Ditulis dan dituturkan oleh Liston P Siregar
Musik:
- La Ere Gymnopedie (Satie) – Peter Johnston
- 2.Datang Untuk Pergi – Elvy Sukaesih
- The Spirit of Russian Love – Zinaida Trokai
- Moonlight Moovie (ID 1620) – Lobo Loco
Dua pil alergi Ambien, yang mengandung obat tidur, 18 halaman Dokter Zhivago, sisa beban bergadang deadline, plus perdebatan yang melelahkan, melempar Humala telak ke pusat mimpi di Hotel Freedom, tak jauh dari pelabuhan Dili, Timor Timur.
Rongrongan suara mesin AC di atas jendela kamar langsung berubah jadi alunan mesin kapal yang terbuai ombak lembut di Laut Jawa.
Dia bermimpi ketemu Xanana Gusmao di pintu gerbang kompleks lokalisasi pekerja seks komersial Sunan Kuning, Semarang. ‘’Saya sedang mencari Ramos Horta,’’ katanya.
Humala tertawa lepas; ‘’Komandante pasti bercanda. Kalau mencari Ramos Horta bukan di sini, tapi di Kantor PBB di Jenewa sana.”
“Saya serius,” kata Xanana sambil mengelus-ngelus janggutnya dan mengamati dengan seksama orang yang ke luar satu persatu.
Itu urusan dialah, pikir Humala. Tapi pas Humala mau melangkah masuk, muncul Jenderal Sudarman dengan baju batik dan topi hijau bergambar Garuda Indonesia, didampingi tokoh pemuda persatuan Timor Timur, Eurico Guterez, yang berpakaian loreng coklat tanah.
Humala pun langsung berteriak keras ke Xanana. “Lupakan saja Ramos Horta, Komandante. Ini Jenderal Sudarman sama Guterez lebih penting.”
“Ah bung tahu apa. Saya bukan Komandante tapi Presidente. Sudah bung pergi saja sana melonte,” teriak Xanana lebih keras lagi sambil pura-pura tidak melihat Sudarman dan Guterez, yang juga pura-pura tidak melihat Xanana ketika lewat begitu saja di depan mata mereka.
Humala naik pitam dan berbalik mau menghantam Xanana Gusmao.
Jenderal Sudarman dan Guterez memang urusan Xanana, tapi dia terhina berat karena datang ke Sunan Kuning bukan mau melonte, tapi mencari Presiden George Bush –walau sejak awal sudah ada yang mengejeknya: “Kalau mencari Bush ya pergilah ke Gedung Putih sono.”
“Tapi itu urusankulah,” tegasnya, “yang jelas bukan mau melonte.”
Diraihnya potongan batu bata di dalam pot bunga plastik mawar merah, persis di tepi pintu gerbang Sunan Kuning, tapi tiba-tiba sirene mobil polisi berdering-dering memekakkan telinga.
Wekernya: pukul 15.30 waktu Timor Lorosae. Satu jam lagi wawancara di Yayasan Timor, tapi masih ada lima hari sebelum deadline.
***
Habis mandi air dingin, aliran darah di kepala Humala mengalir lembut, dan dia tenggak satu botol Powerade rasa strawberry dari kantin hotel, seharga dua setengah dollar Australia –Anjing Australia… dua setengah dollar untuk sebotol minuman, makinya dalam hati. Tapi Powerade dingin berhasil memulihkan kesadarannya.
Dia mengaso di salah satu bangku di halaman depan hotel yang siang itu kosong, selain seorang pelayan perempuan muda impor asal Filipina yang duduk tak bernyawa di meja kasir. Ia lepas saja matanya jauh ke cakrawala laut biru yang bersih dan lenggang, di seberang jalan.
Penerbangan sekitar empat jam dari Jakarta ke Dili terasa amat melelahkan karena perdebatan tak terfokus dengan mahasiswa yang duduk di sampingnya –Siapa pula nama anak itu…, Humala tak ingat namanya walau berjuang keras memusatkan benaknya.
