataran sebuah toko yang disulap menjadi kafe di malam hari. Di salah satu sudutnya ada van yang dimodifikasi menyerupai bar tempat menyiapkan pesanan makanan dan minuman. Di belakang, mural dengan tulisan yang mengisahkan filosofi biji-biji kopi menjadi latar yang meneguhkan eksistensi tempat itu sebagai kafe yang kekinian. Alunan musik yang tidak terlalu kencang membangun suasana yang rileks dan nyaman. 

Dua meja sudah terisi. Di meja terluar ada dua orang gadis yang sedang bercengkerama sambil membahas sesuatu di layar ponsel mereka. Pada meja lain sekelompok lelaki berkumpul entah membicarakan apa, tampak serius di antara kepulan asap rokok yang tanpa sela. Engkau mengajakku di sudut paling dalam. Aku setuju saja sebab aku juga menyukai posisi itu. Posisi di mana kita bisa bebas mengawasi orang lain namun orang lain tak bebas untuk melakukan hal yang sebaliknya. 

Seorang lelaki muda berpakaian kasual dengan sigap menghampiri sambil membawa buku menu. Tanpa membaca, engkau memesan secangkir espreso hangat dan dari daftar menu aku memilih mix fruit juice. Menu yang kubaca ternyata tak memaksa pengunjung kafe ini untuk menikmati kopi saja, namun juga menu lain untuk yang berbeda selera. 

Sesaat aku dan dirimu sama-sama diam, memandangi jalanan yang silih berganti dengan segala macam lalu-lalang orang. Sungguh kota yang layak menyandang julukan sebagai kota wisata pilihan, sebab banyaknya manusia dengan bermacam ras dari berbagai belahan dunia meramaikan pedestrian. Aku melirikmu dalam diam. Meski masih membuatku bertanya-tanya tentang arti diammu, aku selalu berusaha menghargai pilihan sikapmu.

Saat aku hendak memulai pembicaraan, pelayan kafe kembali datang. Membawa secangkir espreso hangat dengan latte art bergambar daun seperti yang sering kulihat di berbagai iklan atau di majalah. Engkau tersenyum senang mendapati latte art itu dan mengatakan tidak tega meminumnya sebab demikian manis penyajiannya. Aku tertawa kecil melihat kekonyolanmu. Perbincangan beraroma espreso berhias latte art itu kemudian membawa kita pada pembicaraan berikutnya yang sambung menyambung dengan segala peristiwa. Diiringi senyuman, tawa, dan sesekali meleratkan duka saat mengenang kisah luka.

Saat pembicaraan masih belum terhenti, datanglah seorang seniman jalanan menghampiri meja. Seorang lelaki paruh baya dengan topi pet berwarna coklat yang seolah ingin mengesankan bahwa dirinya adalah seorang seniman.

“Mau dilukis siluet? Pasti Nona akan terlihat cantik dengan tambahan bulu mata yang lentik.”

Ramah lelaki itu menawarkan seni jalanan kepadaku. Lukisan siluet, demikian lelaki itu menamainya. Dengan cekatan dibukanya papan besar berisi potongan karyanya dan beberapa foto serta tulisan-tulisan. Dijelaskannya secara singkat tentang seni lukisan siluet itu. 

“Saya akan membuat lukisan siluet secara langsung dengan melihat wajah Nona.” 

Lelaki itu kemudian menjelaskan teknik menggunting kertas linen berwarna hitam untuk membuat lukisan siluet sembari mengeluarkan peralatan lainnya. Ia lalu berkisah begitu saja. Bercerita bahwa konon istilah siluet berawal dari seorang Menteri Keuangan Perancis abad ke-17, Ettiene de Silhouette yang memberlakukan pajak tinggi kepada orang-orang Perancis. Dampak kebijakan ekonomi keras Silhouette itulah yang menyebabkan namanya menjadi istilah untuk hal-hal yang diusahakan lebih murah. Pada masanya, profil siluet adalah cara termurah untuk mendokumentasikan penampilan seseorang. 

