-Widyawati Puspita Dewi-
Ibuku bukan Ibu yang penuntut. Sepanjang hidup dari dulu hingga kini, ia adalah wanita paling sabar yang pernah kutemui. Kesabaran yang dimilikinya luasnya seperti laut.Tutur katanya pun halus, santun.Tak tahu dari mana hatinya berasal, begitu aku sering memikirkannya.Ibu tak pernah mau menyusahkan orang lain, berniatpun tidak. Sosoknya cerminan perempuan Jawa yang “nerimo”. Maka tak heran jika ia tak pernah menuntut apa-apa.
Meskipun begitu bukan berarti Ibu adalah perempuan lemah. Di sisi lain, ia wanita kuat tangguh yang mempunyai tenaga bagai harimau di tengah hutan. Sendiri Ibu mengasuh dan menghidupi aku dari kecil sampai aku lulus kuliah. Seperti tak tahu aparasa lelah itu, ia sungguh-sungguh berjuang buat kehidupan kami berdua dengan bekerja sebagai buruh batik. Gajinya memang tak tinggi tapi paling tidak selama ia bekerja di Pabrik Batik “Gatotkaca” ini, kebutuhan-kebutuhan Ibu dan aku tercukupi.
Ibu pembatik yang sangat berbakat.Setiap motif batik yang dicantingnya sangat indah.Sifatnya yang sangat sabar dan telaten itulah yang membuat hasil cantingannya juga sangat rapi dan bagus.Tak banyak malam (lilin) yang harus dikoreksi. Ibu menjadi pembatik andalan di pabrik batik terbesar di kota Solo milik Pak Suryo ini. Waktu kecil aku sering menyaksikan jemari Ibu memegang canting menari indah di lembaran-lembaran kain mori, karena setiap hari Ibu membawaku bekerja sepulangku dari Sekolah.Sesekali pipinya mengembung, bibirnya mancung meniup ujung cantingnya agar suhu cairan malam (lilin) menurun sedikit, kemudian dilukislah kain sesuai dengan gambar motif yang sudah dilukis dengan pensil sebelumnya.Jika ada kebutuhan tambahan, maka Ibu masih membawa kain mori itu ke rumah untuk dilanjutkan dicanting sampai selesai.Ibu benar-benar pejuang tangguh.
Kata Ibu, Ayah meninggal tak lama setelah aku dilahirkan saat Ayah bertugas. Tak ada foto Ayah sama sekali, karena semua foto terkena banjir besar dulu. Waktu itu juga belum semudah sekarang, hanya dengan handphone, setiap peristiwa bisa direkam dan diabadikan. Beberapa kali aku bertanya pada Ibu, seperti apa Ayah. Namun setiap aku bertanya, raut wajah Ibu sangat cepat berubah.Mendung kesedihan yang amat sangat segera jatuh di mata Ibu. Lalu Ibu akan sibuk mengusap matanya yang berair. Kejadian itu selalu berulang setiap aku bertanya tentang Ayah.Akhirnya menyerahlah aku.Tak lagi kutanyakan tentang Ayah.
Aku lulus kuliah dari hasil keringat Ibu sebagai pembatik andalan di Batik “Gatotkaca”.Mestinya kelulusan itu membawa kebahagiaan buat kami.Namun yang terjadi justru sebaliknya.Kelulusanku menjadi momen Ibu dan aku bertengkar hebat, meski tak berarti dengan suara tinggi memekik.Kali ini Ibu menjelma menjadi sosok yang sangat asing buatku.Kesabarannya entah raib kemana, membuat aku terkaget karenanya.Mata Ibu menajam, suara tegas sekali tak dapat dibantah.Baru kali itu aku mendengarnya.Ternyata Ibu tak hanya pekerja keras tapi juga berhati keras.
“Sekar, Ibu tidak pernah meminta apa-apa padamu selama ini.Tapi kali iniiii saja, Ibu memohon padamu. Tinggalkan Dimas, Sekar. Ia tak sepadan denganmu.”Rangkaian kata Ibu lugas, tak perlu berputar mencari kata indah untuk mengatakannya padaku.
Seketika aku seperti tersengat beribu lebah.Ibu tidak main-main.Sungguh aku tak mengerti.
“Kenapa selama ini Ibu diam?Tidak melarang Sekar berhubungan dengan Dimas,” tanyaku dengan hati bergemuruh.
