Cerpen – Teratai

Y Agusta Akhir

 

Ia mematikan api di dalam tungku yang beberapa saat lalu dinyalakannya. “Lebih baik kutentang hawa ini,” gumamnya. Lalu ia beranjak dari ruangan itu, meninggalkan tungku yang menyisakan asap dan sedikit bara.

Kini ia duduk takzim di tepi kolam belakang rumah. Matanya serupa kejora kembar menatap teratai yang tengah mengembang tepat di tengah kolam. Teratai itu tampak bersinar oleh siraman cahaya purnama.

Dulu, setiap kelopak teratai menyimpan kenangan. Mekar bunga itu adalah keindahan baginya. Kini segalanya porak-poranda. Seseorang yang sempat menjadi teman dekatnya telah menghancurkan segalanya. Karena itulah dendamnya kian membara setiap melihat teratai itu.

“Kuntara,” bisiknya lirih namun terdengar berat. “Sebentar lagi. Tunggulah. Saatnya sudah tiba…”

Perempuan itu tersenyum getir. Matanya, yang pelahan mengeluarkan butiran kristal bening dan menumpuk di pelupuknya, belum mau lepas dari teratai yang mengembang di tengah kolam itu.

“Oh, Handika,” ia menggumam nama yang lain. Kali ini lebih terdengar sebuah rintihan. “Maafkan aku. Maaf…” kata-katanya tak berlanjut. Ia ingin berteriak sekeras mungkin. Tapi dendam yang menderu di dalam dadanya, seperti menyumbat suaranya.

Butiran kristal mulai meleleh dan mengaliri kedua pipinya yang tampak mulai menyusut. Saat itu, sehelai daun melayang ringan sebelum akhirnya jatuh dan mengambang di atas air. Sekelompok ikan menghampiri daun itu. Tapi hanya sebentar dan kemudian menghilang di dasar air.

Tigaratus enampuluh lima hari. Tak terasa sudah setahun peristiwa tragis itu berlalu. Tapi itu tidak lama bagi perempuan yang bernama Runai. Perempuan yang di hampir setiap purnama duduk di tepi kolam dan memandangi teratai yang sedang mengembang. Dan saat seperti itulah ia seperti menyaksikan kembali jasad kekasihnya mengambang di kolam sebuah hotel dengan tubuh penuh luka. Sementara mulutnya dipenuhi kelopak bunga teratai.

“Biadab!” pekiknya saat pertama kali menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Tercabik hatinya. Ia merasa terhinakan.

Ia sudah tahu siapa pelakunya. Dia sendiri yang menyeret lelaki iblis itu – begitu ia memanggilnya – ke dalam penjara. Tapi hatinya masih membara. Kobaran kesumat di hatinya takkan padam kecuali sumpahnya terlaksana: membunuh iblis itu.

Tapi betapa kaget ia saat polisi menjelaskan motif di balik pembunuhan itu. Nyaris tak dapat ia mempercayainya.

“Tapi itu fakta. Demikian yang kami temukan, Nona,” kata polisi yang menyelidiki kasus itu.

Itu sungguh di luar dugaannya. Ia tak menyangka. Sungguh tak menyangka kalau ternyata Kuntara menjalin hubungan aneh dengan Handika, kekasihnya. Pada mulanya ia tak percaya kekasihnya itu memiliki kelainan seksual. Tapi keterangan pengacaranya dan polisi yang mengusut kasus tersebut, membuatnya harus menerima kenyataan menyakitkan itu. Ia juga baru mengerti kalau tato bunga teratai di lengan Handika dan Kuntara bukanlah bermakna persahabatan, melainkan tanda cinta. Itulah yang diakui terrdakwa dalam sebuah persidangan.

“Apakah itu sudah direncanakan?” pada pengacaranya Runai bertanya.

“Tidak. Justru ia menargetkan Anda,” jawaban si pengacara membuatnya tersentak.

“Kekasih Anda menghalangi niatnya untuk membunuh Anda!” kata si pengacara lagi.

“Apa alasan ia hendak membunuhku?”

“Cemburu, Nona.”

Lagi-lagi jawaban itu membuatnya tersentak. Sulit dipercaya. Runai mengutuk dirinya sendiri. Kenapa selama ini ia tak mengetahuinya. Tapi ia sangat mencintai Handika, kekasihnya itu. Karena itulah dendam menyala-nyala di hatinya. Dan ia harus bersabar menunggu Kuntara, sahabatnya sekaligus si pelaku bebas. Saat itulah ia akan menghabisinya.

***

Runai memacu mobilnya. Ia tak tahu kemana harus pergi. Yang jelas tidak ingin ke rumahnya. Itu tindakan bodoh, pikirnya. Satu-satunya tujuan adalah pergi tanpa tujuan. Setidaknya untuk saat seperti ini.

Tak terasa, ia sudah sampai di batas kota.

Hari mulai gelap. Sekarang hatinya agak tenang. Ia pelankan laju mobilnya. Ketika matanya melihat papan nama yang bertuliskan restaurant, ia tersadar akan rasa laparnya. Maka ia menepi menuju restaurant itu. Karena buru-buru, ia hampir saja lupa melepas jaketnya yang terdapat bercak darah.

“Anjing!” umpatnya sembari melepas jaketnya. Jaket itu pemberian Handika, sehari sebelum kematiannya.

Ia segera memesan makanan dan minuman: sepiring spagetti dan segelas jus orange. Itu bukan makanan dan minuman favoritnya. Itu adalah menu yang biasa dipesan Handika setiap kali mereka makan berdua. Ia sendiri lebih suka makanan lokal: pecel, lontong opor, dan rawon. Itulah kenapa mereka sering uring-uringan setiap kali hendak mengadakan acara makan bersama.

Sebenarnya mereka tak pernah makan bersama. Perbedaan selera yang jauh itu membuat keduanya harus mengadakan kesepakatan, makan dengan cara bergantian. Makan makanan lokal kesukaannya dulu dan kekasihnya hanya duduk menemani, baru kemudian makan spageti dan ia hanya duduk menemaninya. Konyol memang. Tapi pada akhirnya mereka menerimanya sebagai sebuah keromantisan.

“Ah, kalau ada orang menjual spageti, pizza, hamburger dan sekaligus pecel….” katanya pada suatu ketika.

“Mungkin saja. Barangkali kita belum menemukannya,” jawab Handika kala itu.

Pelayan datang mengantar menu yang tadi ia pesan.

“Silahkan,” kata si pelayan sembari meletakkan pesanan di atas meja.

“Terimakasih,” katanya.

Tapi ia tak segera menyantapnya. Dipandangi saja apa yang sudah tersaji di meja. Sungguh, makanan mirip sulur-sulur yang saling berkelindan itu mengingatkannya pada rambut ikal kekasihnya yang basah oleh air kolam dan bercampur darah.

“Han,” ia menggumam. “Kalau saja sekarang kau bersamaku, kita akan benar-benar makan bersama. Tapi setidaknya aku telah menunaikan janjiku, memakan apa yang kamu makan….”

Saat ia hendak menyuapkan sesendok spagetti ke dalam mulut, telinganya mendengar berita di televisi di restaurant itu.

Seorang gay yang baru saja keluar dari penjara, mati mengenaskan di dalam kamarnya dengan duapuluh dua tusukan….

Tapi ia tak peduli dengan berita itu. Dan sesuap demi sesuap ia masukkan spagetti yang baru sekali itu ia makan. Kalau ada orang yang memperhatikannya, tentu akan tahu, betapa lahap perempuan itu makan.***

 

 

Leave a Comment