Pertemuan yang menghancurkan rencana tidur panjang di pesawat untuk membayar hutang begadang deadline 24 jam sehari semalam suntuk sebelumnya.
***
“Mas Humala Gultom kan? Saya dulu pembaca setia Pedoman,” kata anak itu langsung memulai pembicaraan begitu dia tiba di kursinya, bahkan ketika belum tuntas meletakkan tas lap top di kabin atas.
Humala tak sampai hati untuk langsung memutus pembicaraan, sambil merasa agak tersanjung dikenal salah seorang pembaca –Bangga jugalah awak sikit, pikirnya.
Setelah basa-basi perkenalan yang masih bisa ditolerir dengan informasi secukupnya –Humala mau meliput nasib aset warga Indonesia paska kemerdekaan dan anak itu mau jadi sukarelawan di sebuah ornop di Los Palos, kota paling Timur di Pulau Timor— ada harapan pembicaraan terhenti.
Nyatanya anak itu menggugat.
“Pedoman kayaknya kehilangan arah ya Mas?”
”Ah nggak juga,” djawabnya malas-malasan.
”Saya kira majalah mingguan itu terlalu mata duitan, sampai tulisan sponsor saja dimakan.”
“Ah nggak juga…” Humala mengulang reaksinya, tanpa emosi, tak mau terlibat panjang pada tuduhan itu.
“Saya dulu pembaca setia, tapi pelan-pelan malas dan muak,“ tambah anak itu keras dengan mulut dimencongkan.
“Oh ya,” balas Humala makin tidak perduli sambil mengambil Dokter Zhivago dari tas ranselnya di kaki kursi, sebagai isyarat jelas: Marilah kita hentikan perdebatan yang bakal melelahkan dan tak akan kemana-mana.
Tapi mahasiswa itu tak mau membuang waktu, yang sepertinya, merupakan satu-satunya kesempatan untuk mengungkapkan kekesalan tentang sebuah majalah berita mingguan yang pernah dipujanya sebelum menjelma jadi kemuakan.
“Berita-berita politiknya garing semua, tanpa konteks. Cuma gosip-gosip politik,” tambahnya sambil memandang tajam, jauh ke dalam bola mata Humala.
”Bah, jadi masih kau baca juga,” jawab Humala tersenyum kecil sambil membayangkan perjuangan berat media cetak melawan TV hiburan yang makin agresif di pelosok dunia manapun. Dia termasuk yang menentang berat pergeseran kebijakan redaksional yang mengarah ke berita-berita berjudul sensasional tanpa substansi dan mengandalkan wawancara orang-orang yang dicap selebriti.
Dia yakin bahwa akan selalu ada pangsa pasar yang cukup menguntungkan untuk produk-produk apapun -termasuk berita- yang berkualitas dengan fakta akurat dan sumber-sumber yang seimbang. Tapi dia cuma setetes air di lautan kapitalisme yang semakin liar.
“Percayalah, tak hanya sensasi saja yang laku dijual di iklim hiburan sekarang ini,” tegasnya dalam rapat tahunan majalah mingguan tempatnya bekerja. Cilakanya pelan-pelan dia jadi minoritas dan dukungan dari seorang mahasiswa di dalam pesawat tak akan membantu perjuangannya di rapat redaksi, selain cuma mengganggu rencana tidurnya.
Jadi dia buka halaman pertama Dokter Zhivago, yang mengenalkan tentang tokoh-tokoh utama dalam novel klasik itu. Humala tak akan pernah bosan mengulang tuturan-tuturan halus Boris Pasternak tentang cinta dan kemanusiaan.