“Ibu tak berpikir, kalian serius.Beberapa kali Ibu juga melihat kamu jalan dengan yang lain.” Suaranya terdengar ada sesal.
“Kami saling mencintai, Bu.”Nadaku pelan tapi dalam dan bergetar.
Ibu menangis.Airmatanya terus menetes.“Ibu mohon, Sekar.Dimas itu anak Pak Suryo.Tidak mungkin bukan, Ibu berbesan dengan majikan Ibu yang selama ini sudah menolong kehidupan kita, bahkan lamanya Ibu bekerja di Batik “Gatotkaca” itu lebih dari usiamu, Nduk.Hhh… Seperti Ibu tidak tahu diri dan ngelunjak(tidak tahu diri) pada Pak Suryo!”
Beberapa hari Ibu serasa orang asing bagiku.Tak banyak kata yang meluncur dari bibirnya, seperti menyimpan beribu kesedihan di dalam hatinya.Bermula kemarin saat selesai wisuda, aku berkata pada Ibu kalau Dimas ingin sekali mempersuntingku.Ibu begitu terperanjat mendengarnya.Wajahnya sampai pucat sesaat.Aku sendiri juga tak menyangka reaksi Ibu seperti itu.Kali ini sosok Ibu menjelma menjadi seseorang yang sangat lemah, terpuruk dan seolah tak memiliki jiwa.
Di sisi yang lain, aku juga tak dapat menipu perasaanku sendiri, aku memang mencintai Dimas. Kami bertemu dan dekat di kampus.Sudah begitu dalam perasaan kami, sekarang tiba-tiba Ibu menyuruhku untuk meninggalkannya.Ada rasa menggeliat kencang, tak rela rasanya.Tapi sejujurnya, aku juga memikirkan Ibu.Selama ini aku adalah segalanya bagi Ibu.Hanya akulahkehidupan Ibu.Apa yang dilakukan Ibu semuanya untuk aku, demi aku. Lalu apakah aku membiarkan Ibu menderita karena aku tak mengikuti keinginannya?Ibu tak pernah meminta apapun.Dan aku… tampaknya harus sampai pada titik memang harus rela kehilangan sayapku kali ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk menuruti keinginan Ibu, meninggalkan Dimas. Tak hanya itu, namun juga sekaligus meninggalkan Ibu. Aku berangkat ke Jakarta untuk melupakan Dimas, dan Ibu tak mampu menahanku untuk tetap tinggal bersamanya di Solo.Aku hanya ingin melupakan Dimas, dan itu hanya dapat kulakukan jika aku tak lagi tinggal di sana. Sejak itu aku tak pernah sekalipun pulang ke Solo.Ibu yang tak mau berhenti dari pekerjaannya sebagai pembatik di pabrik batik turun-temurun milik keluarga Dimas itu, hanya dua kali pernah datang ke Jakarta untuk menemuiku selama hampir dua tahun ini aku tinggal dan bekerja di Jakarta.
Namun tiba-tiba kemarin Ibu mengajukan permintaan satu lagi.Kali ini Ibu memintaku pulang ke Solo untuk menemuinya.Tak biasanya. Mulanya aku tak ingin menanggapi permintaan Ibu, pekerjaan di kantor sedang sibuk-sibuknya. Tapi ada sebagian hatiku kecilkutak tenang rasanya.Aku tak tahu kenapa.
Rupanya keputusanku untuk pulang ternyata tepat.Begitu aku sampai di rumah, kudapati Ibu terbaring lemah di kasurnya.Diam-diam aku menyesal kenapa tak dari kemarin-kemarin aku pulang menemui Ibu.Sosok perkasa itu kini tampak mengurus.Sinar matanya pun tak seperti dulu.Lebih redup.Dua tahun ini benar-benar telah mengubah Ibu.
Ibu menangis ketika aku memeluknya.Tubuhnya itu terasa renta kini.Kami berpelukan tanpa kata untuk beberapa saat, karena air mata kami saling berlomba mengungkapnya perasaan kami berdua.
“Maafkan Sekar, Ibu. Sekar baru pulang sekarang,”ucapku susah payah di antara tangisku.
Senyum Ibu terbit, tipis.Ia memelukku erat sekali seakan tak rela melepasku lagi.
“Ibu sangat sayang Sekar.”
Lalu Ibu mau makan sedikit demi sedikit.Tenaganya belum pulih memang.Seringkali tanganku tak dilepas dari genggamannya.Suaranya pun melemah sudah.Ibu baru bercerita padaku tentang penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuh lemahnya.Kanker kelenjar getah bening.
