Dongeng – Tupito si Kura-kura Penyanyi

Tupito si Kura-kura Penyanyi

Dongeng: Yessi Sinubulan (FDB 2018)

Narator: Yessi Sinubulan

Ilustrator musik: Mosintuwu Institute

download

Ombak kejarlah daku

Aku bisa lari lebih cepat

Matahari ciumlah aku

Biar aku jadi anak berani

Jadi tinggi dan membawa cahaya

 

Dengarkah kau suara merdu itu? Itu adalah suara Tupito si kura-kura. Ia suka sekali bernyanyi. Ia bercita-cita jadi penyanyi hebat di seantero samudra. Ia tak peduli walaupun orang-orang bilang napasnya pendek dan tak cocok jadi penyanyi. 

Setiap pagi Tupito berdiri dekat pantai, menghadap matahari terbit dan mulai bernyanyi. Saat itu Ibu Tupito sedang mempersiapkan rempah-rempah untuk dijual ke pasar. Dalam keranjang Ibu Tupito ada cengkeh pesanan Nyonya Piping si kepiting. Ada lada pesanan Uub, bapak ubur-Ubur yang istrinya baru melahirkan. Ada kayu manis pesanan Paman Gugu si gurita yang baru buka kedai kopi. Ada pala yang dipesan Bibi Yuyu si hiu. Dia mau membuat kue coklat yang paling besar. Anak bibi Yuyu akan berulang tahun dan Tupito akan diundang untuk bernyanyi.

Tupito berlatih sangat keras. Aaaaaa. Ia membuka mulut lebar-lebar hendak melatih napas. Aaa.. Uhug..uhug. Hidung Tupito kemasukan sesuatu. Hmpph.. Tupito mencoba menarik napas. Kok agak sulit. Sekali lagi. Hmmph. Tupito merasa ada yang mengganggu di hidungnya. Tapi apa, ya? 

Tupito berlari ke ibunya. “ibu lihat ada sesuatu di hidungku?” 

Ibu sedang sibuk sekali mempersiapkan pesanan. “Cepatlah, kita harus menyiapkan pesanan.”

Tupito menurut saja walau ada yang tidak beres di hidungnya. 

Tupito mengambil keranjang cengkeh dan menaruhnya di punggungnya. Tupito berjalan dari rumah ke rumah tapi suaranya tak sebagus sebelumnya. 

Ketika sampai di rumah Nyonya Piping Tupito langsung menyerahkan pesanan. Tapi hidungnya makin terasa gatal. Lalu ia bertanya pada Nyonya Piping. 

“Apakah kamu melihat sesuatu di hidungku?” tanya Tupito.

Nyonya Piping membuka hidung Tupito dengan capitnya. Aww. Tupito malah tertusuk capit. 

“Aku tanya yang lain saja,” katanya. Tupito pun melanjutkan perjalanan.

Ia menyampaikan pesanan lada pada Paman Uub. Suara bayi ubur-ubur terdengar nyaring. Tupito menyerahkan lada. 

“Bisakah kau melihat sesuatu di hidungku?” 

Brakk. Belum selesai Tupito bertanya, Paman Uub sudah menutup pintu. 

Selanjutnya ia berjalan ke kedai kopi. Di sana Paman Gugu sedang sibuk mempersiapkan kedai kopinya. Ini hari pertama buka dan ia sangat sibuk. 

“Ini kayu manis pesanan anda, Pak. Bisakah Anda melihat sesuatu di hidung saya?” kata Tupito. 

“Melihat hidungmu tidak akan membuat warungku bertambah ramai,” kata Paman Gugu galak.

Tupito pun pergi dengan sedih. 

Hidungnya semakin tak nyaman. Di rumah Bibi Yuyu ia memberikan pesanan terakhir.

“Bibi Yuyu bisakah Anda melihat..”

“Tupito sepertinya suara kamu parau. Kalau kamu tak bisa menyanyi dengan bagus, aku tak akan mengundangmu di pesta ulang tahun besok.”

Tupito pulang dengan sedih. Menurutmu apa yang harus dilakukan Tupito? 

Tupito pun pulang dan menemui neneknya. Suara Tupito semakin parau. Mungkin ia terlalu keras berlatih akhir-akhir ini. 

“Nek, bisakah kau melihat sesuatu di hidungku?”

Nenek yang sedang membuat syal cepat-cepat memeriksa hidung Tupito. Astaga!! Apakah kau tahu apa yang masuk ke hidung Tupto?

Sebuah sedotan. 

Kau tahu siapa yang suka minum pakai sedotan? 

Nenek mengeluarkan sedotan dan mengobati hidung Tupito dengan ramuan rempah.

Tupito juga diberi minuman rempah buatan nenek agar tenggorokannya cepat pulih. Syal nenek ia lekatkan di leher. Tenggorokannya jadi hangat. 

Besoknya Tupito bernyanyi dengan sangat merdu sampai seluruh samudra sepakat kalau kelak Tupito akan jadi penyanyi hebat. 

Apakah kamu setuju? Kalau begitu yuk, kita bantu menjaga laut tetap bersih sehingga hidung Tupito tidak kemasukan sedotan. Jadi tidak ada yang menghalangi suara merdunya lagi.

 

Temukan kami di sini!

Leave a Comment