Aku mengangguk-angguk takjub meski kedatangan seniman itu cukup mengejutkan. Rupanya ia berhasil membuat orang memperhatikannya pada kesempatan pertama. Kepandaiannya bertutur menyihirku untuk menerima kehadirannya.

Ia tunjukkan hasil lukisan siluetnya yang berupa tampak samping wajah-wajah orang terkenal di negeri ini. Dengan melihat siluetnya, aku bisa menebak nama-nama mereka. Sebagian besar di antaranya adalah pejabat. Aku semakin  kagum dan tertarik dengan keahlian lelaki itu. Namun kulihat engkau tidak terlalu suka. Entah tidak suka dengan kedatangan lelaki itu yang menurutmu mengganggu, atau tidak senang dengan lukisan siluet yang hitam legam itu. Akupun tidak terlalu ambil pusing dengan sikapmu.

Lelaki seniman itu lalu memperkenalkan diri, 

“Nama saya Davin.”

Aku tersenyum lebar, 

“Davin? Bagus sekali.”

Ia terkekeh, dengan setengah berbisik ia berkata sambil telapak tangannya dibentangkan di samping mulutnya. Seolah memberitahukan sebuah rahasia.

“Itu nama saat di jalanan, nama seniman.” 

Aku tertawa kecil, terhibur dengan sikapnya yang tampak jenaka. 

“Apa arti nama Davin, kenapa memilih nama itu?”

Ia tersenyum simpul, 

“Davin merupakan potongan dari nama da Vinci. Leonardo da Vinci. Saya sangat mengagumi da Vinci.” 

“Kalau menggemari da Vinci kenapa tak melukis saja?” tanyaku sembari mengingat-ingat sang pelukis Renaisans dari Italia itu.

Ia menaikkan alisnya,

“Kalau melukis dengan cat dan kuas di atas kanvas kan sudah biasa. Kalau melukis dengan menggunting seperti ini tentu lebih istimewa.”

“Jadi dibuatkan siluet?” lanjutnya. 

Aku mengangguk dan melirikmu, engkau turut mengangguk dengan ekspresi wajah yang datar.

Davin menyiapkan peralatannya untuk membuat siluet  wajahku. Sehelai kertas linen hitam telah disiapkannya dan tentu saja gunting kecil yang katanya selalu ia perhatikan betul mata pisaunya agar menghasilkan potongan yang tajam dan akurat sesuai bentuk aslinya. Aku dimintanya menghadap ke arah depan dan Davin duduk di sampingku. Ia bekerja sambil terus menggunting kertas yang ada di tangannya dan sesekali melihat wajahku. 

Aku senang sembari berdebar-debar, akan menjadi seperti apakah hasilnya? Tidak sampai lima menit kemudian, Davin mengatakan dengan suara rendah, sudah selesai. Aku melihat hasil guntingannya dan menjerit kecil sebab gembira. Hasilnya bagus sekali dan kurasa itu benar-benar bayangan wajahku dari arah samping. 

Lalu kuberikan pujian dengan setulus hati atas bakat yang dimiliki Davin. Namun engkau tampak gelisah. Aku agak terkejut sebab biasanya engkau sangat menikmati suasana malam. Ah, mungkin espresomu tadi terlalu pekat sehingga cukup sulit untuk berpikir tenang seperti biasanya. Atau engkau mungkin tak suka dengan pujian yang kulontarkan kepada Davin sebelumnya.

Lalu aku bertanya soal kepandaiannya menghasilkan karya dengan bermodalkan gunting dan kertas. 

“Pernahkah salah menggunting saat membuat lukisan siluet?”

Davin menjawabnya sembari menempelkan siluet hitam ke atas kertas putih dan mengemasnya dengan plastik transparan.

