Dilerai Ombak

Cerita anak Raudal Tanjung Banua
Versi cetak Antologi memetik Keberanian, Gora Puskata Indonesia 2019
Narator Indah Darmasuti
Ilustrasi musik Endah Fitriana

Pantai merupakan tempat bermain yang mengasyikkan bagi Adi, Anto, Kardi, Nuril dan Detarini, serta teman-teman mereka yang lain. Mereka menyukai pantai yang tenang, indah, bersih dan lapang lagi landai. Ombak yang menghempas lalu berdesir, menambah rasa senang. Angin di pucuk-pucuk kelapa pun membelai halus kulit mereka.

Suasana itu menjadikan mereka betah dan leluasa bermain pasir. Mereka membuat rumah-rumahan, patung, terowongan, dan sebagian melukis di atas pasir yang lembut.

Nuril tampak bersemangat sekali menyelesaikan rumah-rumahan yang dibikinnya dari pasir basah. Tetapi di sana-sini sengaja ia taburi pasir kering yang putih sehingga berkilat diterpa sinar matahari, seperti habis dicat. Ia dibantu Adi yang tak kalah bersemangat menyelesaikannya.

Sementara Anto menyiapkan sebuah patung Hanoman, halus dan memikat. Detarini melukis pemandangan laut dengan latar belakang jala dan sampan nelayan sebagaimana yang tengah ia saksikan.

“Hei, lihat, betapa bagusnya patung kijangku!” tiba-tiba Kardi berseru bangga. Rupanya ia baru saja menyelesaikan sebuah patung kijang, besar dan tanduknya bercecabang. “Hebat, kan?” tambahnya sambil berkacak pinggang.

“Apanya yang hebat?” sahut Ayu tak setuju. “Kau membuat patung kijang, sementara kau tahu di laut tak ada kijang, bukan? Yang ada hanya ikan atau camar, seperti karyaku ini,” katanya lagi seraya membanggakan patung ikan tongkol yang baru saja diselesaikannya.

Nuril dan Adi merasa penasaran dibuatnya.

“O, itu belum seberapa, Kawan!” timpal Nuril kemudian. “Lihat, rumah-rumahan kami persis aslinya!”

“Huu, hasil kerja sama. Karya sendiri dong!” sahut Anto tak mau kalah. “Nih lihat, patung Hanoman murni karyaku.”

“Ah, ndak persis,” bantah Aby cengar-cengir. “Coba lihat onde-onde hasil karyaku, persis kan?” Aby ternyata membuat onde-onde, sejenis jajan yang bulat seperti bola pingpong, dari pasir basah, kemudian ditaburi pasir kering yang disebutnya kelapa dan gula.

Walah, gitu aja dibanggakan. Karya kalian tuh biasa saja, yang bagus lukisanku ini!” Detarini tak ketinggalan memamerkan kehebatannya.

Suasana mulai memanas. Masing-masing membanggakan karyanya sendiri. Di antara mereka mulai ada yang merasa jengkel, tersinggung dan mati-matian memperjuangkan karyanya. Kardi yang sejak tadi tersudut diusili, tampak bersiap-siap mendekati Aby. Suasana berubah panas.

“Kawan-kawan, saya harap tidak ada yang emosi. Bukankah ini sekedar permainan?” Nuril berusaha menenangkan.

“Tidak! Aby keterlaluan!” seru Kardi keras.

Suasana benar-benar menegangkan. Nuril merasa cemas kalau gara-gara ini persahabatan mereka terancam pecah.

Akan tetapi apa yang tak diinginkan itu tak terjadi ketika dengan tiba-tiba ombak besar bergulung ke tepi, menghempas keras ke pantai, menyapu habis mainan yang mereka pertengkarkan itu!

Mereka kini basah kuyup, tetapi segera terdengar tawa riang menyambut.

“Terima kasih ombak, kau melerai kami!” teriak mereka bersamaan.

Mereka lalu melanjutkan permainan bersama ombak dan laut.

Yogyakarta, 1999/2018

>