“Hidup Ibu tak akan lama lagi, Sekar.”Suaranya pelan.
Aku menggeleng kencang.“Tidak mungkin, tidak.Ibu akan ada terus bersama Sekar.”Bercampur tangis melimpah.
“Ambillah kain batik yang Ibu simpan di lemari, adanya di paling bawah, tumpukan kain-kain batik paling kanan, Sekar.”
Perlahan aku mencari kain batik yang Ibu katakan tadi.Aku mengambil kain batik yang Ibu katakan.Tapi kain batik itu masih penuh dengan malam (lilin), bukan kain batik yang sudah jadi, tinggal pakai. Meski rasa heran berlipat, aku membawa kain itu pada Ibu. Terasa berat, karena masih penuh dengan malam (lilin). Aku tak dapat melihat dengan jelas sebenarnya kain ini bermotif apa, karena seluruh kain itu masih tertutup malam, dan tampak “tua”. Hanya sekilas aku bisa melihat ada motif parang.
Sedikit ragu, kusodorkan kain batik belum jadi itu kepada Ibu.
“Betul kain yang ini, Bu, kain yang masih ada malamnya ini?!”
Ibu mengangguk.Diterimanya kain yang bewarna gelap karena malam menutupi seluruh kainnya.Jemarinya yang dulu selalu cantik memegang canting, kini tampak sangat kurus dan ringkih.Kering seperti ranting di musim yang sangat panas.
“Ibu menyanting kain ini sudah lama sekali, Sekar. Sejak kamu kecil….”
Mataku membulat.Heran.Ibu berusaha duduk, aku membantunya.Bersandar dengan bantal.
“Bantu Ibu membentangkan kain ini, Sekar.”
Aku membentangkan kain tua itu di atas kasur.Mata Ibu berbinar sedikit, sekejap.Tangan kurus tulang berbalut kulit itu mengelusnya perlahan.Namun mata itu tiba-tiba meredup lagi.
“Kain ini bermotif Parang, Sekar.Motif batik Jawa, bentuknya seperti huruf S yang menyambung dan berulang-ulang, alurnya diagonal. Idenya berasal dari deburan ombak di pantai yang menabrak karang tak berhenti dengan keras dan hebat. Batik Parang adalah simbol kekuatan mental yang kokoh, kebijaksanaan dan keadilan, dan konsistensi dalam melakukan kebaikan dalam hidup. Kain ini bermotif Batik Parang Kusumo, Sekar, karena ada motif kusumo –bunganya- di sini yang berarti manusia hidup, sebaiknya ia berjuang pantang menyerah dan bekerja dengan gigih, sampai lahir dan batinnya harum seperti bunga.” Kalimat Ibu panjang, satu demi satu kata dirangkai dengan susah payah, perlahan, sambil perlahan mengelus kain ituterus-menerus.
Mataku ikut menyusuri motif yang ada di kain batik cantingan Ibu dari aku kecil itu.
“Ibu berharap, nantinya kamu mengenakan kain ini, Nduk, agar kamu dapat menjalani hidup dengan tabah dan tidak menyerah dalam situasi sulit.”
Aku diam, mengangguk perlahan.
“Sekar, nanti kalau Ibu sudah tidak ada, temui Bu Antin untuk minta tolong melorodkain batik ini bersamamu.Karena kamu tak akan bisa melakukannya sendiri.Kain ini sudah sangat tua, malam-nya pun sudah sangat lekat pada pori-pori kainnya.Ibu sengaja menyanting lalu menyimpan kain Batik Parang Kusumo ini sebagai warisan Ibu buat kamu.Kamu akan tahu melihat batik ini utuh, dan terlihat makna yang sesungguhnya nanti.”
Malam itu menjadi malam terakhir Ibu bisa berbicara panjang denganku.Karena besoknya mata Ibu lebih banyak terpejam.Napasnya mulai sesak. Sekuat apapun aku membujuknya untuk ke Rumah Sakit, hasilnya sama saja. Ibu gigih menolak.Ia hanya ingin ada di dekatku, di rumah kami. Ibu hanya ingin dipeluk olehku sampai napas terakhirnya.
Ibu pergi dalam dekapanku. Bu Antin, sahabat Ibu di Pabrik Batik “Gatotkaca” sejak dulu, juga ada di samping Ibu saat Ibu menutup mata abadinya. Mendung sangat hitam, lalu tumpah hujan deras di bumi.Begitu air mataku.