“Tak pernah salah, sudah ribuan wajah saya buat siluetnya. Tak pernah meleset. Sudah belasan tahun saya tekuni. Setiap kertas yang saya gunting sudah pasti selesai untuk satu orang.” 

Aku mengangguk senang dan kuminta engkau bersiap-siap untuk dibuatkan siluet serupa. Aku setengah memaksamu saat itu. Engkau bilang tak suka digambar siluetnya, namun aku berusaha meyakinkanmu dengan segala macam cara hingga engkau menyerah pada akhirnya. Davin mengambil posisi di sebelahmu dan kubiarkan Davin untuk membuat siluet wajahmu.

Suara gunting yang menari di atas kertas menandakan pekerjaan Davin dimulai. Engkau tampak gelisah sehingga aku memintamu untuk tenang sebab pasti kau akan terlihat tampan meski hanya dalam siluet. Aku meminta engkau mempercayai Davin untuk karya seni yang ia persembahkan malam ini.

Namun gelisah ternyata kemudian juga merayapi Davin. Lelaki paruh baya itu tampak tercekat dan seperti akan mengeluarkan suara tertahan. Lalu ditaruhnya kertas yang selesai diguntingnya itu. Diambilnya kertas yang baru lagi. Kali ini Davin mengusap wajahnya dan menarik napas dalam-dalam. Tak lama Davin meletakkan kertasnya yang telah usai diguntingnya.

Diambilnya kertas yang baru lagi, ditatapnya wajahmu lagi sungguh-sungguh dan terdengarlah semacam suara tertahan di kerongkongan Davin. Aku kasihan dengan Davin yang tadinya mengaku tak pernah salah dalam menggunting lukisan siluet sebab sudah katanya amat terbiasa. Engkau mungkin juga merasa dibohongi oleh akal-akalan seniman jalanan yang entah seniman betulan ataukah seniman gadungan ini.

Namun Davin seperti terhipnotis. Kertas yang telah usai digunting lalu tanpa daya dijatuhkan dan Davin mengambil kertas yang baru lagi serta melakukan pekerjaan berulang. Menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-menggunting-menjatuhkan kertas-

mengambil kertas baru-

menggunting-

menjatuhkan 

kertas…

Dan telah habislah semua kertas hitam milik Davin. Aku belum sempat berkata apa-apa ketika Davin pergi dengan tergesa, hanya membawa serta papan bergambar hasil karyanya yang sejak tadi dibawanya ke mana-mana. Kertas-kertas yang berserakan tidak diambilnya. Davin melangkah amat cepat meninggalkanku, bahkan aku yang sedang mencari-cari uang di saku baju tidak dipedulikan olehnya. Padahal mestinya dia menanti-nanti bayaran ini sebab ia telah bekerja dan tinggal menanti imbalannya. 

Aku mengejar Davin beberapa langkah dan lelaki itu berjalan lebih cepat dari yang kuduga. Aku menghela napas menyaksikan keanehan Davin yang berubah begitu saja. Aku menyerah dan kembali ke tempat semula. Kukumpulkan kertas-kertas hasil karya Davin yang berserak di bawah kursi untuk melihat hasil lukisan siluetnya.

Aku tercekat.

Lukisan siluet yang entah berapa jumlahnya itu menghasilkan siluet yang sama. Wajah dengan tonjolan tanduk di dahi dan bibir dengan taring yang mencuat keluar. Tanganku bergetar hebat, kulihat lembar yang satu lagi, lembar yang satu lagi, lembar yang lain lagi.

Aku mendadak lunglai.

Aku seperti hilang akal untuk memaknai arti hasil lukisan siluet Davin malam ini. Apakah orang itu sebetulnya hanya badut pembuat lelucon ataupun cenayang yang bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata…. 

Aku… memandang ke arahmu.

Kiranya aku menduga yang kedua, sebab baru aku menyadari, 

Engkau pun telah lenyap tanpa suara….