“Saya sekarang baca Pedoman yang cuma pinjaman, bukan yang beli sendiri. Minjam itu cuma untuk membuktikan kemuakan saya saja. Bagaimana mungkin menulis profil Sudarman yang jadi menteri tanpa menyinggung sedikitpun kerusuhan Mei 1998. Itu membodohi masyarakat. Memprofilkan Sudarman tanpa kerusuhan 1998, tanpa adu domba sesama masyarakat sipil, tanpa penghancuran sistematis Dili… apa kata dunia… ” kata mahasiswa itu dengan suara cukup keras untuk terdengar sebagai teriakan keras di kupingnya namun tidak sampai terdengar oleh penumpang di kursi depan, belakang, dan di seberang gang pesawat.
“Jelas tak perlu memvonis, tapi masak sekedar merelasikan sajapun tidak… Kemane aje Mas?”
“Terus mau apa?” tantang Humala mulai lelah dan kesal namun terprovokasi.
“Ya kalau bisa kembali ke khittah-lah. Puluhan tahun mengaku-ngaku sebagai lembaga demokrasi tiba-tiba jadi pragmatis dan menghalalkan segala cara….”
“Apanya yang menghalalkan segala cara? Bisnis media harus untung, supaya bisa menggaji karyawan, supaya 500 orang tidak kehilangan pekerjaan, supaya 2.000 orang, termasuk anak istri yang 500 orang tadi, tidak mati kelaparan….”
“Tapi apa kalau buat berita yang bagus terus nggak bakal laku? Pedoman malah harus jadi pegangan bagi media-media lain, sesuai namanya. Bukan malah mempelopori tulisan sensasional dan sponsor.”
“Tulisan yang mana yang kau bilang bersponsor.”
“Sudahlah Mas, masak kita harus pura-pura tidak tahu.”
“Kau ini yang tak jelas. Tadi bilang sudah muak baca tapi kau sekarang malah menganalisi berita-beritanya,” sindir Humala dengan suara tajam, sebagai upaya kesekian menutup perdebatan.
***
“Do you want another drink?” tiba-tiba pelayan Filipina yang duduk di meja kasir sudah berdiri persis di depannya. Humala pura-pura tidak mengerti dan pasang muka bodoh –Untuk pelayan saja si pemilik hotel orang Australia harus mengimport cewek-cewek Filipina, keluhnya.
“More drink?” ulang pelayan Filipina itu dengan suara tinggi dan isyarat tangan meneguk minuman ke mulutnya.
Humala menggeleng sambil menajamkan sedikit bibirnya, dan melepas kembali matanya, jauh ke seberang jalan, ke seberang lautan, seperti melihat film All The President’s Men, dengan para wartawan yang akhirnya berhasil meyakinkan para editor dan pemiliknya untuk meliput skandal politik negara.
Diusapnya ceruk matanya dengan sisa-sisa embun dingin di dinding botol Powerade, dan matanya terasa lebih ringan. Masih ada setengah jam lagi sebelum wawancara dengan Direktur Yayasan Timor.
Panas yang terik membuatnya berat bergerak. Pantatnya melekat ke bantalan kursi tipis, dan matanya terikat ke laut biru lepas di seberang jalan.
***
“Oklah Mas, soal tulisan sponsor kita singkirkan dulu. Tapi masak menulis pemilihan umum atau pemilihan presiden cuma sebatas hura-hura kampanye. Mestinya Pedoman mendidik pemilih, bagaimana cara memilih calon yang baik, jangan nerima uang atau sembako dari calon, jangan mau diperdaya politik aliran… Kalau cuma hura-hura, gambar warna-warni, ya itu samalah dengan koran kuning,” rentetan masalah baru berlompatan keluar dari mulut mahasiswa itu, seperti kotak pandora yang terbuka.
Humala diam, membuka kembali halaman pertama Dokger Zhivago, mencoba menemukan kata terakhir yang dia baca sebelumnya. Tapi tak berhasil, jadi diulangnya kembali baris pertama tentang Zhivago: Yury Andreyovich… Yura, Yurochka… Paman Yury Zhivago…
Dia lelah mengulang kembali perdebatan yang itu-itu juga selama dua tahun belakangan, yang diperdebatkan di kantin, di ruang rapat, di koridor kantor, di lift, di perpustakaan, dimana-mana.