Dua hari setelah Ibu dimakamkan, sepulang aku ke makamnya lagi pagi tadi, aku mampir ke rumah Bu Antin.Kain batik warisan Ibu sengaja kubawa.Dengan mata berkaca, Bu Antin menerima kain batik yang hampir seumur denganku itu.Waktu Ibu dimakamkan, aku sudah bicara dengannya tentang amanah Ibu.
Bu Antin segera menyiapkan peralatan untuk melorod.Ia mengambil panci yang agak besar dan mengisinya dengan air serta mendidihkannya. Aku tak mengerti detil bagaimana cara melorod batik. Yang aku tahu biasanya kain batik itu dimasukkan ke dalam air mendidih untuk menghilangkan malam-nya, ditambah dengan soda abu atau bisa saja dengan tepung tapioka.Tapi kali ini rasanya tak semudah itu Bu Antin akandapat melorod kain yang ini. Sepertinya Bu Antin akan nglorod berkali-kali karena malam sudah masuk ke pori-pori kain atau benang.Bisa jadi Bu Antin juga mesti mencucinya dengan bensin baru kemudian dicuci lagi.Atau mungkin saja Bu Antin harus menggunakan Water Glass, sejenis cairan kental yang biasanya digunakan sebagai penguat warna tapi juga bisa dicampurkan dalam proses pelorodan batik.Kupercayakan saja pada Bu Antin untuk meracik bahan pelorodan itu, aku hanya membantunya meski dengan perasaan hati yang tak tenang.Setelah dilorod, kain itu diangin-angin sementara kami makan siang di rumah Bu Antin, sambil menunggu kain itu kering cepat karena angin sedang bertiup kencang siang ini.
Aku sangat menghargai usaha Bu Antin membantuku melorod kain Batik Parang Kusumo cantingan Ibu ini.Butuh waktu yang lama untuk akhirnya seluruh kain batik ini bersih dari malam.Warna batik mulai muncul.Hanya dominan sogan, kombinasi coklat dan hitam.Bentuk parang di kain ini sungguh indah, halus dan sangat rapi.Begitu pun bunga yang ada di antaranya.Satu persatu aku mengamati keindahan batik ini, perlahan.Dengan sangat hati-hati aku membentangkan kain tua ini, takut sobek.
Mataku terhenti ketika menangkap motif yang tak biasa terselip di antara pola parang itu.Kuamati lebih hati-hati.Tiba-tiba mataku membesar dan hatiku berdegup kencang.Sedetik kemudian aku menoleh ke Bu Antin yang duduk di sampingku.Kulihat wajah Bu Antin seperti kapas.
“Bu Antin, kenapa… kenapa ada nama ini di dalam batik cantingan Ibu ini?” tanyaku bingung.
Bu Antin mengangguk pelan. Ujarnya dengan suara yang hampir tak terdengar, ”Sekar, Ibumu sengaja menyimpan rahasia tentang hidupnya di kain batik ini. Kini setelah ia tiada, ia ingin mengungkapkannya padamu. Ibumu tak sanggup jika harus mengatakannya pada saat ia masih hidup kemarin
Butir air mata menetes dari pipiku, satu-persatu.Semakin menderas.
“Lalu… lalu nama yang ditulis Ibu di sini?” tercekat tenggorokanku.
“Cerita Ibumu tentang ayahmu yang sudah meninggal ketika bertugas atau apapun itu, adalah cerita yang sengaja dibuat untukmu agar kamu tak marah pada keadaan.Nama yang dicanting Ibumu di situ adalah nama ayahmu.”
Jawaban Bu Antin membuat aku terhenyak, tak satupun kata bisa keluar dari bibirku.Tak tahu apa yang harus aku lakukan, berteriak-menangis-atau apa. Yang pasti ada rasa ngilu sangat perih muncul di dalam hatiku.
Kain Batik Parang Kusumo itu aku lipat perlahan.Lebih baik aku simpan lagi nanti ke lemari Ibu, di antara tumpukan kain batik lainnya, seperti dulu, paling bawah adanya.Paling tidak, Ibu sudah berkata jujur padaku.Itu sudah cukup, meski ia baru berani mengatakannya sekarang.
Sekali lagi aku melirik nama itu-“Suryo”- sebelum aku melenyapkannya dalam lipatan paling dalam, sedalam aku hanya ingin menyimpan semuanya .