***

2017

 

Ary Yulistiana adalah penulis yang juga seorang pengajar bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Solo. Menulis adalah salah satu caranya untuk bahagia serta turut berkontribusi dalam kegiatan literasi di Indonesia. Buku terbarunya Perpustakaan Raja Badai, sebuah kumpulan cerpen yang ditulis bersama dengan kedua buah hatinya. Bisa dihubungi di ibuary@gmail.com

 

Cerpen – Kidung Natal

Download

 

 

Cerpen Effi S Hidayat

Versi Cetak: Majalah Gadis No.34, 25/12-4/1/1993

Narator: Noer Admaja

 

Panggilan Oma menyentuh gendang telinga Inez. Gadis remaja itu tersentak, menyadari dirinya masih mematung di depan cermin. Lekas-lekas dia menghapus bening yang bergulir di pipinya. Ah, kenapa harus meneteskan airmata lagi? Mata tua Oma yang masih setajam mata elang itu pasti tak dapat dikelabuinya!

Inez segera membedaki wajahnya tebal-tebal.Biarlah, asal Oma tak mengetahui bahwa dia habis menangis.Seulas senyum dipaksakannya muncul di muka cermin. Inez  harus gembira. Ya, dia tidak boleh membuat Oma sedih. Inez tidak mau lagi memandang bayangannya yang memantul di kaca.

Oh, Tuhan, tabahkan hati anak-Mu ini. Inez sempat berdoa dalam hati sebelum keluar dari kamar  mendapati Oma yang sedang menantikannya.

“Wah, cucu Oma cantik sekali!Sirkam mutiara itu serasi sekali menghiasi rambutmu. Ayo, Inez, kita berangkat sekarang. Gereja pasti sudah penuh sesak, “ Oma menyambut Inez dengan segudang pujian. Matanya gemerlap, memandang cucunya yang tampak  ayu dengan gaun Natal berwarna putih.

Hati Inez teriris mendengar ucapan Oma.Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Sirkam mutiara yang disambarnya sembarangan dari meja toilet di kamarnya itu,’kan hadiah Natal dari Mama tahun lalu? Ah, mengapa Mama dan Papa tidak datang menjemputnya? Mengapa mereka tidak bisa bersama-sama lagi mengikuti misa kudus pada malam Natal ini?

Jangan cengeng, Inez! Bukankah kamu sendiri yang tidak mengharapkan kedatangan mereka?Bukankah kamu lebih merasa damai bersama Oma tercinta? Papa dan Mama sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa dengan isterinya yang baru. Dan, Mama dengan Oom Hang? Sudah sepantasnya kamu menolak kehadiran mereka, Inez!

Berbagai perasaan berkecamuk di hati Inez.Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan sesak dalam rongga dadanya.Dia tidak ingin ikut serta menyanyikan kidung Natal yang dahulu pernah begitu disenandungkannya.  Ya, dahulu, ketika Inez masih hidup bahagia bersama Mama dan Papa.

Pikiran Inez terus mengembara, menjelajah pada suatu masa.Ketika itu keluarganya masih utuh.Alangkah indahnya kebersamaan. Tetapi kini, ke mana perginya saat-saat manis itu? Mama dan Papa tidak mencintai anaknya…keluh Inez kecewa.

Seperti robot dia duduk, berdiri, dan berlutut di sisi Oma yang tampak khidmat mengikuti misa yang sedang berlangsung.Inez tidak pernah mengerti mengapa kedua orangtuanya harus berpisah.Mengapa mereka tidak bisa rukun dan hidup damai bersama.

Dan, waktu berlari begitu cepat.Tidak terasa sudah hampir setahun Inez tinggal bersama Oma.Keputusan itu memang sudah bulat.Lebih baik Inez tidak memilih. Toh, sama saja. Inez akan mendapatkan orangtua baru.