Dan lintasan waktu pulalah yang membuat soal itu menjadi hambar; seonggok nasi basi yang tidak bisa dibuang, juga tak bisa dimakan. Teronggok, terlewatkan, terabaikan, terlupakan, tapi nasi basi itu tetap di sana menyebarkan bau busuknya kemana-mana.
“Iklim media sekarang ini udah nggak jelas Mas. Banyak yang punya konglomerat dan sudah pasti menjilat penguasa. Kalau Pedoman kan, milik orang lama, yang lahir dari idealisme jurnalisme, ikut berjuang sama mahasiswa untuk reformasi politik, eh giliran reformasinya tercapai malah mundur jadi kaum mapan yang otaknya cuma uang…” kuliah mahasiswa itu.
Tapi Humala sudah berhasil mengendalikan diri, meredam emosi, dan menatap kosong sandaran kursi di depannya. Halaman satu Dokter Zhivago masih terbuka di pahanya.
“Benar nggak Mas?”
“Ya ada benarnya, tapi tidak semudah itu kawan,” balas Humala mencoba mencairkan perdebatan sengit itu.
“Buat saya mudah Mas. Semua orang tahu media masih untung, tinggal milih mau dapat 15 miliar atau 10 miliar. Tapi ya itu maunya untung harus nambah terus, nggak ada yang terpanggil mengingatkan, ‘cukup ada urusan yang lebih penting’…” mahasiswa itu meneruskan kuliahnya.
Humala sempat tergoda untuk menjelaskan panjang lebar tentang posisinya, bersama sekelompok kecil teman sealiran, juga tentang jurnalisme yang sudah tersederhanakan dengan menjual berita.
Tapi dia sudah lelah, dan gugatan mahasiswa itu membuatnya lebih lelah lagi.
Ditutupnya Dokter Zhivago, dan dengan suara pelan yang tegas dia mengumumkan, “Saya perlu istirahat dulu.”
“Begitulah Mas, semoga Pedoman kembali ke khittahnya, rakyat yang butuh pencerahan di tengah politik yang malah makin korup sekarang ini. Dulu cuma segelintir antek-antek presiden yang korup, sekarang semuanya busuk!,” tutup mahasiswa itu.
Sempat tergoda untuk bersepakat, dia putuskan untuk diam tak bergerak, pura-pura sudah tertidur lelap detik itu juga walau hingga roda pesawat menyentuh bandara Dili sekitar dua jam kemudian dia tidak tertidus sedetikpun selain menutup mata erat-erat.
***
Telepon tangan Humala berdering. Diliriknya monitor; Yayasan Timor. Dimatikannya telepon itu, diangkatnya pantatnya dari bantalan kursi dan kembali masuk kamar. ‘Masih ada lima hari lagi,’ celutuknya dan menelan lagi dua butir Ambien.
Dan Humala bermimpi lagi; dia bertemu mahasiswa itu, yang dia masih saja lupa namanya, di kompleks lokalisasi Pasar Kembang, Yogyakarta.
“Mau kemana Mas,” tanya mahasiswa itu di gerbang masuk Pasar Kembang.
“Ah cuma mau melonte sebentar,” jawabnya ringan sambil matanya melototi kamar-kamar para pekerja seks di kompleks itu.
”Jangan kelamaan Mas, nanti lupa kerjaan,” tegur mahasiswa itu.
“Beres. Kau sendiri ngapain di sini,” tanyanya.
”Ah, cuma mau lihat siapa yang masuk dan siapa yang keluar.”
“Apa banyak yang masuk tapi tak keluar lagi?”
”Banyak, makanya tadi aku ingatkan Mas.”
Telepon tangan Humala berdering lagi, tapi di mimpinya terdengar sebagai lullaby yang disenandungkan seorang perempuan bergincu merah di Pasar Kembang, yang pernah jadi sinden sebelum bioskop Studio 21 berdiri. Senandung indah yang menyerap masuk ke dalam hatinya.
Humala-pun meneruskan mimpi.
***