Ajaib rasanya.Inez tidak pernah tahu darimana Tante Ella dan Oom Hang tiba-tiba muncul. Mereka datang begitu saja, seperti pencuri di tengah malam, mengambil Mama dan Papanya. Itu sebabnya Inez selalu menghindari mereka.Dia tidak suka pada Tante Ella, terlebih kepada Oom Hang yang merebut perhatian Mama.Apakah Inez salah jika merasa dirinya tidak punya siapa-siapa lagi selain Oma tercinta?

“Lihat, Inez! Anak perempuan yang berperan sebagai Bunda Maria itu Sisi, bukan?Hebat, dia sangat menjiwai perannya. Yang lainnya juga : Edu, Rega…, oh, rupanya mereka anak-anak dari  

“Tri Asih”…”, bisikan Oma menyadarkan Inez. Dia  segera membelalakkan matanya lebar-lebar ketika mendengar nama-nama yang dikenalnya.

Aha, Oma benar! Cerita Natal yang sedang dipentaskan di muka altar itu dimainkan oleh anak-anak “Tri Asih”. Sisi bermain bagus, padahal kedua matanya tak bisa melihat.Begitu pula, Edu, Rega, Rio yang melangkah tertatih-tatih dengan tongkat penyangka kaki mereka.

Inez tersenyum haru.Dia teringat kali pertama mengenal mereka.Anak-anak itu dengan penuh semangat menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untuknya.Dan, Inez merasa bahagia sekali pada pesta ulang tahunnya yang ke-15. Sungguh istimewa hadiah yang diberikan Oma! Melebihi kado-kado mahal yang diberikan Tante Ella dan Oom Hang.

Mau tidak mau Inez teringat kembali pada ucapan Sisi.Anak berusia delapan tahun itu dengan spontan tanpa malu-malu, memuji rasa cake yang dibagikan. “Mbak Inez senang ya, punya oma dan mama-papa yang  baik. Nggak kayak mamanya Sisi yang entah sekarang ada di mana. Eh, tapi biar gitu… Mbak tahu nggak, kalau Sisi suka kangeeen deh, sama Mama?” celotehnya polos sembari menjilati sisa cokelat yang bertaburan di tangannya.

Inez tidak dapat menjawab sepatah kata pun. Diam-diam dia hanya dapat menghapus sudut matanya yang basah.Sisi bilang, bahwa Inez sangat bahagia punya oma dan orangtua yang baik. Ya, Mama dan Papa memang tidak melupakan hari ulang tahunnya. Tante Ella dan Oom Hang juga.Mereka penuh perhatian kepadanya. Tetapi…, oh, Inez benci!

Lakon Natal yang dimainkan di muka altar itu cerita lama.Kisah kelahiran Yesus Kristus di kandang domba, bukti kesetiaan gadis Maria… semuanya tidak ada yang berubah.Dan, mata Inez semakin berkaca-kaca ketika di akhir cerita, Sisi dan teman-temannya menyanyi bersama.Suara mereka begitu bening.Kidung “Bahasa Cinta” yang bergema itu menyelusup ke sudut –sudut hati Inez.

“Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

Agar kami dekat pada-Mu, ya, Tuhanku

Ajarilah kami bahasa cinta-Mu

Agar kami dekat pada-Mu….”

Tanpa sadar perlahan-lahan hati Inez ikut bersenandung.Terasa mulai ada kesejukan yang merambati hatinya.Dia menegakkan kepalanya, berdiri di samping Oma dengan dada yang mulai terasa ringan. Kasih itu sabar, murah hati, tidak sombong, serta rela menderita….

Dan, Inez menerima hosti yang dibagikan pastor dengan kedamaian penuh.Dia mulai dapat merasakan keriangan yang bertebaran di sekelilingnya. Lihat senyum anak kecil yang berpita merah itu manis sekali! Tengok seringai ceria kakek dan nenek di seberang sana. Dan, dengarkan gelak tawa gadis-gadis muda remaja sebaya dengan dia. Wah, tidak sepantasnya Inez bersedih dalam suasana hangat, penuh cinta kasih seperti ini.

“Sisi, drama Natal dan lagunya bagus sekali!” Inez menyapa anak perempuan itu di depan pintu gereja. Misa baru saja selesai.Salam Natal sedang dibagikan di mana-mana.

“Oh, Mbak Inez!Selamat Natal ya, Mbak. Selamat Natal, Oma,” Sisi terlonjak senang mengenali suara Inez.

“Selamat Natal, Inez,” ada suara lain yang menyapa Inez. Gadis itu segera memutar kepalanya. Papa dan Mama berada di belakangnya, memandang puteri mereka sambil tersenyum.

Ah, selalu ada Tante Ella dan Oom Hang! Inez mengomeli dirinya sendiri, dia tidak dapat menghindari ketidaksenangan yang hadir tiba-tiba begitu melihat kedua orang tersebut ‘mengintili’ kedua orangtuanya.Menghalangi getaran kegembiraan yang sekejap dirasakannya begitu dia melihat Papa dan Mama. Mungkin, perasaan Inez sekarang ;  mirip balon yang tiba-tiba mengempis?

“Selamat Natal, Mbak Inez. Senaaang deh, Edu jadi adiknya Mbak!”

“Eh, Rega dan Sisi jugaa…!” Edu , Rega dan Sisi ikut bersorak riang. Membuat Inez terpaku di tempatnya.Dia memandang mereka dengan seribu pertanyaan di kepalanya.

“Inez tidak keberatan,’kan? Anggap saja kado Natal dari kami,” Mama menatap puterinya dengan lembut.

“Mereka menjadi anak asuh kami,” Papa menjelaskan.Inez melihat pula Tante Ella dan Oom Hang menganggukkan kepalanya berbarengan.

Apakah telinganya tidak salah mendengar?Adik-adik asuh? Oh,Tuhan, apakah karunia yang Engkau berikan ini tidak terlampau banyak?

Tentu tidak, Inez.Sepasang orangtua baru juga tidak terlalu banyak untukmu.Tiba-tiba Inez merasa Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaannya selama ini.Dia memalingkan wajah, menengok kepada Bunda Maria yang sedang tersenyum di kapel.

Dahulu, Maria didatangi malaikat dan dititipi pesan untuk melahirkan sekaligus menjaga seorang bayi mungil, padahal saat itu dia belum menikah.Tetapi, Maria menerimanya dengan tulus ikhlas.Ia begitu setia dan percaya kepada-Nya!

Mengapa Inez tidak mencontoh teladan Bunda Maria?Jalan Tuhan banyak macamnya, bukan?Orang-orang dewasa punya permasalahan sendiri.Mungkin, lebih baik Papa bersama Tante Ella. Dan, Mama menerima Oom Hang sebagai pengganti Papa? Ketimbang hampir  setiap malam dahulu mereka selalu bertengkar?

Inez memandang Mama.Ia tahu, kekerasan hatinya telah merintangi Mama. Karena mencemaskan puterinya yang semata wayang, Mama belum bisa memutuskan untuk menerima kehadiran Oom Hang.

“Selamat Natal, Mama. Selamat Natal, Papa. Selamat Natal, Mama Ella dan… Papa Hang,” Salam Natal itu begitu saja meluncur dari bibir Inez.Dan, dia merasa beban di hatinya telah terangkat.

Inez tidak peduli tatapan heran dari orang-orang tercinta di hadapannya.Direngkuhnya mereka satu persatu dengan mesra dan hati yang terasa ringan seperti di awang-awang.

Ya, Tuhan, andaikan dia pahami bahasa semua? Agaknya, hanya “bahasa cinta”-lah kunci semua hati! Dan, kidung Natal itu bergema ke mana-mana. Menyelusupi hati tua Oma yang diam-diam menghapus bening di matanya dengan perasaan bahagia….

 

Catatan Minggu pagi, 10122017

 

>